24 Sep 2018

Memilih Kosmetik yang Aman Saat Hamil

Berbadan dua atau sedang dalam kondisi hamil membawa sang ibu pada keadaan harus memilih dan lebih selektif. Banyak hal yang melibatkan opsi ini, mulai dari makanan, pakaian sampai pada penggunaan kosmetik. Berbicara tentang kosmetik gini berasa biuti bloher gak seeeh? Hihi..
Gak juga dong, emang biuti bloher ajah yang pakai kosmetik? Semua orang (apalagi wanita ya) pasti ingin tampil kece, minimal gak kucellah yaa.. Apalagi kalau kulitnya termasuk dalam kategori sehat. Duh.. Seneng banget pastinya. Termasuk ibu hamil yang tetap ingin tampil cantik tanpa mengganggu perkembangan janin. Hehe..

Nah, kali ini saya sedang kesambet bahas kecantikan lagi. Haha.. Gak ding.. Emang ini kewajiban, biasa utang nulis saya banyak *Duh.. ini jadi semacam beban hidup yaah?! Haha.. Jadi Bulan lalu si Beauty Blogger di Be Molulo jenk Dita, memberikan trigger post yang bertema kecantikan Beauty Talk, I Can't Life Without You jadi yang dibahas itu, yang basic banget dalam memenuhi kebutuhan hidup kulit wajah kita.

Kalau temanya seperti itu, saya yang sedang hamil ini tidak perlu susah payah memikirkannya. Apalagi kalau bukan  karena seleksi yang terjadi demi kebutuhan hidup kulit dan perkembangan janin yang tentunya saya harapkan tidak terkena dampak buruk kosmetik. Emak butuh cantik, tapi sungguh, bagaimanapun anak akan menjadi prioritas. Iya kan?


Saya lampirkan beberapa kandungan kosmetik yang harus dihindari oleh ibu hamil, hasil menggalau membaca saat sudah tahu saya positif hamil beberapa bulan yang lalu. Antara lain:

1. Retinoid
Bahan ini biasanya dapat ditemukan dalam kosmetik anti penuaan, obat jerawat dan pemutih ini sebaiknya dihindari saja ya karena efeknya cukup berbahaya.

2. BHA atau Beta Hydroxy Acids
Biasa ditemukan di obat jerawat atau produk pengelupasan kulit, ini wajib diwaspadai lho!

3. Tetracycline
Sejenis antibiotik yang bahaya kalau dikonsumsi saat hamil. Konsultasikan subtitusi obat ini dengan dokter ya.

4. Hydroquinone
Tak hanya wajib diwaspadai pada ibu hamil karena dikhawatirkan bisa memberikan efek yang buruk bagi janinmu.

5. Phthalates
Bahan yang biasa ditemukan di pewarna kuku atau parfum ini juga sebisa mungkin dihindari, demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

6. Formaldehyde
Biasa ditemukan di produk pelurus rambut, pewarna kuku dan lem bulu mata ini konon zat karsinogen yang memicu kanker lho.

7. Toluene
Seringkali ditemukan ditemukan di pewarna kuku. Satu lagi alasan kenapa pakai pewarna kuku nggak boleh asal-asalan buat ibu hamil.

8. Amoniak
Sudah nggak asing kan sama amoniak? Bahan ini sangat sering ditemukan di formula pewarna rambut.

9. Dihydroxyacetone
Meski mungkin akan jarang terpapar di orang Indonesia, kamu pun wajib mewaspadai dihydroxyacetone yang menjadi bahan untuk spray penggelap kulit.

10. Thioglycolic Acid
Saat hamil atau menyusui, ada baiknya melakukan waxing atau cukur rambut di area yang diinginkan secara konvensional saja daripada terpapar kandungan thioglycolic acid ini.

11. Botulinim Toxin
Bahan yang biasa dikenal dengan nama botox ini juga sebaiknya dihindari saja ya kalau nggak perlu-perlu amat.

Sumber: https://www.hipwee.com/young-mom/dear-calon-mama-ini-lho-12-kandungan-kosmetik-yang-perlu-dihindari-saat-hamil-nggak-mau-kan-kamu-dan-janin-kenapa-napa/
***

Nah, biar tetap sejalan dengan postingan Dita, sekalian saya ceritakan pilihan kosmetik dan hasil memangkas pemakaian kosmetik saya hanya pada kebutuhan yang sangat mendasar saja yess.. Walaupun produk yang saya gunakan selalu saya pastikan sudah terdaftar di BPOM, walaupun pada akhirnya kulit saya tidak secerah dan semulus saat sebelum hamil. Setidaknya saya butuh kosmetik-kosmetik ini. Apa saja kosmetik yang saya gunakan saat sedang hamil?

1. Pembersih wajah
Saya menggunakan pembersih wajah merek Wardah, karena kulit saya berminyak saya menggunakan Wardah Facial Foam. Ini wajib banget walaupun saya kalau udah ngantuk bisa jadi gak cuci muka juga. Jorok? Entahlah, harus mendahulukan mana, bersih-bersih atau tidur karena takut gak bisa tidur lagi, kalau gak bisa tidur urusannya panjang kemana-mana apalagi untuk ibu hamil seperti saya. *Alesyaaaan!! Haha :p

2. Sun Care
Saya menggunakan Wardah Sun Care Sunscreel Gel SPF 30, fungsinya ya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari, sekaligus melembabkan kulit. Rutin menggunakan ini sebelum ke kantor atau keluar rumah membuat saya merasa lebih terlidung. Ya, walaupun memang kulit tetap saja menjadi lebih gelap dibanding saat sebelum hamil. Setidaknya ni wajah gak belang-belang amatlah. Cukup hidung saja *Eh :D

3. Foundation
Nah ini.. Entah kenapa saya tidak bisa lepas dari foundation. Saya menggunakan Pixy UV Whitening Stick Foundation. Kalau kepoin di internet sih, sekarang sudah ada produk barunya, foundation sekaligus concealing. Dari dulu selalu gunakan produk ini dulu baru kemudian bedakan.

4. Bedak
Bedak ini sesuatu yang sangat basic juga untuk saya. Maklum, wajah yang diberi anugerah sumber minyak melimpah ini akan sangat gampang terlihat kusam. Dengan adanya bedak, kekusaman akan mudah tersamarkan dari muka bumi. Hahaha.. Dan saya cocoknya pakai Pixy UV Whitening Two Way Cake Perfect Fit. Belajar bedakan pakai ini dan sampai sekarang gak pernah lepas. *Orangnya susah berpaling ke lain hati. Hihi..

5. Pensil Alis
Ini nih yang sering dikomentarin Abang, kegiatan gambar menggambar di pagi hari, tapi tetap aja jalan. Haha.. Seperti bedak, saya juga belajar menggambar alis dengan satu merek. Pensil alis Viva, kebanyakan juga sepertinya menggunakan merek ini. Hehe.. Awalnya saya menggunakan warna coklat saja, beberapa minggu terakhir saya menggunakan dua warna, hitam untuk bingkai dan coklat untuk isian. Ada style baru kata Abang yang memperhatikan saya sedang menggambar. :D

6. Lipstick/Lipgloss
Dan yang paling akhir dari rangkaian kosmetik yang saya gunakan adalah lipstick atau lipgloss. Keduanya saling melengkapi. Saya tipe yang bibir kering dulu baru pakai lipgloss, sungguh sangat perhatian kan yah? Ckck..

Untuk lipstick saya menggunakan berbagai merek, kalau warna sih gak jauh-jauh dari mocca, pink atau coral gitu. Kalau merek Purbasari habis, saya cari warna yang sama dengan merek Wardah atau Viva. Udah gitu ajah, pakainya tipis-tipis, kalau ke pesta aja pakainya agak tebal biar efek matte-nya lebih nampol.

***

Udah sih, cukup 6 rangkaian itu kalau mau keluar rumah. Kalau sudah balik dari kantor kembali ya kembali pakai pembersih wajah saja. Nanti setelah melahirkan sajalah baru kembali perawatan bersama krim malam dan segala rangkaian pencerah warna kulit itu, yang sekarang sekedar perlindungan saja dulu. So far juga hasil USG janin alhamdulillah gak ada masalah. Soalnya kalau baca-baca artikel tentang bahaya kosmetik dan kehamilan, agak ngeri juga. Siapa yang mau saraf anak terganggu atau adanya cacat pada anak dikarenakan ibunya kurang teliti dalam memilih kosmetik. Duh, semoga anak kita terhindar dari segala keburukan ya buibuuu..

Gimana dengan teman-teman bumil yang lain? Pastinya tetap waspada dengan kandungan bahan berbahaya di dalam kosmetik kan ya?

Read more

30 Aug 2018

[Puisi] I Miss You Like Crazy

Aku bertanya pada malam pembungkus fajar
Bisakah aku melipat rindu seperti orang lain melipat jarak?
Menjadikannya mudah walau berbayar
Menjadikannya ringan walau sejenak?


Malam tak melempar kata
Hanya sepoi angin mencoba menggigit sepi
Menyisakan kebisuan yang membasahi mata
Butir hangat itu jatuh melawan dingin di hati

Terlalu sulit mengeja rindu ini
Sementara aku tak ingin mengikatmu lagi dengan sejuta alasan
Toh takkan terbang dirimu menuntaskan rindu
Ada beban lain yang juga harus kau lepaskan

Terlalu sulit menuturkan rindu ini
Rindu yang tidak lagi ada pada level muda mudi yang belajar berkasih mesra
Ini rindu istri pada suaminya
Pada imam yang akan berjalan beriring menuju surga

Maka kujelmakan rindu ini ke atas langit
Berganti doa berharap ia turun lagi ke bumi
Berparas kemudahan yang akan kau temui sepanjang jalan
Beralih fungsi layaknya perisai yang melindungimu

Biar kurapal rindu ini lewat sajak
Walau rindu ini terus larut mengiris kalbu..
I miss you like crazy.

