22 Sep 2016

Kau yang Tak Kukenali


Aku mengingatmu selalu
Dalam setiap kenangan yang terlintas
Dalam setiap lembar foto kebersamaanku denganmu
Dalam setiap doa kebaikan yang menetes

Aku gelisah
Mengingat semua kebersamaan kita
Dalam sedih
Maupun ceria

Aku merasa tak mengenalimu lagi
Kau berubah jauh
Terlalu jauh untuk kukenali
Sebagai orang yang penuh kasih

Kau menjadi orang yang berbeda
Menghindariku seolah aku seorang lawan
Padahal aku hanya menyapa
Kau kawan yang kurindukan

Kawan, maafkan aku
Aku salah telah meminjamimu uang
Aku hanya ingin menolong seperti pintamu
Tak kusangka kau menjadi orang yang tak kukenali lagi, hanya karena uang

Persahabatan kita terlalu berharga untuk kau nilai dengan uang
Ketulusanku menolongmu terlalu mahal kau balas dengan jarak yang kau ciptakan
Kau sungguh masih kawan yang kusapa dengan tulus dan penuh kasih sayang
Walau akhirnya mungkin sapaanku kau artikan sebagai tagihan


Kendari,
Agustus 2016

***

Kebetulan puisi diatas cocok dengan tulisan Mak Haeriah di Website KEB berjudul Bayarlah Utangmu Sebelum ditagih jadi sekalian saja dijadikan tanggapan. Sesekali dalam bentuk puisi ngenes realitis gini gapapalah. :D
Read more

19 Sep 2016

Tentang Make Up


Make Up atau yang dalam bahasa indonesia diartikan menjadi tata rias adalah kegiatan mengubah penampilan dari bentuk asli sebenarnya dengan bantuan bahan dan alat kosmetik. Istilah make up lebih sering ditujukan kepada pengubahan bentuk wajah, meskipun sebenarnya seluruh tubuh bisa di hias (make up).

Jadi dapat disimpulkan bahwa make up tidak akan terlepas dari kosmetik. Make up adalah cara dan kosmetik adalah bahannya. Berat ya urusannya.. Tapi.. sejak kecil kita sudah menggunakan make up kok. Gak percaya? Kita baca tentang kosmetik dulu ya:

Food and Drug Administration (FDA), badan yang mengatur industri kosmetik, mendefinisikan kosmetik sebagai "produk yang dimaksudkan untuk digunakan pada tubuh manusia untuk membersihkan, mempercantik, mempromosikan daya tarik, atau mengubah penampilan tanpa mempengaruhi struktur atau fungsi tubuh". Definisi ini juga mencakup bahan apapun yang digunakan sebagai komponen produk kosmetik.
Kebanyakan perusahaan kosmetik memisahkan kosmetik menjadi dua jenis, yakni kosmetik rias dengan kosmetik perawatan. Perbedaannya adalah:
  • Kosmetik rias umumnya digunakan sebagai riasan untuk area muka atau wajah, misalnya bedak, lipstik, pensil alis, perona pipi, perona mata, celak, dan maskara. Lebih luasnya, kosmetik rias juga termasuk produk untuk merias kuku dan rambut seperti kuteks dan cat rambut.
  • Kosmetik perawatan meliputi produk yang digunakan untuk merawat tubuh, termasuk krim kulit, losion tangan dan tubuh (hand body lotion), deodoran, parfum, sabun, masker muka, dan sebagainya.
Sumber : Wikipedia

Sejak Kecil Kita Telah Menggunakan Make Up
Dari informasi di atas, udah ketahuan dong kenapa saya mengatakan bahwa sejak kecil kita sudah ber-make up? Sejak kecil, kita sudah dibedakin sama emak-emak kita, gak peduli mau anak laki atau perempuan, bedak pasti nemplok di pipi kita walaupun mungkin lebih dimaksudkan agar bayinya menjadi lebih wangi. Iya kan?

