Showing posts with label Uneg-uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg-uneg. Show all posts

12 Jan 2021

Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi

Sebelum membaca Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi, ini cerita yang saya tulis sebelumnya:


"Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari 2019 jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" untuk melahirkan istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!"

Cerita lengkap sebelumnya di : Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Beberapa Drama Melahirkan Anak Pertama yang Saya Rasakan

Saya titik beratkan pada anak pertama karena walaupun sudah mencoba mencari info dan menanyakan pengalaman dari teman-teman tetap saja ini pengalaman melahirkan pertama kalinya untuk saya. Semoga kedepannya berbeda bahkan kalau bisa minim drama. Aamiin..

So, langsung aja yuk saya ceritain.

Drama Surat Pengantar

Sudah beberapa jam saya merasakan sakit, yakin ini bukan kontraksi palsu dan saya juga tidak bisa tidur karena kesakitan, kamipun segera menuju ke rumah sakit.

Surat pengantar dari BPJS sudah kami persiapkan, untuk jaga-jaga agar tidak disuruh pulang kalau sampai ke rumah sakit dan pembukaan masih dibawah pembukaan 5. Benar saja, saat dicek, baru pembukaan 1. Dengan percaya diri kami menyerahkan surat rujukan. Sayangnya perawat di ruangan bersalin bilang bahwa surat rujukan kami salah, kalau memang akan dipakai untuk bersalin, harusnya ditujukan ke ruangan bersalin, bukan ke pemeriksaan dokter praktek. What the..?*$+"/?/

Berat hati kami kembali ke dalam mobil, sesuai petunjuk, kami diarahkan ke faskes terdekat, puskesmas yg memiliki fasilitas rawat inap.

Drama Puskesmas Rawat Inap

Sesampainya di sana, kami lalu pulang kembali ke rumah, capek manggil-manggil, gak ada satupun orang di puskesmas. Another annoying moment...

Malam itu sayapun mencoba tidur dengan rasa sakit yang datang-datangan, tidak saya sangka saya bisa juga tidur walaupun sering sekali terbangun, mungkin karena kelelahan.

Drama Kontraksi Selama di Rumah

Pagi hari sakitnya masih terasa, berita saya mulai merasa kesakitan sampai juga di telinga tetangga yang kebetulan seorang tenaga kesehatan. Pada jam istirahat beliau berjanji untuk menengok di rumah, saya hanya setuju dilakukan pengukuran tekanan darah saja dan menolak dilakukan periksa dalam alias VT, SAKIT JENDRAL!! *Sorry.. emang ga bisa santuy saya kalau ingat VT itu. Wkwk

Dan sejak pagi juga kami di rumah sepakat untuk menunggu sampai besok, tapiiii... tapi suami sudah sangat tidak tenang. Pagi-pagi suami sudah pergi protes ke faskes TK I, eh, nggak ding, ke rumah dokternya, minta tolong dibenerin, istri udah teriak-teriak di rumah. *Lebay! Haha.. Nggakk.. nggak gitu.. minta tolong baik-baik dong, untung langsung oke aja, gak salah emang suami mindahin faskesku ke tempat praktek dokter itu. Da best!

Oh iya, kesepakatan awalnya menunggu perkembangan (rasa sakit) lagi, tapi suami sudah tidak tenang. Hari itu, 4 Januari setelah salat Jumat, suami yang biasanya ngikut aja saya maunya apa sudah tidak bisa ditawar lagi keinginannya. Harus ke rumah sakit sekarang juga! *Kasih backsound menegangkan.


Singkat cerita melaporlah kami dengan surat rujukan yang baru (walaupun sekarang baru merhatiin, tahunnya masih juga salah.. hihi). Alhamdulillah sudah bisa dicarikan kamar, sambil menunggu saya hanya bisa perbanyak jalan dan berdiri sambil terus melakukan gerakan duduk jongkok dan berdiri. *Tolong ini diperhatikan ya, saya gak malas-malasan! 😝

Sesampainya di kamar, saya diperiksa dalam LAGI! Hasilnya? 13 jam sejak pemeriksaan sebelumnya tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau ditambah saat pertama kali merasakan sakit, total sudah 18 jam saya kesakitan. Daebak!

Baca juga: My Pregnancy My Adventure

Drama Induksi

Induksi ini sejak awal memang saya hindari, sejak awal ingin melahirkan alami saja, tanpa ada campur tangan obat-obatan. Tapi jika sudah menyerahkan diri ke rumah sakit, maka sebisa mungkin saya mengikuti prosedur yang disarankan, apalagi disaat-saat seperti itu keselamatan Ibu dan bayilah yang diutamakan.

Induksi Pertama

Beberapa jam menunggu, keluargapun mulai berdatangan, ba'da maghrib seperti yang dijanjikan sebelumnya saya diberikan induksi melalui jalan lahir. Entah berapa lama kemudian saya sudah mulai merasakan level rasa sakit yang meningkat dan semakin sering. Malam saya lewati dengan mondar-mandir di dalam kamar.

Sekira pukul 11 malam saya diminta ke ruang bersalin untuk dilakukan VT *Sumpah nulis ini kebayang lagi sakitnya 😭* sudah 6 jam, perkiraan kalau misalnya 2 jam nambah 1 bukaan, minimal saya sudah di pembukaan 3 saat ini.

Hasilnya?

Hanya nambah 1 bukaan sodara-sodara, setelah diinduksi selama kurang lebih 8 jam, total kalau hitungan pukul 12 malam sudah kesakitan 29 jam saya masih pembukaan 2.

Saya ditanya, apakah masih mau lanjut induksi ataukah mau caesar. Saya tanya ke suami, suami bilang terserah, dia katanya gak tega lihat saya kesakitan tapi tidak memberi keputusan.

Saya memutar otak, mulai hitung-hitungan, kalau sekarang pembukaan 2 artinya dalam 8 jam saya harus maraton mengejar pembukaan lengkap. Bukankah akan sangat ngos-ngosan? *Pengalaman maraton sebelum nikah bikin kebayang ngos-ngosan lari 21 Km, ya tapi tak sesakit induksi ini emang. Ya emaaaang 🙈

Keputusan saya ambil, saya akhirnya memilih lanjut induksi kedua. Saat itu induksinya lewat botol infus. Saya mulai bisa tertidur semenit-dua menit sampai akhirnya negara api menyerang.

 

Gelang identitas pasien, penasaran deh arti 75nya itu apa yak?😁

Induksi Kedua

Induksi kedua dimasukkan melalui infus, kalau sebelumnya tindakan dilakukan di ruangan tempat rawat inap, induksi kedua dilakukan di dalam ruangan bersalin, di ruangan dingin, hanya saya dan suami. Saya tidak bisa tidur, perlahan rasa sakitnya memang mengalami eskalasi jauh diatas yang pernah saya bayangkan dan memang sulit untuk saya gambarkan dalam tulisan ini. That's why.. saya hanya bisa menceritakan drama-dramanya saja, tapi percayalah, walau suami bebas dari bekas cakaran atau biru karena lebam, tapi beneran sakit sumpah!!

Semakin sakit, saya diminta berpindah ranjang, masih di ruangan yang sama tapi sepertinya ranjangnya memang sudah persiapan lahiran, sudah tidak tersembunyi seperti tempat saya dilakukan tindakan induksi kedua.

Subuh 5 Januari, entah pukul berapa, kalau tidak salah ingat sebelum azan, kalau jam 4 subuh berarti air ketuban saya pecah setelah 33 jam kesakitan, saya yang sedang melakukan kegiatan duduk-berdiri secara berulang sambil menahan rasa sakit di samping ranjang lalu diminta berbaring saja agar tidak kehabisan stok air ketuban.

Ya sudah, setelah itu saya melalui waktu dengan kesakitan, balik badan kiri kanan, makan dan minum apapun yang disodorkan, disambi mendengarkan erangan para ibu-ibu yang silih berganti melahirkan sambil terus beristighfar, mengatur nafas menahan sakit. Subhanallah..

Piye perasaanmu Mak? Kamu dari tadi udah start tapi gak finish-finish..Sampai hafal saya kalau bidannya sudah minta diambilkan pakaian bayi, berarti dalam rentang waktu 10 - 30 menit, akan bertambah lagi angka bayi lahir hidup. Eh..Sempat aja mikirin data..wkwk..

Sampai setelah azan Dzuhur, setelah bolak balik saya dilakukan tes VT terk*t*k itu! Sudahlah sakit, diulang terus, diulang terus. Saya tahu itu prosedur, tapi izinkan saya menumpahkan sedikit perasaan saya karna bagaimanapun merasa berhasil tidak mengutuk secara live bahkan menendang bidan seperti beberapa cerita teman-teman, bagaimanapun itu sebuah pencapaian untuk saya. 🙈

Lanjut.. Wkwk.. Maap kebawa emosi. Beberapa menit setelah azan kurang lebih pukul 12, pembukaan saya sudah lengkap, seperti yang saya hafalkan, bidan juga meminta pakaian bayi. Betapa senang suara Mama terdengar saat berbicara dengan bidan. Begitupun saya, Bismillah.. garis finish sudah terlihat..

Menuju Melahirkan Alami

Sudah pukul 1 saya belum juga lahiran Mak.. Ya Allah.. bersyukur tak ada bisikan goib yang datang untuk melakukan caesar, kurang 6 jam lagi sudah 2x24 jam saya menahan sakit. Segala doa sudah saya panjatkan, keyakinan, optimisme sudah saya pertebal, saya sudah meminta maaf ke suami, orang tua terutama Mama tapi belum juga ada tanda melahirkan lebih cepat. Untuk menganalogikan perjuangan saya, sambil bercanda ke teman yang datang menjenguk bayi saya di rumah waktu itu, saya bilang, saya hanya gak pindah agama aja sumpah (yes, i need to be lebay to describe the pain 🙈).

Dan waw.. 45 menit kemudian bayi itu menangis dengan lantang mengalahkan semua suara bayi yang saya dengarkan kelahirannya!!

Tapi mundur dulu yuuuk.. selama 45 menit itu saya berjuang melahirkan normal diumur kepala 3, anak pertama, dan bayi yang sudah terlampau besar, sudah saya kerahkan segala kekuatan yang saya bisa untuk mendorong bayi 3,7 Kg itu, Mama sampai meminta kakaknya untuk menemani saya karena tidak tega. Dan (mungkin karena sudah terlihat lemas) saya diberikan oksigen, dan setelah selang oksigen terpasang naiklah seorang perawat keatas perut saya untuk membantu proses melahirkan. Dan bretttt (sorry i can't find another sound effect to describe it 😝), lahirlah bayi hulk bersuara lantang itu.

Bukan tanpa alasan ibu dokter Indra menyebutnya begitu, soalnya ketuban saya sudah hijau dan he's big and strong indeed. 😂

Bentuk kepala khas bayi yang lama di tertahan di jalan lahir, kek ada lekukannya gitu pas sejajar alis. Beruntung masih bisa berubah ya, Alhamdulillah sekarang anaknya sudah 2 tahun, kepalanya sudah bulat.🙈

Rombongan pengantar haji (seriusan banyak banget orang, entah karena mereka yang niat datang rame atau karena lama jadinya penjenguk pada numpuk. Masyaallah.. semoga sehat semua walaupun saya tidak melihat langsung ya 🥰) di luar ruangan persalinan pun berseru mengucap Alhamdulillah. Tak lama kemudian terdengarlah suami saya mengazankan anak kami, ditengah azannya ia terisak saking harunya. Begitupun saya yang ikut menangis (masih dengan selang oksigen di hidung) dan sempat menoleh kepada dokter dan perawat yang saling bertukar pandang mendengar keharuan ayah baru di belakang mereka sambil terus menjahit jalan lahir bayi hulk tadi.

