Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

31 Mar 2021

Perjalanan Dinas Pertama Setelah Setahun Covid-19 di Indonesia

 Eh, kenapa sih kalau mau pergi gini Aqif rasanya makin kiyowo banget. Kek sebel gitu, kenapaaa? Kan jadi berat berangkatnyaaa πŸ˜…

***

Untuk pertama kalinya, setelah Covid-19 berulang tahun awal Maret kemarin saya akhirnya menerima tawaran perjalanan dinas. Banyak cerita dibelakangnya sesungguhnya, nanti mau cerita karna jadi salah satu pengalaman juga nih.

Jadi semuanya berawal dari Survei Rumput Laut yang untuk pertama kalinya akan dilaksanakan Badan Pusat Statistik, ditawarkanlah kami para fungsional untuk menjadi pengajar, instruktur gitulah.

Sebagai makemak yang nyadar diri otak sudah semakin lemot, pengalaman mengajar sudah lamaaa banget (beneran, saya sampai lupa pernah juga jadi instruktur dahulu kala. wkwk), dan berpikir bahwa tawaran tersebut tidak akan datang dua kali untuk menambah pengalaman, maka dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim saya menyanggupi.

Panjang kan mikirnya? Serius lho, beneran. Kalau orang lain bisa dengan mudah menjawab iya, saya harus berpikir keras, ya bukan semata karena pengalaman dan adanya imbalan angka kredit bagi pegawai fungsional seperti saya, tapi selain berpikir bahwa ini adalah tanggung jawab besar, saya juga lagi-lagi berpikir, apa saya sangup??

Ditengah pertanyaan-pertanyaan yang terus timbul untuk memvalidasi kemampuan diri itu, pelatihan pun terlewati, ya.. walapun harus pelatihan online, mau gak mau, kalau dulu sih, sudah booking tiket dan ngisi kopor lagi aktivitasnya. wkwk..

Di pelatihan itupun saya medapatkan pelajaran penting, agar tidak malu bertanya kepada teman tentang "pengetahuan" yang sudah ada mengisi kepala tanpa pernah menjalaninya sendiri. Konfirmasi itu wajb gaesss, bahkan kalau perlu Bureng!!! Wkwkwk

Setelah 4 hari menjalani pelatihan, tibalah masa saya harus berangkat ke tempat tugas. Kebetulan.. eh, gak kebetulan dink, saya memang memilih kelas di Kota Baubau (walaupun yang pelatihan itu Buton bersaudara, kabupaten-kabupaten tentangga red), lagi-lagi karena saya tidak pede dengan kemampuan saya, kalau kelasnya di Baubau ada teman yang bisa saya ajak diskusi secara langsung karena hanya di Baubau ini yang punya 2 kelas. Kalau pede, saya mah pengen juga ke Wakatobi, ngajar di sana sambil menengok pemandangan indah. Wkwk



Dan di sinilah saya, mengetik tulisan ini sejak tiba di pelabuhan sampai saat sedang berlayar di tengah lautan, kebetulan saja kami mengira kapal akan berangkat pukul 13, jadi saya keluar rumah pukul 11.30, ternyata sekira pukul 14.30 tadi barulah kapal mulai berlabuh. Kekurangan info gaes.. hehe..

Seperti biasa kalau ke suatu daerah saya akan sibuk menghubungi keluarga dan teman-teman yang saya ingat tinggal di daerah tersebut, mulai dari teman yang dekat di dunia maya tapi belum pernah bertemu, sampai pada orang yang boleh dibilang sering saya temui setiap kali ada di daerah tersebut.

Dan orang yang saya maksud terakhir ini salah satunya adalah Kak Ira, salah satu bloger Sulawesi Tenggara yang alhamdulillah selalu saya temui jika datang ke Baubau. Tadi karena ada yang nanyain PR collab di grup, sekalianlah saya cek-cek keberadaannya. Ealahh.. ternyata sudah pindah sejak diterima sebagai ASN. Padahal sudah diceritakan juga di blognya yang berjudul Kehidupan Baru. Maklum, saya main ke blog www.rawati.com terakhir kali belum ada tulisan itu juga. Wkwk.

Masyaallah ya Kak, semoga suatu saat bisa bertemu lagi, mungkin saya yang dinas ke Lakudo, kak Ira yang dinas ke Kendari atau kita bertemu di kota lain sesuai suratan takdir. Kapapun itu, semoga kita bertemu dalam keadaan bahagia lahir batin. Aamiin.

Eh, balik ke perjalanan ini. Setelah jadwal disusun ternyata penutupan pelatihannya sampai malam, rencana malam mingguan dengan tur dari rumah keluarga yang satu ke rumah keluarga yang lain akhirnya ambyar. Tentu saja harus mengubah jadwal, gak enak kalau keluarga tahu saya sudah ada di Baubau tapi saya gak main ke rumah mereka, ga mungkin dikunjungi semua sih, tapi berdasarkan prioritas saja deh, selebihnya sekelebat saja alias selayang pandang saja. ((sekelebat dooong)) wkwk..

Apapun rencananya sesungguhnya saya masih nervous, masih tidak tenang sampai pelatihan selesai, dan ternyata ada satu hal yang luput dari perhitungan saya. Dibalik nervous ini saya tetap saja mewek karena ninggalin anak, memang sudah disapih, memang ada aja kelakuan pintarnya yang bikin geleng-geleng, sariawan atau mood rusak. Tapi ya gini.. kerasa juga cerita makemak lain yang pernah saya baca berada di posisi yang sama dengan saya sekarang, Baru mau mandi untuk berangkat aja udah menghangat saja mata ini. hiks..

Baca juga: Semua Ibu Adalah Pejuang

Minta doanya ya teman-teman, biar pelatihanya berjalan lancar, saya sebagai pengajar diberikan kemampuan untuk menjelaskan dengan baik konsep dan definisi dari kuesioner-kuesioner kepada para peserta. Agar tak sia-sia perjalananku meninggalkan anak solehku. Bismillah..

*Udah lama gak nulis on the spot gini, begitu ketemu sinyal dan perasaan sudah tenang insyaalah edit gambar dikit dan tulisan ini saya publish.

*Sudah pukul 19.10 masih juga di tengah lautan, biasanya Maghrib sudah sampai. πŸ˜…

*20.15 akhirnya kapal sandar juga di pelabuhan Murhum Baubau.

Tim geret koper yang kelelahan di perjalanan ( belum juga dinas.wkwk)


It's a long trip😌

Wish me luck!!

Read more

28 Jan 2021

5 Resolusi di Tahun 2021

Haii..

Belum basi kan ya ngomongin tentang resolusi ditanggal segini? Hihi.. ga mau nyodorin alasan kenapa telat deh.. tapi alasan kenapa menulis resolusi itu menyenangkan.

Jadi sudah beberapa tahun ini saya gak pernah bikin resolusi lagi. Males iya, gak punya resolusi juga iya. Eh.. ga gitu.. maleslah pokoke..

Back to curcol..

Nah, awal tahun saya sengaja baca resolusi yang saya tuliskan, terakhir tuh tahun 2017 dan saya merinding sekaligus terharu membaca sebagian besar resolusi-resolusi yang saya tuliskan sudah terwujud ditahun yang sama! Masyaallah.. Alhamdulillah ❤️

That's why saya ingin mencoba menuliskan lagi resolusi tahun ini, berharap Allah takkan bosan membantu usaha dalam mewujudkannya.

1. Membangun Rumah
Bismillah, tahun ini akhirnya Abang mau juga diajak membangun rumah tangga.. eh.. bangun rumah maksudnya. Wkwk

Sebenarnya Abang sudah mempersiapkan (baca nyicil) hunian sejak belio masih bujang, tapi tetap butuh rehab lagi agar lebih layak ditinggali keluarga. Akhirnya setelah ditimbang-timbang renovasi rumah itu biayanya udah ga jauh-jauh dari membangun rumah, dan memang akan lebih menguntungkan membangun dari 0 saja. Lucky us dapet tanah dari orang tua, jadi kami tinggal membangun saja. Alhamdulillah..

Masyaallah excited banget membayangkan punya rumah sendiri dan keluarga kecil kami hidup di dalamnya. Membayangkan memilih motif  lantai, desain kitchen set, memilih furniture, memiliki kamar yang lega dan lebih rapi. Di atas semua itu, saya membayangkan kehidupan yang lebih indah, menjadi ratu di rumah sendiri. Para istri pasti paham perasaan ini, paham bahwa belajar mandiri itu tidak akan mudah, tapi insyaallah akan terlewati dengan kerja sama suami istri yang baik. hehe

Semoga rumah kami bisa selesai sesuai rencana dan ga melenceng dari RAB ya, kami berencana membangun pelan-pelan saja, doakan kami tidak tergoda untuk berutang di luaran sana. πŸ™

2. Menulis Opini di Koran
Duh, ini mah keinginan sejak kapan. Berat sebenarnya, karna saya tuh kalau nulis genrenya ga bisa serius dan saya merasa ga punya banyak ilmu untuk bisa menulis dan menganalisis data statistik. Tapi ada kebutuhan kerjaan di sini. Tidak semua yang kami kerjakan di kantor itu ada angka kreditnya dan Menulis Opini ini lumayan besar angka kreditnya. If you know jabatan fungsional, kami nyebutnya pejuang nol koma nol nol nol satu saking susahnya dapat angka kredit. Wkwk..

