28 Sep 2017

[Puisi] Menangisi Rindu

Saat rindu datang
Tak ada obat selain melipat jarak
Dan menggunting waktu

Saat rindu datang
Tak ada obat mujarab
Selain perjumpaan

Saat rindu datang
Dadamu akan sesak
Matamu menghangat

Lalu kau menangisi rindu
Menatap jarak
Memikirkan waktu


Lalu rindumu makin menjadi
Karna tak selamanya jarak itu bisa kau lipat
Sekalipun waktu telah kau gunting

Lalu kau tangisi lagi rindumu
Dengan segala sedu sedan di hatimu
Dengan deru isak tangismu

Kau tahu
Ada hal yang lebih penting dari sekedar perasaan rindu yang tak sederhana itu
Kau tahu
Hidupmu tak hanya harus menuntaskan urusan rindu sekalipun berat

Dan kaupun tahu
Kau hanya bisa menangisi rindu


29-07-17 14:48 PM
Read more

20 Sep 2017

Ketika BNN Menyatakan Kendari Darurat Narkoba

Beberapa hari terakhir ini Kendari heboh dengan berita masuknya para remaja -kemudian diketahui tidak hanya remaja saja- yang masuk ke Rumah Sakit Jiwa karena pengaruh obat-obatan.  Data dari Dinkes Sultra, disebutkan sudah 76 orang yang menjadi korban. dan korban tewas sampai saat ini menjadi 4 orang. (Sumber referensi: detik.com)


Mumbul, begitu umumnya aktivitas nge-fly mereka disebut di masyarakat Kendari (dengan menggunakan obat maupun media apapun). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, mumbul adalah kata kerja yang berarti melompat, melanting atau membumbung; melambung. Saya bahkan mengira bahasa ini bukan bahasa baku, hanya merupakan slang languange saja.

Kembali ke permasalahan psikotropika, masyarakat saat ini boleh dibilang menjadi lebih khawatir dengan pergaulan anak-anak. Terlebih lagi, yang dikabarkan meninggal saat itu adalah seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (ini valid). Yang sampai saat ini saya masih belum mendapat kabar jelas bagaimana anak tersebut bisa ikut mengonsumsi pil yang bernama PCC tersebut. Sungguh, ini menyedihkan.. :(

Tak ada batasan umur yang pantas untuk menggunakan obat-obatan ilegal seperti itu. Bagaimana hati kita tidak miris mendengar kabar seperti ini. Sebenarnya, hal ini mungkin bukan hal yang asing bagi kami yang dewasa. Dari cerita teman-teman, mereka sebenarnya tahu ada aktivitas mumbul yang kerap di lakukan oleh sekumpulan anak, di traffict light misalnya.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri aktivitas anak-anak SMP yang sedang menghirup lem di daerah belakang sekolah, tidak begitu jauh juga dari rumah gurunya. Begitu melihat saya yang kebingungan mencari jalan mereka mulai kabur.

Anak-anak itu mencari apa? Harapannya apa? Motivasinya apa? Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya. Sekaligus menimbulkan pertanyaan yang saya yakini seragam di dalam pikiran saya dan orang dewasa waras lainnya MAU JADI APA MEREKA NANTI? Maaf, saya menggukan rangkaian kata "orang dewasa waras", karena kita tahu bahwa memang ada yang dengan sadar menenggak obat-obatan tersebut bahkan mencari keuntungan secara ekonomi dengan menjualnya.

Duh.. Sumpah.. saya baper menulis ini, kalau tidak mempertimbangkan mata pembaca akan sakit jika capslock saya jebol, rasanya saya ingin membuat tulisan ini menjadi huruf kapital semua. Saya emosiii..


