22 Aug 2016

Full Day School, Sudah Siapkah Kita?

Membaca tulisan Mak Yuniari Nukti di KEB mengenai full day school, saya kemudian teringat sebelumnya sudah membaca banyak komentar dan tulisan sebagai bentuk reaksi mengenai wacana tersebut. Daripada menjadi reaktif (sedangkan ilmu saya rasanya masih kurang) saya memilih mengamati sekaligus mengambil pelajaran dari banyaknya pikiran-pikiran yang dituangkan teman-teman di media sosial maupun blog.


Karena harus menanggapi tulisan dari Mak Yuniar Nukti saya akhirnya menulis ini sambil mengajak kita bersama-sama untuk merenungkan, apakah kita sudah siap dengan penerapan full day school? Menurut saya, ada banyak hal yang perlu diperhatikan jika ingin menerapkan full day school (FDS) yang sama-sama kita ketahui telah lebih dulu diterapkan di pesantren ini.

1. Tidak semua orang tua bekerja 
"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja”
Petikan kalimat diatas adalah alasan bapak Mendikbud melepas wacana FDS, selain ingin membangun karakter juga ingin menyelaraskan jam kerja orang tua dengan anaknya.

Kita tentunya sama-sama mengetahui bahwa kondisi orang tua murid berbeda, tidak semua orang tua bekerja atau tidak semua orang tua bekerja di luar rumah. Kalaupun bekerja di luar rumah, jam kerja bisa jadi berbeda, jikapun sama, kami yang tinggal di daerah yang belum mengenal macet ini Alhamdulillah bisa sampai 5-30 menit di rumah kami masing-masing. Waktu untuk bertemu dengan anakpun akan lebih banyak. Perbedaan ini patut menjadi perhatian.

2. Kondisi Ekonomi
FDS yang menuntut waktu lebih banyak dari siswa tentu akan menuntut pengeluaran yang lebih banyak dari orang tua siswa. Siswa yang tadinya bisa makan siang di rumah harus makan siang di sekolah dan makan di luar rumah tentu saja menuntut biaya lebih. Uang jajan anak mau tidak mau harus ditambahkan. Bekal tidak selalu bisa diberikan pada anak setiap hari, sedangkan kondisi ekonomi siswa tentu beragam, mulai dari yang orang tuanya mampu, tidak mampu, bahkan siswa yang harus bekerja untuk menyokong ekonomi keluarga.

3. Infrastruktur
Infrastruktur yang kurang memadai sangat mempengaruhi penerapan FDS ini.

Seberapa sering kita mendengar berita tentang anak-anak sekolah yang menantang maut demi sampai ke sekolahnya?

Seberapa sering kita mendengar cerita dari orang tua kita di meja makan tentang betapa susahnya jaman mereka sekolah dulu? Pulang pergi sekolah harus berjalan kaki, pulangnyapun masih harus menggali ubi lagi di kebun untuk dimasak.

Cerita di atas belum usai di daerah kami, Sulawesi Tenggara, mungkin kami tak lagi harus menggali ubi untuk dimakan sepulang sekolah, tapi cerita tentang anak-anak sekolah yang harus berjalan belasan bahkan puluhan kilo meter untuk mencapai sekolah terdekat itu pernah saya saksikan sendiri. Bahkan saya masih menyaksikannya tadi saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten yang berjarak 100 Km dari ibu Kota. Jangan tanyakan jemputan dari orang tua, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan saja sudah syukur mereka tidak sampai putus sekolah.

Tingginya pendakian atau jauhnya jarak tidak jarang menghentikan perjalanan anak sekolah yang kulitnya berwarna khas terpaan matahari itu, teriknya matahari menyita waktu mereka lagi untuk lebih cepat sampai di rumah agar bisa beristirahat dengan lebih layak. Masih akan direnggut lagikah waktu yang mereka inginkan itu? Disamping itu, sudahkah sekolah menyediakan kantin yang layak untuk mendukung penerapan FDS? Mungkin kita harus memulai dari menyediakan sarana dan prasarana yang layak untuk anak bangsa.

