9 Nov 2018

Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Urut, Minum Jus, Folavit, Zuriat, Sampai Promil ke Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini religius banget ya pembukaannya.. Hehe

Gak gitu, ini karena apa yang akan saya tuliskan semata-mata hanya ikhtiar/usaha saya saja. Allah yang menentukan hasilnya. Semoga yang saya tuliskan tidak menyesatkan, saya berlindung kepada Allah SWT dari tulisan saya ini.


Jadi, saya pengen sharing tentang hal-hal apa saja yang saya lakukan untuk hamil. Saat memulai promil, usia pernikahan saya memang masih terbilang baru, belum sampai setahun, tapi karena menikah di usia 30 tahun, saya tidak ingin terlalu santai dengan salah satu tujuan menikah, menghasilkan keturunan, anak.

Awal pernikahan ikhtiar hamil kami lakukan dengan cara umum dan alamiah saja. Suami makan banyak tauge dan saya banyak makan semangka (termasuk daging putih yang dagingnya agak keras itu), memperhatikan masa subur, termasuk tentunya hubungan suami istri itu sendiri (itu intinya kan ya? :D)

Promil dengan Folavit dan Ever E
Beberapa bulan belum ada hasil, saya mencari info di internet. Yang sudah banyak pengalaman pastinya sudah hafal nih. Asam Folat dan Vitamin E. Dengan harga yang relatif terjangkau, saya akhirnya mencoba membeli duet maut yang sudah banyak testimoni ini.

Hasilnya?
Folavit dan Ever E yang saya beli itu belum habis 1 papan (sekitar 12 butir) Alhamdulillah saya sudah hamil. Cara konsumsinya sehari masing-masing satu kali. Kalau tidak salah, siang setelah makan saya konsumsi Folavit dan malam sebelum tidur konsumsi  Ever E.

Tapi, diusia kandungan kurang lebih 5 minggu, saya keguguran.

Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Promil Melalui Resep/Prosedur dari Dokter
Sejak keguguran itu, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan program hamil. Dokter sebenarnya bertanya, sudah berapa lama menikah. Setelah saya jawab dokter bilangnya "Ah, belum cukup setahun". "Kalau sudah Setahun dan belum juga hamil baru bisa dikatakan infertil atau tidak subur." Jelasnya. Tapi saya bilang, bahwa ini adalah bagian dari usaha saya. Dokterpun menyetujui.

Sebelum bercerita lebih jauh, mungkin teman-teman mempertanyakan tentang konsumsi Asam Folat dan Vitamin E, kenapa tidak dilanjutkan? Toh, berhasil, bisa langsung hamil.

Jadi begini, saya mencari info lebih jauh tentang mengonsumsi duet promil yang sangat tersohor di mesin pencari ini. Katanya, salah satu efek samping dari vitamin E tanpa resep dokter adalah bisa memperbesar ukuran miom. Ini yang membuat saya berhenti saat itu, sumbernya internet ya, sayangnya saat mencarinya kembali saya tidak menemukannya. Nanti kalau ketemu lagi akan saya sematkan di sini.

Lebih lanjut, saya juga menemukan postingan yang di-share oleh Dr. Yudhistira, SpOG artinya beliau sudah membaca dan setuju dengan isinya. Silakan dibaca: Promillah Dengan Benar

Oke, sudah ya, bahas promil ala duet tersohor itu. Kita beralih pada program hamil dari dokter.

Untuk tindakan awal sebuah promil yang paling penting menurut saya adalah kesediaan dan keikhlasan suami untuk turut serta dalam program hamil yang akan dijalani. Kenapa? Karena untuk hamil, menghasilkan keturunan, itu dibutuhkan 2 orang, sepasang suami istri. Maka, keduanya harus mau untuk diperiksa, bukan untuk mencari kekurangan masing-masing, tapi untuk memperbaiki, itupun jika memang terdapat sesuatu yang harus diperbaiki. Tidak jarang kan kita menemukan ada suami yang hanya mengutus istrinya untuk memeriksakan diri ke dokter?

Lanjut

Alhamdulillah suami mau untuk terlibat dalam promil yang sudah kami sepakati. Untuk tahap awal, masing-masing kami diberikan vitamin/obat-obatan dulu. Abang dan saya diberikan vitamin, Ultravita untuk Abang dan Folamil Gold untuk saya.


Selain minum vitamin, saya juga diminta datang pada hari kedua haid. Tujuannya adalah ingin melihat perkembangan sel telur dan diberikan obat pembesar sel telur jika perlu. Obatnya diberikan untuk 5 hari, diminum sehari 1 tablet. Kalau gak salah namanya Provula. Pada promil tahap ini juga kami diberikan jadwal untuk berhubungan. Agak risih juga sih pake jadwal, hihi..

Oh ya, Abang juga diberikan rujukan untuk memeriksakan sperma ke laboratorium di kota kami. Abang malah deg-dengan minta ampun. Udah dibilangin jangan, karna bisa berpengaruh pada hasil tesnya. Stress dikit hasilnya bisa gak normal lho.. Saya tentunya tetap kasih support, gimanapun laki-laki gengsinya tinggi kalau sudah urusan kejantanan (sok tahu banget saya ini ya? Hihi).

