Showing posts with label Kendari. Show all posts
Showing posts with label Kendari. Show all posts

12 Jan 2021

Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi

Sebelum membaca Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi, ini cerita yang saya tulis sebelumnya:


"Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari 2019 jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" untuk melahirkan istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!"

Cerita lengkap sebelumnya di : Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Beberapa Drama Melahirkan Anak Pertama yang Saya Rasakan

Saya titik beratkan pada anak pertama karena walaupun sudah mencoba mencari info dan menanyakan pengalaman dari teman-teman tetap saja ini pengalaman melahirkan pertama kalinya untuk saya. Semoga kedepannya berbeda bahkan kalau bisa minim drama. Aamiin..

So, langsung aja yuk saya ceritain.

Drama Surat Pengantar

Sudah beberapa jam saya merasakan sakit, yakin ini bukan kontraksi palsu dan saya juga tidak bisa tidur karena kesakitan, kamipun segera menuju ke rumah sakit.

Surat pengantar dari BPJS sudah kami persiapkan, untuk jaga-jaga agar tidak disuruh pulang kalau sampai ke rumah sakit dan pembukaan masih dibawah pembukaan 5. Benar saja, saat dicek, baru pembukaan 1. Dengan percaya diri kami menyerahkan surat rujukan. Sayangnya perawat di ruangan bersalin bilang bahwa surat rujukan kami salah, kalau memang akan dipakai untuk bersalin, harusnya ditujukan ke ruangan bersalin, bukan ke pemeriksaan dokter praktek. What the..?*$+"/?/

Berat hati kami kembali ke dalam mobil, sesuai petunjuk, kami diarahkan ke faskes terdekat, puskesmas yg memiliki fasilitas rawat inap.

Drama Puskesmas Rawat Inap

Sesampainya di sana, kami lalu pulang kembali ke rumah, capek manggil-manggil, gak ada satupun orang di puskesmas. Another annoying moment...

Malam itu sayapun mencoba tidur dengan rasa sakit yang datang-datangan, tidak saya sangka saya bisa juga tidur walaupun sering sekali terbangun, mungkin karena kelelahan.

Drama Kontraksi Selama di Rumah

Pagi hari sakitnya masih terasa, berita saya mulai merasa kesakitan sampai juga di telinga tetangga yang kebetulan seorang tenaga kesehatan. Pada jam istirahat beliau berjanji untuk menengok di rumah, saya hanya setuju dilakukan pengukuran tekanan darah saja dan menolak dilakukan periksa dalam alias VT, SAKIT JENDRAL!! *Sorry.. emang ga bisa santuy saya kalau ingat VT itu. Wkwk

Dan sejak pagi juga kami di rumah sepakat untuk menunggu sampai besok, tapiiii... tapi suami sudah sangat tidak tenang. Pagi-pagi suami sudah pergi protes ke faskes TK I, eh, nggak ding, ke rumah dokternya, minta tolong dibenerin, istri udah teriak-teriak di rumah. *Lebay! Haha.. Nggakk.. nggak gitu.. minta tolong baik-baik dong, untung langsung oke aja, gak salah emang suami mindahin faskesku ke tempat praktek dokter itu. Da best!

Oh iya, kesepakatan awalnya menunggu perkembangan (rasa sakit) lagi, tapi suami sudah tidak tenang. Hari itu, 4 Januari setelah salat Jumat, suami yang biasanya ngikut aja saya maunya apa sudah tidak bisa ditawar lagi keinginannya. Harus ke rumah sakit sekarang juga! *Kasih backsound menegangkan.


Singkat cerita melaporlah kami dengan surat rujukan yang baru (walaupun sekarang baru merhatiin, tahunnya masih juga salah.. hihi). Alhamdulillah sudah bisa dicarikan kamar, sambil menunggu saya hanya bisa perbanyak jalan dan berdiri sambil terus melakukan gerakan duduk jongkok dan berdiri. *Tolong ini diperhatikan ya, saya gak malas-malasan! 😝

Sesampainya di kamar, saya diperiksa dalam LAGI! Hasilnya? 13 jam sejak pemeriksaan sebelumnya tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau ditambah saat pertama kali merasakan sakit, total sudah 18 jam saya kesakitan. Daebak!

Baca juga: My Pregnancy My Adventure

Drama Induksi

Induksi ini sejak awal memang saya hindari, sejak awal ingin melahirkan alami saja, tanpa ada campur tangan obat-obatan. Tapi jika sudah menyerahkan diri ke rumah sakit, maka sebisa mungkin saya mengikuti prosedur yang disarankan, apalagi disaat-saat seperti itu keselamatan Ibu dan bayilah yang diutamakan.

Induksi Pertama

Beberapa jam menunggu, keluargapun mulai berdatangan, ba'da maghrib seperti yang dijanjikan sebelumnya saya diberikan induksi melalui jalan lahir. Entah berapa lama kemudian saya sudah mulai merasakan level rasa sakit yang meningkat dan semakin sering. Malam saya lewati dengan mondar-mandir di dalam kamar.

Sekira pukul 11 malam saya diminta ke ruang bersalin untuk dilakukan VT *Sumpah nulis ini kebayang lagi sakitnya 😭* sudah 6 jam, perkiraan kalau misalnya 2 jam nambah 1 bukaan, minimal saya sudah di pembukaan 3 saat ini.

Hasilnya?

Hanya nambah 1 bukaan sodara-sodara, setelah diinduksi selama kurang lebih 8 jam, total kalau hitungan pukul 12 malam sudah kesakitan 29 jam saya masih pembukaan 2.

Saya ditanya, apakah masih mau lanjut induksi ataukah mau caesar. Saya tanya ke suami, suami bilang terserah, dia katanya gak tega lihat saya kesakitan tapi tidak memberi keputusan.

Saya memutar otak, mulai hitung-hitungan, kalau sekarang pembukaan 2 artinya dalam 8 jam saya harus maraton mengejar pembukaan lengkap. Bukankah akan sangat ngos-ngosan? *Pengalaman maraton sebelum nikah bikin kebayang ngos-ngosan lari 21 Km, ya tapi tak sesakit induksi ini emang. Ya emaaaang 🙈

Keputusan saya ambil, saya akhirnya memilih lanjut induksi kedua. Saat itu induksinya lewat botol infus. Saya mulai bisa tertidur semenit-dua menit sampai akhirnya negara api menyerang.

 

Gelang identitas pasien, penasaran deh arti 75nya itu apa yak?😁

Induksi Kedua

Induksi kedua dimasukkan melalui infus, kalau sebelumnya tindakan dilakukan di ruangan tempat rawat inap, induksi kedua dilakukan di dalam ruangan bersalin, di ruangan dingin, hanya saya dan suami. Saya tidak bisa tidur, perlahan rasa sakitnya memang mengalami eskalasi jauh diatas yang pernah saya bayangkan dan memang sulit untuk saya gambarkan dalam tulisan ini. That's why.. saya hanya bisa menceritakan drama-dramanya saja, tapi percayalah, walau suami bebas dari bekas cakaran atau biru karena lebam, tapi beneran sakit sumpah!!

Semakin sakit, saya diminta berpindah ranjang, masih di ruangan yang sama tapi sepertinya ranjangnya memang sudah persiapan lahiran, sudah tidak tersembunyi seperti tempat saya dilakukan tindakan induksi kedua.

Subuh 5 Januari, entah pukul berapa, kalau tidak salah ingat sebelum azan, kalau jam 4 subuh berarti air ketuban saya pecah setelah 33 jam kesakitan, saya yang sedang melakukan kegiatan duduk-berdiri secara berulang sambil menahan rasa sakit di samping ranjang lalu diminta berbaring saja agar tidak kehabisan stok air ketuban.

Ya sudah, setelah itu saya melalui waktu dengan kesakitan, balik badan kiri kanan, makan dan minum apapun yang disodorkan, disambi mendengarkan erangan para ibu-ibu yang silih berganti melahirkan sambil terus beristighfar, mengatur nafas menahan sakit. Subhanallah..

Piye perasaanmu Mak? Kamu dari tadi udah start tapi gak finish-finish..Sampai hafal saya kalau bidannya sudah minta diambilkan pakaian bayi, berarti dalam rentang waktu 10 - 30 menit, akan bertambah lagi angka bayi lahir hidup. Eh..Sempat aja mikirin data..wkwk..

Sampai setelah azan Dzuhur, setelah bolak balik saya dilakukan tes VT terk*t*k itu! Sudahlah sakit, diulang terus, diulang terus. Saya tahu itu prosedur, tapi izinkan saya menumpahkan sedikit perasaan saya karna bagaimanapun merasa berhasil tidak mengutuk secara live bahkan menendang bidan seperti beberapa cerita teman-teman, bagaimanapun itu sebuah pencapaian untuk saya. 🙈

Lanjut.. Wkwk.. Maap kebawa emosi. Beberapa menit setelah azan kurang lebih pukul 12, pembukaan saya sudah lengkap, seperti yang saya hafalkan, bidan juga meminta pakaian bayi. Betapa senang suara Mama terdengar saat berbicara dengan bidan. Begitupun saya, Bismillah.. garis finish sudah terlihat..

