Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

28 Jan 2021

5 Resolusi di Tahun 2021

Haii..

Belum basi kan ya ngomongin tentang resolusi ditanggal segini? Hihi.. ga mau nyodorin alasan kenapa telat deh.. tapi alasan kenapa menulis resolusi itu menyenangkan.

Jadi sudah beberapa tahun ini saya gak pernah bikin resolusi lagi. Males iya, gak punya resolusi juga iya. Eh.. ga gitu.. maleslah pokoke..

Back to curcol..

Nah, awal tahun saya sengaja baca resolusi yang saya tuliskan, terakhir tuh tahun 2017 dan saya merinding sekaligus terharu membaca sebagian besar resolusi-resolusi yang saya tuliskan sudah terwujud ditahun yang sama! Masyaallah.. Alhamdulillah ❤️

That's why saya ingin mencoba menuliskan lagi resolusi tahun ini, berharap Allah takkan bosan membantu usaha dalam mewujudkannya.

1. Membangun Rumah
Bismillah, tahun ini akhirnya Abang mau juga diajak membangun rumah tangga.. eh.. bangun rumah maksudnya. Wkwk

Sebenarnya Abang sudah mempersiapkan (baca nyicil) hunian sejak belio masih bujang, tapi tetap butuh rehab lagi agar lebih layak ditinggali keluarga. Akhirnya setelah ditimbang-timbang renovasi rumah itu biayanya udah ga jauh-jauh dari membangun rumah, dan memang akan lebih menguntungkan membangun dari 0 saja. Lucky us dapet tanah dari orang tua, jadi kami tinggal membangun saja. Alhamdulillah..

Masyaallah excited banget membayangkan punya rumah sendiri dan keluarga kecil kami hidup di dalamnya. Membayangkan memilih motif  lantai, desain kitchen set, memilih furniture, memiliki kamar yang lega dan lebih rapi. Di atas semua itu, saya membayangkan kehidupan yang lebih indah, menjadi ratu di rumah sendiri. Para istri pasti paham perasaan ini, paham bahwa belajar mandiri itu tidak akan mudah, tapi insyaallah akan terlewati dengan kerja sama suami istri yang baik. hehe

Semoga rumah kami bisa selesai sesuai rencana dan ga melenceng dari RAB ya, kami berencana membangun pelan-pelan saja, doakan kami tidak tergoda untuk berutang di luaran sana. 🙏

2. Menulis Opini di Koran
Duh, ini mah keinginan sejak kapan. Berat sebenarnya, karna saya tuh kalau nulis genrenya ga bisa serius dan saya merasa ga punya banyak ilmu untuk bisa menulis dan menganalisis data statistik. Tapi ada kebutuhan kerjaan di sini. Tidak semua yang kami kerjakan di kantor itu ada angka kreditnya dan Menulis Opini ini lumayan besar angka kreditnya. If you know jabatan fungsional, kami nyebutnya pejuang nol koma nol nol nol satu saking susahnya dapat angka kredit. Wkwk..

Kayaknya (((kayaknyaaaa))) mending paksain diri menulis opini deh daripada maksain diri bikin Karya Tulis Ilmiah (KTI), makin berasa ga punya ilmu saya. Huhu..

Keliatan ga sih dari tadi saya itu ga pede. Iya, iyaaaa banget. Tapi entah kerasukan setan apa, saya ikutan daftar program untuk menelurkan 1 tulisan opini dong. Maju mundur tapi tetap, Bismillah...

Doakan berkomitmen dan berhasil dimuat di koran ya.. 🙏

3. Menyelesaikan Naskah Buku Antologi
Bagi sebagian orang ini mah receh, ga perlu masuk resolusi-resolusian segala. Tapi gapapalah, sebutlah ini saya modal nekat lagi nge-klik join group untuk bikin buku bersama lagi.

Apresiasi setinggi-tingginya buat Komunitas Perempuan BPS Menulis yang membuatkan wadah dan membukakan jalan agar anggota-anggotanya bisa menelurkan karya. Termasuk cerita buku antologi pertama saya yang juga diterbitkan melalui komunitas hebat ini. Ceritanya nanti deh ya, bukunya belum sampai. Wkwk..

Doakan yang kedua ini prosesnya lancar, nulis naskahnya gak moody, apalagi saya sadar kerjaan lagi padat-padatnya. Entahlah, semoga saya tidak ambisius mau ini-itu. Semoga diberi kekuatan menyelesaikan. Lagi-lagi saya minta doa dari teman-teman. 🙏

4. Hamil
Malu deh nulis ini, tapi gapapa, ini salah satu rencana besar dalam hidup saya. Bukan tanpa alasan sih ingin merencanakan kehamilan lagi. Saya sadar diri, umur saya tidak lagi muda dan anak sudah bisa disapih (walopun belum berhasil, wkwk).

Ini juga agak malu sih ngomongin ke teman kantor, apalagi yang 1 seksi, tahun ini kerjaan bakal padat, lah bisa-bisanya saya malah mau hamil. Tau sendiri wanita hamil relatif banyak kendalanya, tapi saya serahkan semuanya pada Allah, namanya manusia kan hanya berkeluarga dan berencana ya.. Lagian nungguin kerjaan, kapan habisnyaaa.. *ehm, pinter banget nyari alasan yak. Wkwk..

Apapun, doakan bisa hamil tanpa harus promil ke dokter lagi, seperti usaha yang saya lakukan tahun 2017-2018 yang lalu bahkan sampai harus hidrotubasi). Bismillah..

5. Membaca Lebih Banyak Buku
Duh, (lagi-lagi) malu sebenarnya. Tahun lalu, buku yang saya baca kebanyakan tidak terbaca sampai selesai. Mencari waktunya lumayan susah untuk saya, kalau membaca saat anak masih melek, ditarik-tarik pengen baca juga. Hasilnya ketebak dong, ga bakal bisa. Kalau baca jelang tidur ya bakal tidur duluan sebelum anak. Lagian ga bisa ngebayangin lagi nyusuin Aqif sambil baring trus mau pegang buku. Bayanginnya aja kesiksa.

Harus pintar-pintar nih cari waktunya, andai baca buku kayak main game ya, bisa nyambi ini itu, lah baca buku perlu diresapi biar yang dibaca masih sempat masuk bentar ke otak. Bismillah.. modal ini modal. wkwk..

***

So, itu dia 5 resolusi saya di tahun 2021, berharap semuanya berjalan lancar baik jangka pendek maupun jangka panjang. Teman-teman punya resolusi apa tahun ini? Semoga dilancarkan ya! 😊
Read more

12 Jan 2021

Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi

Sebelum membaca Drama Melahirkan Anak Pertama Dengan Proses Induksi, ini cerita yang saya tulis sebelumnya:


"Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari 2019 jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" untuk melahirkan istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!"

Cerita lengkap sebelumnya di : Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Beberapa Drama Melahirkan Anak Pertama yang Saya Rasakan

Saya titik beratkan pada anak pertama karena walaupun sudah mencoba mencari info dan menanyakan pengalaman dari teman-teman tetap saja ini pengalaman melahirkan pertama kalinya untuk saya. Semoga kedepannya berbeda bahkan kalau bisa minim drama. Aamiin..

So, langsung aja yuk saya ceritain.

Drama Surat Pengantar

Sudah beberapa jam saya merasakan sakit, yakin ini bukan kontraksi palsu dan saya juga tidak bisa tidur karena kesakitan, kamipun segera menuju ke rumah sakit.

Surat pengantar dari BPJS sudah kami persiapkan, untuk jaga-jaga agar tidak disuruh pulang kalau sampai ke rumah sakit dan pembukaan masih dibawah pembukaan 5. Benar saja, saat dicek, baru pembukaan 1. Dengan percaya diri kami menyerahkan surat rujukan. Sayangnya perawat di ruangan bersalin bilang bahwa surat rujukan kami salah, kalau memang akan dipakai untuk bersalin, harusnya ditujukan ke ruangan bersalin, bukan ke pemeriksaan dokter praktek. What the..?*$+"/?/

Berat hati kami kembali ke dalam mobil, sesuai petunjuk, kami diarahkan ke faskes terdekat, puskesmas yg memiliki fasilitas rawat inap.

Drama Puskesmas Rawat Inap

Sesampainya di sana, kami lalu pulang kembali ke rumah, capek manggil-manggil, gak ada satupun orang di puskesmas. Another annoying moment...

Malam itu sayapun mencoba tidur dengan rasa sakit yang datang-datangan, tidak saya sangka saya bisa juga tidur walaupun sering sekali terbangun, mungkin karena kelelahan.

Drama Kontraksi Selama di Rumah

Pagi hari sakitnya masih terasa, berita saya mulai merasa kesakitan sampai juga di telinga tetangga yang kebetulan seorang tenaga kesehatan. Pada jam istirahat beliau berjanji untuk menengok di rumah, saya hanya setuju dilakukan pengukuran tekanan darah saja dan menolak dilakukan periksa dalam alias VT, SAKIT JENDRAL!! *Sorry.. emang ga bisa santuy saya kalau ingat VT itu. Wkwk

Dan sejak pagi juga kami di rumah sepakat untuk menunggu sampai besok, tapiiii... tapi suami sudah sangat tidak tenang. Pagi-pagi suami sudah pergi protes ke faskes TK I, eh, nggak ding, ke rumah dokternya, minta tolong dibenerin, istri udah teriak-teriak di rumah. *Lebay! Haha.. Nggakk.. nggak gitu.. minta tolong baik-baik dong, untung langsung oke aja, gak salah emang suami mindahin faskesku ke tempat praktek dokter itu. Da best!

Oh iya, kesepakatan awalnya menunggu perkembangan (rasa sakit) lagi, tapi suami sudah tidak tenang. Hari itu, 4 Januari setelah salat Jumat, suami yang biasanya ngikut aja saya maunya apa sudah tidak bisa ditawar lagi keinginannya. Harus ke rumah sakit sekarang juga! *Kasih backsound menegangkan.


Singkat cerita melaporlah kami dengan surat rujukan yang baru (walaupun sekarang baru merhatiin, tahunnya masih juga salah.. hihi). Alhamdulillah sudah bisa dicarikan kamar, sambil menunggu saya hanya bisa perbanyak jalan dan berdiri sambil terus melakukan gerakan duduk jongkok dan berdiri. *Tolong ini diperhatikan ya, saya gak malas-malasan! 😝

Sesampainya di kamar, saya diperiksa dalam LAGI! Hasilnya? 13 jam sejak pemeriksaan sebelumnya tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau ditambah saat pertama kali merasakan sakit, total sudah 18 jam saya kesakitan. Daebak!

Baca juga: My Pregnancy My Adventure

Drama Induksi

Induksi ini sejak awal memang saya hindari, sejak awal ingin melahirkan alami saja, tanpa ada campur tangan obat-obatan. Tapi jika sudah menyerahkan diri ke rumah sakit, maka sebisa mungkin saya mengikuti prosedur yang disarankan, apalagi disaat-saat seperti itu keselamatan Ibu dan bayilah yang diutamakan.

Induksi Pertama

Beberapa jam menunggu, keluargapun mulai berdatangan, ba'da maghrib seperti yang dijanjikan sebelumnya saya diberikan induksi melalui jalan lahir. Entah berapa lama kemudian saya sudah mulai merasakan level rasa sakit yang meningkat dan semakin sering. Malam saya lewati dengan mondar-mandir di dalam kamar.

Sekira pukul 11 malam saya diminta ke ruang bersalin untuk dilakukan VT *Sumpah nulis ini kebayang lagi sakitnya 😭* sudah 6 jam, perkiraan kalau misalnya 2 jam nambah 1 bukaan, minimal saya sudah di pembukaan 3 saat ini.

