16 Oct 2017

Menerapkan Zero Waste, Yakin Bisa!

Senin telah tiba, berapa banyak sampah yang teman-teman hasilkan saat libur kemarin?

Membaca tulisan Mak Haeriah Syamsuddin di Web KEB saya jadi merasa ditarik kembali ke dalam prinsip lama saya. Lama karena sudah tergantikan dengan yang baru, tapi lama bukan berarti sudah usang dan tak bisa diterapkan lagi di jaman now. *Halah bahasanya*


Dalam tulisan tentang Zero waste, kita diingatkan lagi tentang gaya hidup yang serba menghasilkan sampah, tentang prinsip-prinsip dalam zero waste yaitu 3 Re. Re-use, re-cycling dan re-duce. Mari bertanya kita sudah berpartisipasi di bagian mana?

Kalau ditanya, maka saya akan terdiam. Belum banyak yang bisa saya lakukan. Padahal waktu diajak membayangkan bagaimana seandainya saya hidup berdampingan dengan sampah yang sudah saya hasilkan selama ini saya malah merasa ngeri. Pasti sampahnya banyak dan menimbukan bau yang tidak sedap.

Selama ini sebenarnya saya lebih concern ke masalah sampah yang seringkali dibuang tidak pada tempatnya. Hanya meletakkannya pada tempatnya saja rasanya susah sekali mengedukasinya. Lebih mudah memberitahu anak-anak dibanding orang tua. Iya kalau orang yang lebih tua disekitar saya yang saya beritahu, kalau orang tua yang tidak saya kenal sepertinya susah. Ah.. Mungkin saya saja yang mentalnya lembek. Gak berani.. Gak enakan..

Itu..

Selama ini perhatian saya banyak ke masalah itu. Masih kurang concern ke masalah mengurangi sampah. Entahlah saya menulis ini untuk menyemangati kita untuk sama-sama menerapkan zero waste atau hanya tulisan berupa pengakuan. Tapi saya harap dengan membaca dan menulis tentang ini, awareness kita terhadap gaya hidup tersebut bisa meningkat.

Baca juga: Maaf.. Aku Membencimu

Untuk mengenali lebih banyak mengenai konsep ini, saya mencoba untuk cari tahu dengan membaca beberapa artikel, saya bagikan juga agar kita sama-sama tahu/ingat yes..

Jadi penemu konsep Zero Waste ini adalah seorang profesor kimia lingkungan bernama Paul Connet. Untuk mendukung keberhasilannya, beliau memberikan 10 langkah untuk mengurangi bahkan sampai pada tahap zero waste. Berikut 10 tahapan yang digagas oleh penemu konsep yang sering juga disebut pahlawan/bapak nol sampah:

  1. Memilah sampah
  2. Mengumpulkan dari rumah ke rumah
  3. Membuat kompos
  4. Daur ulang
  5. Memperbaiki dan menggunakan ulang
  6. Inisiatif untuk mengurangi sampah
  7. Insentif ekonomi
  8. Pemisahan fasilitas pengolahan sampah dan pusat riset nol sampah
  9. Desain produk yang lebih ramah lingkungan
  10. TPA Sementara

Sumber: Mongabay

(Artikel berbahasa inggris, kurang lebih diartikan seperti itu, jika masih ada yang salah atau kurang bisa bantu disampaikan ke saya. :) )

So, mari cek hal-hal apa saja yang sudah saya lakukan untuk mengurangi sampah?

1. Tidak mudah membuang kertas
Ini salah satu kebiasaan lama yang Alhamdulillah masih terbawa sampai saat ini. Terasa sekali saat bekerja sebagai sekretaris. Saya sering ditinggalkan pesan di atas kertas saat sedang tidak berada di ruangan. Sayangnya, pesan pendek seperti "Tolong dimintakan tanda tangan bapak." atau "Buat bos" ditulis di atas kertas besar yang peruntukannya untuk mencetak surat atau apapun yang memang sesuai dengan ukuran kertas itu. Pemborosan menurut saya, akhirnya saya membuat kertas khusus untuk meninggalkan pesan.

Untuk membuat kertas khusus pesan itu, saya akhirnya memutuskan menyobek kertas bekas dengan menggunakan mistar, memang sih, akan lebih rapi jika digunting atau menggunakan pemotong kertas, tapi akan lebih banyak korban kertas berjatuhan jika saya meninggalkan ruangan, sedangkan waktu saya juga akan lebih banyak terpakai jika harus mengguntingnya dengan cantik.


Alhamdulillah, setelah meninggalkan potongan kertas itu di tempat yang gampang dilihat, potongan kertas itu "laris" dan tidak ada rasa bersalah atau "geram" lagi saat melihat ada kertas berisi pesan di atas meja.