Kayaknya (((kayaknyaaaa))) mending paksain diri menulis opini deh daripada maksain diri bikin Karya Tulis Ilmiah (KTI), makin berasa ga punya ilmu saya. Huhu..

Keliatan ga sih dari tadi saya itu ga pede. Iya, iyaaaa banget. Tapi entah kerasukan setan apa, saya ikutan daftar program untuk menelurkan 1 tulisan opini dong. Maju mundur tapi tetap, Bismillah...

Doakan berkomitmen dan berhasil dimuat di koran ya.. πŸ™

3. Menyelesaikan Naskah Buku Antologi
Bagi sebagian orang ini mah receh, ga perlu masuk resolusi-resolusian segala. Tapi gapapalah, sebutlah ini saya modal nekat lagi nge-klik join group untuk bikin buku bersama lagi.

Apresiasi setinggi-tingginya buat Komunitas Perempuan BPS Menulis yang membuatkan wadah dan membukakan jalan agar anggota-anggotanya bisa menelurkan karya. Termasuk cerita buku antologi pertama saya yang juga diterbitkan melalui komunitas hebat ini. Ceritanya nanti deh ya, bukunya belum sampai. Wkwk..

Doakan yang kedua ini prosesnya lancar, nulis naskahnya gak moody, apalagi saya sadar kerjaan lagi padat-padatnya. Entahlah, semoga saya tidak ambisius mau ini-itu. Semoga diberi kekuatan menyelesaikan. Lagi-lagi saya minta doa dari teman-teman. πŸ™

4. Hamil
Malu deh nulis ini, tapi gapapa, ini salah satu rencana besar dalam hidup saya. Bukan tanpa alasan sih ingin merencanakan kehamilan lagi. Saya sadar diri, umur saya tidak lagi muda dan anak sudah bisa disapih (walopun belum berhasil, wkwk).

Ini juga agak malu sih ngomongin ke teman kantor, apalagi yang 1 seksi, tahun ini kerjaan bakal padat, lah bisa-bisanya saya malah mau hamil. Tau sendiri wanita hamil relatif banyak kendalanya, tapi saya serahkan semuanya pada Allah, namanya manusia kan hanya berkeluarga dan berencana ya.. Lagian nungguin kerjaan, kapan habisnyaaa.. *ehm, pinter banget nyari alasan yak. Wkwk..

Apapun, doakan bisa hamil tanpa harus promil ke dokter lagi, seperti usaha yang saya lakukan tahun 2017-2018 yang lalu bahkan sampai harus hidrotubasi). Bismillah..

5. Membaca Lebih Banyak Buku
Duh, (lagi-lagi) malu sebenarnya. Tahun lalu, buku yang saya baca kebanyakan tidak terbaca sampai selesai. Mencari waktunya lumayan susah untuk saya, kalau membaca saat anak masih melek, ditarik-tarik pengen baca juga. Hasilnya ketebak dong, ga bakal bisa. Kalau baca jelang tidur ya bakal tidur duluan sebelum anak. Lagian ga bisa ngebayangin lagi nyusuin Aqif sambil baring trus mau pegang buku. Bayanginnya aja kesiksa.

Harus pintar-pintar nih cari waktunya, andai baca buku kayak main game ya, bisa nyambi ini itu, lah baca buku perlu diresapi biar yang dibaca masih sempat masuk bentar ke otak. Bismillah.. modal ini modal. wkwk..

***

So, itu dia 5 resolusi saya di tahun 2021, berharap semuanya berjalan lancar baik jangka pendek maupun jangka panjang. Teman-teman punya resolusi apa tahun ini? Semoga dilancarkan ya! 😊
Read more

30 Jun 2020

Jangan Takut Ikut Rapid Test

Seperti biasa, pemberitaan di televisi didominasi oleh berita mengenai covid-19. Berita yang sudah beberapa bulan ini menjadi trending topic di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Ini bulan ke empat sejak pengumuman pasien pertama di Indonesia, awal bulan Maret yang lalu.

Saya ingat betul, bagaimana berita mengenai covid ini membuat saya terkejut saat sedang berada di luar negeri, saya hanya bisa memohon perlindungan pada Allah, karena pada waktu itu kami baru saja akan memulai inti kegiatan.

Covid Saat Ini

Secara kumulatif, jumlah pasien covid sampai 29 Juni kemarin sudah mencapai 55.092 pasien positif, 41.605 Orang Dalam Pengawasan (ODP), 13.335 Pasien Dalam Pengawasan, 23.800 dinyatakan sembuh dan 2.805 meninggal yang seluruhnya tersebar di 34 provinsi dan 448 Kabupaten/Kota.

Berapapun nominal yang disebutkan saat saya kebetulan mendengar pengumuman dari Gugus Tugas Penanganan Covid, saya selalu merinding, ada ngilu yang masuk dan membuat perasaan merinding itu menguasai seluruh tubuh. Tidak satupun pasien yang saya kenal, tapi benar-benar terbayang bagaimana mengerikan dan menyakitkannya Covid ini. Mengerikan.

Pada nominal yang disebutkan setiap hari tersebut bagaimanapun terjadi proses panjang dan saya yakini melelahkan. Ada pemeriksaan massal dengan rapid test, ada aktivitas laboratorium yang tidak berhenti mengeluarkan hasil positif dan negatif, ada tenaga kesehatan yang makin berpeluh terbungkus Alat pelindung Diri (APD), ada orang-orang yang tidak mati semangat juangnya hanya karena hasil positif. Pemerintah yang terus berusaha melindungi rakyatnya dari covid. Ya, semua harus bersinergi untuk itu.

Dibalik mengerikan dan cepatnya penyebaran Covid ini, saya masih bersyukur bahwa "hanya" dengan menjaga dan menjalankan protokol kesehatan, kita bisa mencegah penularannya. Iya, sengaja saya berikan tanda petik, karena masih bersyukur virus ini masih bisa mati dengan mencuci tangan. Tapi tetap berdoa sekuat mungkin agar virus ini segera pergi, menjauh dan hilang, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh belahan dunia. Aamiin.!!

Ditengah perjuangan melawan covid, tidak sedikit juga hoax atau salah kaprah kaprah covid yang harus kita lawan. Beberapa yang saya ketahui adalah mengenai rapid test.

Salah Kaprah Tentang Rapid Test

Belakangan, berita yang saya tonton menyajikan banyak berita mengenai pedagang yang menolak bahkan memilih tidak hadir saat akan dilakukan rapid test. Sebuah berita yang membuat saya heran dan terus bertanya, kenapa? Ini gratis lho!

Tapi kemudian saya lebih banyak mencari dan melihat dari sisi orang yang akan dilakukan rapid test, beberapa hal yang saya ketahui mengapa beberapa orang takut untuk dilakukan rapid test antara lain:

1. Takut terkena covid dari APD nakes
Dari yang saya ketahui, beredar kabar bahwa covid bisa saja menyebar dari sarung tangan yang digunakan oleh tenaga kesehatan saat melakukan test massal. Padahal, setahu saya, setiap kali mengganti pasien, tenaga kesehatan akan mengganti peralatannya termasuk sarung tangan yang digunakan. Sesuai dengan standar operasional.

2. Takut dikarantina
Hal ini, terbagi dua, benar-benar takut dikarantina setelah hasil rapid testnya reaktif dan salah kaprah sejak awal.

Apa itu?

Ada yang mengira, menjalani rapid test sama dengan menjalani karantina. Maka tidak heran jika pedagang akan berpikir keras bagaimana perekonomian keluarga mereka harus berjalan jika harus menjalani rapid test (di dalam pikiran mereka dikarantina selama 14 hari).

Padahal, rapid test berbeda dengan karantina. Rapid test hanyalah skrining awal untuk mencegah penularan covid. Jikapun hasilnya reaktif, masih ada swab test yang harus dijalani untuk benar-benar memastikan seseorang positif covid atau tidak.

Dua hal tadi menjadi salah kaprah di masyarakat dan menjadi momok menakutkan sehingga orang-orang takut melakukan rapid test.

