30 Aug 2018

[Puisi] I Miss You Like Crazy

Aku bertanya pada malam pembungkus fajar
Bisakah aku melipat rindu seperti orang lain melipat jarak?
Menjadikannya mudah walau berbayar
Menjadikannya ringan walau sejenak?


Malam tak melempar kata
Hanya sepoi angin mencoba menggigit sepi
Menyisakan kebisuan yang membasahi mata
Butir hangat itu jatuh melawan dingin di hati

Terlalu sulit mengeja rindu ini
Sementara aku tak ingin mengikatmu lagi dengan sejuta alasan
Toh takkan terbang dirimu menuntaskan rindu
Ada beban lain yang juga harus kau lepaskan

Terlalu sulit menuturkan rindu ini
Rindu yang tidak lagi ada pada level muda mudi yang belajar berkasih mesra
Ini rindu istri pada suaminya
Pada imam yang akan berjalan beriring menuju surga

Maka kujelmakan rindu ini ke atas langit
Berganti doa berharap ia turun lagi ke bumi
Berparas kemudahan yang akan kau temui sepanjang jalan
Beralih fungsi layaknya perisai yang melindungimu

Biar kurapal rindu ini lewat sajak
Walau rindu ini terus larut mengiris kalbu..
I miss you like crazy.

Kendari, 300818, 19.40
Hari kelima ditinggal ke luar kota.
Read more

20 Aug 2018

Ikhtiar Program Hamil: Hidrotubasi

Sharing is caring... Begitu kata orang. Entah siapa. Hehe..

Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu pemeriksaan yang saya jalani saat sedang program hamil atau yang umum disingkat promil. Hidrotubasi jelas merupakan hal yang asing ditelinga saya. Saat dokter menjadwalkan pemeriksaan berikutnya adalah hidrotubasi, saya "oh" saja walau sudah mendapat penjelasan.

Beruntung ada internet sebagai media pelepas rasa penasaran, saya mencari info sebanyak-banyaknya. Tapi kebanyakan yang saya dapati hanya berupa sharing pendek, sedikit punya gambaran, ada yang bilang sakit, ada yang bilang biasa saja. Bagaimana dengan pengalaman saya? Huhu.. Sabar ya..


Beranjak dari pengalaman melit (kepo) tersebut, saya berniat menuliskan pengalaman saya sendiri saat sudah menjalaninya nanti. Mungkin akan bermanfaat untuk teman-teman yang sedang mencari info atau mungkin akan menjalani hidrotubasi. Semangat promil ya moms! Semoga segera diijabah usaha dan doanya, kalian wanita, pasangan yang kuat, Insyaallah segera dikaruniai anak yang sehat, bahagia lahir batin. :*

Bermula dari beberapa kali datang, melakukan pemeriksaan laboratorium bersama suami dan menjalankan upaya untuk segera hamil secara alami (oh well.. okay.. dikasih obat pembesar sel telur juga sih), akhirnya dokter memutuskan untuk naik ke tahap selanjutnya, hidrotubasi. Saya sempat bertanya-tanya juga, apa perlu? Lagipula kan sebelumnya saya sudah pernah hamil (walaupun keguguran). Tapi bismillah, namanya juga ikhtiar.

Baca juga: Kamu Kuat, Nak!

Dan akhirnya hari itu tiba, sayangnya kali itu saya tidak ditemani suami karena sedang mengikuti diklat di luar kota. Mama yang menemani saya, walaupun sudah saya sampaikan bahwa tidak perlu. Biasalah, gak mau merepotkan, sayanya juga mungkin yang sok tegar. Pada akhirnya bersyukur ada Mama yang menemani.

Sedikit yang saya ketahui tentang hidrotubasi atau tiup rahim dari aplikasi AloDokter adalah teknik dalam bidang kedokteran dimana obat atau cairan disuntikkan ke dalam saluran telur (tuba falopi) dan rahim melalui leher rahim. Dengan tujuan untuk melebarkan dan/atau mengobati gangguan pada sel telur.

Syarat Hidrotubasi
Waktu itu dokter memberi persyaratan agar melakukan hidrotubasi 2 hari setelah haid terakhir dan tidak boleh melakukan hubungan intim. Tujuannya agar rahim sudah bersih, dan larangan berhubungan intim dibuat agar tidak ada sperma yang masuk saat proses peniupan cairan hidrotubasi tersebut. Kurang lebih begitu sih seingat saya.