Hasilnya?

Hanya nambah 1 bukaan sodara-sodara, setelah diinduksi selama kurang lebih 8 jam, total kalau hitungan pukul 12 malam sudah kesakitan 29 jam saya masih pembukaan 2.

Saya ditanya, apakah masih mau lanjut induksi ataukah mau caesar. Saya tanya ke suami, suami bilang terserah, dia katanya gak tega lihat saya kesakitan tapi tidak memberi keputusan.

Saya memutar otak, mulai hitung-hitungan, kalau sekarang pembukaan 2 artinya dalam 8 jam saya harus maraton mengejar pembukaan lengkap. Bukankah akan sangat ngos-ngosan? *Pengalaman maraton sebelum nikah bikin kebayang ngos-ngosan lari 21 Km, ya tapi tak sesakit induksi ini emang. Ya emaaaang 🙈

Keputusan saya ambil, saya akhirnya memilih lanjut induksi kedua. Saat itu induksinya lewat botol infus. Saya mulai bisa tertidur semenit-dua menit sampai akhirnya negara api menyerang.

 

Gelang identitas pasien, penasaran deh arti 75nya itu apa yak?😁

Induksi Kedua

Induksi kedua dimasukkan melalui infus, kalau sebelumnya tindakan dilakukan di ruangan tempat rawat inap, induksi kedua dilakukan di dalam ruangan bersalin, di ruangan dingin, hanya saya dan suami. Saya tidak bisa tidur, perlahan rasa sakitnya memang mengalami eskalasi jauh diatas yang pernah saya bayangkan dan memang sulit untuk saya gambarkan dalam tulisan ini. That's why.. saya hanya bisa menceritakan drama-dramanya saja, tapi percayalah, walau suami bebas dari bekas cakaran atau biru karena lebam, tapi beneran sakit sumpah!!

Semakin sakit, saya diminta berpindah ranjang, masih di ruangan yang sama tapi sepertinya ranjangnya memang sudah persiapan lahiran, sudah tidak tersembunyi seperti tempat saya dilakukan tindakan induksi kedua.

Subuh 5 Januari, entah pukul berapa, kalau tidak salah ingat sebelum azan, kalau jam 4 subuh berarti air ketuban saya pecah setelah 33 jam kesakitan, saya yang sedang melakukan kegiatan duduk-berdiri secara berulang sambil menahan rasa sakit di samping ranjang lalu diminta berbaring saja agar tidak kehabisan stok air ketuban.

Ya sudah, setelah itu saya melalui waktu dengan kesakitan, balik badan kiri kanan, makan dan minum apapun yang disodorkan, disambi mendengarkan erangan para ibu-ibu yang silih berganti melahirkan sambil terus beristighfar, mengatur nafas menahan sakit. Subhanallah..

Piye perasaanmu Mak? Kamu dari tadi udah start tapi gak finish-finish..Sampai hafal saya kalau bidannya sudah minta diambilkan pakaian bayi, berarti dalam rentang waktu 10 - 30 menit, akan bertambah lagi angka bayi lahir hidup. Eh..Sempat aja mikirin data..wkwk..

Sampai setelah azan Dzuhur, setelah bolak balik saya dilakukan tes VT terk*t*k itu! Sudahlah sakit, diulang terus, diulang terus. Saya tahu itu prosedur, tapi izinkan saya menumpahkan sedikit perasaan saya karna bagaimanapun merasa berhasil tidak mengutuk secara live bahkan menendang bidan seperti beberapa cerita teman-teman, bagaimanapun itu sebuah pencapaian untuk saya. 🙈

Lanjut.. Wkwk.. Maap kebawa emosi. Beberapa menit setelah azan kurang lebih pukul 12, pembukaan saya sudah lengkap, seperti yang saya hafalkan, bidan juga meminta pakaian bayi. Betapa senang suara Mama terdengar saat berbicara dengan bidan. Begitupun saya, Bismillah.. garis finish sudah terlihat..

Menuju Melahirkan Alami

Sudah pukul 1 saya belum juga lahiran Mak.. Ya Allah.. bersyukur tak ada bisikan goib yang datang untuk melakukan caesar, kurang 6 jam lagi sudah 2x24 jam saya menahan sakit. Segala doa sudah saya panjatkan, keyakinan, optimisme sudah saya pertebal, saya sudah meminta maaf ke suami, orang tua terutama Mama tapi belum juga ada tanda melahirkan lebih cepat. Untuk menganalogikan perjuangan saya, sambil bercanda ke teman yang datang menjenguk bayi saya di rumah waktu itu, saya bilang, saya hanya gak pindah agama aja sumpah (yes, i need to be lebay to describe the pain 🙈).

Dan waw.. 45 menit kemudian bayi itu menangis dengan lantang mengalahkan semua suara bayi yang saya dengarkan kelahirannya!!

Tapi mundur dulu yuuuk.. selama 45 menit itu saya berjuang melahirkan normal diumur kepala 3, anak pertama, dan bayi yang sudah terlampau besar, sudah saya kerahkan segala kekuatan yang saya bisa untuk mendorong bayi 3,7 Kg itu, Mama sampai meminta kakaknya untuk menemani saya karena tidak tega. Dan (mungkin karena sudah terlihat lemas) saya diberikan oksigen, dan setelah selang oksigen terpasang naiklah seorang perawat keatas perut saya untuk membantu proses melahirkan. Dan bretttt (sorry i can't find another sound effect to describe it 😝), lahirlah bayi hulk bersuara lantang itu.

Bukan tanpa alasan ibu dokter Indra menyebutnya begitu, soalnya ketuban saya sudah hijau dan he's big and strong indeed. 😂

Bentuk kepala khas bayi yang lama di tertahan di jalan lahir, kek ada lekukannya gitu pas sejajar alis. Beruntung masih bisa berubah ya, Alhamdulillah sekarang anaknya sudah 2 tahun, kepalanya sudah bulat.🙈

Rombongan pengantar haji (seriusan banyak banget orang, entah karena mereka yang niat datang rame atau karena lama jadinya penjenguk pada numpuk. Masyaallah.. semoga sehat semua walaupun saya tidak melihat langsung ya 🥰) di luar ruangan persalinan pun berseru mengucap Alhamdulillah. Tak lama kemudian terdengarlah suami saya mengazankan anak kami, ditengah azannya ia terisak saking harunya. Begitupun saya yang ikut menangis (masih dengan selang oksigen di hidung) dan sempat menoleh kepada dokter dan perawat yang saling bertukar pandang mendengar keharuan ayah baru di belakang mereka sambil terus menjahit jalan lahir bayi hulk tadi.

Drama Jahitan Pasca Melahirkan

Berbicara tentang jahitan, saat diminta memulihkan kondisi, di ruangan dan ranjang yang sama, saya sempat bertanya pada perawat yang turut menyaksikan proses menjahit tadi secara live. 

🧕: "Berapa jahitan Mba?" Tanya saya

👩‍⚕️: Terlihat bingung, "banyak" jawabnya

🧕: "Oh.." Sambil merasakan wajah saya menghangat. Hancur sudah, batin saya. 🙈

Segala teori agar tidak ada jahitan, jangan angkat pantat, senam ina inu, ambyar semua gaess.. saya sih gak yakin juga digunting apa nggak (iyes, makemak taulah tindakan ini, kecuali mungkin yang masih gadis, jangan shock yess). Yang saya rasakan pasti itu adalah dijahit langsung setelah melahirkan, maksudnya ga ada anastesi, bisa terasa dengan jelas tu jarum yang kek kail pancing wara-wiri di organ kewanitaanmu. Betapa semua pengalaman pertama kali yang ngumpul jadi satu itu begitu amazing terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Masyaallah..

Sakit gak?

Gak, gak ada perih atau apapun, mungkin jatah rasa sakit saya sudah saya pakai habis dalam 42 jam itu. Sayangnya ga habis-habis amat, masih ada derita lain menanti pasca melahirkan... Saya tersiksa.. 😭

Oh ya, yang bikin pengen misuh-misuh adalah, setelah dijahit, barulah dilakukan pemeriksaan dalam lagi, buat ngecek plasentanya sudah dibersihkan dengan baik atau belum. Sebelum lahiran dengar teman cerita gini, dan saya akhirnya mengalami. Komentar saya masih sama, kenapa periksanya setelah dijahittt Markonaaah? 😭 Psstt..Momen ini malah lebih ada rasa sakitnya. 🙈

***

Segitu dulu deh cerita dramanya, dibalik terasa "sulitnya" saya melahirkan alami, saya bersyukur masih diberikan dukungan oleh suami, orang tua dan keluarga lain. Dan saya yakin masih banyak orang yang mengalami hal lebih berat dari saya termasuk yang melahirkan caesar.

Hmm.. cerita ini bikin nostalgia pengalaman lahiran pertama kali gak sih?

Sharing di kolom komentar yuk.. apalagi kalau punya tips agar lahiran lebih mudah atau melahirkan tanpa rasa sakit? Kemarin sih sempat ngintip akunnya bidan Novel, itu loh bidan yang lagi viral, lahiran yang tiup-tiup "aja". Saya bahagia sekaligus iriiiii. Wkwk

Note: Saya gak nakut-nakutin yang baru mau lahiran yes, cuma berbagi pengalaman. Saya berdoa dan percaya proses melahirkan kalian para ibu yang sedang menanti proses itu akan jauh lebih mudah daripada saya. Tetap positif thinking para ibu hebat! ❤️

Read more

28 Sept 2020

Ekonomi Sudah Cukup Sulit, Hati Jangan Ikut Julid

Virus Corona saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Termasuk saya, sungguh sangat berpengaruh di banyak lini kehidupan. Termasuk saat bulan suci Ramadan yang telah berlalu. Biasanya saya berburu menu untuk berbuka puasa dari luar rumah. Tapi saat itu malah berpikir dua kali jika ingin membeli makanan di luar rumah.

Nah, teringat saat Ramadan yang lalu, saya membaca status seseorang yang menjual makanan untuk berbuka puasa. Dia seperti merasa tersinggung dengan perlakuan orang yang berbelanja di tempatnya. Kurang lebih yang saya pahami adalah dia merasa orang itu terlalu berhati-hati dengan memberikan uang yang dipegang hanya dengan ujung jarinya saja.
 

Entahlah, saya merasa status itu berlebihan, tapi mungkin bagi orang yang sedang tersinggung status itu wajar ya. *Teteup yes, saya maunya di posisi netral saja.😁

Saya hanya berfikir namanya juga masa pageblug seperti saat ini sikap kehati-hatian memang akan sangat banyak kita jumpai dan rasanya itu lebih baik dibanding bertemu dengan orang yang acuh tak acuh, cuek dengan keadaan, kan ngeri Maakkk!

Bagaimana Dengan Saya Saat Berbelanja?
Sejujurnya, saya juga jadi flashback terhadap diri saya sendiri sih, saat saya berbelanja ya akan berhati-hati seperti itu. Entahlah, tidak menyalahkan si pembuat status selaku penjual, ya bisa jadi ada hal lain yang yang membuat dia layak untuk merasa tersinggung. 

Owh, iya, katanya pembelinya juga gak turun dari mobil. Setahu saya buat kebanyakan orang sikap ini dianggap tidak sopan. Iya gak sih? Tapi mari kita berpikir positif, bisa jadi orangnya gak niat mampir belanja, ada anak kecil di dalam mobil dan dia tidak membawa perlengkapan bersih-bersih. Who knows?