Jangan Takut Ikut Rapid Test

Rapid test memang banyak dilakukan di tempat keramaian atau kerumunan, alasannya tentu saja tempat-tempat tersebut berpotensi untuk menjadi tempat penularan. Maka skrining awal perlu dilakukan, untuk meminimalisir jika saja ada orang yang sebenarnya membawa virus, tapi tidak merasakan gejala sakit apapun, biasanya disebut sebagai OTG atau Orang Tanpa Gejala. CMIIW

Seperti yang dikatakan Dokter Reisa saat pengumuman di televisi bahwa " Rapid test membantu kita menemukan orang yang harus dirawat, agar segera sembuh, tidak menimbulkan komplikasi dan mengetahui jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG)." Kurang lebih seperti ini yang saya dengar.

Jadi, jangan takut lagi untuk menjalani rapid test, rapid test yang diselenggarakan pemerintah itu untuk membantu anda, keluarga anda, tetangga anda, para tenaga kesehatan bahkan seluruh manusia, membantu kita semua dalam memerangi covid.

Rapid Test Mandiri

Berbeda dengan rapid test massal yang banyak dilakukan, rapid test mandiri umumnya dilakukan oleh orang yang hendak melakukan perjalanan, berhubung kita sedang asyik membahas rapid test, sekalian saja saya berikan info untuk yang ingin melakukan rapid test mandiri.

Untuk kalian yang ingin melakukan tes mandiri, ada cara mudah untuk mengetahui lokasi yang bisa dikunjungi, cukup dari HP saja dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Bukan hanya itu, kita juga bisa membuat janji dengan dokter dan tidak perlu lama-lama antri.



Semoga dengan tulisan ini saya bisa sedikit membantu mengedukasi pembaca untuk tidak lagi takut menjalani rapid test. Bersama-sama kita perangi covid!!

Read more

10 Feb 2019

Jika Siap Memiliki, Maka Kaupun Harus Siap Melepaskan

Hidup sesungguhnya seperti merentangkan tangan. Siap kehilangan untuk kemudian memiliki hal yang baru.

Tidak pernah akan sejalan rasa memiliki dan rasa kehilangan.

Hal itu saya rasakan saat ini. Saat di mana saya berbahagia karena kelahiran anak pertama saya, tapi disaat yang sama, saya harus kehilangan banyak hal. Sejatinya bukan hanya saya, tapi juga suami, kedua orang tua, mertua, dan adik-adik saya.

Bukan, saya bukannya tidak bersyukur. Saya mengajak diri saya sendiri dan mungkin orang lain untuk merenungi bahwa ada hal yang harus ditukar dalam hidup ini. Tidak bisa semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Dan bukan hanya saya sendiri yang merasakan kehilangan.


Saya beri contoh dari keluarga saya sendiri.

Saya
Setelah melahirkan, jangan tanyakan betapa bahagianya saya. Tapi selanjutnya, saya harus bertanggung jawab mengurus anak saya, salah satu sumber kebahagiaan baru saya. Dan demi semua itu, saya harus rela kehilangan waktu saya, mengubah ritme kehidupan saya.

Yang paling mencolok adalah saya harus kehilangan ritme tidur yang selama ini bisa saya atur sendiri. Paling buruk hanya tidur beberapa jam dalam semalam. Tapi sekarang, bisa tidak tidur semalaman.

Tidak hanya tidur, bahkan urusan BAK dan BAB pun, saya harus menyesuaikan dengan waktu si kecil. Tidak jarang saya harus bersabar menunggu selama berjam-jam hanya untuk "ke belakang". Ya.. Semua tahu bahwa hal ini sangat tidak sehat. Akan saya kemukakan alasannya kenapa, nanti. Ah.. Sungguh drama setelah melahirkan yang tak usai.

Suami
Suami, mau tidak mau harus kehilangan tidurnya yang tenang, sesekali saya bangunkan dia ditengah malam, walau dengan banyak perasaan tidak enak dan kasihan (entah suami sadari ini atau tidak). Yang jelas sebisa mungkin tidak membebani dia, saya tahu, walaupun tidak banyak bercerita, pekerjaan sudah cukup membuat dia lelah. Toh, waktu istirahatnya di akhir minggu sudah tergadai oleh cucian yang tidak pantas berada di laundry. Atau membantu hal lain di rumah.

Tapi kan, si kecil tanggung jawab bersama.. Sudah sepantasnya suami ikut membantu. Kenapa harus kasihan? Ya.. Memang. Suami tentunya ikut membantu dengan ritmenya sendiri. saya masih belajar menjadi orang tua, begitupun dia. Semoga nanti ritmenya sudah bisa sama. Saya juga sudah hilang gak enakannya.

Orang Tua
Orang tua, terutama mama. Saat ini banyak kehilangan waktu istirahatnya. Kalau saya mengurus 1 bayi kecil dan kadang masih harus mengurus 1 bayi besar yang sudah lama tidak diperhatikan. :p Mama harus mengurus 1 bayi kecil dan banyak bayi besar di dalam rumah. Anak saya, saya (yang kembali seperti bayi, diperhatikan makan-minumnya, pakaian, istirahat dan asupan gizinya), suami saya, kedua adik saya dan yang menjadi tanggung jawab terbesarnya, bapak.

Loh, semuanya kan sudah besar, bisa mengurus dirinya masing-masing. Nope.. IMHO, para pria (maaf gak maksud apa-apa dan semoga kamu tidak termasuk), punya sifat dan kecenderungan untuk dilayani. Padahal dalam rumah tangga seharusnya tidak seperti itu. Pria-pria di rumah juga sebenarnya tidak meminta itu. Tapi seriusan, kalau mama mau cuek saja, makanan tidak akan tersedia, piring-piring kotor menumpuk, rumah penuh debu dan akan tampak seperti kapal pecah!

Tapi bukan berarti bapak tidak kehilangan apa-apa. Bapak juga kehilangan waktu istirahatnya. Tidurnya tidak nyenyak karena menjadi radar terhadap tangisan anak saya. Bapak yang sudah sangat kikuk juga kemudian belajar bagaimana menggendong bayi dengan berbagai posisi. Bapak juga menyediakan air hangat untuk minum dan mandi saya, begitu juga bayi saya. Bapak juga banyak membantu meringankan pekerjaan di rumah. Sudah seharusnya, kan?

Mertua
Mertua sih sudah biasa ngemong cucu, soalnya ini cucu ketiganya. Tapi bagaimanapun, saat mertua ikut menginap di rumah, mertua juga akan kehilangan ritme tidurnya. Beliau biasanya tidur setelah magrib, bangun sebentar untuk Isya dan lanjut tidur lagi.

Adik-adik
Kedua adik saya laki-laki. Kalau berhubungan dengan mengurus bayi, mereka biasanya jadi asisten mama saat si bayi dimandikan. Kebayang kan mereka gak pernah mengurus bayi sebelumnya harus sigap mengambil sabun, minyak telon atau baby oil. Juga harus memakaikan kaos tangan dan kaos kaki? Okelah kalau produk seperti minyak telon dan kawan-kawan, ada tulisannya di kemasan. Bagaimana dengan kaos tangan dak kaos kaki? Benarr! Sering ketuker! Alhasil kena omel mama yang heran kenapa laki-laki gak bisa bedain mana kaos tangan dan mana kaos kaki.

Saya sampai dokumentasikan saat Mama mengurus di sebelah kiri, adik di sebelah kanan dan adik bungsu saya di kaki. Sayang gak bisa saya pajang, pada kelihatan auratnya, mama sedang tidak berjilbab, dan kedua adik saya sedang memakai celana pendek dengan muka bantalnya. Wkwk

Gak hanya itu sih, karena ada bayi, adik-adik juga jadi seperti bapak, lebih banyak bantuin kerjaan di rumah. Which is emang sudah seharusnya kan? Kehilangan waktu untuk santai jelas dialami juga oleh adik-adik saya.

Oh ya, diawal saya janji cerita kenapa penanganan bayi saya agak berbeda. Dua hal
1. Si bayi kalau nangis, asli nangis kejer, ngegas seperti habis jatuh atau dipukulin. Bahkan ketika sudah disusuipun, kalau udah terlanjur nangis, dia tetap ngegas, menangis dengan nada tertingginya, dengan wajah merah semerah-merahnya dan nafas yang tertahan lama. Seisi rumah akan panik.
2. Ya itu tadi, saya gak enakan.
Walaupun Mama rela, suami juga gak komplain kalau saya bangunkan tengah malam, saya tetap merasa tidak enakan. Makanya kadang hauspun saya tahan jika melihat seisi rumah sudah tidur atau kasihan pada Mama yang sudah pontang panting mengurus rumah bersama isinya, kami. Padahal banyak minum itu komponen penting agar ASI banyak. :(

***

Itu sedikit banyak cerita tentang kehilangan yang dirasakan seluruh anggota keluarga. Ya memang sih, kalau sudah urusan sama anak bayi, rumah tangga sudah akan berbeda. Kalau tadinya suka menonton film, stalking akun hosyip, nonton yutup, apapun bisa dilakukan sesukanya, saat sudah memiliki bayi semuanya sudah berbeda, prioritas dan patokan utama adalah bayi, the big boss. Tidak bisa lagi menggunakan waktu semaunya. Semua orang sama-sama lelah, that's why kita harus saling support.