Menuju Melahirkan Alami

Sudah pukul 1 saya belum juga lahiran Mak.. Ya Allah.. bersyukur tak ada bisikan goib yang datang untuk melakukan caesar, kurang 6 jam lagi sudah 2x24 jam saya menahan sakit. Segala doa sudah saya panjatkan, keyakinan, optimisme sudah saya pertebal, saya sudah meminta maaf ke suami, orang tua terutama Mama tapi belum juga ada tanda melahirkan lebih cepat. Untuk menganalogikan perjuangan saya, sambil bercanda ke teman yang datang menjenguk bayi saya di rumah waktu itu, saya bilang, saya hanya gak pindah agama aja sumpah (yes, i need to be lebay to describe the pain 🙈).

Dan waw.. 45 menit kemudian bayi itu menangis dengan lantang mengalahkan semua suara bayi yang saya dengarkan kelahirannya!!

Tapi mundur dulu yuuuk.. selama 45 menit itu saya berjuang melahirkan normal diumur kepala 3, anak pertama, dan bayi yang sudah terlampau besar, sudah saya kerahkan segala kekuatan yang saya bisa untuk mendorong bayi 3,7 Kg itu, Mama sampai meminta kakaknya untuk menemani saya karena tidak tega. Dan (mungkin karena sudah terlihat lemas) saya diberikan oksigen, dan setelah selang oksigen terpasang naiklah seorang perawat keatas perut saya untuk membantu proses melahirkan. Dan bretttt (sorry i can't find another sound effect to describe it 😝), lahirlah bayi hulk bersuara lantang itu.

Bukan tanpa alasan ibu dokter Indra menyebutnya begitu, soalnya ketuban saya sudah hijau dan he's big and strong indeed. 😂

Bentuk kepala khas bayi yang lama di tertahan di jalan lahir, kek ada lekukannya gitu pas sejajar alis. Beruntung masih bisa berubah ya, Alhamdulillah sekarang anaknya sudah 2 tahun, kepalanya sudah bulat.🙈

Rombongan pengantar haji (seriusan banyak banget orang, entah karena mereka yang niat datang rame atau karena lama jadinya penjenguk pada numpuk. Masyaallah.. semoga sehat semua walaupun saya tidak melihat langsung ya 🥰) di luar ruangan persalinan pun berseru mengucap Alhamdulillah. Tak lama kemudian terdengarlah suami saya mengazankan anak kami, ditengah azannya ia terisak saking harunya. Begitupun saya yang ikut menangis (masih dengan selang oksigen di hidung) dan sempat menoleh kepada dokter dan perawat yang saling bertukar pandang mendengar keharuan ayah baru di belakang mereka sambil terus menjahit jalan lahir bayi hulk tadi.

Drama Jahitan Pasca Melahirkan

Berbicara tentang jahitan, saat diminta memulihkan kondisi, di ruangan dan ranjang yang sama, saya sempat bertanya pada perawat yang turut menyaksikan proses menjahit tadi secara live. 

🧕: "Berapa jahitan Mba?" Tanya saya

👩‍⚕️: Terlihat bingung, "banyak" jawabnya

🧕: "Oh.." Sambil merasakan wajah saya menghangat. Hancur sudah, batin saya. 🙈

Segala teori agar tidak ada jahitan, jangan angkat pantat, senam ina inu, ambyar semua gaess.. saya sih gak yakin juga digunting apa nggak (iyes, makemak taulah tindakan ini, kecuali mungkin yang masih gadis, jangan shock yess). Yang saya rasakan pasti itu adalah dijahit langsung setelah melahirkan, maksudnya ga ada anastesi, bisa terasa dengan jelas tu jarum yang kek kail pancing wara-wiri di organ kewanitaanmu. Betapa semua pengalaman pertama kali yang ngumpul jadi satu itu begitu amazing terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Masyaallah..

Sakit gak?

Gak, gak ada perih atau apapun, mungkin jatah rasa sakit saya sudah saya pakai habis dalam 42 jam itu. Sayangnya ga habis-habis amat, masih ada derita lain menanti pasca melahirkan... Saya tersiksa.. 😭

Oh ya, yang bikin pengen misuh-misuh adalah, setelah dijahit, barulah dilakukan pemeriksaan dalam lagi, buat ngecek plasentanya sudah dibersihkan dengan baik atau belum. Sebelum lahiran dengar teman cerita gini, dan saya akhirnya mengalami. Komentar saya masih sama, kenapa periksanya setelah dijahittt Markonaaah? 😭 Psstt..Momen ini malah lebih ada rasa sakitnya. 🙈

***

Segitu dulu deh cerita dramanya, dibalik terasa "sulitnya" saya melahirkan alami, saya bersyukur masih diberikan dukungan oleh suami, orang tua dan keluarga lain. Dan saya yakin masih banyak orang yang mengalami hal lebih berat dari saya termasuk yang melahirkan caesar.

Hmm.. cerita ini bikin nostalgia pengalaman lahiran pertama kali gak sih?

Sharing di kolom komentar yuk.. apalagi kalau punya tips agar lahiran lebih mudah atau melahirkan tanpa rasa sakit? Kemarin sih sempat ngintip akunnya bidan Novel, itu loh bidan yang lagi viral, lahiran yang tiup-tiup "aja". Saya bahagia sekaligus iriiiii. Wkwk

Note: Saya gak nakut-nakutin yang baru mau lahiran yes, cuma berbagi pengalaman. Saya berdoa dan percaya proses melahirkan kalian para ibu yang sedang menanti proses itu akan jauh lebih mudah daripada saya. Tetap positif thinking para ibu hebat! ❤️

Read more

13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

5 Jul 2018

Cerita Lebaran 1439 Hijriah

Hai.. Haii...

Lama banget gak nulis di blog lagi. Saya bahkan mengambil libur menulis jauh lebih panjang daripada libur hari raya + cuti bersama yang diberikan kantor selama 10 hari. Waktu yang kalau dilihat tuh lama, tapi begitu dijalani, kok ya rasanya gak cukup? Hehe.. Manusia, sudah sifat kita seperti itu, selalu saja terasa kurang. :p


Walaupun lama ngetem di draf untuk disempurnakan, saya akan tetap menuliskan cerita lebaran seperti kebiasaan saya beberapa tahun terakhir. Sadar ingatan saya semakin mudah aus, saya berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat memori manis bersama keluarga maupun bersama teman-teman.

Cuss kita flash back.. :)

Hari raya kami rayakan di Kendari, tapi-shalat idulfitri-di dua tempat berbeda. Saya di kawasan Lip*o plaza bersama orang tua dan adik-adik, sedangkan Abang menemani ibu mertua saya yang rumahnya terletak di kecamatan berbeda. Terjadi sedikit perubahan karena tadinya adik ipar rencananya lebaran bersama mertua kemudian mengubah rencananya, jadilah kami ambil jalan tengah saja. Toh, setelah shalat suami saya juga langsung menuju ke rumah bersama ibu mertua. Aman.. :D

Seperti biasa setelah shalat kami kembali menyalakan kompor untuk menyelesaikan masakan yang di-pending demi shalat yang damai. Sempat selingan juga dengan kegiatan tahunan, yaitu bersalam-salaman dan berfoto bersama tetangga sekitar rumah. Setelah semua masakan siap di atas meja, tidak lama kemudian Abang bersama Mama mertua datang. Pas sekali.. Waktunya makan.. Eh, itu makan kedua saya sih, sebelum shalat, saya sudah makan buras dan obat sebelumnya agar perut tidak meronta-ronta saat shalat. :D


Seperti biasa kami kemudian menuju rumah Tante untuk berkumpul sebelum ziarah kubur. Tidak seperti tahun lalu, kali ini rumah tante lebih ramai dengan kedatangan Aa' beserta keluarganya. Apalagi saat Aisyah datang, rumah semakin ramai dengan tingkah menggemaskannya, sudah bisa menunjuk kedua pipinya dan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi saat ditanya "Mana cantiknya Icaaa??". She's adorable! ^^

Selepas dari ziarah kubur kami sempat mengunjungi rumah Om di Lorong Pajak dan di Jalan Teratai, Alhamdulillah ramai, ketemu semua anggota keluarga dari masing-masing rumah. Beranjak Magrib, kami "bubar barisan" dan pulang ke rumah masing-masing.

Hari kedua, Abang berangkat ke kampung kakeknya di Kampobalano, sebuah Desa unik karena milik Kabupaten Buton Utara tetapi berada di daratan Muna.CMIIWW. Besoknya ke Kota Baubau, besoknya pulang dengan badan yang tidak fit. Kecapean.. :(

Sedangkan saya, hari kedua dan ketiga idulfitri juga dalam kondisi kurang sehat, walaupun sudah minum obat dari dokter tapi masih juga merasa mual. Akhirnya saya kebanyakan tinggal di kamar saja, malas berbasa-basi di luar kamar. Bukannya tidak menghargai tamunya Mama dan Bapak yang datang ke rumah, tapi saya merasa lebih baik seperti itu dari pada menyambut dengan wajah kusut menahan enek di ujung leher. Jangankan ketemu langsung, grup WA saja sudah lama saya mute, chat jarang saya perhatikan, pasif. Hehe..