Kendari, 300818, 19.40
Hari kelima ditinggal ke luar kota.
Read more

20 Aug 2018

Ikhtiar Program Hamil: Hidrotubasi

Sharing is caring... Begitu kata orang. Entah siapa. Hehe..

Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu pemeriksaan yang saya jalani saat sedang program hamil atau yang umum disingkat promil. Hidrotubasi jelas merupakan hal yang asing ditelinga saya. Saat dokter menjadwalkan pemeriksaan berikutnya adalah hidrotubasi, saya "oh" saja walau sudah mendapat penjelasan.

Beruntung ada internet sebagai media pelepas rasa penasaran, saya mencari info sebanyak-banyaknya. Tapi kebanyakan yang saya dapati hanya berupa sharing pendek, sedikit punya gambaran, ada yang bilang sakit, ada yang bilang biasa saja. Bagaimana dengan pengalaman saya? Huhu.. Sabar ya..


Beranjak dari pengalaman melit (kepo) tersebut, saya berniat menuliskan pengalaman saya sendiri saat sudah menjalaninya nanti. Mungkin akan bermanfaat untuk teman-teman yang sedang mencari info atau mungkin akan menjalani hidrotubasi. Semangat promil ya moms! Semoga segera diijabah usaha dan doanya, kalian wanita, pasangan yang kuat, Insyaallah segera dikaruniai anak yang sehat, bahagia lahir batin. :*

Bermula dari beberapa kali datang, melakukan pemeriksaan laboratorium bersama suami dan menjalankan upaya untuk segera hamil secara alami (oh well.. okay.. dikasih obat pembesar sel telur juga sih), akhirnya dokter memutuskan untuk naik ke tahap selanjutnya, hidrotubasi. Saya sempat bertanya-tanya juga, apa perlu? Lagipula kan sebelumnya saya sudah pernah hamil (walaupun keguguran). Tapi bismillah, namanya juga ikhtiar.

Baca juga: Kamu Kuat, Nak!

Dan akhirnya hari itu tiba, sayangnya kali itu saya tidak ditemani suami karena sedang mengikuti diklat di luar kota. Mama yang menemani saya, walaupun sudah saya sampaikan bahwa tidak perlu. Biasalah, gak mau merepotkan, sayanya juga mungkin yang sok tegar. Pada akhirnya bersyukur ada Mama yang menemani.

Sedikit yang saya ketahui tentang hidrotubasi atau tiup rahim dari aplikasi AloDokter adalah teknik dalam bidang kedokteran dimana obat atau cairan disuntikkan ke dalam saluran telur (tuba falopi) dan rahim melalui leher rahim. Dengan tujuan untuk melebarkan dan/atau mengobati gangguan pada sel telur.

Syarat Hidrotubasi
Waktu itu dokter memberi persyaratan agar melakukan hidrotubasi 2 hari setelah haid terakhir dan tidak boleh melakukan hubungan intim. Tujuannya agar rahim sudah bersih, dan larangan berhubungan intim dibuat agar tidak ada sperma yang masuk saat proses peniupan cairan hidrotubasi tersebut. Kurang lebih begitu sih seingat saya.

Pengalaman Hidrotubasi
Sebelum masuk ruangan praktek dokter saya membeli beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan dulu, antara lain tiga buah spoit atau suntik berbagai ukuran, kateter,  Dexamethasone, Sterilised Water For Injection, Kaltrofen dan Kanamycin Meiji. Semuanya atas petunjuk dokter, yes..


Setelah itu, saya menyerahkan semuanya pada perawat, saya kemudian diminta berbaring dan diberikan obat yang saya duga bius (dari hasil membaca). Kalau dari bentuknya, sepertinya 2 buah kaltrofen itulah yang dimasukkan lewat (maaf) dubur.

Setelah puluhan menit, saya kemudian masuk ke ruangan praktek bersama Mama. Mama menunggu di kursi depan meja dokter, sedangkan saya diminta berbaring di tempat tidur yang asing untuk saya. Iya, saya katakan asing karena selama diperiksa oleh dokter kandungan langganan saya ini, saya tidak pernah berbaring di tempat tidur itu. Setelah kedua kaki saya ditempatkan pada penyangga kaki di kiri dan kanan, saya kemudian sadar, sepertinya ini ranjang yang biasa saya lihat di video-video persalinan. Fix, saya makin tegang!

Saat itu saya mulai pasrah, menghipnotis diri sendiri bahwa semuanya saya lakukan demi kebaikan. Saya jadi teringat suami yang juga tegang menjelang tes sperma. Saya bisa, dan hasilnya akan baik-baik saja. Saya terus menyemangati diri sendiri sementara dokter dan 2 orang perawatnya mulai melakukan prosedur hidrotubasi, kateter akhirnya dimasukkan.. Dan Hey! Itu pertama kalinya tubuh saya dimasuki benda itu. Masih nyaman-nyaman saja, kedua tangan saya masih saling menggenggam.

Tahap berikutnya yang saya rasakan adalah pemasukan cairan memalui kateter dengan menggunakan suntik. Masih aman, saya masih merasa nyaman-nyaman saja. Dokter melakukan pemeriksaan posisi cairan melalui USG, dan cairan mulai dikeluarkan. Semua masih terasa nyaman. Saya masih diminta berbaring dalam keadaan ngangkang. Lalu akhirnya kaki diturunkan dan saya diselimuti. Fiuhh..

Akhirnya...

Beberapa menit kemudian rasa tidak nyaman mulai mendatangi saya, perlahan. Dimulai dari tangan saya yang terasa kebas, dan dengan cepat juga terasa di perut dan kaki saya. Rasa sakit, rasa tidak nyaman itu lama berdiam di badan saya. Saya bahkan hampir bersikap dramatis dengan menggengam tangan perawat di ruangan itu, urung, saya pasrah menggenggam besi ranjang yang terasa sangat dingin saat itu. Saya butuh Abang!! T_T

Sumpah rasanya sakit sekali, saya mulai beristighfar, nafas saya mulai tidak beraturan walaupun sudah coba saya atur dengan bernafas lewat mulut, saya ingin menangis!!! Tapi kemudian saya berhasil menghardik diri sendiri, saya katakan dalam hati "Ini belum seberapa Ir, kalau melahirkan lebih sakit lagi! Jangan manja! Malu!" Secara ajaib, saya bisa mengontrol perasaan dan reaksi saya kembali, memang rasa sakitnya tidak berkurang, tapi saya gak jadi nangis! LOL

Sekitar 45 sampai 60 menit saya berbaring di ruangan itu, sementara pasien lain silih berganti naik turun ranjang tempat USG. Saya pasrah saja dilihat oleh mereka, sesekali saya melayangkan doa saat melihat ibu dalam keadaan hamil sedang di-USG. Suatu saat, saya juga akan seperti itu. :)

Sebelum keluar dari ruangan, dokter berpesan agar saya tidak panik jika nanti ada pendarahan mulai dari flek sampai seperti sedang haid. Semuanya wajar setelah hidrotubasi. Dokter juga menuliskan resep untuk saya tebus di apotek. Beruntung, saya tidak mengalami flek sedikitpun. Kekhawatiran berkurang.

Oh ya, belum bahas hasil ya.. Alhamdulillah hasilnya kedua tuba falopi saya paten, artinya tidak ada penyumbatan ataupun penyempitan. Saya bernafas dengan sangat lega mendengar hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dokter.

Biaya Hidrotubasi
Biaya yang saya keluarkan untuk hidrotubasi adalah sekitar Rp.800.000. Saya sebenarnya lupa, apakah biaya di atas sudah termasuk alat dan obat-obatan yang saya beli sebelum dilakukan hidrotubasi hari itu. Yang jelas obat yang saya beli sesuai dengan resep dokter adalah sebesar Rp.165.000 dan itu sudah termasuk dalam biaya yang saya sebutkan di atas. Tapi perkiraan saya memang dibawah Rp.1.000.000, karena sebelumnya dokter memang sudah memberikan gambaran biaya yang harus saya keluarkan, ya sekitar Rp.800.000 itu.

Sebagai tambahan informasi

Efek Samping Hidrotubasi
- Infeksi Urine, bisa diatasi dengan banyak minum air putih selama 24 jam setelah prosedur dilakukan.
- Infeksi pada tempat masuknya kamera.
- Cedera pada pembuluh darah, usus, atau kandung kemih.
- Nyeri di bawah tulang rusuk, sekitar bahu atau leher hingga 72 jam setelah prosedur dilakukan.

Sumber: https://www.alodokter.com/hidrotubasi-salah-satu-solusi-untuk-memiliki-bayi-2

***

Semoga sharing yang saya tuliskan bermanfaat, bukan bikin takut para pejuang promil yang membaca ini, dari yang saya baca, rasanya beragam kok, ada yang merasakan sakit speerti saya, ada yang tidak merasakan sakit sama sekali. Semua layak dilakukan, Alhamdulillah saat ini saya tengah mengandung dengan usia kehamilan 21 Minggu, doakan kami selalu sehat, Insyaallah teman-teman yang sedang menjalani promil juga akan segera dikaruniai anak yang sehat dan lebih kuat dari ayah bundanya.

Baca juga: Kehamilan Trisemester Pertama

Teman-teman lain boleh banget ikutan share pengalaman hidrotubasinya ataupun pengalaman promil lainnya. Atau kalau ada pertanyaan boleh banget dituliskan di kolom komentar.

Semangat promil!! ^^

Read more

13 Aug 2018

Pisang Ijo, Menu Incaran Saat Ramadan

Berbicara tentang menu incaran saat Ramadan, saya sebenarnya jadi tertarik dengan resep yang dibagikan Mak Lidha Maul pada web KEB yang berjudul Penganan Gurih Incaran Saat Ramadan. *Duh.. orangnya suka ngiler ya? hahah..

