27 Oct 2015

Pertanyaan dan Pernyataan Tidak Berperasaan Tentang Menikah


Kemarin usia saya ganjil berumur 29 tahun, untuk wanita seusia saya, masa depan perjodohan saya dianggap semakin rawan karena saya belum menikah. Masalah? Untuk saya tidak, untuk orang lain it's a big problem!.

Sebenarnya ada berbagai hal yang ingin saya tulis tentang urusan jodoh, nikah dan sebangsanya, tapi kali ini saya ingin membahas tentang pertanyaan dan pernyataan yang sering kali dilontarkan pada saya, ada juga yang baru sekali ditanyakan, tapi cukup membekas saking frontalnya.

Saya yakin salah satu dari yang membaca pernah menjadi subjek maupun objek, kadang pertanyaan-pertanyaan ini memang ditujukan karena kepedulian, tapi sayangnya lebih banyak ditanyakan atau dinyatakan oleh orang-orang yang  kadar keponya lebih banyak dari pada kadar pedulinya.


Kapan Nikah?
Pertanyaan di atas seringkali ditanyakan pada saya, bukan untuk saya saja sih, orang lain juga, ibarat doa sapu jagad, pertanyaan ini adalah pertanyaan sapu jagad. Anehnya seringkali pertanyaan ini datang dari orang jauh, yang tidak punya kepentingan apa-apa terhadap saya dan belum tentu datang jika diundang ke acara pernikahan saya.

Pertanyaan basa-basi yang asli basi banget, jadi jangan heran jika teman yang dulu bahkan kebelet nikah karena umur dan akhirnya berhasil menikah akan menanyakan hal yang sama tanpa mempertimbangkan perasaanmu yang sebenarnya bukan baper tapi sudah bosan ditanya seperti itu, terlebih ditanya oleh orang yang seperti tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. What The bangetlah..

Biasanya, pertanyaan kapan nikah akan saya jawab dengan
"Mohon doanya."
atau
"Nanti kalau ada pengantin laki-lakinya."

Kalau sedikit baper dengan orang yang kepo akan saya jawab dengan
"Jangan cuma nanya dong, didoain juga." Sambil senyum.

Dan kebanyakan reaksinya pada tobat, soalnya nge-doain enggak, nanya-nanyanya lancar.

Rasain. :p

Mana undangan untuk saya?
Pertanyaan terselubung, maksudnya sih nanyain kapan saya akan memberikan undangan pernikahan. Ini pertanyaan termudah untuk saya, karena biasanya saya jawab dengan
"Oh, undangan yang ada tulisan tiada kesan tanpa kehadiranmu?"
"Ada kok, nanti saya kasih." Sambil pasang wajah serius.

Mereka tertawa.
Selesai.

Kamu ceria, happy-happy untuk menutupi kesedihan belum nikah kan?
Ini anggapan yang salah, i do happy with my life. Saya bahagia sekarang, tentu saja ingin menikah tapi tidak menjadi sedih karena keinginan saya belum terwujud. Makanya saya tetap happy dan ceria, kalaupun sedang sedih, bukan kegemaran saya untuk mengumbarnya.


Saking seringnya ditanya dengan 3 pertanyaan diatas, saya menggolongkan pertanyaan itu ke dalam jenis pertanyaan tidak berperasaan yang masih sopan. Sopan? Ada yang lebih parah dong? ADA.

Kamu gak mau nikah ya?
Ini pertanyaan yang menohok banget, seperti pertanyaan, "Kamu sayang gak sih sama orang tuamu?" kepada anak yang sudah jelas-jelas berbakti kepada orang tua karena rasa cintanya. Pertanyaan macam apa itu? Anak cucu Adam mana yang tidak ingin menikah? Entah kenapa terasa perih sekali saat mendengar pertanyaan itu. Waktu itu saya sedang wudhu, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada mimpi buruk di malam hari, tiba-tiba ditanya begitu, kalau sedang kumur-kumur kemungkinan kejadiannya cuma 2, saya nelen air atau yang bertanya saya sembur sepenuh hati. Saya yang seringkali santai menghadapi pertanyaan kapan nikah jadi cukup baper dengan pertanyaan itu. Ini orang habis kebentur dimana sih sampai nanyanya begitu banget??

