13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon bedum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alsan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat dimimun 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya.Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more

24 Jul 2018

Hamil dan Omongan Orang

Peringatan: Isi tulisan ini berupa curhat, unek-unek selama kehamilan yang saat ini menurut Hari Pertama Haid Terakhir atau yang biasa disingkat (HPHT) janin saya sudah berusia 17 minggu.

Jadi, sebenarnya saya ini punya banyak utang tulisan, 1 tema tentang kuliner di grup kolaborasi KEB. dua tema menulis yang berbeda di Be Molulo. Yang tentang kuliner sih sudah ada dua ratusan kata di draf, tapi mentok mau melanjutkannya, padahal ini utang yang paling lama, sejak Ramadan! Eh.. gak ding, masih ada banyak utang tulis-menulis juga di grup Perempuan BPS Menulis! OMG! *Tepok jidat.

Namanya juga sebenarnya, berarti hanya latar belakang masalah.. Sekarang kita masuk ke bab selanjutnya. Kenapa utang menulisnya gak juga dibayar-bayar? It's about mood.. My swing mood! Fiuhh.. Pengennya sekarang nulis curhatan dulu, mengeluarkan uneg-uneg di hati yang rasanya makin ciut karena punya telinga yang lebar selama kehamilan ini. *Ih.. Pengen capslock deeeh!!

Omongan Orang
Semenjak hamil seriiing sekali saya mendengar kalimat atau pernyataan "Ih, gemuk ya!" awalnya saya senyum saja, mungkin masih dalam euforia sangat bahagia dengan hadirnya keturunan yang sudah dinantikan oleh kami dan keluarga kami. Tapi kok ya, lama-lama rasa panas di kuping sampai juga ke hati. Saya baperan? Ah.. trust me, i'm not alone!

Saya bukannya tidak bisa menerima dengan baik maksud orang-orang mengatakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Bahwa saya gemuk bangetlah, saya lebar, besar, dengan berbagai macam ekspresi yang kadang bikin saya (yang merasa hal ini wajar) jadi berpikir "Oh ya, sebesar itukah saya?"

Poinnya itu, kita yang kadang merasa baik-baik saja jadi terusik hanya karena orang-orang yang tidak bisa menahan omongan yang diiringi ekspresi terkejut banget dan ditutup dengan tanda tanya. FYI, saya tidak menyangka berat badan saya bisa naik 4 kilogram di trisemester pertama dengan intensitas muntah yang sporadis. Lagian gak bisa juga kalian cari body pelari saya seperti dulu saat saya sudah berbadan dua seperti ini.

Pada kasus yang berbeda, ketika saya ditanyain gemuk, dan akhirnya yang bertanya tahu bahwa saya sedang hamil, kebanyakan akan memaklumi, tapi ada yang kekeuh dengan teorinya. Contohnya:
Ibu: "Eh, gemuk ya sekarang?"
Saya: "Iya, sambil senyum."
Mertua: "Iya, lagi hamil."
Ibu: "Ohh.. iyaaa.. Tapi kok gemuk gitu? Suka minum air es ya?"
Saya: "Tidak, gak pernah minum air es, kok." Sambil tertawa mengingat saya yang kena dingin sedikit saja bakal mual.
Ibu: "Ohh.. Banyak makan berarti."
Saya: Yaelah buu.. Kenapa gak berhenti sihh.. Ibu tahu gak saya makannya saja dipaksa karna sering mual, demi calon anak saya ini saya paksain. Tapi pikiran panjang dalam hati itu urung saya ungkapkan, saya hanya tertawa kecut dengan jawaban singkat "Tidak".

Si ibu sukses bikin saya yang tidak bisa istirahat siang itu jadi baper. Duuh kita ya.. susah banget memfilter mulut untuk keluarin kalimat yang positif saja. Apalagi ke sesama perempuan yang tahu bagaimana rasanya tubuh dan perasaan berhasil dikuasai oleh hormon. Mood kita sukses di-obok-obok oleh mahluk tak terlihat itu!

Sesekali saya curhat juga ke teman, adem banget kalau mereka bilang " Ih, namanya juga lagi hamil." atau "Biasa itu, kan lagi hamil." Kata-kata pemakluman seperti ini apa sih susahnya diucapkan? Kalau akhirnya memang mengkhawatirkan nanti bisa diberi saran atau nasehat pelan-pelan. Punya pengalaman tidak berarti anda berhak nge-judge orang lain. Ye kaaan?

