Memenuhi janji yang saya buat dipostingan sebelumnya..ada tempat wisata lain yang bisa dijangkau sekali perjalanan setelah dari Leang-leang , untuk petunjuk arah jalan teman-teman bisa bertanya pada petugas di Taman Prasejarah Leang-leang dan bertanya pada penduduk yang ramah selama perjalanan.
Rammang-rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Rammang berasal dari bahasa setempat yang artinya awan atau kabut, mungkin karna itu seorang ibu yang menjadi penunjuk jalan kami mengatakan artinya adalah remang-remang..
Di rammang-rammang ada 2 dermaga yang bisa dijadikan akses menikmati gugusan pegunungan
kapur (karst) yang disebut-sebut sebagai salah satu jejeran karst terbesar di dunia (Yunan Stone Forest di Cina dan Taman Hutan Batu Tsingy di Madagaskar salah duanya :D ). Sayang saya tidak melewati hutan batu yang bisa diakses kalau melalui dermaga 2. Jika berkunjung ke sini, pastikan teman-teman tidak melewatkan hutan batu seperti saya..hiks..
Saya memulai perjalanan menyusuri sungai Pute dari dermaga 1, keuntungannya wisata rawanya lebih panjang kalau dari dermaga 1, untuk menyusuri sungai Pute kami harus menyewa perahu bermesin (warga lokal menyebutnya katinting). Tarif perjalanan pulang-pergi 1 perahu bermesin ini adalah Rp.250.000, tapi terlalu mahal untuk kami yang hanya jalan berdua, akhirnya sepupu saya memutuskan untuk menawarkeras, jadilah kami diberi harga Rp.150.000 dengan perahu yang lebih kecil (muatan 5 orang termasuk pengemudi perahu).
Sepanjang perjalanan, menuju Telaga Bidadari dan Kampung Berua, kami sibuk jeprat-jepret... walaupun rumah saya sangat dekat dari sungai dan familiar dengan tumbuhan-tumbuhan pinggir sungai (kalau kami menyebutnya Nipa) yang ada di Sungai Pute ini, tapi menyusurinya adalah pengalaman pertama untuk saya, sepanjang perjalanan kami juga beberapa kali berpapasan dengan pelancong yang sudah hendak pulang, tampaknya kami memang pelancong kloter terakhir.. kami tidak bertemu perahu lain dengan tujuan yang sama selain penduduk setempat yang hendak masuk ke kampungnya.
Ada yang menyebutnya telaga, ada yang menyebutnya taman bidadari, apapun namanya kami putuskan untuk mengunjunginya, dari dermaga kami sampai setelah 30 menit menyusuri sungai Pute yang berkelok-kelok, setelah sampai kami diantarkan oleh penduduk setempat, jalanan kesana lumayan butuh energi dan kehati-hatian, maklum saja struktur jalanan yang berbatu-batu dan tidak selalu datar lumayan licin, sendal gunung adalah alas kaki terbaik menurut saya.
Dari tempat perhentian menuju telaga/taman bidadari waktu yang diperlukan untuk sampai ke kampung ini hanya sekitar 15 menit, di kampung inilah terdapat gua Pasaung, Gua Bulu’ Barakka’ dan Gua Telapak Tangan, tapi untuk niat ke gua sepertinya harus kami batalkan, mengingat waktu sudah sore dan kami tidak bisa memprediksi waktu tempuh untuk sampai di gua tersebut, kami puaskan diri untuk jeprat-jepret di dekat "dermaga" saja, sudah cukup mengagumkan menurut saya..kampung ini sangat asri.
Read more
Rammang-rammang
Rammang-rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Rammang berasal dari bahasa setempat yang artinya awan atau kabut, mungkin karna itu seorang ibu yang menjadi penunjuk jalan kami mengatakan artinya adalah remang-remang..
![]() |
| Dermaga 1 Rammang-rammang |
Saya memulai perjalanan menyusuri sungai Pute dari dermaga 1, keuntungannya wisata rawanya lebih panjang kalau dari dermaga 1, untuk menyusuri sungai Pute kami harus menyewa perahu bermesin (warga lokal menyebutnya katinting). Tarif perjalanan pulang-pergi 1 perahu bermesin ini adalah Rp.250.000, tapi terlalu mahal untuk kami yang hanya jalan berdua, akhirnya sepupu saya memutuskan untuk menawar
| Hutan Batu, salah 1 pemandangan yang bisa dinikmati jika melewati dermaga 2, sumber |
Telaga /Taman Bidadari
![]() |
| Salah satu jalan menuju Telaga/Taman Bidadari |
Kampung Berua
Dari tempat perhentian menuju telaga/taman bidadari waktu yang diperlukan untuk sampai ke kampung ini hanya sekitar 15 menit, di kampung inilah terdapat gua Pasaung, Gua Bulu’ Barakka’ dan Gua Telapak Tangan, tapi untuk niat ke gua sepertinya harus kami batalkan, mengingat waktu sudah sore dan kami tidak bisa memprediksi waktu tempuh untuk sampai di gua tersebut, kami puaskan diri untuk jeprat-jepret di dekat "dermaga" saja, sudah cukup mengagumkan menurut saya..kampung ini sangat asri.
