Dan diatas kebahagiaan itu, kehilangan semestinya sudah berada di level melepaskan. Rasa kehilangan yang muncul karena dipaksa oleh keadaan sejatinya berubah menjadi sebuah proses melepaskan karena dilandasi oleh kerelaan.

Maka untuk memperoleh kebahagiaan, yang bisa sejalan dengan kata memiliki hanyalah melepaskan. Jika siap memiliki, maka kaupun harus siap melepaskan.

Bagaimana dengan kehidupan teman-teman? Sedang ditahap apakah sekarang ini?
Read more

29 Oct 2018

Kehamilan Trisemester Kedua

Haiii.. such a long time nunggu mood menulis muncul lagi. Biasalah, kalah sama banyak hal. Ibu hamil ini sudah merasakan gampang lelah. Jadi sekalipun niat banget berbagi cerita tentang kehamilan, lanjutan tulisan tentang kehamilan ini jadi cukup lama mandek.


So, sembari coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman kehamilan trisemester kedua ini, saya coba lengkapi drafnya, yess..


Bulan Keempat
Lepas dari bulan ketiga kehamilan, obat-obatan sebisa mungkin saya hentikan. Sedikit termotivasi dari teman yang bercerita tentang betapa mabuknya dia saat hamil, tapi memilih untuk tidak mengonsumsi obatnya dengan cara lebih fokus kepada pekerjaan. Maka sedikit demi sedikit saya coba kurangi obat dari resep dokter itu. Alhamdulillah lama-lama bisa lepas sekalipun hormon rasanya masih memegang kendali. Hehe..

Perjuangan menunggu hormon stabil kalau tidak salah ingat berakhir di minggu ke lima belas, sekitar seminggu memasuki bulan kelima kehamilan. 

Bulan Kelima Kehamilan
Bulan kelima kehamilan sekitar 17 minggu, kami memeriksakan kandungan lagi ke dokter, dokter bilang janinnya sehat-sehat saja, pulang saya diberi resep berupa Aspilet dan Calgae.

Karena kepo, saya googling dong, yang saya dapatkan Aspilets adalah obat untuk pengencer darah dan Calgae adalah suplemen kalsium. Kalau Calgae saya bisa pahami sih, soalnya waktu ditanya keluhan juga saya sebutkan mengenai sakit pinggang yang sering sekali terasa, apalagi setelah berkantor seharian. Umum sih, tapi karena ditanya ya saya sebutin. :p

Oh ya, Calgaenya cukup ampuh mengurangi sakit pinggang saya, sayangnya ada efek mualnya dan direspkan untuk dikonsumsi siang setelah makan. Jadi, agak berasa sedikit kembali ke trisemester pertama. Tapi lama-lama mulai terbiasa juga.

Nah, yang jadi fokus saya karena lumayan bikin kaget adalah obat pengencer darah, yang diresepkan untuk dikonsumsi malam hari setelah makan. Kepa saya direspin obat itu? Obatnya serius kalau menurut saya. Tapi karena males balik ngatri lagi ke dokter, saya coba lihat di video yang saya rekam saat USG, Bedanya apa sama video USG bulan lalu. Dari hasil analisis saya memang pemeriksaan bulan kelima ini detak jantungnya tidak selancar biasanya. Entah memang ada hubungannya atau tidak. Mungkin sayanya saja yang sotoy. :D

19 minggu kehamilan saya mulai merasakan kedutan di perut untuk bertama kali, saya catat momen penting itu, 4 Agustus, dini hari. Dari hasil membaca dan bertanya kepada dokter, memang gerakan bayi yang umumnya disinyalir sebagai tendangan akan terasa pada usia kehamilan 20 minggu. Terlebih jika janin yang ada di dalam kandungan adalah anak pertama, ibunya belum terlalu sensitif dengan gerakan janin. Benar saja, di usia kehamilan 20 minggu saya sudah bisa merasakan gerakan dengan lebih jelas. Semakin hari, semakin aktif, alhamdulillah.


Pada bulan kelima ini juga ide untuk baby moon bersama Abang saya utarakan. Saya meyakinkan bahwa saat hamil seorang ibu juga bisa liburan. Tentunya dengan menyodorkan artikel agar Abang lebih percaya. Hasilnya Abang memang jadi semangat, soalnya memang sejak awal tahun Abang sudah gelisah pengen liburan.

Bulan Keenam Kehamilan
Bulan keenam kehamilan, fix sudah baby moonnya batal. Abang yang berangkat ke Jakarta untuk dinas dan langsung  mengambil cuti tidak bisa saya susul karena tidak diberikan cuti oleh kantor. Perihh.. hahah..

Oh iya, saya jadi ingat, tanggal 24 Agustus, usia kehamilan sekitar 21 minggu, saya kena demam tinggi. Itu beberapa hari sebelum Abang berangkat ke Jakarta. Sekitar tengah malam saya merasa kedinginan, persendian ngilu semua, karena terbangun terus saya jadi lapar, akhirnya saya ke dapur lalu makan, lanjut baring berniat tidur lagi. Kesalahan saya waktu itu langsung baring, asam lambung jadi makin aktif jadi tidak heran subuh saya sudah muntah-muntah. Saya sampai tidak masuk kantor. Sekitar 3 hari baru kemudian kesehatan saya pulih. Kasihan semua orang rumah, saya susahin lagi. Berat saya sempat turun juga, sekitar 2 kilogram kalau tidak salah ingat.

Saya tidak ke dokter waktu itu, karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja memeriksakan kondisi saya dan janin ke dokter. Hasilnya baik, saya kembali diberikan resep Calgae, dan resep baru berupa penambah darah untuk mencegah anemia, Nonemi. Jenis kelaminnya sudah ketahuan, sejak bulan keempat sih kayaknya, dan sekarang makin tak terbantahkan. Alhamdulillah, sehat terus ya kamu anakku. :*

***

Nah, cukup segitu dulu cerita tentang kehamilan trisemester kedua ini, sekarang sudah memasuki bulan ke delapan, doakan saya sekeluarga sehat dan gak malas menulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.



Read more

24 Sept 2018

Memilih Kosmetik yang Aman Saat Hamil

Berbadan dua atau sedang dalam kondisi hamil membawa sang ibu pada keadaan harus memilih dan lebih selektif. Banyak hal yang melibatkan opsi ini, mulai dari makanan, pakaian sampai pada penggunaan kosmetik. Berbicara tentang kosmetik gini berasa biuti bloher gak seeeh? Hihi..
Gak juga dong, emang biuti bloher ajah yang pakai kosmetik? Semua orang (apalagi wanita ya) pasti ingin tampil kece, minimal gak kucellah yaa.. Apalagi kalau kulitnya termasuk dalam kategori sehat. Duh.. Seneng banget pastinya. Termasuk ibu hamil yang tetap ingin tampil cantik tanpa mengganggu perkembangan janin. Hehe..

Nah, kali ini saya sedang kesambet bahas kecantikan lagi. Haha.. Gak ding.. Emang ini kewajiban, biasa utang nulis saya banyak *Duh.. ini jadi semacam beban hidup yaah?! Haha.. Jadi Bulan lalu si Beauty Blogger di Be Molulo jenk Dita, memberikan trigger post yang bertema kecantikan Beauty Talk, I Can't Life Without You jadi yang dibahas itu, yang basic banget dalam memenuhi kebutuhan hidup kulit wajah kita.

Kalau temanya seperti itu, saya yang sedang hamil ini tidak perlu susah payah memikirkannya. Apalagi kalau bukan  karena seleksi yang terjadi demi kebutuhan hidup kulit dan perkembangan janin yang tentunya saya harapkan tidak terkena dampak buruk kosmetik. Emak butuh cantik, tapi sungguh, bagaimanapun anak akan menjadi prioritas. Iya kan?


Saya lampirkan beberapa kandungan kosmetik yang harus dihindari oleh ibu hamil, hasil menggalau membaca saat sudah tahu saya positif hamil beberapa bulan yang lalu. Antara lain:

1. Retinoid
Bahan ini biasanya dapat ditemukan dalam kosmetik anti penuaan, obat jerawat dan pemutih ini sebaiknya dihindari saja ya karena efeknya cukup berbahaya.

2. BHA atau Beta Hydroxy Acids
Biasa ditemukan di obat jerawat atau produk pengelupasan kulit, ini wajib diwaspadai lho!

3. Tetracycline
Sejenis antibiotik yang bahaya kalau dikonsumsi saat hamil. Konsultasikan subtitusi obat ini dengan dokter ya.

