23 Feb 2021

Gak Nyangka! Tahun Ini Ternyata Harus Ekstra Berjuang Menghilangkan Jerawat

Haii..

Bagaimana kabarnya semua?

Duh, pertanyaan kayak gini kayak basa-basi ya? Tapi zaman sekarang, bertanya kabar itu penting sekali, karna keadaan -terutama kesehatan- memang sedang tidak pasti.

Persis seperti keadaan kulit wajah saya sekarang nih, dari yang sebelumnya jenis kulit saya kombinasi sekarang malah mengarah ke jenis kulit acne prone. Jadi sensitif banget dah, jerawat muncul tanpa jeda, bahkan sampai ke tempat yang sebelumnya tidak pernah berjerawat. Kok bisa gitu sih?


Walaupun nanti ga banyak foto tapi sini deh saya ceritain pelan-pelan..

Mengganti skin care

Seperti halnya kaum perempuan yang menjadikan glowing  sebagai cita-cita hidupnya, saya pun begitu.Wkwk.. lebay emang, tapi memang selebay itulah resolusi glowing di tahun 2021. Kami akan selalu merasa kurang dengan pencapaian yang sudah diraih kulit wajah. Hiks...

Seperti tahun 2019, saya menggunakan sebuah produk berinisial M, saat itu kulit saya masih berjenis kulit kombinasi. Tapi diarahkan muntuk menggunakan produk dengan series acne. Duh, seperti terluka hati ini mengetahui kulit saya dikategorikan berjerawat. Tapi saya tetap pakai acne series sih. Wkwk.. Saya anaknya denial tapi tetap nurut kok. Haha

Hasilnya? Ya, kulit agak lebih cerah dan jerawat memang munculnya hanya saat akan haid, tidak ada komedo. Intinya kulit saya dalam keadaan cukup tenang. Dan saya tetap pengen glowing! LOL

Apa yang saya lakukan? 

Betul! tentu saja saya ganti skincare, setelah kesana kemari membaca review, akhirnya saya beralih pada produk berinisial G. Kulit saya jelas menjadi lebih cerah dari sebelumnya, mungkin karena kandungan niacinamidenya lebih banyak atau apa, kulit saya menjadi jauh lebih cerah dong! Ga ada bruntusan apalagi komedo. Hmm.. ga salah memang bahan aktif dengan nama lain vitamin B3 itu hype banget dikalangan pengguna skincare.

Etapiii.. sedih dong, jerawat saya malah eksis mulu, saya jelas saja bertanya-tanya, ini kenapa siiih? Dan beralih ke produk B setelah menggunakan produk G selama kurang lebih 8 bulan. Alasannya? Melupakan kebaikan si G dan hanya fokus pada kekurangannya! Bhahaha.. kek hubungan asmara aja deehh.. Intinya gitulah, saya ga betah jerawatan mulu. Kan tau sendiri, jerawat sih sembuhnya cepat ya, tapi bekasnya itu yang nauzubillah entah kapan hilangnya! Hufthh..

Alasan lain mengganti ke produk B adalah sepupu saya yang juga reseller produk tersebut juga sudah memakai produk B kurang lebih 8 bulan dan cocok!.

Bagaimana hasilnya pemakaian produk B?

Ehm, saya parno dong sama hasilnya, kulit saya bruntusan, tone kulit turun, jerawatan dan mubazir melanda! Kenapa? Karena saya beli 3 paket, tapi karena jerawatan terus, saya hanya dianjurkan pakai krim siangnya saja. Kucoba bertahan. Tapi..

Jerawat Bernanah

Iyes, anda tidak salah baca! Saya yang jaaarang banget mengalami jerawat bernanah malah mengalami jerawat bernanah tak berkesudahan! Belum sembuh jerawat nanah yang ukurannya gede-gede, muncul lagi jerawat bernanah lainnya. Aduh, sumpah takut banget, takut bopeng dan menyesal seumur-umur!

Tidak Memakai Make Up 

Untuk mengatasi jerawat bernanah dan menghindari ketidak cocokan antara skincare dan bedak yang sudah berabad-abad saya pakai itu, saya lalu dianjurkan untuk tidak menggunakan bedak sama sekali. 