Penetapan status Kejadian Luar biasa (KLB) dan Darurat Narkoba kemarin itu benar-benar memaksa mata kita sebagai anggota masyarakat terbuka. Ada anak orang lain yang juga perlu kita perhatikan. Terserah mau dibilang rese' atau bagaimana, terlebih jika anak tersebut kita ketahui ada dalam lingkaran pertemanan anak kita. Jauhkan, sambil berusaha diperbaiki dengan memberi tahu orang tuanya, jika tak terjangkau mungkin langsung ke pihak yang berwenang. Demi kenyamanan bersama.

Tapi kejadian ini juga tidak boleh menjadikan kita serta-merta menyalahkan orang tua si pemakai. Saya memang belum punya anak, tapi saya mengerti bahwa orang tua tidak bisa 24 jam menjaga anaknya. Maka disinilah pentingnya "menyaring" dan mengawasi pergaulan anak. Sudah dilakukanpun orang tua masih bisa kecolongan, tapi saya yakin, orang tua pasti akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sejak kejadian kemarin, banyak berita yang kemudian membahas masalah obat-obatan jenis ini. Mulai dari update jumlah korban sampai digerebeknya pabrik-pabrik pembuat obat-obatan ilegal ini. Kita semua tentunya berharap, gerakan-gerakan untuk memerangi hadirnya hal-hal tidak bermanfaat seperti pil PCC ini tetap hidup walau tanpa liputan media.

Dan untuk kalian yang dengan sengaja menggunakan obat-obatan jenis apapun dengan sengaja dan bukan untuk tujuan medis, renungkan ini:

Sungguh, apa kalian tahu bagaimana hati-hatinya seorang ibu saat mengandung masing-masing dari kalian? Sakitpun ia rela tidak meminum obat, takut jika terjadi sesuatu kepada kalian SEJAK DI DALAM KANDUNGAN, apatah lagi jika sudah lahir dengan segala doa, pengorbanan dan usaha terbaik orang tua.

Malulah, kasihani orang tuamu. Mengetahui kalian mengonsumsinya saja hati mereka pasti hancur, apatah lagi jika kalian sampai kehilangan nyawa? Sibuklah membayangkan ini, bukan berpikir untuk kembali mengonsumsinya.

***

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari keprihatinan kami bloger Sulawesi Tenggara, sehingga menjadikan tema untuk dibahas dalam Sultra Blogger Talk bulan ini.

Tulisan lain bisa dibaca di:
Blog Kak Ira: Gundah Gulana Terkait narkoba dan Pil PCC yang Beredar di Kendari
Blog Ibu Raya: PCC Pil Halusinasi yang Menggetarkan Kendari

Kita semua prihatin, kita semua berduka. :(

Read more

14 Sep 2017

Menjadi Bloger yang Merdeka

Menjadi bloger, dalam bayangan saya bukanlah sebuah profesi. Cukup membuat blog kemudian menuangkan isi pikiran melalui tulisan. Sesempatnya, tidak begitu butuh konsistensi apalagi "tekanan" dari dunia luar.

Diary elektronik, begitu kalimat simpelnya jika ingin menggambarkan apa yang saya bayangkan saat pertama kali membuat blog.

Wajar, mungkin bukan hanya saya saja yang setelah sekian tahun menulis blog, akhirnya mengetahui bahwa blog bukan hanya serupa diary elektronik, tapi juga bisa menjadi "papan iklan" sumber penghasilan dengan iming-iming, hobi yang dibayar.

Siapa yang tidak tergiur?


Saya termasuk yang tergiur. Artinya begini, saya mempunyai hobi menulis, tahu sendirilah kalau sudah hobi.. kadang kita tidak merasa bersusah-payah. Kadang waktupun tak terasa berlalu saat kita menjalankan hobi tersebut. Artinya kita senang melakukannya. Ditambah lagi saat melakukan hal yang kita senangi ada pemasukan di rekening kita, atau bahkan produk yang dikirimkan langsung ke alamat rumah kita. Siapa yang tidak mau?