4. Hydroquinone
Tak hanya wajib diwaspadai pada ibu hamil karena dikhawatirkan bisa memberikan efek yang buruk bagi janinmu.

5. Phthalates
Bahan yang biasa ditemukan di pewarna kuku atau parfum ini juga sebisa mungkin dihindari, demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

6. Formaldehyde
Biasa ditemukan di produk pelurus rambut, pewarna kuku dan lem bulu mata ini konon zat karsinogen yang memicu kanker lho.

7. Toluene
Seringkali ditemukan ditemukan di pewarna kuku. Satu lagi alasan kenapa pakai pewarna kuku nggak boleh asal-asalan buat ibu hamil.

8. Amoniak
Sudah nggak asing kan sama amoniak? Bahan ini sangat sering ditemukan di formula pewarna rambut.

9. Dihydroxyacetone
Meski mungkin akan jarang terpapar di orang Indonesia, kamu pun wajib mewaspadai dihydroxyacetone yang menjadi bahan untuk spray penggelap kulit.

10. Thioglycolic Acid
Saat hamil atau menyusui, ada baiknya melakukan waxing atau cukur rambut di area yang diinginkan secara konvensional saja daripada terpapar kandungan thioglycolic acid ini.

11. Botulinim Toxin
Bahan yang biasa dikenal dengan nama botox ini juga sebaiknya dihindari saja ya kalau nggak perlu-perlu amat.

Sumber: https://www.hipwee.com/young-mom/dear-calon-mama-ini-lho-12-kandungan-kosmetik-yang-perlu-dihindari-saat-hamil-nggak-mau-kan-kamu-dan-janin-kenapa-napa/
***

Nah, biar tetap sejalan dengan postingan Dita, sekalian saya ceritakan pilihan kosmetik dan hasil memangkas pemakaian kosmetik saya hanya pada kebutuhan yang sangat mendasar saja yess.. Walaupun produk yang saya gunakan selalu saya pastikan sudah terdaftar di BPOM, walaupun pada akhirnya kulit saya tidak secerah dan semulus saat sebelum hamil. Setidaknya saya butuh kosmetik-kosmetik ini. Apa saja kosmetik yang saya gunakan saat sedang hamil?

1. Pembersih wajah
Saya menggunakan pembersih wajah merek Wardah, karena kulit saya berminyak saya menggunakan Wardah Facial Foam. Ini wajib banget walaupun saya kalau udah ngantuk bisa jadi gak cuci muka juga. Jorok? Entahlah, harus mendahulukan mana, bersih-bersih atau tidur karena takut gak bisa tidur lagi, kalau gak bisa tidur urusannya panjang kemana-mana apalagi untuk ibu hamil seperti saya. *Alesyaaaan!! Haha :p

2. Sun Care
Saya menggunakan Wardah Sun Care Sunscreel Gel SPF 30, fungsinya ya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari, sekaligus melembabkan kulit. Rutin menggunakan ini sebelum ke kantor atau keluar rumah membuat saya merasa lebih terlidung. Ya, walaupun memang kulit tetap saja menjadi lebih gelap dibanding saat sebelum hamil. Setidaknya ni wajah gak belang-belang amatlah. Cukup hidung saja *Eh :D

3. Foundation
Nah ini.. Entah kenapa saya tidak bisa lepas dari foundation. Saya menggunakan Pixy UV Whitening Stick Foundation. Kalau kepoin di internet sih, sekarang sudah ada produk barunya, foundation sekaligus concealing. Dari dulu selalu gunakan produk ini dulu baru kemudian bedakan.

4. Bedak
Bedak ini sesuatu yang sangat basic juga untuk saya. Maklum, wajah yang diberi anugerah sumber minyak melimpah ini akan sangat gampang terlihat kusam. Dengan adanya bedak, kekusaman akan mudah tersamarkan dari muka bumi. Hahaha.. Dan saya cocoknya pakai Pixy UV Whitening Two Way Cake Perfect Fit. Belajar bedakan pakai ini dan sampai sekarang gak pernah lepas. *Orangnya susah berpaling ke lain hati. Hihi..

5. Pensil Alis
Ini nih yang sering dikomentarin Abang, kegiatan gambar menggambar di pagi hari, tapi tetap aja jalan. Haha.. Seperti bedak, saya juga belajar menggambar alis dengan satu merek. Pensil alis Viva, kebanyakan juga sepertinya menggunakan merek ini. Hehe.. Awalnya saya menggunakan warna coklat saja, beberapa minggu terakhir saya menggunakan dua warna, hitam untuk bingkai dan coklat untuk isian. Ada style baru kata Abang yang memperhatikan saya sedang menggambar. :D

6. Lipstick/Lipgloss
Dan yang paling akhir dari rangkaian kosmetik yang saya gunakan adalah lipstick atau lipgloss. Keduanya saling melengkapi. Saya tipe yang bibir kering dulu baru pakai lipgloss, sungguh sangat perhatian kan yah? Ckck..

Untuk lipstick saya menggunakan berbagai merek, kalau warna sih gak jauh-jauh dari mocca, pink atau coral gitu. Kalau merek Purbasari habis, saya cari warna yang sama dengan merek Wardah atau Viva. Udah gitu ajah, pakainya tipis-tipis, kalau ke pesta aja pakainya agak tebal biar efek matte-nya lebih nampol.

***

Udah sih, cukup 6 rangkaian itu kalau mau keluar rumah. Kalau sudah balik dari kantor kembali ya kembali pakai pembersih wajah saja. Nanti setelah melahirkan sajalah baru kembali perawatan bersama krim malam dan segala rangkaian pencerah warna kulit itu, yang sekarang sekedar perlindungan saja dulu. So far juga hasil USG janin alhamdulillah gak ada masalah. Soalnya kalau baca-baca artikel tentang bahaya kosmetik dan kehamilan, agak ngeri juga. Siapa yang mau saraf anak terganggu atau adanya cacat pada anak dikarenakan ibunya kurang teliti dalam memilih kosmetik. Duh, semoga anak kita terhindar dari segala keburukan ya buibuuu..

Gimana dengan teman-teman bumil yang lain? Pastinya tetap waspada dengan kandungan bahan berbahaya di dalam kosmetik kan ya?

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon belum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alasan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat diminum 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya. Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai berat badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more

21 Jul 2018

Kelas Penulisan Media Sosial PBM: Media Sosial dan Peranannya

Akhir bulan Juni, jika tidak salah tanggal 25 2018, Grup Whats App Perempuan BPS Menulis (PBM) mengumumkan bahwa pilihan kelas segera dibuka. Kelas yang ditunggu oleh kami para pembelajar tak kenal jarak. Ya, kami berasal dari seluruh pelosok negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kelas pembelajaran dibagi menjadi dua;
1. Kelas Penulisan Media Sosial dan Kelas
2. Penulisan Opini/Jurnal/Karya Tulis Ilmiah.

Para anggota PMB dibebaskan memilih sesuai minatnya masing-masing, dengan catatan, akan ada banyak narasumber, tema dan tugas yang menanti disetiap bahasannya. Tugasnya bukan dari narasumber sih, tapi dari PBM. Tujuannya agar kami langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami dapatkan.


Sesuai minat, saya memilih kelas pertama, kelas penulisan media sosial. Bukannya tidak tertarik pada kelas kedua, saya punya kebutuhan ilmu juga pada materi penulisan opini (maklum, saya statusnya sekarang pemburu angka kredit. Ha-ha), tapi untuk saat ini, masih berat untuk tema itu, wong nulis di blog dan sosial media saja sekarang butuh mood bangett. Fiuuuh..

Singkat cerita, materi kelas yang pertamapun dimulai 14 Juli kemarin. Temanya "Media Sosial dan Peranannya". Diisi oleh narasumber yang tidak asing bagi para emak-emak bloger. Ketebak gak? Iyes, Makpuh Indah Julianti! ❤

Kelas dibuka oleh moderator dengan membagikan garis besar pembahasan, dilanjutkan dengan profil Makpuh Indah yang bikin wow.. Kecebeud!

Tapi profilnya tidak saya bagikan disini ya, waktunya kita fokus ke materi yang akan saya bahas sedikit di sini.

Kenapa Harus Melek Media Sosial?
Media sosial sekarang ini adalah sarana yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia, ada beberapa tujuan yang paling mendasar:
1. Personal Branding
2. Networking
3. Promosi

Ketiganya adalah hal paling mendasar yang sering kali dijadikan alasan untuk melek media sosial. Dan tentu saja, yang ketiga adalah yang paling "gres" terutama berhubungan dengan alasan nomor satu. Jadi, sudah optimalkah media sosial yang teman-teman gunakan saat ini?

