21 Nov 2016

Lebaran Pertama Jauh dari Orang Tua

Tiba-tiba pengen nulis tentang Lebaran Idul Adha 12 September yang lalu, hari itu adalah lebaran pertama saya yang jauh dari orang tua. Selama ini, sekere' dan sejauh apapun saya merantau *halah.. paling jauh juga merantau ke Jakarta 😆* saya akan selalu pulang berlebaran bersama orang tua.


Dalang dari semua ini adalah gratisan! Dengan iming-iming jalan-jalan gratis, sayapun menggadaikan waktu berlebaran bersama keluarga *maafkan anakmu Mama 🙏*. Dengan persetujuan orang tua dan motivasi kalimat "Kapan lagi?!" sayapun ikut keluarga Bos untuk berlebaran di Wonosobo, kampung halaman orang, yang tidak saya ketahui ada di halaman berapa baru pertama kali saya hirup udaranya. Begitupun dengan Jogja yang menjadi tempat transit kami sebelum ke kota ini.

Baca juga: Jogjakarta, Kota dalam Doa

Lebaran kali ini tidak seheboh biasanya, tidak ada aktivitas begadang melampaui batas bersama Mama, tidak mendengar mama memberikan instruksi bersih-bersih ke adik-adik, tidak ada khawatir akan terlambat shalat Idul Adha karena masih ngurusin masakan yang sebenarnya tidak akan lari kemana -mana itu, tidak ada rutinitas lebaran yang jika saya berumur lebih panjang dari Mama pasti akan saya rindukan. Dan untuk saat itu saya menikmati malam Idul Adha yang damai, khusyu mendengar takbir bersahut-sahutan lalu kemudian tertidur tanpa rasa lelah.

Kami berencana shalat IdulAdha di Alun-alun Wonosobo, tempat yang sudah rutin dijadikan tempat pelaksanaan shalat yang bersifat Fardhu Kifayah untuk umat muslim. Pagi-pagi sekali kami sudah mandi dengan tentu saja dinginnya sejuknya air pegunungan, berpakaian rapi dan menjemput Mbah (Ibu kandung Bos) lalu kemudian berjalan sekitar 400an meter menuju Alun-alun.

Kami tiba dengan keadaan rumput lapangan yang masih basah oleh embun, jamaah shalat juga masih belum banyak yang datang, sekitar 35 menit kemudian shaf sudah rapat, saya menawarkan diri jadi baby sitter untuk cucu Bos karena sedang berhalangan. Berharap ibunya bisa shalat dengan khusyu dan saya kecipratan sedikit pahala *itung-itungan banget sih!*.
Ampun ya sayangg, gak gitu juga ngeliatinnya 😓

Oh ya, karena ini lebaran pertama saya di luar Kendari, saya jadi punya tambahan pengetahuan. Bukan sesuatu yang sangat spesial tapi saya melihat cara menjalankan celengan dengan cara yang sangat efisien, ketimbang harus menyuruh anak-anak kecil untuk berkeliling membawa sajadah sebagai tempat meletakkan uang. Cara yang mungkin malah bisa membawa najis karena terinjak oleh anak-anak tersebut. Cara yang selama ini dipakai di lingkungan kami melaksanakan shalat hari raya.
Sepulang dari shalat Idul Adha saya kembali menambah pengalaman, for the first time in my life, kami langsung singgah di angkringan! Sesuatu yang nggak banget untuk keluarga kami. Kami singgah (masih bersama Mbah dan kursi rodanya) minum minuman hangat seperti kopi, susu, teh, kopi susu dan melahap roti bakar yang terasa nikmat sekali. Entah karena dibakar menggunakan arang atau memang saya excited saja merasakan hal baru sambil cheating sarapan yang jarang saya lakukan.

IG Khusus makanan yang saya buat, boleh difollow lho temans, Insya Allah follow back, sama seperti akun IG utama @irlyisme *Iya ini promosi.LOL*

Serius, saya merasa inilah lebaran saya yang paling santai, biasanya kami (terutama anak perempuan seperti saya) akan sibuk dengan urusan dapur, entah di rumah sendiri atau di rumah tante, gak boleh terlihat santai seperti di pantai. Kerja..kerja.. kerja. #Eh

Setelah kegiatan makan sayapun berkebun. LOL.. Oke.. ralat, memetik buah jambu kristal di halaman belakang rumah Bos, kemudian duduk-duduk santai sambil mengunyah dan menelepon keluarga di gazebo tengah kolam, duh.. nyamannaaa.. nyaman banget!

Gazebo yang dikelilingi oleh pohon jambu kristal, pilih mana suka ^^

Saking nyamannya saya kemudian ke kamar untuk shalat dan tidur siang (biasanya ngantuk level berapapun jarang bisa tidur siang), eh.. beberapa jam kemudian tiba-tiba ada panggilan, entah akan kemana, saya ikut saja tapi power bank dan tongsis siaga di dalam tas saya. Kemana? Ke tempat wisata! Disambung nanti yah! :D


Punya cerita lebaran paling santai juga? Santainya gimana? Share yuk! ^^

10 comments:

  1. Huaah, aku belum pernah lebaran di luar kota. Kalau mudik jelang lebaran udah pernah ngerasain. Tapi lebaran di luar kota tanpa ortu belum pernah, kayaknya seru ya, yang penting bukan Idul Fitri. Kalau Idul Fitri jauh dari ortu mah, saya bisa galau berkepanjangan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, kalau IdulFitri juga saya belum pernah :D

      Delete
  2. Saya sudah lama lebaran tidak di kampung halaman; dan rata-rata langsung sibuk, hehe... Bila setelah Idul Fitri langsung sibuk silaturahmi ke tetangga setelah itu persiapan pulang kampung. Bila Idul Adha langsung sibuk dengan proses pelaksanaan penyembelihan hewan qurban di masjid, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah.. kalau Ustad seperti bapak malah sibuknya setelah IdulAdha biasanya :)

      Delete
  3. di aku celengannya pakai ember mbak, terus yang ngider ibu-ibu, eh itu ada jambu kristal juga ya di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pakai ember ya? Hihi..
      Iya, jambu kristalnya ranum banget pula.

      Delete
  4. Kalau Idul Adha, saya sih selalu santai. Bantuin ibu masak udah pagi H-1. Sore H-1 ke rmh mertua, ga bantuin masak krn masaknya udah selesai. Abis sholat Ied, sarapan di rmh ibu. Terus leha2. Siangnya mkn bekal dr rmh mertua, hohoho...
    Suami saya sih yg biasanya sibuk, soalnya jd panitia kurban.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau masaknya dari pagi enak Mbak, di rumah pagi masih sesi bersih-bersih..

      Delete
  5. Wah serunya lebaran di luar kota, kalo beda suasana gitu lebarannya berasa syahdu ya maaak.. Hihihii. Ditunggu cerita di tempat wisatanya ya Maaaak :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca, mohon untuk tidak berkomentar sebagai Unknown atau Anonymous. Komentar dengan link hidup dan broken link akan dihapus, jadi pastikan untuk mengetik alamat blog dengan benar ya. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...