Jangan pilih-pilih.
Ini pernyataan yang cukup menghakimi untuk saya. Maen tuduh saja. Hihi.. Lagipula apa kami sebagai perempuan tidak boleh memilih? Mau makan saja yang bertanya pasti pilih-pilih, padahal kalau tidak suka bisa beli makanan lain, lha kenapa urusan jodoh saya, calon imam seumur hidup, saya sebagai makmum tidak boleh memilih? Think before you speak!

Jangan bangga dengan kesendirianmu.
Seseorang berpesan begitu kepada saya, saya coba cerna lebih dalam, tapi nol, saya tidak mengerti kenapa diberikan kalimat itu oleh orang yang juga seumuran dengan saya dan juga belum menikah. Ini orang mau lihat saya meraung-raung sedih karena belum nikah ya? Aneh...

Credit on pic

Pertanyaan dan pernyataan di atas adalah hal yang selama ini seringkali dilontarkan kepada saya, saya cenderung menjawab dengan santai. Kalau memang pembahasan saya diatas dirasa kurang santai, ya memang saya sedang ingin membahasnya dengan sedikit menambahkan reaksi yang lebih "kuat" dari biasanya.

Pertanyaan dan pernyataan diatas sering kali ditanyakan orang sebagai basa-basi, tapi kalau kamu yang membaca adalah orang yang masih suka melayangkan pertanyaan sapu jagad dan sejenisnya, cobalah jadi orang yang lebih peka.

Kamu ada di posisi mana sampai merasa berhak bertanya seperti itu kepada orang lain?
Apa kamu yakin itu pertanyaan pertama yang didengar orang tersebut hari itu?
Apa orang yang ditanyai suka ditanya seperti itu?
Apa kamu tahu seberapa besar keinginannya untuk tidak ditanyai seperti itu lagi?
Kalau peduli kenapa harus bertanya di tempat umum dengan suara yang lantang?
Kalau peduli kenapa tidak mendoakan yang terbaik saja?
Kalau peduli kenapa harus sefrontal itu?
Kalau peduli kenapa tidak mencoba mengenalkan saya dengan seorang laki-laki soleh saja?#Eh :p
Kalau peduli berhentilah bertanya "kapan?" cukup bawakan saya "calonnya"
Saya Irly..
Terima kasih
*Efek kebanyakan nonton Stand Up Comedy*

Read more

22 Oct 2015

Pantai Nambo Momahe

Masih lanjutan dari perjalanan ke Pulau Senja yang saya tulis sebelumnya, setelah 2,5 jam kami memutuskan kembali ke darat dan segera ke Pantai Nambo, kebetulan memang sudah searah dengan jalan pulang ke rumah.


Pantai Nambo boleh dibilang adalah pantai terdekat dari kota Kendari, yah.. walaupun ada yang namanya Kendari Beach atau KeBi, tapi tetap saja yang benar-benar pantai ya yang punya pasir putih seperti Nambo ini.

Dari Kota Kendari, perjalanan ke Pantai Nambo adalah sekitar 30 menit, itupun sudah jalan santai dan tanpa macet. Waktu ke arah Nambo sih jalanan sedang dilebarkan, semoga cepat beres deh jalanannya, jadi akan semakin nyaman perjalanan ke sana.

Pantai Nambo ini adalah salah 1 pantai yang getol mengalami pembangunan, beberapa kali ke tempat ini (walaupun jarang) selalu saja ada perubahan positif, 1 saja sih yang menurut saya masih kurang, tempat memancingnya belum diberdayagunakan, kolamnya kosong melompong seperti bak sampah besar dan tentunya sudah bisa ditebak, banyak sampah di dalamnya. Entah siapa pelakunya... pffttt..

Selain jaraknya yang relatif dekat, fasilitas yang terbilang lengkap (Mushola, toilet, pedagang, taman bermain anak) dan sering diadakannya kegiatan berskala besar, yang menarik dari pantai ini adalah Landmarknya yang colourfull. Bisa dipakai untuk foto-foto. Iya bangetlah kalau yang ini ya...
Momahe adalah bahasa Tolaki yang berarti cantik

Dengan sewa masuk Rp. 5.000 per orang, kami menyempatkan diri menikmati salah satu makanan (kerang-kerangan) khas Kendari; Sate Pokea! Sate Pokea ini dijual secara berkeliling oleh pedagang di dalam lokasi pantai, biar makin maknyus (dan mengenyangkan tentunya) sate ini dijual bersamaan dengan gogos (gogos terbuat dari ketan putih yang dibungkus daun pisang kemudian dibakar). Entah kapan Gogos dan Sate Pokea ini dikawinkan, tapi memang rasanya cocok banget. Semoga Sakinah, mawaddah warrahmah deh yah #Ehh.

