13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon bedum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alsan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat dimimun 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya.Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more

24 Jul 2018

Hamil dan Omongan Orang

Peringatan: Isi tulisan ini berupa curhat, unek-unek selama kehamilan yang saat ini menurut Hari Pertama Haid Terakhir atau yang biasa disingkat (HPHT) janin saya sudah berusia 17 minggu.

Jadi, sebenarnya saya ini punya banyak utang tulisan, 1 tema tentang kuliner di grup kolaborasi KEB. dua tema menulis yang berbeda di Be Molulo. Yang tentang kuliner sih sudah ada dua ratusan kata di draf, tapi mentok mau melanjutkannya, padahal ini utang yang paling lama, sejak Ramadan! Eh.. gak ding, masih ada banyak utang tulis-menulis juga di grup Perempuan BPS Menulis! OMG! *Tepok jidat.

Namanya juga sebenarnya, berarti hanya latar belakang masalah.. Sekarang kita masuk ke bab selanjutnya. Kenapa utang menulisnya gak juga dibayar-bayar? It's about mood.. My swing mood! Fiuhh.. Pengennya sekarang nulis curhatan dulu, mengeluarkan uneg-uneg di hati yang rasanya makin ciut karena punya telinga yang lebar selama kehamilan ini. *Ih.. Pengen capslock deeeh!!

Omongan Orang
Semenjak hamil seriiing sekali saya mendengar kalimat atau pernyataan "Ih, gemuk ya!" awalnya saya senyum saja, mungkin masih dalam euforia sangat bahagia dengan hadirnya keturunan yang sudah dinantikan oleh kami dan keluarga kami. Tapi kok ya, lama-lama rasa panas di kuping sampai juga ke hati. Saya baperan? Ah.. trust me, i'm not alone!

Saya bukannya tidak bisa menerima dengan baik maksud orang-orang mengatakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Bahwa saya gemuk bangetlah, saya lebar, besar, dengan berbagai macam ekspresi yang kadang bikin saya (yang merasa hal ini wajar) jadi berpikir "Oh ya, sebesar itukah saya?"

Poinnya itu, kita yang kadang merasa baik-baik saja jadi terusik hanya karena orang-orang yang tidak bisa menahan omongan yang diiringi ekspresi terkejut banget dan ditutup dengan tanda tanya. FYI, saya tidak menyangka berat badan saya bisa naik 4 kilogram di trisemester pertama dengan intensitas muntah yang sporadis. Lagian gak bisa juga kalian cari body pelari saya seperti dulu saat saya sudah berbadan dua seperti ini.

Pada kasus yang berbeda, ketika saya ditanyain gemuk, dan akhirnya yang bertanya tahu bahwa saya sedang hamil, kebanyakan akan memaklumi, tapi ada yang kekeuh dengan teorinya. Contohnya:
Ibu: "Eh, gemuk ya sekarang?"
Saya: "Iya, sambil senyum."
Mertua: "Iya, lagi hamil."
Ibu: "Ohh.. iyaaa.. Tapi kok gemuk gitu? Suka minum air es ya?"
Saya: "Tidak, gak pernah minum air es, kok." Sambil tertawa mengingat saya yang kena dingin sedikit saja bakal mual.
Ibu: "Ohh.. Banyak makan berarti."
Saya: Yaelah buu.. Kenapa gak berhenti sihh.. Ibu tahu gak saya makannya saja dipaksa karna sering mual, demi calon anak saya ini saya paksain. Tapi pikiran panjang dalam hati itu urung saya ungkapkan, saya hanya tertawa kecut dengan jawaban singkat "Tidak".

Si ibu sukses bikin saya yang tidak bisa istirahat siang itu jadi baper. Duuh kita ya.. susah banget memfilter mulut untuk keluarin kalimat yang positif saja. Apalagi ke sesama perempuan yang tahu bagaimana rasanya tubuh dan perasaan berhasil dikuasai oleh hormon. Mood kita sukses di-obok-obok oleh mahluk tak terlihat itu!

Sesekali saya curhat juga ke teman, adem banget kalau mereka bilang " Ih, namanya juga lagi hamil." atau "Biasa itu, kan lagi hamil." Kata-kata pemakluman seperti ini apa sih susahnya diucapkan? Kalau akhirnya memang mengkhawatirkan nanti bisa diberi saran atau nasehat pelan-pelan. Punya pengalaman tidak berarti anda berhak nge-judge orang lain. Ye kaaan?

Baca juga: Semua Ibu adalah Pejuang

Dua hal yang membuat saya belajar dalam hal ini:
1. Gak perlu semua hal dikomentari, kalaupun ingin berkomentar berikan kalimat positif saja. Apalagi ke seorang Ibu yang sedang hamil. Kalaupun sampai keceplosan segera tutup dengan impresi yang baik.
2. Ternyata mulut orang tuh emang gak bisa berhenti. Kirain hamil diluar pernikahan saja yang bakal diomongin orang lain, ternyata hamil yang sah dalam pernikahan seperti ini diomongin juga. Fiuuuh..

Udahan ah.. lumayan lepas juga nih setelah ditulis seperti ini. Ada yang punya pengalaman gak enak juga sama komentar orang-orang?

Read more

21 Jul 2018

Kelas Penulisan Media Sosial PBM: Media Sosial dan Peranannya

Akhir bulan Juni, jika tidak salah tanggal 25 2018, Grup Whats App Perempuan BPS Menulis (PBM) mengumumkan bahwa pilihan kelas segera dibuka. Kelas yang ditunggu oleh kami para pembelajar tak kenal jarak. Ya, kami berasal dari seluruh pelosok negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kelas pembelajaran dibagi menjadi dua;
1. Kelas Penulisan Media Sosial dan Kelas
2. Penulisan Opini/Jurnal/Karya Tulis Ilmiah.

Para anggota PMB dibebaskan memilih sesuai minatnya masing-masing, dengan catatan, akan ada banyak narasumber, tema dan tugas yang menanti disetiap bahasannya. Tugasnya bukan dari narasumber sih, tapi dari PBM. Tujuannya agar kami langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami dapatkan.


Sesuai minat, saya memilih kelas pertama, kelas penulisan media sosial. Bukannya tidak tertarik pada kelas kedua, saya punya kebutuhan ilmu juga pada materi penulisan opini (maklum, saya statusnya sekarang pemburu angka kredit. Ha-ha), tapi untuk saat ini, masih berat untuk tema itu, wong nulis di blog dan sosial media saja sekarang butuh mood bangett. Fiuuuh..

Singkat cerita, materi kelas yang pertamapun dimulai 14 Juli kemarin. Temanya "Media Sosial dan Peranannya". Diisi oleh narasumber yang tidak asing bagi para emak-emak bloger. Ketebak gak? Iyes, Makpuh Indah Julianti! ❤

Kelas dibuka oleh moderator dengan membagikan garis besar pembahasan, dilanjutkan dengan profil Makpuh Indah yang bikin wow.. Kecebeud!

Tapi profilnya tidak saya bagikan disini ya, waktunya kita fokus ke materi yang akan saya bahas sedikit di sini.

Kenapa Harus Melek Media Sosial?
Media sosial sekarang ini adalah sarana yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia, ada beberapa tujuan yang paling mendasar:
1. Personal Branding
2. Networking
3. Promosi

Ketiganya adalah hal paling mendasar yang sering kali dijadikan alasan untuk melek media sosial. Dan tentu saja, yang ketiga adalah yang paling "gres" terutama berhubungan dengan alasan nomor satu. Jadi, sudah optimalkah media sosial yang teman-teman gunakan saat ini?

Pengaruh Media Sosial di Masyarakat
Media sosial, saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam keseharian kita, beberapa pengaruhnya antara lain:
1. Media penyampaian informasi
2. Berjejaring Sosial
3. Diskusi
4. Komunitas

Sedikit kutipan dari pembahasan mengenai pengaruh media sosial adalah Media sosial dari Makpuh Indah Julianti adalah
"Media sosial menyatukan kita, dari berbagai lokasi, tempat, atau pun penjuru dunia. Memberikan kita akses untuk melihat hal-hal terkini. Tapi, media sosial juga bisa menjadi bumerang buat kita, menjadikan kita buruk, jika dipergunakan salah."

Gimana? Setuju kan? 😉


Lanjut yess..

Media Sosial Bagi Lembaga Negara/Sosial
Zaman sekarang, informasi resmi sekalipun akan menggunakan media sosial sebagai sarana penyampaiannya, apalagi yang berisi peraturan yang harus disosialisasikan. 

Kita yang hanya menggeser layar untuk mengetahui kabar dari teman-teman di media sosial bahkan bisa dengan "tidak sengaja" mendapat informasi tentang kemiskinan yang menurun, harga BBM, bahkan kebijakan terbaru pemerintah. Efektif banget kan? 

