24 Apr 2018

Mengabadikan Momen Ngumpul Asyik Dengan HP Yang Juga Asyik

Kalau lagi ngumpul, rasanya tidak lengkap kalau belum foto selfie sama teman-teman. Foto selfie pun kurang afdol kalau kameranya enggak bisa bikin kita jadi kelihatan cantik. Hmm kalau galau begitu, mendingan pakai kamera smartphone OPPO F7 deh Moms.

OPPO baru-baru ini resmi meluncurkan produk teranyarnya yang bernama OPPO F7. Smartphone yang dibekali kamera berkualitas tinggi ini rupanya bisa menghasilkan foto yang apik lho apabila kita memanfaatkan fitur bawaannya juga.


Fitur A.I Beauty 2.0
Saat berfoto selfie menggunakan OPPO F7, wajah kita bisa dikenali oleh kamera dengan menggunakan teknologi Artificial Intellignce (A.I) yang dapat mendeteksi wajah melalui 296 titik pengenalan (face recognition).

Begitu terdeteksi, cekrek, foto tinggal di-setting hasilnya dengan fitur beautify yang bisa mengedit tampilan wajah di foto menjadi cantik natural. Setting-an yang sudah kita buat tadi, secara otomatis juga bisa langsung diterapkan oleh sistem A.I Beauty 2.0 pada foto selfie kita berikutnya. Jadi bisa tampil cantik secara praktis deh!

Terus, kalau foto selfie-nya bareng teman gimana?

Ini dia kecanggihan OPPO F7 menurutku, Moms! OPPO F7 tetap menyesuaikan setting-an edit beautify kita meskipun sedang foto dengan banyak orang. Bahkan, wajah-wajah teman kita pun ikut dikenali oleh A.I dan begitu group selfie, hasil beautify-nya akan berbeda untuk setiap wajah orang.

Psst, buat kalian yang laki-laki, teknologi AI di OPPO F7 akan menghasilkan foto yang ganteng maskulin kok (enggak bakal kena efek beautify yang cantik-cantik buat gender perempuan gitu). Hal itu bisa terjadi karena teknologi A.I bisa mengenali perbedaan warna kulit, jenis kulit, usia dan jenis kelamin seseorang sebagai subjek fotonya.


Masih ada fitur lain yang bisa mendukung kinerja kamera OPPO F7 ya, Moms. Fitur bokeh misalnya, bisa membuat tampilan foto kita lebih fokus karena daerah background akan menjadi blur. Lalu ada Vivid Mode yang bisa menyeimbangkan saturation warna pada foto. Juga Cover Shot Feature untuk hasil foto selfie yang lebih kontras layaknya pemotretan di cover majalah.

Selain itu, masih ada juga fitur berikutnya yaitu A.I Scene Recognition yang bisa membantu foto objek pemandangan menjadi kaya akan warna. Serta yang terakhir, di kamera tersedia pula AR (Augmented Reality) Sticker yang bisa membuat selfie kita jadi lebih seru.

Fix, kamera OPPO F7 ini benar-benar terbaik ya untuk fotografi. Kamera depannya saja diprakarsai dengan ukuran 25 megapixel lengkap dengan sensor HDR Sony IMX 576. Yang bikin tambah canggih lagi, OPPO F7 layarnya luas banget, 6.23 inci, bikin selfie jadi puas ya. Terus, smartphone ini sudah pakai OS Android Oreo lho, Moms plus daya baterainya yang 3400mAh plus dibantu AI Battery Management yang bikin jadi hemat banget.

Oleh karena itu, hilang sudah segala keraguan saya untuk ikutan pre-order smartphone satu ini. Kalau ditanya, mau OPPO F7 yang warna apa, saya udah incar yang Solar Red ya, Moms. So fashionable!

Read more

23 Apr 2018

Kartini Badan Pusat Statistik

Kolaborasi dengan anggota baru di Be Molulo sudah memasuki bulan ke-3. Bulan ini trigger post ditulis oleh jenk Rumi dengan judul Kartini Masa Kini. Temanya hangat, karena hanya selang sehari dengan hari Kartini.

Sebenarnya, untuk menulis lagi otak saya dalam kondisi mampet, terlalu fokus dengan kerjaan, sehingga ide yang sering kali muncul secara random menjadi enggan muncul walaupun hanya tema besar tanpa detail lebih lanjut.


Beruntung saat mengunggah foto tentang perjalanan dinas tepat saat hari Kartini kemarin, saya tanpa sengaja mengetik hastag KartiniBPS. Eh, bisa nih dijadikan tulisan tanggapan untuk kolaborasi Be Molulo bulan ini.. Jadilah tulisan ini sambil saya jagain kelas pelatihan. Alhamdulillah..


Apa itu Kartini BPS?
Kartini BPS saya terjemahkan sebagai para pegawai ataupun mitra BPS yang menjalankan perannya sebagai perempuan pejuang, baik di dalam rumah sebagai Istri, Ibu, Kakak, Adik, Anak dan tentunya sebagai penyedia data berkualitas bagi BPS yang kemudian bermuara pada konsumen data.