Gogos dan Sate Pokea
Gogosnya gak kelihatan karena memang warnanya gelap :D


Puas makan-makan, kami langsung menuju ke landmark, kebetulan saya juga belum punya foto di landmark Nambo ini *ini penting :p*. Air waktu itu sedang surut jauh dari bibir pantai, no problemo.. toh kami juga sudah puas main air di Pulau Senja. :D

  Salah 1 keuntungan air yang surut, bisa dapat spot foto yang oke. ^^

Ayo.. kapan ke Kendari?^^

Read more

19 Oct 2015

Menikmati Alam di Pulau Senja


Sabtu pagi, 9 hari yang lalu cukup riuh, sekitar pukul 6 sepupu saya menelepon dan meminta untuk menemani seorang keluarga yang datang dari Depok untuk ke tempat wisata karena dia harus ke luar kota.

Yang menjadi masalah adalah saya belum pernah sama sekali ke tempat yang ingin dituju dan tidak bisa menyetir, padahal mobil siap untuk dibawa berkeliling, sempurna sih menurut saya.. ini semacam mau nekat-nekatan lagi, walaupun menjelajahnya masih di dalam Sulawesi Tenggara juga.


Saya akhirnya menghubungi banyak nomor, sayangnya untuk urusan dadakan seperti ini bisa dipastikan tidak banyak orang yang bisa diajak apalagi dimintai tolong jasanya untuk menyetir dan ikut bersama kami. Disaat-saat seperti itu saya jadi ingin sekali belajar menyetir, biar gak kelimpungan nyariin orang.

Sampai akhirnya kami memutuskan menyewa jasa seseorang untuk menyetir, kebetulan ada tetangga di depan rumah tante, tidak asing, jadi kami juga tidak was-was, langkah terakhir saya menculik Ririn dan Kak Tuti untuk ikut, jelas saja dengan terburu-buru mereka mengikuti hipnotis saya. Iming-iming Pulau Senja terlalu menggiurkan di telinga mereka. Haha.. Menjelang pukul 11 kamipun keluar rumah. Tapi yang seru adalah dari 5 orang yang ada di dalam mobil tidak ada satupun yang pernah ke Pulau Senja.

Letak Pulau Senja
Pulau Senja ini terletak di desa Wawatu, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Entah siapa yang pertama kali merintis tempat indah ini, jempol untuk mereka, selain menambah destinasi wisata, keberadaan pulau ini (dan juga pulau Lara) tentunya membawa berkah tersendiri untuk penduduk sekitar.

Pulau ini boleh dibilang belum banyak dikunjungi bahkan oleh penduduk Sulawesi Tenggara (SulTra) sendiri, jadi kalau ditanya tempatnya dimana, jawaban ringkasnya adalah "Tidak jauh dari Pantai Nambo". Ini juga yang menjadi pedoman kami, yang penting jalan saja dulu, nanti bisa bertanya kepada warga setelah melewati Pantai Nambo. Dan sukses!!

Kurang lebih 60 menit dari Kota Kendari, akhirnya kami berhenti di dekat baliho yang dipasang warga bertuliskan "Tempat Penyeberangan ke Pulau Senja." Jembatannya terbilang masih baru dan sederhana, tapi selalu di"upgrade" untuk kenyamanan pengunjung, warga bahkan menyiapkan parkiran untuk kendaraan.

Jembatan penyebrangan ke Pulau Senja

Menaiki sebuah perahu bermotor atau yang biasa kami sebut katinting selama kurang lebih 15 menit, kami akhirnya sampai di Pulau Senja, belum juga sampai kami sudah takjub melihat pulau kecil yang bersih tersebut. Hamparan pasir putih di Pulau Senja menyapa kaki kami saat mendarat dari perahu, airnya yang bening menggoda kaki dan tangan kami untuk bermain sejenak. Tapi karena kami tiba menjelang waktu Dzuhur, kami pun memutuskan untuk makan dan shalat lebih dulu.