Maka untuk lembaga negara/sosial, media sosial bisa memberikan manfaat seperti;
1. Identitas Lembaga
2. Menyampaikan Informasi
3. Sosialisasi Kebijakan
4. Penghubung dengan Masyarakat

Media Sosial Bagi Kreator Konten/Pengelola
Nah.. Ini yang paling ditunggu-tunggu pembahasannya. Saya sendiri adalah salah satu pengelola di media sosial kantor, tapiii.. Mungkin karena saya tidak merasa ada pembagian tugas yang jelas dan sering merasa takut salah, maka kebanyakan yang saya lakukan adalah menyampaikan ide, atau sebagai editor di media sosial itu. He-he..

Lucu sih.. Tapi tak mengapa, editor berperan penting untuk bantu menyosialisasikan kepada pembacanya tentang kata-kata baku, menghindari kesalahan ketik dan menjaga agar paragraf tulisan tetap tidak membuat mata lelah, indah dibacalah istilahnya. *Muji diri sendiri 😝

Oh ya, bahasan ini juga bisa untuk media sosial sendiri sih, gak harus lembaga. Nih, bocoran tentang apa saja yang harus dimiliki atau dilakukan oleh para pengelola media sosial:
1. Kreatif menyampaikan informasi
2. Interaktif
3. Autentik
4. Update
5. Kontinuitas

Semuanya kunci untuk menjadikan media sosial yang dikelola menjadi lebih optimal. Sudahkah teman-teman memilikinya? Ini jadi pengalaman sangat berkesan juga untuk saya yang jadi introspeksi, selama ini bersosial media untuk apa sih? Personal branding-nya harus lebih kuat lagi nih.. Yuk ah sama-sama belajar! 😊


#kelasmedsospbm
#badanpusatstatistik
#gerakancintadata
#menulisasyikdanbahagia
#perempuanbpsmenulis

Read more

20 Jul 2018

[Puisi] Kamu Bahagiaku

Sayang..
Dalam hujan aku melayangkan pikiran kosongku
Ku isi dengan wajah orang yang kucintai
Kau, pemilik segenap rasa, asa dan mimpiku

Sayang..
Banyak hal yang tidak dapat kuuraikan
Baik dengan kata bersanding senyum
Maupun kata yang sudah berpacu dengan air mata

Sayang..
Kamulah cintaku
Walau sesekali menyebalkanmu muncul mengganggu
Kamulah kebahagiaanku
Seberapa banyak wujud emosipun kuperlihatkan


Sayang..
Wanita cengengmu ini, kembali menulis dalam genangan air mata, sedu, terisak
Menyayangkan berapa banyak cinta yang tak bisa kuurai dalam interaksi kebersamaan kita

Hanya tiga kalimat yang bisa mewakili perasaanku saat ini
Maaf..
Terima kasih..
I Love You..

Tetaplah menjadi imamku
Dunia akhirat.. ❤

Dalam rinai hujan,
Dipelataran kantor saat mengantar SPPD
Kendari, Kamis, 28 Juni 2018 (03:14 PM)
Read more

5 Jul 2018

Cerita Lebaran 1439 Hijriah

Hai.. Haii...

Lama banget gak nulis di blog lagi. Saya bahkan mengambil libur menulis jauh lebih panjang daripada libur hari raya + cuti bersama yang diberikan kantor selama 10 hari. Waktu yang kalau dilihat tuh lama, tapi begitu dijalani, kok ya rasanya gak cukup? Hehe.. Manusia, sudah sifat kita seperti itu, selalu saja terasa kurang. :p


Walaupun lama ngetem di draf untuk disempurnakan, saya akan tetap menuliskan cerita lebaran seperti kebiasaan saya beberapa tahun terakhir. Sadar ingatan saya semakin mudah aus, saya berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat memori manis bersama keluarga maupun bersama teman-teman.

Cuss kita flash back.. :)

Hari raya kami rayakan di Kendari, tapi-shalat idulfitri-di dua tempat berbeda. Saya di kawasan Lip*o plaza bersama orang tua dan adik-adik, sedangkan Abang menemani ibu mertua saya yang rumahnya terletak di kecamatan berbeda. Terjadi sedikit perubahan karena tadinya adik ipar rencananya lebaran bersama mertua kemudian mengubah rencananya, jadilah kami ambil jalan tengah saja. Toh, setelah shalat suami saya juga langsung menuju ke rumah bersama ibu mertua. Aman.. :D

Seperti biasa setelah shalat kami kembali menyalakan kompor untuk menyelesaikan masakan yang di-pending demi shalat yang damai. Sempat selingan juga dengan kegiatan tahunan, yaitu bersalam-salaman dan berfoto bersama tetangga sekitar rumah. Setelah semua masakan siap di atas meja, tidak lama kemudian Abang bersama Mama mertua datang. Pas sekali.. Waktunya makan.. Eh, itu makan kedua saya sih, sebelum shalat, saya sudah makan buras dan obat sebelumnya agar perut tidak meronta-ronta saat shalat. :D


Seperti biasa kami kemudian menuju rumah Tante untuk berkumpul sebelum ziarah kubur. Tidak seperti tahun lalu, kali ini rumah tante lebih ramai dengan kedatangan Aa' beserta keluarganya. Apalagi saat Aisyah datang, rumah semakin ramai dengan tingkah menggemaskannya, sudah bisa menunjuk kedua pipinya dan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi saat ditanya "Mana cantiknya Icaaa??". She's adorable! ^^

Selepas dari ziarah kubur kami sempat mengunjungi rumah Om di Lorong Pajak dan di Jalan Teratai, Alhamdulillah ramai, ketemu semua anggota keluarga dari masing-masing rumah. Beranjak Magrib, kami "bubar barisan" dan pulang ke rumah masing-masing.

Hari kedua, Abang berangkat ke kampung kakeknya di Kampobalano, sebuah Desa unik karena milik Kabupaten Buton Utara tetapi berada di daratan Muna.CMIIWW. Besoknya ke Kota Baubau, besoknya pulang dengan badan yang tidak fit. Kecapean.. :(

Sedangkan saya, hari kedua dan ketiga idulfitri juga dalam kondisi kurang sehat, walaupun sudah minum obat dari dokter tapi masih juga merasa mual. Akhirnya saya kebanyakan tinggal di kamar saja, malas berbasa-basi di luar kamar. Bukannya tidak menghargai tamunya Mama dan Bapak yang datang ke rumah, tapi saya merasa lebih baik seperti itu dari pada menyambut dengan wajah kusut menahan enek di ujung leher. Jangankan ketemu langsung, grup WA saja sudah lama saya mute, chat jarang saya perhatikan, pasif. Hehe..


Oh ya, lebaran kali ini Aa dan keluarga (Kakak sepupu saya) datang berlebaran dari Makassar. Biasanya kalau mereka ada bakal dibela-belian banget berwisata bersama. Seperti kemarin, hari ketiga mereka memutuskan ke Pulau Senja plus Pulau Lara. Sesekali cari yang gak begitu ramai seperti Pulau Bokori. Dan saya tetap tidak ikut, selain menjaga kondisi, beberapa tahun lalu saya juga pernah ke sana, jadi gak ngiler-ngiler banget. *Sombong* Haha :p

Baca juga: Menikmati Alam di Pulau Senja

Lebaran kali ini walaupun banyak liburnya tapi saya tidak banyak keluar rumah, selain harus banyak istirahat, duet kurang sehat oleh saya dan Abang, saya juga sedang dalam kehamilan tri semester pertama saat itu. Alhamdulillah.. baru saya publish di blog saat ini, medsospun belum. Ya.. alasannya karena dulu pernah keguguran, saya ingin Insyaallah semuanya stabil dulu.

Baca juga:
Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk, Keguguran atau ...
Kamu Kuat, Nak!

Kehamilan ini juga seperti penyelamat dari pertanyaan-pertanyaan yang bikin sensi karena ditanyakan terus-menerus. Alhamdulillah setahun pernikahan kami dipercaya lagi, saya telat haid. Abang mulai lebih protektif dari sebelumnya. Gak boleh keluar keringat sebutirpun. Lebay tapi saya melting juga. Receh.. Hahah

Oh ya, hari terakhir libur, 20 Juni saya masih sempat bertandang ke rumah para kepala bidang di kantor. Yah, walaupun nebeng, gegara suami sudah masuk kantor dong. Kaget saya, pagi-pagi banget sudah cari pakaian untuk ke kantornya. Hihi..

Gak begitu banyak sih cerita lebaran kali ini, soalnya dijalani dengan damai, minus grasak-grusuk dapur juga, puding yang biasa saya bikin juga saya buat berdua mama beberapa hari setelah lebaran. Biasanya kan hari lebaran sudah mesti siap semua. Mama pengertian banget. :*

Ini cerita lebaran jadi ada suka dukanya gitu, bagaimana lebaran teman-teman? Semoga lebih banyak sukanya, jikapun sempat dihinggapi duka, semoga diberikan hari yang lebih baik lagi.

