1 Mar 2017

Malioboro, Lebih Nyaman dikunjungi Malam atau Siang?

Siapa yang tidak mengenal Malioboro? Sebuah tempat yang boleh dikatakan fenomenal dengan segala daya tariknya. Malioboro adalah nama jalan di Yogjakarta yang di Wikipedia dikatakan sebagai jalan poros garis imaginer Keraton Yogyakarta.

Beberapa saat yang lalu saya beruntung diberi kesempatan belanja mengunjungi tempat ini. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Saat gelap dan terang. Jadi saya merasakan 2 sensasi berbeda. Saya tahu pasti sudah banyak tulisan membahas tentang Malioboro, tapi selain memberikan sudut pandang dari saya, saya juga ingin menuliskan ini sebagai salah satu kenang-kenangan perjalanan.

Jadi, Malioboro lebih nyaman dikunjungi malam atau siang?

Sumber gambar:
@rnysyalinry dan @tn.mura

Bagi saya 2 waktu "gelap" dan "terang" ini punya keunggulannya masing-masing.

Malioboro di Malam Hari

Malioboro di malam hari, punya sensasinya sendiri. Pada malam hari, tempat ini tidak diragukan akan sangat padat oleh pengunjung. Entah kapan sepinya, ada saja orang wara-wiri di kawasan ini. Tapi keramaian inilah yang membawa excitement tersendiri bagi saya, mungkin untuk pengunjung lain juga.

Kesulitan mencari parkiran sampai harus berputar-putar dahulu (saat itu naik mobil, jadi lebih susah mencari parkiran), bingung mencari angkringan saking banyaknya, seniman-seniman jalanan yang menunjukkan kebolehannya masing-masing, jalanan di depan ruko yang menjadi seperti gang karena dipenuhi oleh dagangan di kiri dan kanan, pengunjung yang tidak jarang hampir bertubrukan badan saat belanja.
A post shared by Mai to manga (@maitomanga) on
Ahh.. anehnya, saya merindukan saat-saat itu. Mungkin karena harga-harga yang ditawarkan oleh para pedagang jauh lebih murah dari Kendari, kota saya dilahirkan dan dibesarkan, semua jadi hiburan. Haha.. ndeso banget yak? Well... I like shopping, sudah ke banyak tempat, tapi Malioboro tetap membuat saya menggila! LOL

Tidak mengherankan kalau Malioboro menjadi salah satu wisata malam yang ditawarkan bagi para wisatawan.

Oh iya, saya diceritakan oleh Bos yang sudah beberapa kali pulang kembali ke Yogya, angkringan yang kami kunjungi saat itu sudah menjadi pedistrian area, angkringan tidak lagi diperbolehkan ada di situ, trotoar sudah diperlebar dan diperuntukkan khusus untuk para pejalan kaki yang ingin menikmati suasana di kawasan Malioboro.

Tidak hanya itu, di pedistrian area juga disediakan bangku-bangku taman yang terbuat dari kayu disertai dengan lampu-lampu taman yang cantik.  Lampu taman ini tentu makin terlihat cantik saat malam hari. Romantis gak sih, duduk di bangku taman sambil megang sekantung gede belanjaan? Bhaha.. teteup ya.. poinnya di belanjaan juga! :D

Malioboro di Siang Hari

Malioboro saat disinari matahari hari juga tidak kalah menarik. Bagi pengunjung yang ingin dengan bebas berfoto di papan jalan bertuliskan Malioboro, saat inilah yang paling lega. Pengunjung saat siang hari tidak seramai di malam hari. Jadi tidak perlu antri lama hanya untuk berfoto di salah satu papan, ini pengalaman saya beberapa bulan lalu ya, entah sekarang masih seperti ini atau tidak.

Gak sanggup antri! Malu juga kalau foto dilihatin orang :D

Untuk yang tidak begitu suka keramaian tapi ingin mengunjungi kawasan ini sekaligus berbelanja, waktu ini juga tepat karena bisa menikmati belanja tanpa harus berdesak-desakan dan bisa melihat warna dengan lebih baik. Apalagi tersedia banyak batik yang menarik dengan beragam warna dan harga yang menggoda iman dompet. Maklumlah ya.. Yogya kan sudah terkenal sebagai kota batik, saya pun ikut kalap saat berbelanja batik saat berkunjung. Haha..

Yang juga menarik saat berkunjung di siang hari adalah, pengunjung akan lebih menyadari tata letak toko dan bangunan lainnya. Saat berkunjung siang hari saya baru menyadari ada beberapa gedung pemerintahan di area Malioboro.

Jika tidak salah, ada kantor Gubernur DIY, Dinas Pariwisata dan LPSE Pemda DIY. Maklum, waktu jalan gak merhatiin peta. Taunya malioboro tempat belanja daerah wisata, udah itu aja. Hehe

Oh ya, kalau belanjanya siang pasti panas ya? Gak juga sih ya, beda tipis aja hawanya. Soalnya malampun pada desak-desakan, rebutan oksigen, iya kalau bikin yang jualan gak fokus jadi pembeli dikasih harga murah, kalau pembeli dikasih harga murah tapi ditawar lagi jadi lebih mahal saking gak konsennya gimana? Hahah...

Jadi, kesimpulannya gimana Ir? Nyamannya siang atau malam? Mm.. pembaca saja yang menentukan ya.. soalnya saya kalau sudah urusan belanja suka lupa diri, tiba-tiba kekuatan itu nambah sendiri aja gitu pas lagi hunting. Lemesnya nanti kalau udah sadar duit tak banyak lagi di dompet. Haha..

Gak ding, silakan dinilai saja dari cerita saya, apalagi yang sudah pernah merasakan keduanya, setiap orang punya tingkat kenyamanan yang berbeda-beda. Ambil tengahnya aja sore gimana? *Malah ngelantur. :D

Nah, teman-teman yang sudah pernah ke Malioboro di dua waktu di atas, lebih nyaman mengunjungi kapan? Malam atau siang?

Read more

27 Feb 2017

Premarital Check Up, Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Pengantin

Hulaaaa...

Sudah senin lagi, sudah tanggal 27 lagi, dan tulisan di blog ini baru 3 buah saja. Ckckc.. Jadwal menulis yang saya buat, bulan ini saya langgar semua. Padahal cuma 3 kali seminggu, apalah daya, kali ini mood pengen leyeh-leyeh aja bener-bener menguasai. Padahal ya, beberapa artikel hanya perlu sedikit ditambahkan beberapa kata. Artikel lainnya juga hanya perlu ditambahkan foto. Kelar..

