10 Feb 2019

Jika Siap Memiliki, Maka Kaupun Harus Siap Melepaskan

Hidup sesungguhnya seperti merentangkan tangan. Siap kehilangan untuk kemudian memiliki hal yang baru.

Tidak pernah akan sejalan rasa memiliki dan rasa kehilangan.

Hal itu saya rasakan saat ini. Saat di mana saya berbahagia karena kelahiran anak pertama saya, tapi disaat yang sama, saya harus kehilangan banyak hal. Sejatinya bukan hanya saya, tapi juga suami, kedua orang tua, mertua, dan adik-adik saya.

Bukan, saya bukannya tidak bersyukur. Saya mengajak diri saya sendiri dan mungkin orang lain untuk merenungi bahwa ada hal yang harus ditukar dalam hidup ini. Tidak bisa semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Dan bukan hanya saya sendiri yang merasakan kehilangan.


Saya beri contoh dari keluarga saya sendiri.

Saya
Setelah melahirkan, jangan tanyakan betapa bahagianya saya. Tapi selanjutnya, saya harus bertanggung jawab mengurus anak saya, salah satu sumber kebahagiaan baru saya. Dan demi semua itu, saya harus rela kehilangan waktu saya, mengubah ritme kehidupan saya.

Yang paling mencolok adalah saya harus kehilangan ritme tidur yang selama ini bisa saya atur sendiri. Paling buruk hanya tidur beberapa jam dalam semalam. Tapi sekarang, bisa tidak tidur semalaman.

Tidak hanya tidur, bahkan urusan BAK dan BAB pun, saya harus menyesuaikan dengan waktu si kecil. Tidak jarang saya harus bersabar menunggu selama berjam-jam hanya untuk "ke belakang". Ya.. Semua tahu bahwa hal ini sangat tidak sehat. Akan saya kemukakan alasannya kenapa, nanti. Ah.. Sungguh drama setelah melahirkan yang tak usai.

Suami
Suami, mau tidak mau harus kehilangan tidurnya yang tenang, sesekali saya bangunkan dia ditengah malam, walau dengan banyak perasaan tidak enak dan kasihan (entah suami sadari ini atau tidak). Yang jelas sebisa mungkin tidak membebani dia, saya tahu, walaupun tidak banyak bercerita, pekerjaan sudah cukup membuat dia lelah. Toh, waktu istirahatnya di akhir minggu sudah tergadai oleh cucian yang tidak pantas berada di laundry. Atau membantu hal lain di rumah.

Tapi kan, si kecil tanggung jawab bersama.. Sudah sepantasnya suami ikut membantu. Kenapa harus kasihan? Ya.. Memang. Suami tentunya ikut membantu dengan ritmenya sendiri. saya masih belajar menjadi orang tua, begitupun dia. Semoga nanti ritmenya sudah bisa sama. Saya juga sudah hilang gak enakannya.

Orang Tua
Orang tua, terutama mama. Saat ini banyak kehilangan waktu istirahatnya. Kalau saya mengurus 1 bayi kecil dan kadang masih harus mengurus 1 bayi besar yang sudah lama tidak diperhatikan. :p Mama harus mengurus 1 bayi kecil dan banyak bayi besar di dalam rumah. Anak saya, saya (yang kembali seperti bayi, diperhatikan makan-minumnya, pakaian, istirahat dan asupan gizinya), suami saya, kedua adik saya dan yang menjadi tanggung jawab terbesarnya, bapak.

Loh, semuanya kan sudah besar, bisa mengurus dirinya masing-masing. Nope.. IMHO, para pria (maaf gak maksud apa-apa dan semoga kamu tidak termasuk), punya sifat dan kecenderungan untuk dilayani. Padahal dalam rumah tangga seharusnya tidak seperti itu. Pria-pria di rumah juga sebenarnya tidak meminta itu. Tapi seriusan, kalau mama mau cuek saja, makanan tidak akan tersedia, piring-piring kotor menumpuk, rumah penuh debu dan akan tampak seperti kapal pecah!

Tapi bukan berarti bapak tidak kehilangan apa-apa. Bapak juga kehilangan waktu istirahatnya. Tidurnya tidak nyenyak karena menjadi radar terhadap tangisan anak saya. Bapak yang sudah sangat kikuk juga kemudian belajar bagaimana menggendong bayi dengan berbagai posisi. Bapak juga menyediakan air hangat untuk minum dan mandi saya, begitu juga bayi saya. Bapak juga banyak membantu meringankan pekerjaan di rumah. Sudah seharusnya, kan?