Pengalaman Hidrotubasi
Sebelum masuk ruangan praktek dokter saya membeli beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan dulu, antara lain tiga buah spoit atau suntik berbagai ukuran, kateter,  Dexamethasone, Sterilised Water For Injection, Kaltrofen dan Kanamycin Meiji. Semuanya atas petunjuk dokter, yes..


Setelah itu, saya menyerahkan semuanya pada perawat, saya kemudian diminta berbaring dan diberikan obat yang saya duga bius (dari hasil membaca). Kalau dari bentuknya, sepertinya 2 buah kaltrofen itulah yang dimasukkan lewat (maaf) dubur.

Setelah puluhan menit, saya kemudian masuk ke ruangan praktek bersama Mama. Mama menunggu di kursi depan meja dokter, sedangkan saya diminta berbaring di tempat tidur yang asing untuk saya. Iya, saya katakan asing karena selama diperiksa oleh dokter kandungan langganan saya ini, saya tidak pernah berbaring di tempat tidur itu. Setelah kedua kaki saya ditempatkan pada penyangga kaki di kiri dan kanan, saya kemudian sadar, sepertinya ini ranjang yang biasa saya lihat di video-video persalinan. Fix, saya makin tegang!

Saat itu saya mulai pasrah, menghipnotis diri sendiri bahwa semuanya saya lakukan demi kebaikan. Saya jadi teringat suami yang juga tegang menjelang tes sperma. Saya bisa, dan hasilnya akan baik-baik saja. Saya terus menyemangati diri sendiri sementara dokter dan 2 orang perawatnya mulai melakukan prosedur hidrotubasi, kateter akhirnya dimasukkan.. Dan Hey! Itu pertama kalinya tubuh saya dimasuki benda itu. Masih nyaman-nyaman saja, kedua tangan saya masih saling menggenggam.

Tahap berikutnya yang saya rasakan adalah pemasukan cairan memalui kateter dengan menggunakan suntik. Masih aman, saya masih merasa nyaman-nyaman saja. Dokter melakukan pemeriksaan posisi cairan melalui USG, dan cairan mulai dikeluarkan. Semua masih terasa nyaman. Saya masih diminta berbaring dalam keadaan ngangkang. Lalu akhirnya kaki diturunkan dan saya diselimuti. Fiuhh..

Akhirnya...

Beberapa menit kemudian rasa tidak nyaman mulai mendatangi saya, perlahan. Dimulai dari tangan saya yang terasa kebas, dan dengan cepat juga terasa di perut dan kaki saya. Rasa sakit, rasa tidak nyaman itu lama berdiam di badan saya. Saya bahkan hampir bersikap dramatis dengan menggengam tangan perawat di ruangan itu, urung, saya pasrah menggenggam besi ranjang yang terasa sangat dingin saat itu. Saya butuh Abang!! T_T

Sumpah rasanya sakit sekali, saya mulai beristighfar, nafas saya mulai tidak beraturan walaupun sudah coba saya atur dengan bernafas lewat mulut, saya ingin menangis!!! Tapi kemudian saya berhasil menghardik diri sendiri, saya katakan dalam hati "Ini belum seberapa Ir, kalau melahirkan lebih sakit lagi! Jangan manja! Malu!" Secara ajaib, saya bisa mengontrol perasaan dan reaksi saya kembali, memang rasa sakitnya tidak berkurang, tapi saya gak jadi nangis! LOL

Sekitar 45 sampai 60 menit saya berbaring di ruangan itu, sementara pasien lain silih berganti naik turun ranjang tempat USG. Saya pasrah saja dilihat oleh mereka, sesekali saya melayangkan doa saat melihat ibu dalam keadaan hamil sedang di-USG. Suatu saat, saya juga akan seperti itu. :)

Sebelum keluar dari ruangan, dokter berpesan agar saya tidak panik jika nanti ada pendarahan mulai dari flek sampai seperti sedang haid. Semuanya wajar setelah hidrotubasi. Dokter juga menuliskan resep untuk saya tebus di apotek. Beruntung, saya tidak mengalami flek sedikitpun. Kekhawatiran berkurang.

Oh ya, belum bahas hasil ya.. Alhamdulillah hasilnya kedua tuba falopi saya paten, artinya tidak ada penyumbatan ataupun penyempitan. Saya bernafas dengan sangat lega mendengar hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dokter.

Biaya Hidrotubasi
Biaya yang saya keluarkan untuk hidrotubasi adalah sekitar Rp.800.000. Saya sebenarnya lupa, apakah biaya di atas sudah termasuk alat dan obat-obatan yang saya beli sebelum dilakukan hidrotubasi hari itu. Yang jelas obat yang saya beli sesuai dengan resep dokter adalah sebesar Rp.165.000 dan itu sudah termasuk dalam biaya yang saya sebutkan di atas. Tapi perkiraan saya memang dibawah Rp.1.000.000, karena sebelumnya dokter memang sudah memberikan gambaran biaya yang harus saya keluarkan, ya sekitar Rp.800.000 itu.