Sedikit ngomongin tentang gengsi, mungkin ini ya yang membuat sebagian laki-laki memilih mengutus istrinya saja untuk memeriksakan diri. Padahal kalau membaca lagi, 30-40 persen masalah kesuburan ada pada laki-laki, 40 persen pada perempuan dan 20-30 persen adalah kombinasi masalah dari pasangan suami istri itu sendiri. (Sumber: ttps://www.alodokter.com/mandul-atau-tidak-pastikan-dengan-tes-kesuburan)

Mirisnya lagi, kalau perempuan tidak juga kunjung hamil setelah menikah, masyarakat kita buru-buru menunjukkan tangannya pada perempuan, seolah semua masalah kesuburan ada pada perempuan, kandungan turunlah, kandungan lemahlah, inilah, itulah.. Ckckck.. Padahal mau sesubur apapun perempuan kalau pasangannya punya masalah, urusan hamil tidak semudah mengganti saluran TV sekalipun remot sudah ada di tangan.

Hmmm.. sedih.. berharap suatu saat pemahaman seperti ini segera hilang dari muka bumi. Untuk hamil, seorang wanita juga butuh ketenangan lahir batin, jangan belum apa-apa udah stress duluan karena dituduh ini-itu.

Lanjut yess.. Unek-unek hasil dengar cerita dari sesama perempuan udah lumayan keluar.. hehe..

Sambil menjalani cara yang dianjurkan oleh dokter, kami juga mengonsumsi jus 3 diva.

Promil dengan Jus 3 Diva
Jus ini juga tersohor di internet, komposisinya adalah apel, tomat dan wortel (masing-masing 1 buah). Semuanya dijus menjadi 1, lalu diminum. Saya menggunakan apel malang, tomat buah dan wortel yang dijus tanpa disaring sebelumnya. Suami termasuk yang enek sebenarnya mengonsumsi jus ini, apalagi kalau tidak disaring, seratnya makin bikin enek. Tapi Alhamdulillah Abang tipe suami yang mau berusaha bersama, tetap diminum pagi dan malam hari walaupun wajahnya pasti gak enak banget saat minum jus ini. Saya siasati dengan memberikan setengah potong apel malang untuk dikunyah saja sebagai penawar. Selain itu Abang juga saya iming-imingi betapa sehatnya serat buah itu untuk pencernaan, sayang banget kalau dibuang. :D

Oh, iya. Manfaat jus 3 diva ini adalah untuk meningkatkan kualitas sperma. Biar lebih sehat kali yaa.. Saya juga konsumsi sih di awal-awal, tapi karna harga apel malang di kota kami sungguh menguras kantong, saya lebih fokuskan ke Abang saja. Pokoknya kasih suplemen terbaik untuk Abang dan saya sendiri, tapi menstruasi juga tetap rajin datang. hehe..

Kami tetap berusaha, saya tentunya makin banyak membaca. Sampai suatu ketika, dibulan Januari saya disarankan dokter untuk menjalani Hidrotubasi. Tujuannya untuk mengecek jika ada sumbatan pada saluran rahim. Saya sempat bingung juga sih, saya kan sudah sempat hamil, gimana bisa hamil kalau memang ada sumbatan. Tapi karna sudah bertekad untuk promil, benar-benar serius berikhtiar untuk memiliki keturunan, saya jalani saja. Ini bentuk komitmen. Cerita tentang Hidrotubasi, segala proses, rasanya, dan biaya hidrotubasi sudah saya buatkan tulisan sendiri ya..

Baca juga: Promil Hidrotubasi

Sudah beberapa bulan menjalani promil dari dokter, akhirnya awal bulan Maret saya putuskan membeli dan mulai mengonsumsi buah Zuriat.

Promil dengan Buah Zuriat
Langkah ini saya ambil karena membaca banyak testimoni. Wajarlah ya, segala usaha dicoba. Sempat konsumsi kurma muda dan kurma matang yang dibawain teman dari tanah suci juga sih. Tapi konsumsinya gak seberapa karena memang terbatas, namanya juga oleh-oleh.

Buah Zuriat yang sudah dikupas, seperti kelapa versi mini :D

Yang saya baca, buah Zuriat ini lebih kepada terapi hormon, duh.. kalau judulnya gitu sih agak ngeri juga sih, mainan hormon itu benar-benar bukan ranah kita. Tapi Bismillah, lagi-lagi ini bagian dari ikhtiar saya dan Abang.

Saya membeli sekaligus 1 Kg buah Zuriat. Cara konsumsinya adalah 1 buahnya dibelah lalu kemudian direbus dengan 5 gelas air, lalu kemudian diminum setelah airnya susut menjadi 2 gelas.  Buah Zuriatnya tetap saya gunakan untuk direbus lagi sampai kemudian warna kemerahannya mulai memudar.

Ada kendala juga dalam membelah buah Zuriat ini, karena ternyata buah ini keras sekali. Ada juga memang yang dijual berupa bubuk, tapi saya memilih buahnya utuh saja, berjaga, takutnya ada penjual yang gak jujur dan sudah mencampur bubuk Zuriat dengan hal lain yang tidak kita ketahui. Apalagi kalau sampai hal lain itu malah merupakan zat berbahaya. Pengen sehat, hamil, malah dapat yang gak sehat. Begitu pemikiran saya.