Oh ya, lebaran kali ini Aa dan keluarga (Kakak sepupu saya) datang berlebaran dari Makassar. Biasanya kalau mereka ada bakal dibela-belian banget berwisata bersama. Seperti kemarin, hari ketiga mereka memutuskan ke Pulau Senja plus Pulau Lara. Sesekali cari yang gak begitu ramai seperti Pulau Bokori. Dan saya tetap tidak ikut, selain menjaga kondisi, beberapa tahun lalu saya juga pernah ke sana, jadi gak ngiler-ngiler banget. *Sombong* Haha :p

Baca juga: Menikmati Alam di Pulau Senja

Lebaran kali ini walaupun banyak liburnya tapi saya tidak banyak keluar rumah, selain harus banyak istirahat, duet kurang sehat oleh saya dan Abang, saya juga sedang dalam kehamilan tri semester pertama saat itu. Alhamdulillah.. baru saya publish di blog saat ini, medsospun belum. Ya.. alasannya karena dulu pernah keguguran, saya ingin Insyaallah semuanya stabil dulu.

Baca juga:
Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk, Keguguran atau ...
Kamu Kuat, Nak!

Kehamilan ini juga seperti penyelamat dari pertanyaan-pertanyaan yang bikin sensi karena ditanyakan terus-menerus. Alhamdulillah setahun pernikahan kami dipercaya lagi, saya telat haid. Abang mulai lebih protektif dari sebelumnya. Gak boleh keluar keringat sebutirpun. Lebay tapi saya melting juga. Receh.. Hahah

Oh ya, hari terakhir libur, 20 Juni saya masih sempat bertandang ke rumah para kepala bidang di kantor. Yah, walaupun nebeng, gegara suami sudah masuk kantor dong. Kaget saya, pagi-pagi banget sudah cari pakaian untuk ke kantornya. Hihi..

Gak begitu banyak sih cerita lebaran kali ini, soalnya dijalani dengan damai, minus grasak-grusuk dapur juga, puding yang biasa saya bikin juga saya buat berdua mama beberapa hari setelah lebaran. Biasanya kan hari lebaran sudah mesti siap semua. Mama pengertian banget. :*

Ini cerita lebaran jadi ada suka dukanya gitu, bagaimana lebaran teman-teman? Semoga lebih banyak sukanya, jikapun sempat dihinggapi duka, semoga diberikan hari yang lebih baik lagi.

Selamat Idul Fitri 1439 Hijriah ya... Mohon maafkan jika selama ini ada tingkah dan laku yang kurang berkenan, atau ada ucapan dan diksi saya yang menyakiti. Taqabalallahu minna waminkum (semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian).

Read more

14 Feb 2018

Angkringan Mas Blangkon, Siapa Cepat Dia Dapat

Promosi terbaik adalah promosi dari mulut ke mulut.

Sudah sering mendengar kalimat diatas bukan? Promosi ini yang kemudian membuat sebuah tempat makan yang relatif baru di Kendari menjadi "kelabakan" akan hadirnya pengunjung.

Terbukti dengan rencana makan saya yang berujung zonk saat datang sekitar pukul 19.30, belum juga turun dari kendaraan Bapak yang jualan sudah ngasih "kode" bahwa dagangannya sudah habis. *Ah, si bapak, baru kenal udah main kode aja~ *Plaakkk :D


Angkringan Mas Blangkon
Dibuat dengan mengadopsi konsep angkringan yang sederhana, angkringan ini bisa memperoleh julukan "Laris Manis Tanjung Kimpul" haha.. Lama juga gak dengar kalimat itu. Dagangan laris, duit ngumpul, kurang lebih itu artinya, kali aja ada yang belum tahu kan? :D

Tempat makan ini sependek pengetahuan saya --koreksi jika saya salah-- adalah tempat makan dengan konsep angkringan pertama di Kendari. Menyajikan nasi bakar dengan 4 pilihan rasa: Nasi bakar original, nasi bakar tuna, nasi bakar ayam dan nasi bakar teri.

Untuk lauk, tersedia berbagai pilihan lauk yang umumnya sudah ditusuk serupa sate. Terakhir kali saya kunjungi lauknya antara lain: pokea, udang, cumi-cumi, telur puyuh, hati ayam, ampela ayam, nugget, tahu bacem, tempe bacem, ceker, leher/kepala ayam, bakwan, sambal, apa lagi ya.. Lupaaa.. Tapi sambalnya gratis, kok. Hihi..


Menu minumannya jujur kurang saya memperhatikan, sudah terlalu fokus berebut mengambil makanan. Tapi sepertinya minuman hangat gitu, seperti kopi dan teh, es jeruk juga sepertinya ada, asal jangan cari wedang uwuh yess.. Berat.. yang jualan gak bakal sanggup cari bahannya. Eh.. kenapa jadi #terdilan lagi iniii.. LOL

Rasa
Berbicara soal rasa, sebenarnya bumbunya kurang begitu meresap seperti masakan Mama, maklumlah namanya dagangan kan, kalau Mama yang masak sih masakan bakal mandi bawang dan berlimpah rempah.

Tapi jika diselaraskan lagi dengan harganya, makanannya tidak akan mengecewakan lidah penikmat makanan murah kok. Kalau cari makanan murah tapi tetap enak, Angkringan Mas Blangkon jawabannya. Saya suka nasi bakar tunanya, bumbunya lebih terasa dibandingkan varian nasi bakar lainnya.

Untuk porsi nasi bakarnya porsinya imut, saya bangetlah, kenyang dan enak, apalagi sudah ditambah lauk. Kalau laki-laki mungkin butuh 2 atau 3 nasi bakar plus lauk baru bisa kenyang. Sesuai selera aja.. Tapi bagusan mini-mini gitu sih menurut saya, jadi bisa disesuaikan, kalau porsinya langsung gede kan kasihan yang makannya porsi kecil seperti saya :D

Suasana
Dimana-mana selain menawarkan rasa dan harga yang terjangkau, tempat makan juga tentu menawarkan suasana yang nyaman bagi pengunjungnya. Bisa dengan alunan musik, bisa dengan desain yang instagramable, bisa juga dengan kesederhanaan. Inilah yang bisa didapatkan dari angkringan Mas Blangkon. Sederhana tapi ngangenin. *Seperti Abang #Eh.. :p


Bedanya angkringan ini dengan yang sudah sering teman-teman kunjungi mungkin disini gak sepenuhnya "melantai" karena tetap ada bangku juga yang disediakan, tinggal pilih ingin makan di mana. Oh ya, setelah memilih makanan kita bisa memilih untuk langsung disantap atau dibakar agar kembali hangat.

Harga
Nahh.. Mungkin ini yang ditunggu-tunggu.:D

Harga nasi bakarnya adalah Rp.3.000 sampai 5.000 per porsi. Untuk lauk mulai dari seribu rupiah. Ya.. gak jauh-jauh.. itu harga untuk sepotong tahu/tempe bacem/gorengan. Harga minumannya pass lagi ya.. Haha.. Yang jelas harganya relatif terjangkaulah, apalagi mengingat harga makanan di Kendari relatif lebih mahal dibanding daerah Jawa, kecuali ikan yess..

Sampai saat ini saya sudah 2 kali ke Angkringan Mas Blangkon, sekali waktu zonk, kali kedua kami lebih sigap, datang saat kami masih bebas memilih, itupun tempe dan tahu bacemnya sudah mau ludes aja.. Ah.. Mendebarkan taukk berebut makanan gitu. :D

Dan sekarang.. saya masih suka ngiler terbayang-bayang pengen ke sana lagi, sayang harus senggang waktunya kalau mau makan di luar gitu. Jadi sambil nunggu kesempatan ke sana lagi saya menggantungkan doa saja dulu.. Semoga Angkringan Mas Blangkon ini awet, berkembang, tetap menjaga kualitas bahkan lebih baik lagi.

***

Angkringan Mas Blangkon
Alamat: Jl. Abdullah Silondae No. 19 (kalau di Google Map alamatnya Jl. Bunggasi no.1 - entah kenapa beda)
Anduonohu (Pelataran Ruko Remaja Jaya)
Buka setiap hari, pukul 6.00-09.00 (sekarang sih jam 7 lewat dikit sudah gak kebagian).

Note: Untuk saat ini, kalau makanannya mau dibakar lagi baiknya ditengokin, ibunya kebingungan banyak pelanggan.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4
Read more

5 Feb 2018

Pustaka Jalanan, Upaya Meningkatkan Minat Baca di Kota Kendari

Minggu pagi, dengan begitu senangnya saya menuju ke Taman Walikota Kendari. Tempat yang sering disebut Tamkot ini adalah salah satu pusat keramaian di Kota Kendari yang sudah terasa denyutnya sejak subuh, selain pelelangan ikan tentunya.

Saya merindukan Tamkot dengan segala aktivitas sehatnya. Lupakan pedagang yang berjualan di sepanjang jogging track. Makanan--berat hingga ringan--yang berbaris cantik bukan godaan untuk saya.

Baca juga: Taman Kota Kendari

Selepas senam dan Lulo (tarian adat khas Sulawesi Tenggara) bersama di jantung ruang terbuka hijau itu, sayapun berjalan-jalan sekedar melihat ada perubahan apa saja selama kurang lebih 9 bulan vakum memutari Tamkot.

