23 Oct 2017

Hubungan Antara Murid, Guru dan Orang Tua Murid

Kendari beberapa hari ini kembali heboh dengan hal yang kurang mengenakkan. Kalau sebelumnya karena PCC hingga menelan korban jiwa. Berita heboh saat ini akibat tindakan kekerasan guru (berita mengatakan tamparan) kepada murid yang dianggap tidak sopan, kemudian masih diikuti dengan tindakan tidak sopan beruntun sang murid dan pemukulan orang tua murid kepada guru.

Ini petaka.. :(

Saya tidak ingin membahas lebih dalam kasus tersebut, karena takut jatuhnya ikut membully si anak SMA yang sudah cukup terkenal dengan berita negatifnya tersebut. Jadi, seperti judul tulisan ini, mari membahas tentang hubungan murid, guru dan orang tua murid saja. Tema ini sengaja kami angkat bersama kawan-kawan di Sultra Blogger Talk sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap kejadian yang masih hangat ini. Tulisan Mbak Diah Indriastuti sebagai member baru di SBT bisa dibaca di sini Adab Sebelum Ilmu.

Belajar dari kasus yang sedang viral di atas, kita kembali belajar bahwa, ada 3 tipe orang tua murid (Mm.. ini berdasarkan pengamatan saya sih ya..):
1. Menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada guru dan sekolah.
2. Ikut memantau pendidikan anak melalui guru di sekolah.
3. Hanya ingin anaknya dididik pelajaran saja, moral bukan urusan guru dan sekolah.

3 Hal mendasar diataslah yang akan membedakan cara bereaksi orang tua jika suatu saat anaknya melaporkan tindakan pemukulan atau mungkin yang dirasakan anaknya kurang mengenakkan di sekolah, entah oleh guru maupun disebabkan oleh sesama murid.


Mungkin kita sudah banyak mendengar ataupun membaca pengakuan dari orang lain saat mengomentari tindakan seperti kejadian di atas. Akan sangat banyak yang berkata:

"Ah.. Kami sekolah dulu juga dipukul lebih parah dari itu, tapi kami tidak berani melapor, karena kalau melapor, malah akan ditambah (orang tua juga ikut memberi pukulan)."

atau..

"Ah, anak sekarang mah lembek, baru disentuh dikit udah melapor."

Komentar-komentar di atas itu ada benarnya menurut saya, walaupun standar toleransi setiap orang itu beda-beda ya.. Tapi kami beneran takut melapor ke orang tua, karena apa? Orang tua jelas-jelas akan membela tindakan yang diambil oleh guru. Bahkan kesannya, kalau orang tua sudah dipanggil ke sekolah itu kita udah nakal banget.

Intinya, kami terlebih dahulu akan kena marah lebih dulu dengan kalimat pembelaan seperti ini:

"Kenapa dipukul? Gak mungkinlah kamu dipukul tanpa alasan."

Walaupun mungkin pada akhirnya orang tua tipe kedua akan melakukan cek dan ricek kembali jika dianggap urusannya serius. Tapi jika tidak, maka anak akan diminta menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tipe pertama mungkin akan beda lagi, kamu dipukul berarti kamu memang salah. Saya sudah percayakan pada sekolah. Selesai.

Sedangkan tipe ketiga, tidak akan menerima sama sekali tindakan disiplin dalam bentuk apapun kepada anaknya. Siap-siap saja sekolah akan heboh jika anaknya sampai dibuat tidak nyaman.

Saya tidak akan mengklasifikasikan orang tua yang berada di dalam berita viral itu masuk ke tipe mana, satu hal yang pasti, tidak ada orang tua yang mau anaknya dipukuli tanpa alasan yang jelas.

Jika dikembalikan pada diri saya, saya jelas tidak bisa memantau anak saya 24 jam secara penuh, adanya guru di lingkungan sekolah jelas sebuah bantuan besar, karena waktu anak banyak dihabiskan di sekolah. Tentunya sambil saya awasi. Tak mengapa ada tindakan disiplin jika memang tindakan tersebut saya anggap wajar dan bertujuan untuk mendidik secara fisik maupun mental.

Saya juga tidak ingin melepas begitu saja pengawasan terhadap anak saya ke pihak sekolah termasuk guru. Bagaimanapun anak masih tanggung jawab saya. Lingkungan sekolah dan guru sebagai pengawasnya adalah sarana sosial berpendidikan untuk anak. Disana dia akan belajar (semakin) banyak hal, disiplin, menghormati yang tua, mengasihi yang muda, memecahkan masalah, bersosialisasi, memperoleh ilmu, berorganisasi bahkan mengasah kepekaannya sebagai manusia dalam lingkup masyarakat yang lebih kecil, yang harus taat pada aturan yang sudah ditetapkan sekolah.