Rebusan buah Zuriat ini kami konsumsi pagi dan malam hari. Warnanya seperti teh yang tidak terlalu pekat, kalau rasanya ya.. agak tawar sih, umpamakan seperti minum teh tanpa gula sajalah. Gak menyiksa lidah kok..

Menstruasi terus datang.

Promil dengan Urut
Ini ikhtiar atas saran dari Mama, mungkin banyak juga yang menjalaninya. Total saya 2 kali diurut. Yang pertama sekitar akhir tahun 2017, rasanya gila banget, keringat dingin kayak pengen nangis, gimana enggak, sampai perut atas bagian ulu hati juga diurut. Saya yang punya riwayat maag dan perut bagian atasnya sudah lama agak kembung jadi kesakitan banget. Berbeda dengan kali kedua saya diurut, rasanya lumayan bersahabat, terakhir diurut itu bulan April 2018, itu lagi H2C menunggu agar menstrusi tidak datang, hal itu saya sampaikan juga sebelum diurut.

.***

31 Januari adalah kali terakhir saya ke dokter, bukan karna putus asa, tapi lebih kepada banyak kesibukan, jadwal ke dokterpun selalu bertabrakan dengan pekerjaan, begitu pekerjaan mulai longgar, dokter sedang tidak praktek.

14 Maret, saya kembali membeli Asam Folat dan vitamin E, sebutlah saya bandel, mulai berusaha dengan hal yang saya takuti dulu. Bahkan mulai meniru resep dan pola yang diberikan dokter. Saya membeli dan mengonsumsi provula tanpa resep dokter, tapi tetap memperhatikan waktu konsumsinya.

Suami juga masih mengonsumsi rebusan buah zuriat walaupun tidak seteratur sebelumnya, saya kadang kecapean, tiba di rumah pengennya sudah langsung tidur saja. Tapi Abang teratur meminum asam folat walaupun mereknya berbeda dengan saya. Yang saya baca, asam folat yang dikonsumsi laki-laki juga berfungsi untuk memperbaiki fertilitas pria. Gak heran sih, Ultravita yang diresepkan dokter juga ada kandungan Asam Folatnya.

Saya ingat saat bulan Maret meminta pertimbangan Abang, apakah akan ke dokter lain atau bagaimana, soalnya ya itu, hari Minggu dokter kandungan yang biasa kami kunjungi libur. Tapi Abang bilang, sudahlah, kita usaha sendiri dulu. Waktu Abang bilang begitu, saya yang biasanya suka kekeuh dengan keinginan saya entah kenapa manut saja. It's like a magic word, dan saya berkata dalam hati, ya sudah, bismillah percaya sama Abang...

Long Short Story, jadwal menstruasi di bulan April tidak kunjung datang. Alhamdulillah, saya positif hamil sampai saat menulis ini usia kandungan sudah 32 minggu.

Baca juga: Cerita Kehamilan Trisemester Pertama

Tapi cerita ini belum berakhir, saya memang berniat menuliskan pogram hamil apa saja yang saya jalani, bisa jadi membantu orang lain yang juga sedang mencari informasi, entah dengan berusaha sendiri atau ingin memulai promil melalui dokter.

Tidak jarang orang bertanya pada saya promil apa yang saya lakukan? Tulisan ini juga saya harapkan bisa menjawab, saya menuliskan semuanya karena saya meyakini semua yang saya konsumsi memiliki peran dalam promil saya sampai kemudian berhasil, jadi saya tidak bisa bilang karena ini dan itu. Yang saya yakini dan kemudian makin mendorong saya menuliskan ini adalah pembicaraan dan testimoni bersama teman-teman di grup 1M1C

Beberapa percakapan diantaranya:

"Rata2 pada gitu yaa. Temen ada yang mau insem/bayi tabung, pas konsultasi malah udh positif dulu. Ada juga yg lagi terapi imun, baru mau mulai eh malah positif duluan. Misteri Allah emang ajaib yaa." (Zeneth Thobarony)

"Iya Kak, wallahua’lam,, cuman herannya mostly pasca HSG hampir semua yg saya dengar, pasti hamil,, subhanallah pisan,, even sodara yg dokter pun gt, 3 tahun kosong, trus HSG trus jadi.." (Renjana Ratih Inaganis)

"Saya pun" (Nurindah Fitria membenarkan kalimat Renjana Ratih).

"Saya promil di dokter berbulan-bulan, setiap bulan rajin datang, 2 bulan ndak ke dokter karna sok sibuk, Alhamdulillah malah jadi" (Irly)

"Saya sukses setelah pasrah. Udah lelah promil ini itu. Udah operasi angkat endometriosis pula. Giliran pasrah malah jadi." (Arni Emaknya Prema)

""Betul yah Teh, kadang momen2 “semakin tidak peduli”, malah kejadian,, 😅
Wallahua’lam.." (Renjana Ratih membenarkan kalimat Emaknya Prema)

"Iya, tampaknya "pasrah/lebih legowo" salah satu pendukung promil yang paling baik 😁" (Irly membenarkan kalimat Ranjana Ratih)

Sampai akhirnya percakapan mulai diberikan peringatan karena isi grup dari berbagai kalangan umur. Hehe..