Gak gitu juga sih.. Ini mungkin juga didorong oleh rasa penasaran. Soalnya belum pernah ngerasain kacang ijo diolah jadi penganan gurih dan sedikit pedas seperti itu. Kebanyakan sih hasil olahannya manis. Kalau gak bubur kacang ijo, ya jadi kue seperti pia, danggo atau onde-onde. Entah namanya apa di daerah lain. :D


Kembali berbicara soal incar mengincar makanan, seharusnya sih saya punya banyak menu incaran. Mengingat saat itu saya dalam kehamilan trisemester pertama, yang kata orang suka cari-cari makanan a sampai z, dari yang normal sampai yang dianggap aneh atau unik. Jauh berbeda dengan saya yang manut saja pada makan apa, apa yang tersedia di meja ikut saya santap selama tidak pedas. Hehe..

Tapi kalau diingat-ingat lagi, sempat ada keinginan yang tidak terpenuhi lagi saat saya meminta tolong pada adik untuk dibelikan. Bukan menu yang aneh juga, hanya agar kebutuhan saya terhadap pisang terpenuhi, biar keram di tangan berkurang, sedangkan saya memang kurang begitu suka buah pisang. Ketebak gak sih, apa yang saya cari?

Iyap! Pisang Ijo! Hehe..


Ya tapi maaf, saya gak akan bagikan resep membuat pisang ijo seperti Mak Lidha Maul, menu ini gak begitu langka lagi dan pastinya sudah banyak berseliweran resepnya baik di blog, maupun cookpad. Maaf saya cuma mau cerita aja, sekaligus memenuhi kewajiban nulis tanggapan. Sesulit ini sekarang saya mencari ide dan mendorong diri untuk menulis lagi. Jadwal di blog kebanyakan ompongnya. Fiuuhh..

Walaupun Pisang Ijo ini bukan menu yang langka lagi, bukan berarti penikmatnya menjadi bosan terhadap rasanya. Rahasianya, selain pemilihan jenis pisang yang tepat, saos yang gurih, juga adanya rasa manis dari sebuah sirup yang tak tergantikan rasanya, yaitu sirup pisang ambon. Ini sudah seperti menjadi rumus paten untuk menilai rasa sebuah es pisang ijo. Gak komplit kalau gak ada sirup pisang ambonnya. Teman-teman sudah pernah rasa kan?

Sirup ini banyak beredar di Sulawesi. Jadi ingat, dulu waktu acara Dies Natalis kampus dan kami membuat menu Pisang Ijo, sirupnya akan kami datangkan langsung dari Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Oh ya, sirup pisang ambon yang gak ada rasa-rasa pisangnya ini juga biasa kami sebut sirup DHT, nama produsennya sih. Pokoknya populer banget.

Sumber:google
(gak nemu akun aslinya)

Sirup pisang ambon ini jarang kami konsumsi seperti sirup-sirup lainnya, misalnya: sirup ditambah air putih saja kemudian diminum. Kebanyakan kami menjadikannya sebagai pelengkap kuliner. Misalnya membuat es buah, yang akan kami campurkan adalah susu ditambah dengan sirup pisang ambon. Jadi kalau ada teman-teman yang pernah main ke Sulawesi dan es buahnya berwarna merah jambu, kemungkinan itu menggunakan sirup pisang ambon. Sirup yang sepertinya penjualannnya semakin meningkat di bulan Ramadan, terutama di daerah Sulawesi.

Eh, kemana-mana kan bahasannya.. Hehe.. Tapi gak juga sih, kan bahas pisang ijo sekalian bahas jodohnya juga, si sirup DHT rasa pisang ambon. Bukan promosi yess.. murni karna kami sudah sangat kebiasaan nyebutnya seperti itu. Siapa tau teman-teman berkunjung ke Sulawesi, bisa dicoba buat oleh-oleh.

Gimana teman-teman, yang sudah pernah rasain pisang ijo ataupun sirup pendamping pisang ijonya, boleh share gimana pendapatnya? Suka gak? Saya tetiba penasaran sama selera orang di luar Sulawesi. Hehe..

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon belum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alsan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat dimimun 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya.Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai berat badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more

24 Jul 2018

Hamil dan Omongan Orang

Peringatan: Isi tulisan ini berupa curhat, unek-unek selama kehamilan yang saat ini menurut Hari Pertama Haid Terakhir atau yang biasa disingkat (HPHT) janin saya sudah berusia 17 minggu.

Jadi, sebenarnya saya ini punya banyak utang tulisan, 1 tema tentang kuliner di grup kolaborasi KEB. dua tema menulis yang berbeda di Be Molulo. Yang tentang kuliner sih sudah ada dua ratusan kata di draf, tapi mentok mau melanjutkannya, padahal ini utang yang paling lama, sejak Ramadan! Eh.. gak ding, masih ada banyak utang tulis-menulis juga di grup Perempuan BPS Menulis! OMG! *Tepok jidat.

Namanya juga sebenarnya, berarti hanya latar belakang masalah.. Sekarang kita masuk ke bab selanjutnya. Kenapa utang menulisnya gak juga dibayar-bayar? It's about mood.. My swing mood! Fiuhh.. Pengennya sekarang nulis curhatan dulu, mengeluarkan uneg-uneg di hati yang rasanya makin ciut karena punya telinga yang lebar selama kehamilan ini. *Ih.. Pengen capslock deeeh!!

Omongan Orang
Semenjak hamil seriiing sekali saya mendengar kalimat atau pernyataan "Ih, gemuk ya!" awalnya saya senyum saja, mungkin masih dalam euforia sangat bahagia dengan hadirnya keturunan yang sudah dinantikan oleh kami dan keluarga kami. Tapi kok ya, lama-lama rasa panas di kuping sampai juga ke hati. Saya baperan? Ah.. trust me, i'm not alone!

Saya bukannya tidak bisa menerima dengan baik maksud orang-orang mengatakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Bahwa saya gemuk bangetlah, saya lebar, besar, dengan berbagai macam ekspresi yang kadang bikin saya (yang merasa hal ini wajar) jadi berpikir "Oh ya, sebesar itukah saya?"

Poinnya itu, kita yang kadang merasa baik-baik saja jadi terusik hanya karena orang-orang yang tidak bisa menahan omongan yang diiringi ekspresi terkejut banget dan ditutup dengan tanda tanya. FYI, saya tidak menyangka berat badan saya bisa naik 4 kilogram di trisemester pertama dengan intensitas muntah yang sporadis. Lagian gak bisa juga kalian cari body pelari saya seperti dulu saat saya sudah berbadan dua seperti ini.

Pada kasus yang berbeda, ketika saya ditanyain gemuk, dan akhirnya yang bertanya tahu bahwa saya sedang hamil, kebanyakan akan memaklumi, tapi ada yang kekeuh dengan teorinya. Contohnya:
Ibu: "Eh, gemuk ya sekarang?"
Saya: "Iya, sambil senyum."
Mertua: "Iya, lagi hamil."
Ibu: "Ohh.. iyaaa.. Tapi kok gemuk gitu? Suka minum air es ya?"
Saya: "Tidak, gak pernah minum air es, kok." Sambil tertawa mengingat saya yang kena dingin sedikit saja bakal mual.
Ibu: "Ohh.. Banyak makan berarti."
Saya: Yaelah buu.. Kenapa gak berhenti sihh.. Ibu tahu gak saya makannya saja dipaksa karna sering mual, demi calon anak saya ini saya paksain. Tapi pikiran panjang dalam hati itu urung saya ungkapkan, saya hanya tertawa kecut dengan jawaban singkat "Tidak".

Si ibu sukses bikin saya yang tidak bisa istirahat siang itu jadi baper. Duuh kita ya.. susah banget menyaring mulut untuk keluarin kalimat yang positif saja. Apalagi ke sesama perempuan yang tahu bagaimana rasanya tubuh dan perasaan berhasil dikuasai oleh hormon. Mood kita sukses di-obok-obok oleh mahluk tak terlihat itu!

Sesekali saya curhat juga ke teman, adem banget kalau mereka bilang " Ih, namanya juga lagi hamil." atau "Biasa itu, kan lagi hamil." Kata-kata pemakluman seperti ini apa sih susahnya diucapkan? Kalau akhirnya memang mengkhawatirkan nanti bisa diberi saran atau nasehat pelan-pelan. Punya pengalaman tidak berarti anda berhak nge-judge orang lain. Ye kaaan?

Baca juga: Semua Ibu adalah Pejuang

Pesan Moral
Dua hal yang membuat saya belajar dalam hal ini:
1. Gak perlu semua hal dikomentari, kalaupun ingin berkomentar berikan kalimat positif saja. Apalagi ke seorang Ibu yang sedang hamil. Kalaupun sampai keceplosan segera tutup dengan impresi yang baik.
2. Ternyata mulut orang tuh emang gak bisa berhenti. Kirain hamil diluar pernikahan saja yang bakal diomongin orang lain, ternyata hamil yang sah dalam pernikahan seperti ini diomongin juga. Kadang bahkan gak nyadar sampai mempermalukan si ibu di depan banyak orang. Fiuuuh..

Udahan ah.. lumayan lepas juga nih setelah ditulis seperti ini. Ada yang punya pengalaman gak enak juga sama komentar orang-orang?

Read more

21 Jul 2018

Kelas Penulisan Media Sosial PBM: Media Sosial dan Peranannya

Akhir bulan Juni, jika tidak salah tanggal 25 2018, Grup Whats App Perempuan BPS Menulis (PBM) mengumumkan bahwa pilihan kelas segera dibuka. Kelas yang ditunggu oleh kami para pembelajar tak kenal jarak. Ya, kami berasal dari seluruh pelosok negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kelas pembelajaran dibagi menjadi dua;
1. Kelas Penulisan Media Sosial dan Kelas
2. Penulisan Opini/Jurnal/Karya Tulis Ilmiah.