Dan saat ini, saat saya sudah tidak lagi menjadi sekretaris dan harus mencetak dokumen untuk laporan sementara, saya tetap menggunakan kertas bekas untuk mencetaknya. Beruntung teman saya di bidang juga melakukan hal yang sama, jadinya saya tidak perlu lagi mengumpulkan kertas bekas seorang diri. Alhamdulillah..

2. Menggunakan selembar kapas untuk 4 kali membersihkan wajah
Sebenarnya ada kekhawatiran saya akan dikatakan pelit dalam hal ini. But trust me, saya tidak sendiri, teman saya di kantor juga melakukan hal yang sama (tapi mungkin dia hanya pakai untuk 2 kali saja). Sebut saja kami berhasil menemukan kapas yang lembut tapi tidak koyak saat dipakai membersihkan wajah. Jadi selembar kapas itu saya bagi 2 lalu saya gunakan timbal balik, jadilah 1 lembar bisa dipakai untuk 4 kali.

Jujur saja, sebelumnya saya sempat anti menggunakan kapas/tisyu jika tidak kepepet. Tapi pada akhirnya saya menemukan produk yang cocok di wajah dan mengharuskan saya menggunakan kapas untuk produk face toner-nya. Itupun sudah saya kurangi pemakaiannya untuk produk milk cleanser. Sebelumnya, saya coba tidak menggunakan produk yang menggunakan kapas. Tapi entah kapan saya mulai luluh, mungkin dengan menggunakan kapas dengan cara inilah saya bisa mengurangi rasa bersalah sekaligus mengurangi produksi sampah. Semoga..

3. Menggunakan kantong plastik bekas
Kebiasaan ini syukurnya sudah cukup umum dilakukan, apalagi diawal tahun 2016 kita sudah sempat diberi "kejutan" tentang pembayaran kantong belanjaan di supermarket. Entah sekarang masih diberlakukan atau tidak, tapi di kota kami sudah digratiskan kembali, tapi semoga cukup berefek dalam menghidupkan kebiasaan baik ya. Gak ikut-ikutan panas-panas ayam goreng *dibikin gini aja, dari pada jorok.* :D

Oh ya, di rumah, mama juga memberi contoh yang oke. Ikan yang sering kali dibeli sekali banyak dipelelangan, akan disimpan di freezer dalam jumlah yang lebih kecil lagi (misalnya untuk sekali masak), disimpan di wadah plastik tebal, bekas minyak goreng isi ulang atau sejenisnya. Selain mudah untuk mengambil kembali, hal ini juga merupakan penerapan re-use yang menguntungkan.

Sejauh ini rasanya hanya itu yang bisa saya lakukan untuk mengurangi produksi sampah, mungkin saya harus kembali rajin menggunakan sapu tangan seperti dulu lagi. Efek pelupa yang sudah keseringan, jadinya ya menggunakan tisyu. Berharap bisa lebih banyak menerapkan zero waste dengan lebih baik.

Teman-teman, sudah melakukan upaya apa dalam mengurangi sampah?

Jangan skeptis dalam menerapkan Zero Waste, Yakin Bisa!

6 comments:

  1. Saya jg masih dikiit, baru seper sekian deehh, ujung kukuuu sekali penerapan zero waste ini. Anyway yg kertas kecil2 itu sekalian menghemat yes, ndk perlu lagi sticky note yg bentuk dan warnanya unyu2 dan lucu2 itu yaaakk.

    ReplyDelete
  2. kalau konsepnya untuk rumah sendiri atau di kompleks yang faham akan lingkungan hidup yang bersih, bakal lancar jaya, nah ini di kompleks beskem, kalau di tegur agar tidak buang sampah sembarangan eh..malah nantang sambil bilang "urusan mu apa, larang2 buang sampah",..kalau sudah seperti ini paling urut dada saja deh

    ReplyDelete
  3. Pilah sampah mbak antara yang basah, kering dan mengandung B3. Itu sangat efektif dalam memudahkan pengolahan sampah.

    ReplyDelete
  4. Iya nih aku juga masih susah banget ngurangin pake tissue... Nggak suka pake sapu tangan :(

    ReplyDelete
  5. aq baru recycle dan itu pun kadang suka keceletot kemasukin ke trash padahal recycle huhuhuhu malu hiks. makasi mba.. jadi semangat lagi zero waste

    ReplyDelete
  6. Ulalaaa..sa pernah shock liat tumpukan ikan di kulkas dan bungkusnya plastik bekas minyak..hahahah..mertua guweh banget klo urusan 3 re..sampe2 anak-anaknya geram sendiri gara-gara segala macam mau disimpan..ckckck.. Ailapyu mamer kuh.. #halah

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca, mohon untuk tidak berkomentar sebagai Unknown atau Anonymous. Komentar dengan link hidup dan broken link akan dihapus, jadi pastikan untuk mengetik alamat blog dengan benar ya. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...