Jujur saja ide ini muncul karena keadaan saat ini, keadaan dimana pekerjaan tidak bisa dikatakan sambung menyambung tapi lebih kepada tumpang tindih. Keadaan dimana kalimat (IMHO) "Bagilah waktu untuk keluarga dan pekerjaan secara seimbang." Hanya bisa menjadi slogan saja, tidak bisa terealisasi menjadi kenyataan. Ini pengalaman pribadi. Karena saya juga merupakan Kartini BPS.

Kartini BPS dimata Instansi
Para Kartini BPS tentu punya peranan penting pada instansi BPS, baik sebagai Koordinator Statistik Kecamatan, Staf, maupun pengambil keputusan. Komitmen awal sudah dimulai sejak kami mendaftar dengan menandatangani surat bersedia ditempatkan di mana saja. Berikutnya mau tidak mau harus mengorbankan waktunya sesuai kebutuhan organisasi.

Jujur tidak banyak yang bisa saya sampaikan mengenai sudut pandang instansi, kita move on ke keluarga aja yess.. :D

Kartini BPS di mata Keluarga
Di mata keluarga, teman-teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Kami dipandang sebagai perempuan yang cukup sibuk, sebentar berada di sini, sebentar berada di sana, sebentar melakukan survei ini, sebentar melakukan survei itu. Diundang makan-makan, acara kumpul-kumpul kebanyakan tidak bisa hadir, kalaupun hadir, hadir dengan pakaian kerja sekaligus dengan dokumen-dokumen survei. Sangat jarang lepas dari pekerjaan. Di luar rumah mencari dan wawancara responden, di rumah masih juga memerikasa dokumen.

Hari-hari kami diisi dengan bekerja, komitmen harus kuat. Tapi semua ini tidak bisa terwujud dengan baik jika tidak dikucuri banyak pengertian dari keluarga.


Banyaknya waktu yang terpakai untuk bekerja bukan berarti tidak mengundang protes dari anggota keluarga. Mereka mungkin mengerti tapi bagaimanapun protes harus dilayangkan karena sudah melihat istri atau anaknya sudah kelelahan atau bahkan sudah jatuh sakit. Sering sih Abang membandingkan kesibukan saya saat masih menjadi Sekretaris dengan kesibukan sekarang. Saya senyumin saja, dia juga mengerti saya ingin belajar lebih banyak (walau sambil nyanyi dan menyilangkan kedua telunjuk "tapi tak beginiiii~" hehe).

Baca juga: Perubahan dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Kisah yang mengundang kesedihan saya adalah tentang anak, sering kali teman-teman bercerita bagaimana anaknya sedih jika ibunya harus keluar rumah untuk bekerja, atau jika sudah bisa membedakan libur dan tidak, anaknya akan sangat girang jika ibunya mengatakan bahwa ia libur.

Ya.. Bagaimanapun hidup itu pilihan, tentu banyak pertimbangan sehingga kami memutuskan menjadi Kartini BPS. Hal ini bukan untuk diperdebatkan apalagi menjadi bahan bakar untuk mom war di luar sana. Terlebih (ini juga harapan kami), tumpang tindihnya pekerjaan seperti ini tidak akan terulang lagi dikemudian hari. Semoga..

Oh ya, tentang anak, saya yang hampir setahun menikah dan belum dikaruniai anak ini juga tidak jarang disuguhi kalimat "Bagaimana mau punya anak kalau kamu sibuk seperti itu?" Saya senyum saja, walau merasa kalimat pesimis seperti itu sebaiknya tidak diperdengarkan walau bermaksud memberikan simpati. Karena kami lebih butuh kalimat motivasi ataupun doa dibalik kesibukan dan kelelahan kami. Sungguh...
***

Tulisan Kartini BPS ini mungkin lebih terbaca sebagai tulisan curhat, berisi uneg-uneg seorang pegawai perempuan yang bekerja di BPS. Tapi cobalah berpikir lebih luas, kami--yang saya ceritakan melalui kisah Kartini BPS--hanyalah sebagian kecil dari prempuan-perempuan yang berjuang dengan caranya masing-masing.

Kami, seperti juga Raden Ajeng Kartini tidak mencari pujian ataupun penghargaan, cukup diperlakukan dengan baik, dihargai kerja kerasnya dengan kalimat yang tidak meremehkan, disayangi dan dilindungi seperti layaknya perempuan yang terlihat lemah di mata laki-laki. Kami kuat karena kita sama-sama ciptaan Tuhan, keadaan adalah tempaan saja.

Setelah karnaval, tetap mengikuti perintah walaupun pekerjaan sedang menumpuk, sedang hujan, badan kurang sehat.

"Setiap perempuan berjuang dengan caranya masing-masing. Semakin modern jalannya kehidupan, semakin modern pula tantangan yang harus kami lalui. Kami Kartini Masa Kini, Kami Kartini BPS."

