25 Aug 2016

Saat Kau Pergi


Kawan, pernahkah kau bertanya dalam hati?
Saat nanti kau pergi
Adakah yang akan merasa kehilangan?
Menangisimu dalam diamnya?

Pernahkah kau bertanya pada hatimu?
Saat kau pergi
Adakah ruang kosong yang kau tinggalkan di hati seseorang
Mungkin kan terisi tapi tak mudah baginya?

Saat kau pergi
Apakah orang yang kau sayangi
juga menyayangimu?
Tulus hati tanpa kepalsuan?

***
Kejadian meninggalnya sahabat jelang Ramadan kemarin, akhirnya membuat saya mengingat kembali pemikiran-pemikiran selama ini. Tidak mudah menemukan orang yang tulus kepadamu, yang bahkan saat engkau pernah memunggunginya, ia tetap tulus mendoakan kebaikan untukmu.

060616
Read more

22 Aug 2016

Full Day School, Sudah Siapkah Kita?

Membaca tulisan Mak Yuniar Nukti di KEB mengenai full day school, saya kemudian teringat sebelumnya sudah membaca banyak komentar dan tulisan sebagai bentuk reaksi mengenai wacana tersebut. Daripada menjadi reaktif (sedangkan ilmu saya rasanya masih kurang) saya memilih mengamati sekaligus mengambil pelajaran dari banyaknya pikiran-pikiran yang dituangkan teman-teman di media sosial maupun blog.


Karena harus menanggapi tulisan dari Mak Yuniar Nukti saya akhirnya menulis ini sambil mengajak kita bersama-sama untuk merenungkan, apakah kita sudah siap dengan penerapan full day school? Menurut saya, ada banyak hal yang perlu diperhatikan jika ingin menerapkan full day school (FDS) yang sama-sama kita ketahui telah lebih dulu diterapkan di pesantren ini.

1. Tidak semua orang tua bekerja 
"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja”
Petikan kalimat diatas adalah alasan bapak Mendikbud melepas wacana FDS, selain ingin membangun karakter juga ingin menyelaraskan jam kerja orang tua dengan anaknya.

Kita tentunya sama-sama mengetahui bahwa kondisi orang tua murid berbeda, tidak semua orang tua bekerja atau tidak semua orang tua bekerja di luar rumah. Kalaupun bekerja di luar rumah, jam kerja bisa jadi berbeda, jikapun sama, kami yang tinggal di daerah yang belum mengenal macet ini Alhamdulillah bisa sampai 5-30 menit di rumah kami masing-masing. Waktu untuk bertemu dengan anakpun akan lebih banyak. Perbedaan ini patut menjadi perhatian.

2. Kondisi Ekonomi
FDS yang menuntut waktu lebih banyak dari siswa tentu akan menuntut pengeluaran yang lebih banyak dari orang tua siswa. Siswa yang tadinya bisa makan siang di rumah harus makan siang di sekolah dan makan di luar rumah tentu saja menuntut biaya lebih. Uang jajan anak mau tidak mau harus ditambahkan. Bekal tidak selalu bisa diberikan pada anak setiap hari, sedangkan kondisi ekonomi siswa tentu beragam, mulai dari yang orang tuanya mampu, tidak mampu, bahkan siswa yang harus bekerja untuk menyokong ekonomi keluarga.

3. Infrastruktur
Infrastruktur yang kurang memadai sangat mempengaruhi penerapan FDS ini.

Seberapa sering kita mendengar berita tentang anak-anak sekolah yang menantang maut demi sampai ke sekolahnya?

Seberapa sering kita mendengar cerita dari orang tua kita di meja makan tentang betapa susahnya jaman mereka sekolah dulu? Pulang pergi sekolah harus berjalan kaki, pulangnyapun masih harus menggali ubi lagi di kebun untuk dimasak.