Gitu sih rencananya, tapi kelihatan kan ya, kalau sudah ada paragraf pembelaan diri seperti ini berarti rencanya itu gak terlaksana. Haha.. Beberapa pembully pembaca setia blog saya juga ada yang menanyakan kenapa buka blog tapi ternyata belum juga update tulisannya. Terharu sekaligus berasa dijambak kerudung saya.. ah.. ini saya mulai lebay lagi. LOL

Nah.. akhir minggu kemarin, mood leyeh-leyeh dan emak-emak saya berhasil dikalahkan. Jadi, hari Sabtu pagi itu kalau gak ada janjian lari sama teman-teman biasanya saya mencuci, untuk masa depan yang lebih cerah.. bukan.. bukan.. kadang Sabtu siang saya arisan, dan Sabtu Sore saya seringnya ikut Sableng aka Sabtu Lari Bareng #KawanLari RFI Kendari. Jadi urusan yang bisa dikerjakan pagi saya kerjakan sebisanya.

Baca juga: Run For Indonesia, Bukan Sekadar #KawanLari

Tapi rutinitas pagi saya itu buyar oleh WA teman yang mengajak ikut seminar gratisan di kantornya. Maklumlah ya saya memang lemah oleh gratisan (padahal ditambah gak enakan juga sih :p). Kebetulan juga cucian belum saya basahi, jadi tidak khawatir bau dan lain-lain. Pesan di aplikasi WA yang masuk 1 jam sebelum acara dimulai lumayan santai saya tanggapi, tempatnya tidak begitu jauh dari rumah. Jadi masih sempat tanya teman-teman lain yang diajak juga, mereka tidak bisa memastikan. Berhubung saya sudah ada niat 70% mau datang jadi saya penuhi saja.


Saat tiba, peserta seminar yang masih bisa dihitung dengan jari itu sudah disuguhi sebuah video yang sayangnya saya gak nangkap isinya apa. Resiko telat belasan menit. Saat registrasi juga saya diberitahu ada lomba foto yang dinilai oleh jumlah like terbanyak selama seminar berlangsung, duh.. datangnya mepet saya.. sudahlah.. saya ikhlas gak menang #Eh :D

Intronya panjang ya.. ini buat mancing mood saya juga sebenarnya, jadi maaf kalau becandanya gak penting. *Ngaku sendiri! :p

Jadi, Apa sih Premarital Check Up itu?
Premarital check up adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk memastikan status kesehatan kedua calon mempelai terutama untuk mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau diturunkan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin.

Ih, serem banget, ntar malah gak jadi nikah!
Sini.. sini.. toss duluuu.. Haha.. pikiran kita sama, tapi itu saat saya belum selesai mengikuti seminar. Setelah ikut, pikiran sudah terbuka dan ilmu sudah masuk, saya jadi mikir, Premarital check up ini memang sebenarnya penting. Seriusan penting, Premarital check up ini bukan hal yang harus ditakutkan.

Lalu, Apa saja yang diperiksa?
Ada 10 pemeriksaan yang dilakukan terhadap laki-laki, sedangkan pada perempuan ada 13. Kok Beda sih? Iya, karena pada perempuan ditambahkan 3 pemeriksaan lagi, yaitu Anti-Rubella IgG, Anti-Toxoplasma IgG dan Anti-CMV IgG.


Memangnya apa manfaat melakukan Premarital Check Up?
Dengan melakukan Premarital check up, penyakit yang sebelumnya belum terdeteksi bisa didiagnosis dan diobati sehingga bisa mencegah penularan penyakit yang mempengaruhi pasangan serta sebagai uji saring adanya masalah fertilitas.

Kalau ada masalah kesehatan lho ya, kalau gak ada ya udah lanjut maaang.. Kita tidak perlu menerima tindakan medis seperti pengobatan maupun pencegahan lainnya. :)

Apabila ditemukan potensi penyakit
Jika ditemukan penyakit atau potensi penyakit, apa kemudian pernikahan harus dibatalkan? Tes yang sebaiknya dilakukan 6 bulan sebelum pernikahan ini, sejak awal bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan masing-masing calon pengantin dan kemungkinan penyakit yang akan timbul jika pasangan memutuskan tetap bersama. Bukan untuk mencegah penikahan. Para pasangan tentu akan diberikan gambaran terhadap hasil tes, pengobatan dan pencegahan. Sebatas itu saja, keputusan untuk melanjutkan pernikahan tetap ada pada calon mempelai.

Bapak Ricky J.Y Mandagi, S.Kep selaku kepala cabang Prodia Kendari yang juga bertindak sebagai pembicara pada seminar pagi itu juga menegaskan 2 hal;
1. Keputusan tetap ada di tangan calon mempelai, Prodia hanya membantu memberikan gambaran, dan opsi-opsi penanganan terhadap calon mempelai.
2. Diatas diagnosa maupun kemungkinan medis yang ada, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara medis, terlebih jika Tuhan sudah berkehendak.

Benar kan ya.. Kita memang tidak bisa mencegah tapi tindakan pencegahan yang sudah dilakukan tentu sudah merupakan bentuk ikhtiar kita sebagai manusia.

Sesi tanya jawab

Apa saja yang bisa dideteksi melalui Premarital Check Up ini?
1. Kesehatan fisik secara umum
2. Diabetes melitus (kencing manis)
3. Hepatitis B
4. Penyakit yang dapat diturunkan seperti Thalassemia
5. Ketidakcocokan golongan darah A,B,O dan rhesus
6. Ada tidaknya penyakit menular akibat hubungan seksual

Saya semakin aware dengan pentingnya tes ini setelah diberi gambaran tentang penyakit Thalasemia, sebuah penyakit genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Akibatnya, anak selalu kekurangan darah (anemia) yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin. Bukan anemia yang umum, karena pada Thalasemia yang berat, anak harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Kebayang?

Duh.. :(

Bukan hanya itu, beberapa penyakit juga memang tidak menunjukkan gejala khas, dan hanya bisa diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium.

Apa yang harus disiapkan jika ingin melakukan Premarital Check Up?
Dari materi kemarin sih dikasihnya ada 3 persiapan:
- Puasa 8-14 jam
- Untuk wanita tidak dalam keadaan menstruasi
- Informasikan kepada petugas laboratorium bila mengonsumsi obat atau suplemen tertentu.