Makan sudah..shalat sudah.. Oke.. sekarang saatnya bermain air, berfoto dan.. memanjat batuan tajam di pinggir pantai!! ^^

Pulau sedang sepi, serasa milik sendiri..

Salah satu gazebo yang paling bagus menurut saya, sayang sekali tidak dijaga kebersihannya oleh pengunjung :(

Pulau Senja dari atas, pake rok tetap bisa memanjat lho..hoho...


Nah, dibalik foto diatas itu sebenarnya masih ada sambungan pantai lagi, kalau info dari teman sih disana ada bagian yang berlumpur, syukurlah kami hanya memanjat di batuan tajam saja, tidak nekat ke sebelah, masih nyadar, cuma cewek ber-4 tuh jangan jauh-jauh mainnya..hehe... *Trus manjat-manjat itu apa??*

Nekat girls :p

Kesimpulannya keriuhan dan kasus penculikan hari itu terbayar lunas, bukan.. bukan uang tebusannya, tapi sangat tidak disesali, saya yang kurang begitu suka ke pantai saat matahari sudah tinggi saja sampai lupa waktu, alam di Pulau Senja indah sekali, Masya Allah.. pasir putih.. air yang bening.. bikin betah. Apalagi sempat memanjat batuan tajam dan dapat foto pulau dari atas. Worth It!! ^^

Tips:
1. Sebaiknya lakukan perjalanan dengan banyak orang (rombongan) karena sedikit atau banyaknya penumpang sewa kapalnya tetap sama Rp.250.000 (PP - Besarnya kapal akan disesuaikan).
2. Persiapkan makanan dan minuman sebelum menyeberang ke pulau ini, karena tidak ada warung atau pedagang sama-sekali di dalam pulau. Ada warung makan di sekitar tempat parkir kendaraan.
3. Persiapkan obat-obatan standar seperti pembersih luka dan plester luka, asik bermain bisa membuat kehati-hatian berkurang dan ada yang terluka. *Kemarin ada pengunjung yang tergores batu*
4. Jika ingin mengganti pakaian, lakukan di darat, bisa minta tolong ganti di rumah penduduk, tidak ada tempat aman untuk mengganti pakaian di dalam pulau.
5. Jangan lupa meminta nomor HP pemilik perahu, agar saat hendak dijemput tidak kebingungan (bisa saja janjian, tapi untuk berjaga-jaga saja).

Terakhir.. Tempat ini belum dikelola oleh pihak swasta maupun pemerintah, tidak ada tempat sampah, jadi.. kalau berkunjung ke Pulau Senja ini, #bawapulangsampahmu ya kawan^^

Read more

12 Oct 2015

[Late Post] Ingat Bandung, Ingat Devi


Tulisan ini asli late post pake banget.. kejadian yang saya tuliskan ini adalah kejadian pertengahan September Tahun 2012, dan draf ini sudah selesai awal tahun 2013, entah kenapa belum juga saya posting.. tapi perasaan saya masih sama seperti judul postingan kok.

Ini sebenarnya bisa jadi seri dari postingan nekat saya yang berjudul Semarang Modal Nekaddd karena ini adalah cerita perjalanan pertama kalinya saya ke Bandung tanpa teman dan hanya modal kenalan saja, hanya saja saya ingin tetap menyimpan judulnya persis seperti itu.
***

Pagi ini nonton tayangan tentang kota Bandung, tiba-tiba teringat aktivitas jalan pagi di kompleks perumahan AURI Bandung, jalan pagi bersama adik bawel yang karna kegilaan dan restu Allah kami dipertemukan. Ya... September kemarin adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota Bandung. Tidak mengenal siapapun saya nekat berlibur dengan modal persetujuan Devi untuk menampung saya selama beberapa hari, pertama kali kopdar saya malah langsung merepotkan dia..*Makasih banget ya deeeekkk :* *

Tujuan utama saya sebenarnya ke Jakarta, tapi untuk saya yang jarang keluar daerah rasanya tanggung kalau hanya ke 1 kota saja, waktu itu level pusing saya memang sedang berada di stadium akhir, sejenak saya ingin rehat dari beban pikiran yang memang tidak bisa saya carikan jalan keluarnya karna kuncinya berada pada orang lain... Kegilaan saya ini didukung oleh undangan Devi yang dalam chatting sering kali menanyakan kapan saya akan mengunjunginya *Semoga gak nyesel ya dek.hihihi*.