Kemudian jika dikerucutkan lagi, apa yang akan saya lakukan jika anak saya ditampar?

Well, itu tentu mengejutkan untuk saya, tapi saya tentu akan memilih tabayyun dulu, alasan penamparan itu apa, dari anak dan juga dari yang menampar. Jika tindakan disiplin yang diambil saya rasa berlebih, tentu akan saya bicarakan dengan pihak sekolah. Diupayakan baik-baik, tidak perlu sampai membuat kegaduhan.

Dan jika anak saya memang pantas menerima tamparan itu, tidak akan saya permasalahkan. Jika sampai akhirnya diketahui kesalahannya terlalu berat, saya berharap tidak ikut memberi bonus serupa kepada anak.

Yup, sorry to say, saya termasuk orang yang bisa melakukan hal yang dianggap kekerasan fisik kepada anak dengan tujuan mendisiplinkan. Tapi tetap dong, sebisa mungkin hal itu saya usaha dan doakan tidak perlu terjadi. Anak tentu perlu selalu diingatkan, ditegur, dibimbing, bahkan dihukum. Tapi semoga cukup hanya dengan perkataan dan tindakan disiplin lainnya, tidak perlu sampai memukul. Jadi, emaknya bisa menghukum sambil belanja di hijup.com hihi :D

Nah..

Itu tadi opini saya terhadap hubungan antara murid, guru dan orang tua, mungkin banyak berbeda di zaman dulu dengan zaman now, bahkan anggapan bahwa "Guru adalah orang tua anak di sekolah" sudah banyak ditinggalkan. Dalam batas yang wajar, mereka punya otoritas yang sama dengan orang tua dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak.

Bagaimana menurut teman-teman? Harus seperti apakah hubungan murid, guru dan orang tua? Ada yang sependapat atau bahkan tidak sependapat dengan saya?

Share di kolom komentar ya..

8 comments:

  1. Setuju tabayyun, cuma kalo beneran ditampar, teuteup kaga redo haha

    ReplyDelete
  2. mama aku mungkin masuk ke tipe kedua ya. haha. menurutku sih back to condition ya, tanpa memihak manapun, jadi murid harusnya tau diri, jadi guru harus sabar gak main tangan. apalagi jadi orang tua, yang sorry not sorry jadi pihak ketiga bagian “dengar cerita lebih dulu” - harus ekstra sabar lagi biar gak ikut-ikutan panas kayak di contoh paling atas

    ReplyDelete
  3. Huuu, cucookmii. Zaman past dan zaman now memang beda. Kita dulu klo dihukum guru mana berani pulang cerita ke rumah. Klo sekarang pwaaa, mungkin cuma disentil dikit dibilangmi tampar, ckckckckk, anak zaman now dehh bikin ingin tampar betulan.

    ReplyDelete
  4. Sering berinteraksi dengan para guru, banyak yang cerita kalau sekarang serba salah menangani anak "nakal", nggak dihukum makin menjadi, kalau dihukum ortunya bakal protes ke pihak sekolah. Mending klo protesnya baik-baik, lha kalau sudah bawa aparat kan bisa jadi ramai dan jadi bawa jelek nama sekolah. Apalagi kalau terus viral

    ReplyDelete
  5. Dulu aku pernah ngajar anak-nak SD gitu kan ya.
    dan menurutku interaksi keluarga anak dan guru itu penting mbak, tapi ada baiknya prang tua ga perlu terlalu cemas bahkan sampe menuntut gitu.
    guru kan orangtua kedua di sekolah jadi kalau muridnya dihukum karna kesalahanya ya tidak apa apa toh, orang tua harusnya ga usah lembek.

    kadang suka miris sih sama fenomena jaman now.

    ReplyDelete
  6. Kalau saya mungkin gak bisa nyerahin semua ke guru mbak. Jd ikut ngawasin.
    Aduh amit2 kalau anak kena bully atau dipukul sama gurunya, sbg ortu jelas gk terima. Tapi emang tetep butuh cek dan ricek sih...

    ReplyDelete
  7. intinya sih komunikasi dan bertabayyun y mba jangan sampe udah bertindak sendiri taunya salah merugikan pihak lain namanya :)

    ReplyDelete
  8. Sedih ujut sedih sebagai pendidik
    Pergeseran norma budaya dan nilai2 di masyarakat terlampau jauh sehingga skrg makna guru menjadi kurang

    Padahal guru adalah insan2 mulia yang membesarkan anak2 dgn ilmu
    Duh jd lebay kah diriku 😭

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca, mohon untuk tidak berkomentar sebagai Unknown atau Anonymous. Komentar dengan link hidup dan broken link akan dihapus, jadi pastikan untuk mengetik alamat blog dengan benar ya. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...