Cerita di atas belum usai di daerah kami, Sulawesi Tenggara, mungkin kami tak lagi harus menggali ubi untuk dimakan sepulang sekolah, tapi cerita tentang anak-anak sekolah yang harus berjalan belasan bahkan puluhan kilo meter untuk mencapai sekolah terdekat itu pernah saya saksikan sendiri. Bahkan saya masih menyaksikannya tadi saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten yang berjarak 100 Km dari ibu Kota. Jangan tanyakan jemputan dari orang tua, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan saja sudah syukur mereka tidak sampai putus sekolah.

Tingginya pendakian atau jauhnya jarak tidak jarang menghentikan perjalanan anak sekolah yang kulitnya berwarna khas terpaan matahari itu, teriknya matahari menyita waktu mereka lagi untuk lebih cepat sampai di rumah agar bisa beristirahat dengan lebih layak. Masih akan direnggut lagikah waktu yang mereka inginkan itu? Disamping itu, sudahkah sekolah menyediakan kantin yang layak untuk mendukung penerapan FDS? Mungkin kita harus memulai dari menyediakan sarana dan prasarana yang layak untuk anak bangsa.

Baca juga: Disentil Oleh Seragam Putih Biru

4. Kurikulum
Kurikulum harus menjadi perhatian, demikian juga penerapannya di sekolah. Dirancang dengan mempertimbangkan banyak aspek termasuk kondisi siswa. Jangan  sudah seharian di sekolah (walaupun tidak seluruh waktunya dipakai untuk belajar) sepulang dari sekolah masih juga diberikan tugas dengan deadline yang mepet. Ini curhat saya juga sih.. padahal dulu belum diterapkan FDS. Perasaan jenuh dan lelah pasti kami rasakan.

5. Guru
Mengenai guru ini 2 hal yang menjadi perhatian saya: 

- Komunikasi antara orang tua di sekolah dan di rumah

Sejauh yang saya pahami saat sekolah dulu, seperti inilah kami diajarkan, "guru adalah orang tuamu di sekolah" kewajiban kami jelas sama, menghormati dan patuh kepada mereka.  Membalas jasa? Sama saja dengan orang tua kandung, kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan para guru, orang tua kami di sekolah dulu.

Lalu apa jadinya jika komunikasi antara orang tua di rumah dan orang tua di sekolah tidak terjalin dengan baik, semua pasti langsung terbayang kasus pemukulan yang dilakukan orang tua murid terhadap guru di sekolah beberapa waktu yang lalu. Itu adalah contoh nyata mengapa kita perlu dan wajib membangun komunikasi yang baik antara orang tua di rumah dan di sekolah, dengan komunikasi yang baik, kepercayaan akan tumbuh kuat. Terbayang kan bagaimana harus menitipkan anak kita menjalani FDS jika kita tidak percaya kepada orang tuanya di sekolah?

- Kesiapan Guru
Tidak ada yang meragukan kemampuan guru dalam mengajar siswanya, tapi dalam hal ini guru juga punya kehidupan pribadi yang patut dipertimbangkan. Berbeda dengan guru-guru di pesantren yang sejak awal sudah mengetahui jam kerja dan tanggung jawab apa yang harus dipegangnya. IMHO, guru-guru di sekolah luar pesantren akan "kaget" dengan perubahan jam mengajar ini. Ada candaan yang saya baca, tentang guru yang masih single dan butuh mencari jodoh juga untuk masa depannya. Ini lucu, bukan urusan negara, tapi saya menganggap ini sebuah perumpamaan untuk memberi ruang bersosialisasi untuk guru. Itu guru yang single, bagaimana dengan guru yang sudah punya anak? Ahh.. kita jadi punya budaya titip menitip anak sepertinya..

***

Sekali lagi jam sekolah yang diubah butuh banyak penyesuaian.. Sudahkah kita siap? Kita sebagai pemberi kebijakan, orang yang menjalankan kebijakan, orang tua anak yang harus menjalani FDS, anak yang harus menjalani FDS, atau single seperti saya yang menanti pak guru single itu menemukan saya? Serius amat dari tadi... LOL.