Sebagai tambahan informasi

Efek Samping Hidrotubasi
- Infeksi Urine, bisa diatasi dengan banyak minum air putih selama 24 jam setelah prosedur dilakukan.
- Infeksi pada tempat masuknya kamera.
- Cedera pada pembuluh darah, usus, atau kandung kemih.
- Nyeri di bawah tulang rusuk, sekitar bahu atau leher hingga 72 jam setelah prosedur dilakukan.

Sumber: https://www.alodokter.com/hidrotubasi-salah-satu-solusi-untuk-memiliki-bayi-2

***

Semoga sharing yang saya tuliskan bermanfaat, bukan bikin takut para pejuang promil yang membaca ini, dari yang saya baca, rasanya beragam kok, ada yang merasakan sakit speerti saya, ada yang tidak merasakan sakit sama sekali. Semua layak dilakukan, Alhamdulillah saat ini saya tengah mengandung dengan usia kehamilan 21 Minggu, doakan kami selalu sehat, Insyaallah teman-teman yang sedang menjalani promil juga akan segera dikaruniai anak yang sehat dan lebih kuat dari ayah bundanya.

Baca juga: Kehamilan Trisemester Pertama

Teman-teman lain boleh banget ikutan share pengalaman hidrotubasinya ataupun pengalaman promil lainnya. Atau kalau ada pertanyaan boleh banget dituliskan di kolom komentar.

Semangat promil!! ^^

Read more

13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon bedum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alsan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat dimimun 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya.Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more

24 Jul 2018

Hamil dan Omongan Orang

Peringatan: Isi tulisan ini berupa curhat, unek-unek selama kehamilan yang saat ini menurut Hari Pertama Haid Terakhir atau yang biasa disingkat (HPHT) janin saya sudah berusia 17 minggu.

Jadi, sebenarnya saya ini punya banyak utang tulisan, 1 tema tentang kuliner di grup kolaborasi KEB. dua tema menulis yang berbeda di Be Molulo. Yang tentang kuliner sih sudah ada dua ratusan kata di draf, tapi mentok mau melanjutkannya, padahal ini utang yang paling lama, sejak Ramadan! Eh.. gak ding, masih ada banyak utang tulis-menulis juga di grup Perempuan BPS Menulis! OMG! *Tepok jidat.

Namanya juga sebenarnya, berarti hanya latar belakang masalah.. Sekarang kita masuk ke bab selanjutnya. Kenapa utang menulisnya gak juga dibayar-bayar? It's about mood.. My swing mood! Fiuhh.. Pengennya sekarang nulis curhatan dulu, mengeluarkan uneg-uneg di hati yang rasanya makin ciut karena punya telinga yang lebar selama kehamilan ini. *Ih.. Pengen capslock deeeh!!

Omongan Orang
Semenjak hamil seriiing sekali saya mendengar kalimat atau pernyataan "Ih, gemuk ya!" awalnya saya senyum saja, mungkin masih dalam euforia sangat bahagia dengan hadirnya keturunan yang sudah dinantikan oleh kami dan keluarga kami. Tapi kok ya, lama-lama rasa panas di kuping sampai juga ke hati. Saya baperan? Ah.. trust me, i'm not alone!

Saya bukannya tidak bisa menerima dengan baik maksud orang-orang mengatakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Bahwa saya gemuk bangetlah, saya lebar, besar, dengan berbagai macam ekspresi yang kadang bikin saya (yang merasa hal ini wajar) jadi berpikir "Oh ya, sebesar itukah saya?"

Poinnya itu, kita yang kadang merasa baik-baik saja jadi terusik hanya karena orang-orang yang tidak bisa menahan omongan yang diiringi ekspresi terkejut banget dan ditutup dengan tanda tanya. FYI, saya tidak menyangka berat badan saya bisa naik 4 kilogram di trisemester pertama dengan intensitas muntah yang sporadis. Lagian gak bisa juga kalian cari body pelari saya seperti dulu saat saya sudah berbadan dua seperti ini.