Gimana teman-teman saya para Kartini ataupun Kartono masa kini? Kita sepakat saling menghargai yess? 😊

Read more

20 Mar 2018

Tentang Penghasilan Tambahan

Bekerja bagi perempuan bukanlah hal yang asing lagi. Kalau dulu bekerja identik dengan seragam, saat ini bekerja menjadi hal yang lebih fleksibel, baik dari pakaian, waktu maupun pendapatan.

Kalau dulu kata bekerja diidentikkan dengan seragam berwarna hijau dan kain keki, maka sekarang dengan dasterpun, perempuan sudah bisa memperoleh penghasilan, waktupun begitu, leluasa, sebisanya mau melayani pukul berapa dan bisa disesuaikan juga pendapatannya.

Terinspirasi dari kisah saya sendiri *yaelaahh* saya kemudian ingin bercerita tentang penghasilan tambahan. Ini sih buat trigger post bersama teman-teman di Be Molulo, tapi mungkin bisa menginspirasi teman-teman untuk memulai usaha rumahan dengan seragam daster (tapi kalau yang baca ini laki-laki, dasternya buat wanita aja ya, pliss! 😝) atau untuk menambah penghasilan lagi? Pasalnya semua bisa dijalankan bersamaan, kenapa nggak kan ya? Hehe..


Sebagai ASN bukannya penghasilan saya tidak mencukupi, alhamdulillah rasanya berlebih, tapi mungkin ada bakat hobi berdagang juga kali ya, jadi enjoy banget ngejalaninnya. Apalagi kalau habis jalan ke kota mana gitu, biasanya saya sempatkan belanja untuk keperluan pribadi, keluarga dan untuk dijual. Prinsipnya, biar duit gak hanya keluar aja, tapi ada pemasukan juga. Kurang pintar bagaimana istrinya Abang ini? Hehe..

So, apa saja sih usaha menambah penghasilan yang saya lakukan?

1. Menjual Pakaian dan aksesoris.
Dulu, saat saya masih bekerja di kabupaten, saya punya Online Shop, belanja lewat teman atau melalui 1st hand supplier. Cari supplier juga susah, harus bandingin harga antara supplier satu dengan yang lain. Pas dapat.. Ya gitu.. Kadang bagus kadang dikirim suka-suka (gak sesuai orderan), komplain biasanya gak bisa. Untung gak sering-sering.

Nah, saat pindah di kantor provinsi, OL Shop tidak saya jalankan lagi, jualan secara luring juga nggak lagi. Lama-lama hasrat *ceileh.. Hasraaat 😝* jualan saya keluar lagi, saya mulai dengan barang-barang dengan modal kecil, biasanya sih memang saya suka barangnya, jadi belanja sekalian jualan.. Hihi.. Contohnya bros, yang unik dan kira-kira sesuai dengan selera orang kantor. Hasilnya? Saya dapat bros unik gratis, jualan laris manis, untungnya juga tetap ada. Seneng gak siiih? Haha..

Sampai saat ini, saya juga sudah beberapa kali belanja. Tujuannya agar belanjaan tidak terkena gelombang overload jelang lebaran, selain itu juga untuk mengambil pasar lebih awal. Duh, gimana sih bahasanya, lebih awal memasarkan baranglah yaa.. Jelang lebaran kan orang-orang pasti meningkat minat belanjanya tuh, saya berusaha menarik minat mereka sejak awal, soalnya barang yang saya jual juga bukan pakaian lebaran yang tergolong mewah. Takut barangnya gak habis, modal gak muter. Iya.. Saya masih tipikal hobi jualan, bukan business woman yang gak takut mengambil resiko. Hehe..


Prinsip pertama,
Segala sesuatu butuh usaha 😊

2. Oriflame
Menjadi konsultan oriflame sudah relatif lama saya jalani. Buat jualan aja, pakai sendiri juga tentunya. Emak-emak irit banget yess.. Harga member jadi lebih murah, trus kalau orderan banyak bisa dapat bonus juga. Ini alhamdulillah sering, saya modal nitip katalog doang. Keuntungannya juga lumayan. Lupa sudah berapa tahun, tapi kalau gak salah belum sampai 5 tahun.

Oh ya, saya teringat sebuah kejadian saat jualan Oriflame di kantor, ada yang ngomong gini saat tahu saya yang jualan.

"Jualan? Kan sudah banyak uang di rumahmu (ngomong gitu mungkin karena tahu bapak saya ASN dan ada warung di rumah). Kamu gak dikasih makan Mamamu?" Tanpa ada nada atau mimik becanda sedikitpun. Sinis.

Deg!! Saat itu saya coba menjawab kalem, tapi saya bisa merasakan panas di dada dan wajah saya, mungkin sudah memerah walau tersenyum. Pernyataan yang tidak saya sangka-sangka bisa muncul di muka bumi, menyentuh segala hal yang saya benci. Tidak heran, walaupun hal tersebut tidak membuat saya kemudian surut semangat menambah penghasilannya, tapi kejadiannya tetap teringat jelas.