Benar saja, saya menemukan hal baru di sana!

Ada buku yang berbaris di sisi kiri jalan, saya bingung menjelaskannya, sebut saja pot besar karena berbentuk pot raksasa--walau tak memiliki kaki--dan ditengahnya ada tanaman. Sekedipan mata kemudian terlihatlah kertas bertuliskan kalimat "TIDAK UNTUK DIJUAL HANYA UNTUK DIBACA"

"Eh, apa nih??" Saya penasaran.


Pustaka Jalanan

Pustaka jalanan mulai digelar pukul 7 sampai pukul 11 (khusus Tamkot), dibuat secara swadaya oleh Amran Labueya, seorang mahasiswa kelahiran Buton Tengah, berkuliah pada pendidikan Sejarah di Universitas Halu Oleo (UHO). Didorong oleh rasa prihatin terhadap minat baca yang masih rendah. Dengan menggelar pustaka jalanan, Amran berharap pusat keramaian/tempat rekreasi tidak hanya menjadi tempat "hura-hura" tetapi juga bisa menjadi tempat memperoleh ilmu.

Sumber bacaan di pustaka jalanan sendiri kebanyakan bersumber dari koleksi pribadi Amran, baik berupa novel maupun buku-buku referensi kuliah. Ada juga donasi buku dari perorangan tapi tidak banyak. Tidak heran, koleksi buku di Pustaka Jalanan sendiri relatif masih sedikit walau sudah beroperasi selama 9 bulan.

Kedepannya, Amran menginginkan pustaka jalanan hadir lebih menarik dengan hadirnya buku-buku yang juga menarik, setidaknya minat orang-orang yang niatnya hanya sekadar lewat saja dan tentu saja menarik bagi seluruh tingkatan umur. Di lain sisi, Amran merasa buku-buku yang disediakannya belum bisa menyentuh banyak tingkatan umur, ia menyadari, buku bacaan anak masih belum tersedia di pustaka jalanan.

Kendala Pustaka Jalanan

Saat menanyakan mengenai kendala, hebatnya tidak ada keluhan mengenai biaya yang keluar dari pemuda berumur dua puluh lima tahun ini. Padahal sifat Pustaka Jalanan yang berusaha selalu hadir di keramaian (kampus, lapangan MTQ maupun Tamkot) tentu membutuhkan waktu, tenaga dan biaya.


Secara personal, yang mengganggu nuraninya saat mengelola Pustaka Jalanan adalah aktivitas "pengunjung" yang hanya menjadikan buku sebagai properti untuk berfoto; singgah-ambil buku-cekrek-cekrek-simpan buku-pergi. Menurutnya hal tersebut sangat tidak menghargai ilmu pengetahuan.

Sedangkan untuk buku sendiri,(walaupun tidak banyak kejadian) Amran memberikan pinjaman buku dengan modal kepercayaan saja. Sudah terbayang masalahnya? Betul. Masalah global dalam dunia pinjam-meminjam. Dipinjam dan tidak kembali. Miris ya.. Hehe

Donasi Untuk Pustaka Jalanan

Amran tidak meminta saya untuk menulis ini lalu memohon untuk donasi. Sejak awal, hal yang berkali-kali disebutkannya adalah ia menginginkan buku anak. Saya berdecak kagum walau tetap memasang senyum manis bijak. *Ngerti kan? Itu lho.. senyum sambil ngangguk-ngangguk. LOL

Melihat Pustaka Jalanan ini, sejak awal saya sudah berniat donasi, bukan hendak menyebut-nyebut niat baik, tapi niat baik ini saya yakini tidak hanya dimiliki saya seorang. Maka saya mengajak teman-teman yang membaca blogpost ini untuk ikut mendonasikan bukunya, baik yang masih baru maupun bekas.

Amran sebenarnya mengharapkan donasi langsung berupa buku saja, tapi mengingat rekan-rekan saya juga banyak berasal dari luar Sulawesi Tenggara, akan saya akomodir jika teman-teman ingin berdonasi dalam bentuk uang. Insyaallah akan diteruskan sesuai amanah teman-teman. Sejauh ini saya berangan-angan untuk melakukan belanja buku bersama Amran dari hasil donasi uang yang terkumpul. Saya sudah meminta izin dari amran untuk penggalangan donasi ini. Dan untuk transparansi, insyaallah setiap donasi akan saya update di akun Facebook saya.


Untuk donasi buku bisa dikirimkan ke:
Irna Octaviana Latif
Kantor Badan Pusat Statistik Prov. Sultra
Jl. Boulevard no. 1
Kecamatan Kambu
Kelurahan Padaleu
Kota Kendari (93231)
Hp: 085288445005

Untuk donasi berupa uang:
BRI 0217-01-023502-50-5
Atas Nama Irna Octaviana Latif
(Setelahnya mohon konfirmasi via WA ke nomor di atas)

Bukumu numpuk di rumah? Yuk, kumpulin untuk Pustaka Jalanan. Mau menyumbang uang juga boleh, nominal sungguh tak masalah, niat baikmu jangan ditunda!

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#Hari ke-1
Read more

20 Sept 2017

Ketika BNN Menyatakan Kendari Darurat Narkoba

Beberapa hari terakhir ini Kendari heboh dengan berita masuknya para remaja -kemudian diketahui tidak hanya remaja saja- yang masuk ke Rumah Sakit Jiwa karena pengaruh obat-obatan.  Data dari Dinkes Sultra, disebutkan sudah 76 orang yang menjadi korban. dan korban tewas sampai saat ini menjadi 4 orang. (Sumber referensi: detik.com)


Mumbul, begitu umumnya aktivitas nge-fly mereka disebut di masyarakat Kendari (dengan menggunakan obat maupun media apapun). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, mumbul adalah kata kerja yang berarti melompat, melanting atau membumbung; melambung. Saya bahkan mengira bahasa ini bukan bahasa baku, hanya merupakan slang languange saja.

Kembali ke permasalahan psikotropika, masyarakat saat ini boleh dibilang menjadi lebih khawatir dengan pergaulan anak-anak. Terlebih lagi, yang dikabarkan meninggal saat itu adalah seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (ini valid). Yang sampai saat ini saya masih belum mendapat kabar jelas bagaimana anak tersebut bisa ikut mengonsumsi pil yang bernama PCC tersebut. Sungguh, ini menyedihkan.. :(

Tak ada batasan umur yang pantas untuk menggunakan obat-obatan ilegal seperti itu. Bagaimana hati kita tidak miris mendengar kabar seperti ini. Sebenarnya, hal ini mungkin bukan hal yang asing bagi kami yang dewasa. Dari cerita teman-teman, mereka sebenarnya tahu ada aktivitas mumbul yang kerap di lakukan oleh sekumpulan anak, di traffict light misalnya.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri aktivitas anak-anak SMP yang sedang menghirup lem di daerah belakang sekolah, tidak begitu jauh juga dari rumah gurunya. Begitu melihat saya yang kebingungan mencari jalan mereka mulai kabur.

Anak-anak itu mencari apa? Harapannya apa? Motivasinya apa? Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya. Sekaligus menimbulkan pertanyaan yang saya yakini seragam di dalam pikiran saya dan orang dewasa waras lainnya MAU JADI APA MEREKA NANTI? Maaf, saya menggukan rangkaian kata "orang dewasa waras", karena kita tahu bahwa memang ada yang dengan sadar menenggak obat-obatan tersebut bahkan mencari keuntungan secara ekonomi dengan menjualnya.

Duh.. Sumpah.. saya baper menulis ini, kalau tidak mempertimbangkan mata pembaca akan sakit jika capslock saya jebol, rasanya saya ingin membuat tulisan ini menjadi huruf kapital semua. Saya emosiii..


Penetapan status Kejadian Luar biasa (KLB) dan Darurat Narkoba kemarin itu benar-benar memaksa mata kita sebagai anggota masyarakat terbuka. Ada anak orang lain yang juga perlu kita perhatikan. Terserah mau dibilang rese' atau bagaimana, terlebih jika anak tersebut kita ketahui ada dalam lingkaran pertemanan anak kita. Jauhkan, sambil berusaha diperbaiki dengan memberi tahu orang tuanya, jika tak terjangkau mungkin langsung ke pihak yang berwenang. Demi kenyamanan bersama.

Tapi kejadian ini juga tidak boleh menjadikan kita serta-merta menyalahkan orang tua si pemakai. Saya memang belum punya anak, tapi saya mengerti bahwa orang tua tidak bisa 24 jam menjaga anaknya. Maka disinilah pentingnya "menyaring" dan mengawasi pergaulan anak. Sudah dilakukanpun orang tua masih bisa kecolongan, tapi saya yakin, orang tua pasti akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sejak kejadian kemarin, banyak berita yang kemudian membahas masalah obat-obatan jenis ini. Mulai dari update jumlah korban sampai digerebeknya pabrik-pabrik pembuat obat-obatan ilegal ini. Kita semua tentunya berharap, gerakan-gerakan untuk memerangi hadirnya hal-hal tidak bermanfaat seperti pil PCC ini tetap hidup walau tanpa liputan media.