Sampai kemudian kita sudah menjadi lebih besar dan bisa memutuskan apa yang kita inginkan, biasanya sih yang laki-laki sudah alergi banget kalau harus pakai bedak, bisa digangguin teman-temannya. Yang perempuan kebanyakan pasti masih pakai bedak. Entah masih lanjut pakai bedak bayi -yang sebenarnya bukan untuk wajah- atau sudah menggunakan bedak yang sesuai untuk wajah. Saat sekolah saya masih lanjut pakai bedak bayi yang sebenarnya bukan untuk wajah itu.Hihi..

Bagi kita yang mendengar kata Make up pasti langsung membayangkan riasan dengan keahlian khusus *keahlian mengukir alis misalnya? :D* tapi tidak seberat itu.. bedak, apapun jenisnya adalah kosmetik, yang jika digunakan, berarti kita telah berhias, menggunakan make up.

Mulai Mengenal Jenis-jenis Make Up
Kalau bicara soal make up, saya jadi ingat cerita saat pertama bekerja dulu, saya yang bawaannya tomboy ternyata menimbulkan kekhawatiran tersendiri untuk kedua orang tua saya, terutama Bapak. Saya tidak sengaja mendengar Bapak bertanya ke Mama dalam bahasa daerah, yang kalau diterjemahkan seperti ini:

"Bisa gak ya anak kita itu nanti pakai lipstik?" 

Saya lupa jawaban Mama waktu itu. Yang pasti saya selalu tertawa mengingat pertanyaan Bapak. LOL

Memang pergaulan juga mempengaruhi, saya yang berpembawaan tomboy dengan teman-teman yang cuek dan suasana tempat tugas yang lebih dekat dengan hutan dari pada kota membuat saya cuek-cuek saja dengan penampilan dan kilang minyak di wajah. Menurut saya, bedak bayi yang saya gunakan setelah mandi sudah cukup untuk modal seharian.

Sampai akhirnya saya mulai mengenal kamera HP. Saya sadar bahwa minyak di wajah membuat kusam, warna bibir juga pucat. Sayapun mulai coba menggunakan bedak padat dan lipstikmulai mengenal mascara, eye shadow, eye liner, blush on, bulu mata palsu, shading. Eits.. kenal saja lho ya.. saya belum tentu menggunakan semuanya, apalagi untuk make up sehari-hari. Tapi kalau ke pesta, saya merasa sudah punya modal.. ga perlu make up ke salon. Lebih hemat dan gak deg-degan hasilnya bakal menor. ^^

Tujuan Menggunakan Make Up
Bagi saya, make up adalah bentuk penghargaan kepada diri sendiri, agar bisa tampil lebih segar dan tidak terlihat kuyu. Baik untuk dilihat langsung ataupun hasil jepretan kamera. Apalagi profesi saya sebagai sekretaris juga mempunyai peran sebagai representasi kantor, karena setiap tamu yang akan bertemu pimpinan tentu akan bertemu saya terlebih dahulu. Kantor memang tidak menuntut, tapi saya berusaha tampil sebaik dan senatural mungkin, menor juga not my style. Hehe

Make Up di Masa Depan
Lalu bagaimana jika suami saya nanti meminta saya untuk tidak menggunakan make up? Well, pertama-tama tentu saya akan menjelaskan bahwa tujuannya apa, jika minta dikurangi, akan saya ikuti batasannya dan jika diminta tidak menggunakan make up sama sekali, ya sudahlah ya.. ikuti suami saja. Perawatannya aja yang dikencengin. *Asal tau saja, perawatan umumnya justru lebih mahal lhoo* Hahah...

***

Blogpost KEB berjudul Berani No Make Up yang ditulis oleh Mak Lia Harahap membuat saya ikut berpikir dan spontan menjawab BERANI! Karena dalam keseharian saya, apalagi saat cuek melanda, tidak memakai bedak untuk mengusir minyak di wajahpun saya lakukan. Saya pede dengan jawaban spontan saya.