Para anggota PMB dibebaskan memilih sesuai minatnya masing-masing, dengan catatan, akan ada banyak narasumber, tema dan tugas yang menanti disetiap bahasannya. Tugasnya bukan dari narasumber sih, tapi dari PBM. Tujuannya agar kami langsung mempraktikkan ilmu yang sudah kami dapatkan.


Sesuai minat, saya memilih kelas pertama, kelas penulisan media sosial. Bukannya tidak tertarik pada kelas kedua, saya punya kebutuhan ilmu juga pada materi penulisan opini (maklum, saya statusnya sekarang pemburu angka kredit. Ha-ha), tapi untuk saat ini, masih berat untuk tema itu, wong nulis di blog dan sosial media saja sekarang butuh mood bangett. Fiuuuh..

Singkat cerita, materi kelas yang pertamapun dimulai 14 Juli kemarin. Temanya "Media Sosial dan Peranannya". Diisi oleh narasumber yang tidak asing bagi para emak-emak bloger. Ketebak gak? Iyes, Makpuh Indah Julianti! ❤

Kelas dibuka oleh moderator dengan membagikan garis besar pembahasan, dilanjutkan dengan profil Makpuh Indah yang bikin wow.. Kecebeud!

Tapi profilnya tidak saya bagikan disini ya, waktunya kita fokus ke materi yang akan saya bahas sedikit di sini.

Kenapa Harus Melek Media Sosial?
Media sosial sekarang ini adalah sarana yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia, ada beberapa tujuan yang paling mendasar:
1. Personal Branding
2. Networking
3. Promosi

Ketiganya adalah hal paling mendasar yang sering kali dijadikan alasan untuk melek media sosial. Dan tentu saja, yang ketiga adalah yang paling "gres" terutama berhubungan dengan alasan nomor satu. Jadi, sudah optimalkah media sosial yang teman-teman gunakan saat ini?

Pengaruh Media Sosial di Masyarakat
Media sosial, saat ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam keseharian kita, beberapa pengaruhnya antara lain:
1. Media penyampaian informasi
2. Berjejaring Sosial
3. Diskusi
4. Komunitas

Sedikit kutipan dari pembahasan mengenai pengaruh media sosial adalah Media sosial dari Makpuh Indah Julianti adalah
"Media sosial menyatukan kita, dari berbagai lokasi, tempat, atau pun penjuru dunia. Memberikan kita akses untuk melihat hal-hal terkini. Tapi, media sosial juga bisa menjadi bumerang buat kita, menjadikan kita buruk, jika dipergunakan salah."

Gimana? Setuju kan? 😉


Lanjut yess..

Media Sosial Bagi Lembaga Negara/Sosial
Zaman sekarang, informasi resmi sekalipun akan menggunakan media sosial sebagai sarana penyampaiannya, apalagi yang berisi peraturan yang harus disosialisasikan. 

Kita yang hanya menggeser layar untuk mengetahui kabar dari teman-teman di media sosial bahkan bisa dengan "tidak sengaja" mendapat informasi tentang kemiskinan yang menurun, harga BBM, bahkan kebijakan terbaru pemerintah. Efektif banget kan? 

Maka untuk lembaga negara/sosial, media sosial bisa memberikan manfaat seperti;
1. Identitas Lembaga
2. Menyampaikan Informasi
3. Sosialisasi Kebijakan
4. Penghubung dengan Masyarakat

Media Sosial Bagi Kreator Konten/Pengelola
Nah.. Ini yang paling ditunggu-tunggu pembahasannya. Saya sendiri adalah salah satu pengelola di media sosial kantor, tapiii.. Mungkin karena saya tidak merasa ada pembagian tugas yang jelas dan sering merasa takut salah, maka kebanyakan yang saya lakukan adalah menyampaikan ide, atau sebagai editor di media sosial itu. He-he..

Lucu sih.. Tapi tak mengapa, editor berperan penting untuk bantu menyosialisasikan kepada pembacanya tentang kata-kata baku, menghindari kesalahan ketik dan menjaga agar paragraf tulisan tetap tidak membuat mata lelah, indah dibacalah istilahnya. *Muji diri sendiri 😝

Oh ya, bahasan ini juga bisa untuk media sosial sendiri sih, gak harus lembaga. Nih, bocoran tentang apa saja yang harus dimiliki atau dilakukan oleh para pengelola media sosial:
1. Kreatif menyampaikan informasi
2. Interaktif
3. Autentik
4. Update
5. Kontinuitas

Semuanya kunci untuk menjadikan media sosial yang dikelola menjadi lebih optimal. Sudahkah teman-teman memilikinya? Ini jadi pengalaman sangat berkesan juga untuk saya yang jadi introspeksi, selama ini bersosial media untuk apa sih? Personal branding-nya harus lebih kuat lagi nih.. Yuk ah sama-sama belajar! 😊


#kelasmedsospbm
#badanpusatstatistik
#gerakancintadata
#menulisasyikdanbahagia
#perempuanbpsmenulis

Read more

20 Jul 2018

[Puisi] Kamu Bahagiaku

Sayang..
Dalam hujan aku melayangkan pikiran kosongku
Ku isi dengan wajah orang yang kucintai
Kau, pemilik segenap rasa, asa dan mimpiku

Sayang..
Banyak hal yang tidak dapat kuuraikan
Baik dengan kata bersanding senyum
Maupun kata yang sudah berpacu dengan air mata

Sayang..
Kamulah cintaku
Walau sesekali menyebalkanmu muncul mengganggu
Kamulah kebahagiaanku
Seberapa banyak wujud emosipun kuperlihatkan


Sayang..
Wanita cengengmu ini, kembali menulis dalam genangan air mata, sedu, terisak
Menyayangkan berapa banyak cinta yang tak bisa kuurai dalam interaksi kebersamaan kita

Hanya tiga kalimat yang bisa mewakili perasaanku saat ini
Maaf..
Terima kasih..
I Love You..

Tetaplah menjadi imamku
Dunia akhirat.. ❤

Dalam rinai hujan,
Dipelataran kantor saat mengantar SPPD
Kendari, Kamis, 28 Juni 2018 (03:14 PM)
Read more

5 Jul 2018

Cerita Lebaran 1439 Hijriah

Hai.. Haii...

Lama banget gak nulis di blog lagi. Saya bahkan mengambil libur menulis jauh lebih panjang daripada libur hari raya + cuti bersama yang diberikan kantor selama 10 hari. Waktu yang kalau dilihat tuh lama, tapi begitu dijalani, kok ya rasanya gak cukup? Hehe.. Manusia, sudah sifat kita seperti itu, selalu saja terasa kurang. :p


Walaupun lama ngetem di draf untuk disempurnakan, saya akan tetap menuliskan cerita lebaran seperti kebiasaan saya beberapa tahun terakhir. Sadar ingatan saya semakin mudah aus, saya berharap tulisan ini bisa menjadi pengingat memori manis bersama keluarga maupun bersama teman-teman.

Cuss kita flash back.. :)

Hari raya kami rayakan di Kendari, tapi-shalat idulfitri-di dua tempat berbeda. Saya di kawasan Lip*o plaza bersama orang tua dan adik-adik, sedangkan Abang menemani ibu mertua saya yang rumahnya terletak di kecamatan berbeda. Terjadi sedikit perubahan karena tadinya adik ipar rencananya lebaran bersama mertua kemudian mengubah rencananya, jadilah kami ambil jalan tengah saja. Toh, setelah shalat suami saya juga langsung menuju ke rumah bersama ibu mertua. Aman.. :D

Seperti biasa setelah shalat kami kembali menyalakan kompor untuk menyelesaikan masakan yang di-pending demi shalat yang damai. Sempat selingan juga dengan kegiatan tahunan, yaitu bersalam-salaman dan berfoto bersama tetangga sekitar rumah. Setelah semua masakan siap di atas meja, tidak lama kemudian Abang bersama Mama mertua datang. Pas sekali.. Waktunya makan.. Eh, itu makan kedua saya sih, sebelum shalat, saya sudah makan buras dan obat sebelumnya agar perut tidak meronta-ronta saat shalat. :D


Seperti biasa kami kemudian menuju rumah Tante untuk berkumpul sebelum ziarah kubur. Tidak seperti tahun lalu, kali ini rumah tante lebih ramai dengan kedatangan Aa' beserta keluarganya. Apalagi saat Aisyah datang, rumah semakin ramai dengan tingkah menggemaskannya, sudah bisa menunjuk kedua pipinya dan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi saat ditanya "Mana cantiknya Icaaa??". She's adorable! ^^

Selepas dari ziarah kubur kami sempat mengunjungi rumah Om di Lorong Pajak dan di Jalan Teratai, Alhamdulillah ramai, ketemu semua anggota keluarga dari masing-masing rumah. Beranjak Magrib, kami "bubar barisan" dan pulang ke rumah masing-masing.

Hari kedua, Abang berangkat ke kampung kakeknya di Kampobalano, sebuah Desa unik karena milik Kabupaten Buton Utara tetapi berada di daratan Muna.CMIIWW. Besoknya ke Kota Baubau, besoknya pulang dengan badan yang tidak fit. Kecapean.. :(

Sedangkan saya, hari kedua dan ketiga idulfitri juga dalam kondisi kurang sehat, walaupun sudah minum obat dari dokter tapi masih juga merasa mual. Akhirnya saya kebanyakan tinggal di kamar saja, malas berbasa-basi di luar kamar. Bukannya tidak menghargai tamunya Mama dan Bapak yang datang ke rumah, tapi saya merasa lebih baik seperti itu dari pada menyambut dengan wajah kusut menahan enek di ujung leher. Jangankan ketemu langsung, grup WA saja sudah lama saya mute, chat jarang saya perhatikan, pasif. Hehe..


