20 Jul 2019

Kamu (masih) Bahagiaku

Mereka menyelamatimu karena bertambah usia..
Aku di sini bersedih karena artinya telah berkurang lagi umurmu di dunia ini..

Tapi kalau harus merayakan
Sungguh telah kurayakan sejak dini
Jauh sebelum orang-orang menyelamatimu
Hadiahpun kusiapkan jauh sebelum orang-orang melihat pengingat ulang tahunmu di media sosial

Kalau kau mau tahu
Cara merayakanku qadarullah cukup unik
Sejak subuh gelap dan hawa dingin masih menusuk
Sudah kuisap lendir di hidung anak bayimu ini

Maaf,  ku tak lagi sempat meneleponmu dengan suara manja menggemaskan ala anak remaja
Kusibuk menenangkan anak bayimu yang rewel
Kujuga sibuk menyeka lendir yang mengalir dari hidungnya
Yang herannya ia semakin rewel seolah tak rela lendirnya itu diambil

Kalau kuingat betapa terkurasnya emosi
Kalau kungat lelahnya merawat bayi yang sedang rewel nan demam ini tanpamu
Rasanya kuingin menukar hadiah yang sudah kusiapkan sejak lama
Kuganti saja dengan tumpukan tisyu penuh lendir dari hidung anak bayimu ini 😝

Tapi kubukan anak remaja yang hanya membayangkan indahnya pernikahan saja
Kutahu pahit dan getirnya
Kunikmati suka dan bahagianya
Maka hari inipun tak berubah

Judul puisiku masih sama
Kamu (masih) bahagiaku 🤗


Tak perlu kutulis doa dalam bait
Sudah kulangitkan ia pada pemilik hayat
Dimanapun kuingat kamu
Hanya doa kebaikan tercipta untukmu

Kendari, 20 Juli 2019 (13.56 wita)
Read more

16 Jul 2019

Episode Baru LDM: Sungguminasa

Long Distance Relationship (LDR) atau yang lebih suka saya sebut sebagai Long Distance Marriage (karena statusnya sudah jelas..wkwk) sebenarnya bukan hal yang baru dalam pernikahan kami. Latar belakang pekerjaan suami yang bekerja di sebuah organisasi yang dinamis membuat keluarga kami harus siap dengan segala kemungkinan pindah.

Tapi saya percaya, bahwa setiap penetapan melalui Surat Keputusan yang di dalamnya tercantum nama suami, akan mempunyai episode, rasa dan ceritanya masing-masing.

Termasuk saat suami menelepon saya 8 Juli kemarin.. Saat dimana Episode baru LDM kami kemudian dimulai..

Hari itu cukup hectic, saya yang sedang izin untuk mengantar Aqif ke posyandu dan mengurus makanan menu 4 bintang pertamanya dibuat kaget dengan kabar kelulusan suami.

Suaranya pelan diujung telepon, antara senang dengan pencapaian suami yang hanya coba-coba mengikuti tes, penempatannya tidak jauh seperti yang kami takutkan, atau harus sedih karena waktu keberangkatan yang begitu mendadak. Tidak ada tawar-menawar, besok (9/7/19) suami sudah harus berangkat menuju Sungguminasa. SHOCK!


Ya, walaupun di telepon saya tetap mengucap Alhamdulillah, tapi saya tidak bisa berbohong dan menyembunyikan rasa kaget saya. Saya coba berpikir panjang dan mencari celah agar rasa syukurlah yang mendominasi.

Hebatnya pikiran saya, saya masih sempat berpikir memback up kegiatan saya besok yang harusnya mendata di lapangan tapi yakin pasti akan tersita dengan aktivitas packing dan mengantar suami ke bandara.

Beruntung saya berhasil melakukan wawancara untuk 3 usaha dalam waktu yang cukup singkat dalam cuaca yang cukup mendung. Alhamdulillah Allah mudahkan.