Jadi ada beberapa poin yang ingin saya tekankan:
- Berusahalah untuk promil, jangan hanya sendiri saja, tapi berdua.
- Waktu tetap menjadi hak prerogatif Allah, bahkan dokter sekalipun hanya membantu kita berikhtiar.
- Berdasarkan cerita dan pengalamaan saya sendiri, disaat kita sudah ikhlas/pasrah kadang disaat itulah Allah memberikan jawaban dari setiap doa dan usaha kita (termasuk hamil).
- Perbanyak doa dan minta doa dari orang tua, saya sendiri sampai mengeluarkan nazar dan memperbanyak ibadah sunnah, saya yakin, usaha selain harus diukir di atas bumi, juga tetap harus dipanjatkan ke langit-Nya.

"Tetaplah berusaha, Allah melihat setiap usahamu. Tetaplah berusaha, jangan hiraukan perkataan yang menyakitkan."

Semangat promil teman-teman, semoga Allah segerakan, kalian tidak sendiri.

NB: Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan teman-teman yang sudah banyak menjalani promil mempunyai kekurangan ini dan itu, tujuan saya semata memberi informasi dan motivasi. Saya ikut mendoakan, semoga teman-teman yang sedang promil dan membaca tulisan ini segera terjawab doa dan usahanya.
Read more

29 Oct 2018

Kehamilan Trisemester Kedua

Haiii.. such a long time nunggu mood menulis muncul lagi. Biasalah, kalah sama banyak hal. Ibu hamil ini sudah merasakan gampang lelah. Jadi sekalipun niat banget berbagi cerita tentang kehamilan, lanjutan tulisan tentang kehamilan ini jadi cukup lama mandek.


So, sembari coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman kehamilan trisemester kedua ini, saya coba lengkapi drafnya, yess..


Bulan Keempat
Lepas dari bulan ketiga kehamilan, obat-obatan sebisa mungkin saya hentikan. Sedikit termotivasi dari teman yang bercerita tentang betapa mabuknya dia saat hamil, tapi memilih untuk tidak mengonsumsi obatnya dengan cara lebih fokus kepada pekerjaan. Maka sedikit demi sedikit saya coba kurangi obat dari resep dokter itu. Alhamdulillah lama-lama bisa lepas sekalipun hormon rasanya masih memegang kendali. Hehe..

Perjuangan menunggu hormon stabil kalau tidak salah ingat berakhir di minggu ke lima belas, sekitar seminggu memasuki bulan kelima kehamilan. 

Bulan Kelima Kehamilan
Bulan kelima kehamilan sekitar 17 minggu, kami memeriksakan kandungan lagi ke dokter, dokter bilang janinnya sehat-sehat saja, pulang saya diberi resep berupa Aspilet dan Calgae.

Karena kepo, saya googling dong, yang saya dapatkan Aspilets adalah obat untuk pengencer darah dan Calgae adalah suplemen kalsium. Kalau Calgae saya bisa pahami sih, soalnya waktu ditanya keluhan juga saya sebutkan mengenai sakit pinggang yang sering sekali terasa, apalagi setelah berkantor seharian. Umum sih, tapi karena ditanya ya saya sebutin. :p

Oh ya, Calgaenya cukup ampuh mengurangi sakit pinggang saya, sayangnya ada efek mualnya dan direspkan untuk dikonsumsi siang setelah makan. Jadi, agak berasa sedikit kembali ke trisemester pertama. Tapi lama-lama mulai terbiasa juga.

Nah, yang jadi fokus saya karena lumayan bikin kaget adalah obat pengencer darah, yang diresepkan untuk dikonsumsi malam hari setelah makan. Kepa saya direspin obat itu? Obatnya serius kalau menurut saya. Tapi karena males balik ngatri lagi ke dokter, saya coba lihat di video yang saya rekam saat USG, Bedanya apa sama video USG bulan lalu. Dari hasil analisis saya memang pemeriksaan bulan kelima ini detak jantungnya tidak selancar biasanya. Entah memang ada hubungannya atau tidak. Mungkin sayanya saja yang sotoy. :D

19 minggu kehamilan saya mulai merasakan kedutan di perut untuk bertama kali, saya catat momen penting itu, 4 Agustus, dini hari. Dari hasil membaca dan bertanya kepada dokter, memang gerakan bayi yang umumnya disinyalir sebagai tendangan akan terasa pada usia kehamilan 20 minggu. Terlebih jika janin yang ada di dalam kandungan adalah anak pertama, ibunya belum terlalu sensitif dengan gerakan janin. Benar saja, di usia kehamilan 20 minggu saya sudah bisa merasakan gerakan dengan lebih jelas. Semakin hari, semakin aktif, alhamdulillah.


Pada bulan kelima ini juga ide untuk baby moon bersama Abang saya utarakan. Saya meyakinkan bahwa saat hamil seorang ibu juga bisa liburan. Tentunya dengan menyodorkan artikel agar Abang lebih percaya. Hasilnya Abang memang jadi semangat, soalnya memang sejak awal tahun Abang sudah gelisah pengen liburan.

Bulan Keenam Kehamilan
Bulan keenam kehamilan, fix sudah baby moonnya batal. Abang yang berangkat ke Jakarta untuk dinas dan langsung  mengambil cuti tidak bisa saya susul karena tidak diberikan cuti oleh kantor. Perihh.. hahah..