Pengaruh Media Sosial di Masyarakat
Media sosial, saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam keseharian kita, beberapa pengaruhnya antara lain:
1. Media penyampaian informasi
2. Berjejaring Sosial
3. Diskusi
4. Komunitas

Sedikit kutipan dari pembahasan mengenai pengaruh media sosial adalah Media sosial dari Makpuh Indah Julianti adalah
"Media sosial menyatukan kita, dari berbagai lokasi, tempat, atau pun penjuru dunia. Memberikan kita akses untuk melihat hal-hal terkini. Tapi, media sosial juga bisa menjadi bumerang buat kita, menjadikan kita buruk, jika dipergunakan salah."

Gimana? Setuju kan? πŸ˜‰


Lanjut yess..

Media Sosial Bagi Lembaga Negara/Sosial
Zaman sekarang, informasi resmi sekalipun akan menggunakan media sosial sebagai sarana penyampaiannya, apalagi yang berisi peraturan yang harus disosialisasikan. 

Kita yang hanya menggeser layar untuk mengetahui kabar dari teman-teman di media sosial bahkan bisa dengan "tidak sengaja" mendapat informasi tentang kemiskinan yang menurun, harga BBM, bahkan kebijakan terbaru pemerintah. Efektif banget kan? 

Maka untuk lembaga negara/sosial, media sosial bisa memberikan manfaat seperti;
1. Identitas Lembaga
2. Menyampaikan Informasi
3. Sosialisasi Kebijakan
4. Penghubung dengan Masyarakat

Media Sosial Bagi Kreator Konten/Pengelola
Nah.. Ini yang paling ditunggu-tunggu pembahasannya. Saya sendiri adalah salah satu pengelola di media sosial kantor, tapiii.. Mungkin karena saya tidak merasa ada pembagian tugas yang jelas dan sering merasa takut salah, maka kebanyakan yang saya lakukan adalah menyampaikan ide, atau sebagai editor di media sosial itu. He-he..

Lucu sih.. Tapi tak mengapa, editor berperan penting untuk bantu menyosialisasikan kepada pembacanya tentang kata-kata baku, menghindari kesalahan ketik dan menjaga agar paragraf tulisan tetap tidak membuat mata lelah, indah dibacalah istilahnya. *Muji diri sendiri 😝

Oh ya, bahasan ini juga bisa untuk media sosial sendiri sih, gak harus lembaga. Nih, bocoran tentang apa saja yang harus dimiliki atau dilakukan oleh para pengelola media sosial:
1. Kreatif menyampaikan informasi
2. Interaktif
3. Autentik
4. Update
5. Kontinuitas

Semuanya kunci untuk menjadikan media sosial yang dikelola menjadi lebih optimal. Sudahkah teman-teman memilikinya? Ini jadi pengalaman sangat berkesan juga untuk saya yang jadi introspeksi, selama ini bersosial media untuk apa sih? Personal branding-nya harus lebih kuat lagi nih.. Yuk ah sama-sama belajar! 😊


#kelasmedsospbm
#badanpusatstatistik
#gerakancintadata
#menulisasyikdanbahagia
#perempuanbpsmenulis

Read more

5 Mar 2018

Perubahan: Dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Tema perubahan dalam grup 1 Minggu 1 Cerita membuat saya terpikirkan perubahan ritme kerja yang saya alami beberapa bulan terakhir. Dari yang sebelumnya boleh dibilang "santai" menjadi ngos-ngosan karena kejar-kejaran dengan pekerjaan.

Hayo kenapa?
Manajemen waktunya gak bagus?


Nope! Nggak yaa.. Ini karena saya yang dulunya seorang Sekretaris Eselon II akhirnya bisa menyematkan gelar SE (walaupun terhitung lama) melalui ujian penyesuaian ijazah lalu kemudian dipindahkan menjadi staf di seksi Neraca Produksi, bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik. Ada yang berpikir "Nama bidangnya berasa "horor" gak sih?" hihi.. Sebenarnya sama dengan pikiran saya, pekerjaan di bidang itu terhitung asing bagi saya...

Baca Juga:
Tentang Pengumuman Hasil Ujian Penyesuaian Ijazah

Bismillah..
Saya pun meng-iya-kan tawaran dari bagian Tata Usaha. Saya merasa tidak boleh kebanyakan "gaya", sudah diberi pilihan yang baik, masih minta yang lebih lagi. Tahu diri. Saya tahu saya harus belajar banyak lagi, rasanya senada dengan keinginan saya untuk tidak menjadi sekretaris lagi, agar saya belajar lebih banyak, tidak stuck dengan urusan yang itu-itu saja. Oktober 2017 sayapun resmi beralih profesi.

Waktu jadi sekretaris, duduk manis di ruangan ini

Maka perubahan ritme kerjapun terjadi, dari saya yang kebanyakan berada di kantor, mengurusi pimpinan, menjadi tidak ada urusan sama sekali (selain menjalankan kebijakan atau permintaan tolong dari beliau), lalu kemudian sibuk di lapangan mengurusi survei di bidang tempat saya bekerja saat ini, ditambah lagi saya dan beberapa teman diperbantukan untuk menjadi pengawas Survei Biaya Hidup (SBH) 2018. Jadilah ritme kerja mengalun seperti lagu Nina Bobo menjadi lagu In The End-nya Linking Park. *Ketahuan umurnya ya.. hihi.. Atau Icy Girlnya Saweetie deh.. TOP di lagu Doom Dada.. Engap-engap deehh.. Haha..

Dan dengan perubahan yang saya alami, ada sedikit protes sih dari Abang yang pengennya saya duduk bekerja di kantor saja, tidak perlu ke lapangan, takut kecapean. Tapi mau bagaimana lagi, sayapun sudah mendaftar untuk menjadi fungsional, artinya saya harus berburu angka kredit.  Ah.. seandainya saya bisa seperti teman-teman pandai menulis opini di koran, angka kredit mah urusan gampang, poinnya besar cuy.. *Mupeng

Setelah gak jagain meja πŸ˜‚πŸ˜‚
(Gimana abang gak khawatir kan yee)

Saya bukannya tidak ingin menuruti Abang tercinta selaku imam saya, tapi ini memang pekerjaan saya, gak bantuin SBHpun saya akan diberikan pekerjaan lain, yang memang--kami di kantor Badan Pusat Statistik--tidak akan lepas dari pekerjaan lapangan, kepala bidang dan kepala kantor saja masih ke lapangan, apatah lagi kami yang hanya bawahan ini.

Baca juga: Cerita Sekretaris, Suka Duka Hingga Hal yang Konyol

Lagipula, saya juga mempelajari banyak hal dari hasil perubahan ini, saya belajar lebih banyak tentang kerja tim, maklum yee, waktu jadi sekretaris saya yang kebanyakan mengatur pekerjaan saya sendiri. Lebih banyak menurunkan ego lagi, melakukan hal yang sudah lama tidak saya lakukan, ataui bahkan yang belum pernah saya lakukan seperti menyiapkan bahan rilis atau kenalan dengan 17 kategori penghitungan PDRB yang selama ini terabaikan oleh saya. Pokoknya SAYA BELAJAR BANYAK! Ups.. Jebol capslock-nya.. Hihi..

Inilah salah satu alasan tulisan di blog jadi jarang, mungkin yang belum bisa saya kuasai saat ini adalah mood untuk nge-blog. Mungkin secara tidak sadar fisik saya capek jadi pengennya rebahan sebentar, ditambah sifat suka menunda saya, maka jadilah.. Padahal Abang sudah memafhumi kesenangan nge-blog saya lho, it's me the biggest problem.. Fiuuhh..

Panjang lebar yesss saya curhat menuliskan tentang perubahan ini, intinya saya ingin bilang bahwa pada perubahan itu terdapat kesempatan belajar, walau berat, tapi akan berguna di kemudian hari.

Kalau teman-teman, apa yang berubah di kehidupannya saat ini? Jangan sebut berat badan yess, itu perubahan saya juga.. Hehe.. Share di kolom komentar perubahan yang kamu alami saat ini ya.. ^^

Read more

23 Oct 2017

Hubungan Antara Murid, Guru dan Orang Tua Murid

Kendari beberapa hari ini kembali heboh dengan hal yang kurang mengenakkan. Kalau sebelumnya karena PCC hingga menelan korban jiwa. Berita heboh saat ini akibat tindakan kekerasan guru (berita mengatakan tamparan) kepada murid yang dianggap tidak sopan, kemudian masih diikuti dengan tindakan tidak sopan beruntun sang murid dan pemukulan orang tua murid kepada guru.