Yaudah sih.. Hal-hal diatas saja yang terpikirkan kalau membicarakan tentang make up. Terutama pengalaman mengenal make up itu, membekas banget. Teman-teman punya pengalaman apa seputar make up? Berani tampil tanpa make up juga? Kaum adam gimana pendapatnya? ^^

Read more

14 Sep 2016

Rasakan Kepuasan Berbelanja di Kawasan Nusa Dua dan Sekitarnya

Berwisata dan menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta merupakan kesempatan berharga. Setiap kali berwisata di luar kota, selain memilih hotel dan penginapan yang menjadi kebutuhan utama, ada satu hal yang tak kalah pentingnya, yakni berbelanja! Berburu pernak-pernik lucu khas daerah yang kita kunjungi. Apalagi jika kota tujuan Anda adalah Bali. 

Berwisata ke Bali tidak akan terasa lengkap jika belum mendatangi kawasan pusat perbelanjaannya, baik itu pasar tradisional, maupun mal-mal populer dengan brand-brand ternama lainnya. Tempat-tempat ini tak hanya ditemukan di sekitar Nusa Dua, tetapi juga kawasan Kuta, Seminyak, Gianyar dan sekitarnya. 

Beberapa lokasi di Bali menjadi spot menarik untuk menjalankan hobi dan kebutuhan berbelanja Anda di sini. Agar daftar tempat belanja Anda makin lengkap, yuk kita cek beberapa pusat berbelanjaan yang bisa Anda kunjungi. Here we go:

Bali Collection
Tempat yang beralamat di Jalan Nusa Dua, Kuta ini menjadi salah satu buruan wisatawan ketika ingin memborong pernak-pernik dan oleh-oleh khas Bali. Uniknya, Bali Collection ini memiliki konsep menyerupai suatu kawasan hunian terpencil di suatu pedesaan dan menghadirkan banyak pilihan barang-barang kebutuhan para wisatawan. Namun semuanya dikemas dengan fasilitas serba modern.

Sumber: bali-collection.com

Beberapa butik ternama juga nampak melengkapi beberapa titik kawasan belanja ini. Fasilitas lainnya juga akan memanjakan para pengunjung seperti halnya restoran-restoran, butik dan toko suvenir. 

Pemandangan khas pedesaan dengan kombinasi keindahan Nusa Dua juga nampak alami dengan deretan pohon hijau di sepanjang jalannya. Dan seperti Bali yang telah dikenal dunia akan seni dan budayanya, maka tempat ini juga memberi apresiasi yang tinggi pada seni dan tradisi dengan menyediakan sebuah teater atau amphitheatre berupa panggung terbuka. Teater ini sering kali menggelar pertunjukan seni, tari-tarian tradisional. 

Krisna Bali
Krisna Bali juga menjadi salah satu tempat berburu oleh-oleh khas Bali. Anda bisa memilih beragam makanan dan cemilan khas Bali seperti dodol Bali, pie susu, kue kering, dan banyak jenis makanan kering lainnya. Selain makanan, juga menyediakan aneka kopi lho, antara lain kopi Bali spirit, Kopi Mangsi dan juga Kopi Kintamani. Ada juga beragam pakaian khas Bali yang bisa Anda temukan di sini dengan harga miring sekitar Rp.15.000 saja.


Sumber: piesusubliman.com

Bahkan toko ini buka jam layanan dalam waktu 24 jam, hebat bukan?! Selain itu, jaraknya sangat dekat dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai, yakni hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 5 menit saja. Nah, untuk mendapatkan barang-barang tersebut Anda bisa mendatangi langsung alamatnya di Jalan Raya Tuban, Kuta.

Joger
Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata Joger? Istilah ini sudah sangat populer, terutama bagi wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh khas Bali. Tempat belanja satu ini juga menjadi ikon yang lekat dengan kata Bali. Barang-barang yang dijual cukup beragam dengan tampilan menarik, lucu khas anak muda.

Anda bisa mendatangi juga Pabrik Kata-kata Joger yang menjual t-shirt dengan trend kata-kata lucu dan nyleneh yang dijual toko ini. Meski sudah lama berdiri, Joger tetap menjadi daftar buruan tempat belanja yang dicari. Alamatnya ada di Jalan Raya Kuta dan Bedugul.