Oh iya, saya jadi ingat, tanggal 24 Agustus, usia kehamilan sekitar 21 minggu, saya kena demam tinggi. Itu beberapa hari sebelum Abang berangkat ke Jakarta. Sekitar tengah malam saya merasa kedinginan, persendian ngilu semua, karena terbangun terus saya jadi lapar, akhirnya saya ke dapur lalu makan, lanjut baring berniat tidur lagi. Kesalahan saya waktu itu langsung baring, asam lambung jadi makin aktif jadi tidak heran subuh saya sudah muntah-muntah. Saya sampai tidak masuk kantor. Sekitar 3 hari baru kemudian kesehatan saya pulih. Kasihan semua orang rumah, saya susahin lagi. Berat saya sempat turun juga, sekitar 2 kilogram kalau tidak salah ingat.

Saya tidak ke dokter waktu itu, karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja memeriksakan kondisi saya dan janin ke dokter. Hasilnya baik, saya kembali diberikan resep Calgae, dan resep baru berupa penambah darah untuk mencegah anemia, Nonemi. Jenis kelaminnya sudah ketahuan, sejak bulan keempat sih kayaknya, dan sekarang makin tak terbantahkan. Alhamdulillah, sehat terus ya kamu anakku. :*

***

Nah, cukup segitu dulu cerita tentang kehamilan trisemester kedua ini, sekarang sudah memasuki bulan ke delapan, doakan saya sekeluarga sehat dan gak malas menulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.



Read more

24 Sep 2018

Memilih Kosmetik yang Aman Saat Hamil

Berbadan dua atau sedang dalam kondisi hamil membawa sang ibu pada keadaan harus memilih dan lebih selektif. Banyak hal yang melibatkan opsi ini, mulai dari makanan, pakaian sampai pada penggunaan kosmetik. Berbicara tentang kosmetik gini berasa biuti bloher gak seeeh? Hihi..
Gak juga dong, emang biuti bloher ajah yang pakai kosmetik? Semua orang (apalagi wanita ya) pasti ingin tampil kece, minimal gak kucellah yaa.. Apalagi kalau kulitnya termasuk dalam kategori sehat. Duh.. Seneng banget pastinya. Termasuk ibu hamil yang tetap ingin tampil cantik tanpa mengganggu perkembangan janin. Hehe..

Nah, kali ini saya sedang kesambet bahas kecantikan lagi. Haha.. Gak ding.. Emang ini kewajiban, biasa utang nulis saya banyak *Duh.. ini jadi semacam beban hidup yaah?! Haha.. Jadi Bulan lalu si Beauty Blogger di Be Molulo jenk Dita, memberikan trigger post yang bertema kecantikan Beauty Talk, I Can't Life Without You jadi yang dibahas itu, yang basic banget dalam memenuhi kebutuhan hidup kulit wajah kita.

Kalau temanya seperti itu, saya yang sedang hamil ini tidak perlu susah payah memikirkannya. Apalagi kalau bukan  karena seleksi yang terjadi demi kebutuhan hidup kulit dan perkembangan janin yang tentunya saya harapkan tidak terkena dampak buruk kosmetik. Emak butuh cantik, tapi sungguh, bagaimanapun anak akan menjadi prioritas. Iya kan?


Saya lampirkan beberapa kandungan kosmetik yang harus dihindari oleh ibu hamil, hasil menggalau membaca saat sudah tahu saya positif hamil beberapa bulan yang lalu. Antara lain:

1. Retinoid
Bahan ini biasanya dapat ditemukan dalam kosmetik anti penuaan, obat jerawat dan pemutih ini sebaiknya dihindari saja ya karena efeknya cukup berbahaya.

2. BHA atau Beta Hydroxy Acids
Biasa ditemukan di obat jerawat atau produk pengelupasan kulit, ini wajib diwaspadai lho!

3. Tetracycline
Sejenis antibiotik yang bahaya kalau dikonsumsi saat hamil. Konsultasikan subtitusi obat ini dengan dokter ya.

4. Hydroquinone
Tak hanya wajib diwaspadai pada ibu hamil karena dikhawatirkan bisa memberikan efek yang buruk bagi janinmu.

5. Phthalates
Bahan yang biasa ditemukan di pewarna kuku atau parfum ini juga sebisa mungkin dihindari, demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

6. Formaldehyde
Biasa ditemukan di produk pelurus rambut, pewarna kuku dan lem bulu mata ini konon zat karsinogen yang memicu kanker lho.

7. Toluene
Seringkali ditemukan ditemukan di pewarna kuku. Satu lagi alasan kenapa pakai pewarna kuku nggak boleh asal-asalan buat ibu hamil.

8. Amoniak
Sudah nggak asing kan sama amoniak? Bahan ini sangat sering ditemukan di formula pewarna rambut.

9. Dihydroxyacetone
Meski mungkin akan jarang terpapar di orang Indonesia, kamu pun wajib mewaspadai dihydroxyacetone yang menjadi bahan untuk spray penggelap kulit.

10. Thioglycolic Acid
Saat hamil atau menyusui, ada baiknya melakukan waxing atau cukur rambut di area yang diinginkan secara konvensional saja daripada terpapar kandungan thioglycolic acid ini.

11. Botulinim Toxin
Bahan yang biasa dikenal dengan nama botox ini juga sebaiknya dihindari saja ya kalau nggak perlu-perlu amat.