Dan tibalah saya di daerah Pasteur, Maghrib yang sangat ramai dan padat, sesampainya saya di kostan Devi saya lalu sedikit beristirahat sambil saling ledek-ledekan dengan Devi yang sedang memasak daging sapi teriyaki, sibuknya anak ini, sebelumnya dia bahkan membuatkan puding oatmeal full susu buat saya *Makasih tapi merusak diet karna saya nambah terus :p *

Jum'at malam tiba di Bandung dan Senin pagi ke Jakarta, singkat dan padat jadwal saya di kota itu, dengan kesabaran Devi mengantarkan saya kesana-kemari, cukup berada di kota lain sudah membuat saya senang, tapi dengan full service dari Devi semuanya sangat menghibur, nonton film Mama Cake tengah malampun menjadi jalan-jalan pertama saya, filmnya bagus tapi berakhir agak seram membuat kami pulang dengan suasana lumayan horor, berjalan kaki ke kostan karna tidak dapat taxi, menghirup udara tengah malam di luar ruangan, di wilayah yang baru saya injak dengan Devi yang diselimuti parno membuat adrenalin saya berdesir kencang, ini menjadi salah satu momen menegangkan sekaligus menggelikan buat saya. Whadda great night!! hahahha...

Hari berikutnya lebih seru lagi, pertama masalah mengendarai motor, huuuhh...horor juga buat saya yang terbiasa dengan jalan sepi. Hari Sabtu itu rencana berubah total karna saya menyerah, tidak berani mengendarai motor lebih jauh ke Kawah Ratu/Ciwidey *Maafkan kakakmu ini dek..hikss* tapi kami jadi ke Butterfly Park dan De Ranch di daerah Lembang.

Devi-Angga-Amay
Baru nyadar saya dulu kalau ngambil foto jelek banget >,<

Di hari kedua ini, saya jadi kenal adik-adik baru yang sama baiknya dengan Devi hari itu, dengan bantuan Angga dan Amay kami menempuh perjalanan jauh dengan 2 motor, keinginan saya untuk wisata alampun terpenuhi walau harus pulang hujan-hujanan *Makasih ya adik-adik semua^^*.

Hari selanjutnya Devi mengajak saya bersepeda di daerah Dago, mumpung car free day..hehe. Dan kegiatan selanjutnya diisi dengan shopping dan wisata kuliner *ini mah wajib yakk :D*.

Antara hepi atau gak biasa sepedaan itu gak ketahuan sodara-sodara :p

2 hari 2 malam bersama Devi membuat saya makin bersyukur atas persaudaraan yang terjalin walau belum begitu lama ini, saya ingat bagaimana Angga tidak berhenti bertanya kenapa saya begitu berani datang ke Bandung dan percaya bahwa Devi yang saya kenal melalui blog dan selebihnya hanya berinteraksi lewat dunia maya itu adalah orang yang benar-benar tidak akan berniat jahat kepada saya *wajar sih ya..mengingat kopdar  yang diberitakan sering berujung kriminalitas* memang susah saya jelaskan, tidak heran kalau Angga terus-terusan bertanya, saya tentunya tidak akan senekat itu kalau Devi tidak lulus dalam kategori orang yang bisa saya percaya, dan bertemu langsung dengan dia jelas mempertegas semua itu. :)

Sekarang kalau lihat liputan tentang Bandung saya pasti ingat Devi si adek bawel yang sudah punya anak cantik banget diberi nama Rinjani.

So... kapan maen ke Kendari dek? Apa mesti kakak yang ke Babel dulu? :p

Eehh..ada yang bersedia menampung kalo nekat saya kambuh gak?hehe..


Read more

7 Oct 2015

Belajar Mendengarkan Dari Film I Not Stupid Too

Kalau ditanya.. "What Movie are You??" 
Akan saya jawab dengan "I Not Stupid Too"

Kenapa film itu?
Yukk.. simak cerita saya...