Ih.. Nyebelin.. Lanjut yukk..

3. Menjual Pulsa dengan Paytren
Hampir sama dengan berjualan Oriflame yang tidak begitu menyita waktu, saya juga berjualan pulsa. Bergabung dengan Paytren yang dulu masih bernama VSI, saat belum ada aplikasi sampai sekarang sudah serba dimanjakan, gak pakai biaya sms lagi. Lumayan kan biaya pulsanya. Hahah..

Berjualan ini saya niatkan untuk membantu orang lain, karena sependek pengetahuan saya, jualan via paytren sudah sekalian bisa sedekah, ya.. walaupun IMHO, harga modalnya lebih mahal dibanding ngambil di tempat lain, tapi selain itu saya juga bisa membantu teman-teman di kantor (atau bahkan keluarga) yang kehabisan pulsa. Bukan hanya saat jam kantor, tapi juga diluar jam kantor. Tidak jarang larut malam atau subuh saya menerima WA atau SMS emergency "Ir, pulsa listrik 100 yaa, listrik sudah habis, saya mau menyetrika!" Haha..

Karena ingat teman-teman (utamanya ibu-ibu, eh.. Emang 95% pelanggan saya buibu sihh 😁), tidak jarang saat sedang tugas ke luar kotapun saya gelisah kalau gak punya deposit pulsa. Takut mereka ngirim pesan SOS dan saya gak bisa penuhi. Kasihan.. Hehe..

Gak nyangka sih jualan pulsa bisa seseru ini. 😂

4. Berpenghasilan dari Blog
Nah, tema ini yang mungkin sering saya iming-imingi ke teman-teman di be Molulo, sesekali juga saya bahas di blog walau tidak secara spesifik.

Bukannya apa-apa, saya sendiri merasakan nikmatnya, walau gak banyak tapi sungguh bisa membuat excited-deg-degan-mengharap-senyum-tegang-lalu senyum-senyum sendiri, kalau diartikan secara jujur, tahapan diatas bisa menjadi senang dapat tawaran kerjasama-deg-degan dan ngarep saat menawar menunggu jawaban tentang fee-dapat fee sesuai tawaran-kepikiran tulisan yang mau dibuat-posting lalu uang masuk rekening. Dududu... Masih banyakan senyumnya kaaan? Haha..

Baca juga: Hobi yang dibayar, Bukankah Itu Mimpi Setiap Orang?

Trust me dehh.. It's fun! Dan saya ingin teman-teman merasakan kesenangan yang sama. 😊

5. Bikin Industri Rumah Tangga
Nah, untuk mengganjilkan, saya tambahin yang masih di angan-angan saya yess..

Saya tuh sebenarnya punya keinginan juga bikin industri rumah tangga. Selain secara ekonomi bisa menambah penghasilan, dalam pemikiran saya, kegiatan ini juga bisa memberdayakan orang lain, dengan gaji tentunya.

Tapii..

Ada tapinya nihh.. Saya belum menemukan--atau mungkin belum memikirkan lebih jauh kali yaa--produk apa yang akan dipilih. Masih sibuk mikirin Survei Biaya Hidup! haha

Udahan ah, itu saja yang bisa saya share, semoga ada manfaatnya. Teman-teman gimana? Punya penghasilan tambahan gak? Atau mau bantuin saya ngasih ide untuk industri rumah tangga? Apa aja boleh.. Share di kolom komentar yess.. 😊

Read more

5 Mar 2018

Perubahan: Dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Tema perubahan dalam grup 1 Minggu 1 Cerita membuat saya terpikirkan perubahan ritme kerja yang saya alami beberapa bulan terakhir. Dari yang sebelumnya boleh dibilang "santai" menjadi ngos-ngosan karena kejar-kejaran dengan pekerjaan.

Hayo kenapa?
Manajemen waktunya gak bagus?


Nope! Nggak yaa.. Ini karena saya yang dulunya seorang Sekretaris Eselon II akhirnya bisa menyematkan gelar SE (walaupun terhitung lama) melalui ujian penyesuaian ijazah lalu kemudian dipindahkan menjadi staf di seksi Neraca Produksi, bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik. Ada yang berpikir "Nama bidangnya berasa "horor" gak sih?" hihi.. Sebenarnya sama dengan pikiran saya, pekerjaan di bidang itu terhitung asing bagi saya...

Baca Juga:
Tentang Pengumuman Hasil Ujian Penyesuaian Ijazah

Bismillah..
Saya pun meng-iya-kan tawaran dari bagian Tata Usaha. Saya merasa tidak boleh kebanyakan "gaya", sudah diberi pilihan yang baik, masih minta yang lebih lagi. Tahu diri. Saya tahu saya harus belajar banyak lagi, rasanya senada dengan keinginan saya untuk tidak menjadi sekretaris lagi, agar saya belajar lebih banyak, tidak stuck dengan urusan yang itu-itu saja. Oktober 2017 sayapun resmi beralih profesi.