Oh ya, lebaran kali ini Aa dan keluarga (Kakak sepupu saya) datang berlebaran dari Makassar. Biasanya kalau mereka ada bakal dibela-belian banget berwisata bersama. Seperti kemarin, hari ketiga mereka memutuskan ke Pulau Senja plus Pulau Lara. Sesekali cari yang gak begitu ramai seperti Pulau Bokori. Dan saya tetap tidak ikut, selain menjaga kondisi, beberapa tahun lalu saya juga pernah ke sana, jadi gak ngiler-ngiler banget. *Sombong* Haha :p

Baca juga: Menikmati Alam di Pulau Senja

Lebaran kali ini walaupun banyak liburnya tapi saya tidak banyak keluar rumah, selain harus banyak istirahat, duet kurang sehat oleh saya dan Abang, saya juga sedang dalam kehamilan tri semester pertama saat itu. Alhamdulillah.. baru saya publish di blog saat ini, medsospun belum. Ya.. alasannya karena dulu pernah keguguran, saya ingin Insyaallah semuanya stabil dulu.

Baca juga:
Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk, Keguguran atau ...
Kamu Kuat, Nak!

Kehamilan ini juga seperti penyelamat dari pertanyaan-pertanyaan yang bikin sensi karena ditanyakan terus-menerus. Alhamdulillah setahun pernikahan kami dipercaya lagi, saya telat haid. Abang mulai lebih protektif dari sebelumnya. Gak boleh keluar keringat sebutirpun. Lebay tapi saya melting juga. Receh.. Hahah

Oh ya, hari terakhir libur, 20 Juni saya masih sempat bertandang ke rumah para kepala bidang di kantor. Yah, walaupun nebeng, gegara suami sudah masuk kantor dong. Kaget saya, pagi-pagi banget sudah cari pakaian untuk ke kantornya. Hihi..

Gak begitu banyak sih cerita lebaran kali ini, soalnya dijalani dengan damai, minus grasak-grusuk dapur juga, puding yang biasa saya bikin juga saya buat berdua mama beberapa hari setelah lebaran. Biasanya kan hari lebaran sudah mesti siap semua. Mama pengertian banget. :*

Ini cerita lebaran jadi ada suka dukanya gitu, bagaimana lebaran teman-teman? Semoga lebih banyak sukanya, jikapun sempat dihinggapi duka, semoga diberikan hari yang lebih baik lagi.

Selamat Idul Fitri 1439 Hijriah ya... Mohon maafkan jika selama ini ada tingkah dan laku yang kurang berkenan, atau ada ucapan dan diksi saya yang menyakiti. Taqabalallahu minna waminkum (semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian).

Read more

1 Jun 2018

Semua Ibu Adalah Pejuang

Moms, pasti familier dengan yang namanya Moms War ya? Nah, kali ini saya akan membahas tentang perang panas dingin ala ibu-ibu. Saya sih sebenarnya kurang suka dengan isu-isu sensitif, tapi gimana lagi, harus ikut membahas karena harus menanggapi tulisan dari Mak Indri Noor selaku penulis trigger post di web KEB yang berjudul Stop Mom War, Dimulai Dari Diri Sendiri. Hihi.. Jujur banget ya.. Gapapa, kita awali semua dengan keujuran.. *Halahh :D

Jadi gini, saya sendiri selama ini hanya berdiri sebagai pengamat, membaca pendapat kubu ini, membaca pengamat kubu itu, lalu menalarnya dengan pengetahuan saya yang masih pendek.


Apa yang mengerikan dari sebuah Mom War?
Mom war sebenarnya hadir dari sebuah perasaan tidak setuju terhadap metode yang digunakan orang lain, pemahaman dan nilai yang dianut oleh kubu yang satu dengan yang lainnya, mom yang satu dengan yang lainnya. Mungkin juga terdapat unsur "menyinggung" metode lain.

Hal di atas merupakan hal yang wajar sekali menurut saya, di era demokrasi seperti ini kan yee.. semua bebas mengemukakan pendapat. Boleh.. boleh pakai banget! Tapi ada etika dari mengemukakan pendapat termasuk pengetahuan itu sendiri. Jangan karena tidak sependapat lantas merasa paling benar dan merasa bebas berkata kasar, bebas menilai orang lain bodoh, bebas mengeluarkan sumpah serapah. Bahkan kadang melakukan perundungan (bullying) kepada orang (biasanya ibu baru) yang benar-benar bertanya karena tidak mengetahui hal tersebut. C`mon Moms, lihat lagi niatnya, Moms mau berbagi ilmu kan? :)

Hargai pendapat orang lain
Mendapati orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah hal yang sangat tinggi persentasenya, apalagi di dunia maya. Jadi sebelum memasuki dunia maya pastikan lagi 2 hal.
1. Niatkan berbagi ilmu, berkah tujuannya.
2. Sampaikan dengan bijak, tanpa menghakimi, agar berkah dan dapat diterima dengan baik.

Simpel banget gak sih 2 poin di atas itu? Tidak sesimpel penerapannya mungkin ya Moms? Butuh kepala dingin untuk mengemas ilmu yang ingin kita bagikan itu menjadi lebih menarik. Apalagi kalau dijawab nyolot. Be calm. Balik ke tujuan nyari berkahnya saja. Kita hanya bantu menyampaikan, kalau memang yang "di sana" tidak mau menerima ya sudahlah. Doakan saja suatu saat bisa menerima kebenaran.

Semua Ibu Adalah Pejuang
Saya ingin mengingatkan lagi. Apapun metode yang dipakai dalam mengasuh anak, mengurus rumah tangga, atau apapun yang menjadi perdebatan di luar sana. Semua ibu adalah pejuang. Entah perjuangan itu bisa kita lihat di deretan timeline media sosial Ibu lainnya, ataupun tidak. Tanamkan dalam diri kita hal tersebut. Setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing. Semua ibu punya masalahnya masing-masing.

Maka tidaklah perlu ada lagi Mom War yang--kebanyakan--saling menjatuhkan itu! Kita sesama ibu, sesama pejuang, kitalah yang seharusnya saling mengerti, kita mempunyai tujuan yang sama, memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga kita.

Duh, berasa sedang kampanye saya.. Haha.. Intinya kita, para wanita ini tidak seharusnya saling melukai, sudah seharusnya kita bergandeng tangan saling menguatkan, memberi support terbaik yang kita punya. Gak rugi lho punya banyak saudara yang senasib sependeritaan sama berbahagia.

So, stop mom war, berbagilah yang indah-indah, bukan perdebatan tak berakhir karena sama-sama merasa benar. Sudah terlalu banyak hal yang menguras pikiran dari dalam dan luar rumah. Cuss kelonin anak lagi.. hehe..

Salam damai,
Irly
Read more

31 May 2018

5 Tempat Wisata Cantik dan Unik di Kudus

Pernah terbayang buat liburan di Kota Kudus? Kebanyakan, wisatawan yang datang ke kota di pesisir utara Jawa Tengah ini adalah untuk tujuan wisata religi dan hanya mampir dalam waktu singkat. Padahal sebenarnya ada banyak hal menarik dari Kota Kudus yang bisa kamu dapatkan jika tinggal lebih lama di sana.

Saya juga belum pernah ke Kudus sih, padahal kalau baca-baca info di internet, kota ini memiliki beberapa tempat unik dan tidak akan didapatkan di tempat lain. Meski kotanya tak terlalu besar, tetapi Kudus adalah kota cantik yang nggak boleh dilewatkan begitu saja. Apa saja sih yang menarik? Cuss, ke Kudus bareng baca dulu!

Makam Sunan Kudus dan Menara Kudus

via. indonesiakaya.com

Tujuan utama di Kota Kudus yang selalu ramai dengan wisatawan dari berbagai kota. Sebagian besar adalah peziarah yang ingin berdoa untuk Sunan Kudus yang dimakamkan di sini. Lokasi Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus tak sulit ditemukan. Tempatnya berada di pusat kota dan mudah dijangkau dengan kendaraan apa saja.

Dan yang menarik dari tempat ini bukan hanya tentang sosok Sunan Kudus dan sejarahnya. Tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat yang ada di sekitar kawasan Menara Kudus. Tinggallah lebih lama untuk melihat indahnya kehidupan masyarakat di sekitar kawasan ini. Bisa jadi, kamu bakal jatuh cinta dan memperpanjang waktu liburan di kota ini.

Makam Sunan Muria


via. halallifestyle.id

Selain makam Sunan Kudus, di kota ini juga terdapat makam Sunan Muria. Tetapi lokasi makam kedua sunan ini cukup jauh. Makam Sunan Muria berada di Gunung Muria yang sejuk dan asri. Di sepanjang perjalanan menuju makam, pemandangan pepohonan nan menghijau jadi teman.
Selain itu di kawasan sekitar makam juga terdapat beberapa mata air yang sejuk. Kawasan mata air ini juga sering jadi jujugan wisatawan yang sedang liburan ke Kudus.

Untuk menuju Kudus menumpang bus Agra Mas saja. Tiketnya terjangkau dan bisa dibeli di Traveloka. Dengan armada yang nyaman, perjalanan kamu ke Kudus dengan bus Agra Mas pastinya aman dan menyenangkan. Banyak pejiarah yang datang ke 2 makam tadi menggunakan bus, baik berangkat sendiri maupun bersama rombongan.

Air Terjun Montel


via. eksplorekoedoes.blogspot.com

Masih di kawasan Gunung Muria, tepatnya di Wisata Colo, terdapat sebuah air terjun yang segar. Namanya Air Terjun Montel, yang memiliki guyuran air bening nan dingin, lengkap dengan kolam yang menjadi penampungan air sementara sebelum mengalir ke sungai.