Baca juga: Semua Ibu adalah Pejuang

Dua hal yang membuat saya belajar dalam hal ini:
1. Gak perlu semua hal dikomentari, kalaupun ingin berkomentar berikan kalimat positif saja. Apalagi ke seorang Ibu yang sedang hamil. Kalaupun sampai keceplosan segera tutup dengan impresi yang baik.
2. Ternyata mulut orang tuh emang gak bisa berhenti. Kirain hamil diluar pernikahan saja yang bakal diomongin orang lain, ternyata hamil yang sah dalam pernikahan seperti ini diomongin juga. Fiuuuh..

Udahan ah.. lumayan lepas juga nih setelah ditulis seperti ini. Ada yang punya pengalaman gak enak juga sama komentar orang-orang?

Read more

21 Jul 2018

Kelas Penulisan Media Sosial PBM: Media Sosial dan Peranannya

Akhir bulan Juni, jika tidak salah tanggal 25 2018, Grup Whats App Perempuan BPS Menulis (PBM) mengumumkan bahwa pilihan kelas segera dibuka. Kelas yang ditunggu oleh kami para pembelajar tak kenal jarak. Ya, kami berasal dari seluruh pelosok negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kelas pembelajaran dibagi menjadi dua;
1. Kelas Penulisan Media Sosial dan Kelas
2. Penulisan Opini/Jurnal/Karya Tulis Ilmiah.

Para anggota PMB dibebaskan memilih sesuai minatnya masing-masing, dengan catatan, akan ada banyak narasumber, tema dan tugas yang menanti disetiap bahasannya. Tugasnya bukan dari narasumber sih, tapi dari PBM. Tujuannya agar kami langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami dapatkan.


Sesuai minat, saya memilih kelas pertama, kelas penulisan media sosial. Bukannya tidak tertarik pada kelas kedua, saya punya kebutuhan ilmu juga pada materi penulisan opini (maklum, saya statusnya sekarang pemburu angka kredit. Ha-ha), tapi untuk saat ini, masih berat untuk tema itu, wong nulis di blog dan sosial media saja sekarang butuh mood bangett. Fiuuuh..

Singkat cerita, materi kelas yang pertamapun dimulai 14 Juli kemarin. Temanya "Media Sosial dan Peranannya". Diisi oleh narasumber yang tidak asing bagi para emak-emak bloger. Ketebak gak? Iyes, Makpuh Indah Julianti! ❤

Kelas dibuka oleh moderator dengan membagikan garis besar pembahasan, dilanjutkan dengan profil Makpuh Indah yang bikin wow.. Kecebeud!

Tapi profilnya tidak saya bagikan disini ya, waktunya kita fokus ke materi yang akan saya bahas sedikit di sini.

Kenapa Harus Melek Media Sosial?
Media sosial sekarang ini adalah sarana yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia, ada beberapa tujuan yang paling mendasar:
1. Personal Branding
2. Networking
3. Promosi

Ketiganya adalah hal paling mendasar yang sering kali dijadikan alasan untuk melek media sosial. Dan tentu saja, yang ketiga adalah yang paling "gres" terutama berhubungan dengan alasan nomor satu. Jadi, sudah optimalkah media sosial yang teman-teman gunakan saat ini?

Pengaruh Media Sosial di Masyarakat
Media sosial, saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam keseharian kita, beberapa pengaruhnya antara lain:
1. Media penyampaian informasi
2. Berjejaring Sosial
3. Diskusi
4. Komunitas

Sedikit kutipan dari pembahasan mengenai pengaruh media sosial adalah Media sosial dari Makpuh Indah Julianti adalah
"Media sosial menyatukan kita, dari berbagai lokasi, tempat, atau pun penjuru dunia. Memberikan kita akses untuk melihat hal-hal terkini. Tapi, media sosial juga bisa menjadi bumerang buat kita, menjadikan kita buruk, jika dipergunakan salah."

Gimana? Setuju kan? 😉


Lanjut yess..

Media Sosial Bagi Lembaga Negara/Sosial
Zaman sekarang, informasi resmi sekalipun akan menggunakan media sosial sebagai sarana penyampaiannya, apalagi yang berisi peraturan yang harus disosialisasikan. 

Kita yang hanya menggeser layar untuk mengetahui kabar dari teman-teman di media sosial bahkan bisa dengan "tidak sengaja" mendapat informasi tentang kemiskinan yang menurun, harga BBM, bahkan kebijakan terbaru pemerintah. Efektif banget kan? 