Waktu jadi sekretaris, duduk manis di ruangan ini

Maka perubahan ritme kerjapun terjadi, dari saya yang kebanyakan berada di kantor, mengurusi pimpinan, menjadi tidak ada urusan sama sekali (selain menjalankan kebijakan atau permintaan tolong dari beliau), lalu kemudian sibuk di lapangan mengurusi survei di bidang tempat saya bekerja saat ini, ditambah lagi saya dan beberapa teman diperbantukan untuk menjadi pengawas Survei Biaya Hidup (SBH) 2018. Jadilah ritme kerja mengalun seperti lagu Nina Bobo menjadi lagu In The End-nya Linking Park. *Ketahuan umurnya ya.. hihi.. Atau Icy Girlnya Saweetie deh.. TOP di lagu Doom Dada.. Engap-engap deehh.. Haha..

Dan dengan perubahan yang saya alami, ada sedikit protes sih dari Abang yang pengennya saya duduk bekerja di kantor saja, tidak perlu ke lapangan, takut kecapean. Tapi mau bagaimana lagi, sayapun sudah mendaftar untuk menjadi fungsional, artinya saya harus berburu angka kredit.  Ah.. seandainya saya bisa seperti teman-teman pandai menulis opini di koran, angka kredit mah urusan gampang, poinnya besar cuy.. *Mupeng

Setelah gak jagain meja 😂😂
(Gimana abang gak khawatir kan yee)

Saya bukannya tidak ingin menuruti Abang tercinta selaku imam saya, tapi ini memang pekerjaan saya, gak bantuin SBHpun saya akan diberikan pekerjaan lain, yang memang--kami di kantor Badan Pusat Statistik--tidak akan lepas dari pekerjaan lapangan, kepala bidang dan kepala kantor saja masih ke lapangan, apatah lagi kami yang hanya bawahan ini.

Baca juga: Cerita Sekretaris, Suka Duka Hingga Hal yang Konyol

Lagipula, saya juga mempelajari banyak hal dari hasil perubahan ini, saya belajar lebih banyak tentang kerja tim, maklum yee, waktu jadi sekretaris saya yang kebanyakan mengatur pekerjaan saya sendiri. Lebih banyak menurunkan ego lagi, melakukan hal yang sudah lama tidak saya lakukan, ataui bahkan yang belum pernah saya lakukan seperti menyiapkan bahan rilis atau kenalan dengan 17 kategori penghitungan PDRB yang selama ini terabaikan oleh saya. Pokoknya SAYA BELAJAR BANYAK! Ups.. Jebol capslock-nya.. Hihi..

Inilah salah satu alasan tulisan di blog jadi jarang, mungkin yang belum bisa saya kuasai saat ini adalah mood untuk nge-blog. Mungkin secara tidak sadar fisik saya capek jadi pengennya rebahan sebentar, ditambah sifat suka menunda saya, maka jadilah.. Padahal Abang sudah memafhumi kesenangan nge-blog saya lho, it's me the biggest problem.. Fiuuhh..

Panjang lebar yesss saya curhat menuliskan tentang perubahan ini, intinya saya ingin bilang bahwa pada perubahan itu terdapat kesempatan belajar, walau berat, tapi akan berguna di kemudian hari.

Kalau teman-teman, apa yang berubah di kehidupannya saat ini? Jangan sebut berat badan yess, itu perubahan saya juga.. Hehe.. Share di kolom komentar perubahan yang kamu alami saat ini ya.. ^^

Read more

26 Feb 2018

5 Cara Mengelola Keuangan Setelah Menikah ala Dunia Irly

Mengelola keuangan untuk saya berarti, saya tahu pemasukan saya berapa, pengeluaran saya berapa, untuk apa saja uang saya keluar, dan yang paling penting adalah saya tidak berutang.
---

Mengelola keuangan setelah menikah tentu saja dihadapkan pada tantangan yang lebih besar, pemasukan mungkin menjadi lebih besar karena kami sama-sama bekerja, tapi hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah kami tidak hidup seorang diri. Keluarga kami semakin besar begitupun rasa tanggung jawab dan mimpi-mimpi yang ikut terajut bersama.

Kami tidak ingin menjadikan uang menjadi salah satu masalah dalam keluarga, masa kini dan masa depan kami. Karenanya, kami sepakat untuk mengelola keuangan dengan baik, dengan berorientasi pada kebutuhan dan sesekali boleh diselingi dengan keinginan tapi tidak dijajah dengan gaya hidup.


Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mengelola keuangan setelah menikah, mungkin bisa sedikit memberi pencerahan untuk pasangan yang akan atau baru saja menikah.