Air di kolam yang ada di Montel berwarna biru tua, suhunya dingin, bisa membuatmu menggigil ketika menyentuhnya untuk pertama kali. Namun sekali masuk ke dalam air, dijamin enggan keluar karena sangat segar.
Lokasi air terjun ini tidak jauh dari makam Sunan Muria. Ada di jalur perjalanan yang sama, dan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Ini tempat yang harus kamu kunjungi.

Museum Kretek Kudus


via. sindonews.com

Nama rokok keluaran kota Kudus sudah mendunia. Tapi yang menarik bukanlah pabriknya, melainkan museum yang menyimpan benda-benda mengenai tembakau, namanya Museum Kretek. Museum ini berada di Jl. Getas Pejaten, tak jauh dari pusat kota.

Aneka pengetahuan tentang tembakau dan rokok kretek bisa kamu temui di tempat ini. Nuansa museumnya unik, pekat dengan adat Jawa kuno yang eksotis.

Museum Jenang Kudus


via. dodoljenangmubarok.com

Tidak hanya lezat, jenang Kudus juga punya cerita yang bisa kamu pelajari di Museum Jenang Kudus. Jenang dari kota ini memiliki cita rasa yang berbeda dan di museum ini kamu bisa mendapatkan semua informasinya. Lokasi Museum Jenang Kudus berada di Jl. Sunan Muria 33, tepatnya di lantai atas sebuah toko jenang ternama di kota ini.

Selain bus Agra mas, tentunya masih ada banyak pilihan armada lain yang membuka rute perjalanan ke kota Kudus. Kamu pernah naik Agra Mas atau punya rekomendasi lain? Kalau saya lihat sih, busnya senyaman bus antar kota di Malaysia, nyamaaann.. ^^

Read more

30 May 2018

Mau Mudik? Perhatikan Ini Sebelum Mudik Lebaran Ya!

Hari raya idul fitri sebentar lagi akan tiba, berbeda dengan cuti bersama tahun lalu, tahun ini cuti bersama yang diberikan kepada pegawai/karyawan relatif lebih menguntungkan.

Bagi teman-teman yang hendak melaksanakan mudik, jauh ataupun dekat, sendiri ataupun bersama keluarga, banyak hal yang harus diperhatikan demi kelancaran mudik.

Untuk itu saya ingin berbagi beberapa tip berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini. Mungkin saja sama dengan tip dari teman-teman bloger lainnya, tapi semoga saja ada informasi baru yang bisa saya berikan, minimal jadi pengingat untuk teman-teman yang akan mudik.


1. Pastikan jumlah hari libur mudik
Bagi para pencari nafkah di luar kota, hal ini sangat penting. Karena, selain memanfaatkan libur dari cuti bersama, harus ada "strategi" untuk memanfaatkan cuti bersama yang diperoleh dari kantor, apalagi yang harus menempuh perjalanan sangat jauh, selain menguras waktu juga akan menguras isi dompet. Kita tidak sedang bercerita tentang uang ya, tidak ada yang mengalahkan nikmatnya berkumpul dengan keluarga terlebih bagi perantau. Maka, "strategi" memaksimalkan libur sangatlah penting.

Baca juga: Cerita Lebaran 1438 Hijriah

2. Waktu
Setelah mendapat kepastian jumlah libur untuk mudik, waktu menjadi faktor yang sangat besar pengaruhnya dalam mewujudkan mudik yang efektif dan efisien. Apaan coba? Sisihkan waktu untuk membeli tiket jauh hari sebelum waktu keberangkatan.

Untuk daerah Sulawesi Tenggara, mungkin tiket kapal laut tidak dapat dibeli jauh hari seperti tiket pesawat, akan tetapi membeli tiket kapal cepat sehari sebelum keberangkatan perlu dilakukan untuk mencegah membludaknya penumpang sehingga sangat besar kemungkinan sepanjang perjalanan pemudik yang tidak mempunyai rencana yang baik akan tersiksa karena harus berdiri sepanjang pelayaran. Dan percayalah, capek! *pengalaman pribadi nih.. Haha

Sedangkan untuk yang mudik menggunakan pesawat udara, ada keuntungan yang bisa diperoleh, yaitu fleksibilitas waktu yang dimiliki untuk memesan tiket jauh hari sebelumnya. Apalagi tiket bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah.

Yang juga sering menjadi perbincangan adalah begitu cepatnya tiket kereta api habis. Booking tiket kereta api juga harus dilakukan sesegera mungkin. Karena sependek pengetahuan saya, tiket kereta api ini termasuk yang sangat diperebutkan oleh pemudik.

Jadi, jangan menunda, dapatkan tiket sebelum kehabisan. *Duh.. Berasa ngiklan saya.. Haha..

3. Periksa
Tiket sudah ada, tinggal menunggu waktunya mudik. Maka ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum mudik, antara lain;

- Periksa dengan teliti, tanggal dan waktu keberangkatan. Tidak jarang, ada pemudik yang harus menjadwalkan ulang bahkan membeli tiket baru untuk keberangkatannya hanya karena salah mengingat tanggal ataupun waktu keberangkatan. Jangan sampai deh ya..

- Periksa keamanan tempat tinggal, terlebih jika tempat tinggal (rumah/kontrakan) ditinggalkan kosong tanpa penghuni atau penjaga. Pastikan api, sambungan listrik, gas atau hal berbahaya lainnya sudah dalam kondisi aman. Selain agar tidak menimbulkan kerugian, dengan melakukan pemeriksaan, perjalanan mudik juga akan lebih nyaman. Jangan lupa menitipkan pesan kepada tetangga yang tidak mudik untuk bantu mengawasi rumah/kontrakan.

- Periksa pulsa dan paket internet.
Hal ini mungkin terdengar remeh, tapi jangan lupa, akan banyak pedagang yang juga menutup usaha penjualan pulsanya karena sibuk mempersiapkan lebaran atau bahkan ikut mudik. Tapi dizaman serba modern seperti ini, saya yakin para pemudik sudah cerdas dan tidak akan bertanya lagi dimana tempat beli pulsa online? Minimal sudah tahu dan punya persiapan paket data yang memadai untuk mengakses dan melakukan transaksi. Kalau zaman dulu jangan ditanya, lumayan susah mencari pulsa disaat para pedagangnya juga libur/mudik. Hihi..

***

Itu tadi beberapat tip dari saya, semoga bisa jadi pengingat bagi teman-teman yang sudah merasakan euforia mudik. Teman-teman mudik tahun ini? Ke mana? Semoga mudiknya aman dan menyenangkan yess.. 😊
Read more

24 Apr 2018

Mengabadikan Momen Ngumpul Asyik Dengan HP Yang Juga Asyik

Kalau lagi ngumpul, rasanya tidak lengkap kalau belum foto selfie sama teman-teman. Foto selfie pun kurang afdol kalau kameranya enggak bisa bikin kita jadi kelihatan cantik. Hmm kalau galau begitu, mendingan pakai kamera smartphone OPPO F7 deh Moms.

OPPO baru-baru ini resmi meluncurkan produk teranyarnya yang bernama OPPO F7. Smartphone yang dibekali kamera berkualitas tinggi ini rupanya bisa menghasilkan foto yang apik lho apabila kita memanfaatkan fitur bawaannya juga.


Fitur A.I Beauty 2.0
Saat berfoto selfie menggunakan OPPO F7, wajah kita bisa dikenali oleh kamera dengan menggunakan teknologi Artificial Intellignce (A.I) yang dapat mendeteksi wajah melalui 296 titik pengenalan (face recognition).

Begitu terdeteksi, cekrek, foto tinggal di-setting hasilnya dengan fitur beautify yang bisa mengedit tampilan wajah di foto menjadi cantik natural. Setting-an yang sudah kita buat tadi, secara otomatis juga bisa langsung diterapkan oleh sistem A.I Beauty 2.0 pada foto selfie kita berikutnya. Jadi bisa tampil cantik secara praktis deh!

Terus, kalau foto selfie-nya bareng teman gimana?

Ini dia kecanggihan OPPO F7 menurutku, Moms! OPPO F7 tetap menyesuaikan setting-an edit beautify kita meskipun sedang foto dengan banyak orang. Bahkan, wajah-wajah teman kita pun ikut dikenali oleh A.I dan begitu group selfie, hasil beautify-nya akan berbeda untuk setiap wajah orang.

Psst, buat kalian yang laki-laki, teknologi AI di OPPO F7 akan menghasilkan foto yang ganteng maskulin kok (enggak bakal kena efek beautify yang cantik-cantik buat gender perempuan gitu). Hal itu bisa terjadi karena teknologi A.I bisa mengenali perbedaan warna kulit, jenis kulit, usia dan jenis kelamin seseorang sebagai subjek fotonya.


Masih ada fitur lain yang bisa mendukung kinerja kamera OPPO F7 ya, Moms. Fitur bokeh misalnya, bisa membuat tampilan foto kita lebih fokus karena daerah background akan menjadi blur. Lalu ada Vivid Mode yang bisa menyeimbangkan saturation warna pada foto. Juga Cover Shot Feature untuk hasil foto selfie yang lebih kontras layaknya pemotretan di cover majalah.

Selain itu, masih ada juga fitur berikutnya yaitu A.I Scene Recognition yang bisa membantu foto objek pemandangan menjadi kaya akan warna. Serta yang terakhir, di kamera tersedia pula AR (Augmented Reality) Sticker yang bisa membuat selfie kita jadi lebih seru.

Fix, kamera OPPO F7 ini benar-benar terbaik ya untuk fotografi. Kamera depannya saja diprakarsai dengan ukuran 25 megapixel lengkap dengan sensor HDR Sony IMX 576. Yang bikin tambah canggih lagi, OPPO F7 layarnya luas banget, 6.23 inci, bikin selfie jadi puas ya. Terus, smartphone ini sudah pakai OS Android Oreo lho, Moms plus daya baterainya yang 3400mAh plus dibantu AI Battery Management yang bikin jadi hemat banget.