Selamat Idul Fitri 1439 Hijriah ya... Mohon maafkan jika selama ini ada tingkah dan laku yang kurang berkenan, atau ada ucapan dan diksi saya yang menyakiti. Taqabalallahu minna waminkum (semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian).

Read more

1 Jun 2018

Semua Ibu Adalah Pejuang

Moms, pasti familier dengan yang namanya Moms War ya? Nah, kali ini saya akan membahas tentang perang panas dingin ala ibu-ibu. Saya sih sebenarnya kurang suka dengan isu-isu sensitif, tapi gimana lagi, harus ikut membahas karena harus menanggapi tulisan dari Mak Indri Noor selaku penulis trigger post di web KEB yang berjudul Stop Mom War, Dimulai Dari Diri Sendiri. Hihi.. Jujur banget ya.. Gapapa, kita awali semua dengan keujuran.. *Halahh :D

Jadi gini, saya sendiri selama ini hanya berdiri sebagai pengamat, membaca pendapat kubu ini, membaca pengamat kubu itu, lalu menalarnya dengan pengetahuan saya yang masih pendek.


Apa yang mengerikan dari sebuah Mom War?
Mom war sebenarnya hadir dari sebuah perasaan tidak setuju terhadap metode yang digunakan orang lain, pemahaman dan nilai yang dianut oleh kubu yang satu dengan yang lainnya, mom yang satu dengan yang lainnya. Mungkin juga terdapat unsur "menyinggung" metode lain.

Hal di atas merupakan hal yang wajar sekali menurut saya, di era demokrasi seperti ini kan yee.. semua bebas mengemukakan pendapat. Boleh.. boleh pakai banget! Tapi ada etika dari mengemukakan pendapat termasuk pengetahuan itu sendiri. Jangan karena tidak sependapat lantas merasa paling benar dan merasa bebas berkata kasar, bebas menilai orang lain bodoh, bebas mengeluarkan sumpah serapah. Bahkan kadang melakukan perundungan (bullying) kepada orang (biasanya ibu baru) yang benar-benar bertanya karena tidak mengetahui hal tersebut. C`mon Moms, lihat lagi niatnya, Moms mau berbagi ilmu kan? :)

Hargai pendapat orang lain
Mendapati orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah hal yang sangat tinggi persentasenya, apalagi di dunia maya. Jadi sebelum memasuki dunia maya pastikan lagi 2 hal.
1. Niatkan berbagi ilmu, berkah tujuannya.
2. Sampaikan dengan bijak, tanpa menghakimi, agar berkah dan dapat diterima dengan baik.

Simpel banget gak sih 2 poin di atas itu? Tidak sesimpel penerapannya mungkin ya Moms? Butuh kepala dingin untuk mengemas ilmu yang ingin kita bagikan itu menjadi lebih menarik. Apalagi kalau dijawab nyolot. Be calm. Balik ke tujuan nyari berkahnya saja. Kita hanya bantu menyampaikan, kalau memang yang "di sana" tidak mau menerima ya sudahlah. Doakan saja suatu saat bisa menerima kebenaran.

Semua Ibu Adalah Pejuang
Saya ingin mengingatkan lagi. Apapun metode yang dipakai dalam mengasuh anak, mengurus rumah tangga, atau apapun yang menjadi perdebatan di luar sana. Semua ibu adalah pejuang. Entah perjuangan itu bisa kita lihat di deretan timeline media sosial Ibu lainnya, ataupun tidak. Tanamkan dalam diri kita hal tersebut. Setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing. Semua ibu punya masalahnya masing-masing.

Maka tidaklah perlu ada lagi Mom War yang--kebanyakan--saling menjatuhkan itu! Kita sesama ibu, sesama pejuang, kitalah yang seharusnya saling mengerti, kita mempunyai tujuan yang sama, memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga kita.

Duh, berasa sedang kampanye saya.. Haha.. Intinya kita, para wanita ini tidak seharusnya saling melukai, sudah seharusnya kita bergandeng tangan saling menguatkan, memberi support terbaik yang kita punya. Gak rugi lho punya banyak saudara yang senasib sependeritaan sama berbahagia.

So, stop mom war, berbagilah yang indah-indah, bukan perdebatan tak berakhir karena sama-sama merasa benar. Sudah terlalu banyak hal yang menguras pikiran dari dalam dan luar rumah. Cuss kelonin anak lagi.. hehe..

Salam damai,
Irly
Read more

31 May 2018

5 Tempat Wisata Cantik dan Unik di Kudus

Pernah terbayang buat liburan di Kota Kudus? Kebanyakan, wisatawan yang datang ke kota di pesisir utara Jawa Tengah ini adalah untuk tujuan wisata religi dan hanya mampir dalam waktu singkat. Padahal sebenarnya ada banyak hal menarik dari Kota Kudus yang bisa kamu dapatkan jika tinggal lebih lama di sana.

Saya juga belum pernah ke Kudus sih, padahal kalau baca-baca info di internet, kota ini memiliki beberapa tempat unik dan tidak akan didapatkan di tempat lain. Meski kotanya tak terlalu besar, tetapi Kudus adalah kota cantik yang nggak boleh dilewatkan begitu saja. Apa saja sih yang menarik? Cuss, ke Kudus bareng baca dulu!

Makam Sunan Kudus dan Menara Kudus

via. indonesiakaya.com

Tujuan utama di Kota Kudus yang selalu ramai dengan wisatawan dari berbagai kota. Sebagian besar adalah peziarah yang ingin berdoa untuk Sunan Kudus yang dimakamkan di sini. Lokasi Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus tak sulit ditemukan. Tempatnya berada di pusat kota dan mudah dijangkau dengan kendaraan apa saja.

Dan yang menarik dari tempat ini bukan hanya tentang sosok Sunan Kudus dan sejarahnya. Tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat yang ada di sekitar kawasan Menara Kudus. Tinggallah lebih lama untuk melihat indahnya kehidupan masyarakat di sekitar kawasan ini. Bisa jadi, kamu bakal jatuh cinta dan memperpanjang waktu liburan di kota ini.

Makam Sunan Muria


via. halallifestyle.id

Selain makam Sunan Kudus, di kota ini juga terdapat makam Sunan Muria. Tetapi lokasi makam kedua sunan ini cukup jauh. Makam Sunan Muria berada di Gunung Muria yang sejuk dan asri. Di sepanjang perjalanan menuju makam, pemandangan pepohonan nan menghijau jadi teman.
Selain itu di kawasan sekitar makam juga terdapat beberapa mata air yang sejuk. Kawasan mata air ini juga sering jadi jujugan wisatawan yang sedang liburan ke Kudus.

Untuk menuju Kudus menumpang bus Agra Mas saja. Tiketnya terjangkau dan bisa dibeli di Traveloka. Dengan armada yang nyaman, perjalanan kamu ke Kudus dengan bus Agra Mas pastinya aman dan menyenangkan. Banyak pejiarah yang datang ke 2 makam tadi menggunakan bus, baik berangkat sendiri maupun bersama rombongan.

Air Terjun Montel


via. eksplorekoedoes.blogspot.com

Masih di kawasan Gunung Muria, tepatnya di Wisata Colo, terdapat sebuah air terjun yang segar. Namanya Air Terjun Montel, yang memiliki guyuran air bening nan dingin, lengkap dengan kolam yang menjadi penampungan air sementara sebelum mengalir ke sungai.

Air di kolam yang ada di Montel berwarna biru tua, suhunya dingin, bisa membuatmu menggigil ketika menyentuhnya untuk pertama kali. Namun sekali masuk ke dalam air, dijamin enggan keluar karena sangat segar.
Lokasi air terjun ini tidak jauh dari makam Sunan Muria. Ada di jalur perjalanan yang sama, dan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Ini tempat yang harus kamu kunjungi.

Museum Kretek Kudus


via. sindonews.com

Nama rokok keluaran kota Kudus sudah mendunia. Tapi yang menarik bukanlah pabriknya, melainkan museum yang menyimpan benda-benda mengenai tembakau, namanya Museum Kretek. Museum ini berada di Jl. Getas Pejaten, tak jauh dari pusat kota.

Aneka pengetahuan tentang tembakau dan rokok kretek bisa kamu temui di tempat ini. Nuansa museumnya unik, pekat dengan adat Jawa kuno yang eksotis.

Museum Jenang Kudus


via. dodoljenangmubarok.com

Tidak hanya lezat, jenang Kudus juga punya cerita yang bisa kamu pelajari di Museum Jenang Kudus. Jenang dari kota ini memiliki cita rasa yang berbeda dan di museum ini kamu bisa mendapatkan semua informasinya. Lokasi Museum Jenang Kudus berada di Jl. Sunan Muria 33, tepatnya di lantai atas sebuah toko jenang ternama di kota ini.