Drama Jahitan Pasca Melahirkan

Berbicara tentang jahitan, saat diminta memulihkan kondisi, di ruangan dan ranjang yang sama, saya sempat bertanya pada perawat yang turut menyaksikan proses menjahit tadi secara live. 

🧕: "Berapa jahitan Mba?" Tanya saya

👩‍⚕️: Terlihat bingung, "banyak" jawabnya

🧕: "Oh.." Sambil merasakan wajah saya menghangat. Hancur sudah, batin saya. 🙈

Segala teori agar tidak ada jahitan, jangan angkat pantat, senam ina inu, ambyar semua gaess.. saya sih gak yakin juga digunting apa nggak (iyes, makemak taulah tindakan ini, kecuali mungkin yang masih gadis, jangan shock yess). Yang saya rasakan pasti itu adalah dijahit langsung setelah melahirkan, maksudnya ga ada anastesi, bisa terasa dengan jelas tu jarum yang kek kail pancing wara-wiri di organ kewanitaanmu. Betapa semua pengalaman pertama kali yang ngumpul jadi satu itu begitu amazing terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Masyaallah..

Sakit gak?

Gak, gak ada perih atau apapun, mungkin jatah rasa sakit saya sudah saya pakai habis dalam 42 jam itu. Sayangnya ga habis-habis amat, masih ada derita lain menanti pasca melahirkan... Saya tersiksa.. 😭

Oh ya, yang bikin pengen misuh-misuh adalah, setelah dijahit, barulah dilakukan pemeriksaan dalam lagi, buat ngecek plasentanya sudah dibersihkan dengan baik atau belum. Sebelum lahiran dengar teman cerita gini, dan saya akhirnya mengalami. Komentar saya masih sama, kenapa periksanya setelah dijahittt Markonaaah? 😭 Psstt..Momen ini malah lebih ada rasa sakitnya. 🙈

***

Segitu dulu deh cerita dramanya, dibalik terasa "sulitnya" saya melahirkan alami, saya bersyukur masih diberikan dukungan oleh suami, orang tua dan keluarga lain. Dan saya yakin masih banyak orang yang mengalami hal lebih berat dari saya termasuk yang melahirkan caesar.

Hmm.. cerita ini bikin nostalgia pengalaman lahiran pertama kali gak sih?

Sharing di kolom komentar yuk.. apalagi kalau punya tips agar lahiran lebih mudah atau melahirkan tanpa rasa sakit? Kemarin sih sempat ngintip akunnya bidan Novel, itu loh bidan yang lagi viral, lahiran yang tiup-tiup "aja". Saya bahagia sekaligus iriiiii. Wkwk

Note: Saya gak nakut-nakutin yang baru mau lahiran yes, cuma berbagi pengalaman. Saya berdoa dan percaya proses melahirkan kalian para ibu yang sedang menanti proses itu akan jauh lebih mudah daripada saya. Tetap positif thinking para ibu hebat! ❤️

Read more

28 Sept 2020

Ekonomi Sudah Cukup Sulit, Hati Jangan Ikut Julid

Virus Corona saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Termasuk saya, sungguh sangat berpengaruh di banyak lini kehidupan. Termasuk saat bulan suci Ramadan yang telah berlalu. Biasanya saya berburu menu untuk berbuka puasa dari luar rumah. Tapi saat itu malah berpikir dua kali jika ingin membeli makanan di luar rumah.

Nah, teringat saat Ramadan yang lalu, saya membaca status seseorang yang menjual makanan untuk berbuka puasa. Dia seperti merasa tersinggung dengan perlakuan orang yang berbelanja di tempatnya. Kurang lebih yang saya pahami adalah dia merasa orang itu terlalu berhati-hati dengan memberikan uang yang dipegang hanya dengan ujung jarinya saja.
 

Entahlah, saya merasa status itu berlebihan, tapi mungkin bagi orang yang sedang tersinggung status itu wajar ya. *Teteup yes, saya maunya di posisi netral saja.😁

Saya hanya berfikir namanya juga masa pageblug seperti saat ini sikap kehati-hatian memang akan sangat banyak kita jumpai dan rasanya itu lebih baik dibanding bertemu dengan orang yang acuh tak acuh, cuek dengan keadaan, kan ngeri Maakkk!

Bagaimana Dengan Saya Saat Berbelanja?
Sejujurnya, saya juga jadi flashback terhadap diri saya sendiri sih, saat saya berbelanja ya akan berhati-hati seperti itu. Entahlah, tidak menyalahkan si pembuat status selaku penjual, ya bisa jadi ada hal lain yang yang membuat dia layak untuk merasa tersinggung. 

Owh, iya, katanya pembelinya juga gak turun dari mobil. Setahu saya buat kebanyakan orang sikap ini dianggap tidak sopan. Iya gak sih? Tapi mari kita berpikir positif, bisa jadi orangnya gak niat mampir belanja, ada anak kecil di dalam mobil dan dia tidak membawa perlengkapan bersih-bersih. Who knows?

Saya juga jadi teringat kalau saya belanja. Saya juga akan sangat berhati-hati, pernah saat itu saya mengambil uang kembalian dengan tangan kiri karena tangan itu sudah saya gunakan untuk memegang macam-macam (saya tidak menggunakan sarung tangan) tapi tetap, saya minta maaf karena menggunakan tangan kiri. *Ini kok saya jadi merasa bersalah banget ya sekarang? Astaghfirullah. 🙈

Atau kasus lain misalnya, saya menerima uang kembalian menggunakan kantong plastik yang memang menjadi dompet saya selama berbelanja. Wkwk.. Seingat saya, saya sering mengucapkan kata maaf, berharap orang yang sedang berinteraksi dengan saya itu mengerti bahwa saya sedang berhati-hati saat ini.

Berhati-hati di sini tetap dua arah ya, bukan berarti saya menganggap orang lain membawa virus tapi saya juga berhati-hati karena saya tidak tahu saya membawa virus atau tidak, itu saja definisi berhati-hati dalam masa pagebluk Corona seperti saat ini.

Apakah orang-orang yang berinteraksi dengan saya itu juga merasa tersinggung dengan sikap saya? Jawabannya bisa jadi iya, tapi saya tetap berdoa semoga tidak, saya tidak ingin ada yang tersakiti dengan sikap saya. Kalau ada saya minta maaf sekali 🥺.

Sejujurnya status si pedagang di atas itu lucu karena memang ditulis dengan bahasa yang jenaka walaupun mungkin tersinggung. Dan saya harus berterima kasih karena saya jadi introspeksi diri, agar kedepannya lebih berhati-hati. Berhati-hati dengan virus, juga berhati-hati dengan orang yang saya ajak berinteraksi.
 

Ekonomi Sudah Cukup Sulit, Hati Jangan Ikut Julid
Tidak lupa saya tetap berdoa agar saya dan kita semua, bertemu orang baik di luar sana, yang sama-sama berhati-hati, sama-sama menjaga diri dan hati di masa yang serba sulit saat ini. Semua terdampak, walaupun dengan kekuatan hempasan yang berbeda-beda. 

Jadi kembali lagi saya mengingatkan agar kita tetap berhati-hati. Agar harapan kita untuk tetap sehat selalu dikabulkan oleh Allah. Semoga wabah ini segera berakhir.

Pikiran positif harus selalu aktif .
Ekonomi kita sudah cukup sulit hati jangan ikut julid.
Bu Tejo boleh jadi hiburan dalam film Tilik.
Tapi jangan ditiru, bayangin kalau kamu yang jadi Dian. *Halahh..

Gimana teman-teman, setuju kan untuk memperbanyak energi positif untuk diri dan lingkungan sekitar? 

Semoga perekonomian kita, negara kita secara umum segera membaik, seiring doa agar corona ini segera minggat dari muka bumi ya..

Punya pengalaman apa saat belanja di luar rumah? Share di kolom komentar ya..
Read more

18 Apr 2020

Kamu, Nanti Akan Seperti Apa?

Kamu..
Nanti..
Akan seperti apa?


Bukan.. bukan fisikmu
Tapi sifatmu
Pembawaanmu..
Cintamu padaku..

Akankah kau akan menjadi pujangga yang tak bisa tenang jika tak membalas puisi atau tulisan yang kutuliskan untukmu?
Akankah kau akan menjadi pujangga perapal kata maaf dan terima kasih?
Ataukah kau akan melukaiku dengan kata "apaan sih?"

Seharian ini aku membaca buku, buku dari seorang suami yang menuliskan banyak rasa cintanya kepada istri dan anak-anaknya, keluarga dan nyanyian mereka tentang kehidupan percintaannya.
Pikiranku terbang, membayangkanmu nanti, akan seperti apa?

Imam yang romantis hanya kepada istrinya, begitu aku diam-diam mewujudkanmu dalam pikiranku. Rasanya aku harus siap-siap jatuh cinta setiap hari jika semuanya terwujud. 

Kamu..
Nanti..
Pasti yang terbaik
Aku selalu percaya itu. :)

Baubau, 09.31 29 Desember 2015
Syahdu membaca buku Rumah Tangga

***

Hari ini kami yang sedang LDM membahas insomnia yang tiba-tiba saja 2 malam ini hinggap pada Abang, saya tanyailah:

🧕: "Jadi insomnia ngapain? Nonton?"
👳: "Nggak, baca blok Adeklah."
🧕: ....

Aslinya saya mau terbang rasanya. Terharu banget. Dan sayapun jadi ingat pernah tulis sesuatu tentang bayangan (tepatnya harapan kali yak) jodoh di masa mendatang. Apakah dia akan menyukai tulisan-tulisan saya? Apakah dia akan bergidik membaca tulisan istrinya yang sok puitis?

Alhamdulillah, sejauh ini dia termasuk penyuka (bisa disebut fans gak Beb? 😝) tulisan-tulisan saya, puisi, bahkan jokes receh yang sering nyelip diantara paragraf tulisan.

Thanks juga Beb, jadi ingat ternyata belum posting tulisan ini. Entah kenapa dulu gak diposting, takut di-bully kali yee.. Sama anak jaman now ntar dibilang bucin. Wkwk..

Love you to moon and back! Ngarti kagak Beb? Batu Caves aja deh biar kelar. Wkwk.. Love you Beb. 😘

Read more

9 Mar 2020

Anak Saya Diasuh Omanya, Apakah Saya Berdosa?

A: "Ir, mana anakmu?"
S: "Oh, ada, di rumah."
A: "Siapa yang jaga?"
S: "Omanya."
A: "Eh, berdosa kamu.. Sejak kecil kamu diasuh, sekarang sudah punya anak, anakmu lagi yang diasuh."

Itu salah satu contoh percakapan tentang pengasuhan anak yang saya jalani sejak kembali bekerja. Macam-macam sih tanggapannya. Ada yang mengingatkan seperti percakapan di atas, ada yang mengatakan saya beruntung karena orang tua masih hidup.


Tidak ada yang salah sebenarnya. Karena dalam kondisi apapun, saya memang beruntung orang tua saya masih hidup. Bukan semata karena saya punya orang yang bisa saya titipi dengan tenang, tapi karena saya beruntung mempunyai banyak waktu bersama, dan semoga waktu yang diberikan Allah itu bisa saya isi dengan membahagiakan mereka walau hanya seujung kuku. Karena berharap untuk mengganti jasa kebaikan mereka adalah sebuah keniscayaan. Takkan pernah kembali ke nol seperti pertamina. Hee...

