Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

23 Feb 2021

Gak Nyangka! Tahun Ini Ternyata Harus Ekstra Berjuang Menghilangkan Jerawat

Haii..

Bagaimana kabarnya semua?

Duh, pertanyaan kayak gini kayak basa-basi ya? Tapi zaman sekarang, bertanya kabar itu penting sekali, karna keadaan -terutama kesehatan- memang sedang tidak pasti.

Persis seperti keadaan kulit wajah saya sekarang nih, dari yang sebelumnya jenis kulit saya kombinasi sekarang malah mengarah ke jenis kulit acne prone. Jadi sensitif banget dah, jerawat muncul tanpa jeda, bahkan sampai ke tempat yang sebelumnya tidak pernah berjerawat. Kok bisa gitu sih?


Walaupun nanti ga banyak foto tapi sini deh saya ceritain pelan-pelan..

Mengganti skin care

Seperti halnya kaum perempuan yang menjadikan glowing  sebagai cita-cita hidupnya, saya pun begitu.Wkwk.. lebay emang, tapi memang selebay itulah resolusi glowing di tahun 2021. Kami akan selalu merasa kurang dengan pencapaian yang sudah diraih kulit wajah. Hiks...

Seperti tahun 2019, saya menggunakan sebuah produk berinisial M, saat itu kulit saya masih berjenis kulit kombinasi. Tapi diarahkan muntuk menggunakan produk dengan series acne. Duh, seperti terluka hati ini mengetahui kulit saya dikategorikan berjerawat. Tapi saya tetap pakai acne series sih. Wkwk.. Saya anaknya denial tapi tetap nurut kok. Haha

Hasilnya? Ya, kulit agak lebih cerah dan jerawat memang munculnya hanya saat akan haid, tidak ada komedo. Intinya kulit saya dalam keadaan cukup tenang. Dan saya tetap pengen glowing! LOL

Apa yang saya lakukan? 

Betul! tentu saja saya ganti skincare, setelah kesana kemari membaca review, akhirnya saya beralih pada produk berinisial G. Kulit saya jelas menjadi lebih cerah dari sebelumnya, mungkin karena kandungan niacinamidenya lebih banyak atau apa, kulit saya menjadi jauh lebih cerah dong! Ga ada bruntusan apalagi komedo. Hmm.. ga salah memang bahan aktif dengan nama lain vitamin B3 itu hype banget dikalangan pengguna skincare.

Etapiii.. sedih dong, jerawat saya malah eksis mulu, saya jelas saja bertanya-tanya, ini kenapa siiih? Dan beralih ke produk B setelah menggunakan produk G selama kurang lebih 8 bulan. Alasannya? Melupakan kebaikan si G dan hanya fokus pada kekurangannya! Bhahaha.. kek hubungan asmara aja deehh.. Intinya gitulah, saya ga betah jerawatan mulu. Kan tau sendiri, jerawat sih sembuhnya cepat ya, tapi bekasnya itu yang nauzubillah entah kapan hilangnya! Hufthh..

Alasan lain mengganti ke produk B adalah sepupu saya yang juga reseller produk tersebut juga sudah memakai produk B kurang lebih 8 bulan dan cocok!.

Bagaimana hasilnya pemakaian produk B?

Ehm, saya parno dong sama hasilnya, kulit saya bruntusan, tone kulit turun, jerawatan dan mubazir melanda! Kenapa? Karena saya beli 3 paket, tapi karena jerawatan terus, saya hanya dianjurkan pakai krim siangnya saja. Kucoba bertahan. Tapi..

Jerawat Bernanah

Iyes, anda tidak salah baca! Saya yang jaaarang banget mengalami jerawat bernanah malah mengalami jerawat bernanah tak berkesudahan! Belum sembuh jerawat nanah yang ukurannya gede-gede, muncul lagi jerawat bernanah lainnya. Aduh, sumpah takut banget, takut bopeng dan menyesal seumur-umur!

Tidak Memakai Make Up 

Untuk mengatasi jerawat bernanah dan menghindari ketidak cocokan antara skincare dan bedak yang sudah berabad-abad saya pakai itu, saya lalu dianjurkan untuk tidak menggunakan bedak sama sekali. 

Huhu.. bisa bayangin gak wajah sudah kucel, berminyak, berjerawat (lengkap dengan bruntusan dan banyak bekas jerawat) ditambah gak bedakan? Ke kantor, ke pestapun saya tertib menjalankan anjuran itu, karena emang serius sama produk itu, pengen banget membuktikan cocok tidaknya saya dengan produk itu. Tapi apa daya, tetap saja saya jerawatan. Sad.

Maskne?

Maskne yang disingkat dari kata mask acne ini timbul karena pemakaian masker yang terlalu lama. Dengan durasi yang lama, kemungkinan kelembaban di sekitar masker juga akan meningkat, sayangnya kelembabannya muncul karena keringat, gak jauh-jauh dari bakteri. Selain itu, bisa terjadi gesekan berkali-kali antara kulit dengan masker, sehingga menimbulkan luka kecil pada kulit.

Nah, saya sempat berpikir, mungkin jerawat tak berkesudahan yang saya alami akibat maskne. tapi ternyata tidak. Kenapa begitu? Lemme tell you later. Hehe

Oh ya, kalau ada yang benar-benar mengalami jerawat karena terlalu lama menggunakan masker, maka salah satu cara mengatasinya adalah dengan memilih bahan masker yang lembut untuk kulit, jaga kebersihan masker, jaga kebersihan wajah setelah menggunakan masker dan jangan lupa menggunakan masker dengan ukuran yang pas.

Purging atau Breakout

Setelah menggunakan produk B sesuai anjuran seller-nya sejak awal Desember sampai awal Februari, saya akhirnya seperti mendedikasikan banyak waktu dan tenaga untuk mencari tahu tentang jerawat. Termasuk cara menghilangkan jerawat tentunya. Karena memang mengganggu sekali, bisa bayangkan gak sih? Wajah yang tadinya asyik-asyik saja dielus suami, tiba-tiba tangannya canggung mau ngelus di mana, ada banyak jerawat sih!! Hiks..

Salah satu hasil yang saya dapatkan dari banyak membaca itu adalah perbedaan purging dan breakout. Entah kemana saja saya selama ini. sudah banyak artikel tentang ini, tapi saya baru baca dari komentar di YouTube dong! Wkwkw.

Simpel tapi mengena banget sih komentar yang saya baca itu. Jadi untuk membedakan jerawat karena purging dan breakout adalah jika jerawatan di tempat yang sudah biasa berjerawat, maka itu adalah purging (di artikel disarankan lanjut menggunakan skincare), sedangkan jika muncul jerawat di tempat yang baru, maka itu adalah breakout (di artikel disarankan berhenti menggunakan skincare). Deg! Saya langsung feel related dong. Fix ini jerawat breakout!

Good bye Produk B

Setelah konsultasi secara mendalam dengan reseller produk B, saya akhirnya diberitahu untuk berhenti menggunakan, karena kemungkinan tidak cocok dengan produk tersebut. Padahal berharap banget B itu skincare terakhirku, yang cocok kek orang-orang, berhasil mulus binti glowing kek orang-orang. Hiks..

Untuk beralih produk saya akhirnya memutuskan untuk fokus pada penanganan jerawat dulu, berharap jerawat bisa reda baru kemudian merawat kulit agar lebih sehat. Ya, cita-cita glowing memang sudah tergeser setelah merasakan jadi acne fighter, masih kelas teri memang, tapi benar-benar kasih pengalaman berharga untuk saya.

Saya banyak menonton video para acne fighter untuk mencari ilmu, selain mendapatkan apa yang saya cari, saya juga lebih bersimpati pada perjuangan mereka yang berjerawat. Hal yang mungkin dirasakan simpel tapi tidak bagi yang mengalami. Wish y'all win the battle girls!

Sayangi Kulitmu

Salah satu bentuk syukur kepada pencipta adalah dengan merawat apa yang kita punya. Termasuk kulit wajah. That's why saya mengusahakan yang terbaik untuk kulit saya. Langkah paling standar dan mudah adalah kenali jenis kulit, dan langkah yang saya akui memang godaannya berat adalah dengan menggunakan produk yang sudah terdaftar dan mempunyai nomor BPOM. Kenapa berat? Duh Mak.. harganya murceeee dan hasilnya emang bikin iriiii.

But seriously gaess, kita sebagai konsumen sudah diberi perlindungan oleh pemerintah melalui pemeriksaan produk dan izinnya. Mari manfaatkan itu dengan baik.

Oh ya, jangan mengira semua produk yang saya pakai di atas itu tidak punya nomor BPOM ya. Salah.. semuanya terdaftar di BPOM, makanya saya berani coba, saya sudah cek langsung kok di webnya. Mungkin ada bahan kosmetik yang memang tidak cocok saja di kulit saya.

Kebayang gak sih? Ada BPOM nya aja breakoutnya bisa begitu, gimana kalau produk ilegal? Bisa macam-macam imbasnya, mungkin tidak dalam jangka pendek, tapi jangka panjang. Tapi kalau memang sekarang sedang mengalami jerawat atau breakout yang mengkhawatirkan, jangan tunda ke dokter.

Takut ke fasilitas kesehatan?

Konsultasi online saja dulu, setidaknya kan sudah dapat saran dari ahlinya. Kamu bisa berkonsultasi melalui Halodoc. Bisa pilih fitur Tanya Dokter pada menu dan pilih dokter spesialis kulit agar lebih tepat penanganannya. Mudah banget.

Tampilan pada menu Tanya Dokter

***

Wish me luck ya gaess, so far sudah mulai tenang sih kulit wajah saya ini. Kalau punya pengalaman yang sama, boleh banget ceritain di kolom komentar yak..

Kita ketemu lagi di tulisan yang lain, semoga sehat selalu ya.. ❤️

*Gambar jerawat menyusul kemudian ya, bingung nih ngeditnya foto pada gak pakai jilbab 😅

Read more

30 Jun 2020

Jangan Takut Ikut Rapid Test

Seperti biasa, pemberitaan di televisi didominasi oleh berita mengenai covid-19. Berita yang sudah beberapa bulan ini menjadi trending topic di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Ini bulan ke empat sejak pengumuman pasien pertama di Indonesia, awal bulan Maret yang lalu.

Saya ingat betul, bagaimana berita mengenai covid ini membuat saya terkejut saat sedang berada di luar negeri, saya hanya bisa memohon perlindungan pada Allah, karena pada waktu itu kami baru saja akan memulai inti kegiatan.

Covid Saat Ini

Secara kumulatif, jumlah pasien covid sampai 29 Juni kemarin sudah mencapai 55.092 pasien positif, 41.605 Orang Dalam Pengawasan (ODP), 13.335 Pasien Dalam Pengawasan, 23.800 dinyatakan sembuh dan 2.805 meninggal yang seluruhnya tersebar di 34 provinsi dan 448 Kabupaten/Kota.

Berapapun nominal yang disebutkan saat saya kebetulan mendengar pengumuman dari Gugus Tugas Penanganan Covid, saya selalu merinding, ada ngilu yang masuk dan membuat perasaan merinding itu menguasai seluruh tubuh. Tidak satupun pasien yang saya kenal, tapi benar-benar terbayang bagaimana mengerikan dan menyakitkannya Covid ini. Mengerikan.

Pada nominal yang disebutkan setiap hari tersebut bagaimanapun terjadi proses panjang dan saya yakini melelahkan. Ada pemeriksaan massal dengan rapid test, ada aktivitas laboratorium yang tidak berhenti mengeluarkan hasil positif dan negatif, ada tenaga kesehatan yang makin berpeluh terbungkus Alat pelindung Diri (APD), ada orang-orang yang tidak mati semangat juangnya hanya karena hasil positif. Pemerintah yang terus berusaha melindungi rakyatnya dari covid. Ya, semua harus bersinergi untuk itu.

Dibalik mengerikan dan cepatnya penyebaran Covid ini, saya masih bersyukur bahwa "hanya" dengan menjaga dan menjalankan protokol kesehatan, kita bisa mencegah penularannya. Iya, sengaja saya berikan tanda petik, karena masih bersyukur virus ini masih bisa mati dengan mencuci tangan. Tapi tetap berdoa sekuat mungkin agar virus ini segera pergi, menjauh dan hilang, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh belahan dunia. Aamiin.!!