Saya tambahin lagi..
-Mental
Tidak lebay rasanya jika saya menambahkan harus adanya kesiapan mental untuk menerima hasil. Tapi bukan berarti harus berpikiran negatif terhadap hasil yang akan didapatkan dari Premarital check up ini. Baiknya hasil tentu akan membawa kebahagiaan dan ketenangan. Buruknya hasil tentu akan makin menguji komitmen dan kesamaan visi bahagia satu sama lain.

- Biaya
Tidak bisa dipungkiri masalah biaya tentu juga akan menjadi pertimbangan. Apalagi menjelang penikahan biaya yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Dengan biaya pemeriksaan yang berkisar di bawah 1 juta untuk Premarital check up laki-laki dan sekitar 1,3 juta untuk perempuan. Ada baiknya biaya sudah dipersiapkan sejak awal.

Kapanpun pembaca mengetahui hal ini tetap saja kalian beruntung, jika belum menikah bisa mempersiapkan diri dan biaya. Jika sudah menikah, info ini bisa diteruskan kepada keluarga maupun anak nantinya.

Ssst.. peserta seminar juga banyak yang sudah menikah lho (bahkan sudah mempunyai cucu), beberapa datang bersama pasangan. Pasangan yang sama-sama aware terhadap masalah kesehatan itu bikin iri gak siiih?? Hihi..


Oh iya, walaupun dianjurkan untuk melakukan Premarital check up 6 bulan sebelum pernikahan, tapi 2 minggu sebelum pernikahanpun menurut pembicara tidak masalah, boleh-boleh saja, hanya saja waktu untuk tindakan pengobatan mungkin menjadi lebih singkat (jika memang ada penyakit ya..).

Intinya saya senang kemarin gak malas-malasan ke seminar, dapat ilmu lagi dari teman-teman Prodia Kendari. Acaranya juga dikemas seru karena banyak menyediakan hadiah bagi para pengunjung. Tidak seperti judul seminarnya yang serius, waktu berjalan tanpa terasa saking serunya acara seminar. :)
Salah satu penerima hadiah dari Prodia Kendari

Jujur saya jadi makin ngeh dengan Premarital check up ini, teman-teman sudah pada tahu kah? Atau sudah pernah tes sebelumnya? Share yuk..


*Special thanks to teman-teman di Prodia Kendari (sekaligus member RFI Kendari). Gratisannya sangat bergizi, apalagi setelah seminar saya ditraktir lagi.. haha..

Read more

20 Feb 2017

Ini Cita-cita Masa Kecilku, Cita-citamu Apa?

Hai.. haiii..

Tidak terasa ya, kita sudah melewati lebih dari setengah jatah bulan Februari. Sudah tanggal 20 teman-teman! Yang gajian awal bulan ini sudah masuk tanggal tua kan ya? Tapi buat yang gajian tanggal 25, ini tanggal tua yang segera disongsong oleh tanggal muda! Haha..

Oke skip.. entah kenapa kepikiran bahas gaji. Wkwk..


Nah, tanggal 20 seperti biasa kami yang tergabung dalam Sultra Blogger Talk akan membahas sebuah tema yang tentunya diputuskan bersama, biar sama-sama punya bahan, karena memang tujuannya menulis secara serempak.

Setelah beberapa kali merapatkan tema agar disepakati, akhirnya kali ini kami memutuskan untuk membahas "Cita-cita Masa Kecil". Entah nih 2 sahabat saya membahas cita-citanya sendiri atau anak-anaknya, berhubung saya masih single sendiri, saya tentunya akan membahas tentang cita-cita saya dong. Kan cita-cita saya seru! *Ngakunya! Hahah

Yuk ah.. mulai saja! Eits.. tapi jangan lupa baca tulisan 2 sahabat saya juga ya..

Saya Ingin Jadi Guru Taman Kanak-kanak

Mulia banget kan ya cita-cita saya yang satu ini? Haha.. Setiap cita-cita umumnya punya alasan. Kalau ada yang menebak saya ingin jadi guru TK karena saya suka sekali dengan anak-anak sesungguhnya hati saya tidak semulia itu (waktu itu lho ya, kalau sekarang Insya Allah diusahakan mulia. Haha).

Jadi alasannya apa?

Karena guru TK itu kuenya banyak!! ((Kuenya banyak)) LOL

Wkwkwk..

Bentar-bentar, saya seriusan ngakak waktu mengakui menulis ini. Iya, alasan saya sesimpel itu. Saat itu saya memang hanya anak-anak yang matanya lekat sekali terhadap kue. Apalagi saat melihat guru taman kanak-kanak saya waktu itu selalu dapat "jatah" kue dari kami, anak didiknya.

Jadi dari rumah, kami dibekali kue dan seringkali kami diberikan lebih agar bisa memberikan juga untuk ibu guru. Bayangkan saja 1 anak memberikan 1 sampai 2 kue, lalu dikalikan dengan jumlah murid saat itu. Ya Allah (saat itu) saya silau dengan banyaknya harta kue yang bisa diperoleh ibu guru dalam 1 hari.

Polos banget sih... Namanya juga anak-anak kan ya, harap maklum kalau alasan dibalik cita-citanya itu simpel, kue.. udah itu ajah! LOL

Setelah cukup dewasa, selain menertawai alasan dibalik cita-cita saya, saya juga sadar bahwa menjadi guru itu tidak mudah, di jenjang manapun itu, semuanya punya peran dan tingkat kesulitannya masing-masing. Begitupun dengan jasa mereka, mereka semua punya peran. Ah.. jadi ingat guru-guru saat TK dulu.. Jadi pengen main ayunan. #Eh

Sudah pada tahu kan kalau cita-cita di masa kecil itu kadang selalu berubah?

Iya, sayapun begitu..


Ingin Jadi Polisi Wanita (Polwan)
Sedikit besar, saat duduk di sekolah dasarlah ya kira-kira. Saya kemudian bercita-cita menjadi polwan. Alasannya? Saya sendiri lupa, apa memang saya bertekad menjadi polwan atau karena malu dengan alasan saya untuk menjadi guru TK dulu. Yang jelas polwan terasa lebih keren.

Ah.. Maafkan anakmu Mama, dari kecil memang visi misinya suka nggak jelas. Huhu..

Entah cita-cita ini bertahan berapa lama, yang jelas saya akhirnya sadar. Sadar bahwa tinggi badan saya yang imut ini (bilangnya imut, gak mau ngaku pendek aja sekalian. :p) tidak akan memenuhi syarat untuk mendaftar menjadi polwan. Hiks..

Pada akhirnya, cita-cita menjadi polwan itu saya kemas rapat dan menghilangkan profesi dari daftar cita-cita saya. Pikiran saya menjadi lebih terbuka saat sudah duduk di bangku SMA. Cita-cita bukan saja tetang profesi, tapi hasil akhir.