Dan pada peringatan dosa yang diberikan. Alhamdulillah saya tahu betul tentang itu. Setiap detik saya menitipkan anak saya, saya berdosa kepada orang tua saya yang seharusnya menikmati masa tuanya tanpa beban. Itulah mengapa saya berkantor dengan penuh rasa tidak enakan, sebisa mungkin pulang cepat ke rumah dan mengambil alih anak walau tetap saja menyisakan berantakan yang berakhir menambah pekerjaan orang tua saya lagi.

Kadang saya membayangkan, bagaimana jadinya saya mengasuh anak tanpa ada bantuan dari orang tua bahkan adik-adik saya? Ada merekapun saya tetap saja kelaparan. Sudah ada merekapun, saya tetap saja merasa kurang ini itu. Sungguh saya ini ibu yang sangat lemah...

Tapi, apa benar saya berdosa, jika menitipkan anak pada orang tua adalah hasil rekonsiliasi panjang antara saya dan orang tua saya?
Apakah saya berdosa jika menuruti keinginan orang tua untuk tidak mencari asisten rumah tangga yang saya niatkan sekadar untuk meringankan beban orang tua saat harus dititipi anak saya? Dan tawaran ini sering saya ajukan seiring berjalannya waktu.

Apakah saya tetap berdosa jika saya terus menerus dihinggapi rasa bersalah karena membuat tubuh tua mereka lelah seharian mengurus anak saya?

Apakah saya berdosa jika menuruti keinginan orang tua agar terus bekerja daripada menjadi "orang gila" karena mau resign dari pekerjaan hanya untuk mengasuh anak sendiri? 😅

Insyaallah, semoga jawabannya adalah tidak. Allah maha mengetahui segala masalah yang melatar belakangi keputusan yang saya ambil dalam keluarga. Lalu apa hak orang mengatakan saya berdosa? 🙄

Saya tahu, saya hanya diingatkan. Tapi mohon maaf, saya juga hanya ingin mengingatkan, jangan berani berkomentar frontal jika tidak mengetahui masalah. Jadinya sempat nancep juga kata berdosa itu di hati saya yang lemah ini. 😬

Bukannya saya baperan, tapi sungguh kata-kata itu seperti vitamin penumbuh untuk rasa tidak enakan saya terhadap orang tua. Kalau toh akhirnya setuju setelah mengetahui permasalahan kenapa kata-kata itu harus dilontarkan? Apa salahnya bertanya dahulu sebelum melempar hasil penilaian dewan juri? Mas Anang pun bukan lho anda ituuuhh! 😜

Seperti inilah contoh kebanyakan dari kita. Mendahulukan asas praduga bersalah baru kemudian--untung-untung kalau mau tahu--mahfum setelah mengetahui duduk perkara. Ckck.. 😏

Percayalah, setiap keputusan dibuat melalui pertimbangan, maka sebaiknya pulalah penilaian-penilaian sok tahu kita itu dihapuskan, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan.. Nah.. Kek naskah undang-undang dasar kan jadinya.. Ckck 😌
Dan lagi-lagi saya "colek" para suami di luaran sana. Istrinya didukung terus ya, Pak, banyak hal yang bikin istri lelah di luaran sana juga, walaupun citra istri itu kebanyakan cerewet, tapi bisa jadi istri tidak cerita (kecuali ditanya?), salah satunya ya menerima pernyataan, penghakiman, penilaian seputar pilihan gaya pengasuhan, body shamming bahkan baby shamming.. Saling dukung, syurga menanti keluarga kalian. Aamiin..

Tag suaminya ya mom.. *ala-ala postingan FB dan IG yang tag bait. Wkwk.

Ohiya, sebaliknya, istrinya juga dinasehati, saling menasehatilah, biar gak jadi orang yang komentar seenak hati dan ampelanya eh.. mulutnya! 


Jangan lupa bahagia ibu-ibu hebat! *sending a big virtual hug* 🤗🤗 
Read more

4 Nov 2019

Wahai Para Suami, Dukung Istrimu Memberikan ASI Eksklusif

Pagi itu di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesi (AIMI) saya baca tentang curhatan seorang ibu menyusui. Ibu hebat itu produksi ASInya wow menurutku, gak bisa dibandingkan dengan pencapaian memerah ASI saya selama ini.

Tapi sekarang produksi ASInya menurun (yeah.. Just like me now), bagusnya dia tahu penyebabnya, dan sayangnya penyebabnya sedih, dia teringat anaknya yang meninggal karena saat itu dia gagal ASIP (don't really know the detail).

Saya yang gak pernah komentar akhirnya buru-buru mengetikkan isi hati. Mostly pujian untuk ibu itu. Kenapa? Karena memang dia ibu yang hebat! Dalam kondisi apapun ibu selalu hebat. Agree?

Baca juga: Stop Mom War, Semua Ibu adalah Pejuang

Tapi sayangnya, banyak yang abai dengan kehebatan dan gejolak -mulai dari hormon hingga berujung pikiran- yang dialami seorang ibu. Kita bicara kondisi sekarang, Ibu menyusui.


Apa sih Istimewanya Menjadi Ibu Menyusui?

Mungkin banyak yang berpikir apa sih istimewanya jadi ibu menyusui? Semua ibu melakukannya, itu kan hak anak, nothing special.

Berkomitmen untuk memberikan ASI pada anak tidak semudah itu Ferguso. Saya gak bicara sebagai keluhan, bukan.. Tapi ingin lebih mengingatkan lagi.. Terutama untuk Suami dan keluarga terdekat, jadilah pemberi dukungan terbaik untuk para ibu menyusui. Mereka lelah, tapi tak mengeluh.. Berikan sedikit saja pujian, it will means a lot. Beside that, they deserve it, right?!

Ibu sih gak gila pujian, tapi sungguh pujian, bantuan, bahkan hanya sekadar menawarkan bantuanpun bisa membuat ibu mewek, merasa didukung. Iya, ini pengalaman pribadi banget...

MengASIhi itu harus keras kepala. Banyak hal yang menjadi tantangan bagi ibu menyusui. Mulai dari ASI yang "dirasa" tidak cukup, puting lecet, luka.. Bener-bener luka karena digigit, mastitis, bayi menolak menyusu, bayi sudah minum banyak tapi ujung-ujungnya gumoh, bayi menyusu tapi harus nempel berjam-jam bahkan seharian, harus pompa ASI di tempat kerja, sudah pompa tapi hasilnya sedikit, pas hasil pompanya banyak malah tumpah, omongan orang dengan segala kepercayaan gak benernya, hantu sufor dan yang paling berat itu kalau ibu sudah baby blues.. huftthh.. Seriusss.. Banyak hal yang melelahkan.. Menyedihkan.. Kalau gak keras kepala, bisa bubar sebelum buka beha naik panggung. Wkwkwk..

"Bukannya kalau segala sesuatu dijalani dengan ikhlas, semuanya akan terasa ringan?" Aduuhh.. Gemes kalau ada yang menimpali seperti itu. Kami para ibu juga wanita, ingin dimengerti dengar tutur lembut dan laku agung.. Ealahh.. Malah nyanyi.. Wkwk..

Jadi gini Bambang.. Kami para ibu juga manusia, bisa lelah, butuh bantuan fisik maupun finansial, butuh dukungan walau terlihat setrong! Si baby lucu itu memang anak kami, tapi apa bukan anak sesesuami juga? Pliisss pakbapak.. Istrinya didukung, kadang cukup didengarkan saja, dikasih pukpuk saat dia menangis itu sungguh seperti air hangat yang diminum dan mampu membantu produksi ASI.

Tunjukkan kepedulianmu pakkk, jangan mentang-mentang ada ibu atau mertua yang bantuin, anak nangis kejer juga si lelaki yang katanya bapaknya itu malah tetap asyik tidur. Bangun pliiiisss, tanyain kenapa, dampingi dan pastikan kebutuhan kasih sayangnya terpenuhi. #EhGimana? 😅

Sering-sering baca artikel tentang perkembangan anak ya pak bapak, perlu banget baca ayahasi.id, kan yang wajib mengasuh anak bukan cuma ibunya saja. Bahagianya perempuan itu sebenarnya receh kok.. Perhatian adalah kuntji!

Baca juga: 5 Alasan Ibu Tidak Menitipkan Anak pada Kakek Neneknya

Repot Amat, Kasih Susu Formula aja Biar Bebas

Aduuhh.. Ada rotan yang biasa dipake buat mukul kasur yang dijemur gak seeehh.. Kupengen kasih pukpuk ke orang yang ngomong gitu.

Berbicara tentang kebebasan, memang ibunya kemungkinan besar akan bebas, bisa ganti shift dengan suami untuk kasih minum bayi apalagi saat subuh. Tapi aduhaiii.. Bisa mastitis juga kami kalau ASInya gak dikeluarin, atau dipompa? Kalau bisa Direct Breast Feeding (DBF) aka menyusui langsung kenapa harus dipompa? Apalagi dikasih sufor.. Big No!

Menyusui juga satu bentuk kesyukuran kami lho.. Ada banyak di luaran sana ibu yang mati-matian berusaha agar bisa mengASIhi anaknya, apa kabar kalau saya kemudian memilih kasih sufor saja supaya bebas, gak rempong. Sama sekali gak ada dalam pikiran saya.

"Yaaa, daripada rempong kan?"

Rempong-rempong kayaknya memang sudah bagian dari rumah tangga dehh.. Kalau ngomongin rumah tangga itu kan intinya SALING.. Saling mengerti, saling menyayangi, saling dukung.. Jangan pas leha-leha aja mau, pas urusan rempong diserahkan ke istri semua, di mana salingnya Bambaaaang?

Udah ahh.. Udah cukup panjang lebar kayaknya saya ngomong, padahal sejak awal intinya cuma dukungan, caleg aja didukung, masa istri sendiri nggak sih? 😅
Dan tolong, siapapun kalian yang membaca tulisan saya ini, tolong banget, jadilah bagian dari support system terbaik, tersweet bagi busui dalam lingkungan keluargamu, kalau belum ada, lingkungan pergaulanlah.. Ngomong yang baik-baik, tebarkan energi yang baik. Saya doakan, umur kalian berkah.. Aamiin

Ini jarang-jarang lho tulisan saya ditutup permohonan seperti ini. Gemes banget soalnya... Wkwk..

Yasudahlah.. sudah keluar juga salah satu topik yang menyita perhatian saya ini.. Buat para busui, keep strong! Kita sama-sama belajar, perbanyak baca atau tanya sana-sini, selalu percaya ASImu selalu cukup. *peluk dari jauh*

Ummu Aqif
Read more

16 Jul 2019

Episode Baru LDM: Sungguminasa

Long Distance Relationship (LDR) atau yang lebih suka saya sebut sebagai Long Distance Marriage (karena statusnya sudah jelas..wkwk) sebenarnya bukan hal yang baru dalam pernikahan kami. Latar belakang pekerjaan suami yang bekerja di sebuah organisasi yang dinamis membuat keluarga kami harus siap dengan segala kemungkinan pindah.

Tapi saya percaya, bahwa setiap penetapan melalui Surat Keputusan yang di dalamnya tercantum nama suami, akan mempunyai episode, rasa dan ceritanya masing-masing.

Termasuk saat suami menelepon saya 8 Juli kemarin.. Saat dimana Episode baru LDM kami kemudian dimulai..

Hari itu cukup hectic, saya yang sedang izin untuk mengantar Aqif ke posyandu dan mengurus makanan menu 4 bintang pertamanya dibuat kaget dengan kabar kelulusan suami.