Mertua
Mertua sih sudah biasa ngemong cucu, soalnya ini cucu ketiganya. Tapi bagaimanapun, saat mertua ikut menginap di rumah, mertua juga akan kehilangan ritme tidurnya. Beliau biasanya tidur setelah magrib, bangun sebentar untuk Isya dan lanjut tidur lagi.

Adik-adik
Kedua adik saya laki-laki. Kalau berhubungan dengan mengurus bayi, mereka biasanya jadi asisten mama saat si bayi dimandikan. Kebayang kan mereka gak pernah mengurus bayi sebelumnya harus sigap mengambil sabun, minyak telon atau baby oil. Juga harus memakaikan kaos tangan dan kaos kaki? Okelah kalau produk seperti minyak telon dan kawan-kawan, ada tulisannya di kemasan. Bagaimana dengan kaos tangan dak kaos kaki? Benarr! Sering ketuker! Alhasil kena omel mama yang heran kenapa laki-laki gak bisa bedain mana kaos tangan dan mana kaos kaki.

Saya sampai dokumentasikan saat Mama mengurus di sebelah kiri, adik di sebelah kanan dan adik bungsu saya di kaki. Sayang gak bisa saya pajang, pada kelihatan auratnya, mama sedang tidak berjilbab, dan kedua adik saya sedang memakai celana pendek dengan muka bantalnya. Wkwk

Gak hanya itu sih, karena ada bayi, adik-adik juga jadi seperti bapak, lebih banyak bantuin kerjaan di rumah. Which is emang sudah seharusnya kan? Kehilangan waktu untuk santai jelas dialami juga oleh adik-adik saya.

Oh ya, diawal saya janji cerita kenapa penanganan bayi saya agak berbeda. Dua hal
1. Si bayi kalau nangis, asli nangis kejer, ngegas seperti habis jatuh atau dipukulin. Bahkan ketika sudah disusuipun, kalau udah terlanjur nangis, dia tetap ngegas, menangis dengan nada tertingginya, dengan wajah merah semerah-merahnya dan nafas yang tertahan lama. Seisi rumah akan panik.
2. Ya itu tadi, saya gak enakan.
Walaupun Mama rela, suami juga gak komplain kalau saya bangunkan tengah malam, saya tetap merasa tidak enakan. Makanya kadang hauspun saya tahan jika melihat seisi rumah sudah tidur atau kasihan pada Mama yang sudah pontang panting mengurus rumah bersama isinya, kami. Padahal banyak minum itu komponen penting agar ASI banyak. :(

***

Itu sedikit banyak cerita tentang kehilangan yang dirasakan seluruh anggota keluarga. Ya memang sih, kalau sudah urusan sama anak bayi, rumah tangga sudah akan berbeda. Kalau tadinya suka menonton film, stalking akun hosyip, nonton yutup, apapun bisa dilakukan sesukanya, saat sudah memiliki bayi semuanya sudah berbeda, prioritas dan patokan utama adalah bayi, the big boss. Tidak bisa lagi menggunakan waktu semaunya. Semua orang sama-sama lelah, that's why kita harus saling support.

Dan diatas kebahagiaan itu, kehilangan semestinya sudah berada di level melepaskan. Rasa kehilangan yang muncul karena dipaksa oleh keadaan sejatinya berubah menjadi sebuah proses melepaskan karena dilandasi oleh kerelaan.

Maka untuk memperoleh kebahagiaan, yang bisa sejalan dengan kata memiliki hanyalah melepaskan. Jika siap memiliki, maka kaupun harus siap melepaskan.

Bagaimana dengan kehidupan teman-teman? Sedang ditahap apakah sekarang ini?
Read more

15 Jan 2019

Gak Jadi Baby Moon karena Gak Dapat Izin Cuti, Kesal?

Awal tahun! Masih musim liburan gak sih? Hihi..

Saya jadi ingat tahun lalu deh, saat Abang sudah mulai melempar keinginannya untuk liburan bareng. Mungkin sudah jenuh dengan pekerjaan kantor setahun sebelumnya.

Waktu berlalu, istri yang juga katanya suka liburan ini selalu beralasan pekerjaan ini gak bisa ditinggal, pekerjaan itu gak bisa ditinggal, apalagi ada pekerjaan baru. Makanya liburan gak jadi-jadi.