Selain bus Agra mas, tentunya masih ada banyak pilihan armada lain yang membuka rute perjalanan ke kota Kudus. Kamu pernah naik Agra Mas atau punya rekomendasi lain? Kalau saya lihat sih, busnya senyaman bus antar kota di Malaysia, nyamaaann.. ^^

Read more

30 May 2018

Mau Mudik? Perhatikan Ini Sebelum Mudik Lebaran Ya!

Hari raya idul fitri sebentar lagi akan tiba, berbeda dengan cuti bersama tahun lalu, tahun ini cuti bersama yang diberikan kepada pegawai/karyawan relatif lebih menguntungkan.

Bagi teman-teman yang hendak melaksanakan mudik, jauh ataupun dekat, sendiri ataupun bersama keluarga, banyak hal yang harus diperhatikan demi kelancaran mudik.

Untuk itu saya ingin berbagi beberapa tip berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini. Mungkin saja sama dengan tip dari teman-teman bloger lainnya, tapi semoga saja ada informasi baru yang bisa saya berikan, minimal jadi pengingat untuk teman-teman yang akan mudik.


1. Pastikan jumlah hari libur mudik
Bagi para pencari nafkah di luar kota, hal ini sangat penting. Karena, selain memanfaatkan libur dari cuti bersama, harus ada "strategi" untuk memanfaatkan cuti bersama yang diperoleh dari kantor, apalagi yang harus menempuh perjalanan sangat jauh, selain menguras waktu juga akan menguras isi dompet. Kita tidak sedang bercerita tentang uang ya, tidak ada yang mengalahkan nikmatnya berkumpul dengan keluarga terlebih bagi perantau. Maka, "strategi" memaksimalkan libur sangatlah penting.

Baca juga: Cerita Lebaran 1438 Hijriah

2. Waktu
Setelah mendapat kepastian jumlah libur untuk mudik, waktu menjadi faktor yang sangat besar pengaruhnya dalam mewujudkan mudik yang efektif dan efisien. Apaan coba? Sisihkan waktu untuk membeli tiket jauh hari sebelum waktu keberangkatan.

Untuk daerah Sulawesi Tenggara, mungkin tiket kapal laut tidak dapat dibeli jauh hari seperti tiket pesawat, akan tetapi membeli tiket kapal cepat sehari sebelum keberangkatan perlu dilakukan untuk mencegah membludaknya penumpang sehingga sangat besar kemungkinan sepanjang perjalanan pemudik yang tidak mempunyai rencana yang baik akan tersiksa karena harus berdiri sepanjang pelayaran. Dan percayalah, capek! *pengalaman pribadi nih.. Haha

Sedangkan untuk yang mudik menggunakan pesawat udara, ada keuntungan yang bisa diperoleh, yaitu fleksibilitas waktu yang dimiliki untuk memesan tiket jauh hari sebelumnya. Apalagi tiket bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah.

Yang juga sering menjadi perbincangan adalah begitu cepatnya tiket kereta api habis. Booking tiket kereta api juga harus dilakukan sesegera mungkin. Karena sependek pengetahuan saya, tiket kereta api ini termasuk yang sangat diperebutkan oleh pemudik.

Jadi, jangan menunda, dapatkan tiket sebelum kehabisan. *Duh.. Berasa ngiklan saya.. Haha..

3. Periksa
Tiket sudah ada, tinggal menunggu waktunya mudik. Maka ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum mudik, antara lain;

- Periksa dengan teliti, tanggal dan waktu keberangkatan. Tidak jarang, ada pemudik yang harus menjadwalkan ulang bahkan membeli tiket baru untuk keberangkatannya hanya karena salah mengingat tanggal ataupun waktu keberangkatan. Jangan sampai deh ya..

- Periksa keamanan tempat tinggal, terlebih jika tempat tinggal (rumah/kontrakan) ditinggalkan kosong tanpa penghuni atau penjaga. Pastikan api, sambungan listrik, gas atau hal berbahaya lainnya sudah dalam kondisi aman. Selain agar tidak menimbulkan kerugian, dengan melakukan pemeriksaan, perjalanan mudik juga akan lebih nyaman. Jangan lupa menitipkan pesan kepada tetangga yang tidak mudik untuk bantu mengawasi rumah/kontrakan.

- Periksa pulsa dan paket internet.
Hal ini mungkin terdengar remeh, tapi jangan lupa, akan banyak pedagang yang juga menutup usaha penjualan pulsanya karena sibuk mempersiapkan lebaran atau bahkan ikut mudik. Tapi dizaman serba modern seperti ini, saya yakin para pemudik sudah cerdas dan tidak akan bertanya lagi dimana tempat beli pulsa online? Minimal sudah tahu dan punya persiapan paket data yang memadai untuk mengakses dan melakukan transaksi. Kalau zaman dulu jangan ditanya, lumayan susah mencari pulsa disaat para pedagangnya juga libur/mudik. Hihi..

***

Itu tadi beberapat tip dari saya, semoga bisa jadi pengingat bagi teman-teman yang sudah merasakan euforia mudik. Teman-teman mudik tahun ini? Ke mana? Semoga mudiknya aman dan menyenangkan yess.. 😊
Read more

24 Apr 2018

Mengabadikan Momen Ngumpul Asyik Dengan HP Yang Juga Asyik

Kalau lagi ngumpul, rasanya tidak lengkap kalau belum foto selfie sama teman-teman. Foto selfie pun kurang afdol kalau kameranya enggak bisa bikin kita jadi kelihatan cantik. Hmm kalau galau begitu, mendingan pakai kamera smartphone OPPO F7 deh Moms.

OPPO baru-baru ini resmi meluncurkan produk teranyarnya yang bernama OPPO F7. Smartphone yang dibekali kamera berkualitas tinggi ini rupanya bisa menghasilkan foto yang apik lho apabila kita memanfaatkan fitur bawaannya juga.


Fitur A.I Beauty 2.0
Saat berfoto selfie menggunakan OPPO F7, wajah kita bisa dikenali oleh kamera dengan menggunakan teknologi Artificial Intellignce (A.I) yang dapat mendeteksi wajah melalui 296 titik pengenalan (face recognition).

Begitu terdeteksi, cekrek, foto tinggal di-setting hasilnya dengan fitur beautify yang bisa mengedit tampilan wajah di foto menjadi cantik natural. Setting-an yang sudah kita buat tadi, secara otomatis juga bisa langsung diterapkan oleh sistem A.I Beauty 2.0 pada foto selfie kita berikutnya. Jadi bisa tampil cantik secara praktis deh!

Terus, kalau foto selfie-nya bareng teman gimana?

Ini dia kecanggihan OPPO F7 menurutku, Moms! OPPO F7 tetap menyesuaikan setting-an edit beautify kita meskipun sedang foto dengan banyak orang. Bahkan, wajah-wajah teman kita pun ikut dikenali oleh A.I dan begitu group selfie, hasil beautify-nya akan berbeda untuk setiap wajah orang.

Psst, buat kalian yang laki-laki, teknologi AI di OPPO F7 akan menghasilkan foto yang ganteng maskulin kok (enggak bakal kena efek beautify yang cantik-cantik buat gender perempuan gitu). Hal itu bisa terjadi karena teknologi A.I bisa mengenali perbedaan warna kulit, jenis kulit, usia dan jenis kelamin seseorang sebagai subjek fotonya.


Masih ada fitur lain yang bisa mendukung kinerja kamera OPPO F7 ya, Moms. Fitur bokeh misalnya, bisa membuat tampilan foto kita lebih fokus karena daerah background akan menjadi blur. Lalu ada Vivid Mode yang bisa menyeimbangkan saturation warna pada foto. Juga Cover Shot Feature untuk hasil foto selfie yang lebih kontras layaknya pemotretan di cover majalah.

Selain itu, masih ada juga fitur berikutnya yaitu A.I Scene Recognition yang bisa membantu foto objek pemandangan menjadi kaya akan warna. Serta yang terakhir, di kamera tersedia pula AR (Augmented Reality) Sticker yang bisa membuat selfie kita jadi lebih seru.

Fix, kamera OPPO F7 ini benar-benar terbaik ya untuk fotografi. Kamera depannya saja diprakarsai dengan ukuran 25 megapixel lengkap dengan sensor HDR Sony IMX 576. Yang bikin tambah canggih lagi, OPPO F7 layarnya luas banget, 6.23 inci, bikin selfie jadi puas ya. Terus, smartphone ini sudah pakai OS Android Oreo lho, Moms plus daya baterainya yang 3400mAh plus dibantu AI Battery Management yang bikin jadi hemat banget.

Oleh karena itu, hilang sudah segala keraguan saya untuk ikutan pre-order smartphone satu ini. Kalau ditanya, mau OPPO F7 yang warna apa, saya udah incar yang Solar Red ya, Moms. So fashionable!