Dan untuk kalian yang dengan sengaja menggunakan obat-obatan jenis apapun dengan sengaja dan bukan untuk tujuan medis, renungkan ini:

Sungguh, apa kalian tahu bagaimana hati-hatinya seorang ibu saat mengandung masing-masing dari kalian? Sakitpun ia rela tidak meminum obat, takut jika terjadi sesuatu kepada kalian SEJAK DI DALAM KANDUNGAN, apatah lagi jika sudah lahir dengan segala doa, pengorbanan dan usaha terbaik orang tua.

Malulah, kasihani orang tuamu. Mengetahui kalian mengonsumsinya saja hati mereka pasti hancur, apatah lagi jika kalian sampai kehilangan nyawa? Sibuklah membayangkan ini, bukan berpikir untuk kembali mengonsumsinya.

***

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari keprihatinan kami bloger Sulawesi Tenggara, sehingga menjadikan tema untuk dibahas dalam Sultra Blogger Talk bulan ini.

Tulisan lain bisa dibaca di:
Blog Kak Ira: Gundah Gulana Terkait narkoba dan Pil PCC yang Beredar di Kendari
Blog Ibu Raya: PCC Pil Halusinasi yang Menggetarkan Kendari

Kita semua prihatin, kita semua berduka. :(

Read more

28 Aug 2017

Pengalaman Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Kendari

Entah kenapa, beberapa tahun yang lalu tiba-tiba saja saya memasukkan membuat paspor sebagai salah satu resolusi saya. Iseng? Ah tidak.. mungkin saya hanya lelah saja, butuh piknik yang lebih jauh.. Hehe.. Memang saat keinginan itu ada saya tidak langsung membuatnya di kantor imigrasi, but when i went there.. masalah dimulai..

Sesuai dengan persyaratan yang diminta, saya membawa KTP, Kartu keluarga dan Akte kelahiran berikut masing-masing foto copy ketiga dokumen tersebut. Bahkan untuk berjaga-jaga ijazah juga saya bawa serta. Saya letakkan Semua dalam 1 map.


Pengurusan paspor ini saya yakini berjalan mulus, apalagi saat duduk dengan bekal map dan tambahan nomor antrian, tidak menunggu lama saya sudah dipanggil untuk pemeriksaan berkas di loket.

Tidak lama setelah dokumen saya diperiksa (lebih tepatnya dicocokkan dengan detail), ditanyakanlah 1 pertanyaan yang membuat saya sempat ngeyel juga. Alamat saya di E-KTP berbeda dengan alamat di kartu keluarga. "Lah.. disuruhnya bikin E-KTP kan dimana saja dan berlaku untuk dimana saja, kenapa sekarang jadi bermasalah?" Pikir saya saat itu. Tapi ternyata emang gak bisa, harus sama, salah 1 caranya adalah dengan membuat keterangan domisili.

Tidak ada sedikitpun kesalahan dari pihak imigrasi sih, sayanya saja yang acuh terhadap pengurusan administrasi kependudukan.. Payah..

Baca Juga: Pentingnya mengurus administrasi kependudukan

Singkat cerita, sayapun akhirnya mendapatkan surat keterangan domisli, GRATIS.. catat ya.. gratis, di Capil, sampai KK saya jadipun saya tidak membayar biaya apapun, kalau masih ada yang dimintai bayaran berarti..wallahu'alam..

Maka, beberapa bulan setelah itu sayapun akhirnya datang lagi ke kantor imigrasi, sumringah membawa KTP, Keterangan domisili, Kartu keluarga dan Akte Kelahiran yang masih lengkap dengan foto copy masing-masing dokumen.

Saat itu kantor imigrasi Kendari cukup ramai, tapi tetap saja saya dilayani dengan cepat, nunggunya cuma sebentar, begitu pun dengan pemeriksaan dokumen, sudah klop semua, saya kemudian diminta mengisi formulir dan surat pernyataan yang diakhir saya tanda tangani diatas materai Rp. 6.000.


Karena gak enak di kantor izin terus, hari itu saya "ngotot" ikut wawancara dan pemotretan antri untuk foto paspor di sore hari. Memang benar saya menunggu cukup lama karena nomor antrian saya memang sudah cukup besar. *Anak kali ah.. besar :D

Untuk wawancara, sesinya ringan kok, gak seperti wawancara saat melamar perkerjaan. Saya malah tidak merasa sedang diwawancarai, berasa diajak ngobrol aja. Jadi sambil melihat data di layar komputer, petugasnya sesekali bertanya, seolah-olah memastikan isian, lalu kemudian bahas tujuan, hotel/penginapan dan lain-lain. Random sih pasti yang ditanyain.. santai ajalah pokoknya. :)

Oh iya, saat hendak berfoto untuk paspor pun para pemohon paspor ini masih ditanyain juga. Yang lucu saya ditanyain:

"Nanti perginya sama siapa?" Saya jawab suami.

Trus dikroscek, status saya belum nikah.

"Ini statusnya belum menikah."

Saya tertawa, kemudian menjelaskan, nikahnya beberapa hari lagi, berangkatnya setelah nikah.
Nah lo..

"Akhirnya sama petugasnya dibilangin, saya tulisnya pergi sama teman saja yaa.."
Hahah.. Membingungkan ya Mas? LOL

Saya iyain aja. Daripada disuruh buat passportnya setelah nikah aja, rempong. LOL

Cekrek..

Pulang.

Eh gak ding, sebelum pulang saya diberikan kode khusus untuk biaya pembuatan paspor ini, sistemnya juga mudah, tinggal ke ATM dan mencari menu pembayarannya, memasukkan kode, verifikasi identitas, udah cocok, bayar deh.. Biaya pembuatan paspor kemarin adalah sebesar Rp.355.000,

Simpel kok, sekitar 3 hari saya diminta datang kembali untuk mengambil passport, dan saya ngambilnya lama juga, masih ditinggal liburan lagi. Haha..

Intinya.. Bikin passport wisata itu mudah (saya pertegas aja tujuan paspornya, belum punya pengalaman untuk memnbuat passport lain soalnya), pegawainya juga pelayanannya bagus, tidak mempersulit pemohon. Benar-benar contoh pelayanan prima. Memang saya kenal dengan salah 1 petugas di loket, tapi saya juga dengar tentang pelayanan primanya dari orang lain yang nota bene tidak dikenalnya. Duh, senang lho waktu tahu yang diceritain, dipuji-puji oleh teman saya itu ternyata orang yang saya kenal. Orang yang memudahkan urusan orang lain kayak gitu Insyaallah rezekinya baik dan akan semakin baik. Aamiin..

Tambahan:
Untuk pembuatan passport keperluan haji atau umroh dengan nama yang pendek alias 1 atau 2 suku kata saja maka persyaratan yang dibutuhkan tidak berbeda dengan pembuatan passport umum, yaitu:  KTP, Kartu keluarga dan Akte kelahiran berikut masing-masing foto copy ketiga dokumen tersebut. Bedanya adalah, jumlah materai yang dibutuhkan adalah 2 lembar (Rp.6.000), dan surat rekomendasi dari Depag dan travel. Ada pengecualian sih untuk surat rekomendasi ini, kalau pemohon adalah lansia atau berprofesi sebagai PNS, maka surat rekomendasi tidak diperlukan lagi.

Tips:
- Sama seperti cerita-cerita pembuatan paspor lainnya, saya menyarankan datang pagi-pagi sekali, karena besar kemungkinan segala urusan pembuatan paspor ini (mulai dari verifikasi dokumen, pengisian formulir, wawancara, berfoto kemudian pembayaran) bisa selesai dalam 1 hari, tinggal tunggu paspornya jadi beberapa hari kemudian.

- Sedia materai saat ke kantor imigrasi juga akan lebih mempermudah.

***
Itu tadi pengalaman saya membuat paspor di kantor imigrasi Kendari. Untuk prosedur, persyaratan dan biaya pembuatan paspor, saya yakin tidak berbeda dengan kantor imigrasi lainnya.

Semoga bermanfaat :)

Tambahan:
Saat berfoto nanti tidak boleh menggunakan kaca mata atau softlens.
Read more

17 Aug 2017

[Puisi] Romansa Jas Hujan

Tanggal 11 Agustus kemarin Kendari diguyur hujan cukup deras, sudah jam pulang kantor kok ya hujannya gak berhenti juga. Daripada nginap di kantor kan mending menerobos hujan saja. Pulang.. Toh ada jas hujan yang dibeliin Abang.

Diperjalanan kok perasaan agak sendu gitu.. Inspirasi datang.. Mulai deh bermunculan kata-kata di kepala. Biasanya sih, kalau lagi terinspirasi saya akan buru-buru mengetik di note handphone, tapi ini kan lagi mengendari motor!! Haha..

Jadilah saya syuting film India ikuti saja inspirasinya mau kemana. Pengen banget rasanya singgah berteduh lalu mengetik kata-kata yang pop up di kepala. Haha.. Tapi kebayang rempongnya, harus buka helm, jas hujan dan ransel dulu. Nggak deh.. pulang aja.. Sambil berdoa semoga inspirasinya gak hilang, maklum saya istri soleha pelupa. :D

Eeh.. Gak nyangka, nulis besoknya malah masih tetap lancar. Wis.. Jadi deh puisi ala-ala ini. 