Sumber: https://www.hipwee.com/young-mom/dear-calon-mama-ini-lho-12-kandungan-kosmetik-yang-perlu-dihindari-saat-hamil-nggak-mau-kan-kamu-dan-janin-kenapa-napa/
***

Nah, biar tetap sejalan dengan postingan Dita, sekalian saya ceritakan pilihan kosmetik dan hasil memangkas pemakaian kosmetik saya hanya pada kebutuhan yang sangat mendasar saja yess.. Walaupun produk yang saya gunakan selalu saya pastikan sudah terdaftar di BPOM, walaupun pada akhirnya kulit saya tidak secerah dan semulus saat sebelum hamil. Setidaknya saya butuh kosmetik-kosmetik ini. Apa saja kosmetik yang saya gunakan saat sedang hamil?

1. Pembersih wajah
Saya menggunakan pembersih wajah merek Wardah, karena kulit saya berminyak saya menggunakan Wardah Facial Foam. Ini wajib banget walaupun saya kalau udah ngantuk bisa jadi gak cuci muka juga. Jorok? Entahlah, harus mendahulukan mana, bersih-bersih atau tidur karena takut gak bisa tidur lagi, kalau gak bisa tidur urusannya panjang kemana-mana apalagi untuk ibu hamil seperti saya. *Alesyaaaan!! Haha :p

2. Sun Care
Saya menggunakan Wardah Sun Care Sunscreel Gel SPF 30, fungsinya ya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari, sekaligus melembabkan kulit. Rutin menggunakan ini sebelum ke kantor atau keluar rumah membuat saya merasa lebih terlidung. Ya, walaupun memang kulit tetap saja menjadi lebih gelap dibanding saat sebelum hamil. Setidaknya ni wajah gak belang-belang amatlah. Cukup hidung saja *Eh :D

3. Foundation
Nah ini.. Entah kenapa saya tidak bisa lepas dari foundation. Saya menggunakan Pixy UV Whitening Stick Foundation. Kalau kepoin di internet sih, sekarang sudah ada produk barunya, foundation sekaligus concealing. Dari dulu selalu gunakan produk ini dulu baru kemudian bedakan.

4. Bedak
Bedak ini sesuatu yang sangat basic juga untuk saya. Maklum, wajah yang diberi anugerah sumber minyak melimpah ini akan sangat gampang terlihat kusam. Dengan adanya bedak, kekusaman akan mudah tersamarkan dari muka bumi. Hahaha.. Dan saya cocoknya pakai Pixy UV Whitening Two Way Cake Perfect Fit. Belajar bedakan pakai ini dan sampai sekarang gak pernah lepas. *Orangnya susah berpaling ke lain hati. Hihi..

5. Pensil Alis
Ini nih yang sering dikomentarin Abang, kegiatan gambar menggambar di pagi hari, tapi tetap aja jalan. Haha.. Seperti bedak, saya juga belajar menggambar alis dengan satu merek. Pensil alis Viva, kebanyakan juga sepertinya menggunakan merek ini. Hehe.. Awalnya saya menggunakan warna coklat saja, beberapa minggu terakhir saya menggunakan dua warna, hitam untuk bingkai dan coklat untuk isian. Ada style baru kata Abang yang memperhatikan saya sedang menggambar. :D

6. Lipstick/Lipgloss
Dan yang paling akhir dari rangkaian kosmetik yang saya gunakan adalah lipstick atau lipgloss. Keduanya saling melengkapi. Saya tipe yang bibir kering dulu baru pakai lipgloss, sungguh sangat perhatian kan yah? Ckck..

Untuk lipstick saya menggunakan berbagai merek, kalau warna sih gak jauh-jauh dari mocca, pink atau coral gitu. Kalau merek Purbasari habis, saya cari warna yang sama dengan merek Wardah atau Viva. Udah gitu ajah, pakainya tipis-tipis, kalau ke pesta aja pakainya agak tebal biar efek matte-nya lebih nampol.

***

Udah sih, cukup 6 rangkaian itu kalau mau keluar rumah. Kalau sudah balik dari kantor kembali ya kembali pakai pembersih wajah saja. Nanti setelah melahirkan sajalah baru kembali perawatan bersama krim malam dan segala rangkaian pencerah warna kulit itu, yang sekarang sekedar perlindungan saja dulu. So far juga hasil USG janin alhamdulillah gak ada masalah. Soalnya kalau baca-baca artikel tentang bahaya kosmetik dan kehamilan, agak ngeri juga. Siapa yang mau saraf anak terganggu atau adanya cacat pada anak dikarenakan ibunya kurang teliti dalam memilih kosmetik. Duh, semoga anak kita terhindar dari segala keburukan ya buibuuu..

Gimana dengan teman-teman bumil yang lain? Pastinya tetap waspada dengan kandungan bahan berbahaya di dalam kosmetik kan ya?

Read more

30 Aug 2018

[Puisi] I Miss You Like Crazy

Aku bertanya pada malam pembungkus fajar
Bisakah aku melipat rindu seperti orang lain melipat jarak?
Menjadikannya mudah walau berbayar
Menjadikannya ringan walau sejenak?