Tapi untuk mencapai titik diatas ada banyak hal yang harus dipenuhi, benar kata Mak Diah Deka di dalam artikel Merdeka sebagai Blogger? Seperti apa? di Web KEB. Kita butuh nilai Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA) yang besar agar menarik di mata advertiser ataupun melalui perantara agency. Bahkan sebelum meraih angka DA/PA yang besar, kira harus terlebih dahulu membeli domain agar blog kita termasuk dalam kategori Top Level Domain (TLD), kesukaan para pemberi job.

Baca juga: First Time In My Life : Membeli Domain

Saya dan juga kebanyakan teman-teman yang tergabung dalam komunitas bloger sudah melalui tahap di atas. Saat ini, tantangannya adalah konsisten menulis untuk menjaga -atau bahkan meningkatkan- nilai DA/PA. Tantangan tersebut datang semata dari dalam diri, musuhnya diri sendiri, yang malas, yang moody dan banyak alasan. *Udah jangan nunjuk, saya sejak tadi sudah angkat tangan, Ngakuuu! LOL

Tantangan berikutnya adalah memilah-milih job yang masuk.

Di saat-saat seperti inilah bloger dituntut untuk memerdekakan dirinya, tidak menghamba pada lembaran uang yang menjadi bayaran dengan tetap menerima job walaupun mungkin bertentangan dengan niche blog ataupun prinsip hidupnya sendiri.

Dan saya belum lama ini mengalaminya...

Gaess.. Siapa yang tidak mau uang? Apalagi job yang diberikan tidak membuat saya harus memutar otak, bayaran lumayan dan artikel sudah tersedia. Saya tau beres, tinggal copy-paste-edit-publish-konfirmasi-ditransfer-shopping.

Baca juga: Tentang Komentar, Jawaban dan Blog Walking 

Tapi ada yang terasa janggal, rasanya saya tidak tenang setelah mengetahui tema dan isi artikel. Yah, mungkin memang saya bawaannya tidak suka berurusan dengan yang kontroversial, jadi setelah membaca artikel berulang kali, mencari info, juga meminta pertimbangan Abang, kami sepakat untuk tidak mengambil job tersebut.

Ada kekhawatiran sebenarnya, jangan sampai tindakan saya tersebut akan membuat saya masuk dalam black list agency. Tapi saya lebih tidak tenang lagi rasanya jika harus ikut karena terpaksa (walaupun dibayar). Akhirnya mencoba mundur dengan sopan. Entah masuk black list atau tidak, yang jelas saya lega.

Mungkin sejauh ini, itu langkah terbaik saya dalam memerdekakan diri. Bukan pertama kalinya menolak job juga sih, kalau diatas bayarannya lumayan, sebelum-sebelumnya saya juga tidak galau menolak job dengan bayaran yang masuk kategori tega. Kecil banget bayarannya cyiiintt.. Saya gak mau nyiksa diri, hobi sih hobi, tapi tak beginiiii~ *Hayo ngaku, siapa yang nyanyiii :p

Baca juga: Saat Hobi Menulis Mendukung Hobi Berolahraga

Dilain waktu, job yang saya terima sebagai bloger bukan hanya masalah bayaran, saya juga menerima walaupun bayarannya kecil atau bahkan gratis sekalipun. Buat UMKM, teman ataupun keluarga, biasanya saya kasih promosi gratis di blog dan sosial media, salah satu cara saya memberikan dukungan terhadap usaha mereka, sambil ikut mendoakan keberhasilan usahanya.

Pada akhirnya menjadi bloger yang merdeka adalah menjadi bloger yang bebas, tidak terintimidasi oleh tekanan dari luar yang bersifat negatif. Jika bersifat positif, hal itu harus dianggap sebagai motivasi. Tapi pada intinya kita semua sedang belajar, karena walaupun bebas kita tentu harus tetap berada pada koridor kepatutan. Dan ini tidak mudah karena butuh awareness yang tinggi.

So.. Be your self, follow your heart and enjoy the freedom..

MERDEKA!!

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...