Oleh karena itu, hilang sudah segala keraguan saya untuk ikutan pre-order smartphone satu ini. Kalau ditanya, mau OPPO F7 yang warna apa, saya udah incar yang Solar Red ya, Moms. So fashionable!

Read more

23 Apr 2018

Kartini Badan Pusat Statistik

Kolaborasi dengan anggota baru di Be Molulo sudah memasuki bulan ke-3. Bulan ini trigger post ditulis oleh jenk Rumi dengan judul Kartini Masa Kini. Temanya hangat, karena hanya selang sehari dengan hari Kartini.

Sebenarnya, untuk menulis lagi otak saya dalam kondisi mampet, terlalu fokus dengan kerjaan, sehingga ide yang sering kali muncul secara random menjadi enggan muncul walaupun hanya tema besar tanpa detail lebih lanjut.


Beruntung saat mengunggah foto tentang perjalanan dinas tepat saat hari Kartini kemarin, saya tanpa sengaja mengetik hastag KartiniBPS. Eh, bisa nih dijadikan tulisan tanggapan untuk kolaborasi Be Molulo bulan ini.. Jadilah tulisan ini sambil saya jagain kelas pelatihan. Alhamdulillah..


Apa itu Kartini BPS?
Kartini BPS saya terjemahkan sebagai para pegawai ataupun mitra BPS yang menjalankan perannya sebagai perempuan pejuang, baik di dalam rumah sebagai Istri, Ibu, Kakak, Adik, Anak dan tentunya sebagai penyedia data berkualitas bagi BPS yang kemudian bermuara pada konsumen data.

Jujur saja ide ini muncul karena keadaan saat ini, keadaan dimana pekerjaan tidak bisa dikatakan sambung menyambung tapi lebih kepada tumpang tindih. Keadaan dimana kalimat (IMHO) "Bagilah waktu untuk keluarga dan pekerjaan secara seimbang." Hanya bisa menjadi slogan saja, tidak bisa terealisasi menjadi kenyataan. Ini pengalaman pribadi. Karena saya juga merupakan Kartini BPS.

Kartini BPS dimata Instansi
Para Kartini BPS tentu punya peranan penting pada instansi BPS, baik sebagai Koordinator Statistik Kecamatan, Staf, maupun pengambil keputusan. Komitmen awal sudah dimulai sejak kami mendaftar dengan menandatangani surat bersedia ditempatkan di mana saja. Berikutnya mau tidak mau harus mengorbankan waktunya sesuai kebutuhan organisasi.

Jujur tidak banyak yang bisa saya sampaikan mengenai sudut pandang instansi, kita move on ke keluarga aja yess.. :D

Kartini BPS di mata Keluarga
Di mata keluarga, teman-teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Kami dipandang sebagai perempuan yang cukup sibuk, sebentar berada di sini, sebentar berada di sana, sebentar melakukan survei ini, sebentar melakukan survei itu. Diundang makan-makan, acara kumpul-kumpul kebanyakan tidak bisa hadir, kalaupun hadir, hadir dengan pakaian kerja sekaligus dengan dokumen-dokumen survei. Sangat jarang lepas dari pekerjaan. Di luar rumah mencari dan wawancara responden, di rumah masih juga memerikasa dokumen.

Hari-hari kami diisi dengan bekerja, komitmen harus kuat. Tapi semua ini tidak bisa terwujud dengan baik jika tidak dikucuri banyak pengertian dari keluarga.


Banyaknya waktu yang terpakai untuk bekerja bukan berarti tidak mengundang protes dari anggota keluarga. Mereka mungkin mengerti tapi bagaimanapun protes harus dilayangkan karena sudah melihat istri atau anaknya sudah kelelahan atau bahkan sudah jatuh sakit. Sering sih Abang membandingkan kesibukan saya saat masih menjadi Sekretaris dengan kesibukan sekarang. Saya senyumin saja, dia juga mengerti saya ingin belajar lebih banyak (walau sambil nyanyi dan menyilangkan kedua telunjuk "tapi tak beginiiii~" hehe).

Baca juga: Perubahan dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Kisah yang mengundang kesedihan saya adalah tentang anak, sering kali teman-teman bercerita bagaimana anaknya sedih jika ibunya harus keluar rumah untuk bekerja, atau jika sudah bisa membedakan libur dan tidak, anaknya akan sangat girang jika ibunya mengatakan bahwa ia libur.

Ya.. Bagaimanapun hidup itu pilihan, tentu banyak pertimbangan sehingga kami memutuskan menjadi Kartini BPS. Hal ini bukan untuk diperdebatkan apalagi menjadi bahan bakar untuk mom war di luar sana. Terlebih (ini juga harapan kami), tumpang tindihnya pekerjaan seperti ini tidak akan terulang lagi dikemudian hari. Semoga..

Oh ya, tentang anak, saya yang hampir setahun menikah dan belum dikaruniai anak ini juga tidak jarang disuguhi kalimat "Bagaimana mau punya anak kalau kamu sibuk seperti itu?" Saya senyum saja, walau merasa kalimat pesimis seperti itu sebaiknya tidak diperdengarkan walau bermaksud memberikan simpati. Karena kami lebih butuh kalimat motivasi ataupun doa dibalik kesibukan dan kelelahan kami. Sungguh...
***

Tulisan Kartini BPS ini mungkin lebih terbaca sebagai tulisan curhat, berisi uneg-uneg seorang pegawai perempuan yang bekerja di BPS. Tapi cobalah berpikir lebih luas, kami--yang saya ceritakan melalui kisah Kartini BPS--hanyalah sebagian kecil dari prempuan-perempuan yang berjuang dengan caranya masing-masing.

Kami, seperti juga Raden Ajeng Kartini tidak mencari pujian ataupun penghargaan, cukup diperlakukan dengan baik, dihargai kerja kerasnya dengan kalimat yang tidak meremehkan, disayangi dan dilindungi seperti layaknya perempuan yang terlihat lemah di mata laki-laki. Kami kuat karena kita sama-sama ciptaan Tuhan, keadaan adalah tempaan saja.

Setelah karnaval, tetap mengikuti perintah walaupun pekerjaan sedang menumpuk, sedang hujan, badan kurang sehat.

"Setiap perempuan berjuang dengan caranya masing-masing. Semakin modern jalannya kehidupan, semakin modern pula tantangan yang harus kami lalui. Kami Kartini Masa Kini, Kami Kartini BPS."

Gimana teman-teman saya para Kartini ataupun Kartono masa kini? Kita sepakat saling menghargai yess? 😊

Read more

20 Mar 2018

Tentang Penghasilan Tambahan

Bekerja bagi perempuan bukanlah hal yang asing lagi. Kalau dulu bekerja identik dengan seragam, saat ini bekerja menjadi hal yang lebih fleksibel, baik dari pakaian, waktu maupun pendapatan.

Kalau dulu kata bekerja diidentikkan dengan seragam berwarna hijau dan kain keki, maka sekarang dengan dasterpun, perempuan sudah bisa memperoleh penghasilan, waktupun begitu, leluasa, sebisanya mau melayani pukul berapa dan bisa disesuaikan juga pendapatannya.

Terinspirasi dari kisah saya sendiri *yaelaahh* saya kemudian ingin bercerita tentang penghasilan tambahan. Ini sih buat trigger post bersama teman-teman di Be Molulo, tapi mungkin bisa menginspirasi teman-teman untuk memulai usaha rumahan dengan seragam daster (tapi kalau yang baca ini laki-laki, dasternya buat wanita aja ya, pliss! 😝) atau untuk menambah penghasilan lagi? Pasalnya semua bisa dijalankan bersamaan, kenapa nggak kan ya? Hehe..


Sebagai ASN bukannya penghasilan saya tidak mencukupi, alhamdulillah rasanya berlebih, tapi mungkin ada bakat hobi berdagang juga kali ya, jadi enjoy banget ngejalaninnya. Apalagi kalau habis jalan ke kota mana gitu, biasanya saya sempatkan belanja untuk keperluan pribadi, keluarga dan untuk dijual. Prinsipnya, biar duit gak hanya keluar aja, tapi ada pemasukan juga. Kurang pintar bagaimana istrinya Abang ini? Hehe..

So, apa saja sih usaha menambah penghasilan yang saya lakukan?

1. Menjual Pakaian dan aksesoris.
Dulu, saat saya masih bekerja di kabupaten, saya punya Online Shop, belanja lewat teman atau melalui 1st hand supplier. Cari supplier juga susah, harus bandingin harga antara supplier satu dengan yang lain. Pas dapat.. Ya gitu.. Kadang bagus kadang dikirim suka-suka (gak sesuai orderan), komplain biasanya gak bisa. Untung gak sering-sering.

Nah, saat pindah di kantor provinsi, OL Shop tidak saya jalankan lagi, jualan secara luring juga nggak lagi. Lama-lama hasrat *ceileh.. Hasraaat 😝* jualan saya keluar lagi, saya mulai dengan barang-barang dengan modal kecil, biasanya sih memang saya suka barangnya, jadi belanja sekalian jualan.. Hihi.. Contohnya bros, yang unik dan kira-kira sesuai dengan selera orang kantor. Hasilnya? Saya dapat bros unik gratis, jualan laris manis, untungnya juga tetap ada. Seneng gak siiih? Haha..

Sampai saat ini, saya juga sudah beberapa kali belanja. Tujuannya agar belanjaan tidak terkena gelombang overload jelang lebaran, selain itu juga untuk mengambil pasar lebih awal. Duh, gimana sih bahasanya, lebih awal memasarkan baranglah yaa.. Jelang lebaran kan orang-orang pasti meningkat minat belanjanya tuh, saya berusaha menarik minat mereka sejak awal, soalnya barang yang saya jual juga bukan pakaian lebaran yang tergolong mewah. Takut barangnya gak habis, modal gak muter. Iya.. Saya masih tipikal hobi jualan, bukan business woman yang gak takut mengambil resiko. Hehe..