Langit menangis
Air matanya tumpah
Berderai-derai
Mungkin ia takut pada awan hitam

Di bawah langit
Seorang istri hendak pulang
Menuju rumahnya yang hangat
Walau tak ada suaminya di sana

Ditantangnya langit yang menangis
Kendaraan terbuka tak menghalanginya
Ia punya barang sakti
pemberian dari suaminya

Langit tak jua mau mengalah
Ia bahkan menghembuskan udara dinginnya
Berharap bumi dan segala isinya
Ikut lemah bersama tangisnya

Sang istri masih melaju
Bukan tak dirasakannya dinginnya udara
Ia tahu dingin itu hanya sebentar
Entah kenapa ia tetap merasa hangat

Dibawah hujan
Dipanggilnya lagi kenangan yang menghangatkan
Senyum dan kebahagiaan bersama suaminya
Hangat, seperti tengah menyeruput kopi di tengah hujan

Barang sakti itu rahasianya
Ia percaya ia akan terlindungi
Buktinya ia tetap melaju dibawah rinai
Buktinya ia tetap bisa merasakan hangat

Memang sedikit basah
Memang sedikit dingin
Tapi barang itu benar magis
Padahal hanya jas hujan saja

Dalam balutan jas hujan
Ia merasakan romansa yang kuat
Ada kehangatan cinta dari suaminya
Ada doa kebaikan walau ia tak ada mendekap

Kendari, 120817, 09.50 Am
Setelah hujan-hujanan pulang kantor kemarin.

PS: Abang kalau baca.. Adek masih bisa kok tulis romansa city car keluaran terbaru. Bhahaha..

#KamisPuitis
Read more

14 Aug 2017

Serunya Jalan Sehat Bersama BUMN

Hari Minggu kemarin pacaran saya dan Abang dikelilingi banyak orang. Haha.. Nggak ding, Kami memang pacarannya di event jalan sehat yang digelar oleh seluruh BUMN, kebetulan kali ini kantor Abang sebagai PIC acara besar ini.
Sejak jauh hari kami yang tergabung dalam IIKP (Ikatan Istri Karyawan Pegadaian) sudah diwanti-wanti untuk turut serta dalam kegiatan tersebut, termasuk mendampingi ibu-ibu dari direksi yang juga akan hadir.

Manut, toh kegiatannya di hari libur dan kondisi juga sudah lebih sehat. Sekalian ketemu para ibu-ibu yang selama ini hanya saling berkomunikasi via WA saja, belum saya kenal secara langsung. *Duh, pergaulan.. LOL

Buibu Awet Masih Muda :*

Oh ya, Mama, Bapak, Mama mertua dan sepasang keluarga dekat kami juga ikut di acara ini. Maklum, ada Fildan Rahayu, artis dangdut kebanggaan Sulawesi Tenggara. Kehadirannya salah satu yang membuat kegiatan ini diprediksi akan "wah" selain banyaknya hadiah yang dibagikan. Benar-benar banyak. Saya aja mupeng. Hihi..

Dengan tagline "BUMN Hadir Untuk Negeri" acara diawali dengan pengarahan rute dan wanti-wanti tempat memasukkan kupon undian saat jalan sehat. Sambutan, senam dan pengundian hadiah. Yang paling memakan waktu dari semua rangkaian kegiatan kemarin adalah jalan santai dan pengundian hadiah. Maklum hadiahnya banyak, MC bahkan terlihat lebih capek mengumumkan nomor undian daripada cuap-cuap untuk memandu acara. Sayang nomor undian saya gak ada yang cocok.. #Eh..

Di acara kemarin kami sempat janjian untuk berkumpul bersana teman-teman kuliah dulu. Sayangnya saya hanya bertemu 1 orang saja, itupun dia masih menunggu 1 teman lainnya. Terpaksa saya tinggal, maklum jalannya gak sendiri. :D

Pacar kesayangankuhh :*

Dengan kostum putih bis merah dan topi sebenarnya kami punya akses untuk masuk ke tribun dan duduk manis menunggu jika nomor undian kami disebutkan menikmati acara, tapi karena Abang telat ngeh bahwa topi yang kami kenakan adalah penanda bahwa kami bebas masuk, jadilah kami berdiri mematung memikirkan nasib berebut tempat teduh selama berjam-jam.

Rada kecewa sih, sayang sebenarnya kami sudah punya akses tapi tidak dimanfaatkan, tapi gak enak juga sama Mama Mertua yang sejak berangkat sudah bersama kami. Masa harus kami tinggalkan dan duduk di kursi VIP. Yang punya akses hanya karyawan dan istri saja. Serba salah.. hihi..

Yang spesial diacara kemarin adalah saya akhirnya bisa melihat Fildan secara langsung dan rasa pegal di kaki yang saya dan Abang rasakan. *Penting banget bahas ini. LOL* Kalau saya pegalnya jelas karena kelamaan berdiri, entah Abang kenapa, sepetrtinya karena jalan dan berdiri lama di hatiku. Akhirnya setelah acara selesai, pacaran kami diisi dengan kegiatan saling memijat kaki. Haha

Norak! Saya akhirnya lihat Fildan secara langsung dan nyaris ikut joget di depan panggung!! Padahal baru dinyanyiin Gerua saja lho.. Wkwkwk

Semalam tidur saya benar-benar pulas, karena capek dan saya dikeloninnya ya dipijat-pijat kaki (kiri)nya, entah berapa lama, yang jelas saya udah benar-benar gak ngerasain kaki yang sebelah kanan dipijat, yang jelas ada aroma minyak zaitun di kedua telapak kaki.

Alhamdulillah bangunnya segeeer banget, Jazakallah Abang.. Walaupun sampai kantor ngantuk lagi, bangunnya pagi banget karena sebelum ke kantor saya ke bandara dulu nganterin Abang yang hendak merantau ke tempat kerja (lagi).Hihi..

Sesampainya saya di kantor salah satu surat kabar terbesar tiba di meja saya dengan liputan khusus Jalan Sehat BUMN kemarin. Senang banget acaranya berjalan sukses, ramai dihadiri masyarakat dengan segala umur. *Sekali lagi, mengundang Fildan adalah pilihan yang sangat tepat. :)


Oh ya, walaupun saya tidak dapat hadiah sama sekali, tapi kemarin belajar banget bagaimana kalimat "Kalau rezeki nggak akan ke mana" saat menyaksikan pengundian hadiah utama berupa motor. Fildanlah yang dipercaya memilih nomor undian saat itu. Pihak saksi, notaris dan dewan direksi sudah berada di atas panggung, tapi acara harus berlangsung lama, nomor kupon yang dibacakan ternyata tidak bertuan sampai sebanyak 3x.

Dan akhirnya diambil lagi kupon baru, pemiliknya adalah... Polisi yang sedang bertugas jaga di acara Jalan Sehat BUMN!!! Saya ikut kegirangan. Selamat ya pak polisi.. Saringan rezeki bapak sampai 3 nomor kupon lho.. Hihi..

Selamat bekerja, tetap rajin bekerja walau rezeki kita gak akan kemana-mana! ^^

"Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)."
(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Read more

27 Feb 2017

Premarital Check Up, Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Pengantin

Hulaaaa...

Sudah senin lagi, sudah tanggal 27 lagi, dan tulisan di blog ini baru 3 buah saja. Ckckc.. Jadwal menulis yang saya buat, bulan ini saya langgar semua. Padahal cuma 3 kali seminggu, apalah daya, kali ini mood pengen leyeh-leyeh aja bener-bener menguasai. Padahal ya, beberapa artikel hanya perlu sedikit ditambahkan beberapa kata. Artikel lainnya juga hanya perlu ditambahkan foto. Kelar..

Gitu sih rencananya, tapi kelihatan kan ya, kalau sudah ada paragraf pembelaan diri seperti ini berarti rencanya itu gak terlaksana. Haha.. Beberapa pembully pembaca setia blog saya juga ada yang menanyakan kenapa buka blog tapi ternyata belum juga update tulisannya. Terharu sekaligus berasa dijambak kerudung saya.. ah.. ini saya mulai lebay lagi. LOL

Nah.. akhir minggu kemarin, mood leyeh-leyeh dan emak-emak saya berhasil dikalahkan. Jadi, hari Sabtu pagi itu kalau gak ada janjian lari sama teman-teman biasanya saya mencuci, untuk masa depan yang lebih cerah.. bukan.. bukan.. kadang Sabtu siang saya arisan, dan Sabtu Sore saya seringnya ikut Sableng aka Sabtu Lari Bareng #KawanLari RFI Kendari. Jadi urusan yang bisa dikerjakan pagi saya kerjakan sebisanya.

Baca juga: Run For Indonesia, Bukan Sekadar #KawanLari

Tapi rutinitas pagi saya itu buyar oleh WA teman yang mengajak ikut seminar gratisan di kantornya. Maklumlah ya saya memang lemah oleh gratisan (padahal ditambah gak enakan juga sih :p). Kebetulan juga cucian belum saya basahi, jadi tidak khawatir bau dan lain-lain. Pesan di aplikasi WA yang masuk 1 jam sebelum acara dimulai lumayan santai saya tanggapi, tempatnya tidak begitu jauh dari rumah. Jadi masih sempat tanya teman-teman lain yang diajak juga, mereka tidak bisa memastikan. Berhubung saya sudah ada niat 70% mau datang jadi saya penuhi saja.