Suaranya pelan diujung telepon, antara senang dengan pencapaian suami yang hanya coba-coba mengikuti tes, penempatannya tidak jauh seperti yang kami takutkan, atau harus sedih karena waktu keberangkatan yang begitu mendadak. Tidak ada tawar-menawar, besok (9/7/19) suami sudah harus berangkat menuju Sungguminasa. SHOCK!


Ya, walaupun di telepon saya tetap mengucap Alhamdulillah, tapi saya tidak bisa berbohong dan menyembunyikan rasa kaget saya. Saya coba berpikir panjang dan mencari celah agar rasa syukurlah yang mendominasi.

Hebatnya pikiran saya, saya masih sempat berpikir memback up kegiatan saya besok yang harusnya mendata di lapangan tapi yakin pasti akan tersita dengan aktivitas packing dan mengantar suami ke bandara.

Beruntung saya berhasil melakukan wawancara untuk 3 usaha dalam waktu yang cukup singkat dalam cuaca yang cukup mendung. Alhamdulillah Allah mudahkan.

Menjelang Magrib suamipun pulang, membawa segala harta bendanya yang ada di kantor dan dari mobil dinas. Dan runtuhlah sudah ketegaran yang coba saya bangun saat melihat suami menggendong Aqif dengan wajah sedih dan tatapannya yang entah dilayangkannya ke mana. Saya hanya bisa menghibur dan pastinya ikutan mewek... 😥

Benar kami tahu suatu saat akan ada kepindahan dan LDM seperti ini, tapi entahlah, kami mungkin tidak pernah benar-benar siap, semuanya masih terasa mengejutkan. Hati kami tidak pernah kami siapkan, terutama dalam waktu secepat ini.

Malam itu juga, kami adakan makan malam dadakan, mertua dan bapak saya yang sangat susah diajak makan di luar rumah, Alhamdulillah sangat kooperatif dengan sedikit bujukan. Kami makan bersama, mencoba membangun kebersamaan yang entah kapan bisa seramai malam itu lagi, minus adik ipar dan keluarga kecilnya.


Keesokan harinya, sejak pagi kami sibuk packing, saya ke kantor sebentar untuk handkey, kebetulan hari itu jadwal saya untuk ke lapangan, jadi tidak wajib stay di kantor. Kewajiban sudah saya siasati kemarin, saya bisa fokus untuk galau mengantar hari ini.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal selain kenangan di rumah, sebagian barang-barang keperluan milik suamipun dimasukkan ke mobil. Kami menuju bandara dengan perasaan yang bercampur aduk.

Saya sudah berpikir mengatur siasat dalam memutus rantai panjang rindu nanti, kemungkinan terbaik dari segi waktu adalah saya dan Aqif yang berangkat ke Makassar. Masalah uang dan kesiapan Aqif akan dipikirkan belakangan. Sungguh kesempatan ini sudah cukup mengangkat sedikit remahan galau dalam skenario penuntasan rindu.

Cukup cepat kami tiba di bandara. Setelah melakukan check inn, suami dan rekannya keluar lagi. Kami bercengkrama mencoba berquality time sebaik mungkin. Saya masih mencoba tegar dengan melakukan senyum palsu melalui selfie.

Waktu semakin sempit, mau tidak mau suami harus pamit untuk menuju ke ruang tunggu. Saya mewek lagi melihat suami yang membuang nafas panjang saat harus melepas Aqif. What a heartbreaking moment. 😞

Malam menjelang tidur, saya siapkan gambar untuk diposting di Instagram, untuk mengenang momen shock ini, tapi ternyata saya malah sudah tidak bisa berpalsu-palsu lagi. Saya memang tidak perlu pura-pura tegar lagi di depan suami dan keluarga, hanya ada Aqif yang tertidur. Saya sudah bebas berekspresi menumpahkan kegalauan... Besoknya mata bengkak dong! Wkwk..

Dan sekarang, beberapa hari sudah berlalu, rasanya masih saja ada yang hilang, teringat di bandara, saya sudah menghitung kemungkinan untung rugi jika suami harus pulang, Makassar-Kendari memang tidak begitu jauh jarak tempuhnya melalui pesawat, tapi jika harus pulang Sabtu dan kembali hari Minggu, rasanya terlalu cepat.

Saya cek lagi jadwal penerbangan di aplikasi Pegipegi. Sudah agak turun sih ya harganya, dan ada jadwal penerbangan yang mendukung saya jika harus berangkat malam hari.

Tau diri dong saya, bukibuk bawa bayi dan jika ingin pergi bersama, mau tidak mau harus ada bagasi. Saya cek tiket pesawat citilink, duh lumayan banget apalagi kalau sudah dipotong diskon gede yang ditawarkan pegi-pegi. Beneran gak nyangka diskonnya sebesar itu, enak bangetlah kalau mau beli tiket pesawat online.


Dan waktu ngecek-ngecek harga tiket pesawat, saya menemukan keunggulan aplikasi terbaru pegipegi ini, apa coba? Tuh, titik 3 di sudut kanan atas. Itu memudahkan banget kalau ingin melihat kode promosi yang mungkin lupa dicopy. Nyenengin bangetlah kalau mau merencanakan perjalanan pakai pegi-pegi.

Soon, Insyaallah segera ketemu lagi ya Beb, Aqif juga rindu, sejak ditinggal tidur malamnya tidak senyenyak biasanya. Tidur siang juga berantakan. Ngaruh di baby juga ternyata LDM itu.. Pengaruh di emaknya mah jangan ditanya.. Huhu..

Teman-teman ada yang LDM juga? Sharing cerita dooongg..
Read more

1 Jul 2019

Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Hellooo.. Ibu baru ini kembali menyapa sambil bersih-bersih sarang laba-laba di blog. Hihi..

Harap maklum, kesempatan menulis kegencet urusan domestik dan usaha untuk menjadi wanita kuarier yang gak nyusahin teman sesama staf.. (yeah.. I think i have to tjurhat in this blog about my guilty feeling.. Soon, maybe? 😝).

Oke, kita fokus pada drama penentuan HPL dulu yess.. Seperti yang teman saya bilang di kolom komentar postingan berjudul Kehamilan Trisemester Ketiga, si bayik sudah mau MPASI dan cerita drama melahirkan yang ditunggu-tunggu itu belum juga terkuak itu belum juga saya ceritakan. I have to write it, ASAP!

Kenapa temen saya melit (kepo) banget? Entahlah, dia dan banyak orang mungkin tidak menyangka bahwa harus melalui 2 kali induksi. Jangankan mereka, saya saja terkejoet terheran-heran.. Wkwk.. Tapi apapun itu, skenario dari Allah tidak bisa diprediksi, all we have to do are.. Berdoa, berusaha dan BROJOL sesuai keyakinan masing-masing! 😅

Iya kan? Bahkan pada suatu titik yang telah kita usahakan, kalau keadaan tidak memungkinkan, mau tidak mau kita harus menyerah pada keadaan, seperti yang saya rasakan, NYARIS!!!

Yuks mulai..


Drama Penentuan HPL
Sebagai seorang bumil (pada waktu itu), saya tentu saja banyak mencari referensi melalui internet, terlebih lagi pengalaman dari teman-teman yang sudah melahirkan, baik yang berada pada satu satuan kerja dengan saya, ataupun yang berada di pulau lain. Pengalaman dari dokter ini, inu, dan itu.

-Dokter S-
Dokter S adalah dokter yang selama hamil rutin saya kunjungi, sejak usia kandungan 8 bulan, beliau memberikan tanggal 1 Januari 2019 sebagai HPL saat saya meminta surat keterangan untuk kelengkapan pengajuan cuti di kantor.

Wah.. Tanggal cantik banget, tapi juga mengkhawatirkan karena pada saat itu adalah hari libur, takut nakes dan orang-orang yang terlibat malah sedang susah dihubungi atau apalah..

-Dokter A-
Karena saya berencana melahirkan di rumah sakit lain di Kota Kendari, saya kemudian mencoba memeriksakan diri pada dokter kandungan yang diketahui bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.

Tempat prakteknya juga di RS tersebut. Pengalaman pertama di bagian registrasi sudah kurang mengenakkan, tapi namanya kita lagi butuh ye kan? Jadi disabar-sabarin.. Fiuhh..

Tiba saatnya saya diperiksa, dokter langsung menyatakan bahwa HPL saya sudah tinggal menunggu waktu, rentangnya 1 - 15 Desember 2018. Sontak saya dan suami langsung beradu pandang *yaelah, kek sinetron yak?! 😆* pikiran saya kemudian melayang memikirkan pekerjaan saya yang masih banyak di waiting list. 😅

Next.. Saya tentu saja jadi galau dan mencari third opinion..

-Dokter I-
Nah, di tengah kegalauan hati tentang second opinion yang tak beririsan bagai diagram venn itu, saya tidak sengaja dapat info bahwa dokter I juga bekerja sama dengan RS yang ingin saya gunakan untuk melahirkan.

Oke fix, dapat waktu yang cocok untuk periksa, sayapun merasa cocok dengan dokter I. HPL dari dokter I adalah tanggal 25 Desember 2018. Alamak nakk.. Kamu suka sekali hari libur yak? Hihi..

Sejak usia kandungan 9 bulan, setiap minggu saya memang memeriksakan kandungan. Mungkin kunjungan ketiga atau keempat saya mulai kabur lagi dari dokter I. Kenapa? Karena menurut hasil pemeriksaan dokter I, ketuban saya mulai keruh, paling lambat tanggal 26 Desember saya sudah harus "menyerahkan diri" dengan atau tanpa rasa sakit. Pilihannya adalah induksi.

Duhh.. Sudah sering deh dengar cerita sakitnya induksi, saya gak mau, lebih-lebih orang tua saya yang menginginkan saya melahirkan dengan cara alami, gak pake diinduksi aka dirangsang terlebih dahulu.

Maka kembalilah saya ke dokter S..

Dokter S bilang, kalau keruh sih nggak ya.. Dalam rentang waktu 1 sampai 3 hari dari waktu pemeriksaan kondisi bayi dan ketuban masih aman, saya tidak lupa untuk menanyakan kemungkinan melahirkan secara normal, dan dokter memberi sinyal operasi karena kondisi bayi yang besar. OMG!

Saya kabur lagi dong.. Induksi aja tak rela apalagi harus Sesar..Wkwk 😅

Tidak menunggu lama, keesokan harinya saya langsung ke dokter L

-Dokter L-
Sudah banyak yang bilang bahwa dokter L bagus, tapi karena rumah sakit tempat beliau kerja bukan tujuan saya, jadi tidak saya lirik sama sekali. Baru kemudian saat mencari (udah berapa nih? 😅) third opinion yak? Saya akhirnya mengantri untuk diperiksa.

Kesan pertama enak banget, dokternya lembut dan menjelaskannya sabar, gak buru-buru, dan yang paling penting, sangat menenangkan sekali.

Hasil pemeriksaan beliau bilangnya ketuban memang keruh, tapi bisa jadi karena kulit bayi atau hal lainnya. Ahayyyy... Dari sini niat untuk menunggu rasa sakit alami yang datang itu makin mantap! Kami sekeluarga lega karena dokter S bilang masih bisa menunggu sampai tanggal 10 Januari.😊

Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!

What The ...¥£€¢¤π©®!!

Bersambung

Note:
Berdasarkan pengalaman dan hasil nanya-nanya ke teman-teman, HPL (seperti juga namanya perkiraan) memang hanyalah perkiraan dari dokter saja, hanya rentang waktu, bisa jadi lahirannya lebih cepat, bisa jadi lahirannya lebih lama dari HPL, bahkan ada yang bisa tepat. Tinggal gimana tanda-tanda alam itu muncul aja sih.. Semua kembali pada ketetapan Allah, dokter hanya menganalisa melalui keilmuan yang dimiliki.