Ini petaka.. :(

Saya tidak ingin membahas lebih dalam kasus tersebut, karena takut jatuhnya ikut membully si anak SMA yang sudah cukup terkenal dengan berita negatifnya tersebut. Jadi, seperti judul tulisan ini, mari membahas tentang hubungan murid, guru dan orang tua murid saja. Tema ini sengaja kami angkat bersama kawan-kawan di Sultra Blogger Talk sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap kejadian yang masih hangat ini. Tulisan Mbak Diah Indriastuti sebagai member baru di SBT bisa dibaca di sini Adab Sebelum Ilmu.

Belajar dari kasus yang sedang viral di atas, kita kembali belajar bahwa, ada 3 tipe orang tua murid (Mm.. ini berdasarkan pengamatan saya sih ya..):
1. Menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada guru dan sekolah.
2. Ikut memantau pendidikan anak melalui guru di sekolah.
3. Hanya ingin anaknya dididik pelajaran saja, moral bukan urusan guru dan sekolah.

3 Hal mendasar diataslah yang akan membedakan cara bereaksi orang tua jika suatu saat anaknya melaporkan tindakan pemukulan atau mungkin yang dirasakan anaknya kurang mengenakkan di sekolah, entah oleh guru maupun disebabkan oleh sesama murid.


Mungkin kita sudah banyak mendengar ataupun membaca pengakuan dari orang lain saat mengomentari tindakan seperti kejadian di atas. Akan sangat banyak yang berkata:

"Ah.. Kami sekolah dulu juga dipukul lebih parah dari itu, tapi kami tidak berani melapor, karena kalau melapor, malah akan ditambah (orang tua juga ikut memberi pukulan)."

atau..

"Ah, anak sekarang mah lembek, baru disentuh dikit udah melapor."

Komentar-komentar di atas itu ada benarnya menurut saya, walaupun standar toleransi setiap orang itu beda-beda ya.. Tapi kami beneran takut melapor ke orang tua, karena apa? Orang tua jelas-jelas akan membela tindakan yang diambil oleh guru. Bahkan kesannya, kalau orang tua sudah dipanggil ke sekolah itu kita udah nakal banget.

Intinya, kami terlebih dahulu akan kena marah lebih dulu dengan kalimat pembelaan seperti ini:

"Kenapa dipukul? Gak mungkinlah kamu dipukul tanpa alasan."

Walaupun mungkin pada akhirnya orang tua tipe kedua akan melakukan cek dan ricek kembali jika dianggap urusannya serius. Tapi jika tidak, maka anak akan diminta menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tipe pertama mungkin akan beda lagi, kamu dipukul berarti kamu memang salah. Saya sudah percayakan pada sekolah. Selesai.

Sedangkan tipe ketiga, tidak akan menerima sama sekali tindakan disiplin dalam bentuk apapun kepada anaknya. Siap-siap saja sekolah akan heboh jika anaknya sampai dibuat tidak nyaman.

Saya tidak akan mengklasifikasikan orang tua yang berada di dalam berita viral itu masuk ke tipe mana, satu hal yang pasti, tidak ada orang tua yang mau anaknya dipukuli tanpa alasan yang jelas.

Jika dikembalikan pada diri saya, saya jelas tidak bisa memantau anak saya 24 jam secara penuh, adanya guru di lingkungan sekolah jelas sebuah bantuan besar, karena waktu anak banyak dihabiskan di sekolah. Tentunya sambil saya awasi. Tak mengapa ada tindakan disiplin jika memang tindakan tersebut saya anggap wajar dan bertujuan untuk mendidik secara fisik maupun mental.

Saya juga tidak ingin melepas begitu saja pengawasan terhadap anak saya ke pihak sekolah termasuk guru. Bagaimanapun anak masih tanggung jawab saya. Lingkungan sekolah dan guru sebagai pengawasnya adalah sarana sosial berpendidikan untuk anak. Disana dia akan belajar (semakin) banyak hal, disiplin, menghormati yang tua, mengasihi yang muda, memecahkan masalah, bersosialisasi, memperoleh ilmu, berorganisasi bahkan mengasah kepekaannya sebagai manusia dalam lingkup masyarakat yang lebih kecil, yang harus taat pada aturan yang sudah ditetapkan sekolah.

Kemudian jika dikerucutkan lagi, apa yang akan saya lakukan jika anak saya ditampar?

Well, itu tentu mengejutkan untuk saya, tapi saya tentu akan memilih tabayyun dulu, alasan penamparan itu apa, dari anak dan juga dari yang menampar. Jika tindakan disiplin yang diambil saya rasa berlebih, tentu akan saya bicarakan dengan pihak sekolah. Diupayakan baik-baik, tidak perlu sampai membuat kegaduhan.

Dan jika anak saya memang pantas menerima tamparan itu, tidak akan saya permasalahkan. Jika sampai akhirnya diketahui kesalahannya terlalu berat, saya berharap tidak ikut memberi bonus serupa kepada anak.

Yup, sorry to say, saya termasuk orang yang bisa melakukan hal yang dianggap kekerasan fisik kepada anak dengan tujuan mendisiplinkan. Tapi tetap dong, sebisa mungkin hal itu saya usaha dan doakan tidak perlu terjadi. Anak tentu perlu selalu diingatkan, ditegur, dibimbing, bahkan dihukum. Tapi semoga cukup hanya dengan perkataan dan tindakan disiplin lainnya, tidak perlu sampai memukul. Jadi, emaknya bisa menghukum sambil belanja di hijup.com hihi :D

Nah..

Itu tadi opini saya terhadap hubungan antara murid, guru dan orang tua, mungkin banyak berbeda di zaman dulu dengan zaman now, bahkan anggapan bahwa "Guru adalah orang tua anak di sekolah" sudah banyak ditinggalkan. Dalam batas yang wajar, mereka punya otoritas yang sama dengan orang tua dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak.

Bagaimana menurut teman-teman? Harus seperti apakah hubungan murid, guru dan orang tua? Ada yang sependapat atau bahkan tidak sependapat dengan saya?

Share di kolom komentar ya..

Read more

14 Sept 2017

Menjadi Bloger yang Merdeka

Menjadi bloger, dalam bayangan saya bukanlah sebuah profesi. Cukup membuat blog kemudian menuangkan isi pikiran melalui tulisan. Sesempatnya, tidak begitu butuh konsistensi apalagi "tekanan" dari dunia luar.

Diary elektronik, begitu kalimat simpelnya jika ingin menggambarkan apa yang saya bayangkan saat pertama kali membuat blog.

Wajar, mungkin bukan hanya saya saja yang setelah sekian tahun menulis blog, akhirnya mengetahui bahwa blog bukan hanya serupa diary elektronik, tapi juga bisa menjadi "papan iklan" sumber penghasilan dengan iming-iming, hobi yang dibayar.

Siapa yang tidak tergiur?


Saya termasuk yang tergiur. Artinya begini, saya mempunyai hobi menulis, tahu sendirilah kalau sudah hobi.. kadang kita tidak merasa bersusah-payah. Kadang waktupun tak terasa berlalu saat kita menjalankan hobi tersebut. Artinya kita senang melakukannya. Ditambah lagi saat melakukan hal yang kita senangi ada pemasukan di rekening kita, atau bahkan produk yang dikirimkan langsung ke alamat rumah kita. Siapa yang tidak mau?

Tapi untuk mencapai titik diatas ada banyak hal yang harus dipenuhi, benar kata Mak Diah Deka di dalam artikel Merdeka sebagai Blogger? Seperti apa? di Web KEB. Kita butuh nilai Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA) yang besar agar menarik di mata advertiser ataupun melalui perantara agency. Bahkan sebelum meraih angka DA/PA yang besar, kira harus terlebih dahulu membeli domain agar blog kita termasuk dalam kategori Top Level Domain (TLD), kesukaan para pemberi job.

Baca juga: First Time In My Life : Membeli Domain

Saya dan juga kebanyakan teman-teman yang tergabung dalam komunitas bloger sudah melalui tahap di atas. Saat ini, tantangannya adalah konsisten menulis untuk menjaga -atau bahkan meningkatkan- nilai DA/PA. Tantangan tersebut datang semata dari dalam diri, musuhnya diri sendiri, yang malas, yang moody dan banyak alasan. *Udah jangan nunjuk, saya sejak tadi sudah angkat tangan, Ngakuuu! LOL

Tantangan berikutnya adalah memilah-milih job yang masuk.

Di saat-saat seperti inilah bloger dituntut untuk memerdekakan dirinya, tidak menghamba pada lembaran uang yang menjadi bayaran dengan tetap menerima job walaupun mungkin bertentangan dengan niche blog ataupun prinsip hidupnya sendiri.

Dan saya belum lama ini mengalaminya...

Gaess.. Siapa yang tidak mau uang? Apalagi job yang diberikan tidak membuat saya harus memutar otak, bayaran lumayan dan artikel sudah tersedia. Saya tau beres, tinggal copy-paste-edit-publish-konfirmasi-ditransfer-shopping.