Saya juga jadi teringat kalau saya belanja. Saya juga akan sangat berhati-hati, pernah saat itu saya mengambil uang kembalian dengan tangan kiri karena tangan itu sudah saya gunakan untuk memegang macam-macam (saya tidak menggunakan sarung tangan) tapi tetap, saya minta maaf karena menggunakan tangan kiri. *Ini kok saya jadi merasa bersalah banget ya sekarang? Astaghfirullah. 🙈

Atau kasus lain misalnya, saya menerima uang kembalian menggunakan kantong plastik yang memang menjadi dompet saya selama berbelanja. Wkwk.. Seingat saya, saya sering mengucapkan kata maaf, berharap orang yang sedang berinteraksi dengan saya itu mengerti bahwa saya sedang berhati-hati saat ini.

Berhati-hati di sini tetap dua arah ya, bukan berarti saya menganggap orang lain membawa virus tapi saya juga berhati-hati karena saya tidak tahu saya membawa virus atau tidak, itu saja definisi berhati-hati dalam masa pagebluk Corona seperti saat ini.

Apakah orang-orang yang berinteraksi dengan saya itu juga merasa tersinggung dengan sikap saya? Jawabannya bisa jadi iya, tapi saya tetap berdoa semoga tidak, saya tidak ingin ada yang tersakiti dengan sikap saya. Kalau ada saya minta maaf sekali 🥺.

Sejujurnya status si pedagang di atas itu lucu karena memang ditulis dengan bahasa yang jenaka walaupun mungkin tersinggung. Dan saya harus berterima kasih karena saya jadi introspeksi diri, agar kedepannya lebih berhati-hati. Berhati-hati dengan virus, juga berhati-hati dengan orang yang saya ajak berinteraksi.
 

Ekonomi Sudah Cukup Sulit, Hati Jangan Ikut Julid
Tidak lupa saya tetap berdoa agar saya dan kita semua, bertemu orang baik di luar sana, yang sama-sama berhati-hati, sama-sama menjaga diri dan hati di masa yang serba sulit saat ini. Semua terdampak, walaupun dengan kekuatan hempasan yang berbeda-beda. 

Jadi kembali lagi saya mengingatkan agar kita tetap berhati-hati. Agar harapan kita untuk tetap sehat selalu dikabulkan oleh Allah. Semoga wabah ini segera berakhir.

Pikiran positif harus selalu aktif .
Ekonomi kita sudah cukup sulit hati jangan ikut julid.
Bu Tejo boleh jadi hiburan dalam film Tilik.
Tapi jangan ditiru, bayangin kalau kamu yang jadi Dian. *Halahh..

Gimana teman-teman, setuju kan untuk memperbanyak energi positif untuk diri dan lingkungan sekitar? 

Semoga perekonomian kita, negara kita secara umum segera membaik, seiring doa agar corona ini segera minggat dari muka bumi ya..

Punya pengalaman apa saat belanja di luar rumah? Share di kolom komentar ya..
Read more

4 May 2020

5 Tip Berbelanja Agar Terhindar Dari Paparan Virus Corona

Hai teman-teman gimana kabarnya saat ini? Lama nggak nulis lagi, lama nggak BW lagi. Nggak tahu mau kasih alasan apa selain sok sibuk memantau berita mengenai virus Corona. 🙈

Padahal kalau dipikir-pikir, lagi Work From Home (WFH) lho, jadi bisa lebih santai. Ya pikirannya gitu, kenyataannya? 😁

Jadi pengen sharing tentang tip belanja di masa pandemi seperti saat ini, mungkin temen-temen juga punya pengalaman dan tip sendiri, bisa dong dibagi, kita saling berbagi yes..


Beberapa hal yang sering saya lakukan saat harus keluar berbelanja adalah:
1. Minimalisir Bawaan
Biasanya saat berbelanja Saya pasti membawa gawai karena sudah membuat daftar belanja sebelumnya di catatan. Tapi semenjak ada Corona Saya menulis daftar belanjaan di kertas. Bahkan dompet dan tas cantik pun udah nggak ada semua, WFH juga mereka. Digantiin kantong plastik bekas dari rumah atau goodie bag. Hehehe

2.  Minimalisir Sentuhan
Sentuhan yang saya maksud ini apa saja ya, mau pegang barang biasanya kan kita kalau belanja tuh suka iseng tangannya pegang ini itu (pliiss, jangan bilang cuma tangan saya aja yang iseng. Wkwk 😂), sekarang tuh benar-benar seperlunya saja. Nggak cuma tangan, badan jangan sampai nyender ke sana ke mari diusahakan sekali nggak menyentuh apa-apa.😊

Menurut saya cara ini cukup efektif menjaga kebersihan tangan, nggak kalah lah dari opsi pakai sarung tangan plastik, tangan yang dibungkus plastik, bahan pakai handskun. Tapi nggak menyalahkan yang mau pakai pelindung tangan yang lain ya, nggak apa-apa silakan, namanya juga usaha.

Oh iya ini termasuk dalam upaya perlindungan diri ya, jadi menjaga jarak, pakai masker dan tidak menyentuh bagian mata, mulut dan hidung. Semuanya termasuk dalam poin ini.

3. Sebelum Masuk Kendaraan Bersihkan Tangan
Nah ini nih yang suka bikin tangan kering. Sebelum pegang gagang pintu mobil dikasih hand sanitizer dulu lewat jendela mobil baru buka pintu (bahkan seringnya dibukain pintu dari dalam). Dan biasanya biar sekalian jalan gitu, jadinya kan banyak singgah tuh, ya otomatis banyak pakai hand sanitizer juga, syukur-syukur kalau ada tempat cuci tangan, biasanya ada kok di depan tempat belanja.

Dan, jangan lupa kalau mau cuci tangan di tempat umum, itu keran airnya dikasih sabun juga, begitupun dengan hand sanitizer, tempat pencet nya tuh dikasih hand sanitizer juga biar steril semua. Insya Allah.

4. Cuci barang belanjaan
Kalau barangnya nggak buru-buru untuk dipakai biasanya saya diamkan dulu di mana gitu, atau biar di mobil aja dulu, nanti setelah beberapa hari dan udah agak santai baru deh dicuci.

Tapi, kalau memang buru-buru biasanya barang belanjaan akan langsung dicuci dulu, di-treatment sebaik mungkin lah sebelum digunakan, termasuk makanan.

5. Langsung Membersihkan Diri
Nah, ini yang jadi kebalik dilakukan sekarang. Biasanya sebelum keluar rumah kita mandi dulu biar wangi gitu ketemu orang-orang ye kaaan. Sekarang, ya udahlah nanti pulang aja sekalian mandinya. Iya nggak sih? 😁

Apalagi kalau ada anak kecil kan. Harus serba hati-hati banget. Gak mau nyentuh apa-apa dulu gitu termasuk anak. Pokoknya sudah bersih semua, sudah ganti baju, baru deh boleh gendong anak yang udah dari tadi merengek-rengek minta digendong. 😁

Kasihan, tapi kan demi anak juga. Iya nggak?

***

Nah, itu tadi beberapa tip dari saya saat harus keluar untuk berbelanja agar tetap terhindar dari paparan virus Corona. Beberapa cara kita mungkin sama tapi bisa jadi teman-teman punya tambahan. Sharing aja di kolom komentar.

Tidak lupa Saya doakan kita semua selalu sehat dan semoga pageblug ini segera selesai. Aamiin.
Read more

12 Mar 2020

Merasa Gak Sih?

Holaaa..

Ngubek-ngubek draf di blog, ternyata masih banyak juga tulisan yang ngetem lamaaaaa bnaget di draf. Haha

Nah, kebetulan sekarang lagi rajin, saya buatin saja gambarnya, biar gak sunyi senyap saat membaca.. hehe..

So, here is it, tulisan lama yang keadaannya semoga bisa termakan oleh waktu alias jadinya pada merasa. *I hope so..



Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan tatapan kita?


Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan rasa penasaran kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan pertanyaan kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan komentar kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan penilaian kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan gaung dari bisik-bisik kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan perbandingan kita?

Merasa gak sih?
Hidup orang yang sudah tenang sering kita ganggu dengan nyinyiran kita?

Merasa gak sih?
Hidup kita yang cuma sebentar ini terlalu banyak kita habiskan untuk mengurusi hidup orang lain...

Sebuah renungan, untuk saya, kamu, kita...

Entah ditulis di mana,
16 Agustus 2017
Read more

9 Mar 2020

Anak Saya Diasuh Omanya, Apakah Saya Berdosa?

A: "Ir, mana anakmu?"
S: "Oh, ada, di rumah."
A: "Siapa yang jaga?"
S: "Omanya."
A: "Eh, berdosa kamu.. Sejak kecil kamu diasuh, sekarang sudah punya anak, anakmu lagi yang diasuh."

Itu salah satu contoh percakapan tentang pengasuhan anak yang saya jalani sejak kembali bekerja. Macam-macam sih tanggapannya. Ada yang mengingatkan seperti percakapan di atas, ada yang mengatakan saya beruntung karena orang tua masih hidup.


Tidak ada yang salah sebenarnya. Karena dalam kondisi apapun, saya memang beruntung orang tua saya masih hidup. Bukan semata karena saya punya orang yang bisa saya titipi dengan tenang, tapi karena saya beruntung mempunyai banyak waktu bersama, dan semoga waktu yang diberikan Allah itu bisa saya isi dengan membahagiakan mereka walau hanya seujung kuku. Karena berharap untuk mengganti jasa kebaikan mereka adalah sebuah keniscayaan. Takkan pernah kembali ke nol seperti pertamina. Hee...

Dan pada peringatan dosa yang diberikan. Alhamdulillah saya tahu betul tentang itu. Setiap detik saya menitipkan anak saya, saya berdosa kepada orang tua saya yang seharusnya menikmati masa tuanya tanpa beban. Itulah mengapa saya berkantor dengan penuh rasa tidak enakan, sebisa mungkin pulang cepat ke rumah dan mengambil alih anak walau tetap saja menyisakan berantakan yang berakhir menambah pekerjaan orang tua saya lagi.

Kadang saya membayangkan, bagaimana jadinya saya mengasuh anak tanpa ada bantuan dari orang tua bahkan adik-adik saya? Ada merekapun saya tetap saja kelaparan. Sudah ada merekapun, saya tetap saja merasa kurang ini itu. Sungguh saya ini ibu yang sangat lemah...

Tapi, apa benar saya berdosa, jika menitipkan anak pada orang tua adalah hasil rekonsiliasi panjang antara saya dan orang tua saya?
Apakah saya berdosa jika menuruti keinginan orang tua untuk tidak mencari asisten rumah tangga yang saya niatkan sekadar untuk meringankan beban orang tua saat harus dititipi anak saya? Dan tawaran ini sering saya ajukan seiring berjalannya waktu.

Apakah saya tetap berdosa jika saya terus menerus dihinggapi rasa bersalah karena membuat tubuh tua mereka lelah seharian mengurus anak saya?