Ingin Membahagiakan Orang Tua
Waktu membuat buku kenang-kenangan untuk kelulusan, keinginan itulah yang saya isikan pada isian cita-cita. Mungkin saat SMA saya masih naif, karena sesungguhnya membahagiakan orang tua itulah cita-cita yang paling sulit dicapai. Butuh komitmen seumur hidup dan keikhlasan yang tinggi. Bercita-cita setinggi itu, tapi sejak kecil suka membantah orang tua, apalagi anak cewek kan, ada saja perselisihannya dengan Mama.


Lalu apakah saya menyesal menuliskan cita-cita itu?

Tentu tidak, saya senang punya cita-cita seperti itu. Karena apapun profesi yang diimpikan hasil akhirnya adalah kebahagiaan. Untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Membahagiakan orang tua adalah cita-cita yang harus dicapai selama nafas masih menyatu dengan raga. Pun jika bisa diwujudkan, membahagiakan mereka tidak sebatas saat kita hidup saja.

Membahagiakan orang tua juga bukan berarti harus memberikan hidup yang mewah pada mereka. Bersekolah, kuliah dengan baik sesuai dengan yang mereka usahakan untuk kitapun sudah akan membuat mereka bahagia. Bersosialisasi dengan baik, keluar rumah dengan menjaga nama baik keluargapun membahagiakan bagi mereka. Simpel tapi butuh komitmen. Kalaupun memang kebahagiaan itu tidak akan pernah selesai dan penuh tuntutan, itu karena kebahagiaan itu memang punya nilai eskalasi. Manusia memang tidak akan pernah puas kan ya..

Duh.. Ini temanya cita-cita masa kecil tapi sudah sampai bahas ke cita-cita saat dewasa ya.. Tapi memang sengaja saya hubungkan sih. Selain memang sudah telanjur bahas cita-cita, saya juga ingin mengingatkan bahwa apapun cita-cita yang pernah kita semai di dalam pikiran kita, entah bertahan sejak kecil ataupun kemudian berubah saat menjelang dewasa/dewasa. Benar-benar terwujud atau tidak. Kita tentu sudah dewasa untuk tidak bersedih terhadap cita-cita yang tidak terwujud. Kembali lagi, tujuan akhir dari sebuah cita-cita tetaplah sama; kebahagiaan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi.

Teman-teman, punya cita-cita apa saat kecil? Apa alasan teman-teman memilih cita-cita itu? Terwujud gak? Yuk share di kolom komentar. ^^

Read more

9 Feb 2017

Maafmu Tak Wujud

Minggu ini tema yang diberikan oleh admin 1 Minggu 1 Cerita lagi-lagi memaksa memori untuk bernostalgia. Temanya susah sih.. Jujur, saya sampai absen menulis untuk Senin sosial karena mentok setelah mengetik beberapa ratus kata. Tapi untungnya sebelum subuh Rabu kemarin tiba-tiba ada inspirasi yang muncul, jadi tinggal memasukkan ide ke draf dan melakukan sedikit edit dan menambahkan penjelasan.

Tidak kalah berat urusannya dengan tema sebelumnya yang bertema kampung halamanku juga keren, tema minggu ini sangat potensial mengangkat luka yang pernah tertoreh di hati, entah mungkin dialami di keadaan sekarang atau di masa yang telah silam. Entah itu pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.

Intronya panjang ya.. jadi temanya apa?

FORGIVENESS.


Forgiveness berarti pengampunan, tapi kok diksinya jadi berat gitu ya kalau bicara pengampunan, jadi mari mengambil arti lain dengan diksi yang familiar dengan kehidupan sehari-hari. Memaafkan.

Berbicara tentang memaafkan, berarti ada hal yang tidak berkenan terjadi kepada kita. Ada ketidaksukaan yang menimbulkan beberapa elemen emosi berupa marah ataupun kecewa membuncah di dalam diri kita, sehingga pada akhirnya kita butuh maaf dan memaafkan. Memberi maaf untuk orang lain dan memberi maaf kepada diri sendiri.

Menuliskan tentang maaf, saya teringat sebuah kisah lama.. maka jadilah puisi ini:

Maafmu Tak Wujud

Maafmu terucap
Tunggal
Tak terselip diantara kalimat
Tapi terdengar pilu diantara tangisan

Maafmu lirih
Diantara isak tangis yang kau cekal
Suaramu berat
Nafasmu tersengguk-sengguk

Itu ketika kau menyesalinya lewat suara
Itu ketika kau mengalirkan maafmu lewat telepon

Lalu kau wujud lagi dalam hariku
Tapi tak kudapati wujud kata itu
Kata yang kau hantar merenggut ibaku
Kata yang kau hantar meluluhkan egoku

Maafmu tak wujud
Tanganmu tak seberat suaramu
Maafmu tak wujud
Tak mengurangi sedikitpun luka di hati dan tubuh ini

Maafmu lagi-lagi tak wujud
Ia hanya terdengar
Sedang kau tahu
Maaf tak hanya diucap

Maafmu tak wujud
Tapi maafku wujud
Aku memaafkanmu
Aku memaafkan diriku sendiri

Maafmu tak wujud
Tapi maafku harus terwujud
Aku pergi
Ini wujud maafku...

Kendari, 8 Februari 2017. 04.30 Pagi

***
Terinspirasi dari kisah lama seorang sahabat, kisah yang mungkin banyak kita temui disekitar kita. Tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang bisa jadi berjalan membaik, tak jarang berujung perpisahan.

Baca juga: Hati yang Lebam

Walau sering kali kita mendengar salah satu dari pasangan mencoba bertahan sekuat tenaga, mencoba meraih "happy ending" yang pasti telah dibayangkannya sebelum menikah.. It just not right.. Tidak jarang juga kita mendengar kisah "bertahan" yang membahagiakan. Keputusan ada di tangan mereka, yang bisa kita lakukan hanya memberi support dan mendoakan segala kemungkinan-kemungkinan terbaik yang izinkan oleh pencipta langit dan bumi.

Beruntung, beberapa kisah yang saya ketahui berjalan membaik. Termasuk puisi ini, memang akhirnya berpisah, tapi rumah tangga yang tumbuh dengan "bumbu" KDRT menurut saya akan lebih membahagiakan saat berpisah. In My Humble Opinion loh ya.. Walaupun saya mengerti alasan "bertahan" itu, kalau baca tulisan "Hati yang Lebam" pasti ngerti.