Menjelang Magrib suamipun pulang, membawa segala harta bendanya yang ada di kantor dan dari mobil dinas. Dan runtuhlah sudah ketegaran yang coba saya bangun saat melihat suami menggendong Aqif dengan wajah sedih dan tatapannya yang entah dilayangkannya ke mana. Saya hanya bisa menghibur dan pastinya ikutan mewek... 😥

Benar kami tahu suatu saat akan ada kepindahan dan LDM seperti ini, tapi entahlah, kami mungkin tidak pernah benar-benar siap, semuanya masih terasa mengejutkan. Hati kami tidak pernah kami siapkan, terutama dalam waktu secepat ini.

Malam itu juga, kami adakan makan malam dadakan, mertua dan bapak saya yang sangat susah diajak makan di luar rumah, Alhamdulillah sangat kooperatif dengan sedikit bujukan. Kami makan bersama, mencoba membangun kebersamaan yang entah kapan bisa seramai malam itu lagi, minus adik ipar dan keluarga kecilnya.


Keesokan harinya, sejak pagi kami sibuk packing, saya ke kantor sebentar untuk handkey, kebetulan hari itu jadwal saya untuk ke lapangan, jadi tidak wajib stay di kantor. Kewajiban sudah saya siasati kemarin, saya bisa fokus untuk galau mengantar hari ini.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal selain kenangan di rumah, sebagian barang-barang keperluan milik suamipun dimasukkan ke mobil. Kami menuju bandara dengan perasaan yang bercampur aduk.

Saya sudah berpikir mengatur siasat dalam memutus rantai panjang rindu nanti, kemungkinan terbaik dari segi waktu adalah saya dan Aqif yang berangkat ke Makassar. Masalah uang dan kesiapan Aqif akan dipikirkan belakangan. Sungguh kesempatan ini sudah cukup mengangkat sedikit remahan galau dalam skenario penuntasan rindu.

Cukup cepat kami tiba di bandara. Setelah melakukan check inn, suami dan rekannya keluar lagi. Kami bercengkrama mencoba berquality time sebaik mungkin. Saya masih mencoba tegar dengan melakukan senyum palsu melalui selfie.

Waktu semakin sempit, mau tidak mau suami harus pamit untuk menuju ke ruang tunggu. Saya mewek lagi melihat suami yang membuang nafas panjang saat harus melepas Aqif. What a heartbreaking moment. 😞

Malam menjelang tidur, saya siapkan gambar untuk diposting di Instagram, untuk mengenang momen shock ini, tapi ternyata saya malah sudah tidak bisa berpalsu-palsu lagi. Saya memang tidak perlu pura-pura tegar lagi di depan suami dan keluarga, hanya ada Aqif yang tertidur. Saya sudah bebas berekspresi menumpahkan kegalauan... Besoknya mata bengkak dong! Wkwk..

Dan sekarang, beberapa hari sudah berlalu, rasanya masih saja ada yang hilang, teringat di bandara, saya sudah menghitung kemungkinan untung rugi jika suami harus pulang, Makassar-Kendari memang tidak begitu jauh jarak tempuhnya melalui pesawat, tapi jika harus pulang Sabtu dan kembali hari Minggu, rasanya terlalu cepat.

Saya cek lagi jadwal penerbangan di aplikasi Pegipegi. Sudah agak turun sih ya harganya, dan ada jadwal penerbangan yang mendukung saya jika harus berangkat malam hari.

Tau diri dong saya, bukibuk bawa bayi dan jika ingin pergi bersama, mau tidak mau harus ada bagasi. Saya cek tiket pesawat citilink, duh lumayan banget apalagi kalau sudah dipotong diskon gede yang ditawarkan pegi-pegi. Beneran gak nyangka diskonnya sebesar itu, enak bangetlah kalau mau beli tiket pesawat online.


Dan waktu ngecek-ngecek harga tiket pesawat, saya menemukan keunggulan aplikasi terbaru pegipegi ini, apa coba? Tuh, titik 3 di sudut kanan atas. Itu memudahkan banget kalau ingin melihat kode promosi yang mungkin lupa dicopy. Nyenengin bangetlah kalau mau merencanakan perjalanan pakai pegi-pegi.