Read more

23 Apr 2018

Kartini Badan Pusat Statistik

Kolaborasi dengan anggota baru di Be Molulo sudah memasuki bulan ke-3. Bulan ini trigger post ditulis oleh jenk Rumi dengan judul Kartini Masa Kini. Temanya hangat, karena hanya selang sehari dengan hari Kartini.

Sebenarnya, untuk menulis lagi otak saya dalam kondisi mampet, terlalu fokus dengan kerjaan, sehingga ide yang sering kali muncul secara random menjadi enggan muncul walaupun hanya tema besar tanpa detail lebih lanjut.


Beruntung saat mengunggah foto tentang perjalanan dinas tepat saat hari Kartini kemarin, saya tanpa sengaja mengetik hastag KartiniBPS. Eh, bisa nih dijadikan tulisan tanggapan untuk kolaborasi Be Molulo bulan ini.. Jadilah tulisan ini sambil saya jagain kelas pelatihan. Alhamdulillah..


Apa itu Kartini BPS?
Kartini BPS saya terjemahkan sebagai para pegawai ataupun mitra BPS yang menjalankan perannya sebagai perempuan pejuang, baik di dalam rumah sebagai Istri, Ibu, Kakak, Adik, Anak dan tentunya sebagai penyedia data berkualitas bagi BPS yang kemudian bermuara pada konsumen data.

Jujur saja ide ini muncul karena keadaan saat ini, keadaan dimana pekerjaan tidak bisa dikatakan sambung menyambung tapi lebih kepada tumpang tindih. Keadaan dimana kalimat (IMHO) "Bagilah waktu untuk keluarga dan pekerjaan secara seimbang." Hanya bisa menjadi slogan saja, tidak bisa terealisasi menjadi kenyataan. Ini pengalaman pribadi. Karena saya juga merupakan Kartini BPS.

Kartini BPS dimata Instansi
Para Kartini BPS tentu punya peranan penting pada instansi BPS, baik sebagai Koordinator Statistik Kecamatan, Staf, maupun pengambil keputusan. Komitmen awal sudah dimulai sejak kami mendaftar dengan menandatangani surat bersedia ditempatkan di mana saja. Berikutnya mau tidak mau harus mengorbankan waktunya sesuai kebutuhan organisasi.

Jujur tidak banyak yang bisa saya sampaikan mengenai sudut pandang instansi, kita move on ke keluarga aja yess.. :D

Kartini BPS di mata Keluarga
Di mata keluarga, teman-teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Kami dipandang sebagai perempuan yang cukup sibuk, sebentar berada di sini, sebentar berada di sana, sebentar melakukan survei ini, sebentar melakukan survei itu. Diundang makan-makan, acara kumpul-kumpul kebanyakan tidak bisa hadir, kalaupun hadir, hadir dengan pakaian kerja sekaligus dengan dokumen-dokumen survei. Sangat jarang lepas dari pekerjaan. Di luar rumah mencari dan wawancara responden, di rumah masih juga memerikasa dokumen.

Hari-hari kami diisi dengan bekerja, komitmen harus kuat. Tapi semua ini tidak bisa terwujud dengan baik jika tidak dikucuri banyak pengertian dari keluarga.


Banyaknya waktu yang terpakai untuk bekerja bukan berarti tidak mengundang protes dari anggota keluarga. Mereka mungkin mengerti tapi bagaimanapun protes harus dilayangkan karena sudah melihat istri atau anaknya sudah kelelahan atau bahkan sudah jatuh sakit. Sering sih Abang membandingkan kesibukan saya saat masih menjadi Sekretaris dengan kesibukan sekarang. Saya senyumin saja, dia juga mengerti saya ingin belajar lebih banyak (walau sambil nyanyi dan menyilangkan kedua telunjuk "tapi tak beginiiii~" hehe).

Baca juga: Perubahan dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Kisah yang mengundang kesedihan saya adalah tentang anak, sering kali teman-teman bercerita bagaimana anaknya sedih jika ibunya harus keluar rumah untuk bekerja, atau jika sudah bisa membedakan libur dan tidak, anaknya akan sangat girang jika ibunya mengatakan bahwa ia libur.

Ya.. Bagaimanapun hidup itu pilihan, tentu banyak pertimbangan sehingga kami memutuskan menjadi Kartini BPS. Hal ini bukan untuk diperdebatkan apalagi menjadi bahan bakar untuk mom war di luar sana. Terlebih (ini juga harapan kami), tumpang tindihnya pekerjaan seperti ini tidak akan terulang lagi dikemudian hari. Semoga..

Oh ya, tentang anak, saya yang hampir setahun menikah dan belum dikaruniai anak ini juga tidak jarang disuguhi kalimat "Bagaimana mau punya anak kalau kamu sibuk seperti itu?" Saya senyum saja, walau merasa kalimat pesimis seperti itu sebaiknya tidak diperdengarkan walau bermaksud memberikan simpati. Karena kami lebih butuh kalimat motivasi ataupun doa dibalik kesibukan dan kelelahan kami. Sungguh...
***

Tulisan Kartini BPS ini mungkin lebih terbaca sebagai tulisan curhat, berisi uneg-uneg seorang pegawai perempuan yang bekerja di BPS. Tapi cobalah berpikir lebih luas, kami--yang saya ceritakan melalui kisah Kartini BPS--hanyalah sebagian kecil dari prempuan-perempuan yang berjuang dengan caranya masing-masing.

Kami, seperti juga Raden Ajeng Kartini tidak mencari pujian ataupun penghargaan, cukup diperlakukan dengan baik, dihargai kerja kerasnya dengan kalimat yang tidak meremehkan, disayangi dan dilindungi seperti layaknya perempuan yang terlihat lemah di mata laki-laki. Kami kuat karena kita sama-sama ciptaan Tuhan, keadaan adalah tempaan saja.

Setelah karnaval, tetap mengikuti perintah walaupun pekerjaan sedang menumpuk, sedang hujan, badan kurang sehat.

"Setiap perempuan berjuang dengan caranya masing-masing. Semakin modern jalannya kehidupan, semakin modern pula tantangan yang harus kami lalui. Kami Kartini Masa Kini, Kami Kartini BPS."

Gimana teman-teman saya para Kartini ataupun Kartono masa kini? Kita sepakat saling menghargai yess? 😊

Read more

20 Mar 2018

Tentang Penghasilan Tambahan

Bekerja bagi perempuan bukanlah hal yang asing lagi. Kalau dulu bekerja identik dengan seragam, saat ini bekerja menjadi hal yang lebih fleksibel, baik dari pakaian, waktu maupun pendapatan.

Kalau dulu kata bekerja diidentikkan dengan seragam berwarna hijau dan kain keki, maka sekarang dengan dasterpun, perempuan sudah bisa memperoleh penghasilan, waktupun begitu, leluasa, sebisanya mau melayani pukul berapa dan bisa disesuaikan juga pendapatannya.

Terinspirasi dari kisah saya sendiri *yaelaahh* saya kemudian ingin bercerita tentang penghasilan tambahan. Ini sih buat trigger post bersama teman-teman di Be Molulo, tapi mungkin bisa menginspirasi teman-teman untuk memulai usaha rumahan dengan seragam daster (tapi kalau yang baca ini laki-laki, dasternya buat wanita aja ya, pliss! 😝) atau untuk menambah penghasilan lagi? Pasalnya semua bisa dijalankan bersamaan, kenapa nggak kan ya? Hehe..


Sebagai ASN bukannya penghasilan saya tidak mencukupi, alhamdulillah rasanya berlebih, tapi mungkin ada bakat hobi berdagang juga kali ya, jadi enjoy banget ngejalaninnya. Apalagi kalau habis jalan ke kota mana gitu, biasanya saya sempatkan belanja untuk keperluan pribadi, keluarga dan untuk dijual. Prinsipnya, biar duit gak hanya keluar aja, tapi ada pemasukan juga. Kurang pintar bagaimana istrinya Abang ini? Hehe..

So, apa saja sih usaha menambah penghasilan yang saya lakukan?

1. Menjual Pakaian dan aksesoris.
Dulu, saat saya masih bekerja di kabupaten, saya punya Online Shop, belanja lewat teman atau melalui 1st hand supplier. Cari supplier juga susah, harus bandingin harga antara supplier satu dengan yang lain. Pas dapat.. Ya gitu.. Kadang bagus kadang dikirim suka-suka (gak sesuai orderan), komplain biasanya gak bisa. Untung gak sering-sering.

Nah, saat pindah di kantor provinsi, OL Shop tidak saya jalankan lagi, jualan secara luring juga nggak lagi. Lama-lama hasrat *ceileh.. Hasraaat 😝* jualan saya keluar lagi, saya mulai dengan barang-barang dengan modal kecil, biasanya sih memang saya suka barangnya, jadi belanja sekalian jualan.. Hihi.. Contohnya bros, yang unik dan kira-kira sesuai dengan selera orang kantor. Hasilnya? Saya dapat bros unik gratis, jualan laris manis, untungnya juga tetap ada. Seneng gak siiih? Haha..