Film ini berlatar belakang kehidupan 3 anak laki-laki di Singapura, yang paling kecil Jerry 8 tahun, Tom dan Chengcai berumur 15 tahun, film ini mewakili kisah masa kecil saya, eh..ralat..bukan kisah masa kecil, kisah itu masih saya rasakan bahkan sampai duduk di bangku SMA. Film ini menceritakan ketiga anak yang mempunyai masalah komunikasi dengan orang tuanya, ya..seperti kisah saya dulu. Dengan tagline "Can We Talk?" film ini disajikan dengan genre komedi satir.

Sumber: http://oceannius.blogspot.com

Cerita ini bukan untuk mengungkit masa lalu, tujuan saya menuliskannya adalah agar kita bisa mengambil pelajaran dari film ini, seperti bagaimana saya mencoba belajar dari film ini dan menjadikannya inspirasi dalam berkomunikasi dengan adik-adik saya (juga kepada orang lain). Secara umum kita bisa belajar menjadi orang tua yang bijak dari film ini.

Yuk simak beberapa pesan moral yang bisa dijadikan inspirasi dari film ini:

Luangkan Waktu
Mungkin orang tua saya tidak sesibuk orang tua Tom dan Jerry di film ini, yang sampai tidak punya waktu dan rapat siang malam, sibuk mengurusi pekerjaan. Jerry kecil tumbuh dengan pemikirannya sendiri, tidak punya tempat bertanya karena kakaknya juga sibuk dengan kehidupannya sendiri. Jerry kecil bahkan rela menabung uang jajan dan menjual kartu-kartu Pokemon kesayangannya untuk membeli waktu ayahnya. :(

Belajarlah Mendengarkan
Anak-anak punya pemikirannya sendiri, entah benar atau salah. Kita yang sudah lebih dulu dewasa tidak bisa langsung menghakimi anak dengan sudut pandang dan pengalaman hidup yang sudah kita punyai. Belajarlah mendengarkan, sekonyol apapun ceritanya untuk kita, betapa tidak masuk akalnyapun cerita itu di otak kita, dengarkan dulu, tanyakan alasannya, ketahui latar belakangnya, ketahui sudut pandangnya baru kemudian diluruskan (jika memang salah) dengan kata-kata yang yang tidak menghakimi apalagi bernada omelan kepada anak.

Animasi dan cerita di film ini sering kali membuat saya dan adik-adik tertawa saat menontonnya bersama, film ini termasuk sering ditayangkan ulang di saluran TV berbahasa mandarin (sudah dengan terjemahan tentunya), tanpa banyak kata kami tertawa terpingkal-pingkal walau sudah sering menontonnya, tapi mungkin di dalam hati kami mengakui seperti itulah kami, jika diberitahu hanya masuk telinga kiri kemudian keluar telinga kanan. *Maafkan kami Mama dan Bapak.*

Disajikan dengan banyak mengambil sudut pandang anak, film ini seperti mewakili perasaan saya, that's why i love this movie!

Belajarlah Saling Memahami
Satu lagi remaja yang diceritakan di film ini adalah Chengcai, dia dan satu-satunya orang tua yang dimilikinya yaitu ayahnya sangat tidak nyambung. Chengchai sering kali dipukuli oleh ayahnya yang merasa anaknya itu tidak mau mendengarkannya, dilain sisi Chengchai merasa ayahnya tidak mengerti tentang dirinya. Salah satu adegan yang lucu tetapi juga miris adalah saat ayahnya ingin membelikannya tas baru, tapi karena tidak memiliki banyak uang, ransel yang mampu dibelinya hanyalah ransel kecil bergambar kura-kura ninja, tas anak SD!

Belum Terlambat
Film yang boleh dibilang happy ending ini juga mewakili kehidupan saya yang walaupun belum berakhir tapi sudah menemukan jawaban atas tagline diatas "Yes, let's talk" mungkin karena saya sudah lebih dewasa dan sudah mandiri jadi saya sudah lebih didengar bahkan menjadi penyambung komunikasi di rumah. Tidak lupa saya menerapkan pesan moral film ini pada adik-adik saya yang keduanya laki-laki. Alhamdulillah.. mereka bisa mempercayai saya jika ragu berbicara langsung pada orang tua, atau meminta saran jika sudah mentok berbicara dengan orang tua. Bagaimanapun berkomunikasi dengan anak adalah seni dan kita semua dalam proses belajar untuk itu.