Makanya, kalau kebetulan kamu yang baca ini juga sekota dengan saya, jangan menganggap saya menjelekkan dokter ini atau itu.. Semuanya punya keunggulan masing-masing, bukankan dokter itu seperti penjahit? Cocok-cocokan seyyy.. Kamu cocok di dokter ini, belum tentu saya cocok di dokter yang sama. Begitupun sebaliknya. 😊

Daan.. Kalau kamu yang membaca juga galau seperti saya (menentukan HPL), tetap berpikir positif dan pilih deh yang mana yang kamu yakini, ini kalau mau nunggu tanda-tanda alami ya.. kalau mau sesar mah bebas, tinggal cari tanggal cantik berikut persiapan yang sudah oke juga. 😆

Kalau kamu kepo sama cerita kehamilan saya, nih saya kasih linknya :D :
Kehamilan Trisemester Pertama
Kehamilan trisemester kedua
Link semester ketiga ada di awal tulisan yess..

Buibuk ada yang punya pengalaman serupa dalam menentukan HPL? Share di kolom komentar ya..

Read more

13 May 2019

Kehamilan Trisemester Ketiga

Hellooooo...

Tulisan berseri ini sepertinya kurang afdal kalau tidak saya selesaikan, walaupun sudah banyak lupanya. Ya maklum.. Mungkin tergerus oleh galau menetukan HPL, galau mengikuti HPL yang berbeda-beda dari dokter, atau hilang semua saat menahan sakit induksi..

Aahh.. Jadi spoiler kan..huhu..

Jadi sebisa mungkin tulisan seri kehamilan ini saya lanjutkan, bukan hanya buat nambahin tulisan di blog aja, tapi juga untuk pengingat saya yang pelupanya aduhai ini..

Akhirnya tulisan tentang kehamilan trisemester pertama dan kehamilan trisemester kedua ada lanjutannya juga, terharuuu..

Let's start 😊


Bulan Ketujuh Kehamilan
Kehamilan bulan ketujuh rasanya gak banyak hal yang baru selain sudah mulai sesak tidur telentang. Memang sih, dokter menyarankan untuk tidur menyamping terutama menghadap ke sebelah kiri, kanan boleh, tapi jangan lama-lama, telentang sifatnya terlarang karena bisa menghambat supply nurisi dari ibu ke bayi.

Padahal, kalau ngikutin sebelum-sebelumnya nih, saya lebih nyaman tidur telentang. Walaupun saat mulai tidur dipaksakan untuk menghadap ke kiri dan ke kanan, ujung-ujungnya pas bangun atau terbangun, ya dalam posisi telentang juga. Hehe..

Diusia kehamilan ini saya juga masih rutin memeriksakan diri ke dokter, USG untuk memantau kondisi bayi. Saya lupa kapan tepatnya USG 3 Dimensi (3D), sepertinya dibulan ini. Katanya sih memang usia kandungan yang ideal untuk melakukan USG 3D, sebelum si bayi menyembunyikan identitasnya wajahnya alias sudah mulai ngambil posisi sujud.

Bulan Kedelapan Kehamilan
Bulan kedelapan ini sudah mulai merisaukan posisi kepala bayi yang sejak bulan ketujuh sudah ada di bawah, tapi belum juga mulai turun. Dari beberapa kali pemeriksaan ada kerisauan tentang tali pusar yang melilit juga (bulan ketujuh) tapi dari hasil USG bulan kedelapan ini, dokter bilang sudah tidak lagi ada lilitan. Pakai cara ngomong ke janin, entah emang ngaruh apa nggak. Biasa, hasil searching di internet. 😅

Bulan Kesembilan Kehamilan
Bulan puncaknya kehamilan, karena dibulan ini segala rasa was-was muncul. Harusnya begini-begitu, harusnya ini-itu, segala hal seperti sebuah target yang harus dicapai.

Dimulai dari posisi kepala janin yang Alhamdulillah sejak akhir bulan kehamilan sudah mulai berada di bawah. Kemudian dilanjutkan dengan kepala bayi yang tidak kunjung turun memasuki pinggul. Walaupun aktivitas yang disarankan seperti banyak jalan pagi dan naik turun tangga sudah saya rutinkan, kepala janin tidak juga kunjung masuk ke pinggul. Ini jadi perhatian banget karna target saya adalah melahirkan normal. Tapi kalau teman saya waktu itu bilangnya dia juga gitu sih (sudah melahirkan 3 anak secara normal), kepala janinnya turun sesaat sebelum bayi lahir. Gak perlu jadi beban pikiran, tapi ya.. Tetap sajaaaa.. Huhu..

Hal yang juga menyita banyak pikiran saya adalah Hari Perkiraan Lahir atau yang sering disingkat HPL, karena terkait erat dengan penentuan tanggal cuti. Ternyata semakin banyak mengunjungi dokter, saya semakin bingung, berharap mendapati perkiraan yang saling menguatkan, ternyata malah kebanyakan beda, bahkan ada yang melesat jauh dari HPL lain. Huahhh..

Di bulan kesembilan ini tidur malam semakin berkurang, sementara yang saya baca untuk balas dendam tidur di waktu pagi (yang mengalami pasti tau, pagi itu bakal ngantuk banget karena semalaman udah begadang) sebaiknya dihindari, karena memang ada efek buruknya secara medis. Siang juga sedikit saya kurangi dengan tetap mengikuti aktivitas luar rumah dihari libur.

Mama ingin saya melahirkan di rumah sakit yang berbeda dengan tempat saya sering kontrol, maka memasuki bulan kesembilan juga, saya mulai "kenalan" dengan dokter ahli kandungan yang baru.

Sementara itu, berat badan bayi terus bertambah secara konsisten setiap minggunya. Dokter yang saya temui setiap minggu itu sudah memberi batasan, paling lambat tanggal 26 Desember sudah harus masuk ke rumah sakit, dalam keadaan sakit (sudah ada pembukaan) ataupun tidak.

Galau..

Bersambung di tulisan berikutnya ya.. Harus banget ditulis tersendiri.. Hehe

Read more

15 Jan 2019

Gak Jadi Baby Moon karena Gak Dapat Izin Cuti, Kesal?

Awal tahun! Masih musim liburan gak sih? Hihi..

Saya jadi ingat tahun lalu deh, saat Abang sudah mulai melempar keinginannya untuk liburan bareng. Mungkin sudah jenuh dengan pekerjaan kantor setahun sebelumnya.

Waktu berlalu, istri yang juga katanya suka liburan ini selalu beralasan pekerjaan ini gak bisa ditinggal, pekerjaan itu gak bisa ditinggal, apalagi ada pekerjaan baru. Makanya liburan gak jadi-jadi.

Sampai akhirnya saya positif hamil lagi pada bulan keempat tahun 2018. Alhamdulillah, sesuatu yang kami tunggu-tunggu melalui berbagai upaya akhirnya membuahkan hasil.

Baca juga: Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Cara-cara Hits di Internet sampai Promil ke Dokter

Apa kabar liburan?
Dengan kebahagiaan yang kami rasakan, mabok selama hamil dan hasil membaca bahwa perjalanan pada trisemester awal masih cukup beresiko. Keinginan liburan berhasil diredam. Hanya berganti rencana dan nama saja, dari liburan menjadi baby moon...

Dan kemudian, pada bulan keenam, saat kehamilan sudah berada pada trisemester kedua, baby moonnya tetap tidak berhasil terlaksana. Hahhah.. *Pura-pura tegar :D


Akhirnya, saya liburan di rumah saja dan Abang berkeliling di Jakarta dan Bandung. Ah.. perih hati ini... Tapi saya ikhlaskan agar Abang bahagia, melepas penatnya biar bisa refreshing.

Apa daya saya tidak bisa cuti karena sedang mengerjakan publikasi yang sedang deadline di kantor. Iya, saya gak dapat izin cuti. Ah..  kerjaan kantor ini, apa sih yang tidak deadline?

Padahal sudah muncul ide untuk nonton penutupan ASEAN GAMES saja, sekalipun tidak bisa mengikuti kehebohan saat pembukaan, setidaknya euforia yang bikin kita sebagai penonton ini jatuh cinta dan haru berkali-kali itu bisa dirasakan secara langsung walau sedikit.

Tapi, Abang kalah gesit dari para fans K-Pop yang sudah terbiasa dengan kegiatan berebut tiket (penutupan ASEAN GAMES) secara virtual. Langsung bikin plan B ((Baru bikin??)).

Akhirnya Abang melipir ke Lembang bahkan hampir nyasar melebihi tujuan. Beruntung, saya punya Devi kalau sudah urusan Bandung. Singkat cerita Yandanya Janilah (Suami Devi) yang mengantarkan Abang berlibur. Walau Abang sering juga mengirimkan pesan kesepiannya, bahwa saya seharusnya ada di sampingnya. Huhu.. Saya kan jadi merasa bersalah..

Tapi, alhamdulillah saya tenang walau baby moonnya diwakilin suami saja. LOL. Saya begitu tertolong dengan jalinan silaturahmi yang tidak pernah saya sangka akan berumur panjang ini.

Cuma modal kenal sesama bloger, kopdar sekali doang, itupun dianterin keliling Bandung, sempat bisnis kecil-kecilan bareng, sekarang berlanjut suami-suami kami yang jalan bareng.

Semoga bisa segera ke Kendari ya Deev, saya udah lama ngutang nih ke kamu, ini malah nambah ke suamimu lhoo.. *Ketjuupp :*


Jadi, kesel gak karena gak jadi baby moon? Gapapa, ikhlas kok. Cuma ya teteup.. Ini pengingat, bahwa saya masih butuh liburan, kalau baby moon gak jadi, mungkin nanti bisa bertiga sama si kecil kalau sudah bisa dibawa jalan.

Nanti lihat jadwal cuti bersama 2019 aja kali ya? Biar gak terhalang permohonan cuti tahunan seperti tahun lalu lagi. :D

Trus, pengingat juga, bahwa perjalanan bisa membawa kita pada hal-hal yang tidak terduga, termasuk betapa Allah SWT tuh maha pemurah dengan memberi kita sahabat-sahabat yang tidak pernah pamrih dalam menolong.

Ketiga nih ya, walaupun saya tidak keluar untuk liburan. Tapi jalinan silaturahim antara saya dan Devi tetap jalan, bahkan Insyaallah tersambung lebih panjang. Bayangin, dari sama-sama masih gadis dan sekarang sudah punya suami! Alhamdulillah..

"Perjalanan akan mengaarkanmu banyak hal, termasuk bagaimana bahagianya pulang bertemu orang yang kau cintai."
(Irly)

Gimana teman-teman? Punya pengalaman merencanakan liburan yang akhirnya gagal tapi kemudian dapat hikmah yang apik? Teman rasa saudara itu nyata, dan sering kali hadir tanpa kita duga yess! ^^

Read more

17 Dec 2018

5 Tip Belanja Melalui Siaran Langsung (Live) di Facebook

Sale.. Sale.. Sale..

Kata yang umum kita baca pada sebuah toko di akhir tahun. Tidak main-main, diskon yang ditawarkan juga bikin emak-emak yang gak pengen belanja malah singgah di tempat belanja, setelah singgah nanya ukuran, warna, model lain, kemudian transaksi! Heheh.. :p

Tapi walaupun momennya pas, saya tidak akan membahas itu. Ada yang lebih menarik hati saya untuk dibahas. Yaitu tren berjualan melalui siaran langsung, terutama lewat facebook.