Apakah saya berdosa jika menuruti keinginan orang tua agar terus bekerja daripada menjadi "orang gila" karena mau resign dari pekerjaan hanya untuk mengasuh anak sendiri? 😅

Insyaallah, semoga jawabannya adalah tidak. Allah maha mengetahui segala masalah yang melatar belakangi keputusan yang saya ambil dalam keluarga. Lalu apa hak orang mengatakan saya berdosa? 🙄

Saya tahu, saya hanya diingatkan. Tapi mohon maaf, saya juga hanya ingin mengingatkan, jangan berani berkomentar frontal jika tidak mengetahui masalah. Jadinya sempat nancep juga kata berdosa itu di hati saya yang lemah ini. 😬

Bukannya saya baperan, tapi sungguh kata-kata itu seperti vitamin penumbuh untuk rasa tidak enakan saya terhadap orang tua. Kalau toh akhirnya setuju setelah mengetahui permasalahan kenapa kata-kata itu harus dilontarkan? Apa salahnya bertanya dahulu sebelum melempar hasil penilaian dewan juri? Mas Anang pun bukan lho anda ituuuhh! 😜

Seperti inilah contoh kebanyakan dari kita. Mendahulukan asas praduga bersalah baru kemudian--untung-untung kalau mau tahu--mahfum setelah mengetahui duduk perkara. Ckck.. 😏

Percayalah, setiap keputusan dibuat melalui pertimbangan, maka sebaiknya pulalah penilaian-penilaian sok tahu kita itu dihapuskan, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan.. Nah.. Kek naskah undang-undang dasar kan jadinya.. Ckck 😌
Dan lagi-lagi saya "colek" para suami di luaran sana. Istrinya didukung terus ya, Pak, banyak hal yang bikin istri lelah di luaran sana juga, walaupun citra istri itu kebanyakan cerewet, tapi bisa jadi istri tidak cerita (kecuali ditanya?), salah satunya ya menerima pernyataan, penghakiman, penilaian seputar pilihan gaya pengasuhan, body shamming bahkan baby shamming.. Saling dukung, syurga menanti keluarga kalian. Aamiin..

Tag suaminya ya mom.. *ala-ala postingan FB dan IG yang tag bait. Wkwk.

Ohiya, sebaliknya, istrinya juga dinasehati, saling menasehatilah, biar gak jadi orang yang komentar seenak hati dan ampelanya eh.. mulutnya! 


Jangan lupa bahagia ibu-ibu hebat! *sending a big virtual hug* 🤗🤗 
Read more

4 Nov 2019

Wahai Para Suami, Dukung Istrimu Memberikan ASI Eksklusif

Pagi itu di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesi (AIMI) saya baca tentang curhatan seorang ibu menyusui. Ibu hebat itu produksi ASInya wow menurutku, gak bisa dibandingkan dengan pencapaian memerah ASI saya selama ini.

Tapi sekarang produksi ASInya menurun (yeah.. Just like me now), bagusnya dia tahu penyebabnya, dan sayangnya penyebabnya sedih, dia teringat anaknya yang meninggal karena saat itu dia gagal ASIP (don't really know the detail).

Saya yang gak pernah komentar akhirnya buru-buru mengetikkan isi hati. Mostly pujian untuk ibu itu. Kenapa? Karena memang dia ibu yang hebat! Dalam kondisi apapun ibu selalu hebat. Agree?

Baca juga: Stop Mom War, Semua Ibu adalah Pejuang

Tapi sayangnya, banyak yang abai dengan kehebatan dan gejolak -mulai dari hormon hingga berujung pikiran- yang dialami seorang ibu. Kita bicara kondisi sekarang, Ibu menyusui.


Apa sih Istimewanya Menjadi Ibu Menyusui?

Mungkin banyak yang berpikir apa sih istimewanya jadi ibu menyusui? Semua ibu melakukannya, itu kan hak anak, nothing special.

Berkomitmen untuk memberikan ASI pada anak tidak semudah itu Ferguso. Saya gak bicara sebagai keluhan, bukan.. Tapi ingin lebih mengingatkan lagi.. Terutama untuk Suami dan keluarga terdekat, jadilah pemberi dukungan terbaik untuk para ibu menyusui. Mereka lelah, tapi tak mengeluh.. Berikan sedikit saja pujian, it will means a lot. Beside that, they deserve it, right?!

Ibu sih gak gila pujian, tapi sungguh pujian, bantuan, bahkan hanya sekadar menawarkan bantuanpun bisa membuat ibu mewek, merasa didukung. Iya, ini pengalaman pribadi banget...

MengASIhi itu harus keras kepala. Banyak hal yang menjadi tantangan bagi ibu menyusui. Mulai dari ASI yang "dirasa" tidak cukup, puting lecet, luka.. Bener-bener luka karena digigit, mastitis, bayi menolak menyusu, bayi sudah minum banyak tapi ujung-ujungnya gumoh, bayi menyusu tapi harus nempel berjam-jam bahkan seharian, harus pompa ASI di tempat kerja, sudah pompa tapi hasilnya sedikit, pas hasil pompanya banyak malah tumpah, omongan orang dengan segala kepercayaan gak benernya, hantu sufor dan yang paling berat itu kalau ibu sudah baby blues.. huftthh.. Seriusss.. Banyak hal yang melelahkan.. Menyedihkan.. Kalau gak keras kepala, bisa bubar sebelum buka beha naik panggung. Wkwkwk..

"Bukannya kalau segala sesuatu dijalani dengan ikhlas, semuanya akan terasa ringan?" Aduuhh.. Gemes kalau ada yang menimpali seperti itu. Kami para ibu juga wanita, ingin dimengerti dengar tutur lembut dan laku agung.. Ealahh.. Malah nyanyi.. Wkwk..

Jadi gini Bambang.. Kami para ibu juga manusia, bisa lelah, butuh bantuan fisik maupun finansial, butuh dukungan walau terlihat setrong! Si baby lucu itu memang anak kami, tapi apa bukan anak sesesuami juga? Pliisss pakbapak.. Istrinya didukung, kadang cukup didengarkan saja, dikasih pukpuk saat dia menangis itu sungguh seperti air hangat yang diminum dan mampu membantu produksi ASI.

Tunjukkan kepedulianmu pakkk, jangan mentang-mentang ada ibu atau mertua yang bantuin, anak nangis kejer juga si lelaki yang katanya bapaknya itu malah tetap asyik tidur. Bangun pliiiisss, tanyain kenapa, dampingi dan pastikan kebutuhan kasih sayangnya terpenuhi. #EhGimana? 😅

Sering-sering baca artikel tentang perkembangan anak ya pak bapak, perlu banget baca ayahasi.id, kan yang wajib mengasuh anak bukan cuma ibunya saja. Bahagianya perempuan itu sebenarnya receh kok.. Perhatian adalah kuntji!

Baca juga: 5 Alasan Ibu Tidak Menitipkan Anak pada Kakek Neneknya

Repot Amat, Kasih Susu Formula aja Biar Bebas

Aduuhh.. Ada rotan yang biasa dipake buat mukul kasur yang dijemur gak seeehh.. Kupengen kasih pukpuk ke orang yang ngomong gitu.

Berbicara tentang kebebasan, memang ibunya kemungkinan besar akan bebas, bisa ganti shift dengan suami untuk kasih minum bayi apalagi saat subuh. Tapi aduhaiii.. Bisa mastitis juga kami kalau ASInya gak dikeluarin, atau dipompa? Kalau bisa Direct Breast Feeding (DBF) aka menyusui langsung kenapa harus dipompa? Apalagi dikasih sufor.. Big No!

Menyusui juga satu bentuk kesyukuran kami lho.. Ada banyak di luaran sana ibu yang mati-matian berusaha agar bisa mengASIhi anaknya, apa kabar kalau saya kemudian memilih kasih sufor saja supaya bebas, gak rempong. Sama sekali gak ada dalam pikiran saya.

"Yaaa, daripada rempong kan?"

Rempong-rempong kayaknya memang sudah bagian dari rumah tangga dehh.. Kalau ngomongin rumah tangga itu kan intinya SALING.. Saling mengerti, saling menyayangi, saling dukung.. Jangan pas leha-leha aja mau, pas urusan rempong diserahkan ke istri semua, di mana salingnya Bambaaaang?

Udah ahh.. Udah cukup panjang lebar kayaknya saya ngomong, padahal sejak awal intinya cuma dukungan, caleg aja didukung, masa istri sendiri nggak sih? 😅
Dan tolong, siapapun kalian yang membaca tulisan saya ini, tolong banget, jadilah bagian dari support system terbaik, tersweet bagi busui dalam lingkungan keluargamu, kalau belum ada, lingkungan pergaulanlah.. Ngomong yang baik-baik, tebarkan energi yang baik. Saya doakan, umur kalian berkah.. Aamiin

Ini jarang-jarang lho tulisan saya ditutup permohonan seperti ini. Gemes banget soalnya... Wkwk..

Yasudahlah.. sudah keluar juga salah satu topik yang menyita perhatian saya ini.. Buat para busui, keep strong! Kita sama-sama belajar, perbanyak baca atau tanya sana-sini, selalu percaya ASImu selalu cukup. *peluk dari jauh*

Ummu Aqif
Read more

16 Jul 2019

Episode Baru LDM: Sungguminasa

Long Distance Relationship (LDR) atau yang lebih suka saya sebut sebagai Long Distance Marriage (karena statusnya sudah jelas..wkwk) sebenarnya bukan hal yang baru dalam pernikahan kami. Latar belakang pekerjaan suami yang bekerja di sebuah organisasi yang dinamis membuat keluarga kami harus siap dengan segala kemungkinan pindah.

Tapi saya percaya, bahwa setiap penetapan melalui Surat Keputusan yang di dalamnya tercantum nama suami, akan mempunyai episode, rasa dan ceritanya masing-masing.

Termasuk saat suami menelepon saya 8 Juli kemarin.. Saat dimana Episode baru LDM kami kemudian dimulai..

Hari itu cukup hectic, saya yang sedang izin untuk mengantar Aqif ke posyandu dan mengurus makanan menu 4 bintang pertamanya dibuat kaget dengan kabar kelulusan suami.

Suaranya pelan diujung telepon, antara senang dengan pencapaian suami yang hanya coba-coba mengikuti tes, penempatannya tidak jauh seperti yang kami takutkan, atau harus sedih karena waktu keberangkatan yang begitu mendadak. Tidak ada tawar-menawar, besok (9/7/19) suami sudah harus berangkat menuju Sungguminasa. SHOCK!


Ya, walaupun di telepon saya tetap mengucap Alhamdulillah, tapi saya tidak bisa berbohong dan menyembunyikan rasa kaget saya. Saya coba berpikir panjang dan mencari celah agar rasa syukurlah yang mendominasi.

Hebatnya pikiran saya, saya masih sempat berpikir memback up kegiatan saya besok yang harusnya mendata di lapangan tapi yakin pasti akan tersita dengan aktivitas packing dan mengantar suami ke bandara.

Beruntung saya berhasil melakukan wawancara untuk 3 usaha dalam waktu yang cukup singkat dalam cuaca yang cukup mendung. Alhamdulillah Allah mudahkan.

Menjelang Magrib suamipun pulang, membawa segala harta bendanya yang ada di kantor dan dari mobil dinas. Dan runtuhlah sudah ketegaran yang coba saya bangun saat melihat suami menggendong Aqif dengan wajah sedih dan tatapannya yang entah dilayangkannya ke mana. Saya hanya bisa menghibur dan pastinya ikutan mewek... 😥

Benar kami tahu suatu saat akan ada kepindahan dan LDM seperti ini, tapi entahlah, kami mungkin tidak pernah benar-benar siap, semuanya masih terasa mengejutkan. Hati kami tidak pernah kami siapkan, terutama dalam waktu secepat ini.

Malam itu juga, kami adakan makan malam dadakan, mertua dan bapak saya yang sangat susah diajak makan di luar rumah, Alhamdulillah sangat kooperatif dengan sedikit bujukan. Kami makan bersama, mencoba membangun kebersamaan yang entah kapan bisa seramai malam itu lagi, minus adik ipar dan keluarga kecilnya.


Keesokan harinya, sejak pagi kami sibuk packing, saya ke kantor sebentar untuk handkey, kebetulan hari itu jadwal saya untuk ke lapangan, jadi tidak wajib stay di kantor. Kewajiban sudah saya siasati kemarin, saya bisa fokus untuk galau mengantar hari ini.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal selain kenangan di rumah, sebagian barang-barang keperluan milik suamipun dimasukkan ke mobil. Kami menuju bandara dengan perasaan yang bercampur aduk.