Huhu.. bisa bayangin gak wajah sudah kucel, berminyak, berjerawat (lengkap dengan bruntusan dan banyak bekas jerawat) ditambah gak bedakan? Ke kantor, ke pestapun saya tertib menjalankan anjuran itu, karena emang serius sama produk itu, pengen banget membuktikan cocok tidaknya saya dengan produk itu. Tapi apa daya, tetap saja saya jerawatan. Sad.

Maskne?

Maskne yang disingkat dari kata mask acne ini timbul karena pemakaian masker yang terlalu lama. Dengan durasi yang lama, kemungkinan kelembaban di sekitar masker juga akan meningkat, sayangnya kelembabannya muncul karena keringat, gak jauh-jauh dari bakteri. Selain itu, bisa terjadi gesekan berkali-kali antara kulit dengan masker, sehingga menimbulkan luka kecil pada kulit.

Nah, saya sempat berpikir, mungkin jerawat tak berkesudahan yang saya alami akibat maskne. tapi ternyata tidak. Kenapa begitu? Lemme tell you later. Hehe

Oh ya, kalau ada yang benar-benar mengalami jerawat karena terlalu lama menggunakan masker, maka salah satu cara mengatasinya adalah dengan memilih bahan masker yang lembut untuk kulit, jaga kebersihan masker, jaga kebersihan wajah setelah menggunakan masker dan jangan lupa menggunakan masker dengan ukuran yang pas.

Purging atau Breakout

Setelah menggunakan produk B sesuai anjuran seller-nya sejak awal Desember sampai awal Februari, saya akhirnya seperti mendedikasikan banyak waktu dan tenaga untuk mencari tahu tentang jerawat. Termasuk cara menghilangkan jerawat tentunya. Karena memang mengganggu sekali, bisa bayangkan gak sih? Wajah yang tadinya asyik-asyik saja dielus suami, tiba-tiba tangannya canggung mau ngelus di mana, ada banyak jerawat sih!! Hiks..

Salah satu hasil yang saya dapatkan dari banyak membaca itu adalah perbedaan purging dan breakout. Entah kemana saja saya selama ini. sudah banyak artikel tentang ini, tapi saya baru baca dari komentar di YouTube dong! Wkwkw.

Simpel tapi mengena banget sih komentar yang saya baca itu. Jadi untuk membedakan jerawat karena purging dan breakout adalah jika jerawatan di tempat yang sudah biasa berjerawat, maka itu adalah purging (di artikel disarankan lanjut menggunakan skincare), sedangkan jika muncul jerawat di tempat yang baru, maka itu adalah breakout (di artikel disarankan berhenti menggunakan skincare). Deg! Saya langsung feel related dong. Fix ini jerawat breakout!

Good bye Produk B

Setelah konsultasi secara mendalam dengan reseller produk B, saya akhirnya diberitahu untuk berhenti menggunakan, karena kemungkinan tidak cocok dengan produk tersebut. Padahal berharap banget B itu skincare terakhirku, yang cocok kek orang-orang, berhasil mulus binti glowing kek orang-orang. Hiks..

Untuk beralih produk saya akhirnya memutuskan untuk fokus pada penanganan jerawat dulu, berharap jerawat bisa reda baru kemudian merawat kulit agar lebih sehat. Ya, cita-cita glowing memang sudah tergeser setelah merasakan jadi acne fighter, masih kelas teri memang, tapi benar-benar kasih pengalaman berharga untuk saya.

Saya banyak menonton video para acne fighter untuk mencari ilmu, selain mendapatkan apa yang saya cari, saya juga lebih bersimpati pada perjuangan mereka yang berjerawat. Hal yang mungkin dirasakan simpel tapi tidak bagi yang mengalami. Wish y'all win the battle girls!

Sayangi Kulitmu

Salah satu bentuk syukur kepada pencipta adalah dengan merawat apa yang kita punya. Termasuk kulit wajah. That's why saya mengusahakan yang terbaik untuk kulit saya. Langkah paling standar dan mudah adalah kenali jenis kulit, dan langkah yang saya akui memang godaannya berat adalah dengan menggunakan produk yang sudah terdaftar dan mempunyai nomor BPOM. Kenapa berat? Duh Mak.. harganya murceeee dan hasilnya emang bikin iriiii.