Ditengah perjuangan melawan covid, tidak sedikit juga hoax atau salah kaprah kaprah covid yang harus kita lawan. Beberapa yang saya ketahui adalah mengenai rapid test.

Salah Kaprah Tentang Rapid Test

Belakangan, berita yang saya tonton menyajikan banyak berita mengenai pedagang yang menolak bahkan memilih tidak hadir saat akan dilakukan rapid test. Sebuah berita yang membuat saya heran dan terus bertanya, kenapa? Ini gratis lho!

Tapi kemudian saya lebih banyak mencari dan melihat dari sisi orang yang akan dilakukan rapid test, beberapa hal yang saya ketahui mengapa beberapa orang takut untuk dilakukan rapid test antara lain:

1. Takut terkena covid dari APD nakes
Dari yang saya ketahui, beredar kabar bahwa covid bisa saja menyebar dari sarung tangan yang digunakan oleh tenaga kesehatan saat melakukan test massal. Padahal, setahu saya, setiap kali mengganti pasien, tenaga kesehatan akan mengganti peralatannya termasuk sarung tangan yang digunakan. Sesuai dengan standar operasional.

2. Takut dikarantina
Hal ini, terbagi dua, benar-benar takut dikarantina setelah hasil rapid testnya reaktif dan salah kaprah sejak awal.

Apa itu?

Ada yang mengira, menjalani rapid test sama dengan menjalani karantina. Maka tidak heran jika pedagang akan berpikir keras bagaimana perekonomian keluarga mereka harus berjalan jika harus menjalani rapid test (di dalam pikiran mereka dikarantina selama 14 hari).

Padahal, rapid test berbeda dengan karantina. Rapid test hanyalah skrining awal untuk mencegah penularan covid. Jikapun hasilnya reaktif, masih ada swab test yang harus dijalani untuk benar-benar memastikan seseorang positif covid atau tidak.

Dua hal tadi menjadi salah kaprah di masyarakat dan menjadi momok menakutkan sehingga orang-orang takut melakukan rapid test.

Jangan Takut Ikut Rapid Test

Rapid test memang banyak dilakukan di tempat keramaian atau kerumunan, alasannya tentu saja tempat-tempat tersebut berpotensi untuk menjadi tempat penularan. Maka skrining awal perlu dilakukan, untuk meminimalisir jika saja ada orang yang sebenarnya membawa virus, tapi tidak merasakan gejala sakit apapun, biasanya disebut sebagai OTG atau Orang Tanpa Gejala. CMIIW

Seperti yang dikatakan Dokter Reisa saat pengumuman di televisi bahwa " Rapid test membantu kita menemukan orang yang harus dirawat, agar segera sembuh, tidak menimbulkan komplikasi dan mengetahui jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG)." Kurang lebih seperti ini yang saya dengar.

Jadi, jangan takut lagi untuk menjalani rapid test, rapid test yang diselenggarakan pemerintah itu untuk membantu anda, keluarga anda, tetangga anda, para tenaga kesehatan bahkan seluruh manusia, membantu kita semua dalam memerangi covid.

Rapid Test Mandiri

Berbeda dengan rapid test massal yang banyak dilakukan, rapid test mandiri umumnya dilakukan oleh orang yang hendak melakukan perjalanan, berhubung kita sedang asyik membahas rapid test, sekalian saja saya berikan info untuk yang ingin melakukan rapid test mandiri.

Untuk kalian yang ingin melakukan tes mandiri, ada cara mudah untuk mengetahui lokasi yang bisa dikunjungi, cukup dari HP saja dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Bukan hanya itu, kita juga bisa membuat janji dengan dokter dan tidak perlu lama-lama antri.



Semoga dengan tulisan ini saya bisa sedikit membantu mengedukasi pembaca untuk tidak lagi takut menjalani rapid test. Bersama-sama kita perangi covid!!

Read more

4 May 2020

5 Tip Berbelanja Agar Terhindar Dari Paparan Virus Corona

Hai teman-teman gimana kabarnya saat ini? Lama nggak nulis lagi, lama nggak BW lagi. Nggak tahu mau kasih alasan apa selain sok sibuk memantau berita mengenai virus Corona. 🙈

Padahal kalau dipikir-pikir, lagi Work From Home (WFH) lho, jadi bisa lebih santai. Ya pikirannya gitu, kenyataannya? 😁

Jadi pengen sharing tentang tip belanja di masa pandemi seperti saat ini, mungkin temen-temen juga punya pengalaman dan tip sendiri, bisa dong dibagi, kita saling berbagi yes..


Beberapa hal yang sering saya lakukan saat harus keluar berbelanja adalah:
1. Minimalisir Bawaan
Biasanya saat berbelanja Saya pasti membawa gawai karena sudah membuat daftar belanja sebelumnya di catatan. Tapi semenjak ada Corona Saya menulis daftar belanjaan di kertas. Bahkan dompet dan tas cantik pun udah nggak ada semua, WFH juga mereka. Digantiin kantong plastik bekas dari rumah atau goodie bag. Hehehe

2.  Minimalisir Sentuhan
Sentuhan yang saya maksud ini apa saja ya, mau pegang barang biasanya kan kita kalau belanja tuh suka iseng tangannya pegang ini itu (pliiss, jangan bilang cuma tangan saya aja yang iseng. Wkwk 😂), sekarang tuh benar-benar seperlunya saja. Nggak cuma tangan, badan jangan sampai nyender ke sana ke mari diusahakan sekali nggak menyentuh apa-apa.😊

Menurut saya cara ini cukup efektif menjaga kebersihan tangan, nggak kalah lah dari opsi pakai sarung tangan plastik, tangan yang dibungkus plastik, bahan pakai handskun. Tapi nggak menyalahkan yang mau pakai pelindung tangan yang lain ya, nggak apa-apa silakan, namanya juga usaha.

Oh iya ini termasuk dalam upaya perlindungan diri ya, jadi menjaga jarak, pakai masker dan tidak menyentuh bagian mata, mulut dan hidung. Semuanya termasuk dalam poin ini.

3. Sebelum Masuk Kendaraan Bersihkan Tangan
Nah ini nih yang suka bikin tangan kering. Sebelum pegang gagang pintu mobil dikasih hand sanitizer dulu lewat jendela mobil baru buka pintu (bahkan seringnya dibukain pintu dari dalam). Dan biasanya biar sekalian jalan gitu, jadinya kan banyak singgah tuh, ya otomatis banyak pakai hand sanitizer juga, syukur-syukur kalau ada tempat cuci tangan, biasanya ada kok di depan tempat belanja.

Dan, jangan lupa kalau mau cuci tangan di tempat umum, itu keran airnya dikasih sabun juga, begitupun dengan hand sanitizer, tempat pencet nya tuh dikasih hand sanitizer juga biar steril semua. Insya Allah.

4. Cuci barang belanjaan
Kalau barangnya nggak buru-buru untuk dipakai biasanya saya diamkan dulu di mana gitu, atau biar di mobil aja dulu, nanti setelah beberapa hari dan udah agak santai baru deh dicuci.

Tapi, kalau memang buru-buru biasanya barang belanjaan akan langsung dicuci dulu, di-treatment sebaik mungkin lah sebelum digunakan, termasuk makanan.

5. Langsung Membersihkan Diri
Nah, ini yang jadi kebalik dilakukan sekarang. Biasanya sebelum keluar rumah kita mandi dulu biar wangi gitu ketemu orang-orang ye kaaan. Sekarang, ya udahlah nanti pulang aja sekalian mandinya. Iya nggak sih? 😁

Apalagi kalau ada anak kecil kan. Harus serba hati-hati banget. Gak mau nyentuh apa-apa dulu gitu termasuk anak. Pokoknya sudah bersih semua, sudah ganti baju, baru deh boleh gendong anak yang udah dari tadi merengek-rengek minta digendong. 😁

Kasihan, tapi kan demi anak juga. Iya nggak?

***

Nah, itu tadi beberapa tip dari saya saat harus keluar untuk berbelanja agar tetap terhindar dari paparan virus Corona. Beberapa cara kita mungkin sama tapi bisa jadi teman-teman punya tambahan. Sharing aja di kolom komentar.

Tidak lupa Saya doakan kita semua selalu sehat dan semoga pageblug ini segera selesai. Aamiin.
Read more

4 Nov 2019

Wahai Para Suami, Dukung Istrimu Memberikan ASI Eksklusif

Pagi itu di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesi (AIMI) saya baca tentang curhatan seorang ibu menyusui. Ibu hebat itu produksi ASInya wow menurutku, gak bisa dibandingkan dengan pencapaian memerah ASI saya selama ini.

Tapi sekarang produksi ASInya menurun (yeah.. Just like me now), bagusnya dia tahu penyebabnya, dan sayangnya penyebabnya sedih, dia teringat anaknya yang meninggal karena saat itu dia gagal ASIP (don't really know the detail).

Saya yang gak pernah komentar akhirnya buru-buru mengetikkan isi hati. Mostly pujian untuk ibu itu. Kenapa? Karena memang dia ibu yang hebat! Dalam kondisi apapun ibu selalu hebat. Agree?

Baca juga: Stop Mom War, Semua Ibu adalah Pejuang

Tapi sayangnya, banyak yang abai dengan kehebatan dan gejolak -mulai dari hormon hingga berujung pikiran- yang dialami seorang ibu. Kita bicara kondisi sekarang, Ibu menyusui.


Apa sih Istimewanya Menjadi Ibu Menyusui?

Mungkin banyak yang berpikir apa sih istimewanya jadi ibu menyusui? Semua ibu melakukannya, itu kan hak anak, nothing special.

Berkomitmen untuk memberikan ASI pada anak tidak semudah itu Ferguso. Saya gak bicara sebagai keluhan, bukan.. Tapi ingin lebih mengingatkan lagi.. Terutama untuk Suami dan keluarga terdekat, jadilah pemberi dukungan terbaik untuk para ibu menyusui. Mereka lelah, tapi tak mengeluh.. Berikan sedikit saja pujian, it will means a lot. Beside that, they deserve it, right?!

Ibu sih gak gila pujian, tapi sungguh pujian, bantuan, bahkan hanya sekadar menawarkan bantuanpun bisa membuat ibu mewek, merasa didukung. Iya, ini pengalaman pribadi banget...

MengASIhi itu harus keras kepala. Banyak hal yang menjadi tantangan bagi ibu menyusui. Mulai dari ASI yang "dirasa" tidak cukup, puting lecet, luka.. Bener-bener luka karena digigit, mastitis, bayi menolak menyusu, bayi sudah minum banyak tapi ujung-ujungnya gumoh, bayi menyusu tapi harus nempel berjam-jam bahkan seharian, harus pompa ASI di tempat kerja, sudah pompa tapi hasilnya sedikit, pas hasil pompanya banyak malah tumpah, omongan orang dengan segala kepercayaan gak benernya, hantu sufor dan yang paling berat itu kalau ibu sudah baby blues.. huftthh.. Seriusss.. Banyak hal yang melelahkan.. Menyedihkan.. Kalau gak keras kepala, bisa bubar sebelum buka beha naik panggung. Wkwkwk..

"Bukannya kalau segala sesuatu dijalani dengan ikhlas, semuanya akan terasa ringan?" Aduuhh.. Gemes kalau ada yang menimpali seperti itu. Kami para ibu juga wanita, ingin dimengerti dengar tutur lembut dan laku agung.. Ealahh.. Malah nyanyi.. Wkwk..

Jadi gini Bambang.. Kami para ibu juga manusia, bisa lelah, butuh bantuan fisik maupun finansial, butuh dukungan walau terlihat setrong! Si baby lucu itu memang anak kami, tapi apa bukan anak sesesuami juga? Pliisss pakbapak.. Istrinya didukung, kadang cukup didengarkan saja, dikasih pukpuk saat dia menangis itu sungguh seperti air hangat yang diminum dan mampu membantu produksi ASI.

Tunjukkan kepedulianmu pakkk, jangan mentang-mentang ada ibu atau mertua yang bantuin, anak nangis kejer juga si lelaki yang katanya bapaknya itu malah tetap asyik tidur. Bangun pliiiisss, tanyain kenapa, dampingi dan pastikan kebutuhan kasih sayangnya terpenuhi. #EhGimana? 😅

Sering-sering baca artikel tentang perkembangan anak ya pak bapak, perlu banget baca ayahasi.id, kan yang wajib mengasuh anak bukan cuma ibunya saja. Bahagianya perempuan itu sebenarnya receh kok.. Perhatian adalah kuntji!