Teman-teman bagaimana pandangannya tentang FDS ini?

Read more

1 Aug 2016

Pesona Bunga Ayu Ting Ting

Tahun ini, Ayu Ting ting kembali menjadi primadona ibu-ibu, bukan hanya di telinga ibu-ibu pecinta dangdut, tapi juga dikalangan ibu-ibu pecinta tanaman hias. Pasalnya ada tanaman yang diberi nama Bunga Ayu Ting ting. Termasuk jenis bunga barukah? Atau sekedar penamaannya saja yang baru? Yuk.. simak dulu...


Nama bunga Ayu Ting ting sudah terdengar di telinga saya sejak awal tahun 2016, "Ah.. ada-ada saja namanya." begitu reaksi saya waktu diberi tahu oleh teman. Katanya sedang digemari banyak orang, saya tersenyum saja mendengar teman bercerita dengan semangat.

Waktu berjalan, saya tidak pernah lagi mendengar cerita tentang bunga itu, sampai suatu hari (bulan Mei) saya melakukan pengawasan bersama tim ke salah 1 kabupaten di Sultra, hampir disetiap rumah ada Bunga Ayu Ting ting! Wah.. Daerah ini sudah terkena demam Ayu Ting ting rupanya! Bisa saya pastikan hampir ada di setiap rumah karena saya memang berjalan masuk hampir ke setiap rumah, sekalipun tidak masuk, tanaman tersebut akan menyapa manis di halaman rumah dengan berbagai warna.

Dan selepas lebaran, mulailah berjajar para pedagang bunga Ayu Ting-ting di sekitaran Jl. Buburanda, jalan yang seringkali saya lewati saat pulang kantor. Ada 3 sampai 4 pedagang di dekat RSUD Abunawas yang setia menunggu pembeli. Wait.. yang singgah juga banyak!

Bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak pun tertarik dengan Bunga bernama biduan dangdut ini :D

Oke.. Ayu Ting ting memang sedang nge-hits eh.. bunga Ayu Ting ting! LOL

Salah 1 yang juga membuat saya yakin bunga ini sedang nge-hits adalah Mama. Mama sebagai pecinta tanaman hias cuek saja waktu saya melempar cerita tentang bunga Ayu Ting ting, anggapan akan cueknya Mama patah ketika suatu hari saya melihat sudah ada 7 kantong polybag berisi bunga Ayu Ting ting berjajar rapi di depan rumah. Oke.. Mama tergoda, sebentar lagi bunga itu akan dibelikan pot baru. LOL

Intronya panjang ya? Itu termasuk perkenalan mengenai "karier" bunga Ayu Ting ting lho, dan itupun saya sinyalir hanya nge-hits di kawasan Sulawesi saja. Sebagai bukti, saya menemukan sebuah artikel yang juga membahas mengenai bunga Ayu Ting ting di daerah Sulsel.

Lalu apakah bunga Ayu Ting ting ini hanya ada di pulau Sulawesi saja? Sepertinya tidak, karena jika melihat dari jenisnya, bunga ini sangat mirip dengan tanaman Tapak Dara, tanaman yang tak hanya cantik bunganya saja, tapi juga memiliki potensi sebagai sumber obat untuk penyakit Leukimia.

Kalau bunga-bunganya sudah bermekaran seperti ini, rumah yang "hidup" karena adanya tanaman akan menjadi lebih cantik lagi!^^

Tanaman yang mempunyai nama latin Catharanthus roseus ini pasti sudah banyak yang mengenalinya. Walaupun mungkin masih asing dengan namanya, tapi kemungkinan pernah melihatnya di suatu tempat, karena kebanyakan memang tumbuh liar, tanpa perlu dirawat.