But seriously gaess, kita sebagai konsumen sudah diberi perlindungan oleh pemerintah melalui pemeriksaan produk dan izinnya. Mari manfaatkan itu dengan baik.

Oh ya, jangan mengira semua produk yang saya pakai di atas itu tidak punya nomor BPOM ya. Salah.. semuanya terdaftar di BPOM, makanya saya berani coba, saya sudah cek langsung kok di webnya. Mungkin ada bahan kosmetik yang memang tidak cocok saja di kulit saya.

Kebayang gak sih? Ada BPOM nya aja breakoutnya bisa begitu, gimana kalau produk ilegal? Bisa macam-macam imbasnya, mungkin tidak dalam jangka pendek, tapi jangka panjang. Tapi kalau memang sekarang sedang mengalami jerawat atau breakout yang mengkhawatirkan, jangan tunda ke dokter.

Takut ke fasilitas kesehatan?

Konsultasi online saja dulu, setidaknya kan sudah dapat saran dari ahlinya. Kamu bisa berkonsultasi melalui Halodoc. Bisa pilih fitur Tanya Dokter pada menu dan pilih dokter spesialis kulit agar lebih tepat penanganannya. Mudah banget.

Tampilan pada menu Tanya Dokter

***

Wish me luck ya gaess, so far sudah mulai tenang sih kulit wajah saya ini. Kalau punya pengalaman yang sama, boleh banget ceritain di kolom komentar yak..

Kita ketemu lagi di tulisan yang lain, semoga sehat selalu ya.. ❤️

*Gambar jerawat menyusul kemudian ya, bingung nih ngeditnya foto pada gak pakai jilbab 😅

Read more

12 Jan 2021

Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi

Sebelum membaca Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi, ini cerita yang saya tulis sebelumnya:


"Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari 2019 jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" untuk melahirkan istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!"

Cerita lengkap sebelumnya di : Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Beberapa Drama Melahirkan Anak Pertama yang Saya Rasakan

Saya titik beratkan pada anak pertama karena walaupun sudah mencoba mencari info dan menanyakan pengalaman dari teman-teman tetap saja ini pengalaman melahirkan pertama kalinya untuk saya. Semoga kedepannya berbeda bahkan kalau bisa minim drama. Aamiin..

So, langsung aja yuk saya ceritain.

Drama Surat Pengantar

Sudah beberapa jam saya merasakan sakit, yakin ini bukan kontraksi palsu dan saya juga tidak bisa tidur karena kesakitan, kamipun segera menuju ke rumah sakit.

Surat pengantar dari BPJS sudah kami persiapkan, untuk jaga-jaga agar tidak disuruh pulang kalau sampai ke rumah sakit dan pembukaan masih dibawah pembukaan 5. Benar saja, saat dicek, baru pembukaan 1. Dengan percaya diri kami menyerahkan surat rujukan. Sayangnya perawat di ruangan bersalin bilang bahwa surat rujukan kami salah, kalau memang akan dipakai untuk bersalin, harusnya ditujukan ke ruangan bersalin, bukan ke pemeriksaan dokter praktek. What the..?*$+"/?/

Berat hati kami kembali ke dalam mobil, sesuai petunjuk, kami diarahkan ke faskes terdekat, puskesmas yg memiliki fasilitas rawat inap.

Drama Puskesmas Rawat Inap

Sesampainya di sana, kami lalu pulang kembali ke rumah, capek manggil-manggil, gak ada satupun orang di puskesmas. Another annoying moment...

Malam itu sayapun mencoba tidur dengan rasa sakit yang datang-datangan, tidak saya sangka saya bisa juga tidur walaupun sering sekali terbangun, mungkin karena kelelahan.