Kampung Nusantara
Kampung Nusantara ini ada di Jalan Sunset Road, Kuta. Tak jauh berbeda dengan pusat oleh-oleh di Bali, Anda tidak hanya bisa membeli kerajinan, tetapi juga cemilan khas Bali yang lezat. Jika Anda juga ingin memilih kepuasan hasil karya lukisan para seniman di Bali juga bisa membelinya di ruang khusus dari Kampung Nusantara ini.

Pasar Sukawati
Pasar ini adalah salah satu pasar tradisional yang banyak menjual barang-barang seni dan hasil kerajinan khas Bali, termasuk pakaian dan batik motif Bali. Beralamat di Desa Sukawati, Gianyar. Lokasinya bisa ditempuh dari Bandara Ngurah Rai dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit perjalanan.

Seperti halnya pasar tradisional lainnya, keseruan berbelanja di sini makin terasa karena Anda bisa menawar sepuasnya. Tapi Anda juga harus memperhatikan jam layanan buka pasar ini karena ada sedikit perbedaan. Di area art market berlaku jam buka dari 10 pagi hingga jam 5 sore, sedangkan di lokal market berlaku jam buka dari 8 pagi hingga 3 sore.

Galuh Art Shop
Toko yang satu ini memiliki spesifikasi barang-barang jualan berupa produk pakaian, aksesorinya, juga suvenir mulai dari tas, T-shirt, hiasan dinding dan lainnya. Namun yang paling menonjol adalah tentang batiknya. Harga di sini tidak bisa ditawar lagi, tetapi pengunjung masih bisa mendapatkan perlakuan khusus dengan adanya diskon yang ditawarkan. Alamatnya di Jalan Raya Bati ubulan, Gianyar, Bali.

Setelah puas memenuhi kebutuhan belanja Anda, maka bisa langsung menuju hotel untuk beristirahat, sebelum melanjutkan agenda wisata Anda ke tempat lainnya esok hari. Salah satu hotel yang berada di pusat keramaian Bali adalah The Westin Resort. Untuk informasi booking hotel secara online anda bisa langsung lihat di situs travel online www.traveloka.com

Cukup mudah untuk menemukan alamat hotel ini, yakni di di Po Box 36 Nusa Dua. Selain kelengkapan fasilitas seperti halnya hotel berbintang lima lainnya, juga memiliki kenyamanan yang bisa membuat Anda dapat lebih tenang beristirahat. Beberapa kenyamanan hotel ini bisa terlihat di salah satu area hotelnya.

 Sumber: traveloka.com

Anda bisa menikmati keindahan pantai di dekat hotelnya sambil bersantai di kursi-kursi cantik yang tersedia di bibir pantai. Ditambah lagi dengan warna-warni lampu yang unik berjumlah cukup banyak dan dibiarkan tergeletak di pasir dekat kursi-kursinya. 

Kepuasan Anda mengunjungi Bali, tentu tak hanya dalam hal pengalaman belanja Anda. ketenangan dan indahnya Pulau Bali juga akan menjadi hiburan tersendiri, khususnya bagi Anda yang ingin menyingkir sejenak dari kesibukan dan rutinitas kerja. So, jangan lupa luangkan waktu libur Anda dan belanjalah dengan bijak ya. Happy holiday!

Read more

7 Sep 2016

Wapens Cafe, Wifi Kencang Biaya Mahasiswa

Wapens Cafe berada di jalur yang sering kali saya lewati baik saat datang maupun pulang kantor. Setiap hari melihat tempat itu sayapun penasaran. Sampai akhirnya saya janjian dengan teman untuk sama-sama menjajal tempat nongkrong baru di Kendari tersebut.


Wapens Cafe terdiri dari 2 lantai, di lantai dasar terdapat panggung untuk live music, tempat nongkrong tentunya, dan meja kasir. Karena cafe ini adalah bangunan ruko dan lantai dasarnya kurang dimasuki oleh cahaya matahari, maka cafe ini diberi penerangan, yang tertangkap oleh saya kesan yang ingin diberikan adalah penerangan dengan kesan klasik.



Lantai 2 cafe ini berkebalikan dengan lantai 1, lantai 2 kaya akan cahaya alami, menurut saya tempatnya juga lebih asik dipakai nongkrong daripada di bawah, mungkin kalau ada live music lantai 1 akan lebih menyenangkan.