Jangan tanyakan siapa yang mengorbitkan artis Bunga Ayu Ting ting ini, namanya begitu cepat menyebar tanpa pernah ketahuan siapa yang menyebarkannya. Mungkin penamaan ini juga yang membuat orang penasaran, seperti apa sih bunganya? Walaupun penampilannya sederhana, tapi akhirnya banyak juga yang terpesona dan memilih bunga ini sebagai salah 1 penghias teras rumahnya.

Jika diibaratkan barang daur ulang, bunga Ayu Ting ting ini menjadi menarik setelah mengalami daur ulang, daur ulang nama. LOL


Bagaimanapun "taktik pasar" ini cukup berhasil. Di Kendari, tanaman ini dijual dengan harga Rp. 20.000 - Rp. 25.000 untuk ukuran polybag besar, dan Rp.10.000 - Rp.15.000 untuk ukuran polybag kecil.

Bagaimana, tertarik untuk memelihara Bunga Ayu Ting ting?

Note: Segera Blogwalking (BW) balik ke blog teman-teman jika kerjaan sudah gak padat, Insya Allah. ^^
Read more

28 Jul 2016

Keranda Imajiner

Saat tawa menyapa
Bahagia membumi
Tak sedikitpun tersungging senyum di bibirmu
Tak ada alasan bahkan untuk tersenyum katamu

Lalu sedih datang bertemankan perih
Menghujani setiap hati orang yang peka
Kau tak jua mengernyitkan dahi
Tak ada alasan untuk bersedih katamu

Duniamu tak terjangkau
Kau tak membumi
Tidak pula melangit
Kau menggantung tak ingin menyatu

Kucoba mengulurkan tangan
Bahkan hati untuk menolongmu
Tapi kau tak bergeming
Kau cinta dan merasa pantas berada di situ

Di keranda imajiner yang kau cipta
Yang kau bangun diatas angin
Tak terjangkau makhluk bumi
Menunggu sapaan makhluk langit

Kau sebenarnya hanya butuh lompat
Untuk memulai hubunganmu dengan makhluk bumi
Kau sebenarnya hanya perlu mencari landasan berupa jurang
Agar tak lelah menunggu makhluk langit

Tapi kau takut
Terlalu takut bahkan untuk sekedar berbahagia
Padahal kau menahanku
Meminta waktuku

Kaupun melepaskan semuanya
Termasuk tanganku yang mengulur padamu
Aku tak terluka, semua sudah ku ukur
Tapi tidak dengan makhluk bumi yang menyaksikan kita

Kau duduk tergugu di keranda imajiner
Menunggu Mikail menjemputmu sambil bersajak
Kau lupa melihat ke bawah
Banyak hal yang kau sebabkan dibawah keranda imajinermu


April 2016 

Read more

27 Jul 2016

Eye Liner Stylo - The One | Eye Liner yang Cocok untuk Pemula

Hai.. di Rabu review kali ini saya ingin memberikan review tentang kosmetik.

Well, saya sebenarnya tidak ahli dengan kosmetik, tapi seperti biasa, untuk hal-hal yang kece saya selalu semangat membahasnya! ^^


Kosmetik yang ingin saya bahas adalah eye liner. Sebenarnya kalau diingat-ingat lagi rasanya lucu, saya awalnya selalu menolak kalau ditawari eye liner, alasannya simpel, saya gak bisa pakenya! LOL

Dan akhirnya tahun lalu saya mencoba eye liner stylo dari The One, produk dari Oriflame. Bentuknya yang menyerupai pena meyakinkan saya untuk mencoba. Mungkin akan lebih mudah diaplikasikan, tebak saya.
Bentuknya mini, kualitasnya oke! 

Dan benar saja, dengan sifatnya yang cair dan bermata tajam, pengguna pemula seperti saya awalnya masih apply and error dan butuh waktu lama untuk selesai bisa menggunakannya dengan lebih baik dalam waktu yang singkat. :D

Matanya yang tajam memudahkan pengguna
menyesuaikan ketebalan yang diinginkan.