Soon, Insyaallah segera ketemu lagi ya Beb, Aqif juga rindu, sejak ditinggal tidur malamnya tidak senyenyak biasanya. Tidur siang juga berantakan. Ngaruh di baby juga ternyata LDM itu.. Pengaruh di emaknya mah jangan ditanya.. Huhu..

Teman-teman ada yang LDM juga? Sharing cerita dooongg..
Read more

1 Jul 2019

Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Hellooo.. Ibu baru ini kembali menyapa sambil bersih-bersih sarang laba-laba di blog. Hihi..

Harap maklum, kesempatan menulis kegencet urusan domestik dan usaha untuk menjadi wanita kuarier yang gak nyusahin teman sesama staf.. (yeah.. I think i have to tjurhat in this blog about my guilty feeling.. Soon, maybe? 😝).

Oke, kita fokus pada drama penentuan HPL dulu yess.. Seperti yang teman saya bilang di kolom komentar postingan berjudul Kehamilan Trisemester Ketiga, si bayik sudah mau MPASI dan cerita drama melahirkan yang ditunggu-tunggu itu belum juga terkuak itu belum juga saya ceritakan. I have to write it, ASAP!

Kenapa temen saya melit (kepo) banget? Entahlah, dia dan banyak orang mungkin tidak menyangka bahwa harus melalui 2 kali induksi. Jangankan mereka, saya saja terkejoet terheran-heran.. Wkwk.. Tapi apapun itu, skenario dari Allah tidak bisa diprediksi, all we have to do are.. Berdoa, berusaha dan BROJOL sesuai keyakinan masing-masing! 😅

Iya kan? Bahkan pada suatu titik yang telah kita usahakan, kalau keadaan tidak memungkinkan, mau tidak mau kita harus menyerah pada keadaan, seperti yang saya rasakan, NYARIS!!!

Yuks mulai..


Drama Penentuan HPL
Sebagai seorang bumil (pada waktu itu), saya tentu saja banyak mencari referensi melalui internet, terlebih lagi pengalaman dari teman-teman yang sudah melahirkan, baik yang berada pada satu satuan kerja dengan saya, ataupun yang berada di pulau lain. Pengalaman dari dokter ini, inu, dan itu.

-Dokter S-
Dokter S adalah dokter yang selama hamil rutin saya kunjungi, sejak usia kandungan 8 bulan, beliau memberikan tanggal 1 Januari 2019 sebagai HPL saat saya meminta surat keterangan untuk kelengkapan pengajuan cuti di kantor.

Wah.. Tanggal cantik banget, tapi juga mengkhawatirkan karena pada saat itu adalah hari libur, takut nakes dan orang-orang yang terlibat malah sedang susah dihubungi atau apalah..

-Dokter A-
Karena saya berencana melahirkan di rumah sakit lain di Kota Kendari, saya kemudian mencoba memeriksakan diri pada dokter kandungan yang diketahui bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.

Tempat prakteknya juga di RS tersebut. Pengalaman pertama di bagian registrasi sudah kurang mengenakkan, tapi namanya kita lagi butuh ye kan? Jadi disabar-sabarin.. Fiuhh..

Tiba saatnya saya diperiksa, dokter langsung menyatakan bahwa HPL saya sudah tinggal menunggu waktu, rentangnya 1 - 15 Desember 2018. Sontak saya dan suami langsung beradu pandang *yaelah, kek sinetron yak?! 😆* pikiran saya kemudian melayang memikirkan pekerjaan saya yang masih banyak di waiting list. 😅

Next.. Saya tentu saja jadi galau dan mencari third opinion..

-Dokter I-
Nah, di tengah kegalauan hati tentang second opinion yang tak beririsan bagai diagram venn itu, saya tidak sengaja dapat info bahwa dokter I juga bekerja sama dengan RS yang ingin saya gunakan untuk melahirkan.