Lebih jauh, puisi di atas sebetulnya tidak hanya untuk yang mengalami KDRT saja, tapi bisa juga terhubung dengan kejadian-kejadian lain dalam keseharian kita.

Membiarkan orang lain menyakitimu itu tidak mudah, terutama karena kau butuh ruang maaf yang luas, tidak hanya untuk memaafkan orang yang telah menyakiti, tapi juga memaafkan diri sendiri.

Kata maaf bagaimanapun harus terucap, tapi yang tidak kalah penting dari itu adalah bagaimana mewujudkan maaf dalam keseharian. Karena maaf pun seperti cinta, ia butuh pembuktian.


Read more

8 Feb 2017

Membuat Meja Sederhana Menggunakan Besi Siku

Halo.. Rabu Review kali ini bahasannya mengingatkan kemandirian jaman masih jadi anak kost dulu. Kalau bukan karena tuntutan kebutuhan didorong oleh kurangnya biaya, biasanya kita akan malas berbuat ini-itu. Tapi, kalau sudah butuh, dana mepetpun akan diusahakan. Bahkan untuk menghemat biaya tukangpun yang diinginkan bisa dikerjakan sendiri.

Kali ini kerjaannya lebih ke kerjaan cowok sih, bisa untuk menghemat uang pembelian meja. Kalau jago juga bisa jadi tukang aja.. #Eh.. LOL.

Yaudah sih, simak langkah-langkahnya ya..

Besi siku merupakan material yang paling banyak digunakan untuk keperluan-keperluan konstruksi. Hal ini dikarenakan harga jual besi siku relatif murah. Besi siku sendiri sebenarnya juga dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai benda, salah satunya meja.


Selain harga jual besi siku yang relatif murah, besi siku juga terkenal kuat dan tahan lama. Sehingga Besi siku dapat digunakan untuk membuat kerangka meja. Apa saja perlatan dan bahan yang perlu disiapkan untuk membuat meja dengan besi siku, berikut penjelasannya.

Peralatan dan Bahan
1.  Besi siku berukuran 40 mm x 40 mm dengan panjang 3 meter perbatangnya.
2. Triplek tebal dengan ukuran 12 mm
3. Tacon Sheet dengan ketebalan 0,3 (opsional, disarankan menyesuaikan dengan budget yang dimiliki.
4. Lem Fox Cair atau Lem Kuning (1 kg cukup / meja)
5. Baut Tambahan (biasanya 1 meja membutuhkan sekitar 50 baut)

Cara Pembuatan
Adapun langkah - langkah membuat meja menggunakan besi siku diantaranya :
1. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mendesain dulu ukuran meja yang ingin dibuat. Misalnya meja dengan panjang 1 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 0,75 meter. Dengan ukuran tersebut, maka dibutuhkan
- 4 potongan besi berukuran 75 cm
- 4 potongan besi berukuran 90 cm
- 4 potongan besi berukuran 40 cm
Jangan lupa untuk menghaluskan bagian ujung dari besi siku. Berhati-hatilah juga saat melakukan proses pemotongan. Terlebih saat menggunakan gerinda.


2.  Setelah memotong besi siku sebagai
kerangka, potong juga triplek dengan ukuran :
- 1 meter x 0,5 meter     1 lembar
- 0,7 meter x 0,4 meter     2 lembar
- 0,9 meter x 0,7 meter     1 lembar
Triplek ini nantinya dipakai sebagai penutup kerangka. Berhati - hatilah juga saat memotong tripek.


3. Setelah besi siku dan triplek di potong, selanjutnya rangkai besi siku, sesuai dengan rangkaian yang di gambar sebelumnya. Gunakan plat siku untuk mengunci kuat bagian - bagian sambungannya. Hal ini berfungsi agar rangka meja menjadi lebih kuat.


 4. Setelah dirangkai, pasang dan bautkan juga tripel yang berukuran 1 meter x 0,5 meter pada bagian atas rangka. Bagian ini yang nantinya menjadi tempat untuk menaruh barang.


5. Setelah triplek terpasang, tempelkan Tacon Sheet ke permukaan triplek dan  Tacon Edging pada bagian samping triplek untuk menghindari sudut-sudut tajam dan berbahaya. Tempelkan keduanya dengan menggunakan lem fox cair. Caranya beri lem pada kedua sisi, sisi Tacon sheet dan meja, dan diamkan selama kurang lebih 5 menit. Setelah di diamkan selama 5 menit, kemudian tempel.


6. Selanjutnya pasang juga triplek-triplek lainya pada bagian kiri dan kanan untuk menutup sisi yang lubang. Setelah semuanya dipasang, meja siap digunakan.


Dalam pembuatan meja ini, semakin baik kualitas besi siku yang dipakai, maka semakin kuat juga meja tersebut. Pilihlah besi siku yang tidak hanya memiliki harga jual besi siku murah, namun pastikan kualitasnya juga baik.

Gimana? Tertarik untuk praktek? Saya pengen juga nih kalau bahannya sudah tersedia di depan mata semua. Menantang diri sendiri *Calon Tukang :D

Read more

30 Jan 2017

Cerita Sekretaris, Suka Duka Hingga Hal yang Konyol

Senin, sudah harus masuk kerja lagi. Belakangan jokes tentang horornya hari senin sudah semakin konyol. Dan saya menikmatinya, bukan karena mengganggap Senin itu horor, tapi ya memang meme yang dibuat itu menghibur. Contohnya tidak akan saya unggah di sini, nanti pembaca langsung menutup bacaannya. LOL

Kembali ke urusan pekerjaan..

Sudah 4 tahun berkerja sebagai sekretaris, rasanya saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pekerjaan saya sekarang ini. Bekerja di lapangan tentu berbeda dengan duduk di belakang meja, apalagi sebagai sekretaris. Walaupun sebenarnya fungsi yang dijalankan sekretaris di tingkat provinsi ini, kebanyakan hanya sekitar 50% terlaksana dari tupoksi sekretaris seutuhnya. Mungkin lebih ke delegasi penugasan dari instansinya. Yang jelas, beberapa teman yang sebelumnya pernah menjadi sekretaris di perusahaan swasta merasa pekerjaannya menjadi jauh lebih ringan saat sudah memasuki instansi yang sama dengan saya.

Kita mulai dari hal yang menyenangkan


Enaknya Jadi Sekretaris
Beda pemimpin beda kebiasaan, saya sudah menjadi sekretaris dari 3 orang pimpinan, boleh dibilang saya yang cukup mengetahui kebiasaan para pimpinan, baik urusan pekerjaan maupun hal yang bersifat pribadi. Termasuk seberapa percaya pimpinan terhadap sekretarisnya.