Drama Kontraksi Selama di Rumah

Pagi hari sakitnya masih terasa, berita saya mulai merasa kesakitan sampai juga di telinga tetangga yang kebetulan seorang tenaga kesehatan. Pada jam istirahat beliau berjanji untuk menengok di rumah, saya hanya setuju dilakukan pengukuran tekanan darah saja dan menolak dilakukan periksa dalam alias VT, SAKIT JENDRAL!! *Sorry.. emang ga bisa santuy saya kalau ingat VT itu. Wkwk

Dan sejak pagi juga kami di rumah sepakat untuk menunggu sampai besok, tapiiii... tapi suami sudah sangat tidak tenang. Pagi-pagi suami sudah pergi protes ke faskes TK I, eh, nggak ding, ke rumah dokternya, minta tolong dibenerin, istri udah teriak-teriak di rumah. *Lebay! Haha.. Nggakk.. nggak gitu.. minta tolong baik-baik dong, untung langsung oke aja, gak salah emang suami mindahin faskesku ke tempat praktek dokter itu. Da best!

Oh iya, kesepakatan awalnya menunggu perkembangan (rasa sakit) lagi, tapi suami sudah tidak tenang. Hari itu, 4 Januari setelah salat Jumat, suami yang biasanya ngikut aja saya maunya apa sudah tidak bisa ditawar lagi keinginannya. Harus ke rumah sakit sekarang juga! *Kasih backsound menegangkan.


Singkat cerita melaporlah kami dengan surat rujukan yang baru (walaupun sekarang baru merhatiin, tahunnya masih juga salah.. hihi). Alhamdulillah sudah bisa dicarikan kamar, sambil menunggu saya hanya bisa perbanyak jalan dan berdiri sambil terus melakukan gerakan duduk jongkok dan berdiri. *Tolong ini diperhatikan ya, saya gak malas-malasan! 😝

Sesampainya di kamar, saya diperiksa dalam LAGI! Hasilnya? 13 jam sejak pemeriksaan sebelumnya tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau ditambah saat pertama kali merasakan sakit, total sudah 18 jam saya kesakitan. Daebak!

Baca juga: My Pregnancy My Adventure

Drama Induksi

Induksi ini sejak awal memang saya hindari, sejak awal ingin melahirkan alami saja, tanpa ada campur tangan obat-obatan. Tapi jika sudah menyerahkan diri ke rumah sakit, maka sebisa mungkin saya mengikuti prosedur yang disarankan, apalagi disaat-saat seperti itu keselamatan Ibu dan bayilah yang diutamakan.

Induksi Pertama

Beberapa jam menunggu, keluargapun mulai berdatangan, ba'da maghrib seperti yang dijanjikan sebelumnya saya diberikan induksi melalui jalan lahir. Entah berapa lama kemudian saya sudah mulai merasakan level rasa sakit yang meningkat dan semakin sering. Malam saya lewati dengan mondar-mandir di dalam kamar.

Sekira pukul 11 malam saya diminta ke ruang bersalin untuk dilakukan VT *Sumpah nulis ini kebayang lagi sakitnya 😭* sudah 6 jam, perkiraan kalau misalnya 2 jam nambah 1 bukaan, minimal saya sudah di pembukaan 3 saat ini.

Hasilnya?

Hanya nambah 1 bukaan sodara-sodara, setelah diinduksi selama kurang lebih 8 jam, total kalau hitungan pukul 12 malam sudah kesakitan 29 jam saya masih pembukaan 2.

Saya ditanya, apakah masih mau lanjut induksi ataukah mau caesar. Saya tanya ke suami, suami bilang terserah, dia katanya gak tega lihat saya kesakitan tapi tidak memberi keputusan.

Saya memutar otak, mulai hitung-hitungan, kalau sekarang pembukaan 2 artinya dalam 8 jam saya harus maraton mengejar pembukaan lengkap. Bukankah akan sangat ngos-ngosan? *Pengalaman maraton sebelum nikah bikin kebayang ngos-ngosan lari 21 Km, ya tapi tak sesakit induksi ini emang. Ya emaaaang 🙈

Keputusan saya ambil, saya akhirnya memilih lanjut induksi kedua. Saat itu induksinya lewat botol infus. Saya mulai bisa tertidur semenit-dua menit sampai akhirnya negara api menyerang.