Di lantai 2 Wapens Cafe terdapat teras yang menguntungkan untuk nongkrong, selain kita bisa mengamati kegiatan di luar cafe yang berhadapan langsung dengan kampus STIKES Mandala Waluya, orang di luar cafe juga cenderung tidak bisa melihat kita. Dilantai 2 ini juga secara mengejutkan terdapat sebuah distro.


Untuk fasilitas, cafe ini dilengkapi dengan fasilitas wifi yang gak bikin memble.. alias kencang! Buffering will not bother you. Menu makanan dan minuman tidak begitu banyak pilihan, akan tetapi dompet mahasiswa -yang terkenal ramping itu- bisa dibawa nongkrong ke cafe ini. Murah meriah.. Ubi goreng dan sambalnya enak. I suggest this one! ;)


Kekurangan cafe ini tentu saja ada, jumlah karyawan sepertinya masih kurang, karena kami dilayani hanya oleh 1 orang saja yang pada saat itu, selain menerima pesanan, memasak, juga mengurus pembayaran. Katanya sih sedang ditinggal keluar oleh 1 orang kawannya. Tapi gak begitu mengganggu kok...

Di bawah ini akan saya berikan nilai plus dan minus, harapannya pihak cafe bisa berbenah menjadi lebih baik, mengingat dengan kelebihannya tempat seperti ini tentu menjadi kebutuhan para mahasiswa-mahasiswa kita.

Nilai (+) :
  • Wifi oke.
  • Harga murah.
  • Letak cafe strategis.
Nilai (-) :
  • Konsep yang ingin ditampilkan pada cafe belum tereksekusi dengan baik.
  • Karyawan kurang sehingga pelayanan berjalan agak lambat.
  • Tidak ada mushola.
Wapens Cafe
Jl. A. H. Nasution
Tepat di depan STIKES Mandala Waluya
Kendari
Read more

6 Sep 2016

Upacara 17 Agustus di Pulau Bokori

Hai.. haii..
Lama banget rasanya gak nulis lagi, BW juga nyicil pakai cicilan teringan. Agustus kemarin bener-bener menyita fokus saya, selain mempersiapkan diri untuk ujian penyesuaian ijazah di kantor, ada pekerjaan yang dijadwalkan akhir bulan malah dimajukan dan dipadatkan jadwalnya.  Perfect reason to say I was busy. :D

Okeh.. dengan menyajikan alasan di atas, saya jadi punya alasan lagi untuk membahas yang sudah lewat. Yaitu upacara bendera di pulau Bokori.. itu lho.. yang pernah saya ceritakan sebelumnya..



17 Agustus 2016, wajah Bokori didandani sebegitu rupa untuk menyambut para aparatur sipil negara yang diwajibkan untuk mengikuti upacara di pulau yang sedang naik daun ini. Terlepas dari segala kontroversi hukum wajib tersebut, saya ingin berbagi cerita pengalaman saat mengikuti upacara di bawah langit yang sangat cerah hari itu.
Beberapa pengantar peserta upacara

Baru kali ini kantor kami tidak mengadakan upacara, tapi menghadiri undangan upacara, kami yang tidak terkena hukum wajib untuk menghadiri upacara bisa mengatur jadwal sesuai kesepakatan kami. Tapi tetap mengikuti peraturan yang disyaratkan oleh panitia upacara.

Berburu Kacu
Salah 1 persyaratan upacara adalah berpakaian hitam putih dengan kacu tersemat di leher. Kacu.. itu lho.. perlengkapan pakaian pramuka yang berwarna merah putih. 