Saya sudah berpikir mengatur siasat dalam memutus rantai panjang rindu nanti, kemungkinan terbaik dari segi waktu adalah saya dan Aqif yang berangkat ke Makassar. Masalah uang dan kesiapan Aqif akan dipikirkan belakangan. Sungguh kesempatan ini sudah cukup mengangkat sedikit remahan galau dalam skenario penuntasan rindu.

Cukup cepat kami tiba di bandara. Setelah melakukan check inn, suami dan rekannya keluar lagi. Kami bercengkrama mencoba berquality time sebaik mungkin. Saya masih mencoba tegar dengan melakukan senyum palsu melalui selfie.

Waktu semakin sempit, mau tidak mau suami harus pamit untuk menuju ke ruang tunggu. Saya mewek lagi melihat suami yang membuang nafas panjang saat harus melepas Aqif. What a heartbreaking moment. 😞

Malam menjelang tidur, saya siapkan gambar untuk diposting di Instagram, untuk mengenang momen shock ini, tapi ternyata saya malah sudah tidak bisa berpalsu-palsu lagi. Saya memang tidak perlu pura-pura tegar lagi di depan suami dan keluarga, hanya ada Aqif yang tertidur. Saya sudah bebas berekspresi menumpahkan kegalauan... Besoknya mata bengkak dong! Wkwk..

Dan sekarang, beberapa hari sudah berlalu, rasanya masih saja ada yang hilang, teringat di bandara, saya sudah menghitung kemungkinan untung rugi jika suami harus pulang, Makassar-Kendari memang tidak begitu jauh jarak tempuhnya melalui pesawat, tapi jika harus pulang Sabtu dan kembali hari Minggu, rasanya terlalu cepat.

Saya cek lagi jadwal penerbangan di aplikasi Pegipegi. Sudah agak turun sih ya harganya, dan ada jadwal penerbangan yang mendukung saya jika harus berangkat malam hari.

Tau diri dong saya, bukibuk bawa bayi dan jika ingin pergi bersama, mau tidak mau harus ada bagasi. Saya cek tiket pesawat citilink, duh lumayan banget apalagi kalau sudah dipotong diskon gede yang ditawarkan pegi-pegi. Beneran gak nyangka diskonnya sebesar itu, enak bangetlah kalau mau beli tiket pesawat online.


Dan waktu ngecek-ngecek harga tiket pesawat, saya menemukan keunggulan aplikasi terbaru pegipegi ini, apa coba? Tuh, titik 3 di sudut kanan atas. Itu memudahkan banget kalau ingin melihat kode promosi yang mungkin lupa dicopy. Nyenengin bangetlah kalau mau merencanakan perjalanan pakai pegi-pegi.

Soon, Insyaallah segera ketemu lagi ya Beb, Aqif juga rindu, sejak ditinggal tidur malamnya tidak senyenyak biasanya. Tidur siang juga berantakan. Ngaruh di baby juga ternyata LDM itu.. Pengaruh di emaknya mah jangan ditanya.. Huhu..

Teman-teman ada yang LDM juga? Sharing cerita dooongg..
Read more

1 Jul 2019

Drama Penentuan Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Hellooo.. Ibu baru ini kembali menyapa sambil bersih-bersih sarang laba-laba di blog. Hihi..

Harap maklum, kesempatan menulis kegencet urusan domestik dan usaha untuk menjadi wanita kuarier yang gak nyusahin teman sesama staf.. (yeah.. I think i have to tjurhat in this blog about my guilty feeling.. Soon, maybe? 😝).

Oke, kita fokus pada drama penentuan HPL dulu yess.. Seperti yang teman saya bilang di kolom komentar postingan berjudul Kehamilan Trisemester Ketiga, si bayik sudah mau MPASI dan cerita drama melahirkan yang ditunggu-tunggu itu belum juga terkuak itu belum juga saya ceritakan. I have to write it, ASAP!

Kenapa temen saya melit (kepo) banget? Entahlah, dia dan banyak orang mungkin tidak menyangka bahwa harus melalui 2 kali induksi. Jangankan mereka, saya saja terkejoet terheran-heran.. Wkwk.. Tapi apapun itu, skenario dari Allah tidak bisa diprediksi, all we have to do are.. Berdoa, berusaha dan BROJOL sesuai keyakinan masing-masing! 😅

Iya kan? Bahkan pada suatu titik yang telah kita usahakan, kalau keadaan tidak memungkinkan, mau tidak mau kita harus menyerah pada keadaan, seperti yang saya rasakan, NYARIS!!!

Yuks mulai..


Drama Penentuan HPL
Sebagai seorang bumil (pada waktu itu), saya tentu saja banyak mencari referensi melalui internet, terlebih lagi pengalaman dari teman-teman yang sudah melahirkan, baik yang berada pada satu satuan kerja dengan saya, ataupun yang berada di pulau lain. Pengalaman dari dokter ini, inu, dan itu.

-Dokter S-
Dokter S adalah dokter yang selama hamil rutin saya kunjungi, sejak usia kandungan 8 bulan, beliau memberikan tanggal 1 Januari 2019 sebagai HPL saat saya meminta surat keterangan untuk kelengkapan pengajuan cuti di kantor.

Wah.. Tanggal cantik banget, tapi juga mengkhawatirkan karena pada saat itu adalah hari libur, takut nakes dan orang-orang yang terlibat malah sedang susah dihubungi atau apalah..

-Dokter A-
Karena saya berencana melahirkan di rumah sakit lain di Kota Kendari, saya kemudian mencoba memeriksakan diri pada dokter kandungan yang diketahui bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.

Tempat prakteknya juga di RS tersebut. Pengalaman pertama di bagian registrasi sudah kurang mengenakkan, tapi namanya kita lagi butuh ye kan? Jadi disabar-sabarin.. Fiuhh..

Tiba saatnya saya diperiksa, dokter langsung menyatakan bahwa HPL saya sudah tinggal menunggu waktu, rentangnya 1 - 15 Desember 2018. Sontak saya dan suami langsung beradu pandang *yaelah, kek sinetron yak?! 😆* pikiran saya kemudian melayang memikirkan pekerjaan saya yang masih banyak di waiting list. 😅

Next.. Saya tentu saja jadi galau dan mencari third opinion..

-Dokter I-
Nah, di tengah kegalauan hati tentang second opinion yang tak beririsan bagai diagram venn itu, saya tidak sengaja dapat info bahwa dokter I juga bekerja sama dengan RS yang ingin saya gunakan untuk melahirkan.

Oke fix, dapat waktu yang cocok untuk periksa, sayapun merasa cocok dengan dokter I. HPL dari dokter I adalah tanggal 25 Desember 2018. Alamak nakk.. Kamu suka sekali hari libur yak? Hihi..

Sejak usia kandungan 9 bulan, setiap minggu saya memang memeriksakan kandungan. Mungkin kunjungan ketiga atau keempat saya mulai kabur lagi dari dokter I. Kenapa? Karena menurut hasil pemeriksaan dokter I, ketuban saya mulai keruh, paling lambat tanggal 26 Desember saya sudah harus "menyerahkan diri" dengan atau tanpa rasa sakit. Pilihannya adalah induksi.

Duhh.. Sudah sering deh dengar cerita sakitnya induksi, saya gak mau, lebih-lebih orang tua saya yang menginginkan saya melahirkan dengan cara alami, gak pake diinduksi aka dirangsang terlebih dahulu.

Maka kembalilah saya ke dokter S..

Dokter S bilang, kalau keruh sih nggak ya.. Dalam rentang waktu 1 sampai 3 hari dari waktu pemeriksaan kondisi bayi dan ketuban masih aman, saya tidak lupa untuk menanyakan kemungkinan melahirkan secara normal, dan dokter memberi sinyal operasi karena kondisi bayi yang besar. OMG!

Saya kabur lagi dong.. Induksi aja tak rela apalagi harus Sesar..Wkwk 😅

Tidak menunggu lama, keesokan harinya saya langsung ke dokter L

-Dokter L-
Sudah banyak yang bilang bahwa dokter L bagus, tapi karena rumah sakit tempat beliau kerja bukan tujuan saya, jadi tidak saya lirik sama sekali. Baru kemudian saat mencari (udah berapa nih? 😅) third opinion yak? Saya akhirnya mengantri untuk diperiksa.

Kesan pertama enak banget, dokternya lembut dan menjelaskannya sabar, gak buru-buru, dan yang paling penting, sangat menenangkan sekali.

Hasil pemeriksaan beliau bilangnya ketuban memang keruh, tapi bisa jadi karena kulit bayi atau hal lainnya. Ahayyyy... Dari sini niat untuk menunggu rasa sakit alami yang datang itu makin mantap! Kami sekeluarga lega karena dokter S bilang masih bisa menunggu sampai tanggal 10 Januari.😊

Seminggu berlalu, saya masih belum merasakan sakit apapun, sampai pada tanggal 3 Januari jelang Magrib saya mulai merasakan sakit, semakin lama makin sakit, orang tua bilangnya belum, pembukaannya masih kecil, apalagi anak pertama gitu, masih "cari jalan" istilahnya.

Sampai tengah malam saya tetap tidak bisa tidur, meringis kesakitan terus, orang rumah siaga, sekitar pukul 1 tengah malam, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit dengan bekal surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami persiapkan. Sesampainya di rumah sakit, ternyata surat rujukan dari faskes tingkat I yang sudah kami siapkan salah!

What The ...¥£€¢¤π©®!!

Bersambung

Note:
Berdasarkan pengalaman dan hasil nanya-nanya ke teman-teman, HPL (seperti juga namanya perkiraan) memang hanyalah perkiraan dari dokter saja, hanya rentang waktu, bisa jadi lahirannya lebih cepat, bisa jadi lahirannya lebih lama dari HPL, bahkan ada yang bisa tepat. Tinggal gimana tanda-tanda alam itu muncul aja sih.. Semua kembali pada ketetapan Allah, dokter hanya menganalisa melalui keilmuan yang dimiliki.

Makanya, kalau kebetulan kamu yang baca ini juga sekota dengan saya, jangan menganggap saya menjelekkan dokter ini atau itu.. Semuanya punya keunggulan masing-masing, bukankan dokter itu seperti penjahit? Cocok-cocokan seyyy.. Kamu cocok di dokter ini, belum tentu saya cocok di dokter yang sama. Begitupun sebaliknya. 😊

Daan.. Kalau kamu yang membaca juga galau seperti saya (menentukan HPL), tetap berpikir positif dan pilih deh yang mana yang kamu yakini, ini kalau mau nunggu tanda-tanda alami ya.. kalau mau sesar mah bebas, tinggal cari tanggal cantik berikut persiapan yang sudah oke juga. 😆

Kalau kamu kepo sama cerita kehamilan saya, nih saya kasih linknya :D :
Kehamilan Trisemester Pertama
Kehamilan trisemester kedua
Link semester ketiga ada di awal tulisan yess..

Buibuk ada yang punya pengalaman serupa dalam menentukan HPL? Share di kolom komentar ya..

Read more

13 May 2019

Kehamilan Trisemester Ketiga

Hellooooo...

Tulisan berseri ini sepertinya kurang afdal kalau tidak saya selesaikan, walaupun sudah banyak lupanya. Ya maklum.. Mungkin tergerus oleh galau menetukan HPL, galau mengikuti HPL yang berbeda-beda dari dokter, atau hilang semua saat menahan sakit induksi..

Aahh.. Jadi spoiler kan..huhu..

Jadi sebisa mungkin tulisan seri kehamilan ini saya lanjutkan, bukan hanya buat nambahin tulisan di blog aja, tapi juga untuk pengingat saya yang pelupanya aduhai ini..