Ada beberapa hal yang perlu saya tegaskan sebelum berbagi:
- Kami tidak saling mengenal dengan begitu baik sebelum menikah, sebatas tahu dia punya 1 adik, saya punya 2 adik dan kedua orang tua masing-masing kami alhamdulillah masih hidup. Jadi masalah keuangan dan kebiasaan keuangan lainnya kurang kami pahami satu sama lain. Kami pacarannya setelah menikah.
- Saya--otomatis keuangan rumah tangga juga begitu, karena saya managernya--tidak suka berutang (apalagi harus berutang untuk orang lain), harus ada special case, tapi semoga tidak lagi muncul bikin rusuh. Hufthh..

Jadi, untuk mengelola keuangan setelah menikah, dibutuhkan hal-hal seperti ini:

1. Terbuka tentang harta dan keadaan keuangan masing-masing
Duh, harta tuh kesannya banyak banget yess.. :D (Aamiin)
Intinya gini, apa yang dipunyai masing-masing pasangan baiknya dikatakan seeee.. jujur-jujurnya. Entah itu kendaraan yang dimiliki, hal yang masih jadi tanggung jawab, utang yang masih harus dibayar, uang yang masih dipinjam orang lain, gaji/pendapatan per bulannya, dan lain-lain.

Keterbukaan ini berguna untuk memetakan keberlangsungan hidup rumah tangga nantinya. Ya kali mau jalan buta-buta. Ibaratnya motorlah yaa.. Harus dicek dulu bahan bakarnya sebelum jalan, diperiksa lagi keadaan mesinnya sebelum dibawa untuk perjalanan jauh. Biar gak kaget kalau kemudian ada masalah diperjalanan. Wong kita udah prepare banget aja masih ada yang ngagetin di perjalanan kan?

Pernah dengar istilah "Pernikahan bukanlah akhir, tapi merupakan awal baru kehidupan." kan ya? It is! termasuk dalam pengelolaan keuangan, jelas berbeda mengelola keuangan saat bujang dan sudah menikah. Pengeluarannya lebih banyak, pertimbangannnya pun lebih banyak.

2. Berbagi tentang riwayat keluarga
Bagaimana seseorang mengelola keuangan di masa sekarang, sesungguhnya dipengaruhi oleh keuangan keluarganya di masa lalu. Begitu yang saya percayai.

Contoh nih ya.. Mungkin dulu keuangan keluarga sang suami sulit, maka saat punya anak nanti dia ingin lebih memenuhi kebutuhan anaknya, agar tidak merasakan kesulitan yang sama dengan dirinya. Sementara sang istri merasakan hal tersebut akan membuat anak manja. Jika suami tidak pernah menceritakan alasannya maka besar kemungkinan hal tersebut akan menjadi bahan bakar pertengkaran, sedangkan jika tahu, mungkin sang istri akan lebih memahami alasan historis suami dan memberikan jalan tengahnya.

Walaupun kami belum mempunyai anak, tapi sedikit banyak kami sudah bercerita tentang riwayat keluarga dalam hal keuangan, masih sebatas itu, itupun sudah sangat membantu untuk mempelajari "habit" pasangan dalam mengeluarkan uang.

3. Komitmen
Seperti juga suatu hubungan, pengelolaan keuangan menurut saya harus didasari sebuah komitmen. Mulai dari komitmen suami untuk memenuhi tanggung jawabnya untuk menafkahi keluarga, komitmen istri untuk membantu keuangan keluarga (ini bukan hanya masalah menghasilkan uang saja yess, mengelola uang  juga butuh komitmen agar sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan).

Sumber: pixabay.com

4. Jujur dan Saling Percaya
Untuk saya ini penting, karena komitmen apapun yang sudah dijalankan oleh pasangan suami istri yang sama-sama memiliki pemasukan tidak akan berjalan jika tidak ada kejujuran dan rasa saling percaya. Mungkin ada yang berprinsip istri tidak perlu tahu semua pendapatan suaminya, yang penting kebutuhannya terpenuhi. Ini tidak salah, selama sudah jadi keputusan bersama.

Saya dan Abang sudah komitmen untuk transparan mengelola keuangan. Saya ingat; dulu pernah ditanyakan oleh suami (waktu masih mantan calon pacar, istilahnya dia untuk masa-masa dimana kami hanya temenan sedangkan dia sudah baper :p):

"Haruskah istri mengetahui semua pendapatan suaminya?"
"Kalau saya, iya" Jawab saya
ditanya lagi "Kenapa?"
"Pertama, saya tidak boros dan kedua saya merasa bisa mengelola keuangan dengan baik." Jawab saya mantap.
"Ohh.." Jawabnya di ujung telepon.

Lain masalah kalau salah satu pasangan boros, mungkin perlu ada pengaturan lain. Tidak ada aturan baku sebenarnya, karena--telah kita ketahui bersama--kondisi keuangan setiap orang apalagi rumah tangga itu berbeda-beda. Pendapatannya boleh lebih besar, tapi bisa jadi banyak pos pengeluaran atau bahkan pengelolaannya yang kurang tepat. Makanan boleh sama, tapi cara mengunyahnya tak pernah kita ketahui.

Maka kami memilih meneruskan kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran masing-masing (menjadi 1 akun) dengan jujur dan saling percaya.  Ini tidak mudah, tapi jika dijalani, akan mempermudah pengelolaan keuangan.