Pada kasus yang berbeda, ketika saya ditanyain gemuk, dan akhirnya yang bertanya tahu bahwa saya sedang hamil, kebanyakan akan memaklumi, tapi ada yang kekeuh dengan teorinya. Contohnya:
Ibu: "Eh, gemuk ya sekarang?"
Saya: "Iya, sambil senyum."
Mertua: "Iya, lagi hamil."
Ibu: "Ohh.. iyaaa.. Tapi kok gemuk gitu? Suka minum air es ya?"
Saya: "Tidak, gak pernah minum air es, kok." Sambil tertawa mengingat saya yang kena dingin sedikit saja bakal mual.
Ibu: "Ohh.. Banyak makan berarti."
Saya: Yaelah buu.. Kenapa gak berhenti sihh.. Ibu tahu gak saya makannya saja dipaksa karna sering mual, demi calon anak saya ini saya paksain. Tapi pikiran panjang dalam hati itu urung saya ungkapkan, saya hanya tertawa kecut dengan jawaban singkat "Tidak".

Si ibu sukses bikin saya yang tidak bisa istirahat siang itu jadi baper. Duuh kita ya.. susah banget memfilter mulut untuk keluarin kalimat yang positif saja. Apalagi ke sesama perempuan yang tahu bagaimana rasanya tubuh dan perasaan berhasil dikuasai oleh hormon. Mood kita sukses di-obok-obok oleh mahluk tak terlihat itu!

Sesekali saya curhat juga ke teman, adem banget kalau mereka bilang " Ih, namanya juga lagi hamil." atau "Biasa itu, kan lagi hamil." Kata-kata pemakluman seperti ini apa sih susahnya diucapkan? Kalau akhirnya memang mengkhawatirkan nanti bisa diberi saran atau nasehat pelan-pelan. Punya pengalaman tidak berarti anda berhak nge-judge orang lain. Ye kaaan?

Baca juga: Semua Ibu adalah Pejuang

Dua hal yang membuat saya belajar dalam hal ini:
1. Gak perlu semua hal dikomentari, kalaupun ingin berkomentar berikan kalimat positif saja. Apalagi ke seorang Ibu yang sedang hamil. Kalaupun sampai keceplosan segera tutup dengan impresi yang baik.
2. Ternyata mulut orang tuh emang gak bisa berhenti. Kirain hamil diluar pernikahan saja yang bakal diomongin orang lain, ternyata hamil yang sah dalam pernikahan seperti ini diomongin juga. Fiuuuh..

Udahan ah.. lumayan lepas juga nih setelah ditulis seperti ini. Ada yang punya pengalaman gak enak juga sama komentar orang-orang?

Read more

21 Jul 2018

Kelas Penulisan Media Sosial PBM: Media Sosial dan Peranannya

Akhir bulan Juni, jika tidak salah tanggal 25 2018, Grup Whats App Perempuan BPS Menulis (PBM) mengumumkan bahwa pilihan kelas segera dibuka. Kelas yang ditunggu oleh kami para pembelajar tak kenal jarak. Ya, kami berasal dari seluruh pelosok negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kelas pembelajaran dibagi menjadi dua;
1. Kelas Penulisan Media Sosial dan Kelas
2. Penulisan Opini/Jurnal/Karya Tulis Ilmiah.

Para anggota PMB dibebaskan memilih sesuai minatnya masing-masing, dengan catatan, akan ada banyak narasumber, tema dan tugas yang menanti disetiap bahasannya. Tugasnya bukan dari narasumber sih, tapi dari PBM. Tujuannya agar kami langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami dapatkan.


Sesuai minat, saya memilih kelas pertama, kelas penulisan media sosial. Bukannya tidak tertarik pada kelas kedua, saya punya kebutuhan ilmu juga pada materi penulisan opini (maklum, saya statusnya sekarang pemburu angka kredit. Ha-ha), tapi untuk saat ini, masih berat untuk tema itu, wong nulis di blog dan sosial media saja sekarang butuh mood bangett. Fiuuuh..

Singkat cerita, materi kelas yang pertamapun dimulai 14 Juli kemarin. Temanya "Media Sosial dan Peranannya". Diisi oleh narasumber yang tidak asing bagi para emak-emak bloger. Ketebak gak? Iyes, Makpuh Indah Julianti! ❤

Kelas dibuka oleh moderator dengan membagikan garis besar pembahasan, dilanjutkan dengan profil Makpuh Indah yang bikin wow.. Kecebeud!

Tapi profilnya tidak saya bagikan disini ya, waktunya kita fokus ke materi yang akan saya bahas sedikit di sini.