Baca juga: 5 Alasan Ibu Tidak Menitipkan Anak pada Kakek Neneknya

Repot Amat, Kasih Susu Formula aja Biar Bebas

Aduuhh.. Ada rotan yang biasa dipake buat mukul kasur yang dijemur gak seeehh.. Kupengen kasih pukpuk ke orang yang ngomong gitu.

Berbicara tentang kebebasan, memang ibunya kemungkinan besar akan bebas, bisa ganti shift dengan suami untuk kasih minum bayi apalagi saat subuh. Tapi aduhaiii.. Bisa mastitis juga kami kalau ASInya gak dikeluarin, atau dipompa? Kalau bisa Direct Breast Feeding (DBF) aka menyusui langsung kenapa harus dipompa? Apalagi dikasih sufor.. Big No!

Menyusui juga satu bentuk kesyukuran kami lho.. Ada banyak di luaran sana ibu yang mati-matian berusaha agar bisa mengASIhi anaknya, apa kabar kalau saya kemudian memilih kasih sufor saja supaya bebas, gak rempong. Sama sekali gak ada dalam pikiran saya.

"Yaaa, daripada rempong kan?"

Rempong-rempong kayaknya memang sudah bagian dari rumah tangga dehh.. Kalau ngomongin rumah tangga itu kan intinya SALING.. Saling mengerti, saling menyayangi, saling dukung.. Jangan pas leha-leha aja mau, pas urusan rempong diserahkan ke istri semua, di mana salingnya Bambaaaang?

Udah ahh.. Udah cukup panjang lebar kayaknya saya ngomong, padahal sejak awal intinya cuma dukungan, caleg aja didukung, masa istri sendiri nggak sih? 😅
Dan tolong, siapapun kalian yang membaca tulisan saya ini, tolong banget, jadilah bagian dari support system terbaik, tersweet bagi busui dalam lingkungan keluargamu, kalau belum ada, lingkungan pergaulanlah.. Ngomong yang baik-baik, tebarkan energi yang baik. Saya doakan, umur kalian berkah.. Aamiin

Ini jarang-jarang lho tulisan saya ditutup permohonan seperti ini. Gemes banget soalnya... Wkwk..

Yasudahlah.. sudah keluar juga salah satu topik yang menyita perhatian saya ini.. Buat para busui, keep strong! Kita sama-sama belajar, perbanyak baca atau tanya sana-sini, selalu percaya ASImu selalu cukup. *peluk dari jauh*

Ummu Aqif
Read more

1 Jul 2019

Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Hellooo.. Ibu baru ini kembali menyapa sambil bersih-bersih sarang laba-laba di blog. Hihi..

Harap maklum, kesempatan menulis kegencet urusan domestik dan usaha untuk menjadi wanita kuarier yang gak nyusahin teman sesama staf.. (yeah.. I think i have to tjurhat in this blog about my guilty feeling.. Soon, maybe? 😝).

Oke, kita fokus pada drama penentuan HPL dulu yess.. Seperti yang teman saya bilang di kolom komentar postingan berjudul Kehamilan Trisemester Ketiga, si bayik sudah mau MPASI dan cerita drama melahirkan yang ditunggu-tunggu itu belum juga terkuak itu belum juga saya ceritakan. I have to write it, ASAP!

Kenapa temen saya melit (kepo) banget? Entahlah, dia dan banyak orang mungkin tidak menyangka bahwa harus melalui 2 kali induksi. Jangankan mereka, saya saja terkejoet terheran-heran.. Wkwk.. Tapi apapun itu, skenario dari Allah tidak bisa diprediksi, all we have to do are.. Berdoa, berusaha dan BROJOL sesuai keyakinan masing-masing! 😅

Iya kan? Bahkan pada suatu titik yang telah kita usahakan, kalau keadaan tidak memungkinkan, mau tidak mau kita harus menyerah pada keadaan, seperti yang saya rasakan, NYARIS!!!

Yuks mulai..


Drama Penentuan HPL
Sebagai seorang bumil (pada waktu itu), saya tentu saja banyak mencari referensi melalui internet, terlebih lagi pengalaman dari teman-teman yang sudah melahirkan, baik yang berada pada satu satuan kerja dengan saya, ataupun yang berada di pulau lain. Pengalaman dari dokter ini, inu, dan itu.

-Dokter S-
Dokter S adalah dokter yang selama hamil rutin saya kunjungi, sejak usia kandungan 8 bulan, beliau memberikan tanggal 1 Januari 2019 sebagai HPL saat saya meminta surat keterangan untuk kelengkapan pengajuan cuti di kantor.

Wah.. Tanggal cantik banget, tapi juga mengkhawatirkan karena pada saat itu adalah hari libur, takut nakes dan orang-orang yang terlibat malah sedang susah dihubungi atau apalah..

-Dokter A-
Karena saya berencana melahirkan di rumah sakit lain di Kota Kendari, saya kemudian mencoba memeriksakan diri pada dokter kandungan yang diketahui bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.

Tempat prakteknya juga di RS tersebut. Pengalaman pertama di bagian registrasi sudah kurang mengenakkan, tapi namanya kita lagi butuh ye kan? Jadi disabar-sabarin.. Fiuhh..

Tiba saatnya saya diperiksa, dokter langsung menyatakan bahwa HPL saya sudah tinggal menunggu waktu, rentangnya 1 - 15 Desember 2018. Sontak saya dan suami langsung beradu pandang *yaelah, kek sinetron yak?! 😆* pikiran saya kemudian melayang memikirkan pekerjaan saya yang masih banyak di waiting list. 😅

Next.. Saya tentu saja jadi galau dan mencari third opinion..

-Dokter I-
Nah, di tengah kegalauan hati tentang second opinion yang tak beririsan bagai diagram venn itu, saya tidak sengaja dapat info bahwa dokter I juga bekerja sama dengan RS yang ingin saya gunakan untuk melahirkan.

Oke fix, dapat waktu yang cocok untuk periksa, sayapun merasa cocok dengan dokter I. HPL dari dokter I adalah tanggal 25 Desember 2018. Alamak nakk.. Kamu suka sekali hari libur yak? Hihi..

Sejak usia kandungan 9 bulan, setiap minggu saya memang memeriksakan kandungan. Mungkin kunjungan ketiga atau keempat saya mulai kabur lagi dari dokter I. Kenapa? Karena menurut hasil pemeriksaan dokter I, ketuban saya mulai keruh, paling lambat tanggal 26 Desember saya sudah harus "menyerahkan diri" dengan atau tanpa rasa sakit. Pilihannya adalah induksi.

Duhh.. Sudah sering deh dengar cerita sakitnya induksi, saya gak mau, lebih-lebih orang tua saya yang menginginkan saya melahirkan dengan cara alami, gak pake diinduksi aka dirangsang terlebih dahulu.

Maka kembalilah saya ke dokter S..

Dokter S bilang, kalau keruh sih nggak ya.. Dalam rentang waktu 1 sampai 3 hari dari waktu pemeriksaan kondisi bayi dan ketuban masih aman, saya tidak lupa untuk menanyakan kemungkinan melahirkan secara normal, dan dokter memberi sinyal operasi karena kondisi bayi yang besar. OMG!

Saya kabur lagi dong.. Induksi aja tak rela apalagi harus Sesar..Wkwk 😅

Tidak menunggu lama, keesokan harinya saya langsung ke dokter L

-Dokter L-
Sudah banyak yang bilang bahwa dokter L bagus, tapi karena rumah sakit tempat beliau kerja bukan tujuan saya, jadi tidak saya lirik sama sekali. Baru kemudian saat mencari (udah berapa nih? 😅) third opinion yak? Saya akhirnya mengantri untuk diperiksa.

Kesan pertama enak banget, dokternya lembut dan menjelaskannya sabar, gak buru-buru, dan yang paling penting, sangat menenangkan sekali.

Hasil pemeriksaan beliau bilangnya ketuban memang keruh, tapi bisa jadi karena kulit bayi atau hal lainnya. Ahayyyy... Dari sini niat untuk menunggu rasa sakit alami yang datang itu makin mantap! Kami sekeluarga lega karena dokter S bilang masih bisa menunggu sampai tanggal 10 Januari.😊

Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!

What The ...¥£€¢¤π©®!!

Bersambung

Note:
Berdasarkan pengalaman dan hasil nanya-nanya ke teman-teman, HPL (seperti juga namanya perkiraan) memang hanyalah perkiraan dari dokter saja, hanya rentang waktu, bisa jadi lahirannya lebih cepat, bisa jadi lahirannya lebih lama dari HPL, bahkan ada yang bisa tepat. Tinggal gimana tanda-tanda alam itu muncul aja sih.. Semua kembali pada ketetapan Allah, dokter hanya menganalisa melalui keilmuan yang dimiliki.

Makanya, kalau kebetulan kamu yang baca ini juga sekota dengan saya, jangan menganggap saya menjelekkan dokter ini atau itu.. Semuanya punya keunggulan masing-masing, bukankan dokter itu seperti penjahit? Cocok-cocokan seyyy.. Kamu cocok di dokter ini, belum tentu saya cocok di dokter yang sama. Begitupun sebaliknya. 😊

Daan.. Kalau kamu yang membaca juga galau seperti saya (menentukan HPL), tetap berpikir positif dan pilih deh yang mana yang kamu yakini, ini kalau mau nunggu tanda-tanda alami ya.. kalau mau sesar mah bebas, tinggal cari tanggal cantik berikut persiapan yang sudah oke juga. 😆

Kalau kamu kepo sama cerita kehamilan saya, nih saya kasih linknya :D :
Kehamilan Trisemester Pertama
Kehamilan trisemester kedua
Link semester ketiga ada di awal tulisan yess..

Buibuk ada yang punya pengalaman serupa dalam menentukan HPL? Share di kolom komentar ya..

Read more

13 May 2019

Kehamilan Trisemester Ketiga

Hellooooo...

Tulisan berseri ini sepertinya kurang afdal kalau tidak saya selesaikan, walaupun sudah banyak lupanya. Ya maklum.. Mungkin tergerus oleh galau menetukan HPL, galau mengikuti HPL yang berbeda-beda dari dokter, atau hilang semua saat menahan sakit induksi..

Aahh.. Jadi spoiler kan..huhu..

Jadi sebisa mungkin tulisan seri kehamilan ini saya lanjutkan, bukan hanya buat nambahin tulisan di blog aja, tapi juga untuk pengingat saya yang pelupanya aduhai ini..

Akhirnya tulisan tentang kehamilan trisemester pertama dan kehamilan trisemester kedua ada lanjutannya juga, terharuuu..

Let's start 😊


Bulan Ketujuh Kehamilan
Kehamilan bulan ketujuh rasanya gak banyak hal yang baru selain sudah mulai sesak tidur telentang. Memang sih, dokter menyarankan untuk tidur menyamping terutama menghadap ke sebelah kiri, kanan boleh, tapi jangan lama-lama, telentang sifatnya terlarang karena bisa menghambat supply nurisi dari ibu ke bayi.

Padahal, kalau ngikutin sebelum-sebelumnya nih, saya lebih nyaman tidur telentang. Walaupun saat mulai tidur dipaksakan untuk menghadap ke kiri dan ke kanan, ujung-ujungnya pas bangun atau terbangun, ya dalam posisi telentang juga. Hehe..

Diusia kehamilan ini saya juga masih rutin memeriksakan diri ke dokter, USG untuk memantau kondisi bayi. Saya lupa kapan tepatnya USG 3 Dimensi (3D), sepertinya dibulan ini. Katanya sih memang usia kandungan yang ideal untuk melakukan USG 3D, sebelum si bayi menyembunyikan identitasnya wajahnya alias sudah mulai ngambil posisi sujud.

Bulan Kedelapan Kehamilan
Bulan kedelapan ini sudah mulai merisaukan posisi kepala bayi yang sejak bulan ketujuh sudah ada di bawah, tapi belum juga mulai turun. Dari beberapa kali pemeriksaan ada kerisauan tentang tali pusar yang melilit juga (bulan ketujuh) tapi dari hasil USG bulan kedelapan ini, dokter bilang sudah tidak lagi ada lilitan. Pakai cara ngomong ke janin, entah emang ngaruh apa nggak. Biasa, hasil searching di internet. 😅

Bulan Kesembilan Kehamilan
Bulan puncaknya kehamilan, karena dibulan ini segala rasa was-was muncul. Harusnya begini-begitu, harusnya ini-itu, segala hal seperti sebuah target yang harus dicapai.