Malam tak melempar kata
Hanya sepoi angin mencoba menggigit sepi
Menyisakan kebisuan yang membasahi mata
Butir hangat itu jatuh melawan dingin di hati

Terlalu sulit mengeja rindu ini
Sementara aku tak ingin mengikatmu lagi dengan sejuta alasan
Toh takkan terbang dirimu menuntaskan rindu
Ada beban lain yang juga harus kau lepaskan

Terlalu sulit menuturkan rindu ini
Rindu yang tidak lagi ada pada level muda mudi yang belajar berkasih mesra
Ini rindu istri pada suaminya
Pada imam yang akan berjalan beriring menuju surga

Maka kujelmakan rindu ini ke atas langit
Berganti doa berharap ia turun lagi ke bumi
Berparas kemudahan yang akan kau temui sepanjang jalan
Beralih fungsi layaknya perisai yang melindungimu

Biar kurapal rindu ini lewat sajak
Walau rindu ini terus larut mengiris kalbu..
I miss you like crazy.

Kendari, 300818, 19.40
Hari kelima ditinggal ke luar kota.
Read more

20 Aug 2018

Ikhtiar Program Hamil: Hidrotubasi

Sharing is caring... Begitu kata orang. Entah siapa. Hehe..

Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu pemeriksaan yang saya jalani saat sedang program hamil atau yang umum disingkat promil. Hidrotubasi jelas merupakan hal yang asing ditelinga saya. Saat dokter menjadwalkan pemeriksaan berikutnya adalah hidrotubasi, saya "oh" saja walau sudah mendapat penjelasan.

Beruntung ada internet sebagai media pelepas rasa penasaran, saya mencari info sebanyak-banyaknya. Tapi kebanyakan yang saya dapati hanya berupa sharing pendek, sedikit punya gambaran, ada yang bilang sakit, ada yang bilang biasa saja. Bagaimana dengan pengalaman saya? Huhu.. Sabar ya..


Beranjak dari pengalaman melit (kepo) tersebut, saya berniat menuliskan pengalaman saya sendiri saat sudah menjalaninya nanti. Mungkin akan bermanfaat untuk teman-teman yang sedang mencari info atau mungkin akan menjalani hidrotubasi. Semangat promil ya moms! Semoga segera diijabah usaha dan doanya, kalian wanita, pasangan yang kuat, Insyaallah segera dikaruniai anak yang sehat, bahagia lahir batin. :*

Bermula dari beberapa kali datang, melakukan pemeriksaan laboratorium bersama suami dan menjalankan upaya untuk segera hamil secara alami (oh well.. okay.. dikasih obat pembesar sel telur juga sih), akhirnya dokter memutuskan untuk naik ke tahap selanjutnya, hidrotubasi. Saya sempat bertanya-tanya juga, apa perlu? Lagipula kan sebelumnya saya sudah pernah hamil (walaupun keguguran). Tapi bismillah, namanya juga ikhtiar.

Baca juga: Kamu Kuat, Nak!

Dan akhirnya hari itu tiba, sayangnya kali itu saya tidak ditemani suami karena sedang mengikuti diklat di luar kota. Mama yang menemani saya, walaupun sudah saya sampaikan bahwa tidak perlu. Biasalah, gak mau merepotkan, sayanya juga mungkin yang sok tegar. Pada akhirnya bersyukur ada Mama yang menemani.

Sedikit yang saya ketahui tentang hidrotubasi atau tiup rahim dari aplikasi AloDokter adalah teknik dalam bidang kedokteran dimana obat atau cairan disuntikkan ke dalam saluran telur (tuba falopi) dan rahim melalui leher rahim. Dengan tujuan untuk melebarkan dan/atau mengobati gangguan pada sel telur.

Syarat Hidrotubasi
Waktu itu dokter memberi persyaratan agar melakukan hidrotubasi 2 hari setelah haid terakhir dan tidak boleh melakukan hubungan intim. Tujuannya agar rahim sudah bersih, dan larangan berhubungan intim dibuat agar tidak ada sperma yang masuk saat proses peniupan cairan hidrotubasi tersebut. Kurang lebih begitu sih seingat saya.

Pengalaman Hidrotubasi
Sebelum masuk ruangan praktek dokter saya membeli beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan dulu, antara lain tiga buah spoit atau suntik berbagai ukuran, kateter,  Dexamethasone, Sterilised Water For Injection, Kaltrofen dan Kanamycin Meiji. Semuanya atas petunjuk dokter, yes..


Setelah itu, saya menyerahkan semuanya pada perawat, saya kemudian diminta berbaring dan diberikan obat yang saya duga bius (dari hasil membaca). Kalau dari bentuknya, sepertinya 2 buah kaltrofen itulah yang dimasukkan lewat (maaf) dubur.

Setelah puluhan menit, saya kemudian masuk ke ruangan praktek bersama Mama. Mama menunggu di kursi depan meja dokter, sedangkan saya diminta berbaring di tempat tidur yang asing untuk saya. Iya, saya katakan asing karena selama diperiksa oleh dokter kandungan langganan saya ini, saya tidak pernah berbaring di tempat tidur itu. Setelah kedua kaki saya ditempatkan pada penyangga kaki di kiri dan kanan, saya kemudian sadar, sepertinya ini ranjang yang biasa saya lihat di video-video persalinan. Fix, saya makin tegang!