Akhirnya tulisan tentang kehamilan trisemester pertama dan kehamilan trisemester kedua ada lanjutannya juga, terharuuu..

Let's start 😊


Bulan Ketujuh Kehamilan
Kehamilan bulan ketujuh rasanya gak banyak hal yang baru selain sudah mulai sesak tidur telentang. Memang sih, dokter menyarankan untuk tidur menyamping terutama menghadap ke sebelah kiri, kanan boleh, tapi jangan lama-lama, telentang sifatnya terlarang karena bisa menghambat supply nurisi dari ibu ke bayi.

Padahal, kalau ngikutin sebelum-sebelumnya nih, saya lebih nyaman tidur telentang. Walaupun saat mulai tidur dipaksakan untuk menghadap ke kiri dan ke kanan, ujung-ujungnya pas bangun atau terbangun, ya dalam posisi telentang juga. Hehe..

Diusia kehamilan ini saya juga masih rutin memeriksakan diri ke dokter, USG untuk memantau kondisi bayi. Saya lupa kapan tepatnya USG 3 Dimensi (3D), sepertinya dibulan ini. Katanya sih memang usia kandungan yang ideal untuk melakukan USG 3D, sebelum si bayi menyembunyikan identitasnya wajahnya alias sudah mulai ngambil posisi sujud.

Bulan Kedelapan Kehamilan
Bulan kedelapan ini sudah mulai merisaukan posisi kepala bayi yang sejak bulan ketujuh sudah ada di bawah, tapi belum juga mulai turun. Dari beberapa kali pemeriksaan ada kerisauan tentang tali pusar yang melilit juga (bulan ketujuh) tapi dari hasil USG bulan kedelapan ini, dokter bilang sudah tidak lagi ada lilitan. Pakai cara ngomong ke janin, entah emang ngaruh apa nggak. Biasa, hasil searching di internet. 😅

Bulan Kesembilan Kehamilan
Bulan puncaknya kehamilan, karena dibulan ini segala rasa was-was muncul. Harusnya begini-begitu, harusnya ini-itu, segala hal seperti sebuah target yang harus dicapai.

Dimulai dari posisi kepala janin yang Alhamdulillah sejak akhir bulan kehamilan sudah mulai berada di bawah. Kemudian dilanjutkan dengan kepala bayi yang tidak kunjung turun memasuki pinggul. Walaupun aktivitas yang disarankan seperti banyak jalan pagi dan naik turun tangga sudah saya rutinkan, kepala janin tidak juga kunjung masuk ke pinggul. Ini jadi perhatian banget karna target saya adalah melahirkan normal. Tapi kalau teman saya waktu itu bilangnya dia juga gitu sih (sudah melahirkan 3 anak secara normal), kepala janinnya turun sesaat sebelum bayi lahir. Gak perlu jadi beban pikiran, tapi ya.. Tetap sajaaaa.. Huhu..

Hal yang juga menyita banyak pikiran saya adalah Hari Perkiraan Lahir atau yang sering disingkat HPL, karena terkait erat dengan penentuan tanggal cuti. Ternyata semakin banyak mengunjungi dokter, saya semakin bingung, berharap mendapati perkiraan yang saling menguatkan, ternyata malah kebanyakan beda, bahkan ada yang melesat jauh dari HPL lain. Huahhh..

Di bulan kesembilan ini tidur malam semakin berkurang, sementara yang saya baca untuk balas dendam tidur di waktu pagi (yang mengalami pasti tau, pagi itu bakal ngantuk banget karena semalaman udah begadang) sebaiknya dihindari, karena memang ada efek buruknya secara medis. Siang juga sedikit saya kurangi dengan tetap mengikuti aktivitas luar rumah dihari libur.

Mama ingin saya melahirkan di rumah sakit yang berbeda dengan tempat saya sering kontrol, maka memasuki bulan kesembilan juga, saya mulai "kenalan" dengan dokter ahli kandungan yang baru.

Sementara itu, berat badan bayi terus bertambah secara konsisten setiap minggunya. Dokter yang saya temui setiap minggu itu sudah memberi batasan, paling lambat tanggal 26 Desember sudah harus masuk ke rumah sakit, dalam keadaan sakit (sudah ada pembukaan) ataupun tidak.

Galau..

Bersambung di tulisan berikutnya ya.. Harus banget ditulis tersendiri.. Hehe

Read more

10 Feb 2019

Jika Siap Memiliki, Maka Kaupun Harus Siap Melepaskan

Hidup sesungguhnya seperti merentangkan tangan. Siap kehilangan untuk kemudian memiliki hal yang baru.

Tidak pernah akan sejalan rasa memiliki dan rasa kehilangan.

Hal itu saya rasakan saat ini. Saat di mana saya berbahagia karena kelahiran anak pertama saya, tapi disaat yang sama, saya harus kehilangan banyak hal. Sejatinya bukan hanya saya, tapi juga suami, kedua orang tua, mertua, dan adik-adik saya.

Bukan, saya bukannya tidak bersyukur. Saya mengajak diri saya sendiri dan mungkin orang lain untuk merenungi bahwa ada hal yang harus ditukar dalam hidup ini. Tidak bisa semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Dan bukan hanya saya sendiri yang merasakan kehilangan.


Saya beri contoh dari keluarga saya sendiri.

Saya
Setelah melahirkan, jangan tanyakan betapa bahagianya saya. Tapi selanjutnya, saya harus bertanggung jawab mengurus anak saya, salah satu sumber kebahagiaan baru saya. Dan demi semua itu, saya harus rela kehilangan waktu saya, mengubah ritme kehidupan saya.

Yang paling mencolok adalah saya harus kehilangan ritme tidur yang selama ini bisa saya atur sendiri. Paling buruk hanya tidur beberapa jam dalam semalam. Tapi sekarang, bisa tidak tidur semalaman.

Tidak hanya tidur, bahkan urusan BAK dan BAB pun, saya harus menyesuaikan dengan waktu si kecil. Tidak jarang saya harus bersabar menunggu selama berjam-jam hanya untuk "ke belakang". Ya.. Semua tahu bahwa hal ini sangat tidak sehat. Akan saya kemukakan alasannya kenapa, nanti. Ah.. Sungguh drama setelah melahirkan yang tak usai.

Suami
Suami, mau tidak mau harus kehilangan tidurnya yang tenang, sesekali saya bangunkan dia ditengah malam, walau dengan banyak perasaan tidak enak dan kasihan (entah suami sadari ini atau tidak). Yang jelas sebisa mungkin tidak membebani dia, saya tahu, walaupun tidak banyak bercerita, pekerjaan sudah cukup membuat dia lelah. Toh, waktu istirahatnya di akhir minggu sudah tergadai oleh cucian yang tidak pantas berada di laundry. Atau membantu hal lain di rumah.

Tapi kan, si kecil tanggung jawab bersama.. Sudah sepantasnya suami ikut membantu. Kenapa harus kasihan? Ya.. Memang. Suami tentunya ikut membantu dengan ritmenya sendiri. saya masih belajar menjadi orang tua, begitupun dia. Semoga nanti ritmenya sudah bisa sama. Saya juga sudah hilang gak enakannya.

Orang Tua
Orang tua, terutama mama. Saat ini banyak kehilangan waktu istirahatnya. Kalau saya mengurus 1 bayi kecil dan kadang masih harus mengurus 1 bayi besar yang sudah lama tidak diperhatikan. :p Mama harus mengurus 1 bayi kecil dan banyak bayi besar di dalam rumah. Anak saya, saya (yang kembali seperti bayi, diperhatikan makan-minumnya, pakaian, istirahat dan asupan gizinya), suami saya, kedua adik saya dan yang menjadi tanggung jawab terbesarnya, bapak.

Loh, semuanya kan sudah besar, bisa mengurus dirinya masing-masing. Nope.. IMHO, para pria (maaf gak maksud apa-apa dan semoga kamu tidak termasuk), punya sifat dan kecenderungan untuk dilayani. Padahal dalam rumah tangga seharusnya tidak seperti itu. Pria-pria di rumah juga sebenarnya tidak meminta itu. Tapi seriusan, kalau mama mau cuek saja, makanan tidak akan tersedia, piring-piring kotor menumpuk, rumah penuh debu dan akan tampak seperti kapal pecah!

Tapi bukan berarti bapak tidak kehilangan apa-apa. Bapak juga kehilangan waktu istirahatnya. Tidurnya tidak nyenyak karena menjadi radar terhadap tangisan anak saya. Bapak yang sudah sangat kikuk juga kemudian belajar bagaimana menggendong bayi dengan berbagai posisi. Bapak juga menyediakan air hangat untuk minum dan mandi saya, begitu juga bayi saya. Bapak juga banyak membantu meringankan pekerjaan di rumah. Sudah seharusnya, kan?

Mertua
Mertua sih sudah biasa ngemong cucu, soalnya ini cucu ketiganya. Tapi bagaimanapun, saat mertua ikut menginap di rumah, mertua juga akan kehilangan ritme tidurnya. Beliau biasanya tidur setelah magrib, bangun sebentar untuk Isya dan lanjut tidur lagi.

Adik-adik
Kedua adik saya laki-laki. Kalau berhubungan dengan mengurus bayi, mereka biasanya jadi asisten mama saat si bayi dimandikan. Kebayang kan mereka gak pernah mengurus bayi sebelumnya harus sigap mengambil sabun, minyak telon atau baby oil. Juga harus memakaikan kaos tangan dan kaos kaki? Okelah kalau produk seperti minyak telon dan kawan-kawan, ada tulisannya di kemasan. Bagaimana dengan kaos tangan dak kaos kaki? Benarr! Sering ketuker! Alhasil kena omel mama yang heran kenapa laki-laki gak bisa bedain mana kaos tangan dan mana kaos kaki.

Saya sampai dokumentasikan saat Mama mengurus di sebelah kiri, adik di sebelah kanan dan adik bungsu saya di kaki. Sayang gak bisa saya pajang, pada kelihatan auratnya, mama sedang tidak berjilbab, dan kedua adik saya sedang memakai celana pendek dengan muka bantalnya. Wkwk

Gak hanya itu sih, karena ada bayi, adik-adik juga jadi seperti bapak, lebih banyak bantuin kerjaan di rumah. Which is emang sudah seharusnya kan? Kehilangan waktu untuk santai jelas dialami juga oleh adik-adik saya.

Oh ya, diawal saya janji cerita kenapa penanganan bayi saya agak berbeda. Dua hal
1. Si bayi kalau nangis, asli nangis kejer, ngegas seperti habis jatuh atau dipukulin. Bahkan ketika sudah disusuipun, kalau udah terlanjur nangis, dia tetap ngegas, menangis dengan nada tertingginya, dengan wajah merah semerah-merahnya dan nafas yang tertahan lama. Seisi rumah akan panik.
2. Ya itu tadi, saya gak enakan.
Walaupun Mama rela, suami juga gak komplain kalau saya bangunkan tengah malam, saya tetap merasa tidak enakan. Makanya kadang hauspun saya tahan jika melihat seisi rumah sudah tidur atau kasihan pada Mama yang sudah pontang panting mengurus rumah bersama isinya, kami. Padahal banyak minum itu komponen penting agar ASI banyak. :(

***

Itu sedikit banyak cerita tentang kehilangan yang dirasakan seluruh anggota keluarga. Ya memang sih, kalau sudah urusan sama anak bayi, rumah tangga sudah akan berbeda. Kalau tadinya suka menonton film, stalking akun hosyip, nonton yutup, apapun bisa dilakukan sesukanya, saat sudah memiliki bayi semuanya sudah berbeda, prioritas dan patokan utama adalah bayi, the big boss. Tidak bisa lagi menggunakan waktu semaunya. Semua orang sama-sama lelah, that's why kita harus saling support.