Kacu seketika menjadi barang yang paling diburu di Kendari, barang yang tadinya hanya tersimpan di lemari sebagai stok toko, jelang 17 Agustus terpajang melambai-lambai di depan toko. Di beberapa toko harganya bahkan dinaikkan.. Tak perlu kuliah 4 SKS kalau soal hukum permintaan penawaran seperti ini. LOL

Ibu-ibu yang tadinya hanya menyiapkan kacu karena anaknya ikut pramuka, saat itu mulai meminta izin kepada anaknya untuk menggunakan kacunya. *Semoga belinya dulu gak ngomel-ngomel jadi gak diomelin balik sma anaknya :p*

Kacu seperti menjadi pemberi rasa percaya diri, minder jika tak berkacu. Apapun pengikatnya, mau rotan, kulit berlambang tunas muda, pengikat untuk anak SD bahkan hanya dari karet gelang, yang penting berkacu. Dengan modal kacu, kamipun berlayar ke pulau Bokori.. eits.. gak dong.. tetap naik kapal, kacu tak se sakti itu! :D

Wajah baru Bokori
Bokori sebelum dan saat 17 Agustus

Terakhir ke Bokori, saya memang mendapat info bahwa pembangunan sedang digenjot untuk menyambut upacara kemerdekaan. Tapi, saya tidak menyangka bahwa dalam waktu singkat Bokori berubah begitu banyak, ibarat wajah gadis yang terkena polesan make up, Bokori itu "manglingi" saya seperti baru saja menginjakkan kali di Bokori. Iya.. gifo lagiiii! LOL

- Land Mark
Bokori sekarang punya landmark kece.. saya suka desainnya, landmark BOKORI dibuat dengan warna kuning cerah dengan huruf K yang dibuat menyerupai pohon kelapa, pantai bangett!

- Pulau 2
Bokori punya 2 pulau yang dihubungkan dengan jembatan kayu panjang, seperti landmark, jembatannya juga baru selesai dibuat. Sederhana, tapi cantik dengan hiasan merah putih di sepanjang jembatan.
Gazebo diantara pohon bakau, hanya di Pulau 2

- Lapangan Upacara
Kalau dulu di Bokori hanya ada lapangan Voli, sekarang ada lapangan upacara, tiang bendera berdiri menjulang di tengahnya. Entah akan dipakai lagi di kegiatan selanjutnya atau tidak, tapi pulau ini punya keistimewaan dibandingkan pulau lain.. Lapangan upacara berpasir putih!

Pelaksanaan Upacara
Nah.. sekarang masuk ke kegiatan inti. Ternyata, kami staf ini hanya "tim hore" dalam upacara 17 Agustus kali ini, tidak seluruh pegawai diharuskan menjadi peserta upacara, selain tempat duduk yang terbatas, lapangan upacara pun tidak mampu menampung seluruh "tim hore".

Menjadi "tim hore" kami tentu enjoy-enjoy saja, mengingat cuaca perfecly terik berkolaborasi dengan hawa laut yang tak perlu lagi dipertanyakan derajat panasnya. Kami berteduh di gazebo yang padat penghuni, tapi tetap memantau jalannya upacara, bendera naik, kamipun ikut melakukan penghormatan.

Saat penaikan bendera, ada sebuah insiden yang terjadi, bendera tidak bisa naik sampai ke atas seiring dengan iringan lagu Indonesia Raya karena tali pengikatnya terlilit. Beberapa yang saya dengar saling menyalahkan, saya menganggap itu hal yang lumrah terjadi, selain angin memang bertiup kencang saat itu, adik-adik paskibraka yang bertugas sudah berlatih dan berusaha dengan keras, mereka pasti tidak ingin hal tersebut terjadi. Setelah adik-adik paskibraka keluar dari barisan, kami memberikan tepuk tangan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi. Mereka hebat.. Orang tua mereka pasti bangga, pun juga para pelatihnya.

Piknik Dimulai
Setelah upacara selesai, kami mulai berhamburan mencari spot untuk berfoto, well.. sebenarnya bukan hanya saat selesai upacara sih.. sebelumnya juga kami sudah mengambil beberapa foto. Tapi kali ini kami sudah tidak takut lagi terpisah dari rombongan. Demi banyak sebuah foto!