Baca juga: Tentang Komentar, Jawaban dan Blog Walking 

Tapi ada yang terasa janggal, rasanya saya tidak tenang setelah mengetahui tema dan isi artikel. Yah, mungkin memang saya bawaannya tidak suka berurusan dengan yang kontroversial, jadi setelah membaca artikel berulang kali, mencari info, juga meminta pertimbangan Abang, kami sepakat untuk tidak mengambil job tersebut.

Ada kekhawatiran sebenarnya, jangan sampai tindakan saya tersebut akan membuat saya masuk dalam black list agency. Tapi saya lebih tidak tenang lagi rasanya jika harus ikut karena terpaksa (walaupun dibayar). Akhirnya mencoba mundur dengan sopan. Entah masuk black list atau tidak, yang jelas saya lega.

Mungkin sejauh ini, itu langkah terbaik saya dalam memerdekakan diri. Bukan pertama kalinya menolak job juga sih, kalau diatas bayarannya lumayan, sebelum-sebelumnya saya juga tidak galau menolak job dengan bayaran yang masuk kategori tega. Kecil banget bayarannya cyiiintt.. Saya gak mau nyiksa diri, hobi sih hobi, tapi tak beginiiii~ *Hayo ngaku, siapa yang nyanyiii :p

Baca juga: Saat Hobi Menulis Mendukung Hobi Berolahraga

Dilain waktu, job yang saya terima sebagai bloger bukan hanya masalah bayaran, saya juga menerima walaupun bayarannya kecil atau bahkan gratis sekalipun. Buat UMKM, teman ataupun keluarga, biasanya saya kasih promosi gratis di blog dan sosial media, salah satu cara saya memberikan dukungan terhadap usaha mereka, sambil ikut mendoakan keberhasilan usahanya.

Pada akhirnya menjadi bloger yang merdeka adalah menjadi bloger yang bebas, tidak terintimidasi oleh tekanan dari luar yang bersifat negatif. Jika bersifat positif, hal itu harus dianggap sebagai motivasi. Tapi pada intinya kita semua sedang belajar, karena walaupun bebas kita tentu harus tetap berada pada koridor kepatutan. Dan ini tidak mudah karena butuh awareness yang tinggi.

So.. Be your self, follow your heart and enjoy the freedom..

MERDEKA!!

Read more

2 Oct 2016

Hijrah dan Sosial Media

1 Muharram ini sering banget baca kata hijrah.

Salah 1 yang saya pahami dari kata Hijrah adalah perubahan ke arah yang lebih baik, ini tidak dilakukan sendiri, tapi lingkungan juga harus mendukung.


Nah.. di medsos, salah 1 bentuk dukungan terhadap yang sudah berhijrah -misalnya dari yang belum berkerudung sekarang sudah berkerudung (walaupun mungkin belum bisa dikatakan syar'i) - adalah dengan tidak menyebarkan gambar atau video semasa dia belum berhijrah dulu.

Ini mungkin remeh, tapi tidak bagi orang yang sedang belajar/ingin berhijrah tersebut. Apalagi sekarang ada fitur untuk meninjau momen-momen yang pernah kita bagikan bertahun silam. Banyak kenangan yang membuat kita bisa menekan tombol share sambil tersenyum saking bahagianya, lupa ada hak saudara/saudari kita di sana.

Lalu bagaimana kalau ternyata kerudungnya juga lepas pasang? Kembali ke niat lagi, kalau kita niatnya mau mendukung teman/sahabat kita jadi lebih baik, ya jangan dibagikan. Tahan diri untuk membagikan gambar/video tersebut, sebisa mungkin mengingatkan dengan santun sambil mendoakan hijrah mereka bisa lebih baik. Tidak lupa berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu.

Selamat memasuki 1 Muharram 1438 Hijriah, semoga niat baik dan hijrah kita diridhoi Allah, selalu dalam lindungan-Nya dan semakin baik di mata Allah. Aamiin..

Read more

27 Jul 2016

Eye Liner Stylo - The One | Eye Liner yang Cocok untuk Pemula

Hai.. di Rabu review kali ini saya ingin memberikan review tentang kosmetik.

Well, saya sebenarnya tidak ahli dengan kosmetik, tapi seperti biasa, untuk hal-hal yang kece saya selalu semangat membahasnya! ^^


Kosmetik yang ingin saya bahas adalah eye liner. Sebenarnya kalau diingat-ingat lagi rasanya lucu, saya awalnya selalu menolak kalau ditawari eye liner, alasannya simpel, saya gak bisa pakenya! LOL

Dan akhirnya tahun lalu saya mencoba eye liner stylo dari The One, produk dari Oriflame. Bentuknya yang menyerupai pena meyakinkan saya untuk mencoba. Mungkin akan lebih mudah diaplikasikan, tebak saya.
Bentuknya mini, kualitasnya oke! 

Dan benar saja, dengan sifatnya yang cair dan bermata tajam, pengguna pemula seperti saya awalnya masih apply and error dan butuh waktu lama untuk selesai bisa menggunakannya dengan lebih baik dalam waktu yang singkat. :D

Matanya yang tajam memudahkan pengguna
menyesuaikan ketebalan yang diinginkan.

Dengan kata lain, walaupun Anda pemula, baru ingin mencoba/belajar menggunakan eye liner, produk ini layak dipertimbangkan. Apalagi kalau sudah sangat terbiasa menggunakan eye liner, akan sangat mudah menggunakannya.


Yang juga saya sukai dari produk ini adalah, sekalipun tidak berlabel water resist tapi tidak serta merta menjadikan mata penggunanya seperti mata panda saat berwudhu atau sedang berkeringat, eye linernya tahan kecuali digosok.

Hanya menggunakan eye liner

Eye Liner Stylo - The One
Harga Normal: Rp. 139.000
Repurchase : Yess, I did
Read more

5 Feb 2016

5 Video Senam dan Zumba yang Sering Diperagakan di Taman Kota Kendari

Holaa.. sudah mau weekend lagi nih.. pada seneng olahraga dong yah? Senam? Zumba? Atau Makan? #Eh

Jadi saya sudah lama pengen buat kumpulan video senam dan zumba, awalnya sih karena melihat peserta yang semangat mengikuti gerakan saat di Taman Kota (Tamkot) Kendari, kalau dapat videonya dan dipraktekin di rumah saya yakin saat ikut senam gabungan sudah pada lincah dan seragam mengikuti gerakan. Makanya kali ini diawali dengan video senam dan zumba yang sering diperagakan di Tamkot dulu..

1. Terong dicabein

Yapp.. sekali lagi ini bukan video demo masak.. tapi senam kreasi, jadi kolaborasi terong-terongan dan cabe-cabean inilah yang paling jarang absen kalau ada senam di Tamkot.

2. Anzlech Lecobiat
Setelah mencari bersama Ayu Ting-ting 
akhirnya dapat juga video dengan peraga yang berpakaian lebih enak dilihat! Yeay^^

Kalau lihat di YouTube sih video-videonya kebanyakan sudah diunggah setahunan lah ya... Tapi baru beberapa bulan line dance ini diperkenalkan di Tamkot. Dalam 1 lagu ada 2 jenis gerakan, simpel kok!

3. Boom Boom Mama
Nah.. Zumba dengan lagu dan gerakan ini bikin remaja-remaja yang jadi peserta suka bersorak.. karena ada lirik yang berbunyi "ea..ea..ee.."

4. Fiesta Buena
Video ini adalah video Zumba favorit saya, lagunya asik dan high impact banget! Gerakannya juga gak banyak yang "aneh-aneh".

5. Feel This Moment
Ini sih aslinya gerakan buat pemanasan ya.. tapi sering kali diperagakan di waktu zumba, selain gerakan dari Patrick di lagu Fiesta Buena di atas saya juga suka gerakan di lagu ini, simpel dan (lagi-lagi) gak aneh gerakannya. ^^

***
Nah.. itu dia video senam dan zumba yang sering diperagakan di Taman Kota Kendari, sebenarnya ada yang lebih sering lagi, hanya saja saya belum dapat videonya, nanti kalau dapat Insya Allah saya buatkan lagi bagian ke-2nya ya.^^

Untuk yang tidak berdomisili di Kendari, coba unduh video-videonya deh.. worth to try lho.. senam/zumbanya di rumah aja gak apa-apa, kalau ada gerakan-gerakan yang mungkin dirasa aneh (baca terlalu provokatif atau apalah namanya) kan bisa diubah, yang penting sesuai irama saja. Atau teman-teman punya request mau lagu apa, tulis saja di kolom komentar, nanti Insya Allah saya bantu cari yang gerakannya asik.

Yuk belajar hidup sehat bareng!! ^^

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...