Oke fix, dapat waktu yang cocok untuk periksa, sayapun merasa cocok dengan dokter I. HPL dari dokter I adalah tanggal 25 Desember 2018. Alamak nakk.. Kamu suka sekali hari libur yak? Hihi..

Sejak usia kandungan 9 bulan, setiap minggu saya memang memeriksakan kandungan. Mungkin kunjungan ketiga atau keempat saya mulai kabur lagi dari dokter I. Kenapa? Karena menurut hasil pemeriksaan dokter I, ketuban saya mulai keruh, paling lambat tanggal 26 Desember saya sudah harus "menyerahkan diri" dengan atau tanpa rasa sakit. Pilihannya adalah induksi.

Duhh.. Sudah sering deh dengar cerita sakitnya induksi, saya gak mau, lebih-lebih orang tua saya yang menginginkan saya melahirkan dengan cara alami, gak pake diinduksi aka dirangsang terlebih dahulu.

Maka kembalilah saya ke dokter S..

Dokter S bilang, kalau keruh sih nggak ya.. Dalam rentang waktu 1 sampai 3 hari dari waktu pemeriksaan kondisi bayi dan ketuban masih aman, saya tidak lupa untuk menanyakan kemungkinan melahirkan secara normal, dan dokter memberi sinyal operasi karena kondisi bayi yang besar. OMG!

Saya kabur lagi dong.. Induksi aja tak rela apalagi harus Sesar..Wkwk 😅

Tidak menunggu lama, keesokan harinya saya langsung ke dokter L

-Dokter L-
Sudah banyak yang bilang bahwa dokter L bagus, tapi karena rumah sakit tempat beliau kerja bukan tujuan saya, jadi tidak saya lirik sama sekali. Baru kemudian saat mencari (udah berapa nih? 😅) third opinion yak? Saya akhirnya mengantri untuk diperiksa.

Kesan pertama enak banget, dokternya lembut dan menjelaskannya sabar, gak buru-buru, dan yang paling penting, sangat menenangkan sekali.

Hasil pemeriksaan beliau bilangnya ketuban memang keruh, tapi bisa jadi karena kulit bayi atau hal lainnya. Ahayyyy... Dari sini niat untuk menunggu rasa sakit alami yang datang itu makin mantap! Kami sekeluarga lega karena dokter S bilang masih bisa menunggu sampai tanggal 10 Januari.😊

Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!

What The ...¥£€¢¤π©®!!

Bersambung

Note:
Berdasarkan pengalaman dan hasil nanya-nanya ke teman-teman, HPL (seperti juga namanya perkiraan) memang hanyalah perkiraan dari dokter saja, hanya rentang waktu, bisa jadi lahirannya lebih cepat, bisa jadi lahirannya lebih lama dari HPL, bahkan ada yang bisa tepat. Tinggal gimana tanda-tanda alam itu muncul aja sih.. Semua kembali pada ketetapan Allah, dokter hanya menganalisa melalui keilmuan yang dimiliki.

Makanya, kalau kebetulan kamu yang baca ini juga sekota dengan saya, jangan menganggap saya menjelekkan dokter ini atau itu.. Semuanya punya keunggulan masing-masing, bukankan dokter itu seperti penjahit? Cocok-cocokan seyyy.. Kamu cocok di dokter ini, belum tentu saya cocok di dokter yang sama. Begitupun sebaliknya. 😊

Daan.. Kalau kamu yang membaca juga galau seperti saya (menentukan HPL), tetap berpikir positif dan pilih deh yang mana yang kamu yakini, ini kalau mau nunggu tanda-tanda alami ya.. kalau mau sesar mah bebas, tinggal carti tanggal cantik berikut persiapan yang sudah oke juga. 😆

Kalau kamu kepo sama cerita kehamilan saya, nih saya kasih linknya :D :
Kehamilan Trisemester Pertama
Kehamilan trisemester kedua
Link semester ketiga ada di awal tulisan yess..

Buibuk ada yang punya pengalaman serupa dalam menentukan HPL? Share di kolom komentar ya..

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...