Dimulai dari posisi kepala janin yang Alhamdulillah sejak akhir bulan kehamilan sudah mulai berada di bawah. Kemudian dilanjutkan dengan kepala bayi yang tidak kunjung turun memasuki pinggul. Walaupun aktivitas yang disarankan seperti banyak jalan pagi dan naik turun tangga sudah saya rutinkan, kepala janin tidak juga kunjung masuk ke pinggul. Ini jadi perhatian banget karna target saya adalah melahirkan normal. Tapi kalau teman saya waktu itu bilangnya dia juga gitu sih (sudah melahirkan 3 anak secara normal), kepala janinnya turun sesaat sebelum bayi lahir. Gak perlu jadi beban pikiran, tapi ya.. Tetap sajaaaa.. Huhu..

Hal yang juga menyita banyak pikiran saya adalah Hari Perkiraan Lahir atau yang sering disingkat HPL, karena terkait erat dengan penentuan tanggal cuti. Ternyata semakin banyak mengunjungi dokter, saya semakin bingung, berharap mendapati perkiraan yang saling menguatkan, ternyata malah kebanyakan beda, bahkan ada yang melesat jauh dari HPL lain. Huahhh..

Di bulan kesembilan ini tidur malam semakin berkurang, sementara yang saya baca untuk balas dendam tidur di waktu pagi (yang mengalami pasti tau, pagi itu bakal ngantuk banget karena semalaman udah begadang) sebaiknya dihindari, karena memang ada efek buruknya secara medis. Siang juga sedikit saya kurangi dengan tetap mengikuti aktivitas luar rumah dihari libur.

Mama ingin saya melahirkan di rumah sakit yang berbeda dengan tempat saya sering kontrol, maka memasuki bulan kesembilan juga, saya mulai "kenalan" dengan dokter ahli kandungan yang baru.

Sementara itu, berat badan bayi terus bertambah secara konsisten setiap minggunya. Dokter yang saya temui setiap minggu itu sudah memberi batasan, paling lambat tanggal 26 Desember sudah harus masuk ke rumah sakit, dalam keadaan sakit (sudah ada pembukaan) ataupun tidak.

Galau..

Bersambung di tulisan berikutnya ya.. Harus banget ditulis tersendiri.. Hehe

Read more

26 Nov 2018

Pengalaman Naik Pesawat dalam Usia Kandungan 24 Minggu

Oktober, rencana perjalanan dinas yang berkali-kali tertunda akhirnya mendekati kenyataan. Saya ditawarkan daerah Kabupaten Buton sebagai sasaran, tapi karena sedang hamil, Abang tidak mengizinkan saya ke sana. Dengan berat hati saya sampaikan ke teman-teman kantor, beruntung mereka memaklumi. Bagaimana tidak? Untuk sampai ke daerah Buton, saya harus terlebih dahulu naik pesawat lalu kemudian menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 2 jam.

Akhirnya ditawarkanlah Kota Baubau untuk menjadi daerah tujuan perjalanan dinas saya. Beruntung, suami mengizinkan. Setelah bertanya ke Mama juga saya diperbolehkan. *Harap maklum, bumil izinnya banyak, takut ada pamalinya, gak mau orang tua dan suami was-was. Hehe..* Langkah selanjutnya untuk mempersiapkan penerbangan dalam keadaan hamil tentu saja memeriksakan diri ke dokter kandungan dan meminta surat rekomendasi layak terbang. Kebetulan saya sempat bolos USG selama sebulan, "Sekalian saja" pikir saya.

Setelah diperiksa, saya dan janin di dalam kandungan dinyatakan sehat. Segeralah saya minta surat rekomendasi layak terbang kepada dokter (gratis). Tanpa ragu, dokter menuliskannya untuk saya, sambil menanyakan maskapai penerbangan apa yang akan saya gunakan. Pilihannya hanya terbang dengan Garuda atau Wings Air.  Dokter bilang, untuk Garuda kemungkinan harus mengambil surat rekomendasi di kantornya. "Alamak, repot juga." pikir saya.

Karna sudah kepikiran bakal rempong, akhirnya saya memutuskan terbang dengan maskapai Wings Air, sedangkan kelima teman saya memilih terbang dengan maskapai Garuda.


Penerbangan Kendari ke Baubau
Hari keberangkatan tiba. Penerbangan saya adalah pukul 07.20 WITA dan dijadwalkan tiba di Baubau pukul 07.50 WITA. Maka sejak pukul 6 pagi saya bertolak dari rumah, terpaksa check in di bandara karna lupa check in online. Surat rekomendasi layak terbang sudah saya siapkan bersama KTP, tidak lupa maternity belt juga dipakai buat jaga-jaga.  Ini pengalaman pertama saya terbang dalam keadaan hamil,  jadi gak tahu di mana akan dimintai suratnya.

Proses check in berjalan lancar, tidak ada pemeriksaan lanjutan dari pihak maskapai ataupun bandara. Selanjutnya saya ke ruang tunggu, dengan sebuah adegan mengejutkan di eskalator.  Saya ceritakan sedikit ya, biar jadi pelajaran kalau ada bapak-bapak yang baca tulisan ini.

Jadi ada suami istri yang naik eskalator berdampingan, barang bawaannya mereka sama-sama banyak. Nah, entah karena istrinya baru pertama kali naik eskalator atau bagaimana, yang jelas si ibu nyaris salto ke belakang kalau eskalatornya gak dimatiin oleh petugas dan ada orang yang menahan si ibu dari belakang. Itu bukan hal yang memalukan banget sih.. Karena yang lebih memalukan adalah setelah mengalami kejadian itu, suaminya malah marahin istrinya di depan banyak orang. Kami (laki-laki dan perempuan) yang menyaksikan kejadian itu malah geram melihatnya. Apalagi saya yang nyaris lari ikut menolong tapi keduluan seorang laki-laki yang memang berada tidak jauh dari eskalator.

Udah deh, jadi pelajaran aja. Kalau toh mau ngomelin istri ya jaga juga perasaannya, nanti di rumah aja dinasehatin atau gimana yang bisa menjaga perasaan istri. Kasian.. udah kaget hampir jatuh, masih juga diomelin di depan umu.. Hiks..

Oke, lanjut..

Setelah sekian lama menunggu akhirnya bergema panggilan penumpang untuk segera ke pesawat, saya kembali menyiapkan boarding pass, KTP dan surat layak terbang. Tapi lagi-lagi yang diperiksa hanya boarding pass dan KTP saja. Surat layak terbangnya kembali saya masukkan ke tas selempang saya. "Mungkin karena pagi, pengecekan tidak seketat biasanya." Begitu saya membatin.

Tiba saatnya saya naik di pesawat, begitu berhadapan dengan pramugari tepat setelah lengkap menaiki tangga, barulah saya ditanya
"Ibu sedang hamil ya?"
"Iya" jawab saya.
"Oh, ada surat layak terbangnya, Bu?"
"Ada." Jawab saya sambil grasak-grusuk mencari surat tadi, gak nyangka akan dimintai di tempat itu.
Setelah suratnya saya serahkan, Mba pramugarinya bilang "Baik, ini saya simpan ya."
"Eh, itu diambil?" Tanya saya panik, memikirkan bagaimana saya pulang tanpa surat rekomendasi lagi.
"Tidak, nanti kalau turun ibu saya kasih lagi." Katanya sambil tersenyum.
"Oh, iya." Jawab saya malu-malu.

Sampai di situ cerita pemeriksaan saya, Alhamdulillah tiba dengan selamat dan seperti janji mbak pramugari, suratnya saya minta kembali. Tinggal cerita balik ke Kendarinya lagi nih, masih usaha buat naik Garuda. Entah bagaimana prosedur dari maskapainya.

Penerbangan Baubau ke Kendari
Penerbangan pulang terpaksa saya lalui dengan maskapai yang sama saat datang. Keputusan itu saya ambil setelah berupaya mencari info tentang persyaratan terbang dalam keadaan hamil melalui maskapai Garuda, tapi tidak menemukan tempat bertanya.

Artinya, penerbangan pulang kali ini saya sudah lebih siap. Iyap! Bisa dibilang begitu. Walaupun ternyata prosedur yang saya lalui berbeda dengan saat berangkat ke Baubau.

Lho, kenapa lagi nih?

Jadi, penerbangan saya ke Kendari kan siang nih ya.  Saat menyetorkan bagasi pukul 13 lewat, saya ditanyain nih
"Usia kandungannya berapa bulan bu?"
"Masuk 7 bulan" jawab saya sambil tersenyum.
"Oh, kalau begitu duduk dulu ya bu, nanti tunggu kami panggil."
"Saya ada surat rekomendasi layak terbang kok mba." Jawab saya sambil mengeluarkan surat itu dari tas saya.
"Iya, bu. Tapi tetap harus diperiksa, tanda tangan di sini dulu ya, Bu" Si Mba menyodorkan kertas sambil tersenyum.
"Oh, oke. Terima kasih, Mba" Saya menjawab santai, membubuhkan tanda tangan lalu melipir ke ruang tunggu penumpang.

Foto saat menuju tempat tugas, ketemu ibunya temen, saya ditegur karena masih bawa ransel, akhirnya saat pulang ransel saya masukin ke dus trus dibagasiin, bumil gak boleh bawa yang berat-berat katanya. Hehe

Setelah sekian lama saya menunggu, dengan bangku tunggu yang tentunya tidak nyaman bagi ibu hamil seperti saya dan terlambatnya pesawat selama satu jam lebih, saya belum juga dipanggil.

Jelang pukul 15 sore barulah saya didatangi oleh Mba yang tadi mengurusi bagasi saya. Saya sudah siap-siap berdiri tapi kemudian hanya dimintai surat layang terbang yang tadi sempat saya sodorkan.

Ngebet pingin diperiksa dan heran gak dipanggil juga saya bertanya, dong!
"Gak jadi diperiksa nih , Mba?"
"Gak mba, dokternya gak ada." Jawabnya agak malu-malu.
"Oh.." Jawab saya singkat
"Iya, ini saya fotocopy saja ya."  Katanya sambil membawa surat rekomendasi saya
"Silakan" Jawab saya

Sesaat kemudian si Mba tadi mengembalikan surat saya, akhirnya saya beranikan tanya tentang prosedur yang seharusnya. Katanya sih maskapai apapun sama saja prosedurnya, di bandara (seharusnya) akan tetap diperiksa oleh dokter, walaupun tidak dilakukan USG lagi.

Masih ada yang bikin kepo nih, nanti saat naik pesawat suratnya bakal dimintain pramugarinya lagi atau tidak, ternyata udah gak lagi. Aman.hehe..

Itu saja sharing saya tentang naik pesawat saat sedang hamil, alhamdulillah bolak balik nyaman-nyaman saja sampai saat tulisan ini terbit (usia kandungan sudah 35 minggu).

Teman-teman punya pengalaman naik pesawat dalam keadaan hamil? Share di kolom komentar ya, buat nambah pengetahuan. Atau mungkin prosedur yang dilalui berbeda walaupun naik maskapai yang sama?
Read more

9 Nov 2018

Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Urut, Coba Resep yang Terkenal di Internet, Sampai Promil ke Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini religius banget ya pembukaannya.. Hehe

Gak gitu, ini karena apa yang akan saya tuliskan semata-mata hanya ikhtiar/usaha saya saja. Allah yang menentukan hasilnya. Semoga yang saya tuliskan tidak menyesatkan, saya berlindung kepada Allah SWT dari tulisan saya ini.


Jadi, saya pengen sharing tentang hal-hal apa saja yang saya lakukan untuk hamil. Saat memulai promil, usia pernikahan saya memang masih terbilang baru, belum sampai setahun, tapi karena menikah di usia 30 tahun, saya tidak ingin terlalu santai dengan salah satu tujuan menikah, menghasilkan keturunan, anak.

