Minggu pagi, dengan begitu senangnya saya menuju ke Taman Walikota Kendari. Tempat yang sering disebut Tamkot ini adalah salah satu pusat keramaian di Kota Kendari yang sudah terasa denyutnya sejak subuh, selain pelelangan ikan tentunya.
Pustaka Jalanan
Pustaka jalanan mulai digelar pukul 7 sampai pukul 11 (khusus Tamkot), dibuat secara swadaya oleh Amran Labueya, seorang mahasiswa kelahiran Buton Tengah, berkuliah pada pendidikan Sejarah di Universitas Halu Oleo (UHO). Didorong oleh rasa prihatin terhadap minat baca yang masih rendah. Dengan menggelar pustaka jalanan, Amran berharap pusat keramaian/tempat rekreasi tidak hanya menjadi tempat "hura-hura" tetapi juga bisa menjadi tempat memperoleh ilmu.
Sumber bacaan di pustaka jalanan sendiri kebanyakan bersumber dari koleksi pribadi Amran, baik berupa novel maupun buku-buku referensi kuliah. Ada juga donasi buku dari perorangan tapi tidak banyak. Tidak heran, koleksi buku di Pustaka Jalanan sendiri relatif masih sedikit walau sudah beroperasi selama 9 bulan.
Kedepannya, Amran menginginkan pustaka jalanan hadir lebih menarik dengan hadirnya buku-buku yang juga menarik, setidaknya minat orang-orang yang niatnya hanya sekadar lewat saja dan tentu saja menarik bagi seluruh tingkatan umur. Di lain sisi, Amran merasa buku-buku yang disediakannya belum bisa menyentuh banyak tingkatan umur, ia menyadari, buku bacaan anak masih belum tersedia di pustaka jalanan.
Kendala Pustaka Jalanan
Saat menanyakan mengenai kendala, hebatnya tidak ada keluhan mengenai biaya yang keluar dari pemuda berumur dua puluh lima tahun ini. Padahal sifat Pustaka Jalanan yang berusaha selalu hadir di keramaian (kampus, lapangan MTQ maupun Tamkot) tentu membutuhkan waktu, tenaga dan biaya.
Secara personal, yang mengganggu nuraninya saat mengelola Pustaka Jalanan adalah aktivitas "pengunjung" yang hanya menjadikan buku sebagai properti untuk berfoto; singgah-ambil buku-cekrek-cekrek-simpan buku-pergi. Menurutnya hal tersebut sangat tidak menghargai ilmu pengetahuan.
Sedangkan untuk buku sendiri,(walaupun tidak banyak kejadian) Amran memberikan pinjaman buku dengan modal kepercayaan saja. Sudah terbayang masalahnya? Betul. Masalah global dalam dunia pinjam-meminjam. Dipinjam dan tidak kembali. Miris ya.. Hehe
Donasi Untuk Pustaka Jalanan
Amran tidak meminta saya untuk menulis ini lalu memohon untuk donasi. Sejak awal, hal yang berkali-kali disebutkannya adalah ia menginginkan buku anak. Saya berdecak kagum walau tetap memasang senyummanis bijak. *Ngerti kan? Itu lho.. senyum sambil ngangguk-ngangguk. LOL
Melihat Pustaka Jalanan ini, sejak awal saya sudah berniat donasi, bukan hendak menyebut-nyebut niat baik, tapi niat baik ini saya yakini tidak hanya dimiliki saya seorang. Maka saya mengajak teman-teman yang membaca blogpost ini untuk ikut mendonasikan bukunya, baik yang masih baru maupun bekas.
Amran sebenarnya mengharapkan donasi langsung berupa buku saja, tapi mengingat rekan-rekan saya juga banyak berasal dari luar Sulawesi Tenggara, akan saya akomodir jika teman-teman ingin berdonasi dalam bentuk uang. Insyaallah akan diteruskan sesuai amanah teman-teman. Sejauh ini saya berangan-angan untuk melakukan belanja buku bersama Amran dari hasil donasi uang yang terkumpul. Saya sudah meminta izin dari amran untuk penggalangan donasi ini. Dan untuk transparansi, insyaallah setiap donasi akan saya update di akun Facebook saya.
Untuk donasi buku bisa dikirimkan ke:
Irna Octaviana Latif
Kantor Badan Pusat Statistik Prov. Sultra
Jl. Boulevard no. 1
Kecamatan Kambu
Kelurahan Padaleu
Kota Kendari (93231)
Hp: 085288445005
Untuk donasi berupa uang:
BRI 0217-01-023502-50-5
Atas Nama Irna Octaviana Latif
(Setelahnya mohon konfirmasi via WA ke nomor di atas)
Bukumu numpuk di rumah? Yuk, kumpulin untuk Pustaka Jalanan. Mau menyumbang uang juga boleh, nominal sungguh tak masalah, niat baikmu jangan ditunda!
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#Hari ke-1
Read more
Saya merindukan Tamkot dengan segala aktivitas sehatnya. Lupakan pedagang yang berjualan di sepanjang jogging track. Makanan--berat hingga ringan--yang berbaris cantik bukan godaan untuk saya.