Jika pimpinan percaya penuh terhadap sekretarisnya, maka banyak hal yang akan menjadi tugas sekretaris seperti saya. Urusan pekerjaan seperti mengecek e-mail pribadi sampai hal-hal yang berurusan dengan keluarga akan dipercayakan kepada sekretaris. Ini termasuk juga kebaikan pimpinan dalam memberikan rasa terima kasihnya. Ada macam-macam, tapi kita bicara yang sudah pernah saya tuliskan di blog saja ya. Selebihnya jadi rahasia saja :)

Dari 2 pimpinan saya diberi jalan-jalan gratis di kota yang berbeda.

Baca juga:
Bali, Dream Comes True
Jogjakarta, Kota Dalam Doa

Ngomongin enaknya, ada gak enaknya dong..

Ada..

Ini pengalaman saya saat baru menjadi sekretaris: UUD: Ujung-ujungnya Duit!

Kebijakan Pimpinan dan Pengaruhnya Terhadap Sekretaris (Gila, udah kayak judul makalah aja.LOL)

Dalam urusan pengambilan keputusan, ada saat dimana pimpinan harus mengambil kebijakan. Entah kebijakan itu akan populer atau tidak populer dimata bawahannya. Kalau populer, aura baik bisa tersebar di kantor, kalau kalian sering menonton drama, bayangkan saja ruangan dan sepanjang koridor yang dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.

Kalau kebijakannya tidak populer? Bayangkan setiap orang yang bersentuhan langsung dengan kebijakan tersebut akan berjalan dengan kepulan asap hitam di punggung dan kepalanya.

Dan entah kenapa..

Saya, bawahan yang kebetulan ruangannya tepat di depan ruangan pimpinan akan menerima limpahan muka masam. Saya tentu ikut bersimpati jika kebijakan yang diterima oleh kawan sekantor itu tidak dianggap bijak olehnya. Tapi saya ini cuma bawahan juga, posisinya sama dengan teman-teman yang lain. Hanya saja, mungkin kebijakan itu tidak bersentuhan langsung dengan saya. Salah saya gitu ya? Huhu..

Selain muka masam, saya juga kerap menerima kalimat seperti;
"Bilang sama Bosmu..."

"Bosmu dimana?"

"Gara-gara bosmu, nih."

Bosmu..bosmu..bosmu..

Oh C'mon.. Rasanya saya langsung diberi batasan oleh teman-teman, padahal gaji kami ditanda tangani orang yang sama. Padahal saya juga masih teman mereka yang ingin kerja dalam suasana kondusif. Kalau kondusif kan bergaulnya enak ke teman-teman dan pimpinan. Hiks..

Pekerjaan (secara fisik) Tidak begitu berat, Tapi Mental Harus Kuat
Seperti juga front desk pada sebuah kantor, yang menjadi pintu utama pengunjung untuk masuk ke dalam kantor. Sangat besar kemungkinan sekretaris adalah orang pertama yang akan ditemui oleh pimpinan saat keluar maupun masuk ruangan. Yang seringkali tidak terbayangkan oleh orang lain adalah sekretaris harus menerima limpahan perasaan pimpinan.

Oke, blak-blakan saja. Mungkin ada hal yang tidak disukai oleh pimpinan, sekretarislah yang harus mendengarkan "ketidaksukaan" itu. Reaksi pertama yang ditunjukkan pimpinan itulah yang harus dicerna oleh sekretaris sebagai "kuping pertama" yang ditemuinya. Dan bisa jadi, kepada orang yang ingin "disemprot" itu, kadar emosinya sudah berkurang karena unek-uneknya sudah sempat keluar atau bahkan karena masalah waktu, saya dapat unek-unek live dan mereka dapatnya unek-unek delay. Wkwk..

Tapi.. (menurut saya) etikanya adalah apa yang sampai dikuping saya itu harus saya cerna sendiri, kalaupun sifatnya harus diberitahukan kepada orang lain, sekretaris harus menyampaikan tanpa menghasut atau memberi kesan negatif terhadap pimpinan yang menjadi atasannya. Dan menetralisir emosi yang akan disampaikan agar tidak berdampak buruk itu tidak gampang.

Nah.. sekarang masuk ke tugas yang paling penting..

Saya tidak punya dasar pendidikan tentang sekretaris, tapi satu nilai penting yang bisa saya janjikan adalah..

Menjaga Rahasia
Sekretaris berasal dari kata secret yang berarti rahasia. Sekretaris pada akhirnya diharapkan menjadi orang yang dapat menyimpan rahasia yang diketahuinya. Dan ini berat, Men! Bukannya saya tidak pandai menyimpan rahasia, tapi seperti rahasia pada umumnya, berarti ada pihak yang tidak seharusnya mengetahui informasi tersebut. Sialnya, orang-orang sering kali bertanya tentang hal yang bersifat rahasia kepada saya.

Menyikapi hal tersebut saya juga tidak ingin berbohong, maka saat mengetahui ada rapat penting, saya melakukan banyak hal agar tidak "terlibat" dengan materi rapat. Beberapa yang saya lakukan antara lain:
1. Mendengarkan musik lewat headset
Cara aman tapi membosankan. Saya harus duduk terus mendengarkan musik sambil bekerja, padahal pekerjaan saya tidak selalu harus duduk di depan komputer. Kalau bosan ya terkadang saya akan membuka blog dan BW untuk mengusir kejenuhan. Atau kadang saya kombinasikan kegiatan nomor 1 ini dengan kegiatan nomor 2.

2. Menjauh dari tempat rapat
Saya biasanya akan ke ruangan lain, kecuali diminta untuk tinggal di ruangan. Sejauh ini sih belum pernah dipertanyakan keberadaan saya di luar ruangan saat rapat. Kalau ditanya ya, saya jawab saja agar saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. :D

3. Menjaga Rahasia
Jika memang saya mengetahui pembicaraan rapat, ataupun rahasia lainnya (misalnya rencana sidak pimpinan) mau tidak mau saya harus bekerja sesuai tugas utama saya. Sekalipun ditanya saya tidak akan mengatakan saya tahu. Karena, jika menjawab "Saya tahu tapi saya tidak boleh bilang." Apa menurut kalian mereka lalu akan menyerah? Jelas makin penasaranlah mereka.

Ah.. dilema..