Rame lebih asyik!! ^^

Kami seketika melupakan hawa panas di pulau, kami bercerita di bawah pohon pinus, menikmati lemparan cerita dan setiap "pause moment" untuk berfoto walau tidak mempunyai posko seperti kebanyakan instansi. Tapi inilah yang bikin happy.. karena kami tidak harus menunggu untuk mengikuti upacara penurunan bendera. Setelah puas mengambil banyak gambar kamipun pulang dengan kapal yang lebih penuh dari sebelumnya. Kami tak mungkin melarang orang yang hendak menumpang. However it was fun!^^

Read more

25 Aug 2016

Saat Kau Pergi


Kawan, pernahkah kau bertanya dalam hati?
Saat nanti kau pergi
Adakah yang akan merasa kehilangan?
Menangisimu dalam diamnya?

Pernahkah kau bertanya pada hatimu?
Saat kau pergi
Adakah ruang kosong yang kau tinggalkan di hati seseorang
Mungkin kan terisi tapi tak mudah baginya?

Saat kau pergi
Apakah orang yang kau sayangi
juga menyayangimu?
Tulus hati tanpa kepalsuan?

***
Kejadian meninggalnya sahabat jelang Ramadan kemarin, akhirnya membuat saya mengingat kembali pemikiran-pemikiran selama ini. Tidak mudah menemukan orang yang tulus kepadamu, yang bahkan saat engkau pernah memunggunginya, ia tetap tulus mendoakan kebaikan untukmu.

060616
Read more

22 Aug 2016

Full Day School, Sudah Siapkah Kita?

Membaca tulisan Mak Yuniar Nukti di KEB mengenai full day school, saya kemudian teringat sebelumnya sudah membaca banyak komentar dan tulisan sebagai bentuk reaksi mengenai wacana tersebut. Daripada menjadi reaktif (sedangkan ilmu saya rasanya masih kurang) saya memilih mengamati sekaligus mengambil pelajaran dari banyaknya pikiran-pikiran yang dituangkan teman-teman di media sosial maupun blog.


Karena harus menanggapi tulisan dari Mak Yuniar Nukti saya akhirnya menulis ini sambil mengajak kita bersama-sama untuk merenungkan, apakah kita sudah siap dengan penerapan full day school? Menurut saya, ada banyak hal yang perlu diperhatikan jika ingin menerapkan full day school (FDS) yang sama-sama kita ketahui telah lebih dulu diterapkan di pesantren ini.

1. Tidak semua orang tua bekerja 
"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja”
Petikan kalimat diatas adalah alasan bapak Mendikbud melepas wacana FDS, selain ingin membangun karakter juga ingin menyelaraskan jam kerja orang tua dengan anaknya.

Kita tentunya sama-sama mengetahui bahwa kondisi orang tua murid berbeda, tidak semua orang tua bekerja atau tidak semua orang tua bekerja di luar rumah. Kalaupun bekerja di luar rumah, jam kerja bisa jadi berbeda, jikapun sama, kami yang tinggal di daerah yang belum mengenal macet ini Alhamdulillah bisa sampai 5-30 menit di rumah kami masing-masing. Waktu untuk bertemu dengan anakpun akan lebih banyak. Perbedaan ini patut menjadi perhatian.

2. Kondisi Ekonomi
FDS yang menuntut waktu lebih banyak dari siswa tentu akan menuntut pengeluaran yang lebih banyak dari orang tua siswa. Siswa yang tadinya bisa makan siang di rumah harus makan siang di sekolah dan makan di luar rumah tentu saja menuntut biaya lebih. Uang jajan anak mau tidak mau harus ditambahkan. Bekal tidak selalu bisa diberikan pada anak setiap hari, sedangkan kondisi ekonomi siswa tentu beragam, mulai dari yang orang tuanya mampu, tidak mampu, bahkan siswa yang harus bekerja untuk menyokong ekonomi keluarga.

3. Infrastruktur
Infrastruktur yang kurang memadai sangat mempengaruhi penerapan FDS ini.

Seberapa sering kita mendengar berita tentang anak-anak sekolah yang menantang maut demi sampai ke sekolahnya?

Seberapa sering kita mendengar cerita dari orang tua kita di meja makan tentang betapa susahnya jaman mereka sekolah dulu? Pulang pergi sekolah harus berjalan kaki, pulangnyapun masih harus menggali ubi lagi di kebun untuk dimasak.