Jika ada teman-teman yang selama ini lebih sering atau bahkan hobi nyerocos duluan sebelum mendengarkan anak, sesungguhnya belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Luangkan waktu untuk anak, dengarkan mereka, pahami mereka, begitupun anak, cobalah pahami orang tua yang cara pandangnya seringkali lebih jauh mempertimbangkan sesuatu dibanding kita yang belum berpengalaman.

Pesan moral dari film ini tidak hanya berlaku untuk hubungan orang tua dan anak saja, tapi juga hubungan adik-kakak seperti saya, bahkan dalam berinteraksi dalam kehidupan sosial. Dengarkan.. karena semua orang ingin didengar.. lalu hargai cerita yang sudah didengar dengan memberi masukan/saran dengan cara yang santun dan tidak menyakiti.  
"Berbeda pendapat boleh saja, tapi santunlah dalam menghadapinya. Dan ingatlah bahwa kesantunan itu tidak mengenal umur penerimanya."

"Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?"
 

Read more

5 Oct 2015

Pengalaman Mengikuti Assessment Kompetensi Tes

Hari pertama di bulan Oktober diawali dengan masuknya sms notifikasi, gaji sudah masuk. Alhamdulillah..nikmat yang mungkin sering lupa untuk disyukuri karena sudah jadi rutinitas.

SMS tersebut memberi sedikit jeda atas ketegangan selama beberapa hari menyambut Assessment Kompetensi Tes yang diadakan oleh kantor untuk keperluan pemetaan pegawai. Salah 1 dari sekian banyak hal baru yang saya alami di Oktober ini.

Tes yang diadakan untuk seluruh pegawai di instansi kami ini sudah berjalan sejak awal bulan September, kebetulan untuk Sulawesi Tenggara diadakan sejak tanggal 28 September sampai 1 Oktober kemarin.


Saya sudah bilang kan ya, ini pertama kalinya saya mengikuti tes semacam ini, begitupun dengan kebanyakan teman-teman saya. Kalau ditanya rasanya... rasanya tegang bercampur dengan rasa penasaran, akan bisa menjawab atau tidak, hasilnya bagaimana, rasa yang hampir seragam dirasakan teman-teman.

Sebenarnya sudah ditegaskan, bahwa tes ini bukanlah mencari hasil lulus dan tidak lulus, tapi untuk kepentingan pemetaan pegawai saja. Iya, ada kata "saja"nya, tapi tetep ya.. kepikiran dan belajar sebisa mungkin, bahkan setelah tes teman tertawa waktu kami refreshing di toko buku, melihat gambar ilustrasi orang yang menghadapi tes sesuai golongan darahnya, "Ini kamu banget kak. Dan ini saya, saya tidak belajar." katanya sambil menunjuk gambar ilustrasi tersebut. Saya jadi ikut tertawa juga, bener banget sih..haha..

Saat tes, kami diberikan ratusan nomor soal dengan berbagai jenis tes, antara lain:

1. Memilih kepingan gambar yang hilang
Soalnya mudah tapi melenakan, ujug-ujug sudah diminta berhenti karena waktunya habis.. Hufthhh...

2. Mencocokkan gambar dengan tipe yang sejenis
Jenis yang ke-2 ini sebenarnya hampir sama dengan jenis soal yang pertama, hanya saja lebih kompleks, bahkan dalam jenis yang lainnya jawaban yang diminta bukan hanya 1 tetapi 2 jawaban dalam 1 nomor, kebayang kan kalau salah 1nya saja salah? Ya salah semua, karena tidak ada nilai 0.5 *Tega kau Roma!*

3. Matematika Dasar
Soal nomor pertama menggembirakan: 69 orang ditambah 7 orang =
Asik kan?
Jangan terlena saudara-saudara.. setelah soal itu harus lebih teliti, apalagi harus konversi dari satuan feet ke inci, dan lain-lain.