Baca juga: Disentil Oleh Seragam Putih Biru

4. Kurikulum
Kurikulum harus menjadi perhatian, demikian juga penerapannya di sekolah. Dirancang dengan mempertimbangkan banyak aspek termasuk kondisi siswa. Jangan  sudah seharian di sekolah (walaupun tidak seluruh waktunya dipakai untuk belajar) sepulang dari sekolah masih juga diberikan tugas dengan deadline yang mepet. Ini curhat saya juga sih.. padahal dulu belum diterapkan FDS. Perasaan jenuh dan lelah pasti kami rasakan.

5. Guru
Mengenai guru ini 2 hal yang menjadi perhatian saya: 

- Komunikasi antara orang tua di sekolah dan di rumah

Sejauh yang saya pahami saat sekolah dulu, seperti inilah kami diajarkan, "guru adalah orang tuamu di sekolah" kewajiban kami jelas sama, menghormati dan patuh kepada mereka.  Membalas jasa? Sama saja dengan orang tua kandung, kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan para guru, orang tua kami di sekolah dulu.

Lalu apa jadinya jika komunikasi antara orang tua di rumah dan orang tua di sekolah tidak terjalin dengan baik, semua pasti langsung terbayang kasus pemukulan yang dilakukan orang tua murid terhadap guru di sekolah beberapa waktu yang lalu. Itu adalah contoh nyata mengapa kita perlu dan wajib membangun komunikasi yang baik antara orang tua di rumah dan di sekolah, dengan komunikasi yang baik, kepercayaan akan tumbuh kuat. Terbayang kan bagaimana harus menitipkan anak kita menjalani FDS jika kita tidak percaya kepada orang tuanya di sekolah?

- Kesiapan Guru
Tidak ada yang meragukan kemampuan guru dalam mengajar siswanya, tapi dalam hal ini guru juga punya kehidupan pribadi yang patut dipertimbangkan. Berbeda dengan guru-guru di pesantren yang sejak awal sudah mengetahui jam kerja dan tanggung jawab apa yang harus dipegangnya. IMHO, guru-guru di sekolah luar pesantren akan "kaget" dengan perubahan jam mengajar ini. Ada candaan yang saya baca, tentang guru yang masih single dan butuh mencari jodoh juga untuk masa depannya. Ini lucu, bukan urusan negara, tapi saya menganggap ini sebuah perumpamaan untuk memberi ruang bersosialisasi untuk guru. Itu guru yang single, bagaimana dengan guru yang sudah punya anak? Ahh.. kita jadi punya budaya titip menitip anak sepertinya..

***

Sekali lagi jam sekolah yang diubah butuh banyak penyesuaian.. Sudahkah kita siap? Kita sebagai pemberi kebijakan, orang yang menjalankan kebijakan, orang tua anak yang harus menjalani FDS, anak yang harus menjalani FDS, atau single seperti saya yang menanti pak guru single itu menemukan saya? Serius amat dari tadi... LOL.

Teman-teman bagaimana pandangannya tentang FDS ini?

42 comments:

  1. Masih wacana ko mba. Semoga dipikirkan masak-masak sebelum ketok palu. Saya sih lebih setuju anak lebih banyak waktu bermain dan belajar di alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju juga :D , apalgi jalan2 ngajak kita :D

      Delete
    2. Iya, wacana tapi pak Menteri pasti mencoba menangkap respon juga sih makanya berani lempar kata seperti itu..

      Delete
  2. Jiaaahh, ending tersurat kayaknya, hihihih.
    Dulu kita itu semi FDS dehh, secara walau ndk FDS tap berasa FDS, secara jam di sekolah jg lebih banyak daripada di rumah. Blm lagi sampe Sabtu. Mana Sabtu biasanya yg banyak menyita waktu utk ekskul, hiyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Bahas ending..