Dan diatas kebahagiaan itu, kehilangan semestinya sudah berada di level melepaskan. Rasa kehilangan yang muncul karena dipaksa oleh keadaan sejatinya berubah menjadi sebuah proses melepaskan karena dilandasi oleh kerelaan.

Maka untuk memperoleh kebahagiaan, yang bisa sejalan dengan kata memiliki hanyalah melepaskan. Jika siap memiliki, maka kaupun harus siap melepaskan.

Bagaimana dengan kehidupan teman-teman? Sedang ditahap apakah sekarang ini?
Read more

15 Jan 2019

Gak Jadi Baby Moon karena Gak Dapat Izin Cuti, Kesal?

Awal tahun! Masih musim liburan gak sih? Hihi..

Saya jadi ingat tahun lalu deh, saat Abang sudah mulai melempar keinginannya untuk liburan bareng. Mungkin sudah jenuh dengan pekerjaan kantor setahun sebelumnya.

Waktu berlalu, istri yang juga katanya suka liburan ini selalu beralasan pekerjaan ini gak bisa ditinggal, pekerjaan itu gak bisa ditinggal, apalagi ada pekerjaan baru. Makanya liburan gak jadi-jadi.

Sampai akhirnya saya positif hamil lagi pada bulan keempat tahun 2018. Alhamdulillah, sesuatu yang kami tunggu-tunggu melalui berbagai upaya akhirnya membuahkan hasil.

Baca juga: Program Hamil yang Saya Lakukan, Mulai dari Cara-cara Hits di Internet sampai Promil ke Dokter

Apa kabar liburan?
Dengan kebahagiaan yang kami rasakan, mabok selama hamil dan hasil membaca bahwa perjalanan pada trisemester awal masih cukup beresiko. Keinginan liburan berhasil diredam. Hanya berganti rencana dan nama saja, dari liburan menjadi baby moon...

Dan kemudian, pada bulan keenam, saat kehamilan sudah berada pada trisemester kedua, baby moonnya tetap tidak berhasil terlaksana. Hahhah.. *Pura-pura tegar :D


Akhirnya, saya liburan di rumah saja dan Abang berkeliling di Jakarta dan Bandung. Ah.. perih hati ini... Tapi saya ikhlaskan agar Abang bahagia, melepas penatnya biar bisa refreshing.

Apa daya saya tidak bisa cuti karena sedang mengerjakan publikasi yang sedang deadline di kantor. Iya, saya gak dapat izin cuti. Ah..  kerjaan kantor ini, apa sih yang tidak deadline?

Padahal sudah muncul ide untuk nonton penutupan ASEAN GAMES saja, sekalipun tidak bisa mengikuti kehebohan saat pembukaan, setidaknya euforia yang bikin kita sebagai penonton ini jatuh cinta dan haru berkali-kali itu bisa dirasakan secara langsung walau sedikit.

Tapi, Abang kalah gesit dari para fans K-Pop yang sudah terbiasa dengan kegiatan berebut tiket (penutupan ASEAN GAMES) secara virtual. Langsung bikin plan B ((Baru bikin??)).

Akhirnya Abang melipir ke Lembang bahkan hampir nyasar melebihi tujuan. Beruntung, saya punya Devi kalau sudah urusan Bandung. Singkat cerita Yandanya Janilah (Suami Devi) yang mengantarkan Abang berlibur. Walau Abang sering juga mengirimkan pesan kesepiannya, bahwa saya seharusnya ada di sampingnya. Huhu.. Saya kan jadi merasa bersalah..

Tapi, alhamdulillah saya tenang walau baby moonnya diwakilin suami saja. LOL. Saya begitu tertolong dengan jalinan silaturahmi yang tidak pernah saya sangka akan berumur panjang ini.

Cuma modal kenal sesama bloger, kopdar sekali doang, itupun dianterin keliling Bandung, sempat bisnis kecil-kecilan bareng, sekarang berlanjut suami-suami kami yang jalan bareng.

Semoga bisa segera ke Kendari ya Deev, saya udah lama ngutang nih ke kamu, ini malah nambah ke suamimu lhoo.. *Ketjuupp :*


Jadi, kesel gak karena gak jadi baby moon? Gapapa, ikhlas kok. Cuma ya teteup.. Ini pengingat, bahwa saya masih butuh liburan, kalau baby moon gak jadi, mungkin nanti bisa bertiga sama si kecil kalau sudah bisa dibawa jalan.

Nanti lihat jadwal cuti bersama 2019 aja kali ya? Biar gak terhalang permohonan cuti tahunan seperti tahun lalu lagi. :D

Trus, pengingat juga, bahwa perjalanan bisa membawa kita pada hal-hal yang tidak terduga, termasuk betapa Allah SWT tuh maha pemurah dengan memberi kita sahabat-sahabat yang tidak pernah pamrih dalam menolong.

Ketiga nih ya, walaupun saya tidak keluar untuk liburan. Tapi jalinan silaturahim antara saya dan Devi tetap jalan, bahkan Insyaallah tersambung lebih panjang. Bayangin, dari sama-sama masih gadis dan sekarang sudah punya suami! Alhamdulillah..

"Perjalanan akan mengaarkanmu banyak hal, termasuk bagaimana bahagianya pulang bertemu orang yang kau cintai."
(Irly)

Gimana teman-teman? Punya pengalaman merencanakan liburan yang akhirnya gagal tapi kemudian dapat hikmah yang apik? Teman rasa saudara itu nyata, dan sering kali hadir tanpa kita duga yess! ^^

Read more

29 Dec 2018

5 Resolusi Keuangan ditahun 2019

Mengatur keuangan bukanlah hal yang bisa diremehkan lagi saat seseorang sudah menikah. Banyak hal yang tentunya berubah dan perlu diperhatikan. Hal ini sudah pernah saya tuliskan juga pada blog personal saya ini.

Baca juga: 5 Cara Mengelola Keuangan Setelah Menikah ala Dunia Irly

Namun, hal yang juga kemudian harus mengalami penyesuaian adalah kehidupan setelah memiliki anak! Kehidupan yang memiliki banyak kejutan dari segala lini termasuk lini keuangan. Kehidupan yang (insyaallah) dalam hitungan hari akan saya jalani..


Untuk itu, dalam hal keuangan, saya mempunyai resolusi sendiri, antara lain:

1. Punya Tabungan Sendiri Untuk Anak
Persiapan untuk pendidikan anak adalah persiapan jangka panjang, bukan hal yang bisa di selesaikan secara "sim salabim jadi apa prok-prok-prok". 😁

Apalagi di saat sekarang ini, biaya untuk pendidikan anak melonjak jauh dari yang dulu sering saya dengar. Sekalipun biaya pendidikan anak sudah mendapatkan keringanan dari pemerintah, tapi tidak terlepas kemungkinan anak akan bersekolah di sekolah swasta dimana dapat dipastikan biaya yang dipakai juga tidak akan sedikit. Untuk itu persiapan yang baik saya harapkan bisa meringankan "kejutan-kejutan" di masa mendatang, walaupun kalau memang kalau tiba-tiba dibutuhkan ya gadai BPKB mobil mungkin bisa jadi jalan keluar juga.

Well.. Apapun akan dilakukan untuk anak, tapi persiapan selalu akan lebih memudahkan di masa mendatang.

2. Tetap Menyiapkan Dana Untuk Liburan
Ini sudah saya bicarakan bersama Abang sejak awal pernikahan. Kami yang suka jalan-jalan ini memang menginginkan setiap tahunnya tetap ada agenda untuk berlibur.

Walaupun tahun depan Insyaallah kami sudah bertiga, semoga dana untuk liburan ini tetap ada, entah nanti yang jalan hanya Abang (hiks) ataupun bisa kami bertiga. Itupun kalau dapat cuti.. *Tjurhat

Bukannya apa-apa sih, sebagai karyawan, masing-masing kami menyadari bahwa refreshing itu penting dan butuh dana, mulai dari skala sedang sampai skala yang besar.

Jalan-jalan atau bahasa kerennya traveling bisa banget buat membarukan semangat, membuka pikiran, menambah pengetahuan/wawasan, menambah pengalaman dan insyaallah menambah ketaqwaan. Elahh.. Religius banget.. 😁

3. Tetap Menyediakan Dana Darurat
Urusan darurat, berarti berbicara mengenai hal (sulit) yang tidak disangka-sangka dan bersifat penting atau mendesak.

Walau tentu selalu berdoa tidak dihadapkan pada situasi darurat, tapi juga tidak ada salahnya berjaga. Bukan hanya untuk kami bertiga nantinya, tapi juga keluarga besar kami, salah satu sumber kebahagiaan kami.

4. Keuangan Rutin yang Stabil
Ini resolusi keseharian di 2019. Apalagi setelah sudah punya bayi. Saya seperti sudah punya bayangan terhadap biaya kebutuhan bayi saat belanja persiapan lahiran awal bulan Desember ini.

Pakaian bayi yang lucu dan imut dari segi ukuran itu, mempunyai harga yang lebih mahal dari pakaian orang dewasa. Bukan rahasia lagi yess.. Para emak pasti sudah mengangguk atau senyum-senyum dari tadi.

Kebayang kalau popok dan si bayi yang tumbuh dengan pesat itu harus sering berganti seiring dengan perkembangannya, tentu biayanya tidak sedikit. Emaknya sih tentu senang kalau belanja, lihat yang lucu, keren, unik.. Tapii..

Tapi belanja tidak seindah itu kan Maaakk.. Harus kontrol diri juga. Rekening tetap harus bernapas, dapur harus tetap mengeluarkan asapnya walaupun pakai kompor gas.. Hahah..

Intinya, kebutuhan bertambah, dan semuanya harus tetap berimbang, soalnya pemasukan ya begitu-begitu saja. Kami harus makin rajin jualan tampaknya.. Buat beli popok naaakkk.. Hahha..

5. Tetap Punya Dana Untuk Berbagi
Kami sebagai generasi Sandwich tentu tidak bisa tenang hanya hidup bertiga, mengonsumsi penghasilan kami tanpa menyisihkannya untuk keluarga, bahkan orang yang tidak kami kenal sekalipun.

Seperti apapun penghasilan dan pengeluaran kami, kami tetap percaya ada hak orang lain terutama keluarga dekat kami. Bukankah salah satu sedekah paling baik adalah kepada orang terdekat?

Terlebih, kami sebagai muslim tentu percaya, berbagi tidak akan mengurangi tapi akan menambah (walaupun niatnya bukan untuk ya). Percaya, niat baik akan berbuah baik. Entah kembali dalam bentuk uang, atau kebahagiaan mereka yang tentu akan jadi kebahagiaan bagi kami anak-anaknya. Intinya, semua akan terbayar tunai. Insyaallah..

***

Yap, akhirnya sampai juga di penghujung tulisan. Sama ya, kita juga sudah di penghujung tahun. Bagaimana teman-teman, sudah punya resolusi tahun 2019? Kalau yang berhubungan dengan keuangan apa? Sharing yuuk..

Read more

17 Dec 2018

5 Tip Belanja Melalui Siaran Langsung (Live) di Facebook

Sale.. Sale.. Sale..

Kata yang umum kita baca pada sebuah toko di akhir tahun. Tidak main-main, diskon yang ditawarkan juga bikin emak-emak yang gak pengen belanja malah singgah di tempat belanja, setelah singgah nanya ukuran, warna, model lain, kemudian transaksi! Heheh.. :p

Tapi walaupun momennya pas, saya tidak akan membahas itu. Ada yang lebih menarik hati saya untuk dibahas. Yaitu tren berjualan melalui siaran langsung, terutama lewat facebook.