Awal pernikahan, ikhtiar hamil kami lakukan dengan cara umum dan alamiah saja. Suami makan banyak tauge dan saya banyak makan semangka (termasuk daging putih yang dagingnya agak keras itu), memperhatikan masa subur, termasuk tentunya hubungan suami istri itu sendiri (itu intinya kan ya? :D)

Promil dengan Folavit dan Ever E
Beberapa bulan belum ada hasil, saya mencari info di internet. Yang sudah banyak pengalaman pastinya sudah hafal nih. Asam Folat dan Vitamin E. Dengan harga yang relatif terjangkau, saya akhirnya mencoba membeli duet maut yang sudah banyak testimoni ini.

Hasilnya?
Folavit dan Ever E yang saya beli itu belum habis 1 papan (sekitar 12 butir) Alhamdulillah saya sudah hamil. Cara konsumsinya sehari masing-masing satu kali. Kalau tidak salah, siang setelah makan saya konsumsi Folavit dan malam sebelum tidur konsumsi  Ever E.

Tapi, diusia kandungan kurang lebih 5 minggu, saya keguguran.

Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Promil Melalui Resep/Prosedur dari Dokter
Sejak keguguran itu, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan program hamil. Dokter sebenarnya bertanya, sudah berapa lama menikah. Setelah saya jawab dokter bilangnya "Ah, belum cukup setahun". "Kalau sudah Setahun dan belum juga hamil baru bisa dikatakan infertil atau tidak subur." Jelasnya. Tapi saya bilang, bahwa ini adalah bagian dari usaha saya. Dokterpun menyetujui.

Sebelum bercerita lebih jauh, mungkin teman-teman mempertanyakan tentang konsumsi Asam Folat dan Vitamin E, kenapa tidak dilanjutkan? Toh, berhasil, bisa langsung hamil.

Jadi begini, saya mencari info lebih jauh tentang mengonsumsi duet promil yang sangat tersohor di mesin pencari ini. Katanya, salah satu efek samping dari vitamin E tanpa resep dokter adalah bisa memperbesar ukuran miom. Ini yang membuat saya berhenti saat itu, sumbernya internet ya, sayangnya saat mencarinya kembali saya tidak menemukannya. Nanti kalau ketemu lagi akan saya sematkan di sini.

Lebih lanjut, saya juga menemukan postingan yang di-share oleh Dr. Yudhistira, SpOG artinya beliau sudah membaca dan setuju dengan isinya. Silakan dibaca: Promillah Dengan Benar

Oke, sudah ya, bahas promil ala duet tersohor itu. Kita beralih pada program hamil dari dokter.

Untuk tindakan awal sebuah promil yang paling penting menurut saya adalah kesediaan dan keikhlasan suami untuk turut serta dalam program hamil yang akan dijalani. Kenapa? Karena untuk hamil, menghasilkan keturunan, itu dibutuhkan 2 orang, sepasang suami istri. Maka, keduanya harus mau untuk diperiksa, bukan untuk mencari kekurangan masing-masing, tapi untuk memperbaiki, itupun jika memang terdapat sesuatu yang harus diperbaiki. Tidak jarang kan kita menemukan ada suami yang hanya mengutus istrinya untuk memeriksakan diri ke dokter?

Lanjut

Alhamdulillah suami mau untuk terlibat dalam promil yang sudah kami sepakati. Untuk tahap awal, masing-masing kami diberikan vitamin/obat-obatan dulu. Abang dan saya diberikan vitamin, Ultravita untuk Abang dan Folamil Gold untuk saya.


Selain minum vitamin, saya juga diminta datang pada hari kedua haid. Tujuannya adalah ingin melihat perkembangan sel telur dan diberikan obat pembesar sel telur jika perlu. Obatnya diberikan untuk 5 hari, diminum sehari 1 tablet. Kalau gak salah namanya Provula. Pada promil tahap ini juga kami diberikan jadwal untuk berhubungan. Agak risih juga sih pake jadwal, hihi..

Oh ya, Abang juga diberikan rujukan untuk memeriksakan sperma ke laboratorium di kota kami. Abang malah deg-dengan minta ampun. Udah dibilangin jangan, karna bisa berpengaruh pada hasil tesnya. Stress dikit hasilnya bisa gak normal lho.. Saya tentunya tetap kasih support, gimanapun laki-laki gengsinya tinggi kalau sudah urusan kejantanan (sok tahu banget saya ini ya? Hihi).

Sedikit ngomongin tentang gengsi, mungkin ini ya yang membuat sebagian laki-laki memilih mengutus istrinya saja untuk memeriksakan diri. Padahal kalau membaca lagi, 30-40 persen masalah kesuburan ada pada laki-laki, 40 persen pada perempuan dan 20-30 persen adalah kombinasi masalah dari pasangan suami istri itu sendiri. (Sumber: ttps://www.alodokter.com/mandul-atau-tidak-pastikan-dengan-tes-kesuburan)

Mirisnya lagi, kalau perempuan tidak juga kunjung hamil setelah menikah, masyarakat kita buru-buru menunjukkan tangannya pada perempuan, seolah semua masalah kesuburan ada pada perempuan, kandungan turunlah, kandungan lemahlah, inilah, itulah.. Ckckck.. Padahal mau sesubur apapun perempuan kalau pasangannya punya masalah, urusan hamil tidak semudah mengganti saluran TV sekalipun remot sudah ada di tangan.

Hmmm.. sedih.. berharap suatu saat pemahaman seperti ini segera hilang dari muka bumi. Untuk hamil, seorang wanita juga butuh ketenangan lahir batin, jangan belum apa-apa udah stress duluan karena dituduh ini-itu.

Lanjut yess.. Unek-unek hasil dengar cerita dari sesama perempuan udah lumayan keluar.. hehe..

Sambil menjalani cara yang dianjurkan oleh dokter, kami mencoba terus patuh untuk menjauhi makanan-makanan instan juga berikhtiar mengonsumsi jus 3 diva.

Promil dengan Jus 3 Diva
Jus ini juga tersohor di internet, komposisinya adalah apel, tomat dan wortel (masing-masing 1 buah). Semuanya dijus menjadi 1, lalu diminum. Saya menggunakan apel malang, tomat buah dan wortel yang dijus tanpa disaring sebelumnya. Suami termasuk yang enek sebenarnya mengonsumsi jus ini, apalagi kalau tidak disaring, seratnya makin bikin enek. Tapi Alhamdulillah Abang tipe suami yang mau berusaha bersama, tetap diminum pagi dan malam hari walaupun wajahnya pasti gak enak banget saat minum jus ini. Saya siasati dengan memberikan setengah potong apel malang untuk dikunyah saja sebagai penawar. Selain itu Abang juga saya iming-imingi betapa sehatnya serat buah itu untuk pencernaan, sayang banget kalau dibuang. :D

Oh, iya. Manfaat jus 3 diva ini adalah untuk meningkatkan kualitas sperma. Biar lebih sehat kali yaa.. Saya juga konsumsi sih di awal-awal, tapi karna harga apel malang di kota kami sungguh menguras kantong, saya lebih fokuskan ke Abang saja. Pokoknya kasih suplemen terbaik untuk Abang dan saya sendiri, tapi menstruasi juga tetap rajin datang. hehe..

Kami tetap berusaha, saya tentunya makin banyak membaca. Sampai suatu ketika, dibulan Januari saya disarankan dokter untuk menjalani Hidrotubasi. Tujuannya untuk mengecek jika ada sumbatan pada saluran rahim. Saya sempat bingung juga sih, saya kan sudah sempat hamil, gimana bisa hamil kalau memang ada sumbatan. Tapi karna sudah bertekad untuk promil, benar-benar serius berikhtiar untuk memiliki keturunan, saya jalani saja. Ini bentuk komitmen. Cerita tentang Hidrotubasi, segala proses, rasanya, dan biaya hidrotubasi sudah saya buatkan tulisan sendiri ya..

Baca juga: Promil Hidrotubasi

Promil dengan Madu Yaman
Secara tidak sengaja, seorang teman kantor saya membaca postingan jualan, saya yang sedang mencari madu untuk suami waktu itu (biasanya beli yang ada iklannya di TV) ingin mencoba Madu Yaman yang disebutkan teman tadi. Harga memang jelas lebih mahal, hanya saja tidak ada salahnya mencoba pikir saya.

Rasa madu tersebut seperti madu pada umumnya, hanya klaim khasiatnya saja yang lebih mengarah pada kesuburan. Kalau tidak salah waktu itu hanya sempat beli 2 botol saja, yang pertama seharga Rp.185.000 dan yang kedua sudah dapat diskon menjadi Rp.175.000 kalau tidak salah harga segitu untuk kemasan 200 Ml

Sudah beberapa bulan menjalani promil dari dokter, dan madunya habis, akhirnya awal bulan Maret saya putuskan membeli dan mulai mengonsumsi buah Zuriat.

Promil dengan Buah Zuriat
Langkah ini saya ambil karena membaca banyak testimoni. Wajarlah ya, segala usaha dicoba. Sempat konsumsi kurma muda dan kurma matang yang dibawain teman dari tanah suci juga sih. Tapi konsumsinya gak seberapa karena memang terbatas, namanya juga oleh-oleh.

Buah Zuriat yang sudah dikupas, seperti kelapa versi mini :D

Yang saya baca, buah Zuriat ini lebih kepada terapi hormon, duh.. kalau judulnya gitu sih agak ngeri juga sih, mainan hormon itu benar-benar bukan ranah kita. Tapi Bismillah, lagi-lagi ini bagian dari ikhtiar saya dan Abang.

Saya membeli sekaligus 1 Kg buah Zuriat seharga Rp.240.000. Cara konsumsinya adalah 1 buahnya dibelah lalu kemudian direbus dengan 5 gelas air, lalu kemudian diminum setelah airnya susut menjadi 2 gelas.  Buah Zuriatnya tetap saya gunakan untuk direbus lagi sampai kemudian warna kemerahannya mulai memudar.

Ada kendala juga dalam membelah buah Zuriat ini, karena ternyata buah ini keras sekali. Ada juga memang yang dijual berupa bubuk, tapi saya memilih buahnya utuh saja, berjaga, takutnya ada penjual yang gak jujur dan sudah mencampur bubuk Zuriat dengan hal lain yang tidak kita ketahui. Apalagi kalau sampai hal lain itu malah merupakan zat berbahaya. Pengen sehat, hamil, malah dapat yang gak sehat. Begitu pemikiran saya.

Rebusan buah Zuriat ini kami konsumsi pagi dan malam hari. Warnanya seperti teh yang tidak terlalu pekat, kalau rasanya ya.. agak tawar sih, umpamakan seperti minum teh tanpa gula sajalah. Gak menyiksa lidah kok..

Sementara itu, menstruasi terus datang..

Promil dengan Urut
Ini ikhtiar atas saran dari Mama, mungkin banyak juga yang menjalaninya. Total saya 2 kali diurut. Yang pertama sekitar akhir tahun 2017, rasanya gila banget, keringat dingin kayak pengen nangis, gimana enggak, sampai perut atas bagian ulu hati juga diurut. Saya yang punya riwayat maag dan perut bagian atasnya sudah lama agak kembung jadi kesakitan banget. Berbeda dengan kali kedua saya diurut, rasanya lumayan bersahabat, terakhir diurut itu bulan April 2018, itu lagi H2C menunggu agar menstrusi tidak datang, hal itu saya sampaikan juga sebelum diurut.

.***

31 Januari adalah kali terakhir saya ke dokter, bukan karna putus asa, tapi lebih kepada banyak kesibukan, jadwal ke dokterpun selalu bertabrakan dengan pekerjaan, begitu pekerjaan mulai longgar, dokter sedang tidak praktek.

14 Maret, saya kembali membeli Asam Folat dan vitamin E, sebutlah saya bandel, mulai berusaha dengan hal yang saya takuti dulu. Bahkan mulai meniru resep dan pola yang diberikan dokter. Saya membeli dan mengonsumsi provula tanpa resep dokter, tapi tetap memperhatikan waktu konsumsinya.

Suami juga masih mengonsumsi rebusan buah zuriat walaupun tidak seteratur sebelumnya, saya kadang kecapean, tiba di rumah pengennya sudah langsung tidur saja. Tapi Abang teratur meminum asam folat walaupun mereknya berbeda dengan saya. Yang saya baca, asam folat yang dikonsumsi laki-laki juga berfungsi untuk memperbaiki fertilitas pria. Gak heran sih, Ultravita yang diresepkan dokter juga ada kandungan Asam Folatnya.