Kenapa kemudian ini menjadi perhatian saya? Karena eh karena... Saya adalah korbannya! Buahahahha..

Entah sejak kapan tepatnya para pedagang memanfaatkan fitur siaran langsung di facebook ini. Yang jelas, saya mulai banyak melihatnya pada awal tahun 2018 ini.

Awalnya, seperti biasa saya hanya melihat beranda dari atas ke bawah. Lalu kemudian nyempil siaran langsung di sebuah grup jual beli di facebook. Saya penasaran dong, nontonlah saya. Kesannya? Kreatif walaupun kadang lucu juga kalau lihat yang jualan.

Hari berlalu, dan saya kemudian sudah mengirimkan alamat lengkap, disertai nomor telepon pada acara live seorang pedagang. Saya sudah menjadi bagian dari "korban" mereka manteman. Wkwkwk..

Di suatu waktu yang lain, saya kembali memesan pakaian. Sama seperti waktu transaksi pertama, saya kemudian sudah menerima barang dengan sistem COD (Cash on Delivery/ Bayar di tempat).

Oke fix.. Kedudukan reality show Korea yang sering saya tonton tergeser oleh aktivitas cuci mata dan cuci dompet ini. 😂

Tapi saya bangkit manteman, saya akhirnya memilih untuk tidak menjadi korban lagi. Maka saya aja yang jualan secara live! Haha.. Nggak ding.. Saya masih malu kalau harus jualan secara live gitu. Iyalah.. Gimana kalau calon pembeli minta bajunya dicobain ke badan? Perut lagi gede gini, pusar juga lagi seksi-seksinya. Hahaha..

Finally, saya belanja lagi. Hihi.. Jangan diketawain dulu. Beneran saya belanja, tapi buat jualan lagi dong! Hahah.. Jiwa belanja saya masih kalah dengan insting berdagang saya.

Bermodal banyak mengamati aksi live dan kepo sana-sini, saya dapat supplier untuk memenuhi hasrat berdagang barang bagus dengan harga miring tanpa harus datang ke tempatnya langsung. Ah, keren emang guwe inih. *Abaikan bumil yang lagi pengen narsis ini. :p


Nah, dari beberapa pengalaman saya, saya pengen share 5 tip untuk belanja melalui siaran langsung (live) di Facebook:
1. Kenali nama dan sifat bahan pakaian
Ini penting, agar teman-teman tidak kecewa saat barang datang, kalau memang masih asing dengan nama bahan yang makin banyak, bisa googling dulu, atau bisa bertanya saat siaran langsung. Misalnya "bahannya adem gak?" "bahannya melar gak?" "transparan gak?" Dan lain-lain yang menjadi kesukaan teman-teman.

2. Kenali ukuran tubuhmu
Selain nama dan sifat bahan, hal ini juga penting. Kalau belanja untuk diri sendiri tuh, wajib banget tahu ukuran badan. Kalau saya sih kurang suka ukuran yang hanya pake S, M, L, XL,  XXL gitu, karena bisa banget berbeda ukurannya untuk barang dari luar negeri. Yang paling pasti itu ya ukuran lebar dada (LD) aja, biasanya saat live langsung diukur tuh oleh pedagangnya, bahkan kalau bahannya melar, diukurin tuh ukuran standar sampai melarnya jadi berapa Cm.

Maka, ketahui ukuran lingkar dada diri sendiri atau orang yang mau dibelanjain, biar gak kekecilan atau kegedean barangnya saat sampai di tangan

3. Siapkan Kuota dengan Jaringan Terbaik
Duh, ini jadi kayak mau ngiklan saya.. Hahah.. Seriusan nggak ya.. Jadi ini beneran dibutuhkan banget kalau mau ikutan belanja saat ada pedagang yang jualan secara live.

Kenapa hal ini menjadi penting? Karena kan gak asyik banget saat ingin belanja atau bertanya pada penjual tapi gambarnya loading, atau bahkan keluar sendiri dari live yang sedang ditonton.

Atau kasus lain, teman-teman sudah memesan, tapi ternyata tidak muncul sama sekali di layar penjual, artinya apa? Gak terkirim.. Huhu.. Pernah banget dulu saya kayak gini. Udah pesan banyak banget, tapi gak terbaca sama sekali. Baju idaman melayang ke pembeli lain...

4. Perhatikan kondisi keuangan
Yang namanya belanja, biasanya gampang khilaf, apalagi melalui fasilitas siaran langsung seperti ini. Kadang kita gak tahu sudah belanja apa saja, berapa banyak dan berapa kilogram! Giliran sudah saatnya rekapan baru ingat, oh iya, ternyata saya beli ini, beli itu, beli ini dan itu, tagihan membengkak!

Horor manteman, jadi pastikan kondisi keuangan mencukupi untuk belanja, kasihan yang jualan kalau tiba-tiba barang sudah di-keep tapi malah dibatalkan. Yang kamu lakukan itu jahat, Rangga!

Baca juga: Tentang Penghasilan Tambahan

5. Pahami aturan setiap penjual/pedagang
Setiap penjual/pedagang memiliki aturan masing-masing, baca dulu aturannya. Tapi yang umum saya perhatikan antara lain:

- Kalau melakukan pemesanan saat siaran langsung, ada kata kunci yang diberikan.
Misalnya: Fix gamis (kemudian warna yang diinginkan) jadi "Fix gamis hijau" atau "Fix gamis kuning".

- Cantumkan nomor WA.
Hampir semua pedagang mewajibkan ini, tujuannya adalah untuk memudahkan mereka melakukan rekap pembelian saat siaran langsung berakhir. Aturan lain mengenai pencantuman nomor WA ini adalah, saat melakukan pemesanan seperti di atas, nomor WA harus sekaligus disertakan, tidak berpisah. Misalnya: Fix gamis hijau 08521234xxxx atau nomor WA di depan kemudian kata kunci yang disyaratkan.

Kasus diatas biasanya kalau pembelinya ramai, jadi pencatatan harus dilakukan cepat dan penjual takut chat lanjutan (nomor WA yang dikirimkan menyusul) tertimpa oleh banyak chat lainnya.

- Batas transfer
Sesaat setelah rekap diberikan, penjual biasanya punya aturan sendiri-sendiri. Misalnya batas transfer adalah 1x 24 jam, kalau belum melunasi tapi mau disimpankan dulu (keep) pembeli bisa transfer 50% dari total rekapan, dan berbagai aturan pembayaran lainnya.

- Pengiriman
Pedagang biasanya sudah menentukan pengiriman apa saja yang digunakan atau bisa dipilih oleh para pembeli. Penting untuk menanyakan hal ini terlebih dahulu sebelum belanja. Paling enak itu kalau penjual bisa melayani pengiriman melalui semua ekspedisi, jadinya bisa memilih pengiriman yang paling cepat atau paling murah, you choose it. :)

Nah, setelah berbagi tentang tip belanja melalui siaran langsung, kita bahas tentang keuntungan adanya aksi live ini, keuntungan dari sisi penjual dan pembeli yess..

Keuntungan Untuk Penjual:
1. Mengisi waktu.
Apalagi kalau sedang berjualan di kios, ini keuntungan buat penjual sih. Kadang pengunjung kan ada jam-jam ramainya, atau ada hari-hari ramainya, bisa banget manfaatin fasilitas siaran langsung ini untuk mengisi waktu sambil menunggu pembeli.

2. Menjemput pembeli tanpa biaya transport.
Cuma modal kuota, ngetes baju di depan kamera, gak (lebih) repot angkat barang kesana kemari, penjual dan pembeli bisa terhubung tanpa jarak, di mana saja! Tinggal pintar-pintar jaga kepercayaan dari para pelanggan.

Keuntungan Untuk Pembeli:
1. Lebih Efisien.
Waktu untuk berbelanja itu sungguh susah dicari bagi wanita pekerja, entah pekerja kantoran ataupun yang sehari-hari waktunya dihabiskan di rumah mengurusi rumah tangga (biasanya justru merekalah yang lebih sibuk dan lebih capek). Kalaupun ada waktu luang, maunya leyeh-leyeh saja, meluruskan badan dalam waktu yang tidak panjang.

Nah, kalau di rumah, pembeli bisa mengerjakan pekerjaan atau leyeh-leyeh sambil belanja, tanpa harus keluar duit lagi sebagai biaya transportasi,  fix barang di penjual ini dan itu. Soalnya waktu live pedagang makin ke sini seperti gak ada istirahatnya, jangankan tengah malam, subuh pun ada! Mantapp!! :D

2. Lebih Fleksibel.
Yup, selain lebih efisien, belanja melalui siaran langsung juga jadi lebih fleksibel. Gak perlu dandan cantik dulu kalau mau belanja, dasteran aja shaayyy.. Gak jilbaban juga gak masalah. Santai banget. ^^

Resiko:
Yang namanya bisnis, pasti ada faktor resiko, walaupun cerita saya diatas itu kebanyakan enaknya saja.. hehe.. Jadi apa saja sih resikonya?

Ini saya bahas dari sisi penjual dan pembeli ya, disatukan saja, karena tidak begitu banyak sih menurut saya:
1. Ketemu Pembeli PHP
Yang namanya bisnis, ada pembeli yang PHP itu wajar. Tapi saya perhatikan kadang memang jatuhnya nyakitin yang jualan banget. Soalnya kadang sudah belanja banyak, eh, setelah direkap tiba-tiba banyak alasan saat diminta transfer uang atau yang paling parah, jawab enggak tapi WA ataupun FB langsung diblock.. Ealah.. Kalau dapat cerita begitu dari pera pedagang saya jadi ikutan gemes dan sedih. Kasihan yang jualan, udah capek teriak-teriak menjelaskan detail barang, misahin, rekap, tapi ujung-ujungnya diperlakukan begitu.

2. Ketemu Penipu
Nah, ini ada 2 versi:
- Penjual palsu
Ketemu dengan penjual seperti ini sangat mungkin terjadi. Adaaaa aja caranya menipu orang. Begitu ada yang belanja, transfer, maka akun akan diblock. Si penipu pun hilang dari radar. Jadi, pelajari benar-benar akunnya sebelum membeli. Jangan tergiur barang bagus ataupun harga murah.

Kalau saya pribadi biasanya stalking dulu, beberapa hari, atau beberapa kali si penjual melakukan live, baru kemudian memutuskan untuk belanja atau tidak. Stalking ini akan sangat membantu, karena biasanya akan ada petunjuk berupa komplain ataupun pujian dari yang sudah lebih dahulu belanja.

-Ketemu Penjual Jujur
Looh, kenapa ketemu penjual jujur ini masuk dalam kategori ketemu penipu?

Sabaar.. Begini, seringnya pedagang jujur itu disusupi oleh orang yang niat banget menipu. Jadi si penipu ikut nonton siaran langsung bersama pembeli lainnya. Lalu kemudian (kemungkinan) mencatat apa yang si A, B, C ataupun D pesan. Lalu kemudian lebih dahulu menghubungi pembeli, menyamar sebagai penjual, melakukan rekap, dll.

Daaan.. Dari cerita di atas teman-teman, itu kejadian nyata ya, ada yang benar-benar melakukan transfer. Dalam hal ini, ketelitian dari pembeli harus ditingkatkan, karena biasanya para penjual sudah mencantumkan nomor rekening dan nomor HP (pemilik ataupun admin) untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, cek dan ricek harus banget dilakukan yess..

***

Fiuhhh.. Panjang juga tulisan ini, hasil pengamatan, pengalaman dan dari hati banget ini.. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan.