Saat tiba, peserta seminar yang masih bisa dihitung dengan jari itu sudah disuguhi sebuah video yang sayangnya saya gak nangkap isinya apa. Resiko telat belasan menit. Saat registrasi juga saya diberitahu ada lomba foto yang dinilai oleh jumlah like terbanyak selama seminar berlangsung, duh.. datangnya mepet saya.. sudahlah.. saya ikhlas gak menang #Eh :D

Intronya panjang ya.. ini buat mancing mood saya juga sebenarnya, jadi maaf kalau becandanya gak penting. *Ngaku sendiri! :p

Jadi, Apa sih Premarital Check Up itu?
Premarital check up adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk memastikan status kesehatan kedua calon mempelai terutama untuk mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau diturunkan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin.

Ih, serem banget, ntar malah gak jadi nikah!
Sini.. sini.. toss duluuu.. Haha.. pikiran kita sama, tapi itu saat saya belum selesai mengikuti seminar. Setelah ikut, pikiran sudah terbuka dan ilmu sudah masuk, saya jadi mikir, Premarital check up ini memang sebenarnya penting. Seriusan penting, Premarital check up ini bukan hal yang harus ditakutkan.

Lalu, Apa saja yang diperiksa?
Ada 10 pemeriksaan yang dilakukan terhadap laki-laki, sedangkan pada perempuan ada 13. Kok Beda sih? Iya, karena pada perempuan ditambahkan 3 pemeriksaan lagi, yaitu Anti-Rubella IgG, Anti-Toxoplasma IgG dan Anti-CMV IgG.


Memangnya apa manfaat melakukan Premarital Check Up?
Dengan melakukan Premarital check up, penyakit yang sebelumnya belum terdeteksi bisa didiagnosis dan diobati sehingga bisa mencegah penularan penyakit yang mempengaruhi pasangan serta sebagai uji saring adanya masalah fertilitas.

Kalau ada masalah kesehatan lho ya, kalau gak ada ya udah lanjut maaang.. Kita tidak perlu menerima tindakan medis seperti pengobatan maupun pencegahan lainnya. :)

Apabila ditemukan potensi penyakit
Jika ditemukan penyakit atau potensi penyakit, apa kemudian pernikahan harus dibatalkan? Tes yang sebaiknya dilakukan 6 bulan sebelum pernikahan ini, sejak awal bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan masing-masing calon pengantin dan kemungkinan penyakit yang akan timbul jika pasangan memutuskan tetap bersama. Bukan untuk mencegah penikahan. Para pasangan tentu akan diberikan gambaran terhadap hasil tes, pengobatan dan pencegahan. Sebatas itu saja, keputusan untuk melanjutkan pernikahan tetap ada pada calon mempelai.

Bapak Ricky J.Y Mandagi, S.Kep selaku kepala cabang Prodia Kendari yang juga bertindak sebagai pembicara pada seminar pagi itu juga menegaskan 2 hal;
1. Keputusan tetap ada di tangan calon mempelai, Prodia hanya membantu memberikan gambaran, dan opsi-opsi penanganan terhadap calon mempelai.
2. Diatas diagnosa maupun kemungkinan medis yang ada, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara medis, terlebih jika Tuhan sudah berkehendak.

Benar kan ya.. Kita memang tidak bisa mencegah tapi tindakan pencegahan yang sudah dilakukan tentu sudah merupakan bentuk ikhtiar kita sebagai manusia.

Sesi tanya jawab

Apa saja yang bisa dideteksi melalui Premarital Check Up ini?
1. Kesehatan fisik secara umum
2. Diabetes melitus (kencing manis)
3. Hepatitis B
4. Penyakit yang dapat diturunkan seperti Thalassemia
5. Ketidakcocokan golongan darah A,B,O dan rhesus
6. Ada tidaknya penyakit menular akibat hubungan seksual

Saya semakin aware dengan pentingnya tes ini setelah diberi gambaran tentang penyakit Thalasemia, sebuah penyakit genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Akibatnya, anak selalu kekurangan darah (anemia) yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin. Bukan anemia yang umum, karena pada Thalasemia yang berat, anak harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Kebayang?

Duh.. :(

Bukan hanya itu, beberapa penyakit juga memang tidak menunjukkan gejala khas, dan hanya bisa diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium.

Apa yang harus disiapkan jika ingin melakukan Premarital Check Up?
Dari materi kemarin sih dikasihnya ada 3 persiapan:
- Puasa 8-14 jam
- Untuk wanita tidak dalam keadaan menstruasi
- Informasikan kepada petugas laboratorium bila mengonsumsi obat atau suplemen tertentu.

Saya tambahin lagi..
-Mental
Tidak lebay rasanya jika saya menambahkan harus adanya kesiapan mental untuk menerima hasil. Tapi bukan berarti harus berpikiran negatif terhadap hasil yang akan didapatkan dari Premarital check up ini. Baiknya hasil tentu akan membawa kebahagiaan dan ketenangan. Buruknya hasil tentu akan makin menguji komitmen dan kesamaan visi bahagia satu sama lain.

- Biaya
Tidak bisa dipungkiri masalah biaya tentu juga akan menjadi pertimbangan. Apalagi menjelang penikahan biaya yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Dengan biaya pemeriksaan yang berkisar di bawah 1 juta untuk Premarital check up laki-laki dan sekitar 1,3 juta untuk perempuan. Ada baiknya biaya sudah dipersiapkan sejak awal.

Kapanpun pembaca mengetahui hal ini tetap saja kalian beruntung, jika belum menikah bisa mempersiapkan diri dan biaya. Jika sudah menikah, info ini bisa diteruskan kepada keluarga maupun anak nantinya.

Ssst.. peserta seminar juga banyak yang sudah menikah lho (bahkan sudah mempunyai cucu), beberapa datang bersama pasangan. Pasangan yang sama-sama aware terhadap masalah kesehatan itu bikin iri gak siiih?? Hihi..


Oh iya, walaupun dianjurkan untuk melakukan Premarital check up 6 bulan sebelum pernikahan, tapi 2 minggu sebelum pernikahanpun menurut pembicara tidak masalah, boleh-boleh saja, hanya saja waktu untuk tindakan pengobatan mungkin menjadi lebih singkat (jika memang ada penyakit ya..).

Intinya saya senang kemarin gak malas-malasan ke seminar, dapat ilmu lagi dari teman-teman Prodia Kendari. Acaranya juga dikemas seru karena banyak menyediakan hadiah bagi para pengunjung. Tidak seperti judul seminarnya yang serius, waktu berjalan tanpa terasa saking serunya acara seminar. :)
Salah satu penerima hadiah dari Prodia Kendari

Jujur saya jadi makin ngeh dengan Premarital check up ini, teman-teman sudah pada tahu kah? Atau sudah pernah tes sebelumnya? Share yuk..


*Special thanks to teman-teman di Prodia Kendari (sekaligus member RFI Kendari). Gratisannya sangat bergizi, apalagi setelah seminar saya ditraktir lagi.. haha..

Read more

14 Dec 2016

Rich-O Donuts and Cafe, Tempat Nongkrong yang Memanjakan Lidah

Beberapa hari ini saya selalu ingin makan Sup Ubi, dan yang terbayang adalah Sup Ubi di Rich-O Donuts and Cafe (selanjutnya akan saya sebut Rich-O). Tidak heran sih, cuaca di Kota Kendari akhir-akhir ini memang sering hujan, dan saat hujan seperti ini tentunya paling enak makan yang berkuah dan hangat. Anak kos pasti langsung ingat mi instan nih.. Hihi.. No, no.. I want to eat Sup Ubi!

Baca juga: Sup Ubi Podo Teko


Ada beberapa tempat menyantap Sup Ubi yang cukup enak di Kendari, tapi Rich-O yang launching bulan Maret 2016 ini punya rasa khas dan kelebihan tersendiri. Yang paling menonjol adalah ubinya, lembut banget. Selain itu, kalau ingin mengudap ubi goreng juga ada di tempat ini. Oh ya, Ubi maksudnya singkong ya.. seperti yang pernah saya jelaskan di sini.


Kalau diingat-ingat, ternyata sudah 2 tulisan saya yang membahas Sup Ubi. Berbeda dengan 2 tempat sebelumnya yang tidak mempunyai banyak pilihan, Rich-O ini malah hadir dengan banyak sekali pilihan menu. Menu makanan berat malah hanya beberapa saja, selebihnya pengunjung bisa memesan berbagai pilihan kudapan atau minuman. Biasanya kalau nongkrong kan gitu ya? Pengennya kudapan saja, jadi ngobrolnya bisa lebih banyak. :D

Sekarang, mari membahas rasa. Di Rich-O ini, makanan berat ataupun kudapan rasanya bersaing. Sama-sama enak! Faktanya, tidak jarang saya dapatkan sebuah tempat makan dengan konsep yang sama tapi ada jenis makanan (makanan berat dan kudapan) yang rasanya jomplang. Makanan beratnya enak, kudapan rasanya so-so. Atau sebaliknya. Jarang yang seimbang.