Kenapa kemudian ini menjadi perhatian saya? Karena eh karena... Saya adalah korbannya! Buahahahha..

Entah sejak kapan tepatnya para pedagang memanfaatkan fitur siaran langsung di facebook ini. Yang jelas, saya mulai banyak melihatnya pada awal tahun 2018 ini.

Awalnya, seperti biasa saya hanya melihat beranda dari atas ke bawah. Lalu kemudian nyempil siaran langsung di sebuah grup jual beli di facebook. Saya penasaran dong, nontonlah saya. Kesannya? Kreatif walaupun kadang lucu juga kalau lihat yang jualan.

Hari berlalu, dan saya kemudian sudah mengirimkan alamat lengkap, disertai nomor telepon pada acara live seorang pedagang. Saya sudah menjadi bagian dari "korban" mereka manteman. Wkwkwk..

Di suatu waktu yang lain, saya kembali memesan pakaian. Sama seperti waktu transaksi pertama, saya kemudian sudah menerima barang dengan sistem COD (Cash on Delivery/ Bayar di tempat).

Oke fix.. Kedudukan reality show Korea yang sering saya tonton tergeser oleh aktivitas cuci mata dan cuci dompet ini. 😂

Tapi saya bangkit manteman, saya akhirnya memilih untuk tidak menjadi korban lagi. Maka saya aja yang jualan secara live! Haha.. Nggak ding.. Saya masih malu kalau harus jualan secara live gitu. Iyalah.. Gimana kalau calon pembeli minta bajunya dicobain ke badan? Perut lagi gede gini, pusar juga lagi seksi-seksinya. Hahaha..

Finally, saya belanja lagi. Hihi.. Jangan diketawain dulu. Beneran saya belanja, tapi buat jualan lagi dong! Hahah.. Jiwa belanja saya masih kalah dengan insting berdagang saya.

Bermodal banyak mengamati aksi live dan kepo sana-sini, saya dapat supplier untuk memenuhi hasrat berdagang barang bagus dengan harga miring tanpa harus datang ke tempatnya langsung. Ah, keren emang guwe inih. *Abaikan bumil yang lagi pengen narsis ini. :p


Nah, dari beberapa pengalaman saya, saya pengen share 5 tip untuk belanja melalui siaran langsung (live) di Facebook:
1. Kenali nama dan sifat bahan pakaian
Ini penting, agar teman-teman tidak kecewa saat barang datang, kalau memang masih asing dengan nama bahan yang makin banyak, bisa googling dulu, atau bisa bertanya saat siaran langsung. Misalnya "bahannya adem gak?" "bahannya melar gak?" "transparan gak?" Dan lain-lain yang menjadi kesukaan teman-teman.

2. Kenali ukuran tubuhmu
Selain nama dan sifat bahan, hal ini juga penting. Kalau belanja untuk diri sendiri tuh, wajib banget tahu ukuran badan. Kalau saya sih kurang suka ukuran yang hanya pake S, M, L, XL,  XXL gitu, karena bisa banget berbeda ukurannya untuk barang dari luar negeri. Yang paling pasti itu ya ukuran lebar dada (LD) aja, biasanya saat live langsung diukur tuh oleh pedagangnya, bahkan kalau bahannya melar, diukurin tuh ukuran standar sampai melarnya jadi berapa Cm.

Maka, ketahui ukuran lingkar dada diri sendiri atau orang yang mau dibelanjain, biar gak kekecilan atau kegedean barangnya saat sampai di tangan

3. Siapkan Kuota dengan Jaringan Terbaik
Duh, ini jadi kayak mau ngiklan saya.. Hahah.. Seriusan nggak ya.. Jadi ini beneran dibutuhkan banget kalau mau ikutan belanja saat ada pedagang yang jualan secara live.

Kenapa hal ini menjadi penting? Karena kan gak asyik banget saat ingin belanja atau bertanya pada penjual tapi gambarnya loading, atau bahkan keluar sendiri dari live yang sedang ditonton.

Atau kasus lain, teman-teman sudah memesan, tapi ternyata tidak muncul sama sekali di layar penjual, artinya apa? Gak terkirim.. Huhu.. Pernah banget dulu saya kayak gini. Udah pesan banyak banget, tapi gak terbaca sama sekali. Baju idaman melayang ke pembeli lain...

4. Perhatikan kondisi keuangan
Yang namanya belanja, biasanya gampang khilaf, apalagi melalui fasilitas siaran langsung seperti ini. Kadang kita gak tahu sudah belanja apa saja, berapa banyak dan berapa kilogram! Giliran sudah saatnya rekapan baru ingat, oh iya, ternyata saya beli ini, beli itu, beli ini dan itu, tagihan membengkak!

Horor manteman, jadi pastikan kondisi keuangan mencukupi untuk belanja, kasihan yang jualan kalau tiba-tiba barang sudah di-keep tapi malah dibatalkan. Yang kamu lakukan itu jahat, Rangga!

Baca juga: Tentang Penghasilan Tambahan

5. Pahami aturan setiap penjual/pedagang
Setiap penjual/pedagang memiliki aturan masing-masing, baca dulu aturannya. Tapi yang umum saya perhatikan antara lain:

- Kalau melakukan pemesanan saat siaran langsung, ada kata kunci yang diberikan.
Misalnya: Fix gamis (kemudian warna yang diinginkan) jadi "Fix gamis hijau" atau "Fix gamis kuning".

- Cantumkan nomor WA.
Hampir semua pedagang mewajibkan ini, tujuannya adalah untuk memudahkan mereka melakukan rekap pembelian saat siaran langsung berakhir. Aturan lain mengenai pencantuman nomor WA ini adalah, saat melakukan pemesanan seperti di atas, nomor WA harus sekaligus disertakan, tidak berpisah. Misalnya: Fix gamis hijau 08521234xxxx atau nomor WA di depan kemudian kata kunci yang disyaratkan.

Kasus diatas biasanya kalau pembelinya ramai, jadi pencatatan harus dilakukan cepat dan penjual takut chat lanjutan (nomor WA yang dikirimkan menyusul) tertimpa oleh banyak chat lainnya.

- Batas transfer
Sesaat setelah rekap diberikan, penjual biasanya punya aturan sendiri-sendiri. Misalnya batas transfer adalah 1x 24 jam, kalau belum melunasi tapi mau disimpankan dulu (keep) pembeli bisa transfer 50% dari total rekapan, dan berbagai aturan pembayaran lainnya.

- Pengiriman
Pedagang biasanya sudah menentukan pengiriman apa saja yang digunakan atau bisa dipilih oleh para pembeli. Penting untuk menanyakan hal ini terlebih dahulu sebelum belanja. Paling enak itu kalau penjual bisa melayani pengiriman melalui semua ekspedisi, jadinya bisa memilih pengiriman yang paling cepat atau paling murah, you choose it. :)

Nah, setelah berbagi tentang tip belanja melalui siaran langsung, kita bahas tentang keuntungan adanya aksi live ini, keuntungan dari sisi penjual dan pembeli yess..

Keuntungan Untuk Penjual:
1. Mengisi waktu.
Apalagi kalau sedang berjualan di kios, ini keuntungan buat penjual sih. Kadang pengunjung kan ada jam-jam ramainya, atau ada hari-hari ramainya, bisa banget manfaatin fasilitas siaran langsung ini untuk mengisi waktu sambil menunggu pembeli.

2. Menjemput pembeli tanpa biaya transport.
Cuma modal kuota, ngetes baju di depan kamera, gak (lebih) repot angkat barang kesana kemari, penjual dan pembeli bisa terhubung tanpa jarak, di mana saja! Tinggal pintar-pintar jaga kepercayaan dari para pelanggan.

Keuntungan Untuk Pembeli:
1. Lebih Efisien.
Waktu untuk berbelanja itu sungguh susah dicari bagi wanita pekerja, entah pekerja kantoran ataupun yang sehari-hari waktunya dihabiskan di rumah mengurusi rumah tangga (biasanya justru merekalah yang lebih sibuk dan lebih capek). Kalaupun ada waktu luang, maunya leyeh-leyeh saja, meluruskan badan dalam waktu yang tidak panjang.

Nah, kalau di rumah, pembeli bisa mengerjakan pekerjaan atau leyeh-leyeh sambil belanja, tanpa harus keluar duit lagi sebagai biaya transportasi,  fix barang di penjual ini dan itu. Soalnya waktu live pedagang makin ke sini seperti gak ada istirahatnya, jangankan tengah malam, subuh pun ada! Mantapp!! :D

2. Lebih Fleksibel.
Yup, selain lebih efisien, belanja melalui siaran langsung juga jadi lebih fleksibel. Gak perlu dandan cantik dulu kalau mau belanja, dasteran aja shaayyy.. Gak jilbaban juga gak masalah. Santai banget. ^^

Resiko:
Yang namanya bisnis, pasti ada faktor resiko, walaupun cerita saya diatas itu kebanyakan enaknya saja.. hehe.. Jadi apa saja sih resikonya?

Ini saya bahas dari sisi penjual dan pembeli ya, disatukan saja, karena tidak begitu banyak sih menurut saya:
1. Ketemu Pembeli PHP
Yang namanya bisnis, ada pembeli yang PHP itu wajar. Tapi saya perhatikan kadang memang jatuhnya nyakitin yang jualan banget. Soalnya kadang sudah belanja banyak, eh, setelah direkap tiba-tiba banyak alasan saat diminta transfer uang atau yang paling parah, jawab enggak tapi WA ataupun FB langsung diblock.. Ealah.. Kalau dapat cerita begitu dari pera pedagang saya jadi ikutan gemes dan sedih. Kasihan yang jualan, udah capek teriak-teriak menjelaskan detail barang, misahin, rekap, tapi ujung-ujungnya diperlakukan begitu.

2. Ketemu Penipu
Nah, ini ada 2 versi:
- Penjual palsu
Ketemu dengan penjual seperti ini sangat mungkin terjadi. Adaaaa aja caranya menipu orang. Begitu ada yang belanja, transfer, maka akun akan diblock. Si penipu pun hilang dari radar. Jadi, pelajari benar-benar akunnya sebelum membeli. Jangan tergiur barang bagus ataupun harga murah.

Kalau saya pribadi biasanya stalking dulu, beberapa hari, atau beberapa kali si penjual melakukan live, baru kemudian memutuskan untuk belanja atau tidak. Stalking ini akan sangat membantu, karena biasanya akan ada petunjuk berupa komplain ataupun pujian dari yang sudah lebih dahulu belanja.

-Ketemu Penjual Jujur
Looh, kenapa ketemu penjual jujur ini masuk dalam kategori ketemu penipu?

Sabaar.. Begini, seringnya pedagang jujur itu disusupi oleh orang yang niat banget menipu. Jadi si penipu ikut nonton siaran langsung bersama pembeli lainnya. Lalu kemudian (kemungkinan) mencatat apa yang si A, B, C ataupun D pesan. Lalu kemudian lebih dahulu menghubungi pembeli, menyamar sebagai penjual, melakukan rekap, dll.

Daaan.. Dari cerita di atas teman-teman, itu kejadian nyata ya, ada yang benar-benar melakukan transfer. Dalam hal ini, ketelitian dari pembeli harus ditingkatkan, karena biasanya para penjual sudah mencantumkan nomor rekening dan nomor HP (pemilik ataupun admin) untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, cek dan ricek harus banget dilakukan yess..

***

Fiuhhh.. Panjang juga tulisan ini, hasil pengamatan, pengalaman dan dari hati banget ini.. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan.

Bagi teman-teman yang juga sudah punya pengalaman boleh baget dibagikan di kolom komentar, saya tunggu yess.. 😊

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...