Bagi teman-teman yang juga sudah punya pengalaman boleh baget dibagikan di kolom komentar, saya tunggu yess.. 😊

Read more

9 Nov 2018

Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Urut, Coba Resep yang Terkenal di Internet, Sampai Promil ke Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini religius banget ya pembukaannya.. Hehe

Gak gitu, ini karena apa yang akan saya tuliskan semata-mata hanya ikhtiar/usaha saya saja. Allah yang menentukan hasilnya. Semoga yang saya tuliskan tidak menyesatkan, saya berlindung kepada Allah SWT dari tulisan saya ini.


Jadi, saya pengen sharing tentang hal-hal apa saja yang saya lakukan untuk hamil. Saat memulai promil, usia pernikahan saya memang masih terbilang baru, belum sampai setahun, tapi karena menikah di usia 30 tahun, saya tidak ingin terlalu santai dengan salah satu tujuan menikah, menghasilkan keturunan, anak.

Awal pernikahan, ikhtiar hamil kami lakukan dengan cara umum dan alamiah saja. Suami makan banyak tauge dan saya banyak makan semangka (termasuk daging putih yang dagingnya agak keras itu), memperhatikan masa subur, termasuk tentunya hubungan suami istri itu sendiri (itu intinya kan ya? :D)

Promil dengan Folavit dan Ever E
Beberapa bulan belum ada hasil, saya mencari info di internet. Yang sudah banyak pengalaman pastinya sudah hafal nih. Asam Folat dan Vitamin E. Dengan harga yang relatif terjangkau, saya akhirnya mencoba membeli duet maut yang sudah banyak testimoni ini.

Hasilnya?
Folavit dan Ever E yang saya beli itu belum habis 1 papan (sekitar 12 butir) Alhamdulillah saya sudah hamil. Cara konsumsinya sehari masing-masing satu kali. Kalau tidak salah, siang setelah makan saya konsumsi Folavit dan malam sebelum tidur konsumsi  Ever E.

Tapi, diusia kandungan kurang lebih 5 minggu, saya keguguran.

Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Promil Melalui Resep/Prosedur dari Dokter
Sejak keguguran itu, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan program hamil. Dokter sebenarnya bertanya, sudah berapa lama menikah. Setelah saya jawab dokter bilangnya "Ah, belum cukup setahun". "Kalau sudah Setahun dan belum juga hamil baru bisa dikatakan infertil atau tidak subur." Jelasnya. Tapi saya bilang, bahwa ini adalah bagian dari usaha saya. Dokterpun menyetujui.

Sebelum bercerita lebih jauh, mungkin teman-teman mempertanyakan tentang konsumsi Asam Folat dan Vitamin E, kenapa tidak dilanjutkan? Toh, berhasil, bisa langsung hamil.

Jadi begini, saya mencari info lebih jauh tentang mengonsumsi duet promil yang sangat tersohor di mesin pencari ini. Katanya, salah satu efek samping dari vitamin E tanpa resep dokter adalah bisa memperbesar ukuran miom. Ini yang membuat saya berhenti saat itu, sumbernya internet ya, sayangnya saat mencarinya kembali saya tidak menemukannya. Nanti kalau ketemu lagi akan saya sematkan di sini.

Lebih lanjut, saya juga menemukan postingan yang di-share oleh Dr. Yudhistira, SpOG artinya beliau sudah membaca dan setuju dengan isinya. Silakan dibaca: Promillah Dengan Benar

Oke, sudah ya, bahas promil ala duet tersohor itu. Kita beralih pada program hamil dari dokter.

Untuk tindakan awal sebuah promil yang paling penting menurut saya adalah kesediaan dan keikhlasan suami untuk turut serta dalam program hamil yang akan dijalani. Kenapa? Karena untuk hamil, menghasilkan keturunan, itu dibutuhkan 2 orang, sepasang suami istri. Maka, keduanya harus mau untuk diperiksa, bukan untuk mencari kekurangan masing-masing, tapi untuk memperbaiki, itupun jika memang terdapat sesuatu yang harus diperbaiki. Tidak jarang kan kita menemukan ada suami yang hanya mengutus istrinya untuk memeriksakan diri ke dokter?

Lanjut

Alhamdulillah suami mau untuk terlibat dalam promil yang sudah kami sepakati. Untuk tahap awal, masing-masing kami diberikan vitamin/obat-obatan dulu. Abang dan saya diberikan vitamin, Ultravita untuk Abang dan Folamil Gold untuk saya.


Selain minum vitamin, saya juga diminta datang pada hari kedua haid. Tujuannya adalah ingin melihat perkembangan sel telur dan diberikan obat pembesar sel telur jika perlu. Obatnya diberikan untuk 5 hari, diminum sehari 1 tablet. Kalau gak salah namanya Provula. Pada promil tahap ini juga kami diberikan jadwal untuk berhubungan. Agak risih juga sih pake jadwal, hihi..

Oh ya, Abang juga diberikan rujukan untuk memeriksakan sperma ke laboratorium di kota kami. Abang malah deg-dengan minta ampun. Udah dibilangin jangan, karna bisa berpengaruh pada hasil tesnya. Stress dikit hasilnya bisa gak normal lho.. Saya tentunya tetap kasih support, gimanapun laki-laki gengsinya tinggi kalau sudah urusan kejantanan (sok tahu banget saya ini ya? Hihi).

Sedikit ngomongin tentang gengsi, mungkin ini ya yang membuat sebagian laki-laki memilih mengutus istrinya saja untuk memeriksakan diri. Padahal kalau membaca lagi, 30-40 persen masalah kesuburan ada pada laki-laki, 40 persen pada perempuan dan 20-30 persen adalah kombinasi masalah dari pasangan suami istri itu sendiri. (Sumber: ttps://www.alodokter.com/mandul-atau-tidak-pastikan-dengan-tes-kesuburan)

Mirisnya lagi, kalau perempuan tidak juga kunjung hamil setelah menikah, masyarakat kita buru-buru menunjukkan tangannya pada perempuan, seolah semua masalah kesuburan ada pada perempuan, kandungan turunlah, kandungan lemahlah, inilah, itulah.. Ckckck.. Padahal mau sesubur apapun perempuan kalau pasangannya punya masalah, urusan hamil tidak semudah mengganti saluran TV sekalipun remot sudah ada di tangan.

Hmmm.. sedih.. berharap suatu saat pemahaman seperti ini segera hilang dari muka bumi. Untuk hamil, seorang wanita juga butuh ketenangan lahir batin, jangan belum apa-apa udah stress duluan karena dituduh ini-itu.

Lanjut yess.. Unek-unek hasil dengar cerita dari sesama perempuan udah lumayan keluar.. hehe..

Sambil menjalani cara yang dianjurkan oleh dokter, kami mencoba terus patuh untuk menjauhi makanan-makanan instan juga berikhtiar mengonsumsi jus 3 diva.

Promil dengan Jus 3 Diva
Jus ini juga tersohor di internet, komposisinya adalah apel, tomat dan wortel (masing-masing 1 buah). Semuanya dijus menjadi 1, lalu diminum. Saya menggunakan apel malang, tomat buah dan wortel yang dijus tanpa disaring sebelumnya. Suami termasuk yang enek sebenarnya mengonsumsi jus ini, apalagi kalau tidak disaring, seratnya makin bikin enek. Tapi Alhamdulillah Abang tipe suami yang mau berusaha bersama, tetap diminum pagi dan malam hari walaupun wajahnya pasti gak enak banget saat minum jus ini. Saya siasati dengan memberikan setengah potong apel malang untuk dikunyah saja sebagai penawar. Selain itu Abang juga saya iming-imingi betapa sehatnya serat buah itu untuk pencernaan, sayang banget kalau dibuang. :D

Oh, iya. Manfaat jus 3 diva ini adalah untuk meningkatkan kualitas sperma. Biar lebih sehat kali yaa.. Saya juga konsumsi sih di awal-awal, tapi karna harga apel malang di kota kami sungguh menguras kantong, saya lebih fokuskan ke Abang saja. Pokoknya kasih suplemen terbaik untuk Abang dan saya sendiri, tapi menstruasi juga tetap rajin datang. hehe..

Kami tetap berusaha, saya tentunya makin banyak membaca. Sampai suatu ketika, dibulan Januari saya disarankan dokter untuk menjalani Hidrotubasi. Tujuannya untuk mengecek jika ada sumbatan pada saluran rahim. Saya sempat bingung juga sih, saya kan sudah sempat hamil, gimana bisa hamil kalau memang ada sumbatan. Tapi karna sudah bertekad untuk promil, benar-benar serius berikhtiar untuk memiliki keturunan, saya jalani saja. Ini bentuk komitmen. Cerita tentang Hidrotubasi, segala proses, rasanya, dan biaya hidrotubasi sudah saya buatkan tulisan sendiri ya..

Baca juga: Promil Hidrotubasi

Promil dengan Madu Yaman
Secara tidak sengaja, seorang teman kantor saya membaca postingan jualan, saya yang sedang mencari madu untuk suami waktu itu (biasanya beli yang ada iklannya di TV) ingin mencoba Madu Yaman yang disebutkan teman tadi. Harga memang jelas lebih mahal, hanya saja tidak ada salahnya mencoba pikir saya.

Rasa madu tersebut seperti madu pada umumnya, hanya klaim khasiatnya saja yang lebih mengarah pada kesuburan. Kalau tidak salah waktu itu hanya sempat beli 2 botol saja, yang pertama seharga Rp.185.000 dan yang kedua sudah dapat diskon menjadi Rp.175.000 kalau tidak salah harga segitu untuk kemasan 200 Ml

Sudah beberapa bulan menjalani promil dari dokter, dan madunya habis, akhirnya awal bulan Maret saya putuskan membeli dan mulai mengonsumsi buah Zuriat.

Promil dengan Buah Zuriat
Langkah ini saya ambil karena membaca banyak testimoni. Wajarlah ya, segala usaha dicoba. Sempat konsumsi kurma muda dan kurma matang yang dibawain teman dari tanah suci juga sih. Tapi konsumsinya gak seberapa karena memang terbatas, namanya juga oleh-oleh.

Buah Zuriat yang sudah dikupas, seperti kelapa versi mini :D

Yang saya baca, buah Zuriat ini lebih kepada terapi hormon, duh.. kalau judulnya gitu sih agak ngeri juga sih, mainan hormon itu benar-benar bukan ranah kita. Tapi Bismillah, lagi-lagi ini bagian dari ikhtiar saya dan Abang.

Saya membeli sekaligus 1 Kg buah Zuriat seharga Rp.240.000. Cara konsumsinya adalah 1 buahnya dibelah lalu kemudian direbus dengan 5 gelas air, lalu kemudian diminum setelah airnya susut menjadi 2 gelas.  Buah Zuriatnya tetap saya gunakan untuk direbus lagi sampai kemudian warna kemerahannya mulai memudar.

Ada kendala juga dalam membelah buah Zuriat ini, karena ternyata buah ini keras sekali. Ada juga memang yang dijual berupa bubuk, tapi saya memilih buahnya utuh saja, berjaga, takutnya ada penjual yang gak jujur dan sudah mencampur bubuk Zuriat dengan hal lain yang tidak kita ketahui. Apalagi kalau sampai hal lain itu malah merupakan zat berbahaya. Pengen sehat, hamil, malah dapat yang gak sehat. Begitu pemikiran saya.

Rebusan buah Zuriat ini kami konsumsi pagi dan malam hari. Warnanya seperti teh yang tidak terlalu pekat, kalau rasanya ya.. agak tawar sih, umpamakan seperti minum teh tanpa gula sajalah. Gak menyiksa lidah kok..