Saya ingat saat bulan Maret meminta pertimbangan Abang, apakah akan ke dokter lain atau bagaimana, soalnya ya itu, hari Minggu dokter kandungan yang biasa kami kunjungi libur. Tapi Abang bilang, sudahlah, kita usaha sendiri dulu. Waktu Abang bilang begitu, saya yang biasanya suka kekeuh dengan keinginan saya entah kenapa manut saja. It's like a magic word, dan saya berkata dalam hati, ya sudah, bismillah percaya sama Abang...

Long Short Story, jadwal menstruasi di bulan April tidak kunjung datang. Alhamdulillah, saya positif hamil sampai saat menulis ini usia kandungan sudah 32 minggu.

Baca juga: Cerita Kehamilan Trisemester Pertama

Tapi cerita ini belum berakhir, saya memang berniat menuliskan pogram hamil apa saja yang saya jalani, bisa jadi membantu orang lain yang juga sedang mencari informasi, entah dengan berusaha sendiri atau ingin memulai promil melalui dokter.

Tidak jarang orang bertanya pada saya promil apa yang saya lakukan? Tulisan ini juga saya harapkan bisa menjawab, saya menuliskan semuanya karena saya meyakini semua yang saya konsumsi memiliki peran dalam promil saya sampai kemudian berhasil, jadi saya tidak bisa bilang karena ini dan itu. Yang saya yakini dan kemudian makin mendorong saya menuliskan ini adalah pembicaraan dan testimoni bersama teman-teman di grup 1M1C

Beberapa percakapan diantaranya:

"Rata2 pada gitu yaa. Temen ada yang mau insem/bayi tabung, pas konsultasi malah udh positif dulu. Ada juga yg lagi terapi imun, baru mau mulai eh malah positif duluan. Misteri Allah emang ajaib yaa." (Zeneth Thobarony)

"Iya Kak, wallahua’lam,, cuman herannya mostly pasca HSG hampir semua yg saya dengar, pasti hamil,, subhanallah pisan,, even sodara yg dokter pun gt, 3 tahun kosong, trus HSG trus jadi.." (Renjana Ratih Inaganis)

"Saya pun" (Nurindah Fitria membenarkan kalimat Renjana Ratih).

"Saya promil di dokter berbulan-bulan, setiap bulan rajin datang, 2 bulan ndak ke dokter karna sok sibuk, Alhamdulillah malah jadi" (Irly)

"Saya sukses setelah pasrah. Udah lelah promil ini itu. Udah operasi angkat endometriosis pula. Giliran pasrah malah jadi." (Arni Emaknya Prema)

""Betul yah Teh, kadang momen2 “semakin tidak peduli”, malah kejadian,, 😅
Wallahua’lam.." (Renjana Ratih membenarkan kalimat Emaknya Prema)

"Iya, tampaknya "pasrah/lebih legowo" salah satu pendukung promil yang paling baik 😁" (Irly membenarkan kalimat Ranjana Ratih)

Sampai akhirnya percakapan mulai diberikan peringatan karena isi grup dari berbagai kalangan umur. Hehe..

Jadi ada beberapa poin yang ingin saya tekankan:
- Berusahalah untuk promil, jangan hanya sendiri saja, tapi berdua.
- Waktu tetap menjadi hak prerogatif Allah, bahkan dokter sekalipun hanya membantu kita berikhtiar.
- Berdasarkan cerita dan pengalamaan saya sendiri, disaat kita sudah ikhlas/pasrah kadang disaat itulah Allah memberikan jawaban dari setiap doa dan usaha kita (termasuk hamil).
- Perbanyak doa dan minta doa dari orang tua, saya sendiri sampai mengeluarkan nazar dan memperbanyak ibadah sunnah, saya yakin, usaha selain harus diukir di atas bumi, juga tetap harus dipanjatkan ke langit-Nya.

"Tetaplah berusaha, Allah melihat setiap usahamu. Tetaplah berusaha, jangan hiraukan perkataan yang menyakitkan."

Semangat promil teman-teman, semoga Allah segerakan, kalian tidak sendiri.

NB: Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan teman-teman yang sudah banyak menjalani promil mempunyai kekurangan ini dan itu, tujuan saya semata memberi informasi dan motivasi. Saya ikut mendoakan, semoga teman-teman yang sedang promil dan membaca tulisan ini segera terjawab doa dan usahanya.
Read more

29 Oct 2018

Kehamilan Trisemester Kedua

Haiii.. such a long time nunggu mood menulis muncul lagi. Biasalah, kalah sama banyak hal. Ibu hamil ini sudah merasakan gampang lelah. Jadi sekalipun niat banget berbagi cerita tentang kehamilan, lanjutan tulisan tentang kehamilan ini jadi cukup lama mandek.


So, sembari coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman kehamilan trisemester kedua ini, saya coba lengkapi drafnya, yess..


Bulan Keempat
Lepas dari bulan ketiga kehamilan, obat-obatan sebisa mungkin saya hentikan. Sedikit termotivasi dari teman yang bercerita tentang betapa mabuknya dia saat hamil, tapi memilih untuk tidak mengonsumsi obatnya dengan cara lebih fokus kepada pekerjaan. Maka sedikit demi sedikit saya coba kurangi obat dari resep dokter itu. Alhamdulillah lama-lama bisa lepas sekalipun hormon rasanya masih memegang kendali. Hehe..

Perjuangan menunggu hormon stabil kalau tidak salah ingat berakhir di minggu ke lima belas, sekitar seminggu memasuki bulan kelima kehamilan. 

Bulan Kelima Kehamilan
Bulan kelima kehamilan sekitar 17 minggu, kami memeriksakan kandungan lagi ke dokter, dokter bilang janinnya sehat-sehat saja, pulang saya diberi resep berupa Aspilet dan Calgae.

Karena kepo, saya googling dong, yang saya dapatkan Aspilets adalah obat untuk pengencer darah dan Calgae adalah suplemen kalsium. Kalau Calgae saya bisa pahami sih, soalnya waktu ditanya keluhan juga saya sebutkan mengenai sakit pinggang yang sering sekali terasa, apalagi setelah berkantor seharian. Umum sih, tapi karena ditanya ya saya sebutin. :p

Oh ya, Calgaenya cukup ampuh mengurangi sakit pinggang saya, sayangnya ada efek mualnya dan direspkan untuk dikonsumsi siang setelah makan. Jadi, agak berasa sedikit kembali ke trisemester pertama. Tapi lama-lama mulai terbiasa juga.

Nah, yang jadi fokus saya karena lumayan bikin kaget adalah obat pengencer darah, yang diresepkan untuk dikonsumsi malam hari setelah makan. Kepa saya direspin obat itu? Obatnya serius kalau menurut saya. Tapi karena males balik ngatri lagi ke dokter, saya coba lihat di video yang saya rekam saat USG, Bedanya apa sama video USG bulan lalu. Dari hasil analisis saya memang pemeriksaan bulan kelima ini detak jantungnya tidak selancar biasanya. Entah memang ada hubungannya atau tidak. Mungkin sayanya saja yang sotoy. :D

19 minggu kehamilan saya mulai merasakan kedutan di perut untuk bertama kali, saya catat momen penting itu, 4 Agustus, dini hari. Dari hasil membaca dan bertanya kepada dokter, memang gerakan bayi yang umumnya disinyalir sebagai tendangan akan terasa pada usia kehamilan 20 minggu. Terlebih jika janin yang ada di dalam kandungan adalah anak pertama, ibunya belum terlalu sensitif dengan gerakan janin. Benar saja, di usia kehamilan 20 minggu saya sudah bisa merasakan gerakan dengan lebih jelas. Semakin hari, semakin aktif, alhamdulillah.


Pada bulan kelima ini juga ide untuk baby moon bersama Abang saya utarakan. Saya meyakinkan bahwa saat hamil seorang ibu juga bisa liburan. Tentunya dengan menyodorkan artikel agar Abang lebih percaya. Hasilnya Abang memang jadi semangat, soalnya memang sejak awal tahun Abang sudah gelisah pengen liburan.

Bulan Keenam Kehamilan
Bulan keenam kehamilan, fix sudah baby moonnya batal. Abang yang berangkat ke Jakarta untuk dinas dan langsung  mengambil cuti tidak bisa saya susul karena tidak diberikan cuti oleh kantor. Perihh.. hahah..

Oh iya, saya jadi ingat, tanggal 24 Agustus, usia kehamilan sekitar 21 minggu, saya kena demam tinggi. Itu beberapa hari sebelum Abang berangkat ke Jakarta. Sekitar tengah malam saya merasa kedinginan, persendian ngilu semua, karena terbangun terus saya jadi lapar, akhirnya saya ke dapur lalu makan, lanjut baring berniat tidur lagi. Kesalahan saya waktu itu langsung baring, asam lambung jadi makin aktif jadi tidak heran subuh saya sudah muntah-muntah. Saya sampai tidak masuk kantor. Sekitar 3 hari baru kemudian kesehatan saya pulih. Kasihan semua orang rumah, saya susahin lagi. Berat saya sempat turun juga, sekitar 2 kilogram kalau tidak salah ingat.

Saya tidak ke dokter waktu itu, karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja memeriksakan kondisi saya dan janin ke dokter. Hasilnya baik, saya kembali diberikan resep Calgae, dan resep baru berupa penambah darah untuk mencegah anemia, Nonemi. Jenis kelaminnya sudah ketahuan, sejak bulan keempat sih kayaknya, dan sekarang makin tak terbantahkan. Alhamdulillah, sehat terus ya kamu anakku. :*

***

Nah, cukup segitu dulu cerita tentang kehamilan trisemester kedua ini, sekarang sudah memasuki bulan ke delapan, doakan saya sekeluarga sehat dan gak malas menulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.



Read more

24 Sept 2018

Memilih Kosmetik yang Aman Saat Hamil

Berbadan dua atau sedang dalam kondisi hamil membawa sang ibu pada keadaan harus memilih dan lebih selektif. Banyak hal yang melibatkan opsi ini, mulai dari makanan, pakaian sampai pada penggunaan kosmetik. Berbicara tentang kosmetik gini berasa biuti bloher gak seeeh? Hihi..
Gak juga dong, emang biuti bloher ajah yang pakai kosmetik? Semua orang (apalagi wanita ya) pasti ingin tampil kece, minimal gak kucellah yaa.. Apalagi kalau kulitnya termasuk dalam kategori sehat. Duh.. Seneng banget pastinya. Termasuk ibu hamil yang tetap ingin tampil cantik tanpa mengganggu perkembangan janin. Hehe..

Nah, kali ini saya sedang kesambet bahas kecantikan lagi. Haha.. Gak ding.. Emang ini kewajiban, biasa utang nulis saya banyak *Duh.. ini jadi semacam beban hidup yaah?! Haha.. Jadi Bulan lalu si Beauty Blogger di Be Molulo jenk Dita, memberikan trigger post yang bertema kecantikan Beauty Talk, I Can't Life Without You jadi yang dibahas itu, yang basic banget dalam memenuhi kebutuhan hidup kulit wajah kita.

Kalau temanya seperti itu, saya yang sedang hamil ini tidak perlu susah payah memikirkannya. Apalagi kalau bukan  karena seleksi yang terjadi demi kebutuhan hidup kulit dan perkembangan janin yang tentunya saya harapkan tidak terkena dampak buruk kosmetik. Emak butuh cantik, tapi sungguh, bagaimanapun anak akan menjadi prioritas. Iya kan?


Saya lampirkan beberapa kandungan kosmetik yang harus dihindari oleh ibu hamil, hasil menggalau membaca saat sudah tahu saya positif hamil beberapa bulan yang lalu. Antara lain:

1. Retinoid
Bahan ini biasanya dapat ditemukan dalam kosmetik anti penuaan, obat jerawat dan pemutih ini sebaiknya dihindari saja ya karena efeknya cukup berbahaya.

2. BHA atau Beta Hydroxy Acids
Biasa ditemukan di obat jerawat atau produk pengelupasan kulit, ini wajib diwaspadai lho!

3. Tetracycline
Sejenis antibiotik yang bahaya kalau dikonsumsi saat hamil. Konsultasikan subtitusi obat ini dengan dokter ya.