Baca juga: Money Manager, Solusi Pencatat Aktivitas Keuangan

5. Hindari Utang dan Kelola Keuangan Jangka Panjang
Saya tidak suka berutang. Sebisa mungkin saya menunggu untuk punya uang daripada harus kredit. Saya punya prinsip:

"Lebih baik kemiskinan saya terpampang nyata, dibanding saya menikmati kekayaan yang semu."

Duh, berat banget ya bahasanya. Hahah..

Intinya gini, lebih baik saya tidak punya daripada harus berutang. Dalam hal, barang yang saya inginkan itu sifatnya tidak mendesak. Contohnya saya butuh motor untuk melaksanakan tugas sebagai pekerja lapangan diawal kerja dulu, penting sih.. tapi saya masih bertahan, 4 tahun saya menabung baru kemudian membeli motor, keluaran terbaru juga Alhamdulillah. Gak harus cekik leher juga kok, adik-adik saya masih bisa menikmati barang--yang menurut kami--mewah saat saya menabung, sesekali saya masih bisa traktir teman-teman juga, aman. Hehe

IMHO, prestasi lho itu. LOL.

Dulu juga sebelum nikah saya pengen beli mobil, gak perlu baru, yang penting dibayar tunai. Qadarullah, terpending, dan uang tersebut bisa saya gunakan untuk membantu biaya pernikahan saya sendiri (FYI, adat suku kami, biaya pernikahan ditanggung bersama), sambil saya beri peringatan keras ke calon suami dan bapak saya, tolong jangan sampai berutang. Alhamdulillah, kami tidak menghasilkan "galian" yang bisa menjatuhkan kami--bahkan keluarga--sendiri nantinya. Insyaallah..

Setelah menikah, tuntutan tentu lebih banyak, saya tidak menutup kemungkinan berutang di kemudian hari. Lagian saya bukannya bebas utang, kalau ke kantor lupa bawa dompet juga ya terpaksa minjem, besoknya segera diganti. Hihi..

Sembari menanti masa depan yang tidak pernah bisa ditebak dengan kondisi adik-adik saya yang belum menikah (suatu saat pasti butuh kami bantu ye kaaan). Maka kamipun mengelola keuangan jangka panjang (investasi), Abanglah yang bertanggung jawab akan hal ini. Saya mah tahunya hanya menabung emas, ngikut kalau teman mau arisan emas, berbelanja sesuai kebutuhan dan menikmati hidup. :)

Pesan Abang yang juga didapatkannya dari ilmu tentang keuangan adalah "Do Not Put Your Egg In One Basket."

Sumber: pixabay.com

***

Itu tadi sedikit gambaran bagaimana saya dan suami mengelola keuangan setelah menikah. Sekali lagi, tidak ada aturan baku dalam mengelola keuangan, karena ada perbedaan kondisi di tiap rumah tangga. Tapi semoga pandangan dan cara saya--bersama suami-- dalam mengelola keuangan bisa bermanfaat bagi pembaca.

Teman-teman juga bisa membaca tulisan Kak Ira yang berjudul Tentang Pengelolaan Keuangan Keluarga sebagai trigger post tulisan bertema di Be Molulo.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6

Read more

15 Feb 2018

Janji


Kering kerontang
Terketuk mengetuk
Pandanganku gelap tak berbintang
Janjimu hilang tak berbentuk

Asaku terantuk
Terantuk pada tanyamu yang menyelisihiku
Menyelisihi hal yang sudah kau janjikan seraya mengangguk 
Menyelisihi kata-kata manis dari bibirmu

Haruskah aku seperti orang lain?
Menanyakan dimana janjimu dulu?
Berkata manis bukan main
Jika teringat yang ada hanya kelu

Bukan.. 
Bukan ku tak ingin dengar pendapatmu
Tapi sejak awal bukankah kita sudah setujuan
Keputusan tak lagi abu-abu

Ataukah kita tak pernah benar-benar mufakat?
Hanya melempar kata "ya" agar diskusi tak lagi panjang?

Kendari, 150218

Read more

14 Feb 2018

Angkringan Mas Blangkon, Siapa Cepat Dia Dapat

Promosi terbaik adalah promosi dari mulut ke mulut.

Sudah sering mendengar kalimat diatas bukan? Promosi ini yang kemudian membuat sebuah tempat makan yang relatif baru di Kendari menjadi "kelabakan" akan hadirnya pengunjung.