Sampai akhirnya saya positif hamil lagi pada bulan keempat tahun 2018. Alhamdulillah, sesuatu yang kami tunggu-tunggu melalui berbagai upaya akhirnya membuahkan hasil.

Baca juga: Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Cara-cara Hits di Internet sampai Promil ke Dokter

Apa kabar liburan?
Dengan kebahagiaan yang kami rasakan, mabok selama hamil dan hasil membaca bahwa perjalanan pada trisemester awal masih cukup beresiko. Keinginan liburan berhasil diredam. Hanya berganti rencana dan nama saja, dari liburan menjadi baby moon...

Dan kemudian, pada bulan keenam, saat kehamilan sudah berada pada trisemester kedua, baby moonnya tetap tidak berhasil terlaksana. Hahhah.. *Pura-pura tegar :D


Akhirnya, saya liburan di rumah saja dan Abang berkeliling di Jakarta dan Bandung. Ah.. perih hati ini... Tapi saya ikhlaskan agar Abang bahagia, melepas penatnya biar bisa refreshing.

Apa daya saya tidak bisa cuti karena sedang mengerjakan publikasi yang sedang deadline di kantor. Iya, saya gak dapat izin cuti. Ah..  kerjaan kantor ini, apa sih yang tidak deadline?

Padahal sudah muncul ide untuk nonton penutupan ASEAN GAMES saja, sekalipun tidak bisa mengikuti kehebohan saat pembukaan, setidaknya euforia yang bikin kita sebagai penonton ini jatuh cinta dan haru berkali-kali itu bisa dirasakan secara langsung walau sedikit.

Tapi, Abang kalah gesit dari para fans K-Pop yang sudah terbiasa dengan kegiatan berebut tiket (penutupan ASEAN GAMES) secara virtual. Langsung bikin plan B ((Baru bikin??)).

Akhirnya Abang melipir ke Lembang bahkan hampir nyasar melebihi tujuan. Beruntung, saya punya Devi kalau sudah urusan Bandung. Singkat cerita Yandanya Janilah (Suami Devi) yang mengantarkan Abang berlibur. Walau Abang sering juga mengirimkan pesan kesepiannya, bahwa saya seharusnya ada di sampingnya. Huhu.. Saya kan jadi merasa bersalah..

Tapi, alhamdulillah saya tenang walau baby moonnya diwakilin suami saja. LOL. Saya begitu tertolong dengan jalinan silaturahmi yang tidak pernah saya sangka akan berumur panjang ini.

Cuma modal kenal sesama bloger, kopdar sekali doang, itupun dianterin keliling Bandung, sempat bisnis kecil-kecilan bareng, sekarang berlanjut suami-suami kami yang jalan bareng.

Semoga bisa segera ke Kendari ya Deev, saya udah lama ngutang nih ke kamu, ini malah nambah ke suamimu lhoo.. *Ketjuupp :*


Jadi, kesel gak karena gak jadi baby moon? Gapapa, ikhlas kok. Cuma ya teteup.. Ini pengingat, bahwa saya masih butuh liburan, kalau baby moon gak jadi, mungkin nanti bisa bertiga sama si kecil kalau sudah bisa dibawa jalan.

Nanti lihat jadwal cuti bersama 2019 aja kali ya? Biar gak terhalang permohonan cuti tahunan seperti tahun lalu lagi. :D

Trus, pengingat juga, bahwa perjalanan bisa membawa kita pada hal-hal yang tidak terduga, termasuk betapa Allah SWT tuh maha pemurah dengan memberi kita sahabat-sahabat yang tidak pernah pamrih dalam menolong.

Ketiga nih ya, walaupun saya tidak keluar untuk liburan. Tapi jalinan silaturahim antara saya dan Devi tetap jalan, bahkan Insyaallah tersambung lebih panjang. Bayangin, dari sama-sama masih gadis dan sekarang sudah punya suami! Alhamdulillah..

"Perjalanan akan mengaarkanmu banyak hal, termasuk bagaimana bahagianya pulang bertemu orang yang kau cintai."
(Irly)

Gimana teman-teman? Punya pengalaman merencanakan liburan yang akhirnya gagal tapi kemudian dapat hikmah yang apik? Teman rasa saudara itu nyata, dan sering kali hadir tanpa kita duga yess! ^^

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...