Saat itu saya mulai pasrah, menghipnotis diri sendiri bahwa semuanya saya lakukan demi kebaikan. Saya jadi teringat suami yang juga tegang menjelang tes sperma. Saya bisa, dan hasilnya akan baik-baik saja. Saya terus menyemangati diri sendiri sementara dokter dan 2 orang perawatnya mulai melakukan prosedur hidrotubasi, kateter akhirnya dimasukkan.. Dan Hey! Itu pertama kalinya tubuh saya dimasuki benda itu. Masih nyaman-nyaman saja, kedua tangan saya masih saling menggenggam.

Tahap berikutnya yang saya rasakan adalah pemasukan cairan memalui kateter dengan menggunakan suntik. Masih aman, saya masih merasa nyaman-nyaman saja. Dokter melakukan pemeriksaan posisi cairan melalui USG, dan cairan mulai dikeluarkan. Semua masih terasa nyaman. Saya masih diminta berbaring dalam keadaan ngangkang. Lalu akhirnya kaki diturunkan dan saya diselimuti. Fiuhh..

Akhirnya...

Beberapa menit kemudian rasa tidak nyaman mulai mendatangi saya, perlahan. Dimulai dari tangan saya yang terasa kebas, dan dengan cepat juga terasa di perut dan kaki saya. Rasa sakit, rasa tidak nyaman itu lama berdiam di badan saya. Saya bahkan hampir bersikap dramatis dengan menggengam tangan perawat di ruangan itu, urung, saya pasrah menggenggam besi ranjang yang terasa sangat dingin saat itu. Saya butuh Abang!! T_T

Sumpah rasanya sakit sekali, saya mulai beristighfar, nafas saya mulai tidak beraturan walaupun sudah coba saya atur dengan bernafas lewat mulut, saya ingin menangis!!! Tapi kemudian saya berhasil menghardik diri sendiri, saya katakan dalam hati "Ini belum seberapa Ir, kalau melahirkan lebih sakit lagi! Jangan manja! Malu!" Secara ajaib, saya bisa mengontrol perasaan dan reaksi saya kembali, memang rasa sakitnya tidak berkurang, tapi saya gak jadi nangis! LOL

Sekitar 45 sampai 60 menit saya berbaring di ruangan itu, sementara pasien lain silih berganti naik turun ranjang tempat USG. Saya pasrah saja dilihat oleh mereka, sesekali saya melayangkan doa saat melihat ibu dalam keadaan hamil sedang di-USG. Suatu saat, saya juga akan seperti itu. :)

Sebelum keluar dari ruangan, dokter berpesan agar saya tidak panik jika nanti ada pendarahan mulai dari flek sampai seperti sedang haid. Semuanya wajar setelah hidrotubasi. Dokter juga menuliskan resep untuk saya tebus di apotek. Beruntung, saya tidak mengalami flek sedikitpun. Kekhawatiran berkurang.

Oh ya, belum bahas hasil ya.. Alhamdulillah hasilnya kedua tuba falopi saya paten, artinya tidak ada penyumbatan ataupun penyempitan. Saya bernafas dengan sangat lega mendengar hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dokter.

Biaya Hidrotubasi
Biaya yang saya keluarkan untuk hidrotubasi adalah sekitar Rp.800.000. Saya sebenarnya lupa, apakah biaya di atas sudah termasuk alat dan obat-obatan yang saya beli sebelum dilakukan hidrotubasi hari itu. Yang jelas obat yang saya beli sesuai dengan resep dokter adalah sebesar Rp.165.000 dan itu sudah termasuk dalam biaya yang saya sebutkan di atas. Tapi perkiraan saya memang dibawah Rp.1.000.000, karena sebelumnya dokter memang sudah memberikan gambaran biaya yang harus saya keluarkan, ya sekitar Rp.800.000 itu.

Sebagai tambahan informasi

Efek Samping Hidrotubasi
- Infeksi Urine, bisa diatasi dengan banyak minum air putih selama 24 jam setelah prosedur dilakukan.
- Infeksi pada tempat masuknya kamera.
- Cedera pada pembuluh darah, usus, atau kandung kemih.
- Nyeri di bawah tulang rusuk, sekitar bahu atau leher hingga 72 jam setelah prosedur dilakukan.

Sumber: https://www.alodokter.com/hidrotubasi-salah-satu-solusi-untuk-memiliki-bayi-2

***

Semoga sharing yang saya tuliskan bermanfaat, bukan bikin takut para pejuang promil yang membaca ini, dari yang saya baca, rasanya beragam kok, ada yang merasakan sakit speerti saya, ada yang tidak merasakan sakit sama sekali. Semua layak dilakukan, Alhamdulillah saat ini saya tengah mengandung dengan usia kehamilan 21 Minggu, doakan kami selalu sehat, Insyaallah teman-teman yang sedang menjalani promil juga akan segera dikaruniai anak yang sehat dan lebih kuat dari ayah bundanya.

Baca juga: Kehamilan Trisemester Pertama

Teman-teman lain boleh banget ikutan share pengalaman hidrotubasinya ataupun pengalaman promil lainnya. Atau kalau ada pertanyaan boleh banget dituliskan di kolom komentar.

Semangat promil!! ^^

Read more

13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon belum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alsan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat diminum 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya.Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai berat badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...