Dengan kata lain, walaupun Anda pemula, baru ingin mencoba/belajar menggunakan eye liner, produk ini layak dipertimbangkan. Apalagi kalau sudah sangat terbiasa menggunakan eye liner, akan sangat mudah menggunakannya.


Yang juga saya sukai dari produk ini adalah, sekalipun tidak berlabel water resist tapi tidak serta merta menjadikan mata penggunanya seperti mata panda saat berwudhu atau sedang berkeringat, eye linernya tahan kecuali digosok.

Hanya menggunakan eye liner

Eye Liner Stylo - The One
Harga Normal: Rp. 139.000
Repurchase : Yess, I did
Read more

25 Jul 2016

4 Cara Memindahkan Kontak Dari HP Non-Android ke HP Android

Ganti HP bukanlah perkara yang mudah, selain butuh uang untuk membeli HP yang baru kita juga seringkali dipusingkan oleh permasalahan pemindahan kontak dari HP lama ke HP baru, dan HP dijaman kekinian ini sudah sangat berkiblat pada OS yang berbasis Android maupun IoS
Selanjutnya saya bahas Android karena menggunakan smartphone dengan OS Android ya..

Sejak tahun 2012, saya sudah familiar dengan Android, adanya Galaxy Note 1 sangat membantu saya dalam melaksanakan aktivitas terutama kegiatan me time bersama deretan drama dan variety show Korea :D.


Tapi, saya tidak ambil pusing dengan yang namanya pindah kontak, karena di Note 1 itu memang hanya digunakan untuk nonton dan internetan saja, sedangkan untuk berkomunikasi, saya menggunakan HP Blackberry (BB). Dan saat memberi reward pada diri sendiri Oktober tahun lalu, saya memutuskan membeli HP lain untuk berjaga karena BB memang sering kali mengalami koma tanpa opname.

Nah, saat si BB sudah semakin sering koma, saya memutuskan untuk segera menyalin kontak, dan kegiatan ini tidak gampang. Siapa suruh kontak gak ditaruh di sim card. Fiuhhh.. 

Akhirnya saya memutar otak, bagaimana caranya agar proses pemindahan tersebut tidak terlalu menguras tenaga. Ini sih cara ala saya ya.. kalau ada yang lebih cepat lagi mungkin bisa sekalian di share untuk teman-teman yang membutuhkan.

1. Dari BB ke Android
Sambungkan kedua HP pada internet (melalui paket data atau wifi), kemudian kirim melalui aplikasi chatting seperti BBM atau WA, setelah diterima di Android, kontak yang diterima tadi bisa disimpan, kali ini pastikan anda menyimpannya pada google drive. Cara ini memang lumayan melelahkan, tapi setidaknya kita tidak perlu mengetikkan lagi satu persatu nomor HP yang ingin disimpan.

2. Nokia ke Android
Dalam hal ini saya menggunakan HP Nokia tipe N-73, yang sedihnya justru jauh lebih mudah memindahkan kontak dibanding dari BB ke Android. Cukup dengan menggunakan media bluetooth, sekali kirim, terima, 1 kontak langsung tersimpan. Lega banget rasanya, cepat dan praktis.

3. Meminta pertolongan teman/keluarga
Minta tolong? Trus minta tolong apa? Minta mereka untuk mengirimkan SMS ke nomor yang dipergunakan pada HP baru Anda. Ga usah panjang-panjang, isinya hanya perlu nama saja. Saat sudah diterima Anda bisa langsung menyimpannya. :)

4. Saat tak ada pilihan lain
Saat tidak punya pilihan lagi mau tidak mau Anda harus melakukan olahraga jari dengan mengetikkan satu persatu kontak ke HP baru anda. Melelahkan, tapi kita tentu tidak ingin kehilangan kontak dari keluarga, sahabat, rekan kerja maupun teman-teman.