4. Ketelitian
Pada dasarnya semua soal membutuhkan ketelitian, tapi soal jenis ini benar-benar menuntut itu, karena dalam waktu singkat kita diminta untuk memutuskan tulisan di dalam soal itu sama/benar (tanda o) atau berbeda/salah (tanda x), dan sialnya bagi kami kaum hawa (ini berdasarkan pengakuan teman-teman) kami cenderung untuk mengecek ulang jika menemukan jawaban yang bertanda o. DAN INI MAKIN MENYITA WAKTU! *Ah..wanita.. kenapa sih kalian itu suka mencari-cari kesalahan?!* *Banting cermin*

Contoh:
a. Benny Indra Kusumah --- Benny Indra Kusuma
b. PT. Gilland Ganesha --- P.T. Gilland Ganesha
c. 4295454 --- 4295454

3 Soal diatas akan terlihat sangat-sangat mudah jika dikerjakan tanpa ada beban, coba bayangkan kita harus mengerjakan soal semacam ini dengan batasan waktu, puluhan soal dan otak yang sudah panas. *Saya merindukan es krim saat itu*

5. Memilih 1 dari 2 pernyataan
Soalnya ada 90 nomor dengan tipikal soal yang cenderung berulang, kadang dalam 1 soal berisi 2 pernyataan positif dan kadang dalam 1 soal berisi pernyataan yang sama-sama negatif. Dan menurut saya ini soal yang paling mudah, karena diberikan waktu 15 menit dan saya jawab apa adanya tanpa harus kebingungan, apalagi kalau ketemu pernyataan "Saya suka berolah raga." sipp..langsung saya pilih pernyataan olahraga tanpa membaca pilihan selanjutnya.. hihi...

6. Warteg Test
Lengkapi setiap kotak untuk menjadi sebuah gambar

Wartegg tes ini sudah cukup umum, walaupun gambar ini sudah beredar dimana-mana dan mungkin saja gambarnya sama, menurut saya akan tetap ada pembedanya, yaitu urutan gambar (kita akan diminta memberi nomor pada setiap gambar yang lebih dulu kita lengkapi) kemudian diakhir kita akan diminta untuk memberi tanda pada gambar yang kita paling disukai, paling tidak sukai, yang paling mudah dan yang paling susah. Seperti soal jenis ke 5, Wartegg test ini juga wajib diselesaikan.

7. Tes Pengetahuan Umum
Tes ini berisi tentang pengetahuan mengenai instansi, seperti program-program yang sedang berjalan atau tengah dicanangkan bahkan mengenai tugas keseharian kita di dalam instansi. Seperti jadi siswa/mahasiswa lagi, saat tes mengingat-ngingat hafalan semalam. haha..

8. Dinamika Kelompok
Dalam sekali tes yang berjalan kami terbagi menjadi 4 kelompok (sesuai jumlah assessor) yang masing-masing beranggotakan 9 orang, di dalam kelompok ini kami dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok dengan tugas yang berbeda-beda.

Kali ini kami menjadi agen *entah agen apa, yang jelas bukan agen koran* yang harus memecahkan kode rahasia dengan petunjuk yang berbeda-beda, dinamika kelompok ini berjalan lebih rileks, mungkin karena kelompok kami juga mendapat tugas yang relatif lebih mudah dengan 2 kelompok yang lainnya. Alhamdulillah kami bisa memecahkan kode rahasia dengan tenang tanpa harus ada palu yang hilang atau meja yang terbalik. 

Alhamdulillah.. selesai sudah.. Berawal dengan ketegangan dan berakhir dengan indah..hehe

Oh ya, untuk yang sudah menduduki jabatan di Instansi kami, ada wawancara tambahan. Kalau info dari teman-teman, wawancaranya berjalan seiring dengan jalannya diskusi dalam dinamika kelompok. *Kepala makin panas deh yaa..*

Tips untuk yang akan mengikuti Assessment:
1. Persiapkan badan, tes membutuhkan konsentrasi, badan fit kemungkinan untuk bisa fokus juga lebih besar.
2. Belajar lebih baik, setidaknya tidak blank saat melihat kertas ujian, warteg test dan beberapa jenis psiko tes bisa dicari soal latihannya di internet. Saya dan teman-teman berlatih di www.ggkarier.com.
3. Jika sudah di depan kertas tes pasrah saja, tidak perlu ngotot harus menyelesaikan semua soal. Kalau Assessornya minta berhenti, berhentilah, mereka itu kadang tidak menegur tapi mencatat identitas kita.

Teman- teman sudah pernah ikut Assessment Kompetensi Tes? Share pengalaman disini yukk...^^

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...