      Iya.. ada les kan? Capek sih dulu itu.. makanya saya ndak pulang ke rumah kalau mau les sore lagi :D

      Delete
  3. sangat belum siap dan tentu sulit loh, apalagi banyak loh siswa yang bekerja stelah usai sekolah untuk biaya dia sekolah , lah kalau fuul day school bagiamana dg nasib sekolahnya

    ReplyDelete
  4. IMHO, guru-guru di sekolah luar pesantren akan "kaget" dengan perubahan jam mengajar ini. Ada candaan yang saya baca, tentang guru yang masih single dan butuh mencari jodoh juga untuk masa depannya. Ini lucu, bukan urusan negara, tapi saya menganggap ini sebuah perumpamaan untuk memberi ruang bersosialisasi untuk guru.


    Ehmmmm

    ReplyDelete
  5. Memang harus bertahap sih Lyy, gak bisa langsung jebret gitu aja, bener katamu butuh penyesuaian...

    Sebagai orang tua sih kadang lelah juga kalo programnya ganti-ganti terus, tapi kalau demi kemajuan pendidikan sih mudah2an bisa lah yaaaah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sih ngikut ya.. apalagi kalau ada pilihan, tinggal kitanya aja sreg sama yang mana (Contohnya mau masukin anak di pesantren atau sekolah dengan jam belajar "normal)

      Delete
  6. ideeemmm mbk ir,
    kudu disiapin mateng pakek bgd dah.

    ReplyDelete
  7. betul banget tuh, ga semua orangtua kerja. Tapi kalau beneran ada, coba ya seandainya pemerintah mau nyiapin tidur siang gratis, makan gratis atau main game di ruang komputer selama 1 jam anak2 pasti betah full day school

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya penerapan FDS harus didukung fasilitas dan kurikulum yang oke biar anak gak bosan, iya kan?

      Delete
  8. kalo saya, apapun itu asal yang terbaik untuk anak-anak saya setuju saja mhe, tapi yang ditakutkan jangan sampe programnya menteri pendidikan sekarang ini nanti gak dijalankan lagi oleh menteri pendidikan yang akan datang. soalnya beda menteri beda juga programnya, belum sempat jalankan program yang satu ehh sudah diganti lagi dengan program yg lain :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. kekhawatiran dan masalah yang sangat umum, ganti pemimpin ganti kebijakan.. ckck

      Delete
  9. Replies
    1. Iya kalau hanya bosan, kalau ditambah lelah.. Lengkap sudah..

      Delete
  10. Haha jadi Pak guru yg mana nih mbaa..klo anak2 ku nanti pada FdS bakal ada kegiatan mamak yg lain biar ngga bosen nunggu pada balik skul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Punch line saya (ending) dibahasa lagiii :D

      Olahraga aja nunggunya Mba ^^

      Delete
  11. kayanya FDS masih dikaji ulang dech mba. banyaknya pro dan kontra masing masing daerah dan wilayah.

    Yang menjadi perhatian saya sat ini adalah cara pandang (hormat) siswa terhadap guru semakin kurang. Guru marah sedikit main lagsung dilaporkan. Sementara guru di pukul hingga berdarah sedikit yang memberi perhatian.

    keberadaan guru saat ini menjadi dilema, butuh untuk mencerdaskan bangsa tapi hanya sebatas pekerjaan bukan pengabdian :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang tua murid dan guru juga harus sama-sama introspeksi diri ya untuk masalah ini..