Kalau membicarakan masalah makanan berarti membahas lidah nih, masalah selera. Terutama untuk nasi gorengnya, di Rich-O akan dibuat pedas, ini kesukaan saya. Yang tidak suka pedas mungkin akan mundur teratur dengan menu nasi gorengnya. Tapi ada opsi nasi goreng merah kok, menu ini tampaknya tidak pedas.
Nonton semi final bulu tangkis sambil nongki :D

Oh ya, tersedia juga donat yang berjajar manis di etalase yang membatasi kasir dengan pengunjung. Tinggal dipilih untuk dinikmati di dalam cafe atau ingin di bawa pulang. Donatnya enak juga sih, tapi kalau urusan mengudap, saya lebih suka yang ada sambalnya. Apa lagi kalau bukan ubi goreng? Hihi.. *Anaknya mah emang doyan singkong :D

Rich-O juga terus berinovasi dengan menu yang akan disajikan untuk para pengunjung. Terbukti dengan adanya tambahan menu berupa Mie Bakso, Mie Pangsit Ayam Jamur (ayam kampung) dan beverage seperti Jus Durian dan Lychee Healthy Drink. Makin banyak dong ya menunya..

Sumber gambar FP Rich-O Donuts and Cafe Kendari

Untuk harga juga relatif terjangkau. Harga makanan mulai Rp. 5.000 - Rp. 35.000, kudapan mulai Rp. 18.000 - Rp. 30.000 sedangkan minuman rata-rata seharga Rp. 20.000-an.

So, kalau mencari tempat nongkrong dengan rasa yang tidak mengecewakan di Kendari, Rich-O Donuts and Cafe bisa jadi pilihan.

Jangan lupa saya diajakin juga ya.. Soalnya saya belum pernah cobain menu barunya *Lho? :D

Rich-O Donuts and Cafe Kendari

Jl. Brigjen M. Yunus Bypass
Buka pukul 09.00 - 00.00
Telp: (0401) 3135555

Read more

7 Dec 2016

Seru dan Puasnya Makan Kepiting Tanpa Piring!

Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari pulau Sulawesi yang dikelilingi lautan adalah provinsi yang kaya akan hasil laut. Berbagai jenis ikan tersedia melimpah ruah sebagai hadiah dari alam. Begitu juga kepiting yang beberapa tahun terakhir ini disajikan tidak hanya dengan menjaga kualitas rasa tapi juga dengan uniknya cara penyajian.


Kendari tidak ingin ketinggalan menyajikan hal yang unik bagi warganya. Sudah sering melihat kepiting disajikan di atas meja tanpa wadah kan? Yup! Kepitingnya dibiarkan berkeliaran berjalan ke sana ke mari disajikan tanpa wadah apapun, di atas meja, begitu juga nasinya, tanpa piring. Kecuali air kobokan dan minuman tentu saja. LOL.

Bukannya kami ndeso ya, lihat sih sudah sering, hanya rasa ingin tahu, menjadikannya pengalaman pribadi sungguh sebuah hal yang menantang untuk kami lakukan. Sebenarnya bisa saja kami membeli kepiting, lalu masak lada hitam dan menyajikannya di meja makan sendiri tanpa memakai piring. Tapi sebelum kepitingnya habis, nikmatnya rasa kepiting akan hilang karena kami makan sambil diomeli oleh ibu kami di rumah. LOL

Hahah.. Sudah deh ngebanyolnya, yuk ke tempat makannya.. Makan puas tanpa diomeli ibu di rumah! :D

Dimana?

Kendari Town Square (K-Toz)
All we known about ikut makan kepiting kekinian adalah di K-Toz. Tapi K-Toz sudah tidak seperti dulu lagi kawan, K-Toz sebagai tempat makan dengan konsep Food Court di sebuah lapangan terbuka dengan payung warna-warni sebagai atapnya kini sudah menjadi tempat yang lebih cozy, dengan konsep yang lebih keren. Hanya menyebut K-Toz sebagai petunjuk tempat makan kepiting sebenarnya cukup menyesatkan. Ada banyak tempat makan di tempat ini. That's why you have to mention Boegis Resto.

Boegis Resto 
Beruntungnya saat memasuki area K-Toz kami yang celingak-celinguk kebingungan disapa dengan ramah oleh karyawan yang bertugas di area makan. Dari Mbak ramah itulah kemudian saya diarahkan ke Boegis Resto (BR) setelah bertanya dengan polosnya "Kalau mau makan kepiting , di mana ya?" *Pasang muka tembok

Jadi, jika ingin ikut ndeso mencicipi kepiting seperti saya, saat memasuki area dekat panggung, carilah Boegis Resto di sebelah kanan. Tempatnya terlihat cukup sepi, bukan seperti cafe untuk makan pada umumnya yang menghias diri dengan dekorasi lighting dan wallpaper yang instagram-able. Tempat makan ini tampaknya mengandalkan menu sebagai daya tariknya. Lagipula memang deretan meja dan kursi makan di depan panggung sudah bagian dari semua tempat makan di dalamnya kan? Termasuk untuk BR.

Kamipun memesan tanpa ba bi bu, karena memang kami yang lupa membalik menunya, di bagian belakang itulah ada menu lain yang bisa dipilih. Kami sebelumnya berpikir, Resto tersebut memang spesialis menu kepiting. *Maafkan Baim Ya Allah..

Seru dan Puasnya Makan Kepiting Tanpa Piring
Dengan semboyan Berani Kotor Pasti Kenyang, kami mulai makan dengan beringas excited. Menu kepiting lada hitam yang masih mengepulkan asap dituang ke atas meja yang sudah lebih dulu dilapisi plastik. 1 paket kepiting ini sudah termasuk nasi dan es tehnya.


Lain yang diharapkan, lain yang di dapatkan. Ingin makan kepiting, ternyata kepiting lada hitam ini juga dimasak bersama berbagi jenis makanan laut lainnya seperti udang, cumi-cumi dan kerang, which's good for us.Haha.. Untuk mengimbangi rasa gurih hewan-hewan khas laut ini, ada banyak potongan nanas dan jagung untuk memberi rasa manis dan asam. Kami cukup senang dengan komposisinya, jadi rasanya tidak monoton.

Makan tanpa wadah itu, rasanya.. bebas! Kalau sudah begini, makan di tempat nongkrong sambil menjalankan sunnah Rasul malah paling afdhol, makan menggunakan tangan saja! Ruang gerak tangan untuk memilih jenis makanan mana yang ingin dipilih juga tidak terbatas, kotor ya kotor saja, yang penting kenyang!

Harga, Porsi dan Rasa
Porsi yang ditawarkan BR ini ada tiga; Small untuk dua orang, Medium untuk empat orang dan Large untuk enam orang. Karena kami hanya berdua jadi kami memesan porsi untuk dua orang. Yang ternyata.. Lebih besar porsinya makan akan semakin hemat biaya yang harus dikeluarkan. Jadi, karena kami wanita yang tidak mau rugi, kami.. tetap memilih porsi dua orang.#Plakk

Gimana gak galau, seharusnya kami datang ramai-ramai, jadi harganya bisa lebih hemat. Nah.. penasaran kan berapa harganya? :D
Lebih rame, lebih asik, lebih murah!

Dibalik menunya ternyata masih banyak menu yang lain

Ngomong-ngomong soal porsi, porsi untuk dua orang ini bikin saya dan teman saya cukup terduduk lama karena kekenyangan. Banyak!! Menurut saya sih, untuk perempuan, porsi dua orang ini bisa dimakan berempat. Selama makannya gak kelaparan banget. :p Untuk laki-laki, dua orang cukup, empat orang juga bisa tapi kemungkinan makannya malu-malu. :D


Untuk soal rasa.. sebenarnya lumayan, tapi rasa lada hitamnya tanggung, too much black pepper yet not spicy. Mungkin karena kami memaksa menghabiskan porsi besar tersebut, akhirnya berasa enek. Kembali lagi, masalah selera saja. Tapi overall enak kok. ^^

Oh ya, sebenarnya K-Toz ini masih dalam masa "trial opening". Masih terus berbenah. Masih dalam tahap ini menurut saya sudah lumayan bagus lho. Sepertinya K-Toz ini akan lebih baik lagi nantinya, melihat adanya ancang-ancang untuk membuka  sebuah Trick Eye Museum pada lantai dua nya. Entah kapan. We'll see..

1 lagi nilai tambah dari K-Toz ini, karyawan yang bertugas di area meja makannya super ramah dan cepat tanggap. Kami segera disapa saat melihat kami kebingungan. Disaat kami memutuskan membatalkan pesanan minuman karena ternyata belakangan baru tahu kepiting yang kami pesan sudah 1 paket dengan minumannyapun si Mbak baik hati itu juga tidak menunjukkan reaksi atau raut wajah yang tidak bikin selera makan jadi down. Semoga rejekinya semakin baik ya Mbak.^^

Kendari Town Square (K-Toz)

Jl. Saranani (Depan Singapore Kopitiam)

Jam Operasional :
Senin -Jumat : 09.00 - 23.30
Sabtu- Minggu : 09.00 - 00.30
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...