Sampai saat ini, saya juga sudah beberapa kali belanja. Tujuannya agar belanjaan tidak terkena gelombang overload jelang lebaran, selain itu juga untuk mengambil pasar lebih awal. Duh, gimana sih bahasanya, lebih awal memasarkan baranglah yaa.. Jelang lebaran kan orang-orang pasti meningkat minat belanjanya tuh, saya berusaha menarik minat mereka sejak awal, soalnya barang yang saya jual juga bukan pakaian lebaran yang tergolong mewah. Takut barangnya gak habis, modal gak muter. Iya.. Saya masih tipikal hobi jualan, bukan business woman yang gak takut mengambil resiko. Hehe..


Prinsip pertama,
Segala sesuatu butuh usaha 😊

2. Oriflame
Menjadi konsultan oriflame sudah relatif lama saya jalani. Buat jualan aja, pakai sendiri juga tentunya. Emak-emak irit banget yess.. Harga member jadi lebih murah, trus kalau orderan banyak bisa dapat bonus juga. Ini alhamdulillah sering, saya modal nitip katalog doang. Keuntungannya juga lumayan. Lupa sudah berapa tahun, tapi kalau gak salah belum sampai 5 tahun.

Oh ya, saya teringat sebuah kejadian saat jualan Oriflame di kantor, ada yang ngomong gini saat tahu saya yang jualan.

"Jualan? Kan sudah banyak uang di rumahmu (ngomong gitu mungkin karena tahu bapak saya ASN dan ada warung di rumah). Kamu gak dikasih makan Mamamu?" Tanpa ada nada atau mimik becanda sedikitpun. Sinis.

Deg!! Saat itu saya coba menjawab kalem, tapi saya bisa merasakan panas di dada dan wajah saya, mungkin sudah memerah walau tersenyum. Pernyataan yang tidak saya sangka-sangka bisa muncul di muka bumi, menyentuh segala hal yang saya benci. Tidak heran, walaupun hal tersebut tidak membuat saya kemudian surut semangat menambah penghasilannya, tapi kejadiannya tetap teringat jelas.

Ih.. Nyebelin.. Lanjut yukk..

3. Menjual Pulsa dengan Paytren
Hampir sama dengan berjualan Oriflame yang tidak begitu menyita waktu, saya juga berjualan pulsa. Bergabung dengan Paytren yang dulu masih bernama VSI, saat belum ada aplikasi sampai sekarang sudah serba dimanjakan, gak pakai biaya sms lagi. Lumayan kan biaya pulsanya. Hahah..

Berjualan ini saya niatkan untuk membantu orang lain, karena sependek pengetahuan saya, jualan via paytren sudah sekalian bisa sedekah, ya.. walaupun IMHO, harga modalnya lebih mahal dibanding ngambil di tempat lain, tapi selain itu saya juga bisa membantu teman-teman di kantor (atau bahkan keluarga) yang kehabisan pulsa. Bukan hanya saat jam kantor, tapi juga diluar jam kantor. Tidak jarang larut malam atau subuh saya menerima WA atau SMS emergency "Ir, pulsa listrik 100 yaa, listrik sudah habis, saya mau menyetrika!" Haha..

Karena ingat teman-teman (utamanya ibu-ibu, eh.. Emang 95% pelanggan saya buibu sihh 😁), tidak jarang saat sedang tugas ke luar kotapun saya gelisah kalau gak punya deposit pulsa. Takut mereka ngirim pesan SOS dan saya gak bisa penuhi. Kasihan.. Hehe..

Gak nyangka sih jualan pulsa bisa seseru ini. 😂

4. Berpenghasilan dari Blog
Nah, tema ini yang mungkin sering saya iming-imingi ke teman-teman di be Molulo, sesekali juga saya bahas di blog walau tidak secara spesifik.

Bukannya apa-apa, saya sendiri merasakan nikmatnya, walau gak banyak tapi sungguh bisa membuat excited-deg-degan-mengharap-senyum-tegang-lalu senyum-senyum sendiri, kalau diartikan secara jujur, tahapan diatas bisa menjadi senang dapat tawaran kerjasama-deg-degan dan ngarep saat menawar menunggu jawaban tentang fee-dapat fee sesuai tawaran-kepikiran tulisan yang mau dibuat-posting lalu uang masuk rekening. Dududu... Masih banyakan senyumnya kaaan? Haha..

Baca juga: Hobi yang dibayar, Bukankah Itu Mimpi Setiap Orang?

Trust me dehh.. It's fun! Dan saya ingin teman-teman merasakan kesenangan yang sama. 😊

5. Bikin Industri Rumah Tangga
Nah, untuk mengganjilkan, saya tambahin yang masih di angan-angan saya yess..

Saya tuh sebenarnya punya keinginan juga bikin industri rumah tangga. Selain secara ekonomi bisa menambah penghasilan, dalam pemikiran saya, kegiatan ini juga bisa memberdayakan orang lain, dengan gaji tentunya.

Tapii..

Ada tapinya nihh.. Saya belum menemukan--atau mungkin belum memikirkan lebih jauh kali yaa--produk apa yang akan dipilih. Masih sibuk mikirin Survei Biaya Hidup! haha

Udahan ah, itu saja yang bisa saya share, semoga ada manfaatnya. Teman-teman gimana? Punya penghasilan tambahan gak? Atau mau bantuin saya ngasih ide untuk industri rumah tangga? Apa aja boleh.. Share di kolom komentar yess.. 😊

Read more

5 Mar 2018

Perubahan: Dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Tema perubahan dalam grup 1 Minggu 1 Cerita membuat saya terpikirkan perubahan ritme kerja yang saya alami beberapa bulan terakhir. Dari yang sebelumnya boleh dibilang "santai" menjadi ngos-ngosan karena kejar-kejaran dengan pekerjaan.

Hayo kenapa?
Manajemen waktunya gak bagus?


Nope! Nggak yaa.. Ini karena saya yang dulunya seorang Sekretaris Eselon II akhirnya bisa menyematkan gelar SE (walaupun terhitung lama) melalui ujian penyesuaian ijazah lalu kemudian dipindahkan menjadi staf di seksi Neraca Produksi, bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik. Ada yang berpikir "Nama bidangnya berasa "horor" gak sih?" hihi.. Sebenarnya sama dengan pikiran saya, pekerjaan di bidang itu terhitung asing bagi saya...

Baca Juga:
Tentang Pengumuman Hasil Ujian Penyesuaian Ijazah

Bismillah..
Saya pun meng-iya-kan tawaran dari bagian Tata Usaha. Saya merasa tidak boleh kebanyakan "gaya", sudah diberi pilihan yang baik, masih minta yang lebih lagi. Tahu diri. Saya tahu saya harus belajar banyak lagi, rasanya senada dengan keinginan saya untuk tidak menjadi sekretaris lagi, agar saya belajar lebih banyak, tidak stuck dengan urusan yang itu-itu saja. Oktober 2017 sayapun resmi beralih profesi.

Waktu jadi sekretaris, duduk manis di ruangan ini

Maka perubahan ritme kerjapun terjadi, dari saya yang kebanyakan berada di kantor, mengurusi pimpinan, menjadi tidak ada urusan sama sekali (selain menjalankan kebijakan atau permintaan tolong dari beliau), lalu kemudian sibuk di lapangan mengurusi survei di bidang tempat saya bekerja saat ini, ditambah lagi saya dan beberapa teman diperbantukan untuk menjadi pengawas Survei Biaya Hidup (SBH) 2018. Jadilah ritme kerja mengalun seperti lagu Nina Bobo menjadi lagu In The End-nya Linking Park. *Ketahuan umurnya ya.. hihi.. Atau Icy Girlnya Saweetie deh.. TOP di lagu Doom Dada.. Engap-engap deehh.. Haha..

Dan dengan perubahan yang saya alami, ada sedikit protes sih dari Abang yang pengennya saya duduk bekerja di kantor saja, tidak perlu ke lapangan, takut kecapean. Tapi mau bagaimana lagi, sayapun sudah mendaftar untuk menjadi fungsional, artinya saya harus berburu angka kredit.  Ah.. seandainya saya bisa seperti teman-teman pandai menulis opini di koran, angka kredit mah urusan gampang, poinnya besar cuy.. *Mupeng

Setelah gak jagain meja 😂😂
(Gimana abang gak khawatir kan yee)

Saya bukannya tidak ingin menuruti Abang tercinta selaku imam saya, tapi ini memang pekerjaan saya, gak bantuin SBHpun saya akan diberikan pekerjaan lain, yang memang--kami di kantor Badan Pusat Statistik--tidak akan lepas dari pekerjaan lapangan, kepala bidang dan kepala kantor saja masih ke lapangan, apatah lagi kami yang hanya bawahan ini.