Nah.. itu dia opsi-opsi yang biasanya saya pakai untuk memindahkan kontak dari HP Non-Android ke HP Android, walaupun cara ke-3 dan ke-4 juga bisa digunakan dari HP manapun. :)

Teman-teman punya cara lain? Share yuk di kolom komentar ;)

Read more

20 Jul 2016

Sup Ubi Waode Aho, Sup Ubi yang Melegenda di Raha

Hai.. ketemu lagi di Rabu Review.. Kali ini saya review tentang makanan ya! ^^

Dari Judul sudah ketahuan ya, saya akan me-review tentang Sup Ubi, sebelumnya saya pernah menulis juga tentang Sup Ubi favorit saya di Kota Kendari, kali ini Sup Ubinya di Raha, Kabupaten Muna. Sedikit penegasan, kami di Sulawesi menyebut singkong sebagai ubi dan ketela rambat sebagai ubi jalar, biar gak ada yang bingung lagi seperti di blogpost sebelumnya yaaa ^^

Baca juga: Sup Ubi Podo Teko


Pernah 7 tahun lebih bertugas di Kota Raha, saya tentu punya tempat makan favorit. Salah satunya adalah Sup Ubi Waode Aho. Warung makan sup ubi yang sederhana ini sebenarnya tidak mempunyai nama, jadi oleh pengunjung diberi nama sesuai nama pemiliknya (sekarang sudah almarhumah). Sekarang usaha ini dilanjutkan oleh suaminya.

Sepi menjelang Maghrib

Sup Ubi Waode Aho adalah salah satu makanan yang sering kali kami (bersama teman kantor) datangi, apalagi saat musim hujan, rasa nikmatnya bertambah karena menjadi penghangat saat cuaca dingin. Pun jika kami tidak sedang ingin menyantap sup ubi, warung makan ini tetap jadi rujukan saat ingin ngemil. Rasa ubi (singkong) gorengnya kawin banget sama sambalnya. Ubinya empuk, sambalnya endess.. enak banget! Oh ya.. sambal untuk ubi gorengnya beda dengan sambal untuk sup ubinya lho!

Seperti umumnya warung makan, meja makannya tentu telah dibekali dengan berbagai jenis bumbu, bedanya (dengan sup ubi Podo Teko) tidak ada lontong ataupun buras di warung makan ini. Tapi pembeli diperbolehkan menambah ubi goreng. Sama saja kan sumber karbohidrat juga? Saya sendiri lebih suka dengan konsep penambahan ubi goreng ini. ^^

Seporsi sup ubi dan ubi goreng lengkap dengan sambal endessnya! ^^

Walaupun produk utama warung makan ini adalah sup ubi, namun pembeli dibolehkan hanya membeli ubi gorengnya saja, penjualnya memang sudah stok banyak ubi, bahkan kadang ubinya baru saja selesai digoreng. Kebayang enaknya ubi goreng hangat dicocol ke sambal. Hmmm... Sayang banget jauh dari Kendari. Makanya waktu libur akhir tahun lalu saya sengaja singgah di kabupaten ini, bernostalgia di tempat wisata maupun kulinernya.

Sup ubinya dijual dengan harga Rp. 13.000/porsi dan ubi gorengnya dijual seharga Rp.5.000/4 potong. Murah meriah dengan rasa yang memuaskan! *Ngeces*

Kalau sempat mengunjungi Kabupaten Muna, cobalah sup ubi yang melegenda di Kota Raha ini, dijamin enak!

Sup Ubi Waode Aho
Jalan Gatot Subroto (Gatsu)
Kelurahan Laiworu
Kecamatan Batalaiworu
Kabupaten Muna
Sulawesi Tenggara
Buka: Setiap hari
Pukul 11.00 - Habis
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...