      Delete
  12. Mengenai FUll Day School , pandangan dan pendapat pribadi karena tinggal di jakarta, dampaknya jalan makin macet :D masak sekolah sama kerja bareng pulangnya tidak ada anak sekolah aj udah macet :D


    dampak lain mboh lah heee,, denger anak tetangga si anak kebanyakan bosen dan strees dengan rutinitas sekolah full day ini, di jakarta udah diterapkan belum sih? soalnya juga masih denger2 heee, akan tetapi ane kalo balik nguli liat anak sekolah baru pd balik macetnyaaaa audubilah track yg ane lewatin ..beda dg minggu2 kemarin.


    kalo dampak positif belum tahu kan belum di terapkan secara nasional :D

    salam kluyuran naik motor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah.. salah 1 contoh nih.. bahwa kebijakan itu benar-benar harus bijak mempertimbangkan kondisi setiap daerah. Kami di sini gak macet tapi di ibu kota macet walaupun jam pulangnya sudah beda.

      FDS sih belum diterapkan, hanya beberapa sekolah sudah ada yang sistemnya semi FDS gitu. Walaupun kegiatannya mungkin eskul atau les, belum tentu sama dengan FDS yang mungkin ingin diterapkan pak Menteri.

      Selamat kluyuran, jangan lupa pakai helm dan bawa kelengkapan berkendara
      *Berasa polwan jadinya. LOL

      Delete
    2. Safety mbak, kan anak biker (lalu ditampoll handle rongsokan)

      Delete
    3. Wkwkw.. Fokuss! *beneran nampol pakai handle rongsokan :D

      Delete
    4. lucu ia mbak kok kayaknya seneng banget (lalu sambil senyum sambil nulis sambil makan pisang sambil cengengesan, senyam senyum sendiri )

      Delete
  13. kasihan gurunya kalo benar2 terealisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah 1 faktor yang harus dipertimbangkan..

      Delete
  14. Benar juga sih. Kebayang kl sy resign trus anak di sekolah seharian. Kalo msh kerja kek gini sih tenang, sekolah anakku full day di sdit,insya Allah guru2nya berakhlak baik

    ReplyDelete
  15. Kalau sudah siap semuanya sih oke, saya setuju. Tapi siapnya kapan yaa?? Banyak banget lho pe-er nya..
    Trus emak2 SAHM kayak saya gini, jadi kesepian ditinggal anak2 sekolah seharian. Trus berasa jadi manula lebih awal :D

    ReplyDelete
  16. saya menanggapi yang nomor 4 dulu karena pernah bahas sama anak. Menurut dia menarik banget ide FDS apalagi kalau ekskulnya keren-keren. Tapi, kemudian dia teringat PR dan bertanya, "Kapan bikin PRnya kalau sekolah sampe sore." Ya, murid-murid masih dibebani dengan setumpuk PR yang kadang di luar kemampuan mereka untuk jumlahnya.

    Belum lagi kalau bahas hal lain. Setuju aja sih FDS. Asalkan PR yang lainnya diberesin dulu

    ReplyDelete
  17. Saya pribadi sih setuju saja dengan FDS asal semua sudah dipersiapkan dengan baik. Kebayang kan sekolah2 yang masih menerapkan sistem sekolah pagi siang gara2 ruang kelas yang tidak mencukupi. Kalau kayak gini gimana mau FDS. Belum lagi bicara soal kurikulum, kesiapan para guru. Hm, sepertinya utk saat ini FDS belum bisa diberlakukan secara nasional

    ReplyDelete
  18. Saya pribadi sih setuju saja dengan FDS asal semua sudah dipersiapkan dengan baik. Kebayang kan sekolah2 yang masih menerapkan sistem sekolah pagi siang gara2 ruang kelas yang tidak mencukupi. Kalau kayak gini gimana mau FDS. Belum lagi bicara soal kurikulum, kesiapan para guru. Hm, sepertinya utk saat ini FDS belum bisa diberlakukan secara nasional

    ReplyDelete
  19. betul juga sih biar nggak bandel jug, tp aku juga nggak siap banget kak kl full day diterapin, bisa bisa langsung pingsan wkwk

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca, mohon untuk tidak berkomentar sebagai Unknown atau Anonymous. Komentar dengan link hidup dan broken link akan dihapus, jadi pastikan untuk mengetik alamat blog dengan benar ya. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...