Kenapa Harus Melek Media Sosial?
Media sosial sekarang ini adalah sarana yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia, ada beberapa tujuan yang paling mendasar:
1. Personal Branding
2. Networking
3. Promosi

Ketiganya adalah hal paling mendasar yang sering kali dijadikan alasan untuk melek media sosial. Dan tentu saja, yang ketiga adalah yang paling "gres" terutama berhubungan dengan alasan nomor satu. Jadi, sudah optimalkah media sosial yang teman-teman gunakan saat ini?

Pengaruh Media Sosial di Masyarakat
Media sosial, saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam keseharian kita, beberapa pengaruhnya antara lain:
1. Media penyampaian informasi
2. Berjejaring Sosial
3. Diskusi
4. Komunitas

Sedikit kutipan dari pembahasan mengenai pengaruh media sosial adalah Media sosial dari Makpuh Indah Julianti adalah
"Media sosial menyatukan kita, dari berbagai lokasi, tempat, atau pun penjuru dunia. Memberikan kita akses untuk melihat hal-hal terkini. Tapi, media sosial juga bisa menjadi bumerang buat kita, menjadikan kita buruk, jika dipergunakan salah."

Gimana? Setuju kan? 😉


Lanjut yess..

Media Sosial Bagi Lembaga Negara/Sosial
Zaman sekarang, informasi resmi sekalipun akan menggunakan media sosial sebagai sarana penyampaiannya, apalagi yang berisi peraturan yang harus disosialisasikan. 

Kita yang hanya menggeser layar untuk mengetahui kabar dari teman-teman di media sosial bahkan bisa dengan "tidak sengaja" mendapat informasi tentang kemiskinan yang menurun, harga BBM, bahkan kebijakan terbaru pemerintah. Efektif banget kan? 

Maka untuk lembaga negara/sosial, media sosial bisa memberikan manfaat seperti;
1. Identitas Lembaga
2. Menyampaikan Informasi
3. Sosialisasi Kebijakan
4. Penghubung dengan Masyarakat

Media Sosial Bagi Kreator Konten/Pengelola
Nah.. Ini yang paling ditunggu-tunggu pembahasannya. Saya sendiri adalah salah satu pengelola di media sosial kantor, tapiii.. Mungkin karena saya tidak merasa ada pembagian tugas yang jelas dan sering merasa takut salah, maka kebanyakan yang saya lakukan adalah menyampaikan ide, atau sebagai editor di media sosial itu. He-he..

Lucu sih.. Tapi tak mengapa, editor berperan penting untuk bantu menyosialisasikan kepada pembacanya tentang kata-kata baku, menghindari kesalahan ketik dan menjaga agar paragraf tulisan tetap tidak membuat mata lelah, indah dibacalah istilahnya. *Muji diri sendiri 😝

Oh ya, bahasan ini juga bisa untuk media sosial sendiri sih, gak harus lembaga. Nih, bocoran tentang apa saja yang harus dimiliki atau dilakukan oleh para pengelola media sosial:
1. Kreatif menyampaikan informasi
2. Interaktif
3. Autentik
4. Update
5. Kontinuitas

Semuanya kunci untuk menjadikan media sosial yang dikelola menjadi lebih optimal. Sudahkah teman-teman memilikinya? Ini jadi pengalaman sangat berkesan juga untuk saya yang jadi introspeksi, selama ini bersosial media untuk apa sih? Personal branding-nya harus lebih kuat lagi nih.. Yuk ah sama-sama belajar! 😊


#kelasmedsospbm
#badanpusatstatistik
#gerakancintadata
#menulisasyikdanbahagia
#perempuanbpsmenulis

Read more

20 Jul 2018

[Puisi] Kamu Bahagiaku

Sayang..
Dalam hujan aku melayangkan pikiran kosongku
Ku isi dengan wajah orang yang kucintai
Kau, pemilik segenap rasa, asa dan mimpiku

Sayang..
Banyak hal yang tidak dapat kuuraikan
Baik dengan kata bersanding senyum
Maupun kata yang sudah berpacu dengan air mata

Sayang..
Kamulah cintaku
Walau sesekali menyebalkanmu muncul mengganggu
Kamulah kebahagiaanku
Seberapa banyak wujud emosipun kuperlihatkan


Sayang..
Wanita cengengmu ini, kembali menulis dalam genangan air mata, sedu, terisak
Menyayangkan berapa banyak cinta yang tak bisa kuurai dalam interaksi kebersamaan kita

Hanya tiga kalimat yang bisa mewakili perasaanku saat ini
Maaf..
Terima kasih..
I Love You..

Tetaplah menjadi imamku
Dunia akhirat.. ❤

Dalam rinai hujan,
Dipelataran kantor saat mengantar SPPD
Kendari, Kamis, 28 Juni 2018 (03:14 PM)
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...