Maka untuk lembaga negara/sosial, media sosial bisa memberikan manfaat seperti;
1. Identitas Lembaga
2. Menyampaikan Informasi
3. Sosialisasi Kebijakan
4. Penghubung dengan Masyarakat

Media Sosial Bagi Kreator Konten/Pengelola
Nah.. Ini yang paling ditunggu-tunggu pembahasannya. Saya sendiri adalah salah satu pengelola di media sosial kantor, tapiii.. Mungkin karena saya tidak merasa ada pembagian tugas yang jelas dan sering merasa takut salah, maka kebanyakan yang saya lakukan adalah menyampaikan ide, atau sebagai editor di media sosial itu. He-he..

Lucu sih.. Tapi tak mengapa, editor berperan penting untuk bantu menyosialisasikan kepada pembacanya tentang kata-kata baku, menghindari kesalahan ketik dan menjaga agar paragraf tulisan tetap tidak membuat mata lelah, indah dibacalah istilahnya. *Muji diri sendiri 😝

Oh ya, bahasan ini juga bisa untuk media sosial sendiri sih, gak harus lembaga. Nih, bocoran tentang apa saja yang harus dimiliki atau dilakukan oleh para pengelola media sosial:
1. Kreatif menyampaikan informasi
2. Interaktif
3. Autentik
4. Update
5. Kontinuitas

Semuanya kunci untuk menjadikan media sosial yang dikelola menjadi lebih optimal. Sudahkah teman-teman memilikinya? Ini jadi pengalaman sangat berkesan juga untuk saya yang jadi introspeksi, selama ini bersosial media untuk apa sih? Personal branding-nya harus lebih kuat lagi nih.. Yuk ah sama-sama belajar! 😊


#kelasmedsospbm
#badanpusatstatistik
#gerakancintadata
#menulisasyikdanbahagia
#perempuanbpsmenulis

Read more

20 Jul 2018

[Puisi] Kamu Bahagiaku

Sayang..
Dalam hujan aku melayangkan pikiran kosongku
Ku isi dengan wajah orang yang kucintai
Kau, pemilik segenap rasa, asa dan mimpiku

Sayang..
Banyak hal yang tidak dapat kuuraikan
Baik dengan kata bersanding senyum
Maupun kata yang sudah berpacu dengan air mata

Sayang..
Kamulah cintaku
Walau sesekali menyebalkanmu muncul mengganggu
Kamulah kebahagiaanku
Seberapa banyak wujud emosipun kuperlihatkan


Sayang..
Wanita cengengmu ini, kembali menulis dalam genangan air mata, sedu, terisak
Menyayangkan berapa banyak cinta yang tak bisa kuurai dalam interaksi kebersamaan kita

Hanya tiga kalimat yang bisa mewakili perasaanku saat ini
Maaf..
Terima kasih..
I Love You..

Tetaplah menjadi imamku
Dunia akhirat.. ❤

Dalam rinai hujan,
Dipelataran kantor saat mengantar SPPD
Kendari, Kamis, 28 Juni 2018 (03:14 PM)
Read more

5 Jul 2018

Cerita Lebaran 1439 Hijriah

Hai.. Haii...

Lama banget gak nulis di blog lagi. Saya bahkan mengambil libur menulis jauh lebih panjang daripada libur hari raya + cuti bersama yang diberikan kantor selama 10 hari. Waktu yang kalau dilihat tuh lama, tapi begitu dijalani, kok ya rasanya gak cukup? Hehe.. Manusia, sudah sifat kita seperti itu, selalu saja terasa kurang. :p


Walaupun lama ngetem di draf untuk disempurnakan, saya akan tetap menuliskan cerita lebaran seperti kebiasaan saya beberapa tahun terakhir. Sadar ingatan saya semakin mudah aus, saya berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat memori manis bersama keluarga maupun bersama teman-teman.

Cuss kita flash back.. :)

Hari raya kami rayakan di Kendari, tapi-shalat idulfitri-di dua tempat berbeda. Saya di kawasan Lip*o plaza bersama orang tua dan adik-adik, sedangkan Abang menemani ibu mertua saya yang rumahnya terletak di kecamatan berbeda. Terjadi sedikit perubahan karena tadinya adik ipar rencananya lebaran bersama mertua kemudian mengubah rencananya, jadilah kami ambil jalan tengah saja. Toh, setelah shalat suami saya juga langsung menuju ke rumah bersama ibu mertua. Aman.. :D