4. Hydroquinone
Tak hanya wajib diwaspadai pada ibu hamil karena dikhawatirkan bisa memberikan efek yang buruk bagi janinmu.

5. Phthalates
Bahan yang biasa ditemukan di pewarna kuku atau parfum ini juga sebisa mungkin dihindari, demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

6. Formaldehyde
Biasa ditemukan di produk pelurus rambut, pewarna kuku dan lem bulu mata ini konon zat karsinogen yang memicu kanker lho.

7. Toluene
Seringkali ditemukan ditemukan di pewarna kuku. Satu lagi alasan kenapa pakai pewarna kuku nggak boleh asal-asalan buat ibu hamil.

8. Amoniak
Sudah nggak asing kan sama amoniak? Bahan ini sangat sering ditemukan di formula pewarna rambut.

9. Dihydroxyacetone
Meski mungkin akan jarang terpapar di orang Indonesia, kamu pun wajib mewaspadai dihydroxyacetone yang menjadi bahan untuk spray penggelap kulit.

10. Thioglycolic Acid
Saat hamil atau menyusui, ada baiknya melakukan waxing atau cukur rambut di area yang diinginkan secara konvensional saja daripada terpapar kandungan thioglycolic acid ini.

11. Botulinim Toxin
Bahan yang biasa dikenal dengan nama botox ini juga sebaiknya dihindari saja ya kalau nggak perlu-perlu amat.

Sumber: https://www.hipwee.com/young-mom/dear-calon-mama-ini-lho-12-kandungan-kosmetik-yang-perlu-dihindari-saat-hamil-nggak-mau-kan-kamu-dan-janin-kenapa-napa/
***

Nah, biar tetap sejalan dengan postingan Dita, sekalian saya ceritakan pilihan kosmetik dan hasil memangkas pemakaian kosmetik saya hanya pada kebutuhan yang sangat mendasar saja yess.. Walaupun produk yang saya gunakan selalu saya pastikan sudah terdaftar di BPOM, walaupun pada akhirnya kulit saya tidak secerah dan semulus saat sebelum hamil. Setidaknya saya butuh kosmetik-kosmetik ini. Apa saja kosmetik yang saya gunakan saat sedang hamil?

1. Pembersih wajah
Saya menggunakan pembersih wajah merek Wardah, karena kulit saya berminyak saya menggunakan Wardah Facial Foam. Ini wajib banget walaupun saya kalau udah ngantuk bisa jadi gak cuci muka juga. Jorok? Entahlah, harus mendahulukan mana, bersih-bersih atau tidur karena takut gak bisa tidur lagi, kalau gak bisa tidur urusannya panjang kemana-mana apalagi untuk ibu hamil seperti saya. *Alesyaaaan!! Haha :p

2. Sun Care
Saya menggunakan Wardah Sun Care Sunscreel Gel SPF 30, fungsinya ya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari, sekaligus melembabkan kulit. Rutin menggunakan ini sebelum ke kantor atau keluar rumah membuat saya merasa lebih terlidung. Ya, walaupun memang kulit tetap saja menjadi lebih gelap dibanding saat sebelum hamil. Setidaknya ni wajah gak belang-belang amatlah. Cukup hidung saja *Eh :D

3. Foundation
Nah ini.. Entah kenapa saya tidak bisa lepas dari foundation. Saya menggunakan Pixy UV Whitening Stick Foundation. Kalau kepoin di internet sih, sekarang sudah ada produk barunya, foundation sekaligus concealing. Dari dulu selalu gunakan produk ini dulu baru kemudian bedakan.

4. Bedak
Bedak ini sesuatu yang sangat basic juga untuk saya. Maklum, wajah yang diberi anugerah sumber minyak melimpah ini akan sangat gampang terlihat kusam. Dengan adanya bedak, kekusaman akan mudah tersamarkan dari muka bumi. Hahaha.. Dan saya cocoknya pakai Pixy UV Whitening Two Way Cake Perfect Fit. Belajar bedakan pakai ini dan sampai sekarang gak pernah lepas. *Orangnya susah berpaling ke lain hati. Hihi..

5. Pensil Alis
Ini nih yang sering dikomentarin Abang, kegiatan gambar menggambar di pagi hari, tapi tetap aja jalan. Haha.. Seperti bedak, saya juga belajar menggambar alis dengan satu merek. Pensil alis Viva, kebanyakan juga sepertinya menggunakan merek ini. Hehe.. Awalnya saya menggunakan warna coklat saja, beberapa minggu terakhir saya menggunakan dua warna, hitam untuk bingkai dan coklat untuk isian. Ada style baru kata Abang yang memperhatikan saya sedang menggambar. :D

6. Lipstick/Lipgloss
Dan yang paling akhir dari rangkaian kosmetik yang saya gunakan adalah lipstick atau lipgloss. Keduanya saling melengkapi. Saya tipe yang bibir kering dulu baru pakai lipgloss, sungguh sangat perhatian kan yah? Ckck..

Untuk lipstick saya menggunakan berbagai merek, kalau warna sih gak jauh-jauh dari mocca, pink atau coral gitu. Kalau merek Purbasari habis, saya cari warna yang sama dengan merek Wardah atau Viva. Udah gitu ajah, pakainya tipis-tipis, kalau ke pesta aja pakainya agak tebal biar efek matte-nya lebih nampol.

***

Udah sih, cukup 6 rangkaian itu kalau mau keluar rumah. Kalau sudah balik dari kantor kembali ya kembali pakai pembersih wajah saja. Nanti setelah melahirkan sajalah baru kembali perawatan bersama krim malam dan segala rangkaian pencerah warna kulit itu, yang sekarang sekedar perlindungan saja dulu. So far juga hasil USG janin alhamdulillah gak ada masalah. Soalnya kalau baca-baca artikel tentang bahaya kosmetik dan kehamilan, agak ngeri juga. Siapa yang mau saraf anak terganggu atau adanya cacat pada anak dikarenakan ibunya kurang teliti dalam memilih kosmetik. Duh, semoga anak kita terhindar dari segala keburukan ya buibuuu..

Gimana dengan teman-teman bumil yang lain? Pastinya tetap waspada dengan kandungan bahan berbahaya di dalam kosmetik kan ya?

Read more

20 Aug 2018

Ikhtiar Program Hamil: Hidrotubasi

Sharing is caring... Begitu kata orang. Entah siapa. Hehe..

Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu pemeriksaan yang saya jalani saat sedang program hamil atau yang umum disingkat promil. Hidrotubasi jelas merupakan hal yang asing ditelinga saya. Saat dokter menjadwalkan pemeriksaan berikutnya adalah hidrotubasi, saya "oh" saja walau sudah mendapat penjelasan.

Beruntung ada internet sebagai media pelepas rasa penasaran, saya mencari info sebanyak-banyaknya. Tapi kebanyakan yang saya dapati hanya berupa sharing pendek, sedikit punya gambaran, ada yang bilang sakit, ada yang bilang biasa saja. Bagaimana dengan pengalaman saya? Huhu.. Sabar ya..


Beranjak dari pengalaman melit (kepo) tersebut, saya berniat menuliskan pengalaman saya sendiri saat sudah menjalaninya nanti. Mungkin akan bermanfaat untuk teman-teman yang sedang mencari info atau mungkin akan menjalani hidrotubasi. Semangat promil ya moms! Semoga segera diijabah usaha dan doanya, kalian wanita, pasangan yang kuat, Insyaallah segera dikaruniai anak yang sehat, bahagia lahir batin. :*

Bermula dari beberapa kali datang, melakukan pemeriksaan laboratorium bersama suami dan menjalankan upaya untuk segera hamil secara alami (oh well.. okay.. dikasih obat pembesar sel telur juga sih), akhirnya dokter memutuskan untuk naik ke tahap selanjutnya, hidrotubasi. Saya sempat bertanya-tanya juga, apa perlu? Lagipula kan sebelumnya saya sudah pernah hamil (walaupun keguguran). Tapi bismillah, namanya juga ikhtiar.

Baca juga: Kamu Kuat, Nak!

Dan akhirnya hari itu tiba, sayangnya kali itu saya tidak ditemani suami karena sedang mengikuti diklat di luar kota. Mama yang menemani saya, walaupun sudah saya sampaikan bahwa tidak perlu. Biasalah, gak mau merepotkan, sayanya juga mungkin yang sok tegar. Pada akhirnya bersyukur ada Mama yang menemani.

Sedikit yang saya ketahui tentang hidrotubasi atau tiup rahim dari aplikasi AloDokter adalah teknik dalam bidang kedokteran dimana obat atau cairan disuntikkan ke dalam saluran telur (tuba falopi) dan rahim melalui leher rahim. Dengan tujuan untuk melebarkan dan/atau mengobati gangguan pada sel telur.

Syarat Hidrotubasi
Waktu itu dokter memberi persyaratan agar melakukan hidrotubasi 2 hari setelah haid terakhir dan tidak boleh melakukan hubungan intim. Tujuannya agar rahim sudah bersih, dan larangan berhubungan intim dibuat agar tidak ada sperma yang masuk saat proses peniupan cairan hidrotubasi tersebut. Kurang lebih begitu sih seingat saya.

Pengalaman Hidrotubasi
Sebelum masuk ruangan praktek dokter saya membeli beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan dulu, antara lain tiga buah spoit atau suntik berbagai ukuran, kateter,  Dexamethasone, Sterilised Water For Injection, Kaltrofen dan Kanamycin Meiji. Semuanya atas petunjuk dokter, yes..


Setelah itu, saya menyerahkan semuanya pada perawat, saya kemudian diminta berbaring dan diberikan obat yang saya duga bius (dari hasil membaca). Kalau dari bentuknya, sepertinya 2 buah kaltrofen itulah yang dimasukkan lewat (maaf) dubur.

Setelah puluhan menit, saya kemudian masuk ke ruangan praktek bersama Mama. Mama menunggu di kursi depan meja dokter, sedangkan saya diminta berbaring di tempat tidur yang asing untuk saya. Iya, saya katakan asing karena selama diperiksa oleh dokter kandungan langganan saya ini, saya tidak pernah berbaring di tempat tidur itu. Setelah kedua kaki saya ditempatkan pada penyangga kaki di kiri dan kanan, saya kemudian sadar, sepertinya ini ranjang yang biasa saya lihat di video-video persalinan. Fix, saya makin tegang!

Saat itu saya mulai pasrah, menghipnotis diri sendiri bahwa semuanya saya lakukan demi kebaikan. Saya jadi teringat suami yang juga tegang menjelang tes sperma. Saya bisa, dan hasilnya akan baik-baik saja. Saya terus menyemangati diri sendiri sementara dokter dan 2 orang perawatnya mulai melakukan prosedur hidrotubasi, kateter akhirnya dimasukkan.. Dan Hey! Itu pertama kalinya tubuh saya dimasuki benda itu. Masih nyaman-nyaman saja, kedua tangan saya masih saling menggenggam.

Tahap berikutnya yang saya rasakan adalah pemasukan cairan memalui kateter dengan menggunakan suntik. Masih aman, saya masih merasa nyaman-nyaman saja. Dokter melakukan pemeriksaan posisi cairan melalui USG, dan cairan mulai dikeluarkan. Semua masih terasa nyaman. Saya masih diminta berbaring dalam keadaan ngangkang. Lalu akhirnya kaki diturunkan dan saya diselimuti. Fiuhh..

Akhirnya...

Beberapa menit kemudian rasa tidak nyaman mulai mendatangi saya, perlahan. Dimulai dari tangan saya yang terasa kebas, dan dengan cepat juga terasa di perut dan kaki saya. Rasa sakit, rasa tidak nyaman itu lama berdiam di badan saya. Saya bahkan hampir bersikap dramatis dengan menggengam tangan perawat di ruangan itu, urung, saya pasrah menggenggam besi ranjang yang terasa sangat dingin saat itu. Saya butuh Abang!! T_T

Sumpah rasanya sakit sekali, saya mulai beristighfar, nafas saya mulai tidak beraturan walaupun sudah coba saya atur dengan bernafas lewat mulut, saya ingin menangis!!! Tapi kemudian saya berhasil menghardik diri sendiri, saya katakan dalam hati "Ini belum seberapa Ir, kalau melahirkan lebih sakit lagi! Jangan manja! Malu!" Secara ajaib, saya bisa mengontrol perasaan dan reaksi saya kembali, memang rasa sakitnya tidak berkurang, tapi saya gak jadi nangis! LOL

Sekitar 45 sampai 60 menit saya berbaring di ruangan itu, sementara pasien lain silih berganti naik turun ranjang tempat USG. Saya pasrah saja dilihat oleh mereka, sesekali saya melayangkan doa saat melihat ibu dalam keadaan hamil sedang di-USG. Suatu saat, saya juga akan seperti itu. :)

Sebelum keluar dari ruangan, dokter berpesan agar saya tidak panik jika nanti ada pendarahan mulai dari flek sampai seperti sedang haid. Semuanya wajar setelah hidrotubasi. Dokter juga menuliskan resep untuk saya tebus di apotek. Beruntung, saya tidak mengalami flek sedikitpun. Kekhawatiran berkurang.