So, Please teman-teman, cari infonya jangan ke saya. Gak nyaman taukk :(
Tunggu saja sejenak, biasanya berita akan beredar dengan sendirinya. Walaupun jelas sumbernya bukan saya. :p

Itu tadi cerita yang kurang menyenangkannya, sekarang ke cerita konyol ya..

Harus Kepo?
Posisi sekretaris yang dianggap dekat dengan pimpinan membuat teman-teman beranggapan saya mengetahui banyak hal. Knowing Every Particular Object. Padahal tidak seperti itu, saya ini kudet alias kurang update terhadap banyak hal, mungkin karena sehari-hari saya berkantor seorang diri di dalam ruangan. Sesekali ke ruangan lain untuk mengantarkan disposisi surat, melaksanakan perintah pimpinan atau sekedar bersosialisasi dengan teman-teman.

Sesekali saya mendapat info dari hasil pembicaraan pimpinan yang nongkrong di sofa ruangan saya, atau bahkan infonya dari ruangan yang bahkan jauh dari ruangan pimpinan. Sesederhana itu informasi yang saya punyai, mungkin saya yang kurang awas, tapi saya memang tidak punya bakat kepo. :p
Lebih betah duduk mengerjakan yang lain daripada harus jadi Mbah Google.
Tahu banyak hal itu tidak selalu menyenangkan lho. :)

Jadi, maaf saya bukan Mbah Google kalian ya teman-teman. Saya menyerah terhadap kalian yang mewajibkan saya kepo. :D

Pelupa
Saya, diakui oleh banyak teman-teman adalah seorang yang pelupa. Untuk tingkat keparahannya memang belum ada ukuran yang baku. Tapi tiap orang akan membandingkan dengan dirinya atau dengan orang lain yang diketahuinya memiliki kekurangan yang sama.

Berdasarkan pengalaman jadi sekretaris 3 pimpinan, ruang pemakluman ketiganyapun berbeda terhadap kekurangan saya yang satu ini. Ada yang memang akan mengingatkan, ada juga yang tidak akan bertanya lagi. Yang terakhir ini mungkin tergantung urgensi perintahnya ya, tapi kadang saya yang tiba-tiba ingat (dengan rentang waktu yang sudah lumayan panjang) jadi bingung sendiri, mau tanya lagi apa gak usah ya.

Contoh nih, saya diminta mencari sebuah buku, sudah saya carikan di toko buku di kota saya tapi tidak ada, opsinya adalah mencari di toko buku online murah bahkan yang mahal sekalipun, tapi karena terkendala suatu hal, urusan itu saya pending. Dan sumpah, saya baru ingat lagi sekarang saat menuliskan blogpost ini. *Meratap di bawah meja T_T

Tampaknya saya ini memang harus banyak-banyak menulis.Hiks..

Sigap, Siap Gelagapan! :D
Keadaan tidak terduga bisa terjadi saat sedang mengantuk, saat masih banyak pekerjaan, saat saya harus ke toilet, saat saya lapar , saat saya sedang makan atau saat saya tidak tahu apa-apa.

Mari saya beri contoh langsung. Suatu hari, Pimpinan harus memakai dasi untuk acara pelantikan, entah ada masalah apa, bos yang bisa memakai dasi tidak biasanya menanyakan "Ir, bisa pasang dasi gak?" Ini artinya pimpinan memerlukan bantuan saya untuk memasangkan dasi. Sampai disini saya perjelas dulu, bukan di leher pimpinan langsung ya.. Kalian terlalu banyak nonton drama! Hahah..

Saya yang terakhir kali memasang dasi zaman SMA buru-buru menelan ludah sebelum menjawab. OMG, kenapa serandom ini tugas pagi ini! Haha.. Buru-buru saya bikin pengakuan kalau saya tidak bisa memasang dasi. Tapi rasanya saya cukup sigap menanyakan masalah dan keinginan bapak, dasinya mau di-gimana-in, lalu melipir mencari bala bantuan di ruangan lain.

Happ.. Dasinya saya bawa dengan bangga.. *Padahal yang bikin bukan saya. :D

***

Segitu dulu deh cerita saya, beberapa memang harus saya saring juga. Saya bersyukur selama ini tidak ada kejadian yang membahayakan, karena cerita dari teman-teman sekretaris di daerah lain malah ada juga yang pada saat-saat tertentu jatuhnya sama sekali tidak kondusif.

Terima kasih sudah membaca tulisan yang beraliran curhat ini, apapun pekerjaan orang di sekitar kita, tidak boleh kita meremehkannya, karena tujuan kita sesungguhnya sama, membahagiakan orang-orang yang kita cintai.


Read more

28 Jan 2017

Beberapa Hal yang Perlu Anda Ketahui Sebelum ke Wakatobi

Minggu ini sebenarnya saya sudah memenuhi seluruh kewajiban menulis saya, sesuai jadwal. Senin Sosial sudah ada tulisan 3 Foto Instagram Paling Berkesan, Rabu Review sudah ada tulisan Aplikasi yang Wajib dimiliki Bloger dan Kamis Puitis sudah saya isi dengan Puisi bebas dengan judul Rasa yang Tertinggal.

Tapi karena awal tahun ini saya ikut mendaftarkan diri dalam komunitas 1 Minggu 1 Cerita, saya pun akhirnya punya utang menulis lagi. Kebetulan saja Minggu ini ada tema yang diberikan oleh admin. Tema tersebut adalah "Kampung Halamanku Juga Seru" Sebuah tema yang mengajak para bloger untuk menulis tentang kampung halamannya. Sekaligus lebih memperkenalkan daerah masing-masing dihadapan para pembacanya. Bagus kan ya?

Tapi saya bingung, apa yang harus saya tuliskan tentang kampung saya? Lahirpun saya di Kendari, saya hanya sesekali pulang berlebaran, menghadiri acara keluarga ataupun tugas kantor. Saya merasa tidak mengetahui banyak hal dari kampung halaman saya. Tapi karena ini wajib dan saya tidak boleh kehabisan ide, maka saya memutuskan menulis apa saja yang terlintas dipikiran saya, yang mungkin akan bermanfaat sebagai info sebelum mengunjungi Wakatobi.