Baca juga: Cerita Sekretaris, Suka Duka Hingga Hal yang Konyol

Lagipula, saya juga mempelajari banyak hal dari hasil perubahan ini, saya belajar lebih banyak tentang kerja tim, maklum yee, waktu jadi sekretaris saya yang kebanyakan mengatur pekerjaan saya sendiri. Lebih banyak menurunkan ego lagi, melakukan hal yang sudah lama tidak saya lakukan, ataui bahkan yang belum pernah saya lakukan seperti menyiapkan bahan rilis atau kenalan dengan 17 kategori penghitungan PDRB yang selama ini terabaikan oleh saya. Pokoknya SAYA BELAJAR BANYAK! Ups.. Jebol capslock-nya.. Hihi..

Inilah salah satu alasan tulisan di blog jadi jarang, mungkin yang belum bisa saya kuasai saat ini adalah mood untuk nge-blog. Mungkin secara tidak sadar fisik saya capek jadi pengennya rebahan sebentar, ditambah sifat suka menunda saya, maka jadilah.. Padahal Abang sudah memafhumi kesenangan nge-blog saya lho, it's me the biggest problem.. Fiuuhh..

Panjang lebar yesss saya curhat menuliskan tentang perubahan ini, intinya saya ingin bilang bahwa pada perubahan itu terdapat kesempatan belajar, walau berat, tapi akan berguna di kemudian hari.

Kalau teman-teman, apa yang berubah di kehidupannya saat ini? Jangan sebut berat badan yess, itu perubahan saya juga.. Hehe.. Share di kolom komentar perubahan yang kamu alami saat ini ya.. ^^

Read more

26 Feb 2018

5 Cara Mengelola Keuangan Setelah Menikah ala Dunia Irly

Mengelola keuangan untuk saya berarti, saya tahu pemasukan saya berapa, pengeluaran saya berapa, untuk apa saja uang saya keluar, dan yang paling penting adalah saya tidak berutang.
---

Mengelola keuangan setelah menikah tentu saja dihadapkan pada tantangan yang lebih besar, pemasukan mungkin menjadi lebih besar karena kami sama-sama bekerja, tapi hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah kami tidak hidup seorang diri. Keluarga kami semakin besar begitupun rasa tanggung jawab dan mimpi-mimpi yang ikut terajut bersama.

Kami tidak ingin menjadikan uang menjadi salah satu masalah dalam keluarga, masa kini dan masa depan kami. Karenanya, kami sepakat untuk mengelola keuangan dengan baik, dengan berorientasi pada kebutuhan dan sesekali boleh diselingi dengan keinginan tapi tidak dijajah dengan gaya hidup.


Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mengelola keuangan setelah menikah, mungkin bisa sedikit memberi pencerahan untuk pasangan yang akan atau baru saja menikah.

Ada beberapa hal yang perlu saya tegaskan sebelum berbagi:
- Kami tidak saling mengenal dengan begitu baik sebelum menikah, sebatas tahu dia punya 1 adik, saya punya 2 adik dan kedua orang tua masing-masing kami alhamdulillah masih hidup. Jadi masalah keuangan dan kebiasaan keuangan lainnya kurang kami pahami satu sama lain. Kami pacarannya setelah menikah.
- Saya--otomatis keuangan rumah tangga juga begitu, karena saya managernya--tidak suka berutang (apalagi harus berutang untuk orang lain), harus ada special case, tapi semoga tidak lagi muncul bikin rusuh. Hufthh..

Jadi, untuk mengelola keuangan setelah menikah, dibutuhkan hal-hal seperti ini:

1. Terbuka tentang harta dan keadaan keuangan masing-masing
Duh, harta tuh kesannya banyak banget yess.. :D (Aamiin)
Intinya gini, apa yang dipunyai masing-masing pasangan baiknya dikatakan seeee.. jujur-jujurnya. Entah itu kendaraan yang dimiliki, hal yang masih jadi tanggung jawab, utang yang masih harus dibayar, uang yang masih dipinjam orang lain, gaji/pendapatan per bulannya, dan lain-lain.

Keterbukaan ini berguna untuk memetakan keberlangsungan hidup rumah tangga nantinya. Ya kali mau jalan buta-buta. Ibaratnya motorlah yaa.. Harus dicek dulu bahan bakarnya sebelum jalan, diperiksa lagi keadaan mesinnya sebelum dibawa untuk perjalanan jauh. Biar gak kaget kalau kemudian ada masalah diperjalanan. Wong kita udah prepare banget aja masih ada yang ngagetin di perjalanan kan?

Pernah dengar istilah "Pernikahan bukanlah akhir, tapi merupakan awal baru kehidupan." kan ya? It is! termasuk dalam pengelolaan keuangan, jelas berbeda mengelola keuangan saat bujang dan sudah menikah. Pengeluarannya lebih banyak, pertimbangannnya pun lebih banyak.

2. Berbagi tentang riwayat keluarga
Bagaimana seseorang mengelola keuangan di masa sekarang, sesungguhnya dipengaruhi oleh keuangan keluarganya di masa lalu. Begitu yang saya percayai.

Contoh nih ya.. Mungkin dulu keuangan keluarga sang suami sulit, maka saat punya anak nanti dia ingin lebih memenuhi kebutuhan anaknya, agar tidak merasakan kesulitan yang sama dengan dirinya. Sementara sang istri merasakan hal tersebut akan membuat anak manja. Jika suami tidak pernah menceritakan alasannya maka besar kemungkinan hal tersebut akan menjadi bahan bakar pertengkaran, sedangkan jika tahu, mungkin sang istri akan lebih memahami alasan historis suami dan memberikan jalan tengahnya.

Walaupun kami belum mempunyai anak, tapi sedikit banyak kami sudah bercerita tentang riwayat keluarga dalam hal keuangan, masih sebatas itu, itupun sudah sangat membantu untuk mempelajari "habit" pasangan dalam mengeluarkan uang.

3. Komitmen
Seperti juga suatu hubungan, pengelolaan keuangan menurut saya harus didasari sebuah komitmen. Mulai dari komitmen suami untuk memenuhi tanggung jawabnya untuk menafkahi keluarga, komitmen istri untuk membantu keuangan keluarga (ini bukan hanya masalah menghasilkan uang saja yess, mengelola uang  juga butuh komitmen agar sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan).

Sumber: pixabay.com

4. Jujur dan Saling Percaya
Untuk saya ini penting, karena komitmen apapun yang sudah dijalankan oleh pasangan suami istri yang sama-sama memiliki pemasukan tidak akan berjalan jika tidak ada kejujuran dan rasa saling percaya. Mungkin ada yang berprinsip istri tidak perlu tahu semua pendapatan suaminya, yang penting kebutuhannya terpenuhi. Ini tidak salah, selama sudah jadi keputusan bersama.

Saya dan Abang sudah komitmen untuk transparan mengelola keuangan. Saya ingat; dulu pernah ditanyakan oleh suami (waktu masih mantan calon pacar, istilahnya dia untuk masa-masa dimana kami hanya temenan sedangkan dia sudah baper :p):

"Haruskah istri mengetahui semua pendapatan suaminya?"
"Kalau saya, iya" Jawab saya
ditanya lagi "Kenapa?"
"Pertama, saya tidak boros dan kedua saya merasa bisa mengelola keuangan dengan baik." Jawab saya mantap.
"Ohh.." Jawabnya di ujung telepon.

Lain masalah kalau salah satu pasangan boros, mungkin perlu ada pengaturan lain. Tidak ada aturan baku sebenarnya, karena--telah kita ketahui bersama--kondisi keuangan setiap orang apalagi rumah tangga itu berbeda-beda. Pendapatannya boleh lebih besar, tapi bisa jadi banyak pos pengeluaran atau bahkan pengelolaannya yang kurang tepat. Makanan boleh sama, tapi cara mengunyahnya tak pernah kita ketahui.

Maka kami memilih meneruskan kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran masing-masing (menjadi 1 akun) dengan jujur dan saling percaya.  Ini tidak mudah, tapi jika dijalani, akan mempermudah pengelolaan keuangan.

Baca juga: Money Manager, Solusi Pencatat Aktivitas Keuangan

5. Hindari Utang dan Kelola Keuangan Jangka Panjang
Saya tidak suka berutang. Sebisa mungkin saya menunggu untuk punya uang daripada harus kredit. Saya punya prinsip:

"Lebih baik kemiskinan saya terpampang nyata, dibanding saya menikmati kekayaan yang semu."

Duh, berat banget ya bahasanya. Hahah..

Intinya gini, lebih baik saya tidak punya daripada harus berutang. Dalam hal, barang yang saya inginkan itu sifatnya tidak mendesak. Contohnya saya butuh motor untuk melaksanakan tugas sebagai pekerja lapangan diawal kerja dulu, penting sih.. tapi saya masih bertahan, 4 tahun saya menabung baru kemudian membeli motor, keluaran terbaru juga Alhamdulillah. Gak harus cekik leher juga kok, adik-adik saya masih bisa menikmati barang--yang menurut kami--mewah saat saya menabung, sesekali saya masih bisa traktir teman-teman juga, aman. Hehe

IMHO, prestasi lho itu. LOL.