Seperti biasa setelah shalat kami kembali menyalakan kompor untuk menyelesaikan masakan yang di-pending demi shalat yang damai. Sempat selingan juga dengan kegiatan tahunan, yaitu bersalam-salaman dan berfoto bersama tetangga sekitar rumah. Setelah semua masakan siap di atas meja, tidak lama kemudian Abang bersama Mama mertua datang. Pas sekali.. Waktunya makan.. Eh, itu makan kedua saya sih, sebelum shalat, saya sudah makan buras dan obat sebelumnya agar perut tidak meronta-ronta saat shalat. :D


Seperti biasa kami kemudian menuju rumah Tante untuk berkumpul sebelum ziarah kubur. Tidak seperti tahun lalu, kali ini rumah tante lebih ramai dengan kedatangan Aa' beserta keluarganya. Apalagi saat Aisyah datang, rumah semakin ramai dengan tingkah menggemaskannya, sudah bisa menunjuk kedua pipinya dan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi saat ditanya "Mana cantiknya Icaaa??". She's adorable! ^^

Selepas dari ziarah kubur kami sempat mengunjungi rumah Om di Lorong Pajak dan di Jalan Teratai, Alhamdulillah ramai, ketemu semua anggota keluarga dari masing-masing rumah. Beranjak Magrib, kami "bubar barisan" dan pulang ke rumah masing-masing.

Hari kedua, Abang berangkat ke kampung kakeknya di Kampobalano, sebuah Desa unik karena milik Kabupaten Buton Utara tetapi berada di daratan Muna.CMIIWW. Besoknya ke Kota Baubau, besoknya pulang dengan badan yang tidak fit. Kecapean.. :(

Sedangkan saya, hari kedua dan ketiga idulfitri juga dalam kondisi kurang sehat, walaupun sudah minum obat dari dokter tapi masih juga merasa mual. Akhirnya saya kebanyakan tinggal di kamar saja, malas berbasa-basi di luar kamar. Bukannya tidak menghargai tamunya Mama dan Bapak yang datang ke rumah, tapi saya merasa lebih baik seperti itu dari pada menyambut dengan wajah kusut menahan enek di ujung leher. Jangankan ketemu langsung, grup WA saja sudah lama saya mute, chat jarang saya perhatikan, pasif. Hehe..


Oh ya, lebaran kali ini Aa dan keluarga (Kakak sepupu saya) datang berlebaran dari Makassar. Biasanya kalau mereka ada bakal dibela-belian banget berwisata bersama. Seperti kemarin, hari ketiga mereka memutuskan ke Pulau Senja plus Pulau Lara. Sesekali cari yang gak begitu ramai seperti Pulau Bokori. Dan saya tetap tidak ikut, selain menjaga kondisi, beberapa tahun lalu saya juga pernah ke sana, jadi gak ngiler-ngiler banget. *Sombong* Haha :p

Baca juga: Menikmati Alam di Pulau Senja

Lebaran kali ini walaupun banyak liburnya tapi saya tidak banyak keluar rumah, selain harus banyak istirahat, duet kurang sehat oleh saya dan Abang, saya juga sedang dalam kehamilan tri semester pertama saat itu. Alhamdulillah.. baru saya publish di blog saat ini, medsospun belum. Ya.. alasannya karena dulu pernah keguguran, saya ingin Insyaallah semuanya stabil dulu.

Baca juga:
Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk, Keguguran atau ...
Kamu Kuat, Nak!

Kehamilan ini juga seperti penyelamat dari pertanyaan-pertanyaan yang bikin sensi karena ditanyakan terus-menerus. Alhamdulillah setahun pernikahan kami dipercaya lagi, saya telat haid. Abang mulai lebih protektif dari sebelumnya. Gak boleh keluar keringat sebutirpun. Lebay tapi saya melting juga. Receh.. Hahah

Oh ya, hari terakhir libur, 20 Juni saya masih sempat bertandang ke rumah para kepala bidang di kantor. Yah, walaupun nebeng, gegara suami sudah masuk kantor dong. Kaget saya, pagi-pagi banget sudah cari pakaian untuk ke kantornya. Hihi..

Gak begitu banyak sih cerita lebaran kali ini, soalnya dijalani dengan damai, minus grasak-grusuk dapur juga, puding yang biasa saya bikin juga saya buat berdua mama beberapa hari setelah lebaran. Biasanya kan hari lebaran sudah mesti siap semua. Mama pengertian banget. :*

Ini cerita lebaran jadi ada suka dukanya gitu, bagaimana lebaran teman-teman? Semoga lebih banyak sukanya, jikapun sempat dihinggapi duka, semoga diberikan hari yang lebih baik lagi.