Wakatobi - Sulawesi Tenggara- Indonesia!!
Wakatobi, sebuah Kabupaten yang justru lebih terkenal dari Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Bukan tanpa alasan saya berkata seperti ini, jika ada yang menanyakan asal saya dari mana, reaksi berbeda akan saya terima. Jika menjawab Wakatobi, jawaban pertama yang akan saya terima adalah "Oohh" sedangkan jika menjawab Kendari biasanya akan dijawab "Kendari? Dimana tuh?." :D

Tidak heran memang, Wakatobi sudah terkenal sebagai salah satu surga bawah laut yang dimiliki Indonesia, juga menjadi salah 1 destinasi wisata yang diberi label sebagai "New Bali". Oh ya.. ada lagi.. Taman nasionalnya juga ada pada cetakan uang Rp.10.000 yang baru. :D

Sedih juga sih ya.. Ibu Kota Provinsi malah belum banyak dikenal, padahal yang mengetahui Wakatobi belum tentu tahu juga bahwa kampung halaman saya itu berada di Sulawesi Tenggara. Yah.. kalau di luar negeri seperti Bali dan Indonesialah perbandingannya, mereka lebih mengetahui Bali dibanding Indonesia. Hehe..

Wakatobi Secara Geografis
Sampai saat ini, saya masih menemukan teman yang belum mengetahui bahwa Wakatobi itu adalah singkatan dari kecamatan-kecamatan yang ada di dalam wilayah administratifnya. Begitupun dengan pemahaman mereka tentang kondisi geografisnya. Kecuali yang mungkin sudah mencari tahu tentang Wakatobi secara mendalam atau pernah berkunjung langsung ke Wakatobi.

Mari saya ceritakan..

Wakatobi adalah singkatan dari:
WA = Wanci
KA = Kaledupa
TO = Tomia
BI = Binongko

Keempatnya adalah nama kecamatan yang terpisah oleh lautan dan harus dijangkau dengan alat transportasi laut. Artinya, jika datang ke Wakatobi tidak berarti pengunjung langsung akan berada dalam 1 daratan. Begitupun dengan lokasi wisata yang tersebar di beberapa titik di kecamatan. Jadi kalau mau berwisata ke Wakatobi, pastikan teman-teman sudah tahu hendak mengunjungi tempat wisata yang mana.


Mau menyelam untuk menikmati keindahan bawah laut? Di sekitaran resort atau pantai bisa di Wanci saja. Kalau ingin ke pulau Hoga, umumnya pengunjung akan mulai menyeberang dari Kaledupa agar lebih efektif dan efisien perjalanannya. Belum lagi jika ingin ke Tomia dan Binongko dengan keunikan wisatanya masing-masing. ;)

Sinyal dan Listrik di Wakatobi
Mungkin pengunjung akan berasal dari kota besar yang bebas memilih ingin menggunakan provider mana saja. Tapi untuk Wakatobi, sampai saat ini sinyal yang bisa dimanfaatkan adalah dari provider Telk*msel dan Ind*sat saja. Saya pernah datang dengan paket data yang siap tempur dari X*, tapi ternyata tidak tersedia di sana. *Gagal Eksis :p. Oh ya, Kekuatan sinyal juga masih mengandalkan jaringan 3G, menurut pengakuan seorang teman, jaringan 4G masih timbul tenggelam di Wanci.

Untuk listrik sendiri terdapat perbedaan waktu ketersediaan antar kecamatan. Di Wanci dan Tomia, sumber daya listrik sudah tersedia selama 24 jam, sedangkan di Kaledupa dan Binongko listrik hanya tersedia hanya selama 11 jam saja yaitu pukul 16.00 - 05.00. Pada hari minggu ada bonus listrik yang akan tersedia pada pukul 9.00 - 12.00 lalu kemudian padam lagi (CMIIW).

Jadi, kalau berencana ke daerah yang tidak dialiri listrik 24 jam, pastikan membawa power bank agar tidak mati gaya ya.. Semoga secepatnya seluruh Wakatobi bisa mendapatkan aliran listrik selam 24 jam. Hal ini tentunya tidak hanya akan menyenangkan para pengunjung, tapi juga penduduk di Wakatobi.

Pastikan Anda Mencicipi Makanan Tradisional Wakatobi
Makanan di kota besar relatif mudah dicari jika ingin dikonsumsi, tapi makanan tradisional umumnya bisa didapatkan di daerah asalnya saja. Jangan lewatkan makanan khas seperti:

1. Kasuami
Kasuami ini terbuat dari singkong (di Sulawesi umunya disebut ubi) yang di parut lalu dikukus dengan cetakan dari daun kelapa yang berbentuk kerucut. Ada juga Kasuami ni Pepe yang berbentuk pipih, sedikit berminyak dengan topping bawang goreng di tengahnya. Ya ampun, saya ngiler sendiri. :D

Kasuami ini umumnya dikonsumsi bersama olahan ikan seperti parende, ikan bakar, perangi, simbuku ataupun makanan laut lainnya. Dimakan hangat-hangat enak sekali!^^

2. Kenta Perangi
Jenis makanan yang satu ini harus teman-teman coba! Bahkan di Kendaripun tidak tersedia di rumah makan manapun. Kenta yang berarti ikan ini sudah menunjukkan bahwa yang digunakan untuk Kenta Perangi ini tidak dari sembarang jenis ikan, harus ikan batu yang segar dan langsung dicincang untuk kemudian diberikan perasan jeruk nipis, garam dan irisan bawang merah. Lalu dimasak? Nope! Sudah siap dimakan! Berani? Haha..

3. Simbuku
Simbuku adalah gurita yang dipotong-potong kecil, lalu dimasak dengan menggunakan rempah dan asam kemudian disajikan dengan kuah kental, rasanya yang asam enak sekali jika dimakan dengan nasi maupun kasuami.

Ah.. menulis makanan-makanan ini bikin saya ikutan ngiler. LOL. Selain 3 jenis makanan di atas, masih ada Ndafu-ndafu, Kukure, Lesi-lesi, Topulu, Kano dan Opa. Untuk cemilan teman-teman bisa mencoba Karasi dan Senga-senga berkunjung ke Wakatobi.

Yang pasti, segala jenis makanan laut akan disajikan segar karena Wakatobi memang daerah laut, bahkan ikan yang dibakar tanpa menggunakan bumbupun akan terasa manis, karena seperti itulah rasa aslinya.

Dan karena saya sudah ngiler berat, sepertinya saya harus menyelesaikan artikel yang sebenarnya tidak hanya untuk memenuhi kewajiban menulis saya di 1 Minggu 1 Cerita saja. Mengetik tema ini juga membuat saya rindu kampung halaman dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang kampung halaman yang terakhir saya kunjungi tahun 2015 lalu itu.
Mmm.. Yakin gak mau ke Wakatobi?

Semoga suatu saat bisa menulis lebih banyak lagi tentang kampung halaman dan tentu saja saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat. Yuk ke Wakatobi! :)


Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...