 

Gelang identitas pasien, penasaran deh arti 75nya itu apa yak?😁

Induksi Kedua

Induksi kedua dimasukkan melalui infus, kalau sebelumnya tindakan dilakukan di ruangan tempat rawat inap, induksi kedua dilakukan di dalam ruangan bersalin, di ruangan dingin, hanya saya dan suami. Saya tidak bisa tidur, perlahan rasa sakitnya memang mengalami eskalasi jauh diatas yang pernah saya bayangkan dan memang sulit untuk saya gambarkan dalam tulisan ini. That's why.. saya hanya bisa menceritakan drama-dramanya saja, tapi percayalah, walau suami bebas dari bekas cakaran atau biru karena lebam, tapi beneran sakit sumpah!!

Semakin sakit, saya diminta berpindah ranjang, masih di ruangan yang sama tapi sepertinya ranjangnya memang sudah persiapan lahiran, sudah tidak tersembunyi seperti tempat saya dilakukan tindakan induksi kedua.

Subuh 5 Januari, entah pukul berapa, kalau tidak salah ingat sebelum azan, kalau jam 4 subuh berarti air ketuban saya pecah setelah 33 jam kesakitan, saya yang sedang melakukan kegiatan duduk-berdiri secara berulang sambil menahan rasa sakit di samping ranjang lalu diminta berbaring saja agar tidak kehabisan stok air ketuban.

Ya sudah, setelah itu saya melalui waktu dengan kesakitan, balik badan kiri kanan, makan dan minum apapun yang disodorkan, disambi mendengarkan erangan para ibu-ibu yang silih berganti melahirkan sambil terus beristighfar, mengatur nafas menahan sakit. Subhanallah..

Piye perasaanmu Mak? Kamu dari tadi udah start tapi gak finish-finish..Sampai hafal saya kalau bidannya sudah minta diambilkan pakaian bayi, berarti dalam rentang waktu 10 - 30 menit, akan bertambah lagi angka bayi lahir hidup. Eh..Sempat aja mikirin data..wkwk..

Sampai setelah azan Dzuhur, setelah bolak balik saya dilakukan tes VT terk*t*k itu! Sudahlah sakit, diulang terus, diulang terus. Saya tahu itu prosedur, tapi izinkan saya menumpahkan sedikit perasaan saya karna bagaimanapun merasa berhasil tidak mengutuk secara live bahkan menendang bidan seperti beberapa cerita teman-teman, bagaimanapun itu sebuah pencapaian untuk saya. 🙈

Lanjut.. Wkwk.. Maap kebawa emosi. Beberapa menit setelah azan kurang lebih pukul 12, pembukaan saya sudah lengkap, seperti yang saya hafalkan, bidan juga meminta pakaian bayi. Betapa senang suara Mama terdengar saat berbicara dengan bidan. Begitupun saya, Bismillah.. garis finish sudah terlihat..

Menuju Melahirkan Alami

Sudah pukul 1 saya belum juga lahiran Mak.. Ya Allah.. bersyukur tak ada bisikan goib yang datang untuk melakukan caesar, kurang 6 jam lagi sudah 2x24 jam saya menahan sakit. Segala doa sudah saya panjatkan, keyakinan, optimisme sudah saya pertebal, saya sudah meminta maaf ke suami, orang tua terutama Mama tapi belum juga ada tanda melahirkan lebih cepat. Untuk menganalogikan perjuangan saya, sambil bercanda ke teman yang datang menjenguk bayi saya di rumah waktu itu, saya bilang, saya hanya gak pindah agama aja sumpah (yes, i need to be lebay to describe the pain 🙈).

Dan waw.. 45 menit kemudian bayi itu menangis dengan lantang mengalahkan semua suara bayi yang saya dengarkan kelahirannya!!

Tapi mundur dulu yuuuk.. selama 45 menit itu saya berjuang melahirkan normal diumur kepala 3, anak pertama, dan bayi yang sudah terlampau besar, sudah saya kerahkan segala kekuatan yang saya bisa untuk mendorong bayi 3,7 Kg itu, Mama sampai meminta kakaknya untuk menemani saya karena tidak tega. Dan (mungkin karena sudah terlihat lemas) saya diberikan oksigen, dan setelah selang oksigen terpasang naiklah seorang perawat keatas perut saya untuk membantu proses melahirkan. Dan bretttt (sorry i can't find another sound effect to describe it 😝), lahirlah bayi hulk bersuara lantang itu.