Terbukti dengan rencana makan saya yang berujung zonk saat datang sekitar pukul 19.30, belum juga turun dari kendaraan Bapak yang jualan sudah ngasih "kode" bahwa dagangannya sudah habis. *Ah, si bapak, baru kenal udah main kode aja~ *Plaakkk :D


Angkringan Mas Blangkon
Dibuat dengan mengadopsi konsep angkringan yang sederhana, angkringan ini bisa memperoleh julukan "Laris Manis Tanjung Kimpul" haha.. Lama juga gak dengar kalimat itu. Dagangan laris, duit ngumpul, kurang lebih itu artinya, kali aja ada yang belum tahu kan? :D

Tempat makan ini sependek pengetahuan saya --koreksi jika saya salah-- adalah tempat makan dengan konsep angkringan pertama di Kendari. Menyajikan nasi bakar dengan 4 pilihan rasa: Nasi bakar original, nasi bakar tuna, nasi bakar ayam dan nasi bakar teri.

Untuk lauk, tersedia berbagai pilihan lauk yang umumnya sudah ditusuk serupa sate. Terakhir kali saya kunjungi lauknya antara lain: pokea, udang, cumi-cumi, telur puyuh, hati ayam, ampela ayam, nugget, tahu bacem, tempe bacem, ceker, leher/kepala ayam, bakwan, sambal, apa lagi ya.. Lupaaa.. Tapi sambalnya gratis, kok. Hihi..


Menu minumannya jujur kurang saya memperhatikan, sudah terlalu fokus berebut mengambil makanan. Tapi sepertinya minuman hangat gitu, seperti kopi dan teh, es jeruk juga sepertinya ada, asal jangan cari wedang uwuh yess.. Berat.. yang jualan gak bakal sanggup cari bahannya. Eh.. kenapa jadi #terdilan lagi iniii.. LOL

Rasa
Berbicara soal rasa, sebenarnya bumbunya kurang begitu meresap seperti masakan Mama, maklumlah namanya dagangan kan, kalau Mama yang masak sih masakan bakal mandi bawang dan berlimpah rempah.

Tapi jika diselaraskan lagi dengan harganya, makanannya tidak akan mengecewakan lidah penikmat makanan murah kok. Kalau cari makanan murah tapi tetap enak, Angkringan Mas Blangkon jawabannya. Saya suka nasi bakar tunanya, bumbunya lebih terasa dibandingkan varian nasi bakar lainnya.

Untuk porsi nasi bakarnya porsinya imut, saya bangetlah, kenyang dan enak, apalagi sudah ditambah lauk. Kalau laki-laki mungkin butuh 2 atau 3 nasi bakar plus lauk baru bisa kenyang. Sesuai selera aja.. Tapi bagusan mini-mini gitu sih menurut saya, jadi bisa disesuaikan, kalau porsinya langsung gede kan kasihan yang makannya porsi kecil seperti saya :D

Suasana
Dimana-mana selain menawarkan rasa dan harga yang terjangkau, tempat makan juga tentu menawarkan suasana yang nyaman bagi pengunjungnya. Bisa dengan alunan musik, bisa dengan desain yang instagramable, bisa juga dengan kesederhanaan. Inilah yang bisa didapatkan dari angkringan Mas Blangkon. Sederhana tapi ngangenin. *Seperti Abang #Eh.. :p


Bedanya angkringan ini dengan yang sudah sering teman-teman kunjungi mungkin disini gak sepenuhnya "melantai" karena tetap ada bangku juga yang disediakan, tinggal pilih ingin makan di mana. Oh ya, setelah memilih makanan kita bisa memilih untuk langsung disantap atau dibakar agar kembali hangat.

Harga
Nahh.. Mungkin ini yang ditunggu-tunggu.:D

Harga nasi bakarnya adalah Rp.3.000 sampai 5.000 per porsi. Untuk lauk mulai dari seribu rupiah. Ya.. gak jauh-jauh.. itu harga untuk sepotong tahu/tempe bacem/gorengan. Harga minumannya pass lagi ya.. Haha.. Yang jelas harganya relatif terjangkaulah, apalagi mengingat harga makanan di Kendari relatif lebih mahal dibanding daerah Jawa, kecuali ikan yess..

Sampai saat ini saya sudah 2 kali ke Angkringan Mas Blangkon, sekali waktu zonk, kali kedua kami lebih sigap, datang saat kami masih bebas memilih, itupun tempe dan tahu bacemnya sudah mau ludes aja.. Ah.. Mendebarkan taukk berebut makanan gitu. :D

Dan sekarang.. saya masih suka ngiler terbayang-bayang pengen ke sana lagi, sayang harus senggang waktunya kalau mau makan di luar gitu. Jadi sambil nunggu kesempatan ke sana lagi saya menggantungkan doa saja dulu.. Semoga Angkringan Mas Blangkon ini awet, berkembang, tetap menjaga kualitas bahkan lebih baik lagi.

***

Angkringan Mas Blangkon
Alamat: Jl. Abdullah Silondae No. 19 (kalau di Google Map alamatnya Jl. Bunggasi no.1 - entah kenapa beda)
Anduonohu (Pelataran Ruko Remaja Jaya)
Buka setiap hari, pukul 6.00-09.00 (sekarang sih jam 7 lewat dikit sudah gak kebagian).

Note: Untuk saat ini, kalau makanannya mau dibakar lagi baiknya ditengokin, ibunya kebingungan banyak pelanggan.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...