Oh ya, belum bahas hasil ya.. Alhamdulillah hasilnya kedua tuba falopi saya paten, artinya tidak ada penyumbatan ataupun penyempitan. Saya bernafas dengan sangat lega mendengar hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dokter.

Biaya Hidrotubasi
Biaya yang saya keluarkan untuk hidrotubasi adalah sekitar Rp.800.000. Saya sebenarnya lupa, apakah biaya di atas sudah termasuk alat dan obat-obatan yang saya beli sebelum dilakukan hidrotubasi hari itu. Yang jelas obat yang saya beli sesuai dengan resep dokter adalah sebesar Rp.165.000 dan itu sudah termasuk dalam biaya yang saya sebutkan di atas. Tapi perkiraan saya memang dibawah Rp.1.000.000, karena sebelumnya dokter memang sudah memberikan gambaran biaya yang harus saya keluarkan, ya sekitar Rp.800.000 itu.

Sebagai tambahan informasi

Efek Samping Hidrotubasi
- Infeksi Urine, bisa diatasi dengan banyak minum air putih selama 24 jam setelah prosedur dilakukan.
- Infeksi pada tempat masuknya kamera.
- Cedera pada pembuluh darah, usus, atau kandung kemih.
- Nyeri di bawah tulang rusuk, sekitar bahu atau leher hingga 72 jam setelah prosedur dilakukan.

Sumber: https://www.alodokter.com/hidrotubasi-salah-satu-solusi-untuk-memiliki-bayi-2

***

Semoga sharing yang saya tuliskan bermanfaat, bukan bikin takut para pejuang promil yang membaca ini, dari yang saya baca, rasanya beragam kok, ada yang merasakan sakit speerti saya, ada yang tidak merasakan sakit sama sekali. Semua layak dilakukan, Alhamdulillah saat ini saya tengah mengandung dengan usia kehamilan 21 Minggu, doakan kami selalu sehat, Insyaallah teman-teman yang sedang menjalani promil juga akan segera dikaruniai anak yang sehat dan lebih kuat dari ayah bundanya.

Baca juga: Kehamilan Trisemester Pertama

Teman-teman lain boleh banget ikutan share pengalaman hidrotubasinya ataupun pengalaman promil lainnya. Atau kalau ada pertanyaan boleh banget dituliskan di kolom komentar.

Semangat promil!! ^^

Read more

6 Aug 2018

My Pregnancy My Adventure

Heihoo.. saya hadir untuk nyicil utang menulis di Be Molulo, punya dua sih sebenarnya, tapi ikutin mood dulu, maklum moodnya lagi awut-awutan.

Jadi kali ini saya akan menulis sesuai tema dari Raya: adventure. Dia sih nulisnya My Child my Adventure, tapi kita ambil garis besarnya kan ya.. Kalau Si Ucup yang jadi tema pembicaraannya, maka saya akan bercerita tentang kehamilan saya saja, yang masih janin aja diceritain perjuangannya, kebetulan banget emang belum nulis cerita tentang kehamilan saat ini.


Kehamilan setiap orang berbeda-beda, saya juga ingin menyimpan cerita tentang perjuangan saya bersama calon buah hati kami. Dan ini memang sebuah petualangan, apalagi ini kehamilan yang tidak selalu sama dengan pengalaman orang lain. Saya ingin menyimpan kenangan ini.

Bulan Pertama Kehamilan
Dibulan pertama kehamilan sesungguhnya tidak banyak cerita selain suka cita yang kami rasakan. Maklum, kehamilan kan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT), hormon belum diobok-obok, ngidam belum muncul, perubahan pada tubuh juga belum terasa. Jadi ceritanya ya pasti soal testpack. Hehe..

Pertama kali testpack saya lakukan 24 April 2018, entah mengapa saya punya feeling bakal dikasih kado pernikahan ini oleh Allah. Feeling-feeling tapi tetap gak mau ngarep gitulah pokoknya. Maklum, setelah keguguran tahun lalu jadi setting harapannya gak mau tinggi-tinggi, doanya aja yang ditinggikan. Ciyeee.. hehe

Setelah testpack saya tidak lantas memberitahu Abang, saya juga hanya bisa mengucap Alhamdulillah sambil bingung. Iya.. Saya bingung. Saya juga masih mengikuti karnaval hari itu, entah berapa kilometer saya dan teman-teman jalani dari garis start sampai finish, dalam keadaan gerimis.

Keesokan harinya saya testpack lagi, sekitar pukul 10 pagi, tapi 2 garis merah itu semakin terang. Saya masih bingung, reaksi saya tidak seperti positif hamil tahun lalu. Setelah sholat barulah saya duduk diam mengadu, mencari perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya menangis, menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya seorang penakut berpura-pura tegar, takut keguguran lagi. Sampai sekarang Abang tidak tahu kejadian setelah sholat ini. Mungkin saya terlalu malu untuk menunjukkan ketakutan saya. Mungkin juga, saya tidak ingin dia khawatir seperti saya. Harus ada energi positif yang ditabung, bukan?


Baca juga: Memilih yang Terbaik diantara yang Terburuk

Siang hari akhirnya Abang saya kabari, tentu saja dengan cara yang tak biasa. He's sooo happy.. Sampai berkaca-kaca gitu matanya. Ini kado yang dia, saya dan keluarga tunggu-tunggu. Mama dan Mama Mertua juga kami kabari. Hal-hal yang berubah setelah itu adalah atas instruksi Abang pekerjaan rumah diambil alih oleh dia, saya tidak boleh mengeluarkan keringat setetespun, manis sekali, tapi ritme kerjanya tidak seirama dengan ritme kerja saya biasanya, sesekali saya curi-curi kerja. :p

Selain itu saya sudah tidak naik motor lagi, makan juga tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Dan.. Saya jadi malas makan buah...

Bulan Kedua Kehamilan
Bulan ini barulah saya memeriksakan diri ke dokter. Bukannya ingin menunda, tapi ternyata dokter yang biasanya saya datangi sedang libur karena menyambut bulan puasa. Setelah berunding dengan Abang, kami sepakat menunggu prakteknya buka. Tanggal 18 Mei kami periksakan diri untuk pertama kali, Alhamdulillah kandungan sehat, saya juga tidak merasakan keluhan berarti selain mual yang tertahan di tenggorokan dan sakit pinggang. Kami pulang tanpa obat apapun, berbahagia. Saya juga sudah memberi lampu hijau ke Mama dan Abang jika ingin membagi berita bahagia ini dengan keluarga yang lain. Ya, saya punya alasan untuk tidak sesumbar mengumumkan kehamilan.

24 Mei, kurang dari satu minggu kemudian saya kembali ke dokter setelah muntah sejak subuh. Rasa mual yang saya rasakan saya sinyalir karena asam lambung yang tinggi, ya mungkin juga sudah kolaborasi dengan mual akibat kehamilan. Jelang Magrib sampai sekitar pukul 7 malam saya menunggu antrian pemeriksaan dengan diberi kamar sendiri (biasanya para pasien hanya bisa menunggu di bangku kayu saja).

Setelah diperiksa saya diberikan obat anti mual berupa Ondansetron (Onetic) dan Ranitidine untuk menekan asam lambung. Obat diminum 2 kali sehari, sejak itu saya tidak pernah lepas dari obat dengan harga yang lumayan itu (Onetic, bukan obat generik), tapi tidak menjamin saya bebas mual. Mual dan muntah tetap sporadis hadirnya.

Setelah itu, saya berniat tidak makan sambal lagi, dan memang lidah saya ternyata tidak bisa menerima rasa pedas. Bayangkan seorang maniak pedas seperti saya, kepedasan hanya karena potogan cabai merah yang ada dalam masakan! Rasanya petcah banget di lidah, pedass!! LOL
Remembering 1st day I told him

12 Juni, saya kembali kontrol ke dokter, dengan keluhan serius. Sembelit parah. Sebenarnya ini hal yang umum sih untuk ibu hamil, bahkan saat curhat ke teman yang sudah punya 3 anak, dia yang biasanya hati-hati saat memberikan saran malah terkesan meremehkan masalah yang sedang saya alami (tidak biasanya dia meremehkan seperti itu). Dipikirnya saya sembelit level B ajah, setelah bilang "It's really serious. I cried at the toilet." Dia kaget dan menyarankan untuk segera ke dokter.

Setelah dari dokter dan memilih tindakan yang ditawarkan barulah masalah saya selesai, saya pulang dengan resep dokter, saya tebus tapi tetap dengan doa agar tidak sampai mengonsumsinya, saya mau mengatasi sembelit dengan cara alami saja. Untuk masalah sembelit ini Insyaallah akan saya tuliskan dikemudian hari.

Bulan Ketiga Kehamilan
Masalah mual dan muntah masih menjadi masalah utama, kram di tangan kiri yang sudah sering saya rasakan sebelum hamil makin sering terasa. Sakit pinggang juga masih terasa, maklumlah, di kantor juga duduk terus walau sesekali memang saya bawa jalan kalau sudah terasa. Alhamdulillah, ada Abang yang siap dimintai bantuan, capek juga dijabanin kalau sudah dimintai tolong. *Terbaikk! :*

Oh ya, selama hamil ini Alhamdulillah saya tidak mengalami gangguan makan atau bau-bauan yang bikin mual. Kadang teman tanya juga sih, kamu bisa cium bau nasi atau ini atau ini? Alhamdulillah aman semua sih.. Kalau bau-bauan kurang sedap mah, sejak sebelum hamil menurut Abang saya punya hidung yang tajam, dianya gak cium, saya yang jauh cium. Maklum sensitif.. Hihi..


Eh, tapi walaupun saya (dan teman-teman saya) bilang gak punya gangguan makan, saya sebenarnya kebanyakan makannya karna dipaksa sih, memaksa diri lebih tepatnya. Untuk mulai makan tuh susaaah banget, bujuk diri sendirinya mesti kuat, demi nutrisi yang tercukupi buat si janin. Maklum, muntahnya juga sering soalnya. Jadi, kalau sampai berat badan saya naik saya kaget juga sih sebenarnya, apa mungkin nutrisi, vitamin dan lemaknya sudah berhasil diserap baru kemudian saya muntah? Haha..

Gapapa, untuk saya ini berarti 2 hal. Pertama saya berhasil mengalahkan diri saya, kedua Insyaallah kekurangan nutrisi yang saya takutkan tidak terjadi. Semua karena bantuan Mama yang rela capek, makin rajin membuatkan bekal sejak awal kehamilan sampai saat ini.

Banyak hal yang menipu sih sebenarnya, di kantor banyak juga yang berkata dengan ekspresi senang  karena menurut mereka saya tidak punya keluhan ngidam: mual, muntah atau susah makan. Saya senyum saja, artinya (lagi-lagi) ekting tegar saya berhasil. Hehe..

Baca juga: Hamil dan Omongan Orang

***

Itu tadi cerita petualangan kehamilan saya di bulan pertama, kedua dan ketiga. Kalau bacanya seperti diary atau jurnal kehamilan, dimaklumi saja ya. Sebenarnya saya memang berniat untuk membuat jurnal kehamilan (saya sudah beli bukunya lhooo), tapi apa daya, saya kalah oleh muntah-muntah ini. Hehe..

Note: Saya tidak berpuasa selama kehamilan, artinya saya berutang 30 hari. Sengaja saya tuliskan, ini utang besar. :p

Teman-teman gimana nih pengalamannya selama hamil? Asyik-asyik saja kah? Atau ada yang tidak mengenakkan? Atau kalau punya tip-tip boleh banget share di kolom komentar ya..

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...