Bukan tanpa alasan ibu dokter Indra menyebutnya begitu, soalnya ketuban saya sudah hijau dan he's big and strong indeed. 😂

Bentuk kepala khas bayi yang lama di tertahan di jalan lahir, kek ada lekukannya gitu pas sejajar alis. Beruntung masih bisa berubah ya, Alhamdulillah sekarang anaknya sudah 2 tahun, kepalanya sudah bulat.🙈

Rombongan pengantar haji (seriusan banyak banget orang, entah karena mereka yang niat datang rame atau karena lama jadinya penjenguk pada numpuk. Masyaallah.. semoga sehat semua walaupun saya tidak melihat langsung ya 🥰) di luar ruangan persalinan pun berseru mengucap Alhamdulillah. Tak lama kemudian terdengarlah suami saya mengazankan anak kami, ditengah azannya ia terisak saking harunya. Begitupun saya yang ikut menangis (masih dengan selang oksigen di hidung) dan sempat menoleh kepada dokter dan perawat yang saling bertukar pandang mendengar keharuan ayah baru di belakang mereka sambil terus menjahit jalan lahir bayi hulk tadi.

Drama Jahitan Pasca Melahirkan

Berbicara tentang jahitan, saat diminta memulihkan kondisi, di ruangan dan ranjang yang sama, saya sempat bertanya pada perawat yang turut menyaksikan proses menjahit tadi secara live. 

🧕: "Berapa jahitan Mba?" Tanya saya

👩‍⚕️: Terlihat bingung, "banyak" jawabnya

🧕: "Oh.." Sambil merasakan wajah saya menghangat. Hancur sudah, batin saya. 🙈

Segala teori agar tidak ada jahitan, jangan angkat pantat, senam ina inu, ambyar semua gaess.. saya sih gak yakin juga digunting apa nggak (iyes, makemak taulah tindakan ini, kecuali mungkin yang masih gadis, jangan shock yess). Yang saya rasakan pasti itu adalah dijahit langsung setelah melahirkan, maksudnya ga ada anastesi, bisa terasa dengan jelas tu jarum yang kek kail pancing wara-wiri di organ kewanitaanmu. Betapa semua pengalaman pertama kali yang ngumpul jadi satu itu begitu amazing terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Masyaallah..

Sakit gak?

Gak, gak ada perih atau apapun, mungkin jatah rasa sakit saya sudah saya pakai habis dalam 42 jam itu. Sayangnya ga habis-habis amat, masih ada derita lain menanti pasca melahirkan... Saya tersiksa.. 😭

Oh ya, yang bikin pengen misuh-misuh adalah, setelah dijahit, barulah dilakukan pemeriksaan dalam lagi, buat ngecek plasentanya sudah dibersihkan dengan baik atau belum. Sebelum lahiran dengar teman cerita gini, dan saya akhirnya mengalami. Komentar saya masih sama, kenapa periksanya setelah dijahittt Markonaaah? 😭 Psstt..Momen ini malah lebih ada rasa sakitnya. 🙈

***

Segitu dulu deh cerita dramanya, dibalik terasa "sulitnya" saya melahirkan alami, saya bersyukur masih diberikan dukungan oleh suami, orang tua dan keluarga lain. Dan saya yakin masih banyak orang yang mengalami hal lebih berat dari saya termasuk yang melahirkan caesar.

Hmm.. cerita ini bikin nostalgia pengalaman lahiran pertama kali gak sih?

Sharing di kolom komentar yuk.. apalagi kalau punya tips agar lahiran lebih mudah atau melahirkan tanpa rasa sakit? Kemarin sih sempat ngintip akunnya bidan Novel, itu loh bidan yang lagi viral, lahiran yang tiup-tiup "aja". Saya bahagia sekaligus iriiiii. Wkwk

Note: Saya gak nakut-nakutin yang baru mau lahiran yes, cuma berbagi pengalaman. Saya berdoa dan percaya proses melahirkan kalian para ibu yang sedang menanti proses itu akan jauh lebih mudah daripada saya. Tetap positif thinking para ibu hebat! ❤️

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...