Sementara itu, menstruasi terus datang..

Promil dengan Urut
Ini ikhtiar atas saran dari Mama, mungkin banyak juga yang menjalaninya. Total saya 2 kali diurut. Yang pertama sekitar akhir tahun 2017, rasanya gila banget, keringat dingin kayak pengen nangis, gimana enggak, sampai perut atas bagian ulu hati juga diurut. Saya yang punya riwayat maag dan perut bagian atasnya sudah lama agak kembung jadi kesakitan banget. Berbeda dengan kali kedua saya diurut, rasanya lumayan bersahabat, terakhir diurut itu bulan April 2018, itu lagi H2C menunggu agar menstrusi tidak datang, hal itu saya sampaikan juga sebelum diurut.

.***

31 Januari adalah kali terakhir saya ke dokter, bukan karna putus asa, tapi lebih kepada banyak kesibukan, jadwal ke dokterpun selalu bertabrakan dengan pekerjaan, begitu pekerjaan mulai longgar, dokter sedang tidak praktek.

14 Maret, saya kembali membeli Asam Folat dan vitamin E, sebutlah saya bandel, mulai berusaha dengan hal yang saya takuti dulu. Bahkan mulai meniru resep dan pola yang diberikan dokter. Saya membeli dan mengonsumsi provula tanpa resep dokter, tapi tetap memperhatikan waktu konsumsinya.

Suami juga masih mengonsumsi rebusan buah zuriat walaupun tidak seteratur sebelumnya, saya kadang kecapean, tiba di rumah pengennya sudah langsung tidur saja. Tapi Abang teratur meminum asam folat walaupun mereknya berbeda dengan saya. Yang saya baca, asam folat yang dikonsumsi laki-laki juga berfungsi untuk memperbaiki fertilitas pria. Gak heran sih, Ultravita yang diresepkan dokter juga ada kandungan Asam Folatnya.

Saya ingat saat bulan Maret meminta pertimbangan Abang, apakah akan ke dokter lain atau bagaimana, soalnya ya itu, hari Minggu dokter kandungan yang biasa kami kunjungi libur. Tapi Abang bilang, sudahlah, kita usaha sendiri dulu. Waktu Abang bilang begitu, saya yang biasanya suka kekeuh dengan keinginan saya entah kenapa manut saja. It's like a magic word, dan saya berkata dalam hati, ya sudah, bismillah percaya sama Abang...

Long Short Story, jadwal menstruasi di bulan April tidak kunjung datang. Alhamdulillah, saya positif hamil sampai saat menulis ini usia kandungan sudah 32 minggu.

Baca juga: Cerita Kehamilan Trisemester Pertama

Tapi cerita ini belum berakhir, saya memang berniat menuliskan pogram hamil apa saja yang saya jalani, bisa jadi membantu orang lain yang juga sedang mencari informasi, entah dengan berusaha sendiri atau ingin memulai promil melalui dokter.

Tidak jarang orang bertanya pada saya promil apa yang saya lakukan? Tulisan ini juga saya harapkan bisa menjawab, saya menuliskan semuanya karena saya meyakini semua yang saya konsumsi memiliki peran dalam promil saya sampai kemudian berhasil, jadi saya tidak bisa bilang karena ini dan itu. Yang saya yakini dan kemudian makin mendorong saya menuliskan ini adalah pembicaraan dan testimoni bersama teman-teman di grup 1M1C

Beberapa percakapan diantaranya:

"Rata2 pada gitu yaa. Temen ada yang mau insem/bayi tabung, pas konsultasi malah udh positif dulu. Ada juga yg lagi terapi imun, baru mau mulai eh malah positif duluan. Misteri Allah emang ajaib yaa." (Zeneth Thobarony)

"Iya Kak, wallahua’lam,, cuman herannya mostly pasca HSG hampir semua yg saya dengar, pasti hamil,, subhanallah pisan,, even sodara yg dokter pun gt, 3 tahun kosong, trus HSG trus jadi.." (Renjana Ratih Inaganis)

"Saya pun" (Nurindah Fitria membenarkan kalimat Renjana Ratih).

"Saya promil di dokter berbulan-bulan, setiap bulan rajin datang, 2 bulan ndak ke dokter karna sok sibuk, Alhamdulillah malah jadi" (Irly)

"Saya sukses setelah pasrah. Udah lelah promil ini itu. Udah operasi angkat endometriosis pula. Giliran pasrah malah jadi." (Arni Emaknya Prema)

""Betul yah Teh, kadang momen2 “semakin tidak peduli”, malah kejadian,, 😅
Wallahua’lam.." (Renjana Ratih membenarkan kalimat Emaknya Prema)

"Iya, tampaknya "pasrah/lebih legowo" salah satu pendukung promil yang paling baik 😁" (Irly membenarkan kalimat Ranjana Ratih)

Sampai akhirnya percakapan mulai diberikan peringatan karena isi grup dari berbagai kalangan umur. Hehe..

Jadi ada beberapa poin yang ingin saya tekankan:
- Berusahalah untuk promil, jangan hanya sendiri saja, tapi berdua.
- Waktu tetap menjadi hak prerogatif Allah, bahkan dokter sekalipun hanya membantu kita berikhtiar.
- Berdasarkan cerita dan pengalamaan saya sendiri, disaat kita sudah ikhlas/pasrah kadang disaat itulah Allah memberikan jawaban dari setiap doa dan usaha kita (termasuk hamil).
- Perbanyak doa dan minta doa dari orang tua, saya sendiri sampai mengeluarkan nazar dan memperbanyak ibadah sunnah, saya yakin, usaha selain harus diukir di atas bumi, juga tetap harus dipanjatkan ke langit-Nya.

"Tetaplah berusaha, Allah melihat setiap usahamu. Tetaplah berusaha, jangan hiraukan perkataan yang menyakitkan."

Semangat promil teman-teman, semoga Allah segerakan, kalian tidak sendiri.

NB: Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan teman-teman yang sudah banyak menjalani promil mempunyai kekurangan ini dan itu, tujuan saya semata memberi informasi dan motivasi. Saya ikut mendoakan, semoga teman-teman yang sedang promil dan membaca tulisan ini segera terjawab doa dan usahanya.
Read more

29 Oct 2018

Kehamilan Trisemester Kedua

Haiii.. such a long time nunggu mood menulis muncul lagi. Biasalah, kalah sama banyak hal. Ibu hamil ini sudah merasakan gampang lelah. Jadi sekalipun niat banget berbagi cerita tentang kehamilan, lanjutan tulisan tentang kehamilan ini jadi cukup lama mandek.


So, sembari coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman kehamilan trisemester kedua ini, saya coba lengkapi drafnya, yess..


Bulan Keempat
Lepas dari bulan ketiga kehamilan, obat-obatan sebisa mungkin saya hentikan. Sedikit termotivasi dari teman yang bercerita tentang betapa mabuknya dia saat hamil, tapi memilih untuk tidak mengonsumsi obatnya dengan cara lebih fokus kepada pekerjaan. Maka sedikit demi sedikit saya coba kurangi obat dari resep dokter itu. Alhamdulillah lama-lama bisa lepas sekalipun hormon rasanya masih memegang kendali. Hehe..

Perjuangan menunggu hormon stabil kalau tidak salah ingat berakhir di minggu ke lima belas, sekitar seminggu memasuki bulan kelima kehamilan. 

Bulan Kelima Kehamilan
Bulan kelima kehamilan sekitar 17 minggu, kami memeriksakan kandungan lagi ke dokter, dokter bilang janinnya sehat-sehat saja, pulang saya diberi resep berupa Aspilet dan Calgae.

Karena kepo, saya googling dong, yang saya dapatkan Aspilets adalah obat untuk pengencer darah dan Calgae adalah suplemen kalsium. Kalau Calgae saya bisa pahami sih, soalnya waktu ditanya keluhan juga saya sebutkan mengenai sakit pinggang yang sering sekali terasa, apalagi setelah berkantor seharian. Umum sih, tapi karena ditanya ya saya sebutin. :p

Oh ya, Calgaenya cukup ampuh mengurangi sakit pinggang saya, sayangnya ada efek mualnya dan direspkan untuk dikonsumsi siang setelah makan. Jadi, agak berasa sedikit kembali ke trisemester pertama. Tapi lama-lama mulai terbiasa juga.

Nah, yang jadi fokus saya karena lumayan bikin kaget adalah obat pengencer darah, yang diresepkan untuk dikonsumsi malam hari setelah makan. Kepa saya direspin obat itu? Obatnya serius kalau menurut saya. Tapi karena males balik ngatri lagi ke dokter, saya coba lihat di video yang saya rekam saat USG, Bedanya apa sama video USG bulan lalu. Dari hasil analisis saya memang pemeriksaan bulan kelima ini detak jantungnya tidak selancar biasanya. Entah memang ada hubungannya atau tidak. Mungkin sayanya saja yang sotoy. :D

19 minggu kehamilan saya mulai merasakan kedutan di perut untuk bertama kali, saya catat momen penting itu, 4 Agustus, dini hari. Dari hasil membaca dan bertanya kepada dokter, memang gerakan bayi yang umumnya disinyalir sebagai tendangan akan terasa pada usia kehamilan 20 minggu. Terlebih jika janin yang ada di dalam kandungan adalah anak pertama, ibunya belum terlalu sensitif dengan gerakan janin. Benar saja, di usia kehamilan 20 minggu saya sudah bisa merasakan gerakan dengan lebih jelas. Semakin hari, semakin aktif, alhamdulillah.


Pada bulan kelima ini juga ide untuk baby moon bersama Abang saya utarakan. Saya meyakinkan bahwa saat hamil seorang ibu juga bisa liburan. Tentunya dengan menyodorkan artikel agar Abang lebih percaya. Hasilnya Abang memang jadi semangat, soalnya memang sejak awal tahun Abang sudah gelisah pengen liburan.

Bulan Keenam Kehamilan
Bulan keenam kehamilan, fix sudah baby moonnya batal. Abang yang berangkat ke Jakarta untuk dinas dan langsung  mengambil cuti tidak bisa saya susul karena tidak diberikan cuti oleh kantor. Perihh.. hahah..

Oh iya, saya jadi ingat, tanggal 24 Agustus, usia kehamilan sekitar 21 minggu, saya kena demam tinggi. Itu beberapa hari sebelum Abang berangkat ke Jakarta. Sekitar tengah malam saya merasa kedinginan, persendian ngilu semua, karena terbangun terus saya jadi lapar, akhirnya saya ke dapur lalu makan, lanjut baring berniat tidur lagi. Kesalahan saya waktu itu langsung baring, asam lambung jadi makin aktif jadi tidak heran subuh saya sudah muntah-muntah. Saya sampai tidak masuk kantor. Sekitar 3 hari baru kemudian kesehatan saya pulih. Kasihan semua orang rumah, saya susahin lagi. Berat saya sempat turun juga, sekitar 2 kilogram kalau tidak salah ingat.

Saya tidak ke dokter waktu itu, karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja memeriksakan kondisi saya dan janin ke dokter. Hasilnya baik, saya kembali diberikan resep Calgae, dan resep baru berupa penambah darah untuk mencegah anemia, Nonemi. Jenis kelaminnya sudah ketahuan, sejak bulan keempat sih kayaknya, dan sekarang makin tak terbantahkan. Alhamdulillah, sehat terus ya kamu anakku. :*

***

Nah, cukup segitu dulu cerita tentang kehamilan trisemester kedua ini, sekarang sudah memasuki bulan ke delapan, doakan saya sekeluarga sehat dan gak malas menulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.



Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...