Dulu juga sebelum nikah saya pengen beli mobil, gak perlu baru, yang penting dibayar tunai. Qadarullah, terpending, dan uang tersebut bisa saya gunakan untuk membantu biaya pernikahan saya sendiri (FYI, adat suku kami, biaya pernikahan ditanggung bersama), sambil saya beri peringatan keras ke calon suami dan bapak saya, tolong jangan sampai berutang. Alhamdulillah, kami tidak menghasilkan "galian" yang bisa menjatuhkan kami--bahkan keluarga--sendiri nantinya. Insyaallah..

Setelah menikah, tuntutan tentu lebih banyak, saya tidak menutup kemungkinan berutang di kemudian hari. Lagian saya bukannya bebas utang, kalau ke kantor lupa bawa dompet juga ya terpaksa minjem, besoknya segera diganti. Hihi..

Sembari menanti masa depan yang tidak pernah bisa ditebak dengan kondisi adik-adik saya yang belum menikah (suatu saat pasti butuh kami bantu ye kaaan). Maka kamipun mengelola keuangan jangka panjang (investasi), Abanglah yang bertanggung jawab akan hal ini. Saya mah tahunya hanya menabung emas, ngikut kalau teman mau arisan emas, berbelanja sesuai kebutuhan dan menikmati hidup. :)

Pesan Abang yang juga didapatkannya dari ilmu tentang keuangan adalah "Do Not Put Your Egg In One Basket."

Sumber: pixabay.com

***

Itu tadi sedikit gambaran bagaimana saya dan suami mengelola keuangan setelah menikah. Sekali lagi, tidak ada aturan baku dalam mengelola keuangan, karena ada perbedaan kondisi di tiap rumah tangga. Tapi semoga pandangan dan cara saya--bersama suami-- dalam mengelola keuangan bisa bermanfaat bagi pembaca.

Teman-teman juga bisa membaca tulisan Kak Ira yang berjudul Tentang Pengelolaan Keuangan Keluarga sebagai trigger post tulisan bertema di Be Molulo.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6

Read more

15 Feb 2018

Janji


Kering kerontang
Terketuk mengetuk
Pandanganku gelap tak berbintang
Janjimu hilang tak berbentuk

Asaku terantuk
Terantuk pada tanyamu yang menyelisihiku
Menyelisihi hal yang sudah kau janjikan seraya mengangguk 
Menyelisihi kata-kata manis dari bibirmu

Haruskah aku seperti orang lain?
Menanyakan dimana janjimu dulu?
Berkata manis bukan main
Jika teringat yang ada hanya kelu

Bukan.. 
Bukan ku tak ingin dengar pendapatmu
Tapi sejak awal bukankah kita sudah setujuan
Keputusan tak lagi abu-abu

Ataukah kita tak pernah benar-benar mufakat?
Hanya melempar kata "ya" agar diskusi tak lagi panjang?

Kendari, 150218

Read more

14 Feb 2018

Angkringan Mas Blangkon, Siapa Cepat Dia Dapat

Promosi terbaik adalah promosi dari mulut ke mulut.

Sudah sering mendengar kalimat diatas bukan? Promosi ini yang kemudian membuat sebuah tempat makan yang relatif baru di Kendari menjadi "kelabakan" akan hadirnya pengunjung.

Terbukti dengan rencana makan saya yang berujung zonk saat datang sekitar pukul 19.30, belum juga turun dari kendaraan Bapak yang jualan sudah ngasih "kode" bahwa dagangannya sudah habis. *Ah, si bapak, baru kenal udah main kode aja~ *Plaakkk :D


Angkringan Mas Blangkon
Dibuat dengan mengadopsi konsep angkringan yang sederhana, angkringan ini bisa memperoleh julukan "Laris Manis Tanjung Kimpul" haha.. Lama juga gak dengar kalimat itu. Dagangan laris, duit ngumpul, kurang lebih itu artinya, kali aja ada yang belum tahu kan? :D

Tempat makan ini sependek pengetahuan saya --koreksi jika saya salah-- adalah tempat makan dengan konsep angkringan pertama di Kendari. Menyajikan nasi bakar dengan 4 pilihan rasa: Nasi bakar original, nasi bakar tuna, nasi bakar ayam dan nasi bakar teri.

Untuk lauk, tersedia berbagai pilihan lauk yang umumnya sudah ditusuk serupa sate. Terakhir kali saya kunjungi lauknya antara lain: pokea, udang, cumi-cumi, telur puyuh, hati ayam, ampela ayam, nugget, tahu bacem, tempe bacem, ceker, leher/kepala ayam, bakwan, sambal, apa lagi ya.. Lupaaa.. Tapi sambalnya gratis, kok. Hihi..


Menu minumannya jujur kurang saya memperhatikan, sudah terlalu fokus berebut mengambil makanan. Tapi sepertinya minuman hangat gitu, seperti kopi dan teh, es jeruk juga sepertinya ada, asal jangan cari wedang uwuh yess.. Berat.. yang jualan gak bakal sanggup cari bahannya. Eh.. kenapa jadi #terdilan lagi iniii.. LOL

Rasa
Berbicara soal rasa, sebenarnya bumbunya kurang begitu meresap seperti masakan Mama, maklumlah namanya dagangan kan, kalau Mama yang masak sih masakan bakal mandi bawang dan berlimpah rempah.

Tapi jika diselaraskan lagi dengan harganya, makanannya tidak akan mengecewakan lidah penikmat makanan murah kok. Kalau cari makanan murah tapi tetap enak, Angkringan Mas Blangkon jawabannya. Saya suka nasi bakar tunanya, bumbunya lebih terasa dibandingkan varian nasi bakar lainnya.

Untuk porsi nasi bakarnya porsinya imut, saya bangetlah, kenyang dan enak, apalagi sudah ditambah lauk. Kalau laki-laki mungkin butuh 2 atau 3 nasi bakar plus lauk baru bisa kenyang. Sesuai selera aja.. Tapi bagusan mini-mini gitu sih menurut saya, jadi bisa disesuaikan, kalau porsinya langsung gede kan kasihan yang makannya porsi kecil seperti saya :D

Suasana
Dimana-mana selain menawarkan rasa dan harga yang terjangkau, tempat makan juga tentu menawarkan suasana yang nyaman bagi pengunjungnya. Bisa dengan alunan musik, bisa dengan desain yang instagramable, bisa juga dengan kesederhanaan. Inilah yang bisa didapatkan dari angkringan Mas Blangkon. Sederhana tapi ngangenin. *Seperti Abang #Eh.. :p


Bedanya angkringan ini dengan yang sudah sering teman-teman kunjungi mungkin disini gak sepenuhnya "melantai" karena tetap ada bangku juga yang disediakan, tinggal pilih ingin makan di mana. Oh ya, setelah memilih makanan kita bisa memilih untuk langsung disantap atau dibakar agar kembali hangat.

Harga
Nahh.. Mungkin ini yang ditunggu-tunggu.:D

Harga nasi bakarnya adalah Rp.3.000 sampai 5.000 per porsi. Untuk lauk mulai dari seribu rupiah. Ya.. gak jauh-jauh.. itu harga untuk sepotong tahu/tempe bacem/gorengan. Harga minumannya pass lagi ya.. Haha.. Yang jelas harganya relatif terjangkaulah, apalagi mengingat harga makanan di Kendari relatif lebih mahal dibanding daerah Jawa, kecuali ikan yess..

Sampai saat ini saya sudah 2 kali ke Angkringan Mas Blangkon, sekali waktu zonk, kali kedua kami lebih sigap, datang saat kami masih bebas memilih, itupun tempe dan tahu bacemnya sudah mau ludes aja.. Ah.. Mendebarkan taukk berebut makanan gitu. :D

Dan sekarang.. saya masih suka ngiler terbayang-bayang pengen ke sana lagi, sayang harus senggang waktunya kalau mau makan di luar gitu. Jadi sambil nunggu kesempatan ke sana lagi saya menggantungkan doa saja dulu.. Semoga Angkringan Mas Blangkon ini awet, berkembang, tetap menjaga kualitas bahkan lebih baik lagi.

***

Angkringan Mas Blangkon
Alamat: Jl. Abdullah Silondae No. 19 (kalau di Google Map alamatnya Jl. Bunggasi no.1 - entah kenapa beda)
Anduonohu (Pelataran Ruko Remaja Jaya)
Buka setiap hari, pukul 6.00-09.00 (sekarang sih jam 7 lewat dikit sudah gak kebagian).

Note: Untuk saat ini, kalau makanannya mau dibakar lagi baiknya ditengokin, ibunya kebingungan banyak pelanggan.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...