Prinsip pertama,
Segala sesuatu butuh usaha 😊

2. Oriflame
Menjadi konsultan oriflame sudah relatif lama saya jalani. Buat jualan aja, pakai sendiri juga tentunya. Emak-emak irit banget yess.. Harga member jadi lebih murah, trus kalau orderan banyak bisa dapat bonus juga. Ini alhamdulillah sering, saya modal nitip katalog doang. Keuntungannya juga lumayan. Lupa sudah berapa tahun, tapi kalau gak salah belum sampai 5 tahun.

Oh ya, saya teringat sebuah kejadian saat jualan Oriflame di kantor, ada yang ngomong gini saat tahu saya yang jualan.

"Jualan? Kan sudah banyak uang di rumahmu (ngomong gitu mungkin karena tahu bapak saya ASN dan ada warung di rumah). Kamu gak dikasih makan Mamamu?" Tanpa ada nada atau mimik becanda sedikitpun. Sinis.

Deg!! Saat itu saya coba menjawab kalem, tapi saya bisa merasakan panas di dada dan wajah saya, mungkin sudah memerah walau tersenyum. Pernyataan yang tidak saya sangka-sangka bisa muncul di muka bumi, menyentuh segala hal yang saya benci. Tidak heran, walaupun hal tersebut tidak membuat saya kemudian surut semangat menambah penghasilannya, tapi kejadiannya tetap teringat jelas.

Ih.. Nyebelin.. Lanjut yukk..

3. Menjual Pulsa dengan Paytren
Hampir sama dengan berjualan Oriflame yang tidak begitu menyita waktu, saya juga berjualan pulsa. Bergabung dengan Paytren yang dulu masih bernama VSI, saat belum ada aplikasi sampai sekarang sudah serba dimanjakan, gak pakai biaya sms lagi. Lumayan kan biaya pulsanya. Hahah..

Berjualan ini saya niatkan untuk membantu orang lain, karena sependek pengetahuan saya, jualan via paytren sudah sekalian bisa sedekah, ya.. walaupun IMHO, harga modalnya lebih mahal dibanding ngambil di tempat lain, tapi selain itu saya juga bisa membantu teman-teman di kantor (atau bahkan keluarga) yang kehabisan pulsa. Bukan hanya saat jam kantor, tapi juga diluar jam kantor. Tidak jarang larut malam atau subuh saya menerima WA atau SMS emergency "Ir, pulsa listrik 100 yaa, listrik sudah habis, saya mau menyetrika!" Haha..

Karena ingat teman-teman (utamanya ibu-ibu, eh.. Emang 95% pelanggan saya buibu sihh 😁), tidak jarang saat sedang tugas ke luar kotapun saya gelisah kalau gak punya deposit pulsa. Takut mereka ngirim pesan SOS dan saya gak bisa penuhi. Kasihan.. Hehe..

Gak nyangka sih jualan pulsa bisa seseru ini. 😂

4. Berpenghasilan dari Blog
Nah, tema ini yang mungkin sering saya iming-imingi ke teman-teman di be Molulo, sesekali juga saya bahas di blog walau tidak secara spesifik.

Bukannya apa-apa, saya sendiri merasakan nikmatnya, walau gak banyak tapi sungguh bisa membuat excited-deg-degan-mengharap-senyum-tegang-lalu senyum-senyum sendiri, kalau diartikan secara jujur, tahapan diatas bisa menjadi senang dapat tawaran kerjasama-deg-degan dan ngarep saat menawar menunggu jawaban tentang fee-dapat fee sesuai tawaran-kepikiran tulisan yang mau dibuat-posting lalu uang masuk rekening. Dududu... Masih banyakan senyumnya kaaan? Haha..

Baca juga: Hobi yang dibayar, Bukankah Itu Mimpi Setiap Orang?

Trust me dehh.. It's fun! Dan saya ingin teman-teman merasakan kesenangan yang sama. 😊

5. Bikin Industri Rumah Tangga
Nah, untuk mengganjilkan, saya tambahin yang masih di angan-angan saya yess..

Saya tuh sebenarnya punya keinginan juga bikin industri rumah tangga. Selain secara ekonomi bisa menambah penghasilan, dalam pemikiran saya, kegiatan ini juga bisa memberdayakan orang lain, dengan gaji tentunya.

Tapii..

Ada tapinya nihh.. Saya belum menemukan--atau mungkin belum memikirkan lebih jauh kali yaa--produk apa yang akan dipilih. Masih sibuk mikirin Survei Biaya Hidup! haha

Udahan ah, itu saja yang bisa saya share, semoga ada manfaatnya. Teman-teman gimana? Punya penghasilan tambahan gak? Atau mau bantuin saya ngasih ide untuk industri rumah tangga? Apa aja boleh.. Share di kolom komentar yess.. 😊

Read more

5 Mar 2018

Perubahan: Dari Sekretaris Kepala Kantor Menjadi Staf Bidang

Tema perubahan dalam grup 1 Minggu 1 Cerita membuat saya terpikirkan perubahan ritme kerja yang saya alami beberapa bulan terakhir. Dari yang sebelumnya boleh dibilang "santai" menjadi ngos-ngosan karena kejar-kejaran dengan pekerjaan.

Hayo kenapa?
Manajemen waktunya gak bagus?


Nope! Nggak yaa.. Ini karena saya yang dulunya seorang Sekretaris Eselon II akhirnya bisa menyematkan gelar SE (walaupun terhitung lama) melalui ujian penyesuaian ijazah lalu kemudian dipindahkan menjadi staf di seksi Neraca Produksi, bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik. Ada yang berpikir "Nama bidangnya berasa "horor" gak sih?" hihi.. Sebenarnya sama dengan pikiran saya, pekerjaan di bidang itu terhitung asing bagi saya...

Baca Juga:
Tentang Pengumuman Hasil Ujian Penyesuaian Ijazah

Bismillah..
Saya pun meng-iya-kan tawaran dari bagian Tata Usaha. Saya merasa tidak boleh kebanyakan "gaya", sudah diberi pilihan yang baik, masih minta yang lebih lagi. Tahu diri. Saya tahu saya harus belajar banyak lagi, rasanya senada dengan keinginan saya untuk tidak menjadi sekretaris lagi, agar saya belajar lebih banyak, tidak stuck dengan urusan yang itu-itu saja. Oktober 2017 sayapun resmi beralih profesi.

Waktu jadi sekretaris, duduk manis di ruangan ini

Maka perubahan ritme kerjapun terjadi, dari saya yang kebanyakan berada di kantor, mengurusi pimpinan, menjadi tidak ada urusan sama sekali (selain menjalankan kebijakan atau permintaan tolong dari beliau), lalu kemudian sibuk di lapangan mengurusi survei di bidang tempat saya bekerja saat ini, ditambah lagi saya dan beberapa teman diperbantukan untuk menjadi pengawas Survei Biaya Hidup (SBH) 2018. Jadilah ritme kerja mengalun seperti lagu Nina Bobo menjadi lagu In The End-nya Linking Park. *Ketahuan umurnya ya.. hihi.. Atau Icy Girlnya Saweetie deh.. TOP di lagu Doom Dada.. Engap-engap deehh.. Haha..

Dan dengan perubahan yang saya alami, ada sedikit protes sih dari Abang yang pengennya saya duduk bekerja di kantor saja, tidak perlu ke lapangan, takut kecapean. Tapi mau bagaimana lagi, sayapun sudah mendaftar untuk menjadi fungsional, artinya saya harus berburu angka kredit.  Ah.. seandainya saya bisa seperti teman-teman pandai menulis opini di koran, angka kredit mah urusan gampang, poinnya besar cuy.. *Mupeng

Setelah gak jagain meja 😂😂
(Gimana abang gak khawatir kan yee)

Saya bukannya tidak ingin menuruti Abang tercinta selaku imam saya, tapi ini memang pekerjaan saya, gak bantuin SBHpun saya akan diberikan pekerjaan lain, yang memang--kami di kantor Badan Pusat Statistik--tidak akan lepas dari pekerjaan lapangan, kepala bidang dan kepala kantor saja masih ke lapangan, apatah lagi kami yang hanya bawahan ini.

Baca juga: Cerita Sekretaris, Suka Duka Hingga Hal yang Konyol

Lagipula, saya juga mempelajari banyak hal dari hasil perubahan ini, saya belajar lebih banyak tentang kerja tim, maklum yee, waktu jadi sekretaris saya yang kebanyakan mengatur pekerjaan saya sendiri. Lebih banyak menurunkan ego lagi, melakukan hal yang sudah lama tidak saya lakukan, ataui bahkan yang belum pernah saya lakukan seperti menyiapkan bahan rilis atau kenalan dengan 17 kategori penghitungan PDRB yang selama ini terabaikan oleh saya. Pokoknya SAYA BELAJAR BANYAK! Ups.. Jebol capslock-nya.. Hihi..

Inilah salah satu alasan tulisan di blog jadi jarang, mungkin yang belum bisa saya kuasai saat ini adalah mood untuk nge-blog. Mungkin secara tidak sadar fisik saya capek jadi pengennya rebahan sebentar, ditambah sifat suka menunda saya, maka jadilah.. Padahal Abang sudah memafhumi kesenangan nge-blog saya lho, it's me the biggest problem.. Fiuuhh..

Panjang lebar yesss saya curhat menuliskan tentang perubahan ini, intinya saya ingin bilang bahwa pada perubahan itu terdapat kesempatan belajar, walau berat, tapi akan berguna di kemudian hari.

Kalau teman-teman, apa yang berubah di kehidupannya saat ini? Jangan sebut berat badan yess, itu perubahan saya juga.. Hehe.. Share di kolom komentar perubahan yang kamu alami saat ini ya.. ^^

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...