Cerita di atas belum usai di daerah kami, Sulawesi Tenggara, mungkin kami tak lagi harus menggali ubi untuk dimakan sepulang sekolah, tapi cerita tentang anak-anak sekolah yang harus berjalan belasan bahkan puluhan kilo meter untuk mencapai sekolah terdekat itu pernah saya saksikan sendiri. Bahkan saya masih menyaksikannya tadi saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten yang berjarak 100 Km dari ibu Kota. Jangan tanyakan jemputan dari orang tua, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan saja sudah syukur mereka tidak sampai putus sekolah.

Tingginya pendakian atau jauhnya jarak tidak jarang menghentikan perjalanan anak sekolah yang kulitnya berwarna khas terpaan matahari itu, teriknya matahari menyita waktu mereka lagi untuk lebih cepat sampai di rumah agar bisa beristirahat dengan lebih layak. Masih akan direnggut lagikah waktu yang mereka inginkan itu? Disamping itu, sudahkah sekolah menyediakan kantin yang layak untuk mendukung penerapan FDS? Mungkin kita harus memulai dari menyediakan sarana dan prasarana yang layak untuk anak bangsa.

Baca juga: Disentil Oleh Seragam Putih Biru

4. Kurikulum
Kurikulum harus menjadi perhatian, demikian juga penerapannya di sekolah. Dirancang dengan mempertimbangkan banyak aspek termasuk kondisi siswa. Jangan  sudah seharian di sekolah (walaupun tidak seluruh waktunya dipakai untuk belajar) sepulang dari sekolah masih juga diberikan tugas dengan deadline yang mepet. Ini curhat saya juga sih.. padahal dulu belum diterapkan FDS. Perasaan jenuh dan lelah pasti kami rasakan.

5. Guru
Mengenai guru ini 2 hal yang menjadi perhatian saya: 

- Komunikasi antara orang tua di sekolah dan di rumah

Sejauh yang saya pahami saat sekolah dulu, seperti inilah kami diajarkan, "guru adalah orang tuamu di sekolah" kewajiban kami jelas sama, menghormati dan patuh kepada mereka.  Membalas jasa? Sama saja dengan orang tua kandung, kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan para guru, orang tua kami di sekolah dulu.

Lalu apa jadinya jika komunikasi antara orang tua di rumah dan orang tua di sekolah tidak terjalin dengan baik, semua pasti langsung terbayang kasus pemukulan yang dilakukan orang tua murid terhadap guru di sekolah beberapa waktu yang lalu. Itu adalah contoh nyata mengapa kita perlu dan wajib membangun komunikasi yang baik antara orang tua di rumah dan di sekolah, dengan komunikasi yang baik, kepercayaan akan tumbuh kuat. Terbayang kan bagaimana harus menitipkan anak kita menjalani FDS jika kita tidak percaya kepada orang tuanya di sekolah?

- Kesiapan Guru
Tidak ada yang meragukan kemampuan guru dalam mengajar siswanya, tapi dalam hal ini guru juga punya kehidupan pribadi yang patut dipertimbangkan. Berbeda dengan guru-guru di pesantren yang sejak awal sudah mengetahui jam kerja dan tanggung jawab apa yang harus dipegangnya. IMHO, guru-guru di sekolah luar pesantren akan "kaget" dengan perubahan jam mengajar ini. Ada candaan yang saya baca, tentang guru yang masih single dan butuh mencari jodoh juga untuk masa depannya. Ini lucu, bukan urusan negara, tapi saya menganggap ini sebuah perumpamaan untuk memberi ruang bersosialisasi untuk guru. Itu guru yang single, bagaimana dengan guru yang sudah punya anak? Ahh.. kita jadi punya budaya titip menitip anak sepertinya..

***

Sekali lagi jam sekolah yang diubah butuh banyak penyesuaian.. Sudahkah kita siap? Kita sebagai pemberi kebijakan, orang yang menjalankan kebijakan, orang tua anak yang harus menjalani FDS, anak yang harus menjalani FDS, atau single seperti saya yang menanti pak guru single itu menemukan saya? Serius amat dari tadi... LOL.

Teman-teman bagaimana pandangannya tentang FDS ini?

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...