Selepas senam dan Lulo (tarian adat khas Sulawesi Tenggara) bersama di jantung ruang terbuka hijau itu, sayapun berjalan-jalan sekedar melihat ada perubahan apa saja selama kurang lebih 9 bulan vakum memutari Tamkot.
Benar saja, saya menemukan hal baru di sana!
Ada buku yang berbaris di sisi kiri jalan, saya bingung menjelaskannya, sebut saja pot besar karena berbentuk pot raksasa--walau tak memiliki kaki--dan ditengahnya ada tanaman. Sekedipan mata kemudian terlihatlah kertas bertuliskan kalimat "TIDAK UNTUK DIJUAL HANYA UNTUK DIBACA"
"Eh, apa nih??" Saya penasaran.
Pustaka Jalanan
Pustaka jalanan mulai digelar pukul 7 sampai pukul 11 (khusus Tamkot), dibuat secara swadaya oleh Amran Labueya, seorang mahasiswa kelahiran Buton Tengah, berkuliah pada pendidikan Sejarah di Universitas Halu Oleo (UHO). Didorong oleh rasa prihatin terhadap minat baca yang masih rendah. Dengan menggelar pustaka jalanan, Amran berharap pusat keramaian/tempat rekreasi tidak hanya menjadi tempat "hura-hura" tetapi juga bisa menjadi tempat memperoleh ilmu.
Sumber bacaan di pustaka jalanan sendiri kebanyakan bersumber dari koleksi pribadi Amran, baik berupa novel maupun buku-buku referensi kuliah. Ada juga donasi buku dari perorangan tapi tidak banyak. Tidak heran, koleksi buku di Pustaka Jalanan sendiri relatif masih sedikit walau sudah beroperasi selama 9 bulan.
Kedepannya, Amran menginginkan pustaka jalanan hadir lebih menarik dengan hadirnya buku-buku yang juga menarik, setidaknya minat orang-orang yang niatnya hanya sekadar lewat saja dan tentu saja menarik bagi seluruh tingkatan umur. Di lain sisi, Amran merasa buku-buku yang disediakannya belum bisa menyentuh banyak tingkatan umur, ia menyadari, buku bacaan anak masih belum tersedia di pustaka jalanan.
Kendala Pustaka Jalanan
Saat menanyakan mengenai kendala, hebatnya tidak ada keluhan mengenai biaya yang keluar dari pemuda berumur dua puluh lima tahun ini. Padahal sifat Pustaka Jalanan yang berusaha selalu hadir di keramaian (kampus, lapangan MTQ maupun Tamkot) tentu membutuhkan waktu, tenaga dan biaya.
Secara personal, yang mengganggu nuraninya saat mengelola Pustaka Jalanan adalah aktivitas "pengunjung" yang hanya menjadikan buku sebagai properti untuk berfoto; singgah-ambil buku-cekrek-cekrek-simpan buku-pergi. Menurutnya hal tersebut sangat tidak menghargai ilmu pengetahuan.
Sedangkan untuk buku sendiri,(walaupun tidak banyak kejadian) Amran memberikan pinjaman buku dengan modal kepercayaan saja. Sudah terbayang masalahnya? Betul. Masalah global dalam dunia pinjam-meminjam. Dipinjam dan tidak kembali. Miris ya.. Hehe
Donasi Untuk Pustaka Jalanan
Amran tidak meminta saya untuk menulis ini lalu memohon untuk donasi. Sejak awal, hal yang berkali-kali disebutkannya adalah ia menginginkan buku anak. Saya berdecak kagum walau tetap memasang senyum
Melihat Pustaka Jalanan ini, sejak awal saya sudah berniat donasi, bukan hendak menyebut-nyebut niat baik, tapi niat baik ini saya yakini tidak hanya dimiliki saya seorang. Maka saya mengajak teman-teman yang membaca blogpost ini untuk ikut mendonasikan bukunya, baik yang masih baru maupun bekas.
Amran sebenarnya mengharapkan donasi langsung berupa buku saja, tapi mengingat rekan-rekan saya juga banyak berasal dari luar Sulawesi Tenggara, akan saya akomodir jika teman-teman ingin berdonasi dalam bentuk uang. Insyaallah akan diteruskan sesuai amanah teman-teman. Sejauh ini saya berangan-angan untuk melakukan belanja buku bersama Amran dari hasil donasi uang yang terkumpul. Saya sudah meminta izin dari amran untuk penggalangan donasi ini. Dan untuk transparansi, insyaallah setiap donasi akan saya update di akun Facebook saya.
Untuk donasi buku bisa dikirimkan ke:
Irna Octaviana Latif
Kantor Badan Pusat Statistik Prov. Sultra
Jl. Boulevard no. 1
Kecamatan Kambu
Kelurahan Padaleu
Kota Kendari (93231)
Hp: 085288445005
Untuk donasi berupa uang:
BRI 0217-01-023502-50-5
Atas Nama Irna Octaviana Latif
(Setelahnya mohon konfirmasi via WA ke nomor di atas)
Bukumu numpuk di rumah? Yuk, kumpulin untuk Pustaka Jalanan. Mau menyumbang uang juga boleh, nominal sungguh tak masalah, niat baikmu jangan ditunda!
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#Hari ke-1


