Selamat Idul Fitri 1439 Hijriah ya... Mohon maafkan jika selama ini ada tingkah dan laku yang kurang berkenan, atau ada ucapan dan diksi saya yang menyakiti. Taqabalallahu minna waminkum (semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian).

Read more

1 Jun 2018

Semua Ibu Adalah Pejuang

Moms, pasti familier dengan yang namanya Moms War ya? Nah, kali ini saya akan membahas tentang perang panas dingin ala ibu-ibu. Saya sih sebenarnya kurang suka dengan isu-isu sensitif, tapi gimana lagi, harus ikut membahas karena harus menanggapi tulisan dari Mak Indri Noor selaku penulis trigger post di web KEB yang berjudul Stop Mom War, Dimulai Dari Diri Sendiri. Hihi.. Jujur banget ya.. Gapapa, kita awali semua dengan keujuran.. *Halahh :D

Jadi gini, saya sendiri selama ini hanya berdiri sebagai pengamat, membaca pendapat kubu ini, membaca pengamat kubu itu, lalu menalarnya dengan pengetahuan saya yang masih pendek.


Apa yang mengerikan dari sebuah Mom War?
Mom war sebenarnya hadir dari sebuah perasaan tidak setuju terhadap metode yang digunakan orang lain, pemahaman dan nilai yang dianut oleh kubu yang satu dengan yang lainnya, mom yang satu dengan yang lainnya. Mungkin juga terdapat unsur "menyinggung" metode lain.

Hal di atas merupakan hal yang wajar sekali menurut saya, di era demokrasi seperti ini kan yee.. semua bebas mengemukakan pendapat. Boleh.. boleh pakai banget! Tapi ada etika dari mengemukakan pendapat termasuk pengetahuan itu sendiri. Jangan karena tidak sependapat lantas merasa paling benar dan merasa bebas berkata kasar, bebas menilai orang lain bodoh, bebas mengeluarkan sumpah serapah. Bahkan kadang melakukan perundungan (bullying) kepada orang (biasanya ibu baru) yang benar-benar bertanya karena tidak mengetahui hal tersebut. C`mon Moms, lihat lagi niatnya, Moms mau berbagi ilmu kan? :)

Hargai pendapat orang lain
Mendapati orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah hal yang sangat tinggi persentasenya, apalagi di dunia maya. Jadi sebelum memasuki dunia maya pastikan lagi 2 hal.
1. Niatkan berbagi ilmu, berkah tujuannya.
2. Sampaikan dengan bijak, tanpa menghakimi, agar berkah dan dapat diterima dengan baik.

Simpel banget gak sih 2 poin di atas itu? Tidak sesimpel penerapannya mungkin ya Moms? Butuh kepala dingin untuk mengemas ilmu yang ingin kita bagikan itu menjadi lebih menarik. Apalagi kalau dijawab nyolot. Be calm. Balik ke tujuan nyari berkahnya saja. Kita hanya bantu menyampaikan, kalau memang yang "di sana" tidak mau menerima ya sudahlah. Doakan saja suatu saat bisa menerima kebenaran.

Semua Ibu Adalah Pejuang
Saya ingin mengingatkan lagi. Apapun metode yang dipakai dalam mengasuh anak, mengurus rumah tangga, atau apapun yang menjadi perdebatan di luar sana. Semua ibu adalah pejuang. Entah perjuangan itu bisa kita lihat di deretan timeline media sosial Ibu lainnya, ataupun tidak. Tanamkan dalam diri kita hal tersebut. Setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing. Semua ibu punya masalahnya masing-masing.

Maka tidaklah perlu ada lagi Mom War yang--kebanyakan--saling menjatuhkan itu! Kita sesama ibu, sesama pejuang, kitalah yang seharusnya saling mengerti, kita mempunyai tujuan yang sama, memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga kita.

Duh, berasa sedang kampanye saya.. Haha.. Intinya kita, para wanita ini tidak seharusnya saling melukai, sudah seharusnya kita bergandeng tangan saling menguatkan, memberi support terbaik yang kita punya. Gak rugi lho punya banyak saudara yang senasib sependeritaan sama berbahagia.

So, stop mom war, berbagilah yang indah-indah, bukan perdebatan tak berakhir karena sama-sama merasa benar. Sudah terlalu banyak hal yang menguras pikiran dari dalam dan luar rumah. Cuss kelonin anak lagi.. hehe..

Salam damai,
Irly
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...